Health Information : Jurnal Penelitian
Not a member yet
657 research outputs found
Sort by
Antioxidant Function in Inhibiting Lipid Peroxidation and Increasing Erythrocyte Membrane Resistance in Diabetes Mellitus Patients
Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang berakar pada defisiensi insulin, menyebabkan gangguan metabolik dan komplikasi mikro- dan makrovaskular. Hiperglikemia pada DM memicu stres oksidatif dengan peningkatan produksi radikal bebas, merusak vaskular melalui aktivasi jalur diasilgliserol/protein kinase C dan peningkatan aktivitas polyol pathway. Dampak stres oksidatif termanifestasi dalam perubahan komposisi lipid pada membran eritrosit, meningkatkan resistensi aliran mikrovaskular, dan menghasilkan malondialdehyde (MDA) sebagai biomarker stres oksidatif. Sistem proteksi terhadap radikal bebas melibatkan enzim dan antioksidan non-enzimatik, yang bekerja bersama untuk menetralkan efek merusak radikal bebas. Pemahaman mendalam tentang interaksi ini membuka peluang untuk pengembangan strategi pencegahan dan penanganan komplikasi DM secara lebih efektif melalui penelitian lanjutan.Diabetes mellitus (DM) is a chronic disease rooted in insulin deficiency, causing metabolic disorders and micro- and macrovascular complications. Hyperglycemia in DM triggers oxidative stress by increasing free radical production, damaging vascular through activation of the diacylglycerol/protein kinase C pathway and increased polyol pathway activity. The impact of oxidative stress manifests in changes in lipid composition on erythrocyte membranes, increases microvascular flow resistance, and produces malondialdehyde (MDA) as a biomarker of oxidative stress. The protection system against free radicals involves non-enzymatic enzymes and antioxidants, which work together to neutralize the damaging effects of free radicals. A deep understanding of these interactions opens up opportunities for the development of strategies for preventing and managing DM complications more effectively through continued research
Modul Elektronik Pemasangan Alat Kontrasepsi Bawah Kulit (AKBK/Implant) dengan Metode Pembalajaran Mandiri untuk Meningkatkan Keterampilan Belajar Mahasiswa
Tujuan, mengetahui kemampuan e-modul dalam meningkatkan keterampilan mahasiswa DIII kebidanan dengan menggunakan metode belajar mandiri dalam lingkup laboratorium. Metode, Quasi Eksperimen dengan rancangan pre-test post-test non-equivalent control group. Populasi seluruh mahasiswa DIII kebidanan tingkat III. Teknik penarikan sampel menggunakan teknik total sampling. Sampel 102 mahasiswa DIII kebidanan tingkat III, kelompok intervensi yang diberikan modul elektronik sebanyak 51 orang, kelompok kontrol yang diberikan modul cetak sebanyak 51 orang, pre-test dan post-test menggunakan daftar tilik. Post-test dilakukan sehari setelah pre-test. Analisis data menggunakan uji McNemar dan Chi-Square. Hasil, dengan menggunakan uji McNemar didapatkan, nilai p=0.000 pada pre-test dan post-test pada kelompok kontrol dan nilai p=0.000 pada pre-test dan post-test kelompok intervensi, yang artinya secara statistik pada kedua kelompok terdapat perbedaan peningkatan keterampilan yang bermakna setelah diberikan perlakuan. Kemudian dengan menggunakan uji Chi-Square pada post-test antar dua kelompok, didapatkan nilai p=0.014 < ?=0.05, yang artinya secara statistik ada perbedaan peningkatan keterampilan yang bermakna antara modul elektronik dan modul cetak dimana modul elektronik lebih mampu dalam meningkatkan keterampilan mahasiswa, sedangkan berdasarkan persentase peningkatan keterampilan, kelompok modul elektronik 37,3% lebih tinggi dari pada kelompok modul cetak. Kesimpulan, terdapat peningkatan yang signifikan pada keterampilan mahasiswa DIII kebidanan yang di berikan modul elektronik sehingga disimpulkan bahwa e-modul alat kontrasepsi bawah kulit yang diberikan mampu untuk meningkatkan keterampilan mahasiswa DIII kebidanan.The aim is to determine the ability of e-modules to improve the skills of DIII midwifery students using independent learning methods in the laboratory. Method, Quasi Experiment with a pre-test post-test non-equivalent control group design. The population is all DIII midwifery level III students. The sampling technique uses total sampling technique. The sample was 102 level III DIII midwifery students, the intervention group was given electronic modules as many as 51 people, the control group was given printed modules as many as 51 people, the pre-test and post-test used checklists. The post-test was carried out the day after the pre-test. Data analysis used McNemar and Chi-Square tests. The results, using the McNemar test, obtained a p value = 0.000 in the pre-test and post-test in the control group and a p value = 0.000 in the pre-test and post-test in the intervention group, which means that statistically in the two groups there is a difference in skill improvement meaning after being given treatment. Then by using the Chi-Square test in the post-test between the two groups, the value of p=0.014 < ?=0.05 was obtained, which means that statistically there is a significant difference in skill improvement between the electronic module and the print module where the electronic module is more capable of improving student skills. , while based on the percentage of skill increase, the electronic module group was 37.3% higher than the print module group. In conclusion, there was a significant increase in the skills of DIII midwifery students who were given the electronic module so it was concluded that the subcutaneous contraceptive e-module provided was able to improve the skills of DIII midwifery students
Pengaruh Media Video Animasi dan Media Video Teks tentang Body Image Dan Self-Esteem Terhadap Persepsi Remaja Terhadap Indeks Massa Tubuh Di Sma Negeri 1 Limboto Kabupaten Gorontalo
Masa remaja adalah masa yang sangat bergantung pada penampilan, yang menggiring opini remaja tentang harga diri (self esteem) dan citra tubuh (body image). Belum lagi pandangan mereka tentang menjadi kurus dan kecil itu dianggap cantik. Generasi 4.0 lebih dekat dan lebih menyukai media edukasi kesehatan yang bersifat teknologi canggih, ini dapat memudahkan tenaga kesehatan untuk mengedukasi remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh video animasi dan video teks tentang body image dan self esteem terhadap persepsi remaja tentang IMT. Penelitian ini menggunakan desain Quasi-Experimental dengan desain pretest-posttest design. Sampel terdiri dari 142 siswa yang diambil dari teknik total sampling, dan digunakan uji Wilcoxon dan mann whitney untuk menganalisis data. animasi body image dan self esteem mengubah persepsi remaja terhadap indeks massa tubuh dengan signifikansi p-value = 0,000 < 0,05. Oleh karena itu video animasi body image dan self esteem mengubah persepsi remaja putri tentang indeks massa tubuh di SMA Negeri 1 Limboto
Pengaruh konsumsi teh hitam dan konsultasi gizi terhadap kadar glukosa darah penderita DM tipe 2 di rumah sakit umum provinsi Sulawesi Tenggara
Pengaruh konsumsi teh hitam dan konsultasi gizi terhadap kadar glukosa darah penderita DM tipe 2 di rumah sakit umum provinsi Sulawesi Tenggar
Efektifitas pijat bayi terhadap perkembangan motorik bayi usia 6-12 bulan di Posyandu Mawar Perumnas Poasia kota Kendari
Efektifitas pijat bayi terhadap perkembangan motorik bayi usia 6-12 bulan di Posyandu Mawar Perumnas Poasia kota Kendar
Pengaruh Variasi Waktu Fiksasi Sediaan Apusan Darah Tepi pada Pewarnaan Giemsa terhadap Morfologi Sel Darah Merah
Sediaan Apus Darah Tepi (SADT) merupakan slide yang salah satu permukaannya dilapisi lapisan darah tipis, difiksasi menggunakan methanol (methyl alkohol) dan diwarnai dengan pengecatan giemsa atau wright. Methanol yang baik digunakan untuk fiksasi memiliki kandungan air kurang dari 3% dengan konsentrasi larutan 96%. Methanol yang dibiarkan terlalu lama terbuka akan menguap dan mengalami penurunan konsentrasi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat adanya pengaruh dari variasi waktu fiksasi SADT pada pewarnaan giemsa terhadap morfologi sel darah merah. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Penelitian eksperimen dengan jumlah sampel 24 dalam bentuk sediaaan apusan darah tepi dibagi 4 berdasarkan variasi waktu fiksasi yaitu 3 menit, 5 menit, 10 menit, dan 15 menit. Waktu fiksasi 3 menit menunjukan morfologi sel darah merah pada preparat dalam kondisi baik 100%, pada waktu 5 menit hasil krenasi sedang menjadi 16,7%, pada waktu 10 menit hasil krenasi sedang menjadi 50,0%, pada waktu 15 menit hasil krenasi sedang menjadi 83,3%. Hasil penelitian menunjukan waktu yang tepat untuk fiksasi pada waktu 3 menit. Hasil uji statistik Chi Square didapatkan nilai signifikan (P value) 0,015 (<0,05) sehingga dapat dinyatakan bahwa terdapat pengaruh yang jelas terhadap hasil mikroskopis bentuk sel darah merah dengan variasi waktu pada proses fiksasi sediaan apusan darah tepi.Peripheral blood smear preparations (SADT) is a slide with a thin layer of blood on one surface. It is fixed with methanol (methyl alcohol) and stained with Giemsa or Wright's stain. Quality methanol used for fixation has a water content of less than 3% with a solution concentration of 96%. Methanol that is exposed for too long will evaporate and the concentration will decrease. The primary objective of this study is to examine the effects of varying fixation times on peripheral blood smear preparations and their impact on the Giemsa staining of red blood cell morphology Experimental research with a total of 24 samples in the form of peripheral blood smear preparations divided by 4 based on variations in fixation time, namely 3 minutes, 5 minutes, 10 minutes and 15 minutes. At a fixation time of 3 minutes, the morphology of the erythrocytes in the preparation is 100% in good condition, at 5 minutes the crenation results are moderate to 16.7%; at 10 minutes, the crenation results are moderate to 50.0%; at 15 minutes, the crenation results are moderate to 83.3%. The research results show that the correct time for fixation is 3 minutes. The results of the Chi-square statistical test obtained a p-value of 0.015 (<0.05), so it can be stated that there is a clear influence on the microscopic results of the shape of red blood cells with variations in the time of fixation of peripheral blood smear preparations
Pengaruh pemberian daun ubi jalar, kerang laut, vitamin B12, dan vitamin C pada anak balita penderita anemia di wilayah kerja puskesmas Puuwatu kota Kendari tahun 2012
Pengaruh pemberian daun ubi jalar, kerang laut, vitamin B12, dan vitamin C pada anak balita penderita anemia di wilayah kerja puskesmas Puuwatu kota Kendari tahun 201
Analisis Determinan Gangguan Kesehatan Mental Emosional Remaja di SMA Negeri 1 Limboto
Generally, almost 50% of all mental health problems, including depression, anxiety, and aggressive behavior are estimated to begin at the age of 14 with prevalence rate about 10-20%, and most of them are lack of getting proper care and treatment. The main objective of this research was to analyze dterminants that closely related to mental-emotional health disorders. The samples of the research were 289 students of SMAN 1 Limboto. This research used analytical cross-sectional design. The result of the research showed that gender factor (p-value= 0,001), parenting style (p-value= 0,000), marital status of parents (p-value= 0,03) and experience of bullying (p-value= 0,013) are factors that significantly related to adolescents’ mental health disorder with the chi-square test result p-value (<0,05). Parenting model is the most related factor toward mental-emotional health disorders of adolescents which is proved by the result of ordinal logistic regression analysis in Wald Test with p-value<0,000 (0,05). It is expected that the interventions in improving adolescents’ mental-emotional health can be carried out together through integrated policies between governments, public health services, across sectors and health programs. By applying this technique, the preventive efforts of keeping good physical and psychological of adolescents can be actualized.Secara global sekitar 50% masalah kesehatan mental, termasuk depresi, kecemasan dan perilaku agresif diperkirakan mulai terjadi pada usia 14 tahun dengan tingkat prevalensi sekitar 10-20% dan lebih banyak dari mereka belum mendapatkan perawatan dan penanganan yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan dari gangguan kesehatan mental emosional. Sampel pada penelitian adalah 289 responden siswa SMA Negeri 1 Limboto. Desain penelitian berupa analisis observasi melalui pendekatan cross sectional. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa faktor jenis kelamin (p-value=0,001), pola asuh (p-value=0,000), status perkawinan orang tua, (p-value=0,03) dan riwayat bullying (p-value=0,013) adalah faktor yang berhubungan secara signifikan dan bermakna dengan gangguan kesehatan mental remaja berdasarkan hasil uji chi-square nilai p-value(<0,05). Dengan pola asuh orang tua menjadi determinan yang paling berpengaruh terhadap gangguan kesehatan mental emosional remaja melalui analisis uji regresi logistik ordinal dengan uji Wald nilai p-value< 0,000(0,05). Diharapkan intervensi masalah kesehatan mental emosional remaja dapat dilakukan secara bersama-sama melalui kebijakan-kebijakan yang terintegrasi antar pemerintah, dinas kesehatan, lintas sektor dan lintas program kesehatan agar dapat dilakukan upaya preventif guna menjaga remaja tetap sehat tidak hanya secara fisik tapi juga sehat secara psikis
Sistematik Review: Penyakit-penyakit akibat kerja di Bidang Industri dan Pengendaliannya
Penyakit akibat kerja dapat terjadi kapan saja, baik pada saat menggunakan mesin, alat kerja, proses pengolahan tempat kerja dan akibat dari lingkungan kerja itu sendiri. Beban penyakit dan cedera akibat kerja ini terjadi di sebagian besar di sektor pekerjaan. Maka dari itu artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi hazard yang terdapat di tempat kerja, serta apa saja penyakit akibat kerja dan cara pengendaliannya. Artikel ini merupakan sebuah systematic review dengan menggunakan pengumpulan data dari dua e-database yaitu PubMed dan Google Scholar. Strategi pencarian artikel menggunakan kata kunci, “Occupational Illness” OR “Occupational Health and Safety” AND “Prevention Strategy” OR “Effect of Occupational Exposure” dan menggunakan filter rentang waktu dari tahun 2013-2023. Pemilihan akhir artikel yang termasuk kedalam studi berjumlah 7 artikel. Dari artikel tersebut didapatkan beberapa jenis hazard di tempat kerja seperti physical hazard, chemical hazard, biohazard dan psychosocial hazard. Selain itu juga terdapat bahaya lain seperti bahaya dari kebisingan, getaran, thermal (tekanan panas atau dingin), radiasi, dan paparan debu. Penyakit-penyakit akibat kerja menjadi beban di tiap bidang sektor pekerjaan yang tentunya sangat merugikan. Dari semua penyakit akibat kerja yang ada, mulai dari tingkat keparahan paling rendah sampai paling tinggi bahkan hingga menyebabkan kematian. Prinsipnya penyakit akibat kerja ini dapat diminimalisir dan dicegah dengan cara menerapakan K3 yang baik seperti pengendalian faktor risiko yang cepat dan tepat
Literatur Review : Analisis Faktor Kepemilikan Jaminan Kesehatan Nasional Menuju Universal Health Coverage
Latar belakang: Program Jaminan Kesehatan Nasional suatu negara bertujuan untuk mencapai cakupan Universal Health Coverage dan menjamin bahwa setiap warga negara memiliki akses ke layanan kesehatan. Tujuan: Untuk mengevaluasi aspek-aspek yang berkaitan dengan keterlibatan dalam Jaminan Kesehatan Nasional, tantangan yang dihadapi, dan upaya yang dilakukan untuk mempertahankan dan meningkatkan keterlibatan. Metode: Peneliti menggunakan teknik analisis data sederhana (simplified approach). Peneliti telah memilih 12 artikel nasional dan 8 internasional untuk penelitian. Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa tiga faktor utama memengaruhi keterlibatan dalam Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan: faktor predisposisi, faktor pendukung, dan faktor kebutuhan. Faktor predisposisi termasuk usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, dan jumlah keluarga. Kesimpulan: Usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, dan jumlah anggota keluarga adalah faktor predisposisi. Faktor pemungkin adalah pengetahuan, pendapatan, dan dukungan keluarga, sementara faktor kebutuhan adalah persepsi dan keinginan keluarga. Penelitian ini tidak hanya menemukan komponen, tetapi juga menemukan hambatan yang mempengaruhi partisipasi dalam Jaminan Kesehatan Nasional dan upaya yang dapat meningkatkan elemen partisipasi.Introduction: A country's National Health Insurance Program aims to achieve Universal Health Coverage and guarantee that every citizen has access to healthcare. Objective: To evaluate aspects related to involvement in National Health Insurance, challenges faced, and efforts made to maintain and increase engagement. Method: Researchers use simple data analysis techniques (simplified approach). Researchers have selected 12 national and 8 international articles for research. Results: This study shows that three main factors influence involvement in the Health Social Security Administration Agency: predisposing factors, supporting factors, and need factors. Predisposing factors include age, gender, education, occupation, and number of families. Conclusion: Age, gender, education, occupation, and number of family members are predisposing factors. Possible factors are knowledge, income, and family support, while need factors are family perceptions and desires. The study not only found components but also found barriers that affect participation in National Health Insurance and efforts that can increase participation elements