Health Information : Jurnal Penelitian
Not a member yet
    657 research outputs found

    Stigma dan Diskriminasi Sosial Terhadap Pengidap HIV-AIDS: Peran Masyarakat di Wilayah Timur Indonesia

    Get PDF
    Penyakit HIV-AIDS masih menjadi tantangan serius dalam konteks kesehatan global, termasuk di Wilayah Timur Indonesia. Selain dampak fisik yang ditimbulkan oleh penyakit ini, individu yang mengidap HIV-AIDS seringkali harus menghadapi stigma dan diskriminasi sosial yang dapat berkontribusi pada dampak psikologis dan sosial yang signifikan. Objective : Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pemahaman mendalam tentang bagaimana masyarakat di Wilayah Timur Indonesia memainkan peran dalam membentuk sikap dan perilaku terhadap pengidap HIV-AIDS, serta untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat stigma dan diskriminasi sosial. Method : Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Partisipan dipilih secara purposif dari masyarakat di Wilayah Timur Indonesia yang memiliki pengalaman langsung atau tidak langsung dengan HIV-AIDS. Result: Analisis data menghasilkan temuan-temuan signifikan. Mayoritas masyarakat menunjukkan tingkat ketakutan dan kurangnya pemahaman yang mendasar tentang HIV-AIDS yang dijabarkan dalam tema Faktor Pendorong Di Balik Munculnya Sikap dan Perilaku Diskriminatif Serta Stigmatisasi, Kurang Pengetahuan Terhadap Penyakit dan Proses sosial, budaya dan masalah moral. Conclusion : Penelitian ini menyimpulkan bahwa masyarakat di Wilayah Timur Indonesia memiliki peran krusial dalam membentuk lingkungan sosial bagi pengidap HIV-AIDS. Temuan-temuan ini dapat menjadi dasar bagi pengembangan strategi intervensi dan program pendidikan yang bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat dan mengurangi stigma terkait HIV-AIDS. Upaya kolaboratif antara pemerintah, lembaga kesehatan, dan masyarakat perlu diperkuat untuk menciptakan lingkungan inklusif yang mendukung individu yang hidup dengan HIV-AIDS.Penyakit HIV-AIDS masih menjadi tantangan serius dalam konteks kesehatan global, termasuk di Wilayah Timur Indonesia. Selain dampak fisik yang ditimbulkan oleh penyakit ini, individu yang mengidap HIV-AIDS seringkali harus menghadapi stigma dan diskriminasi sosial yang dapat berkontribusi pada dampak psikologis dan sosial yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pemahaman mendalam tentang bagaimana masyarakat di Wilayah Timur Indonesia memainkan peran dalam membentuk sikap dan perilaku terhadap pengidap HIV-AIDS, serta untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat stigma dan diskriminasi sosial. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Partisipan dipilih secara purposif dari masyarakat di Wilayah Timur Indonesia yang memiliki pengalaman langsung atau tidak langsung dengan HIV-AIDS. Analisis data menghasilkan temuan-temuan signifikan. Mayoritas masyarakat menunjukkan tingkat ketakutan dan kurangnya pemahaman yang mendasar tentang HIV-AIDS yang dijabarkan dalam tema Faktor Pendorong Di Balik Munculnya Sikap dan Perilaku Diskriminatif Serta Stigmatisasi, Kurang Pengetahuan Terhadap Penyakit dan Proses sosial, budaya dan masalah moral. Penelitian ini menyimpulkan bahwa masyarakat di Wilayah Timur Indonesia memiliki peran krusial dalam membentuk lingkungan sosial bagi pengidap HIV-AIDS. Temuan-temuan ini dapat menjadi dasar bagi pengembangan strategi intervensi dan program pendidikan yang bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat dan mengurangi stigma terkait HIV-AIDS. Upaya kolaboratif antara pemerintah, lembaga kesehatan, dan masyarakat perlu diperkuat untuk menciptakan lingkungan inklusif yang mendukung individu yang hidup dengan HIV-AIDS

    Pengaruh Teknik Massage Endorphin Dan Teknik Relaksasi Nafas Dalam Terhadap Nyeri Persalinan

    Get PDF
    Labor pain can cause stress which causes excessive release of ketacolamine and steroids. This hormone can cause smooth muscle tension and vasoconstriction of blood vessels. The purpose of this study was to determine the effect of endorphin massage techniques and deep breathing relaxation techniques for labor pain in the first phase of active phase in the delivery room at Sitti Khadijah Hospital. The research design used was quasi experimental nonequivalent control group design. The sampling technique uses purposive sampling with a total sample of 26 respondents. Bivariate analysis used was paired sample t-test and independent sample t-test. The results showed there was a decrease in labor pain after endorphin massage techniques and deep breathing relaxation techniques with a p-value of 0,000 ? <0.05. In conclusion, endorphin massage techniques and breathing relaxation techniques significantly influence labor pain during the active phase.Nyeri persalinan dapat menimbulkan stres yang menyebabkan pelepasan hormon ketakolamin dan steroid yang berlebihan. Hormon ini dapat menyebabkan terjadinya ketegangan otot polos dan vasokontriksi pembuluh darah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh tehnik massage endorphin dan tehnik relaksasi nafas dalam terhadap nyeri persalinan kala I fase aktif di Ruang Bersalin RSIA Sitti Khadijah. Desain penelitian yang digunakan adalah quasi eksperiment nonequivalent control group design. Tehnik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 26 responden. Analisis bivariat yang digunakan adalah paired sample t- test dan independent sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan ada penurunan nyeri persalinan setelah diberikan tehnik massage endorphin dan tehnik relaksasi nafas dalam dengan nilai p-value 0,000 ? < 0,05. Kesimpulannya, tehnik massage endorphin dan tehnik relaksasi nafas dalam berpengaruh secara signifikan terhadap nyeri persalinan kala I fase aktif

    Gambaran Peran Keluarga Dalam Perawatan Pasien Gagal Jantung : Perspektif Pasien

    Get PDF
    Heart failure is a significant health problem both in the world and in Indonesia, and its morbidity and mortality rates are high. This condition is associated with low self-care performed by sufferers. Therefore, health officers give therapy and take the family's role. The purpose of this study is to determine the role of the family in the care of heart failure patients based on the patient's perspective. The quantive descriptive method used in this research. A total of 294 heart failure patients were selected using purposive techniques based on sample selection criteria that researchers had set. The results of this study obtained an overview of the family's role in treating heart failure patients with a good category. It is hoped that family involvement in patient care will also carry out in treating patients with other clinical conditions. Gagal jantung menjadi masalah kesehatan utama baik di dunia maupun di Indonesia dan angka morbiditas dan mortalitasnya tinggi. Kondisi ini dikaitkan dengan rendahnya perawatan mandiri yang dilakukan oleh penderita. Perawatan tidak hanya diberikan oleh petugas kesehatan saja, namun dibutuhkan peran keluarga. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui peran keluarga dalam perawatan pasien gagal jantung berdasarkan perspektif pasien. Metode dikriptif kuantitaif digunakan dalam penilitain ini. Sejumlah 294 pasien gagal jantung dipilih dengan teknik purposive berdasrkan kriteria pemilihan sample yang telah ditetapkan oleh peneliti. Hasil penelitian ini diperoleh gambaran peran keluarga pada perawatan pasien gagal jantung dengan kategori baik. Diharapkan pelibatan keluarga dalam perawatan pasien juga dilakukan pada perawatan pasien dengan kondisi klinis yang lain

    Pengaruh Profilaksis Pra-Pajanan (PPRP) Terhadap Insiden Infeksi Menular Seksual Pada Lelaki Seks Lelaki (LSL)

    Get PDF
    Sexually transmitted infections (STIs) are frequently found in the Men that Have Sex with Men (MSM) group, with or without HIV. Pre-exposure prophylaxis (PrEP) is often used to reduce HIV-AIDS incidence and can be considered to reduce the incidence of STIs in the MSM group. This study reviewed the effects of PrEP on the transmission and spread of STIs in MSM. We conducted a literature review by searching for journal articles published in the 2013–2023 period on Google Scholar, Science Direct, PubMed, Hindawi, and Ebsco. According to the research, the MSM group has a high STIs rate due to risky behaviors such as unprotected sex, multiple partners, and anal sex. Although PrEP has been proven to reduce the incidence of HIV-AIDS, it has not been shown to reduce the incidence of STIs in the MSM group with or without HIV due to increased risky behaviors after using PPrpInfeksi menular seksual (IMS) seringkali ditemukan pada kelompok lelaki seks lelaki (LSL) dengan atau tanpa HIV. Profilaksis pra-pajanan (PPrP) yang seringkali digunakan untuk menurunkan insidensi HIV-AIDS juga dapat dipertimbangkan penggunaannya untuk menurunkan insidensi IMS pada kelompok LSL. Studi ini dilakukan untuk meninjau efek pemberian PPrP dalam menurunkan transmisi dan penyebaran IMS pada LSL. Kami melakukan telaah literatur dengan mencari artikel jurnal pada Google Scholar, Science Direct, PubMed, Hindawi dan Ebsco yang dipublikasikan dalam periode 2013-2023. Berdasarkan penelitian, tingginya angka IMS pada kelompok LSL disebabkan karena perilaku berisiko seperti perilaku seks tanpa kondom, berganti-ganti pasangan, dan perilaku seks anal. Walaupun PPrP terbukti efektif menurunkan insidensi HIV-AIDS, penggunaan PPrP belum terbukti efektif untuk menurunkan insidensi IMS pada kelompok LSL dengan atau tanpa HIV akibat meningkatnya perilaku berisiko setelah penggunaan PPrP

    Pengaruh Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) Fisik dan Cream Pelindung Terhadap Kejadian Melasma Pada Petani di Kabupaten Wonosobo

    Get PDF
    Wonosobo Regency with highland characteristics further increases the potential for farmers affected by melasma. The most common risk factors for melasma are UV exposure and PPE. The aim of the study was to analyze the relationship between the use of physical PPE and protective creams with the incidence of melasma in farmers in Wonosobo Regency. Research with observational analytic and cross sectional design. A sample of 92 farmers was taken by purposive sampling, and based on restriction criteria (inclusion criteria: minimum 10 years of farming and 30-60 years) and exclusion criteria (farmers with congenital skin diseases, use of hormonal drugs, and use of family planning). The results showed that there was a significant relationship with the use of PPE protective clothing and protective cream. The highest risk is the use of a protective cream with risks (4,239). The study concluded that there is a close relationship between the use of PPE and protective creams with the incidence of melasma in farmers in Wonosobo District.Kabupaten Wonosobo dengan karakteristik dataran tinggi semakin memperbesar potensi bagi petani terkena melasma. Faktor resiko penyebab melasma paling sering karena paparan UV dan APD. Tujuan penelitian untuk menganalisis hubungan penggunaan APD fisik dan cream pelindung dengan kejadian melasma pada petani di Kabupaten Wonosobo. Penelitian dengan analitik observasional, desain cross sectional. Sampel sebanyak 92 petani diambil secara purposive sampling, dan berdasarkan kriteria restriksi (kriteria inklusi: minimal 10 tahun bertani dan 30-60 tahun) dan kriteria ekslusi (petani dengan penyakit kulit bawaan, pengunaan obat hormonal, dan penggunaan KB). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan terhadap penggunaan APD pakaian pelindung dan cream pelindung. Resiko yang paling tinggi yaitu penggunaan cream pelindung dengan resiko (4,239). Studi tersebut menyimpulkan adanya hubungan erat antara penggunaan APD dan cream pelindung dengan kejadian melasma pada petani di Kabupaten Wonosobo

    Fuchs Uveitis Syndrome : Tinjauan Komprehensif Terkini

    Get PDF
    Latar Belakang: Fuchs uveitis syndrome (FUS) adalah kondisi mata kronis, dapat unilateral, ditandai dengan sindrom peradangan ringan menyebabkan katarak dan glaukoma sekunder.Prevalensi FUS lebih tinggi di negara maju dan lebih rendah di negara berkembang. Hal ini diakibatkan oleh beberapa faktor, salah satunya akibat kelainan FUS yang kurang dapat dikenali dengan baik kecuali oleh spesialis uveitis. Pada kondisi ini literatur terbaru yang mengulas FUS dari berbagai sumber literatur masih sulit dijumpai.Tujuan: Penulis ingin menyatukan berbagai literatur terkait FUS serta memberikan referensi terbaru terkait FUS. Metode:Sampel diambil menggunakan database Google Scholar, PubMed, Cochrane Library dengan kata kunci “fuchs uveitis syndrome” dalam kurung waktu 5 (lima) tahun. Studi diambil jika memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.Hasil:Fuchs uveitis syndrome atau Fuchs heterochromic iridocyclitis merupakan penyebab tersering terjadinya uveitis anterior. Etiologi tersering oleh virus rubela dan sitomegalovirus. Tanda khas dijumpai peradangan ruang anterior, keratik presipitat berbentuk bintang. Kesimpulan: Pemilihan terapi pada kelainan FUS penting untuk diketahui bagi tenaga kesehatan terutama dalam penatalaksanaan dan pencegahan terjadinya komplikasi lanjut.Background: Fuchs uveitis syndrome (FUS) is a chronic eye condition, can be unilateral, characterized by a mild inflammatory syndrome causing secondary cataracts and glaucoma. The prevalence of FUS is higher in developed countries and lower in developing countries. This is caused by several factors, one of which is due to FUS abnormalities which are not well recognized except by uveitis specialists. In this condition, the latest literature reviewing FUS from various sources of literature is still difficult to find. Purpose: The author wants to bring together various literature related to FUS and provide the latest references. Methods:Samples were taken using the Google Scholar database, PubMed, Cochrane Library with the keyword "fuchs uveitis syndrome" within 5 (five) years. Studies were taken if they met the inclusion and exclusion criteria.Results: FUS or Fuchs heterochromic iridocyclitis is the most common cause of anterior uveitis. The most common etiology is the rubella and cytomegalovirus. Typical signs are inflammation of the anterior chamber, star-shaped precipitate crusts. Conclusion: The choice of therapy for FUS disorders is important to know for health workers, especially in the management and prevention of late complications

    Gambaran Perilaku Personal Hygiene Pada Lansia Di Posyandu Lansia Desa Ngadirejo

    Get PDF
    Personal hygiene merupakan faktor penting dalam mempertahankan derajat kesehatan individu. perilaku personal hygiene lansia yang harus dipenuhi, yaitu merupakan kebutuhan dasar yang meliputi perawatan kulit, mandi, perawatan mulut, perawatan mata, hidung, telinga, perawatan rambut, serta perawatan kaki dan kuku. Peningkatan personal hygiene dan perlindungan terhadap lingkungan yang tidak menguntungkan merupakan perlindungan khusus yang dapat mempengaruhi tingkat Kesehatan. hasil wawancara dengan 6 responden didapatkan data bahwa perilaku personal hygiene lansia di Posyandu Dewi Ratih 2 dinyatakan kurang baik dalam memperhatikan kebersihan diri terutama pada kebersihan gigi dan mulut. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran personal hygiene yang berfokus pada lansia di desa Ngadirejo. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik. Pengambilan sampel menggunakan teknik proporsional random sampling dan mendapatkan 92 lansia. Hasil dari penelitian ini diperoleh sebagian besar lansia berperilaku membersihkan badan atau kulit dengan kategori cukup yaitu sebanyak 49 lansia (53,3 %). sebagian besar lansia berperilaku membersihkan kuku dengan kategori cukup yaitu sebanyak 71 lansia (77,2 %) sebagian besar lansia berperilaku membersihkan rambut dengan kategori cukup yaitu sebanyak 77 lansia (83,7 %). sebagian besar lansia berperilaku berpakaian dengan kategori kategori cukup yaitu sebanyak 67 lansia (72,8 %). sebagian besar lansia berperilaku membersihkan gigi dengan kategori cukup yaitu sebanyak 68 lansia (73,9%) sebagian besar lansia berdandan dengan kategori cukup yaitu sebanyak 71 lansia (77,2 %). sebagian besar lansia berperilaku membersihkan telinga dengan kategori cukup yaitu sebanyak 76 lansia (82,6 %). sebagian besar lansia berperilaku melakukan kebersihan umum dengan kategori cukup yaitu sebanyak 60 lansia (65,2 %). sebagian besar lansia berperilaku menjaga personal hygiene dalam kategori cukup yaitu sebanyak 52 lansia (56,5%). Kesimpulan : Perilaku personal hygiene lansia di posyandu lansia desa Ngadirejo Sebagian besar pada kategori cukup.Personal hygiene is an important factor in maintaining individual health status. Personal hygiene behavior for the elderly that must be met is a basic need that includes skin care, bathing, oral care, eye, nose, ear care, hair care, and foot and nail care. Improvement of personal hygiene and protection against unfavorable environment is a special protection that can affect the level of health. the results of interviews with 6 respondents obtained data that the personal hygiene behavior of the elderly at Posyandu Dewi Ratih 2 was stated to be poor in paying attention to personal hygiene, especially in dental and oral hygiene. The purpose of this study is to find out the description of personal hygiene that focuses on the elderly in Ngadirejo village. The method in this research uses descriptive analytic method. Sampling using proportional random sampling technique and get 92 elderly. The results of this study showed that most of the elderly had sufficient behavior to clean their bodies or skin, namely 49 elderly (53.3%). most of the elderly behaved in cleaning their nails in the sufficient category, namely 71 elderly (77.2%), most of the elderly behaved in cleaning their hair in the sufficient category, namely as many as 77 elderly (83.7%). most of the elderly dressed in the sufficient category, namely 67 elderly (72.8%). the majority of the elderly behaved in cleaning their teeth in the sufficient category, namely as many as 68 elderly (73.9%), the majority of the elderly dressed up in the sufficient category, namely as many as 71 elderly (77.2%). Most of the elderly have sufficient ear cleaning behavior, namely 76 elderly (82.6%). most of the elderly behaved in general cleaning with the sufficient category, namely as many as 60 elderly (65.2%). most of the elderly behave in maintaining personal hygiene in the sufficient category, namely as many as 52 elderly (56.5%). Conclusion: The personal hygiene behavior of the elderly in the elderly Posyandu in Ngadirejo village is mostly in the sufficient category

    Pencitraan Computed Tomography Pada Pasien Trauma Thoracolumbar RSUP PROF. DR. I.G.N.G. Ngoerah Tahun 2022

    Get PDF
    Thoracolumbar trauma is a type of trauma to the bones that can cause disability, deformity and neurological deficits, either transiently or permanently. The impact of late diagnosis of thoracolumbar trauma can cause permanent disability and reduce quality of life. Therefore, classification based on imaging needs to be done as soon as possible to get the right treatment. The aim of this study was to determine the characteristics of computed tomography radiological images in thoracolumbar trauma patients at Prof. Hospital. Dr. I.G.N.G Ngoerah in 2022. The method used in this study was a cross-sectional method with a retrospective descriptive type of research. Sample collection was obtained through patient data with thoracolumbar trauma at Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah in 2022. Analysis of the research data is in the form of descriptive analysis in the form of frequencies and percentages on categorical data as well as averages and standard deviations on numerical data using Statistical Product and Service Solution (SPSS) software version 26.0. Based on age, it was found that the most respondents who experienced thoracolumbar trauma were at the age of 51-59 (31.3%). Based on gender, the patients were male (68.7%) and female (31.3%). Based on clinical symptoms, patients with back pain (90.7%) and neurological disorders (28.1%). Based on radiological imaging history, there was listhesis (21.9%), corpus compression (100%), corpus retropulsion (78.1%), facet dislocation (6.3%), interspinous distance (3.1%). Based on the type of trauma, it can be divided into three, namely compression type (15.6%), burst type (78.1%), and chance type (12.5%). The mean canal encroachment was also found to be 37.63 ± 27.97. The characteristics of the respondents were divided into 4 categories, namely age, sex, clinical symptoms, and radiological imaging with a CT scanTrauma thoracolumbar merupakan salah satu jenis trauma pada tulang yang dapat menyebabkan disabilitas, deformitas dan defisit neurologis, baik secara transien maupun permanen. Dampak keterlambatan diagnosis trauma thoracolumbar dapat menyebabkan kecacatan secara permanen dan mengurangi kualitas hidup. Oleh karena itu, klasifikasi berdasarkan pencitraan perlu dilakukan sesegera mungkin untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Penelitian bertujuan untuk mengetahui karakteristik gambaran radiologi computed tomography pada pasien trauma thoracolumbar RSUP Prof. Dr. I.G.N.G Ngoerah tahun 2022. Metode yang digunakan penelitian ini adalah metode cross sectional dengan jenis penelitian berupa deskriptif retrospektif. Pengumpulan sampel diperoleh melalui data pasien dengan trauma thoracolumbar di RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah pada tahun 2022. Analisis data penelitian ini berupa analisis deskriptif berupa frekuensi dan persentase pada data kategorik serta rata-rata dan standar deviasi pada data numerik menggunakan software Statistical Product and Service Solution (SPSS) versi 26.0. Berdasarkan usia, didapatkan responden terbanyak yang mengalami trauma thoracolumbar berada pada usia 51-59 (31,3%). Berdasarkan jenis kelamin, pasien laki-laki (68,7%) dan perempuan (31,3%). Berdasarkan gejala klinis, pasien dengan nyeri punggung (90,7%) dan gangguan neurologis (28,1%). Berdasarkan riwayat pencitraan radiologis, didapatkan listhesis (21,9%), korpus kompresi (100%), korpus retropulsi (78,1%), dislokasi facet (6,3%), interspinous distance (3,1%). Berdasarkan tipe trauma dapat dibagi menjadi tiga, yaitu tipe compression (15,6%), tipe burst (78,1%), dan tipe chance (12,5%). Rerata canal encroachment juga ditemukan sebesar 37,63 ± 27,97. Karakteristik responden yang terbagi dalam 4 kategori, yaitu usia, jenis kelamin, gejala klinis, dan pencitraan radiologis dengan CT Sca

    Hubungan Antara Status Gizi Dengan Perkembangan Anak Usia 12 - 24 Bulan Di Klinik Pratama Masta Kelurahan Pekan Labuhan Kecamatan Medan Labuhan

    Get PDF
    Status gizi merupakan suatu keadaan dimana kesehatan tubuh  membutuhkan asupan zat gizi melalui makanan dan minuman yang dihubungkan dengan kebutuhan. Status gizi baik dan cukup , namun karena pola konsumsi yang tidak seimbang maka akan timbul status gizi buruk dan status gizi lebih (Anggraini, 2010). Penelitian ini merupakan jenis penelitian cross sectional yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan perkembangan anak usia 12-24 bulan di Klinik Pratama Masta Kelurahan Pekan Labuhan Kecamatan Medan Labuhan pada Tahun 2020. Sampel dalam penellitian ini adalah ibu dari anak pada usia 12-24 bulan yang berjumlah 54 responden yang ditetapkan berdasarkan perhitungan rumus slovin. Analisis data dilakukan menggunakan analisis bivariate dengan uji chi scuarepada ? = 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa status gizi anak pada usia 12-24 bulan mayoritas baik sebanyak 33 responden (61,11%) sesuai dengan perkembangan usia anak sebanyak 28 responden (51,9%). Hasil uji chi square diperoleh nilai p-valuesebesar 0,003. Dengan demikian ada hubungan yang bermakna antara status gizi dengan perkembanga anak pada usia 12-24 bulan di Klinik Pratama Masta Tahun 2020. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi informasi bahwa masih terdapat gizi yang  belum baik serta perkembagan yang belum sesuai, para kader harus terus  memotivasi orang tua agar terus mengikuti posyandu, diharapkan memperbanyak jumlah sampel dan cakupan wilayah serta memperluas faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan bayi.Nutritional status is a condition in which the body's health requires nutrient intake through food and drink which is linked to needs. The nutritional status is good and sufficient, but due to unbalanced consumption patterns, malnutrition and excess nutritional status will arise (Anggraini, 2010). This research is a type of cross sectional study which is used to determine the relationship between nutritional status and development of children aged 12-24 months at the Pratama Masta Clinic, Pekan Labuhan Village, Medan Labuhan District in 2020. The sample in this research is mothers of children aged 12-24 months, amounting to 54 respondents who were determined based on the calculation of the Slovin formula. Data analysis was performed using bivariate analysis with the chi scuarese test at ? = 5%. The results of this study indicate that the nutritional status of children at the age of 12-24 months is mostly good as many as 33 respondents (61.11%) according to the development of the child's age as many as 28 respondents (51.9%). The results of the chi square test obtained a p-value of 0.003. Thus, there is a significant relationship between nutritional status and development of children aged 12-24 months at the Primary Masta Clinic in 2020. It is hoped that the results of this study can provide information that there is still poor nutrition and inappropriate development, cadres must continue to motivate. Parents to continue to follow posyandu, are expected to increase the number of samples and the coverage area and expand other factors that affect the growth and development of babies

    Analisis Tingkat Kepuasan Pasien Terhadap Pelayanan Kesehatan Bagi Pengguna BPJS Di Puskesmas Martubung

    Get PDF
    Kepuasan pasien merupakan konsekuensi dari pelayanan kesehatan yang diterima setiap pasien dan berdampak signifikan terhadap kondisi kesehatan. Semua pasien BPJS yang berobat ke Puskesmas Martubung harus benar-benar puas. Kepuasan pelanggan Puskesmas Martubung terhadap pelayanan kesehatan bagi konsumen BPJS menjadi tujuan utama penelitian ini. Penelitian ini menggunakan bentuk penelitian kuantitatif cross sectional. Waktu penelitian dilakukan di Puskesmas Martubung pada bulan November dan Desember tahun 2022. Populasi dalam penelitian ini adalah semua Pasien BPJS dan untuk sampel berjumlah 99 responden. Pengambilan sample dalam penelitian ini menggunakan teknik Probability Sampling dan alat penelitian berupa kuesioner penelitian yang mengajukan pertanyaan tentang layanan yang diterima oleh pasien yang memenuhi lima kriteria berbeda reliability, responsiveness, assurance, empaty dan tangibles. Hasil analisis di ketahui bahwa variabel reliability, assurance, empaty dan tangibles berhubungan dengan tingkat kepuasan pasien dengan p value < 0,05.patient satisfaction is a consequence of the health services each patient receives and has a significant impact on health conditions. All patients, both BPJS patients who seek treatment at the Martubung Health Center must be completely satisfied. Martubung Health Center customer satisfaction with health services for BPJS consumers is the main objective of this research. This study used a cross-sectional quantitative research form. When the research was conducted at the Martubung Health Center in November and December 2022. The population in this study were BPJS patients, totaling 99 respondents. By utilizing the Probability Sampling research sample and research tools in the form of a research questionnaire that asks questions about the services received by patients who meet five different criteria: tangible, dependability, responsiveness, confidence, and sensitivity. the results of the analysis show that the variables reliability, assurance and tangibles are related to the level of patient satisfaction with a p value <0.05

    477

    full texts

    657

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Health Information : Jurnal Penelitian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇