Health Information : Jurnal Penelitian
Not a member yet
657 research outputs found
Sort by
Gambaran Pengetahuan dan Sikap Remaja terhadap Perilaku Adiksi (Rokok dan Napza) di SMAN 11 Medan
Adolescence is a period of transition from children to adults. At this time adolescents experience growth and development which is marked by physical and behavioral changes as well as the occurrence of emotional and sexual maturity. Adolescence is also a period that is vulnerable to negative influences, so there are many cases of juvenile delinquency and bad behavior in adolescents, such as smoking, sexuality, alcohol consumption, and drug abuse. Addictive behavior is behavior that causes a person to be in a state of physical or mental dependence on things that cause influence and change in behavior for those who experience it. Addictive behavior involves a loss of self-control over the use of addictive substances so that users repeat the behavior of using these substances and continue to tolerate the effects of these substances so that they need to increase the dose to get a certain experience. . (Pramuditya, in Wahyuni, et al, 2021). Addictive behavior can be experienced by smokers, vape users, alcohol consumers, and drug users. The purpose of this study was to see how the knowledge and attitudes of adolescents towards addictive behavior (cigarettes and drugs) at SMAN 11 Medan are described. This type of research is descriptive qualitative research with observational methods and accidental sampling techniques. The population in this study were teenagers or students of SMAN 11 Medan with a sample of 40 respondents. The results of this study indicate that there is good knowledge and attitudes in adolescents towards addictive behavior at SMAN 11 MedanMasa remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Pada masa ini remaja mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang ditandai dengan adanya perubahan fisik dan perilaku serta terjadinya kematangan emosional dan seksual. Masa remaja juga merupakan masa yang rawan dari pengaruh-pengaruh negatif, itulah sebabnya banyak timbul kasus kenakalan remaja dan perilaku buruk pada remaja seperti, perilaku merokok, seksualitas, konsumsi alkohol, hingga penyalahgunaan NAPZA. Perilaku adiksi adalah suatu perilaku yang menyebabkan seseorang berada dalam kondisi ketergantungan secara fisik ataupun mental terhadap halhal yang menimbulkan pengaruh dan perubahan perilaku bagi orang yang mengalaminya. Perilaku adiksi melibatkan adanya kehilangan kontrol diri atas penggunaan zat-zat adiktif sehingga pengunanya melakukan perilaku yang berulang-ulang untuk menggunakan zat tersebut dan berlanjut pada efek toleransi terhadap zat sehingga muncul kebutuhan akan meningkatkan dosis untuk mendapatkan pengalaman tertentu. (Pramuditya, dalam Wahyuni, dkk, 2021). Perilaku adiksi dapat dialami oleh perokok, pengguna vape, pengkonsumsi alkohol, dan pengguna narkoba. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana gambaran pengetahuan dan sikap remaja terhadap perilaku adiksi (rokok dan NAPZA) di SMAN 11 Medan. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan metode observasi dan teknik pengambilan sampel accidental sampling. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja atau siswa/i SMAN 11 Medan dengan jumlah sampel 40 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengetahuan dan sikap yang cukup baik pada remaja terhadap perilaku adiksi di SMAN 11 Medan
Analisis Implementasi Kebijakan Pencegahan Dan Penanganan Stunting Terintegrasi Di Wilayah Kerja Puskesmas Lampahan Kabupaten Bener Meriah
Stunting merupakan salah satu masalah gizi yang krusial, khususnya di negara-negara miskin dan berkembang. Stunting merupakan bentuk kegagalan tumbuh kembang yang meyebabkan gangguan pertumbuhan linear pada balita. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2019 Kabupaten Bener Meriah merupakan salah satu daerah di provinsi Aceh yang memiliki angka stunting tergolong tinggi. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui implementasi kebijakan pencegahan dan penanganan stunting, serta upaya peran tenaga kesehatan dalam pencegahan dan penanganan stunting di wilayah kerja Puskesmas Lampahan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional yang dilaksanakan pada bulan April-Mei. Populasi yang digunakan seluruh ibu dengan balita stunting di wilayah kerja Puskesmas Lampahan. Sampel dalam penelitian ini menggunakan metode Purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 100 responden ibu yang memilki balita stunting. Analisis data menggunakan frekuensi disribusi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa implementasi kebijakan dan upaya peran tenaga kesehatan dalam pencegahan dan penanganan stunting di wilayah kerja Puskesmas Lampahan sudah berjalan dengan baik sesuai kebijakan Bupati Bener Meriah Nomor 15 tahun 2020 tentang pencegahan dan penanganan stunting terintegrasi, tetapi masih ada beberapa program yang belum berjalan dengan optimal yaitu pemberian ASI Ekslusif dan informasi seputar gizi. Adapun saran diharapkan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang stunting agar pencegahan dan penanganan stunting bisa berjalan dengan baik
Pengaruh Pelatihan dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match terhadap Pengetahuan Kader Posyandu tentang Buku KIA dalam Kegiatan Pemantauan Status Gizi Balita di Desa Mekar Asih Kecamatan Banyusari Kabupaten Karawang Tahun 2023
Background: the problem of malnutrition is a challenge for all parties, especially health care workers. Cadres who actively support the implementation of posyandu become more active and regular, especially in monitoring growth and development activities. Given the important role of cadres in posyandu activities, the knowledge and skills of cadres must always be updated, one of which is by being given training in cooperative learning models. Research objectives: to determine the effect of training using the make a match type cooperative learning model on the knowledge of posyandu cadres about the MCH handbook in monitoring the nutritional status of toddlers in Mekar Asih Village, Banyusari District, Karawang Regency in 2023. Research methods: this type of research used quasi-experimental with a post test only design one group design. The population in this study were 54 cadres who were in Mekar Asih Village, Banyusari District, Karawang Regency. The sampling technique uses accidental sampling. The sample in this study were 30 cadres in Mekar Asih Village, Banyusari District, Karawang Regency. Data analysis used the dependent t test. Research results: the average knowledge of Posyandu cadres about Monitoring the Nutritional Status of Toddlers before being given training with the Make a match type cooperative learning model is 81.47, standard deviation is 10.102. The mean knowledge of posyandu cadres on monitoring the nutritional status of toddlers after being given training using the Make a match cooperative learning model was 92.53, standard deviation of 6.621. Conclusion: it can be concluded that there are differences in knowledge before and after being given training with the make a match type cooperative learning model about monitoring the nutritional status of toddlers in Mekar Asih Village, Banyusari District, Karawang Regency.Latar belakang: Masalah kurang gizi ini menjadi tantangan bagi semua pihak khususnya petugas pelayanan Kesehatan. Kader yang aktif mendukung pelaksanaan posyandu menjadi lebih aktif, dan teratur terutama dalam kegiatan pemantauan tumbuh kembang. Mengingat pentingnya peran kader dalam kegiatan posyandu, sehingga pengetahuan dan keterampilan kader harus selalu di update salah satunya dengan diberikan pelatihan model pembelajaran kooperatif. Tujuan penelitian: Untuk mengetahui pengaruh pelatihan dengan model pembelajaran kooperatif tipe make a match terhadap pengetahuan kader posyandu tentang buku KIA dalam kegiatan pemantauan status gizi balita di Desa Mekar Asih Kecamatan Banyusari Kabupaten Karawang Tahun 2023. Metode penelitian: Jenis penelitian menggunakan quasi experimental dengan desain post test only design one group, Populasi dalam penelitian ini adalah 54 kader yang berada di Desa Mekar Asih Kecamatan Banyusari Kabupaten Karawang. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah 30 kader yang berada di Desa Mekar Asih Kecamatan Banyusari Kabupaten Karawang. Analisis data menggunakan uji T dependen. Hasil penelitian: rerata Pengetahuan kader posyandu tentang Pemantauan Status Gizi Balita sebelum diberikan pelatihan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Make a match 81.47, standar deviasi 10.102. Rerata Pengetahuan kader posyandu tentang Pemantauan Status Gizi Balita sesudah diberikan pelatihan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Make a match 92.53, standar deviasi 6.621. Kesimpulan: dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan pelatihan dengan model pembelajaran kooperatif tipe make a match tentang pemantauan status gizi balita di Desa Mekar Asih Kecamatan Banyusari Kabupaten Karawang
Efektivitas Prenatal Yoga terhadap Nyeri Punggung pada Ibu Hamil Trimester III di Wilayah Kerja Puskesmas Telagasari, Kabupaten Karawang, Tahun 2023
Latar Belakang: Nyeri punggung pada kehamilan biasanya akan meningkat intensitasnya seiring dengan bertambahnya usia kehamilan karena nyeri ini merupakan akibat dari pergeseran pusat gravitasi dan postur tubuhnya. Prenatal yoga diharapkan akan membantu dalam mengatasi ketidaknyamanan selama kehamilan terutama trimester ke III. Membawa ibu hamil kedalam suasana kehamilan yang lebih tenang serta mempersiapkan tubuh fisik ibu hamil dengan baik. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul: “Efektivitas prenatal yoga terhadap nyeri punggung pada ibu hamil trimester III di wilayah kerja Puskesmas Telagasari Kabupaten Karawang tahun 2023”. Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui efektivitas prenatal yoga terhadap nyeri punggung pada ibu hamil trimester III di wilayah kerja puskesmas telagasari tahun 2023. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan quasi eksperimental dengan random sampling dengan sampel sebanyak 30 orang. Teknik data termasuk dalam analisis univariat menggunakan distribusi frekuensi dan analisis bivariat menggunakan perhitungan statistik program SPSS. Hasil penelitian:Hasil uji statistik didapatkan nilai p=0,000 lebih kecil dari nilai ?=0,05 artinya Prenatal yoga efektif menurunkan nyeri punggung pada ibu hamil trimester III di wilayah kerja Puskesmas Telaasari Kabupaten Karawang Tahun 2023. Kesimpulan dan Saran: Terdapat penurunan nyeri punggung pada ibu hamil trimester III yang sudah dilakukan prenatal yoga. Diharapkan prenatal yoga dapat diimplementasikan pada asuhan kebidanan komplementer, khususnya untuk asuhan kehamilan.Background: Back pain will usually increase in intensity with increasing gestational age because this pain is the result of a shift in the center of gravity and body posture. Prenatal yoga is expected to help overcome discomfort during pregnancy, especially the third trimester. Bringing pregnant women into a calmer pregnancy atmosphere and preparing the physical body of pregnant women well. Based on this background, researchers are interested in conducting research with the title: "Effectiveness of prenatal yoga on back pain in third trimester pregnant women in the working area of the Telagasari Health Center, Karawang Regency in 2023". Research Objectives: To determine the effectiveness of prenatal yoga on back pain in third trimester pregnant women in the Telagasari Health Center working area in 2023. Research Method: This study used a quasi-experimental with random sampling with a sample of 30 people. Data techniques included in univariate analysis using frequency distribution and bivariate analysis using SPSS program statistical calculations. The results of the study: The results of the statistical test obtained a value of p = 0.000 which is less than the value of ? = 0.05, meaning that Prenatal yoga is effective in reducing back pain in third trimester pregnant women in the working area of the Telaasari Health Center, Karawang Regency, in 2023. Conclusions and Suggestions: There is a decrease in back pain in third trimester pregnant women who have done prenatal yoga. It is hoped that prenatal yoga can be implemented in complementary midwifery care, especially for pregnancy care
Analisis Determinan Kejadian Tuberkulosis: Data Wilayah Kerja Puskesmas Tilango, Kabupaten Gorontalo
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor risiko kejadian kejadian tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Tilango Kabupaten Gorontalo. Jenis penelitian observasional analitik dengan menggunakan pendekatan case control study (community baseid casei control stuidy). Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 33 kasus dan 66 kontrol dengan melakukan matching pada alamat penderita. Analisis dilakukan dengan menggunakan Odds Rasio (OR) deingan Confideint Inteirval (CI) 95% pada uiji Manteil Haeinszeil dan uji regresi logistik biner. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa riwayat keluarga, (OR=5,469; p=0,000), kontak serumah (OR=4,614; p=0,001) dan kepadatan hunian (OR=5,231; p=0,000) merupakan faktor risiko kejadian tuberkulosis dengan nilai OR > 1 dan p value < 0,05, dimana kontak serumah sebagai faktor risiko yang paling dominan
Evaluasi Penerapan P-Care BPJS Kesehatan di Kota Tangerang
Implementasi P-Care BPJS di seluruh puskesmas wilayah kota Tangerang belum terlaksana dengan baik untuk mendukung ketersediaan informasi Kesehatan. Operator seringkali tidak memasukkan informasi pasien dengan lengkap dan kendala sistem informasi dari aplikasi sehingga menjadi faktor penyebab aplikasi P-Care BPJS menjadi error dan terdapat keterangan yang tidak diketahui. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi penerapan P-Care BPJS Kesehatan di puskesmas seluruh kota Tangerang. Penelitian observasional dengan desain cross-sectional, sebagai populasi adalah seluruh tenaga Kesehatan di Kota Tangerang yang aktif menggunakan P-Care BPJS dengan jumlah sampel sebanyak sampel 94 pengguna P-Care BPJS. Berdasarkan sampling jenuh yang diikuti oleh 38 puskesmas, pengguna P-Care BPJS paling banyak berjenis kelamin perempuan (69%), umur 20 – 30 Tahun tahun (74%), tingkat pendidikan D3 (64%), dan masa kerja 1-10 Tahun (86%). Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dengan skala Likert yang mengukur variabel persepsi kebermanfaatan, persepsi kemudahan, dan kondisi yang memfasilitasi. Teknik analisis data dilakukan dengan regresi linier berganda. Hasil penelitian menjelaskan variabel kebermanfaatan (p= 0,001 < 0,05), kemudahan (p= 0,009 < 0,05), dan kondisi yang memfasilitasi (p= 0,000 < 0,05) memiliki hubungan terhadap penerapan P-Care BPJS. Variabel yang memiliki pengaruh paling besar terhadap implementasi BPJS P-Care di Kota Tangerang adalah variabel kondisi yang memfasilitasi. Dengan penelitian ini, tidak hanya tenaga kesehatan yang merasakan manfaat dari P-Care, tetapi juga pasien. Data yang terintegrasi dapat membuat pasien semakin mudah dalam proses mendaftar dan mendapat rujukan, sehingga sangat membantu proses pelayanan.The implementation of BPJS P-Care in all health centres in the Tangerang city area had not been implemented properly to support the availability of health information. Operators often did not enter complete patient information and problem in the information system from the application, so it became a factor causing the P-Care BPJS application to face an error and missing remarks information. This study aimed to evaluate the BPJS Health P-Care implementation in Tangerang city health centres. Observational study with a cross-sectional design, as the population was all health workers in Tangerang City who actively use BPJS P-Care with a sample size of 94 BPJS P-Care users. Based on saturated sampling, which 38 health centres attended, the majority of BPJS P-Care users were female (69%), aged 20-30 years (74%), education level D3 (64%), and working period 1-10 years (86%). The data collection technique used a questionnaire with a Likert scale that measured the variables of perceived usefulness, perceived convenience, and facilitating conditions. The data analysis technique was performed using multiple linear regression. The results of the study explain that the variables of usefulness (p= 0.001 < 0.05), convenience (p = 0.009 < 0.05), and facilitating conditions (p = 0.000 < 0.05) had a relationship to the implementation of BPJS P-Care. The facility condition was the factor that had the greatest influence on the implementation of BPJS P-Care in Tangerang City. With this research, it is not only health workers who benefit from P-Care but also patients. Integrated data can make it easier for patients to register and get referrals, which greatly helps the service process
Evaluasi Efek Samping Obat Antihipertensi pada Pasien di RSAU Dr. M Salamun Periode Juni 2023
Antihypertensives are a class of drugs used to lower high blood pressure or hypertension. Antihypertensive drugs commonly used are Amlodipine, Bisoprolol, Candesartan, Captopril, Furosemide. In its use, antihypertensive drugs can cause several side effects. This study was conducted to determine the side effects of antihypertensive drugs in patients in the outpatient installation at RSAU Dr. M Salamun Bandung for the period of June 2023. The research method used was a descriptive survey using questionnaires and direct interviews with patients, and the sample was selected using purposive sampling with the Slovin formula. The results of the study found a number of 292 respondents who met the inclusion criteria. Hypertension patients experienced more by women as many as 174 people (59.6%), compared to men as many as 118 people (40.4%). And based on the age category, there were 164 people (56.1%) aged > 61 years. The highest number of antihypertensive drug use is with a combination of 2 drugs namely Amlodipine + Bisoprolol. There were 185 patients who experienced symptoms of drug side effects. The most common side effects of antihypertensive drugs are: Urinating every night, drowsiness, swollen feet, fatigue, dizziness.Antihipertensi adalah golongan obat - obatan yang digunakan untuk menurunkan tekanan darah tinggi atau hipertensi. Obat Antihipertensi yang umum digunakan adalah Amlodipin, Bisoprolol, Candesartan, Captopril, Furosemide. Dalam penggunaannya, obat Antihipertensi bisa menimbulkan beberapa efek samping. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek samping obat Antihipertensi pada pasien di instalasi rawat jalan di RSAU Dr. M Salamun Bandung periode Juni 2023. Metode penelitian yang digunakan adalah survei deskriptif dengan menggunakan kuesioner dan wawancara langsung kepada pasien, dan sample yang dipilih menggunakan purposive sampling dengan rumus Slovin. Hasil penelitian menemukan sejumlah 292 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Pasien hipertensi lebih banyak dialami oleh perempuan sebanyak 174 orang (59,6%), daripada laki – laki sebanyak 118 orang (40,4%). Dan berdasarkan kategori usia lebih banyak pada usia >61 tahun sebanyak 164 orang (56,1%). Jumlah penggunaan obat Antihipertensi terbanyak yaitu dengan kombinasi 2 obat yaitu Amlodipin + Bisoprolol. Terdapat 186 pasien yang mengalami gejala efek samping obat. Efek samping obat antihipertensi yang paling sering terjadi yaitu : BAK tiap malam, mengantuk, kaki bengkak, lelah, pusing
Cognitive Behavior Therapy (Cbt) Sebagai Terapi Tingkat Stress Pada Lansia
Elderly is a closing period in a person's life span starting from the age of 60 years until death which is marked by changes in physical, psychological and social conditions that interact with each other. The elderly are more likely to experience stress as a result of the physical, psychological, spiritual and psychosocial changes they experience. The purpose of this study was to see whether Cognitive Behavior Therapy (CBT) helps the elderly in Gumpang Village, Kartasura District, Sukoharjo Regency to reduce their stress. A quantitative study was conducted, and a pre-experimental design was used for the study. with accidental sampling method for sampling. Elderly aged between 65 and 70 years, elderly who are able to carry out physical activities alone, and elderly who completed all Cognitive Behavior Therapy (CBT) activities met the inclusion criteria for this study. Data was collected using the DASS questionnaire instrument It had been examined for its reliability by researchers from the past. Data processing used univariate and bivariate analysis in the form of the Wilcoxon Signed Rank Test. The results of the calculation of the Wilcoxon Signed Rank Test, Z value obtained -8.122 with a p-value of 0.000 which is less than the research critical limit of 0.05 (0.000 <0.05) which means there is a significant difference between the pre test and post test Cognitive Behavior Therapy is done. Lansia merupakan masa penutupan perubahan.kondisi.fisik merupakan rentang hidup seseorang perubahan ini dimulai dari penandaan pada usia 60 sampai kematian, psikologis dan sosial yang saling berinteraksi. Lansia lebih cenderung mengalami stres sebagai akibat dari perubahan fisik, psikologis, spiritual, dan psikososial yang dialaminya. Tujuan yang akan dicapai adalah untuk melihat apakah Cognitive Behavior Therapy (CBT) membantu lansia di Desa Gumpang Kecamatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo untuk mengurangi stresnya. Penelitian kuantitatif dilakukan, dan desain praeksperimental digunakan untuk penelitian. dengan metode accidental sampling untuk pengambilan sampel. Lansia berusia antara 65 dan 70 tahun, lansia yang mampu melakukan aktivitas fisik sendiri, dan lansia yang menyelesaikan semua aktivitas Cognitive Behavior Therapy (CBT) memenuhi kriteria inklusi untuk penelitian ini. Data diambil menggunakan instrumen kuesioner DASS yang telah diuji validitas oleh peneliti sebelumnya. Pengolahan data menggunakan analisis univariat dan bivariat berbentuk uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil dari perhitungan Wilcoxon Signed Rank Test, Nilai Z yang didapat -8.122 dengan p-value sebesar 0,000 di mana kurang dari batas kritis penelitian sebesar 0,05 (0,000 < 0,05) didapati antar pre test dan post test mempunyai perbedaan bermakna yang dilakukan pada Cognitive Behavior Therapy
Biomarker Terkini Untuk Membedakan Diagnosis Stroke Iskemik Dan Hemoragik Pada Pasien Dewasa Dan Lansia : Sebuah Review
Background: Stroke is a neurological deficit that occurs suddenly as a result of reduced or obstructed blood supply to certain parts of the brain. Stroke is the fifth leading cause of death in the United States and the third leading cause of death worldwide. Currently, neuroimaging examinations such as CT Scan and MRI are the gold standard in determining stroke diagnosis. However, these checks are limited, costly, and time consuming. Biomarkers are potensial tool that is currently being extensively researched to help diagnose stroke quickly and precisely, and they are used to differentiate between ischemic and hemorrhagic strokes. Objective: To know about the most recent biomarkers that can be used to distinguish between ischemic and hemorrhagic stroke in adult and elderly patients. Methods: Literature review of four database; PubMed, DOAJ, Cochrane, and Google Scholar published within the last 5 years, from 2018-2022. Results: There were 14 studies that reported effective biomarkers for diagnosing ischemic and hemorrhagic strokes, including Matrix Metalloproteinase (MMP), Thioredoxin, N-terminal brain natriuretic peptide (NT-proBNP), C-reactive protein (CRP), Sphingosine 1-phosphate (S1P), S100, Glial Fibrillary Acid Protein (GFAP), and Cystatin C. (CysC). Conclusion: Matrix metalloproteinase (MMP), Thioredoxin, N-terminal brain natriuretic peptide (NT-proBNP), C-reactive protein (CRP), and Sphingosine 1-phosphate (S1P) were discovered to be useful tools for diagnosing ischemic stroke. Meanwhile, because S100 and GFAP biomarkers can detect hemorrhagic stroke, they can be used to rule out an ischemic stroke diagnosis. In elderly patients, cystatin C (CysC) can be used as a biomarker for stroke. Latar Belakang: Stroke adalah kejadian defisit neurologis yang terjadi secara mendadak akibat berkurangnya atau terhambatnya suplai darah ke bagian otak tertentu. Stroke menjadi penyebab kematian kelima terbanyak di Amerika Serikat dan penyebab kematian ketiga terbanyak di dunia. Saat ini, pemeriksaan neuroimaging seperti CT Scan dan MRI menjadi gold standard dalam menentukan diagnosis stroke. Namun, pemeriksaan tersebut terbatas, membutuhkan biaya yang mahal, dan memakan waktu. Biomarker menjadi salah satu alat yang saat ini sedang banyak diteliti untuk membantu mendiagnosis stroke secara cepat dan tepat serta digunakan untuk membedakan stroke iskemik dan hemoragik. Tujuan: Mengetahui biomarker terkini yang dapat digunakan untuk membedakan diagnosis stroke iskemik dan hemoragik pada pasien dewasa dan lansia. Metode: Tinjauan literatur dari empat database PubMed, DOAJ, Cochrane, dan Google Scholar yang diterbitkan dalam rentang waktu 5 tahun terakhir yaitu dari tahun 2018-2022. Hasil: Didapatkan 14 literatur yang melaporkan biomarker yang efektif untuk mendiagnosis stroke iskemik dan hemoragik seperti Matrix Metalloproteinase (MMP), Thioredoxin, N-terminal brain natriuretic peptide (NT-proBNP), C-reactive protein (CRP), Sphingosine 1-phosphate (S1P), S100, Glial Fibrillary Acidic Protein (GFAP), dan Cystatin C (CysC). Kesimpulan: Dari literatur ini didapatkan bahwa Matrix Metalloproteinase (MMP), Thioredoxin, N-terminal brain natriuretic peptide (NT-proBNP), C-reactive protein (CRP), dan Sphingosine 1-phosphate (S1P) dapat digunakan sebagai alat diagnosis stroke iskemik. Sedangkan biomarker S100 dan Glial Fibrillary Acidic Protein (GFAP) dapat mendiagnosis stroke hemoragik, sehingga dapat digunakan untuk menyingkirkan diagnosis stroke iskemik. Cystatin C (CysC) dapat digunakan sebagai biomarker penanda stroke pada pasien lansia
Penggunaan Obat Antiinflamasi Untuk Penyakit RheumatoidArthritis Pada Pasien Rawat Jalan Di RSUDManokwariTahun 2021
Rheumatoid Arthritis merupakan salah satu penyakit autoimun yang berupa inflamasi arthritis seseorang menderita penyakit Rheumatoid Arthritis mengalami gejala rasa nyeri pada sinovial sendi. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendektan cross sectional populasi dalam penelitian ini adalah 30 data rekam medis, penelitian ini dilakukan di ruang RM RSUD Manokwari tanggal 7 januari sampai 15 januari 2022 instrumen yang digunakan adalah RM pasien Rheumatid Arthitis, analisis yang digunakan analisis data univariat dideskripsikan dan disajikan dalam bentuk tabel dan persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan Pasien yang banyak terdiagnosis Rheumatoid Arthritis adalah perempuan 23 (76,7%). Rentang usia yang banyak terdiagnosis Rheumatoid Arthritis?65 tahun 10 pasien (33%). Jenis obat yang banyak digunakan obat generik 30 (100%). Klasifikasi obat AINS yang banyak digunakan AINS COX-2, terdapat 19 obat meloxicam (63,3%). Lama pemberian obat 14 hari meloxicam (43,3%). Dosis NSAID yang digunakan 1x15mg (43,3%). Kesimpulan jenis kelamin perempuan paling banyak menderita penyakit Rheumatoid Arthritis, usia yang banyak terkena Rheumatoid Arthritis?65tahun, obat generik yang digunakan, golongan obat yang digunakan COX-2, diberikan selama 14 hari, dosis yang digunakan 1x15mg. Diharapkan adanya edukasi bagi petugas kesehatan di RSUD Manokwari yang berkaitan dengan pola penggunaan obat antiinflamasi untuk penyakit Rheumatoid Arthritis sehingga diperoleh terapi yang tepat.
Kata kunci : Rheumatoid Arthritis, Antiinflamasi, RSUD ManokwariRheumatoid Arthritis is an autoimmune disease in the form of inflammatory arthritis, a person suffering from Rheumatoid Arthritis disease experiences symptoms of pain in the synovial joints. This type of research is quantitative with a cross sectional approach. The population in this study is 30 medical record data, this study was carried out in the RM room of the Manokwari Hospital on January 7 to January 15, 2022, the instrument used was RM patients with Rheumatoid Arthitis, the analysis used univariate data analysis described and presented in the form of tables and percentages. The results of this study showed that most patients diagnosed with Rheumatoid Arthritis were 23 women (76.7%). The age range of most diagnosed Rheumatoid Arthritis 65 years 10 patients (33%). Types of drugs that are widely used are generic drugs 30 (100%). The classification of NSAIDs that are widely used is COX-2 NSAIDs, there are 19 drugs meloxicam (63.3%). The duration of drug administration was 14 days with meloxicam (43.3%). The dose of NSAID used was 1x15mg (43.3%). The conclusion is that the female gender suffers the most from Rheumatoid Arthritis, the age most affected by Rheumatoid Arthritis is 65 years, the generic drug used, the class of drug used is COX-2, given for 14 days, the dose used is 1x15mg. It is hoped that there will be education for health workers at the Manokwari Hospital related to the pattern of using anti-inflammatory drugs for Rheumatoid Arthritis so that appropriate therapy is obtained.
Keywords: Rheumatoid Arthritis, Anti-Inflammation, Manokwari Hospital