Health Information : Jurnal Penelitian
Not a member yet
657 research outputs found
Sort by
Analisis Faktor Risiko Hipertensi pada Remaja Puskesmas Langsa Lama
PENDAHULUAN : Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang menjadi masalah serius belakangan ini dan masuk ke dalam sepuluh penyakit kronis tertinggi di Amerika. Umumnya, hipertensi terjadi pada usia lanjut, tetapi penelitian menemukan hipertensi dapat muncul sejak remaja dan prevalensinya meningkat beberapa tahun terakhir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor risiko hipertensi.METODE PENELITIAN : Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, desain penelitian survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah remaja yang berumur 10-19 tahun, Pada pencarian menggunakan rumus slovin, data dianalisis 350 orang Remaja. Data dianalisis dengan uji univariat dan bivariat (Chi-square). Teknik penentuan anggota sampel dilakukan secara simple random sampling. HASIL: Gambaran kejadian hipertensi pada remaja puskesmas langsa lama sebanyak 166 (47.4%). Terdapat hubungan yang signifikansi terhadap kejadian hipertensi yaitu umur (p=0.041; OR=1.664; 95%CI=(1.018-2.719), jenis kelamin (p=0.002; OR=1.985; 95%CI=(1.297-3.039), riwayat keluarga (p=0,000; OR=2.998; 95%CI=1.860-4.830), merokok (p=0.000; OR=2.350; 95% CI=1.461-3.779); Obesitas (p=0.012; OR=1.863; 95%CI=1.146-3.030), Begadang (p=0,000; OR=3.457; 95%CI=2.163-5.525), aktivitas fisik (p=0.025; OR=0.574; 95%CI=0.352-0.936), konsumsi garam (p=0.000; OR=3.066; 95%CI=1.801-5.221), stress (p=0.001; OR=2.217; 95%CI=1.380-3.563), konsumsi junkfood/ makanan cepat saji (p=0.038; OR=0.590; 95%CI=0.358-0.974), konsumsi kafein (p=0.000; OR=0.568; 95%CI=1.649-3.998)
Analisis Penerapan Keselamatan Kesehatan Kerja (K3) di Bagian Assembling terhadap Produktivitas Kerja Perekam Medis RSUD AL Ihsan Provinsi Jawa Barat
This study aims to determine the application of occupational health safety (OHS) in the assembling section to the work productivity of medical recorders at Al Ihsan Hospital, West Java Province. The research method used is a quantitative method. Data collection is done by observation, questionnaires and literature studies. The sampling technique used the Slovin formula with a degree of retention of the desired population of 10%, taking a sample of 31 respondents of medical record unit officers. Based on the results of the study, the effect of the application occupational health safety (OHS) in the assembling section on the work productivity of medical recorders is 93.2% while the remaining 6.8% is influenced by other variables not examined by the author. The problems found in this study are 1) There is no specific SOP, 2) lack of awareness of medical record employees in the assembling section in using PPE, 3) lack of caution in the use of work equipment, 4) the existence of inadequate facilities in the assembling room. The advice given to the hospital should: 1) make and enforce a special SOP regarding (OHS) in the assembling section, 2) remind each other between employees in using PPE, 3) be careful in the use of work equipment, 4) apply for repairs to inadequate facilities.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan keselamatan kesehatan kerja (K3) di bagian assembling terhadap produktivitas kerja perekam medis RSUD Al Ihsan Provinsi Jawa Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif. Untuk pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, kuesioner dan studi pustaka. Teknik pengambilan sampel menggunakan rumus slovin dengan derajat penyimpanan terhadap populasi yang diinginkan sebesar 10%, sehingga mengambil sampel responden sebanyak 31 orang petugas unit rekam medis.Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pengaruh penerapan keselamatan kesehatan kerja (K3) di bagian assembling terhadap produktivitas kerja perekam medis sebesar 93,2% sedangkan sisanya 6,8% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti oleh penulis. Adapun permasalah yang ditemukan pada penelitian ini adalah 1) Belum adanya Standar Operasional Prosedur (SOP) khusus, 2) kurangnya tingkat kesadaran pegawai rekam medis di bagian assembling dalam menggunakan APD, 3) Kurangnya kehati-hatian dalam penggunaan peralatan kerja, 4) adanya fasilitas yang tidak memadai di ruangan assembling.Adapun saran yang diberikan kepada pihak rumah sakit sebaiknya: 1) membuat dan memberlakukan SOP khusus mengenai (K3) di bagian assembling, 2) saling mengingatkan antar pegawai dalam menggunakan APD, 3) berhati-hati dalam penggunaan peralatan kerja, 4) mengajukan pembetulan fasilitas yang tidak memadai
Potensi Penggunaan Agen Anti-Fungal Naftifine Sebagai Terapi Inovatif Tinea: Sebuah Tinjauan Literatur
A disease with the first name "Tinea" is aninfection caused by the presence of dermatophyte fungi that can occur invarious locations of the body. Tinea corporis is a superficial fungalskin infection of the body caused by dermatophytes, specifically on thetrunk, neck, arms and legs. Other forms of tinea infection based on itslocation are on the scalp (tinea capitis), face (tinea faciei), hands(tinea manuum), groin (tinea cruris), and feet (tinea pedis). Ingeneral, there are 3 genera that can cause this condition ofdermatophytosis (tinea), namely the genera Trichophyton, Epidermophyton,and Microsporum. Currently, there are various topical anti-fungal agentsfor treating dermatophytosis (tinea). The two main classes thatrepresent the majority of available topical antifungal agents are azolesand allylamines. Overall, the allylamines (naftifine) are superior tothe azoles in activity against dermatophytes, although both areclinically effective. Therefore, in this literature review, we conductedan analysis of the effects of using naftifine in treating various typesof tinea. Study searches were conducted on various databases such asPubmed, ScienceDirect, Directory of Open Access Journals, and theCochrane Library. From the search results obtained a total of 212studies. The studies that met the inclusion and exclusion criteria werethe 3 studies analyzed in this literature review. Administration ofNaftifine showed a higher mycological cure rate, therapeuticeffectiveness, clinical symptoms, and cure rate than the control group.No adverse events were reported with any type of naftifine in allinclusion studies. Administration of naftifine is a therapy with sideeffects in treating various types of tinea(dermatophytosis).Penyakit dengan nama depan “Tinea” adalah infeksi yang disebabkan oleh adanya jamur dermatofita yang dapat terjadi pada berbagai lokasi tubuh. Tinea corporis adalah infeksi kulit jamur superfisial pada tubuh yang disebabkan oleh dermatofita, secara khusus pada lokasi batang tubuh, leher, lengan, dan kaki. Bentuk lainnya dari infeksi tinea berdasarkan lokasinya adalah pada kulit kepala (tinea capitis), wajah (tinea faciei), tangan (tinea manuum), selangkangan (tinea cruris), dan kaki (tinea pedis). Secara umum, terdapat 3 genera yang dapat menyebabkan kondisi dermatofitosis (tinea) ini yaitu genera Trichophyton, Epidermophyton, dan Microsporum. Saat ini, terdapat berbagai agen anti-jamur topikal untuk mengatasi dermatofitosis (tinea). Dua kelas utama yang mewakili sebagian besar agen antijamur topikal dan tersedia adalah azoles dan allylamines. Secara keseluruhan, allylamines (naftifine) lebih unggul daripada azoles dalam aktivitas melawan dermatofita, meskipun keduanya efektif secara klinis. Oleh karena itu, pada tinjauan literatur ini, dilakukan analisis efek penggunaan naftifine dalam mengatasi berbagai jenis tinea. Pencarian studi dilakukan pada berbagai database seperti Pubmed, ScienceDirect, Directory of Open Access Journal, dan Cochrane Library. Dari hasil pencarian didapatkan total 212 studi. Adapun studi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi adalah 3 studi yang dianalisis pada tinjauan literatur ini. Pemberian Naftifine menunjukkan mycological cure rate, efektivitas terapi, gejala klinis, dan tingkat kesembuhan yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Tidak ada efek samping yang dilaporkan pada penggunaan naftifine jenis apapun pada keseluruhan studi inklusi. pemberian naftifine adalah terapi dengan efek samping dalam mengatasi berbagai jenis tinea (dermatofitosis)
Extracorporeal Shock Wave Therapy (ESWT) pada Pasien dengan Osteoarthritis
Background: Osteoarthritis (OA) is the most common form of arthritis characterized by degradation and erosion of joint cartilage, subchondral bone remodeling, and chronic inflammation in the joints and systemic, causing symptoms such as stiffness, pain, and decreased range of motion in the joints, thus interfering with the individual's ability to function such as daily activities. OA can affect either single or multiple peripheral joints such as knees, hips and hands. OA management includes both conservative and surgical with various benefits and possible side effects. Currently, physical modalities such as ESWT are gaining interest because without invasive procedure it can give benefit such as reducing pain and improve joint function. Purpose: The aim of this article to find out Extracorporeal Shock Wave Therapy (ESWT) as a physical modality in OA regarding the benefits and side effects it can causes. Method: Literature review from two databases, namely PubMed and Google Scholar, which were published within the last 5 years, from 2018-2022. Results: There were 18 literatures proving that ESWT can be considered as one of the non-invasive conservative therapies for OA, with affordable costs and significant clinical impact in reducing pain and improving joint function. Regarding the dose of administration, the efficacy and side effects of these actions need to be studied more with a larger sample to determine the level of recommendations for using ESWT in the management of OA.Latar Belakang: Osteoarthritis (OA) adalah bentuk tersering artritis yang ditandai dengan degradasi dan erosi pada kartilago sendi, remodeling tulang subkondral, dan peradangan kronis pada sendi maupun sistemik, menimbulkan gejala seperti kekakuan, nyeri, dan penurunan ruang gerak sendi sehingga mengganggu kemampuan individu untuk melakukan aktivitas sehari-hari. OA dapat mengenai sendi perifer baik tunggal maupun multipel seperti lutut, pinggul dan tangan. Tatalaksana OA meliputi konservatif maupun bedah dengan berbagai manfaat serta efek samping yang mungkin timbul. Saat ini, modalitas fisik seperti ESWT mulai diminati karena sifatnya yang non invasif dengan efek klinis dapat mengurangi nyeri hingga memperbaiki fungsional sendi. Tujuan: Artikel ini bertujuan untuk mengetahui Extracorporeal Shock Wave Therapy (ESWT) sebagai salah satu modalitas fisik pada OA terkait manfaat dan efek samping yang ditimbulkan. Metode: Tinjauan literatur dari dua database yaitu PubMed dan Google Scholar yang diterbitkan dalam rentang waktu 5 tahun terakhir yaitu dari tahun 2018-2022. Hasil: Didapatkan 18 literatur yang membuktikan ESWT dapat dipertimbangkan sebagai salah satu terapi konservatif OA yang bersifat non invasif, dengan biaya terjangkau dan dampak klinis yang signifikan dalam mengurangi nyeri maupun memperbaiki fungsional sendi. Terkait dosis pemberian, efikasi dan efek samping dari tindakan tersebut perlu dikaji lebih dalam dengan sampel percobaan yang lebih besar untuk menetapkan tingkat rekomendasi penggunaan ESWT dalam tatalaksana OA
Analisis Sistem Pengelolaan Rekam Medis di Puskesmas Sri Padang Tebing Tinggi
To create good medical record services, it is necessary to manage good medical records in accordance with procedures and guidelines from Permenkes No. 24 of 2022 concerning Medical Records. However, based on an initial survey research, the Sri Padang Health Center did not use electronic medical records, and according to information from the Tebing Tinggi Health Office’s Data Recording and Reporting Unit, the Sri Padang Health Center was still experiencing delays in data entry and annual data reporting. This study aims to find out how the medical record management system is at the Sri Padang Tebing Tinggi Health Center. The type of qualitative research is descriptive. The research informantsconsisted of 3 main informants: namely the head of medical records, the executor of medical records, and general practitioners, the triangulation informant was 1 person, namely the head of the puskesmas. Informant selection technique with purposive sampling. Data collection techniques with interviews and observation. Research instruments with interview guidelines. The results showed that the medical record management system at the Sri Padang Health Center had not fully used the electronic medical record system, the distribution, coding, indexing, storage, and retention activities were still not optimal, especially the placement of officers, and there were obstacles in the management process, namely inadequate storage support facilities, lack of accuracy of doctors and nurses in filling out medical records, there is no skill development for substitute medical record officers and the confidentiality of medical-records is not maintained because there is no special medical record officer.Untuk menciptakan pelayanan rekam medis yang baik, maka diperlukan pengelolaan rekam medis yang baik sesuai dengan prosedur dan pedoman dari Permenkes No. 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis. Namun berdasarkan survey awal penelitian Puskesmas Sri Padang belum menggunakan rekam medis elektronik, serta menurut informasi dari Unit bagian Pencatatan dan Pelaporan Data Dinas Kesehatan Tebing Tinggi, Puskesmas Sri Padang masih mengalami keterlambatan dalam mengentry data dan pelaporan data tahunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana sistem pengelolaan rekam medis di Puskesmas Sri Padang Tebing Tinggi. Jenis penelitian kualitatif bersifat deskriptif. Informan penelitian terdiri dari 3 orang informan utama yaitu kepala rekam medis, pelaksana rekam medis dan dokter umum, informan triangulasi 1 orang yaitu kepala puskesmas. Teknik pemilihan informan dengan purposive sampling. Teknik pengumpulan data dengan wawancara dan observasi. Instrumen penelitian dengan pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pengelolaan rekam medis di Puskesmas Sri Padang belum sepenuhnya menggunakan sistem rekam medis elektronik, kegiatan pendistribusian, pengkodean, indeksing, penyimpanan dan retensi masih belum optimal terutama penempatan petugas, terdapat kendala dalam proses pengelolaannya yaitu belum memadainya sarana penunjang penyimpanan, kurangnya ketelitian dokter dan perawat dalam pengisian rekam medis, tidak adanya pengembangan keterampilan bagi petugas rekam medis pengganti serta tidak terjaganya kerahasiaan rekam medis sebab belum adanya petugas khusus rekam medis
Pengaruh Reservasi Online Terhadap Ketepatan Waktu Pelayanan Poliklinik Pediatrik Optalmologi di RS Mata Cicendo
This study aims to determine how much influence online reservationshave on timeliness of services at the Pediatric Ophthalmology and Strabismus Polyclinic at Cicendo Eye Hospital, Bandung. The method used is a quantitative method with a descriptive approach. Data collection techniques used are observation, questionnaires, literature studies. The sampling technique used simple random sampling technique. From the research results, the average waiting time at the Pediatric Ophthalmology and Strabismus Polyclinic is 75 minutes 28 seconds of the 93 samples, the number of patients who were on time was 58 patients, while those who were not on time were 35 patients. The reason for thelong wait was because the patient did not make a reservation in advance so that the medical records were not available at the destination polyclinic. Every morning the doctors carry out scientific research that they feel is enough to turn back time, administering eye drops to enlarge the pupils takes quite a long time. From the analysis results obtained a correlation value of 0.699 which means the relationship between variable X and variable Y is (strong). This it can be concluded that online reservation has a significant effect on timeliness of service at the Children's Ophthalmology and Strabismus Polyclinic with a proportion of 57%, while the remaining 43% is influenced by other variables that are not precise.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh reservasi online terhadap ketepatan waktu pelayanan poliklinik Pediatrik Optalmologi dan Strabismus di Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung. metode yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan pendekatan deskriftif. Teknik pengumpulan data yang di gunakan yaitu observasi, kuesioner (angket), studi kepustakaan. Teknik pengambilan sample menggunakan teknik simple random sampling. Dari hasil penelitian, rata – rata waktu tunggu di poliklinik pediatrik optalmologi dan strabismus adalah 75 menit 28 detik. dari 93 sample jumlah pasien yang tepat waktu sebanyak 58 pasien, sedangkan yang tidak tepat waktu sebanyak 35 pasien. Penyebab lamanya waktu tunggu disebabkan karena pasien tidak melakukan reservasi terlebih dahulu sehingga rekam medis tidak tersedia di poliklinik tujuan, setiap pagi para dokter melakukan kajian ilmiah yang dirasa cukup menyita waktu, pemberian tetes mata untuk memperbesar pupil mata memerlukan waktu cukup lama. Dari hasil analisis didapatkan nilai korelasi sebesar 0,699 yang berarti hubungan antara variabel X dan variabel Y (Kuat). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Reservasi Online memiliki pengaruh yang signifikan terhadap ketepatan waktu pelayanan di Poliklinik Pediatrik Optalmologi dan Strabismus dengan persentase sebesar 57%, sedangkan sisanya sebesar 43% di pengaruhi oleh variabel lain yang tidak teliti
Kepuasan Pengguna Mobile JKN menggunakan Delone dan Mclean Framework
Mobile JKN is an application that can be accessed with smartphone device. This application has been introduced by BPJS Kesehatan with the aim of facilitating users in the registration process, changing membership data, and making it easier to provide criticism or suggestions. The number of Mobile JKN downloaders until May 2022 is around > 10 million downloaders. Active user data in Tangerang City in 2022 is 692,866 out of a total of 1,704,283 BPJS participants. The use of Mobile JKN is still low, most people complain when using Mobile JKN. This study aims to evaluate the satisfaction of Mobile JKN users in Tangerang City. Observational research using a cross-sectional design asa population, namely all residents of Tangerang City who have downloaded mobile JKN with a sample size of 241 people. The sampling technique uses accidental. The technique of collecting data uses a questionnaire through a Likert scale that measures the variables of system quality, information, service and user satisfaction. Use of multiple linear regression as a data analysis technique. The results explained that system quality (p-value 0.002 < 0.05) and service quality (p-value0.000 < 0.05) have a significant effect on user satisfaction. However, information quality (p-value 0.709 > 0.05) does not significantly affect user satisfaction. Mobile JKN user satisfaction is influenced by system quality and service quality by 17.4%, while the remaining 82.6% is influenced by other variables. With this research, JKN participants are increasingly making use of Mobile JKN in facilitating services such as speeding up service time, reducing service queues, and reducing transportation expenses.Mobile JKN adalah sebuah aplikasi yang dapat diakses dengan perangkat smartphone. Aplikasi ini telah diperkenalkan oleh BPJS Kesehatan dengan tujuan mempermudah pengguna dalam proses pendaftaran, perubahan data kepesertaan, serta memudahkan dalam memberikan kritik atau saran. Jumlah pengunduh Mobile JKN sampai Mei tahun 2022 sekitar > 10jt pengunduh. Data pengguna aktif di Kota Tangerang tahun 2022 sebanyak 692.866 dari total peserta BPJS sebanyak 1.704.283 Jiwa. Penggunaan Mobile JKN masih rendah, sebagian besar masyarakat mengeluh saat menggunakan Mobile JKN. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kepuasan pengguna Mobile JKN di Kota Tangerang. Penelitian observasional melalui desain cross-sectional sebagai populasinya yaitu seluruh masyarakat Kota Tangerang yang telah mendownload Mobile JKN yang jumlah sampelnya sebesar 241 orang. Teknik sampling memakai accidental. Teknik mengumpulkan datanya memakai kuesioner melalui skala Likert yang mengukurnya variabel kualitas sistem, informasi, layanan dan kepuasan pengguna. Penggunaan regresi linier berganda sebagai teknik analisis data. Hasil penelitian menjelaskan bahwa kualitas sistem (p-value 0.002 < 0.05) dan kualitas layanan (p-value 0.000 < 0.05) pengaruhnya signifikan terhadap kepuasan pengguna. Namun kualitas informasi (p-value 0.709 > 0.05) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kepuasan pengguna. Kepuasan pengguna Mobile JKN dipengaruhi kualitas sistem dan kualitas layanan sebanyak 17.4%, sementara yang tersisa sebanyak 82.6% diberikan pengaruh dari variabel lainnya. Dengan penelitian ini peserta JKN semakin memanfaatkannya Mobile JKN dalam memudahkan layanan seperti mempercepat waktu pelayanan, mengurangi antrean pelayanan, dan mengurangi biaya pengeluaran transportas
Analisisi Program Bina Keluarga Balita (BKB) dalam Lokus Pencegahan Stunting di Kampung Keluarga Berkualitas Desa Sentang Kabupaten Serdang Bedagai
Stunting is still a nutritional problem that requires more attention for babies and children under two years of age in Indonesia. This condition must be resolved immediately because it will hinder the momentum in preparing Indonesia's golden generation in 2045. The purpose of this study was to analyze the Toddler Family Development Program (BKB) in the Stunting Prevention Locus in the Quality Family Village in Sentang Village, Serdang Bedagai Regency. The method used is descriptive qualitative. The location for this study was in Sentang Village, Teluk Mengkudu District, Serdang Bedagai Regency and this research was conducted from April 2023 to July 2023. Informants were selected using purposive sampling. Program analysis is carried out using a systems approach, namely the Input-Process-Output aspect. The research results obtained show that the Toddler Family Development Program (BKB) with a focus on stunting prevention in Sentang Village has reached a fairly good level of progress. However, there are still several obstacles that need to be overcome in the program, such as low family participation in BKB activities, especially from families or family members who should be the main target of this program, there are still many people who are reluctant to talk openly or honestly about the condition of their children. them, as well as found funds that were not specific to the BKB program.Mempersiapkan generasi emas 2045 bukan hal mudah dikarenakan stunting masih menjadi masalah gizi utama bagi bayi dan anak di bawah usia dua tahun di Indonesia. Masalah anak pendek termasuk permasalahan gizi yang menjadi fokus Pemerintah Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis program Bina Keluarga Balita (BKB) dalam Lokus Pencegahan Stunting di kampung Keluarga Berkualitas di Desa Sentang Kabupaten Serdang Bedagai. Metode yang digunakan bersifat kualitatif deskriptif. Lokasi dalam penelitian ini berada di Desa Sentang Kecamatan Teluk Mengkudu Kabupaten Serdang Bedagai dan penelitian ini dilakukan sejak April 2023 sampai Juli 2023. Informan dipilih menggunakan purposive sampling. Analisis program dilakukan menggunakan pendekatan sistem yaitu aspek Input-Proses-Output. Hasil penelitian yang diperoleh bahwa program Bina Keluarga Balita (BKB) dengan fokus pencegahan stunting di Desa Sentang sudah mencapai tingkat kemajuan yang cukup baik. Namun, tetap terdapat beberapa kendala yang perlu diatasi dalam program tersebut, seperti rendahnya partisipasi keluarga dalam kegiatan BKB, terutama dari keluarga atau anggota keluarga yang seharusnya menjadi sasaran utama program ini, masih banyaknya masyarakat yang enggan untuk berbicara terbuka atau jujur mengenai kondisi anak-anak mereka, serta ditemukan dana yang kurang spesifik untuk program BKB
Monitoring Oksigen Berbasis Android pada CPAP untuk Penanggulangan Kegawatan Nafas pada Bayi Baru Lahir
Gangguan pernapasan merupakan kejadian yang sering terjadi yang dialami oleh bayi baru lahir. Hal ini merupakan tantangan dalam diagnostik dan manajemen perawatan bayi baru lahir. Jenis Penelitian pada penelitain ini yaitu Eksperiment, Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu Riset and Development. Penelitian ini merancang, membuat dan menguji coba alat modifikasi CPAP untuk penanganan kegawatan napas pada bayi baru lahir. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk membuat, merancang dan mengembangkan alat Continous Postive Air Pressure (CPAP) pada kasus kegawatan napas bayi baru lahir. Penggunaan CPAP efektif dalam menurunkan kesulitan bernapas, mengurangi ketergantungan terhadap oksigen, membantu memperbaiki dan mempertahankan kapasitas residual paru, serta mengurangi kebutuhan untuk dirawat di ruang intensif sehingga mengurangi biaya perawatan. Alat ini juga mempunyai efek samping yang dapat membuat bayi cedera yaitu: cedera pada hidung, misalnya erosi pada septal nasi, dan nasal snubbing. Metode Penelitian: Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu Riset and Development. Hasil Penelitian: Hasil modifikasi pada penelitian ini diharapkan dapat memudahkan memonitor oksigen, karena dapat terlihat pada layer android dan juga dapat meminimalisir efek samping dari penggunaan alat CPAP yang sudah ada.Respiratory problems are a frequent occurrence experienced by newborn babies. This is a challenge in the diagnosis and management of newborn care. The type of research in this research is experimental. The method used in this research is research and development. This research designed, manufactured and tested a modified CPAP device for treating respiratory emergencies in newborn babies. Objective: This research was conducted to create, design and develop a Continuous Postive AirPressure (CPAP) device in cases of respiratory emergencies for newborn babies. The use of CPAP is effective in reducing breathing difficulties,reducing dependence on oxygen, helping to improve and maintain residuallung capacity, and reducing the need for treatment in intensive care,thereby reducing treatment costs. This tool also has side effects thatcan cause injury to the baby, namely: injury to the nose, for exampleerosion of the nasal septal, and nasal snubbing. Research Method: The method used in this research is Research and Development. Research Results: The results of the modifications in this research are expected to make it easier to monitor oxygen, because it can be seen on the Android layer and can also minimize side effects from using existing CPAP devices
Hubungan Tingkat Spiritual Dengan Tingkat Depresi Pada Penyandang Diabates Mellitus Dengan Komplikasi
Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit jangka panjang yang tidak bisa disembuhkan. Penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi, dengan adanya komplikasi penyandang bisa mengalami gangguan psikologis, salah satu nya seperti depresi. Depresi merupakan masalah besar dalam gangguan psikologis bagi pasien DM tipe 2. Upaya untuk mengontrol depresi ialah dengan peningkatan spiritual. Spiritualitas seseorang dapat dijadikan koping yang adaptif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan tingkat spiritual dengan tingkat depresi pada penyandang diabetes mellitus dengan komplikasi. Jenis penelitian ini merupakan kuantitatif deskriptif, menggunakan metode pengambilan data secara cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 58 responden di poli penyakit dalam RSUD Dr. Moewardi menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuisioner, DSES untuk mengukur tingkat spiritual dan BDI – II untuk mengukur tingkat depresi. Analisis data menggunakan spearman’s rho. Hasil penelitian menunjukan penyandang diabetes dengan komplikasi mayoritas mengalami depresi minimal, dan tingkat spiritual tinggi, terdapat hubungan antara tingkat spiritual dengan tingkat depresi dengan nilai Sig.(2-tailed) 0,02 < 0,05. Dengan korelasi cukup dan tidak searah. Saran untuk peneliti selanjutnya bisa mengidentifikasi faktor lain yang mempengaruhi tingkat depresi ataupun mengembangkan penelitian kepada responden yang lebih banyak atau acak.Diabetes mellitus (DM) is a long-term disease that cannot be cured. This disease can cause complications, with complications people can experience psychological disorders, one of which is depression. Depression is a big problem in psychological disorders for type 2 DM patients. Efforts to control depression are by spiritual improvement. One's spirituality can be used as adaptive coping. The purpose of this study was to determine the relationship between spiritual level and depression level in people with diabetes mellitus with complications. This type of research is a descriptive quantitative, using data collection methodscross sectional. The number of samples was 58 respondents in the internal medicine polyclinic at RSUD Dr. Moewardi used a purposive sampling technique. The research instrument used a questionnaire, DSES to measure spiritual level and BDI-II to measure depression level. Data analysis using spearman's rho. The results showed that the majority of people with diabetes with complications experienced minimal depression, and had a high spiritual level.there is a relationship between spiritual level with depression level withSig.(2-tailed) value 0.02 < 0.05. With enough correlation and not unidirectional. Suggestions for future researchers can identify other factors that affect the level of depression or develop research with more or random respondents