Health Information : Jurnal Penelitian
Not a member yet
    657 research outputs found

    Pengaruh Animasi terhadap Pengetahuan dan Persepsi Mengenai COVID-19 dan Dampaknya terhadap Imunitas Determinan Kejadian Malaria

    Get PDF
    Banyak faktor untuk dapat melakukan pencegahan sedini mungkin terhadap Covid-19. Langkah awal yang dapat dilakukan pemerintah atau petugas kesehatan adalah memberikan pengetahuan dan pemahaman yang baik mengenai Covid-19. Hal ini dikarena pengetahuan dan persepsi yang baik dapat memberikan dampak positif terhap imunitas seseorang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitaf dengan desain pre and post grup design. Sampel sebanyak 30 orang melalui teknik random sampling. Instrumen penelitian terdiri dari kusioner pengetahuan dan persepsi, serta kecemasan. Teknik analisis data menggunakan uji Wilcoxon untuk melihat perbedaan sebelum dan sesudah perlakuan yang diberikan yaitu pemberian animasi tersebut. Hasil dari pengolahan dan analisis yang dilakukan didapatkan kesimpulan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pengetahuan dan persepsi sebelum dan sesudah diberikan animasi. Hasil lain adalah akibat dari pengeatahuan dan kecemasan yang baik mengenai Covid-19 dapat mengontrol kecemasannya sehingga berpengaruh terhadap imunitas seseorang dalam masa pandemic Covid-19.There are many factors to prevent Covid-19 as early as possible. The first step that the government or health workers can take is to provide good knowledge and understanding about Covid-19. This is because good knowledge and perception can have a positive impact on a person's immunity. This study used a quantitative method with pre and post group design. A sample of 30 people through a random sampling technique. The research instrument consisted of knowledge and perception questionnaires, as well as anxiety. The data analysis technique used the Wilcoxon test to see the difference before and after the treatment given, namely the provision of the animation. The results of the processing and analysis carried out concluded that there were significant differences in knowledge and perceptions before and after being given animation. Another result is the result of good knowledge and anxiety about COVID-19 being able to control anxiety so that it affects a person's immunity during the COVID-19 pandemic

    Perbandingan Distraksi Animasi Dengan Teknik Relaksasi Napas Dalam Terhadap Intensitas Nyeri Pada Pasien Sunat

    Get PDF
    Background: Circumcision is a commonly performed surgical procedure worldwide, with a global prevalence of approximately 37.7%. However, it can induce pain and anxiety in patients. Distraction through animated videos has been identified as a potential method for managing pain in pediatric circumcision patients. Objective: This study aims to compare the effects of using animated distraction and deep breathing relaxation techniques on pain intensity in circumcision patients. Methods: A quantitative approach with a quasi-experimental design was employed. The intervention group (n=25) received animated distraction, while the control group (n=25) received deep breathing relaxation. Pain intensity was measured using the PCS-C instrument after the circumcision procedure. Results: The intervention group exhibited an average pain intensity score of 1.64 (range 1-2), while the control group had an average score of 2.08 (range 1-3). The Mann-Whitney statistical test showed a p-value of 0.020 (p < 0.05), indicating a significant difference in pain intensity between the intervention and control groups. Conclusion: Animated distraction is more effective in reducing pain intensity in circumcision patients compared to deep breathing relaxation. These findings have the potential to enhance pain management during circumcision procedures in children.Latar Belakang: Sunat adalah tindakan bedah yang umum dilakukan di seluruh dunia, dengan prevalensi global sekitar 37,7%, namun dapat menimbulkan nyeri dan kecemasan pada pasien. Distraksi melalui video animasi telah diidentifikasi sebagai metode potensial untuk mengelola nyeri pada anak-anak pasien sunat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan membandingkan efek penggunaan distraksi animasi dan teknik relaksasi napas dalam terhadap intensitas nyeri pada pasien sunat. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimental kuasi. Kelompok intervensi (n=25) menerima distraksi animasi, sedangkan kelompok kontrol (n=25) menerima teknik relaksasi napas dalam. Intensitas nyeri diukur menggunakan instrumen PCS-C setelah prosedur sunat selesai. Hasil: Kelompok intervensi memiliki nilai intensitas nyeri rata-rata 1,64 (1-2), sedangkan kelompok kontrol memiliki rata-rata 2,08 (1-3). Uji statistik Mann-Whitney menunjukkan p-value=0,020 (p < 0,05), menunjukkan perbedaan signifikan dalam intensitas nyeri antara kelompok intervensi dan kontrol. Kesimpulan: Distraksi animasi lebih efektif dalam mengurangi intensitas nyeri pada pasien sunat dibandingkan teknik relaksasi napas dalam. Temuan ini dapat membantu meningkatkan pengelolaan nyeri selama prosedur sunat pada anak-anak

    Keefektifan Penggunaan Celana Dalam Pereda Dismenorea (Cedarris) Terhadap Tingkat Nyeri Menstruasi

    Get PDF
    Dysmenorrhea is the pain experienced by women during menstruation. It disrupts daily activities and reduces performance. Many women cope with it by resting. One approach to managing it is using warm compresses. Menstrual Pain Relief Underwear (CEDARRIS) is an innovative product designed with a warm compress to alleviate menstrual pain. The use of CEDARRIS underwear doesn't require much time and doesn't involve heavy physical work. This study aims to determine the effectiveness of using Menstrual Pain Relief Underwear (CEDARRIS) on menstrual pain levels. Research Method: This was quantitative research with a one-group pretest-posttest design. The sample comprised 30 female students from the 2020 Nursing class at Universitas Muhammadiyah Purwokerto. A cluster random sampling technique was employed. The data analysis method used the Wilcoxon test with a significance level of 0.05. Before wearing Menstrual Pain Relief Underwear (CEDARRIS), most of the students experienced moderate pain, while after it, most of them reported mild pain. The Wilcoxon test results show a Z-score of -4.690 with a p-value of 0.000 (p 0.05). Menstrual Pain Relief Underwear (CEDARRIS) effectively reduces menstrual pain levels among female nursing students from the 2020 class at Universitas Muhammadiyah Purwokerto.Dismenore merupakan nyeri yang diderita wanita saat menstruasi. Dismenore yang dialami wanita mengakibatkan aktivitas sehari-hari terganggu dan menurunnya kinerja. Banyak wanita hanya mengatasinya dengan istirahat. Salah satu cara penangananya yaitu dengan melakukan kompres hangat. Celana dalam pereda dismenorea (CEDARRIS) merupakan inovasi produk dengan konsep kompres hangat yang digunakan untuk mengatasi nyeri menstruasi. Penggunaan celana dalam pereda dismenorea (CEDARRIS) tidak memakan waktu yang lama dan kerja fisik yang berat. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui keefektifan penggunaan celana dalam pereda dismenorea (CEDARRIS) terhadap tingkat nyeri menstruasi. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan one group pretest-postest design. Jumlah responden sebanyak 30 mahasiswi putri Angkatan 2020 Keperawatan S1 Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Teknik sampling yang digunakan cluster random sampling. Analisis yang digunakan adalah Uji Wilcoxon dengan ?=0,05. Sebelum penggunaan celana dalam pereda dismenore (CEDARRIS) sebagian besar mahasiswi mengalami nyeri sedang dan sesudah penggunaan celana dalam pereda dismenore (CEDARRIS) sebagian besar mahasiswi berada pada skala nyeri ringan. Hasil uji Wilcoxon menunjukan nilai Z-score -4,690 dengan p value 0,000 (p < 0.05). Penggunaan celana dalam pereda dismenorea (CEDARRIS) efektif untuk mengurangi tingkat nyeri menstruasi pada mahasiswi Keperawatan S1 angkatan 2020 Universitas Muhammadiyah Purwokerto

    Perilaku Berisiko Penularan HIV-AIDS pada Lelaki Seks Lelaki: Studi Literatur

    Get PDF
    Human Immunodeficiency Virus (HIV) is a global health issue affecting millions of people worldwide. HIV transmission primarily occurs through unprotected sexual intercourse, sharing needles, and other high-risk behaviors. HIV infection can lead to Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) and increased vulnerability to other infections and diseases. Particularly among men who have sex with men (MSM), the prevalence of HIV infection is high. MSM living with HIV often experience mental health issues, especially symptoms of depression, with a prevalence rate that can reach up to 42%. HIV transmission mainly involves the exchange of bodily fluids, and the risk depends on sexual behaviors, the use of preventive measures such as condoms or PrEP, and the HIV prevalence in specific populations. The highest risk of transmission is through unprotected receptive anal intercourse, while the risk through protected vaginal or anal intercourse is lower. However, these risks can be reduced through consistent and proper condom use and other preventive measures. Risk factors for HIV transmission include high-risk sexual behaviors, injecting drug use, and infrequent condom use. Therefore, it is crucial to address these risk factors in HIV prevention efforts within the MSM community.Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan masalah kesehatan global yang memengaruhi jutaan orang di seluruh dunia. Penularan HIV terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom, berbagi jarum suntik, dan perilaku berisiko tinggi lainnya. Infeksi HIV dapat menyebabkan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) dan meningkatkan kerentanan terhadap infeksi dan penyakit lainnya. Terutama pada pria yang berhubungan seks dengan pria (LSL), prevalensi infeksi HIV tinggi. LSL dengan HIV sering mengalami masalah kesehatan mental, terutama gejala depresi, yang dapat memiliki prevalensi mencapai 42%. Penularan HIV terutama terjadi melalui pertukaran cairan tubuh, dan risiko tergantung pada perilaku seksual, penggunaan tindakan pencegahan seperti kondom atau PrEP, dan prevalensi HIV pada populasi tertentu. Risiko penularan melalui seks anal reseptif tanpa kondom adalah yang tertinggi, sedangkan risiko melalui seks vaginal atau anal yang dilindungi lebih rendah. Namun, risiko ini dapat dikurangi dengan penggunaan kondom yang konsisten dan benar serta tindakan pencegahan lainnya. Faktor-faktor risiko untuk penularan HIV termasuk perilaku seksual berisiko, penggunaan narkoba suntik, dan frekuensi rendah penggunaan kondom. Oleh karena itu, penting untuk mengatasi faktor-faktor risiko ini dalam upaya pencegahan HIV di komunitas LSL

    Pola Penggunaan Obat Antihipertensi Pasien Rawat Jalan di RSAU dr. M. Salamun Periode Juni 2023

    Get PDF
    Hypertension is a continuous condition characterized by increased blood pressure in the arteries. Antihypertensive drugs are drugs that are used to lower blood pressure to a minimum level that is normal or okay. The types of drugs that are often used are diuretics, beta blockers, ACEIs and ARBs, CCBs and other groups. The purpose of this study was to determine the pattern of use of antihypertensive drugs in outpatients at RSAU dr. M. Salamun June 2023 period. This research method is a type of analytic observational research. Observations were made on 310 hypertensive patients. From the observation results, it was found that those who received antihypertensive drugs based on age were aged > 60 years, namely 176 patients (57%). In conclusion, the most drug users based on gender were women, namely 172 patients (55%). The most widely used drug was Bisoprolol, with 249 prescriptions (32.47%). Based on the group, the most prescribed were Beta Blockers with 251 prescriptions (33%). Based on combination drugs, 124 prescriptions (40%) were antihypertensive drugs 2 combinations.Hipertensi merupakan suatu kondisi berkelanjutan yang dikenali dengan meningkatnya tekanan darah di pembuluh darah arteri. Obat antihipertensi yaitu obat yang digunakan untuk menurunkan tekanan darah ke tingkat minimum yang normal atau baik-baik saja. Jenis obat yang sering digunakan adalah golongan diuretika, beta blocker, ACEI dan ARB, CCB dan golongan lain. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pola penggunaan obat antihipertensi pasien rawat jalan di RSAU dr. M. Salamun Periode Juni 2023. Metode penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional analitik. Observasi dilakukan pada 310 pasien hipertensi. Dari hasil observasi didapat bahwa yang banyak mendapatkan obat antihipertensi berdasarkan usia adalah usia > 60 tahun yaitu 176 pasien (57%). Kesimpulannya, Penggunaan obat paling banyak berdasarkan jenis kelamin adalah perempuan yaitu 172 pasien (55%). Obat yang paling banyak digunakan adalah Bisoprolol yaitu sebanyak 249 lembar resep (32,47%). Berdasarkan golongan, yang paling banyak diresepkan adalah Beta Blocker sebanyak 251 resep (33%). Berdasarkan obat kombinasi, yang sering diresepkan adalah obat antihipertensi 2 kombinasi sebanyak 124 resep (40%)

    Analisis Beban Kerja Di Ruang Rawat Inap Surgical RSUD Arifin Achmad Pekanbaru

    Get PDF
    Analisis beban kerja pada perawat perlu dilakukan guna mengetahui waktu yang digunakan untuk kegiatan produktif dan non produktif, serta mengetahui bagaimana beban kerja perawat dalam waktu kerjanya seharihari di rumah sakit. Tujuan dalam penelitian ini untuk menganalisis beban kerja perawat di ruang rawat inap RSUD Arifin Achmad. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian kuantitatif observasional analitik dengan mengobservasi kegiatan perawat dengan teknik work sampling untuk mengumpulkan informasi mengenai beban kerja perawat pelaksana di ruang rawat inap. Hasil dalam penelitian ini adalah beban kerja perawat di ruang rawat inap Edelweis RSUD Arifin Achmad berada pada kategori berat pada shift pagi (89%) dan sore (82%), serta ringan pada shift malam (59%). Beban kerja kumulatif selama seminggu di ruang rawat inap Edelweis RSUD Arifin Achmad Pekanbaru tergolong ringan (75%). Perawat dalam melakukan tugasnya sebaiknya dibantu oleh pekarya yang membantu dalam melakukan kegiatan koordinasi dengan tenaga kesehatan medis lainnya. Diharapkan dengan adanya tenaga bantuan, perawat dapat lebih fokus mengerjakan tugas pokok keperawatan sesuai dengan kompetensi yang dimiliki perawat.Analysis of nursing workloads is important to find out the time spent on productive and non-productive activities and to find out how the workload of nurses is in their daily work time at the hospital. This research is a quantitative observational analytic study by observing the activities of nurses using work sampling techniques to collect information about the workload of implementing nurses in inpatient rooms. The results of this research is the workload of nurses in the surgical inpatient room at Arifin Achmad Hospital was in the heavy category in the morning shift (89%) and evening shift (82%), and light in the night shift (59%). The cumulative workload for a week in the surgical inpatient room at RSUD Arifin Achmad Pekanbaru is relatively light (75%). Nurses in carrying out their duties should be assisted by staff who assist in carrying out coordination activities with other medical health workers. It is hoped that with the help of staff, nurses can focus more on doing the main tasks of nursing in accordance with the competencies possessed by nurses

    Description of the Level of Knowledge and Attitudes towards HIV/AIDS Prevention among Adolescents at State Junior High School 8 Cimahi

    No full text
    Kota Cimahi melaporkan jumlah kumulatif kasus HIV positif sebanyak 479 pada tahun 2019, mengalami peningkatan yang signifikan mencapai 621 kasus pada tahun 2023. Berdasarkan usia dan jenis kelamin pada tahun 2005 – Januari 2023 terdapat 154 kasus yang terdiri dari 120 kasus pada laki-laki dan 34 kasus pada perempuan dengan rentang usia 15-19 tahun. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan dan sikap remaja terhadap pencegahan HIV/AIDS pada siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Cimahi. Penelitian ini adalah observasional deskriptif, dengan desain cross sectional, menggunakan teknik simple random sampling dengan jumlah sampel 96 responden di Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Cimahi. Instrumen penelitian berupa kuesioner dan data dianalisis secara univariat. Hasil penelitian menunjukan gambaran tingkat pengetahuan tentang HIV/AIDS kategori baik yaitu 78 responden (81.3%), kategori cukup yaitu 3 responden (3.1%) dan kategori kurang yaitu 15 responden (15.6%). Sikap terhadap pencegahan HIV/AIDS masuk kategori sikap positif yaitu 82 responden (85.4%) sedangkan yang masuk kategori sikap negatif yaitu 14 responden (14.6%). Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa gambaran tingkat pengetahuan tentang HIV/AIDS terbanyak pada kategori baik yaitu sebanyak 78 responden (81.3%). Sikap terhadap pencegahan HIV/AIDS terbanyak pada kategori sikap positif yaitu 82 responden (85.4%).Cimahi City reported a cumulative number of HIV positive cases of 479 in 2019, a significant increase to 621 cases in 2023. Based on age and gender in 2005 – January 2023, there were 154 cases consisting of 120 cases in men and 34 cases in women with an age range of 15-19 years. The aim of this research was to determine the level of knowledge and attitudes of adolescents towards HIV/AIDS prevention among students at State Junior High School 8 Cimahi. This research is descriptive observational, with a cross sectional design, using simple random sampling techniques with a sample size of 96 respondents at Cimahi 8 State Junior High School. The research instrument was a questionnaire and the data was analyzed univariately. The results of the research show a picture of the level of knowledge about HIV/AIDS in the good category, namely 78 respondents (81.3%), in the sufficient category, namely 3 respondents (3.1%) and in the poor category, namely 15 respondents (15.6%). Attitudes towards HIV/AIDS prevention were in the positive attitude category, namely 82 respondents (85.4%) while those in the negative attitude category were 14 respondents (14.6%). Based on this, it can be concluded that the highest level of knowledge about HIV/AIDS is in the good category, namely 78 respondents (81.3%). Attitudes towards HIV/AIDS prevention were highest in the positive attitude category, namely 82 respondents (85.4%)

    Evaluasi Pelaksanaan Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja Puskesmas Kabupaten Oku Tahun 2023

    Get PDF
    The Occupational Health and Safety (K3) Program of the Puskesmas has not been fully implemented, such as the unpreparedness of the Introduction of Potential Hazards, Application of Standard Precautions, Application of Ergonomic Principles, Periodic Health Checks, Provision of Immunizations, Acculturation of PHBS, Processing of Facilities and Infrastructure from K3 Aspects, Processing of Medical Equipment from K3 Aspects, Readiness to Face Emergencies or Disasters Including Fire, Hazardous Waste Management and Hazardous Waste, Domestic Waste Management. This article uses a literature review approach with a qualitative study design. This article through electronic databases systematically in Google Scholar and PubMed using keywords (program evaluation, occupational safety health and public health center. based on the results of data extraction from search engine methods Google Scholar and PubMed there are 15 journals selected based on inclusion extraction criteria. Evaluation of the implementation of the K3 program at the Puskesmas consists of several activities such as covering the Commitment and Policy of the Head of the Puskesmas, the existence of a Decree of the Head of the Puskesmas, a written K3 Plan document in the form of an annual work plan, the existence of resource support, the level of compliance with K3 implementation, K3 acculturation through the use of SOPs, waste management work accident rates, occupational disease rates (PAK), occupational health services and emergency response. Evaluation of the Implementation of the Occupational Safety and Health (K3) Program at the OKU Regency Health Center will be effective if the implementation is clear and consistent. There are Human Resources in the implementation of the Puskesmas Occupational Safety and Health program and adequate Facilities and Infrastructure. The successful implementation of policies without human resources and facilities and infrastructure will not work. Therefore, it is necessary to evaluate so that the K3 program can be improved continuously in accordance with the identified risks, keep recording, monitoring, evaluating and reporting.Program Kesematan dan Kesehatan Kerja (K3) Puskesmas belum sepenuhnya dilaksanakan, seperti belum siapnya Pengenalan Potensi Bahaya, Penerapan Kewaspadaan Standar, Penerapan Prinsip Ergonomi, Pemeriksaan Kesehatan Berkala, Pemberian Imunisasi, Pembudayaan PHBS, Pengolahan Sarana dan Prasarana Dari Aspek K3, Pengolahan Peralatan Medis dari Aspek K3, Kesiapan Menghadapi Darurat atau Bencana Termasuk Kebakaran, Pengelolaan B3 dan Limbah B3, Pengelolaan Limbah Domestik. Artikel ini menggunakan metode pendekatan literature review dengan desain studi kualitatif. Artikel ini melalui database elektronik secara sistematis di Google Scholar dan PubMed menggunakan kata kunci (program evaluation, accupational safety health and Public health center. berdasarkan hasil ekstraksi data dari search engine metode Google Scholar dan PubMed terdapat 15 jurnal dipilih berdasarkan kriteria ekstraksi inklusi. Evaluasi pelaksanaan program K3 di Puskesmas terdiri dari beberapa kegiatan seperti meliputi Komitmen dan Kebijakan Kepala Puskesmas, adanya SK Kepala Puskesmas, dokumen tertulis Rencana K3 dalam bentuk rencana kerja tahunan, adanya dukungan sumber daya, tingkat kepatuhan pelaksanaan K3, pembudayaan K3 melalui pemenfaatan SOP, pengelolaan limbah angka kecelakaan kerja, angka penyakit akibat kerja (PAK), pelayanan kesehatan kerja dan tanggap darurat. Evaluasi Pelaksanaan Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Puskesmas Kabupaten OKU akan efektif jika pelaksanaanya jelas dan konsisten. Adanya Sumber Daya Manusia dalam pelaksanaan progam Keselamatan dan Kesehatan Kerja Puskesmas dan Sarana dan Prasarana yang memadai. Keberhasilan implementasi kebijakan tanpa adanya SDM dan Sarana dan Prasarana tidak akan berjalan. Maka dari itu perlu evaluasi agar progam K3 dapat ditingkatkan secara berkesinambung sesuai dengan risiko yang teridentifikasi, tetap lakukan pencatatan, pemantauan, evaluasi serta pelaporan

    Riwayat Hipertensi Kehamilan pada Ibu sebagai Faktor Risiko Gangguan Perkembangan Saraf pada Anak

    Get PDF
    The first thousand days of life are a critical period for a child's neurological development. Good brain growth in children is certainly important for a child's growth. Every baby is born with six million nerve cells in its mother's ovaries. The number of children with autism spectrum disorders (hereinafter written as autism) in every country throughout the world continues to increase. Maternal hypertension and edema can lead to poor placental perfusion and function, and potentially damage fetal development through hypoxia. This literature aims to determine the relationship between a history of pregnancy hypertension in mothers and neurodevelopmental disorders in children. The method used is a literature review with a Narrative Review design. The results obtained in this literature are that there are 11 articles obtained from 2019 - 2023 and an in-depth analysis of the strengths and limitations of each article has been carried out regarding the relationship between a history of pregnancy hypertension in mothers and neurodevelopmental disorders in children. 11 articles state that there are significant relationship, 1 article said there was no significant relationship, the average odds ratio was 2-5 times the risk of neurodevelopmental disorders. Risk factors associated with the incidence of children born with Autism Spectrum Disorder can be divided into 3 groups, including prenatal, perinatal and neonatal. The conclusion from this literature is that there is a significant relationship between a history of pregnancy hypertension in mothers and neurodevelopmental disorders in children.Seribu hari pertama kehidupan merupakan masa kritis bagi perkembangan saraf anak. Pertumbuhan otak anak yang baik tentu hal penting bagi pertumbuhan anak. Setiap bayi lahir dengan enam juta sel saraf di indung telur ibunya. Jumlah anak dengan gangguan spektrum autis (selanjutnya ditulis autis) pada setiap negara di seluruh dunia ini terus meningkat. Hipertensi dan edema ibu hamil dapat menyebabkan perfusi dan fungsi plasenta yang buruk, dan berpotensi merusak perkembangan janin melalui hipoksia. Literatur ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara riwayat hipertensi kehamilan pada ibu dengan gangguan perkembangan saraf pada anak. Metode yang digunakan yaitu literature review dengan desain Narrative Review. Hasil yang didapatkan pada lietratur ini yaitu terdapat 11 artikel yang didapatkan dengan batasan dari tahun 2019 – 2023 dan sudah dilakukan analisis mendalam kekuatan dan keterbatasan masing-masing artikel mengenai hubungan antara riwayat hipertensi kehamilan pada ibu dengan gangguan perkembangan saraf pada anak, 11 artikel menyebutkan terdapat hubungan signifikan, 1 artikel menyebutkan terdapat tidak hubungan signifikan, odds ratio rata-rata 2-5 kali berisiko terhadap gangguan perkembangan saraf. Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian anak lahir dengan Autism Spectrum Disorder dapat dibagi ke dalam 3 kelompok antara lain prenatal, perinatal dan neonatal. Kesimpulan dari literatur ini, terdapat hubungan yang signifikan antara riwayat hipertensi kehamilan pada ibu dengan gangguan perkembangan saraf pada anak

    Laporan Kasus Serial : Penderita Appendisitis Pada Anak Dengan Gejala Menyerupai Gastroenteritis Akut Di RS Swasta Tipe C, Kota Tangerang 2018-2020

    Get PDF
    Apendisitis merupakan salah satu kasus emergensi akut abdomen pada anak yang memerlukan pembedahan. Kelompok usia paling sering ditemukan pada usia pra sekolah atau di atasnya. Pada umumnya apendisitis tidak berhubungan dengan gastroenteritis, tetapi kami menemukan beberapa kasus apendisitis atipikal dengan gejala diare, mual dan muntah yang dominan. Berbeda dengan dewasa, patogenesis apendisitis pada anak-anak diketahui berhubungan dengan hiperplasia limfoid ileum terminal sehingga secara teori memungkinkan apendisitis dapat terjadi sebagai sekuel setelah gastroenteritis. Semakin muda usia anak maka semakin sulit dalam melakukan anamnesis dan mengevaluasi hasil pemeriksaan fisik. Pada beberapa kasus, gejala dominan mungkin saja berupa diare, mual dan muntah yang hebat sehingga pasien tersebut terlambat mendapatkan penanganan yang tepat karena dianggap sebagai gastroenteritis. Keterlambatan dalam mendiagnosis apendisitis tersebut akan menyebabkan komplikasi menjadi abses peri-apendikularis, peritonitis dan sepsis. Misdiagnosis rate pada usia 2-12 tahun sekitar 28-57% dan hampir mendekati 100% pada anak-anak dengan usia kurang dari 2 tahun. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh data karakteristik penderita apendisitis yang disertai gejala gastroenteritis seperti mual, muntah dan diare pada anak-anak usia 0-14 tahun. Penelitian ini merupakan tinjauan laporan serial kasus menggunakan data rekam medis pasien di salah satu RS swasta tipe C di Kota Tangerang pada periode 2018-2020. Ditemukan 4 kasus apendisitis dengan gejala atipikal yang menyerupai gastroenteritis berupa muntah dan diare > 10 kali per hari. Keempat pasien datang ke IGD dengan dua di antaranya terlebih dahulu di rawat oleh dokter spesialis anak. Dua pasien tersebut mendapat intervensi pembedahan > 24 jam setelah di rawat dengan temuan operasi apendisitis perforasi disertai kontaminasi pus intraabdomen. Lama rawat keempat pasien > 3 hari. Gejala atipikal apendisitis yang menyerupai gastroenteritis pada anak-anak dapat menyebabkan keterlambatan penegakkan diagnosis sehingga berisiko menyebabkan komplikasi apendisitis. Setiap klinisi harus mencurigai kemungkinan apendisiitis ketika menjumpai pasien anak-anak dengan gejala gastroenteritis disertai temuan penyerta di antaranya nyeri perut yang semakin jelas atau bertambah hebat setelah 24 jam meskipun telah di berikan terapi medikamentosa.Appendicitis is one of the acute abdominal emergency cases in children requiring surgery. The age group is most often found in pre-school age or above. In general, appendicitis is not associated with gastroenteritis, but we found some cases of atypical appendicitis with predominant symptoms of diarrhea, nausea and vomiting. In contrast to adults, the pathogenesis of appendicitis in children is known to be associated with terminal ileal lymphoid hyperplasia, so it is theoretically possible that appendicitis can occur as a sequela after gastroenteritis. The younger the child, the more difficult it is to take a history and evaluate the results of a physical examination. In some cases, the dominant symptom may be diarrhea, severe nausea and vomiting so that the patient is delayed in getting proper treatment because it is considered as gastroenteritis. Delay in diagnosing appendicitis will cause complications such as peri-appendicular abscess, peritonitis and sepsis. The misdiagnosis rate in children aged 2-12 years is about 28-57% and is almost 100% in children younger than 2 years. The purpose of this study was to obtain data on the characteristics of patients with appendicitis accompanied by symptoms of gastroenteritis such as nausea, vomiting and diarrhea in children aged 0-14 years. This study is a review of case series reports using patient medical record data at a type C private hospital in Tangerang City in the 2018-2020 period. Found 4 cases of appendicitis with atypical symptoms resembling gastroenteritis in the form of vomiting and diarrhea > 10 times per day. The four patients came to the ER with two of them being treated by pediatricians first. These two patients received surgical intervention > 24 hours after being admitted with surgical findings of perforated appendicitis accompanied by intra-abdominal pus contamination. The length of stay of the four patients > 3 days. Atypical symptoms of appendicitis that resemble gastroenteritis in children can cause delays in making a diagnosis so that there is a risk of complications of appendicitis. Every clinician should suspect the possibility of appendicitis when he sees a pediatric patient with symptoms of gastroenteritis accompanied by accompanying findings including abdominal pain that gets worse or worsens after 24 hours despite medical therapy

    477

    full texts

    657

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Health Information : Jurnal Penelitian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇