Health Information : Jurnal Penelitian
Not a member yet
657 research outputs found
Sort by
Studi Komparasi Prosedur Rinoplasti Dari Aspek Bedah Dan Non-Bedah: Efektivitas Dan Komplikasi
Dewasa ini, proporsi dan simetrisitas fitur wajah dianggap sebagai penentu persepsi kecantikan, termasuk hidung. Rinoplasti merupakan suatu prosedur yang bertujuan untuk membentuk kembali kontur hidung yang dilakukan dengan indikasi kosmetik ataupun perbaikan masalah klinis. Menurut survei yang dilakukan oleh International Society of Aesthetic Plastic Surgery (ISAPS), rinoplasti termasuk salah satu dari lima besar prosedur estetika paling diminati secara global. Dalam perspektif pasien, hasil akhir dari prosedur adalah masalah mendasar dalam praktik rinoplasti, tidak hanya untuk mengatasi indikasi fungsional tetapi juga aspek estetika, serta dampak keseluruhan dari penyelenggaraan prosedur ini. Tujuan: Penulis ingin menyusun sebuah tinjauan literatur yang terintegrasi mengenai definisi, prosedur pengerjaan, kelebihan, dan kekurangan termasuk komplikasi dari masing-masing tindakan guna memberikan referensi terbaru mengenai komparasi rinoplasti bedah dan non-bedah sebagai dasar pertimbangan pemilihan tindakan. Metode: Pencarian literatur dilakukan melalui database seperti PubMed dan Science Direct dengan kata kunci “rinoplasti”, “rinoplasti bedah”, dan “rinoplasti non-bedah”. Studi lain yang tidak membahas tentang populasi dan sampel yang sesuai dieksklusikan. Hasil: Rinoplasti bedah memberikan hasil permanen dan dapat dilakukan bersama prosedur lain sehingga dapat memenuhi aspek efisiensi, namun waktu pemulihan yang lama, risiko yang cukup rumit, serta biaya yang tinggi harus dipertimbangkan. Sedangkan rinoplasti non-bedah memiliki durasi penegrjaan yang singkat, waktu pemulihan yang lebih cepat, biaya yang lebih rendah, tetapi membutuhkan perawatan yang lebih intensif karena hasil bersifat reversibel. Beberapa komplikasi juga dapat menyertai prosedur ini, seperti oklusi pada pembuluh darah. Kesimpulan: Di antara kedua opsi tersebut, tidak dapat diputuskan secara definitif mengenai prosedur yang lebih unggul karena kedua prosedur memiliki indikasi, manfaat, dan komplikasi yang dapat mempengaruhi setiap kandidat secara subjektif. Maka, diperlukan wawancara komprehensif mengenai riwayat kondisi, hasil yang diharapkan, kemungkinan risiko dan komplikasi, serta riwayat sosiodemografi dan status finansial setiap kandidat sebelum keputusan pemilihan prosedur diambil.Today, the proportion and symmetry of facial features are considered as determinants of the perception of beauty, including the nose. Rhinoplasty is a procedure that aims to reshape the contour of the nose which is done with cosmetic indications or improvement of clinical problems. According to a survey conducted by the International Society of Aesthetic Plastic Surgery (ISAPS), rhinoplasty is one of the top five most popular aesthetic procedures globally. From the patient's perspective, the end result of the procedure is a fundamental issue in rhinoplasty practice, not only to address functional indications but also aesthetic aspects, as well as the overall impact of carrying out this procedure. Aims: The author wishes to compile an integrated literature review regarding definitions, working procedures, advantages and disadvantages including complications of each procedure in order to provide the latest reference regarding comparison of surgical and non-surgical rhinoplasty as a basis for consideration in selecting an action. Methods: A literature search was conducted through databases such as PubMed and Science Direct with the keywords “rhinoplasty”, “surgical rhinoplasty”, and “non-surgical rhinoplasty”. Other studies that did not address the appropriate population and sample were excluded. Results: Surgical rhinoplasty provides permanent results and can be performed in conjunction with other procedures so as to meet efficiency aspects, however, long recovery time, quite complicated risks, and high costs must be considered. Whereas non-surgical rhinoplasty has a short duration of action, faster recovery time, lower costs, but requires more intensive treatment because the results are reversible. Several complications can also accompany this procedure, such as occlusion of blood vessels. Conclusions: Between the two options, it cannot be definitively decided which procedure is superior because both procedures have indications, benefits, and complications that may affect each candidate subjectively. Thus, a comprehensive interview is required regarding the history of the condition, expected results, possible risks and complications, as well as the sociodemographic history and financial status of each candidate before a decision on the selection of the procedure is made
Hubungan Hiperglikemia Dengan Retinopati Pada Bayi Prematur
Retinopati pada bayi prematur (retinopathy of prematurity/ROP) adalah penyakit neovaskularisasi iskemik pada bayi prematur yang dapat menyebabkan terbentuknya jaringan parut hingga ablasio retina. ROP sendiri merupakan penyebab kebutaan pada 15% bayi di negara berkembang. Ada beberapa kemungkinan faktor risiko ROP yaitu usia gestasi, berat lahir, faktor maternal, stress oksidatif, kondisi hipoksia dan hiperoksia, proteinuria, dan hiperglikemia. Dikarenakan hiperglikemia merupakan salah satu faktor resiko yang berpotensi untuk dimodifikasi maka dilakukan penelitian ini dengan tujuan untuk mengetahui insidensi retinopati pada bayi prematur dengan hiperglikemia. Penelitian ini dilakukan dengan metode literature review menggunakan kata-kata kunci hiperglikemia neonatal (neonatal hyperglycemia), retinopati (retinopathy), dan bayi prematur (preterm infant). Penulis mencari kumpulan tinjauan Pustaka dari berbagai sumber terpercaya dan didapatkan sebanyak 15 jurnal yang digunakan setelah proses seleksi dengan kriteria akses terbuka. Batasan hiperglikemia neonatal adalah kadar gula darah di atas 150 mg/dL atau 8,5 mmol/L. Didapatkan hubungan antara hiperglikemia neonatal dengan ROP dikarenakan kadar insulin growth factor (IGF)-1 yang rendah pada bayi prematur. Kadar IGF-1 berbanding terbalik dengan vascular endothelial growth factor (VEGF), hal mana yang berperan dalam fase progresivitas ROP. Studi literatur ini membahas hubungan antara hiperglikemia neonatal dengan insidensi ROP serta penelitian yang mendukungnya.Retinopathy in premature infants (retinopathy of prematurity/ROP) is an ischemic neovascularization disease in premature infants which may cause the formation of scar tissue to retinal detachment. ROP itself is the cause of blindness in 15% of babies in developing countries. There are several possible risk factors for ROP, namely gestational age, birth weight, maternal factors, oxidative stress, conditions of hypoxia and hyperoxia, proteinuria, and hyperglycemia. Since hyperglycemia is a risk factor that could be modified, this study was conducted with the aim of determining the incidence of retinopathy in premature infants with hyperglycemia. This study was conducted using the literature review method using the key words neonatal hyperglycemia, retinopathy, and premature infants. The author looked for a collection of literature reviews from various reliable sources and 15 journals were chosen from the selection process with the open access criteria. The cut-off point of neonatal hyperglycemia is blood sugar levels above 150 mg/dL or 8.5 mmol/L. A relationship was found between neonatal hyperglycemia and ROP due to low levels of Insulin Growth Factor (IGF)-1 in premature infants. IGF-1 levels are inversely related to vascular endothelial growth factor (VEGF), which plays a role in the progressive phase of ROP. This literature study discusses the relationship between neonatal hyperglycemia and the incidence of ROP and the research that supports it
Aspirin Dan Kalsium Pada Pencegahan Preeklampsia : Literatur Review
Preeclampsia is a pathological condition of pregnancy that causes complications and cause maternal and perinatal death. Preeclampsia itself is part of hypertension in pregnancy, which has caused 1,077 maternal deaths in 2021 in Indonesia. Although several journals have recommended the use of aspirin and calcium supplementation to reduce the incidence of preeclampsia, it is still controversial among clinicians. This literature review aims to evaluate the potential of aspirin with calcium supplementation in reducing the incidence of preeclampsia. Databases used in this study include Pubmed, Google Scholar, Ebsco, Medline, Science Direct, Cochrane and Hindawi. Several studies have shown that administration of low-dose aspirin not exceeding 150mg/day in early gestation can reduce risk factors for preeclampsia and reduce the incidence of maternal and perinatal mortality. Calcium supplementation reduces the incidence of preeclampsia in mothers with calcium deficiency. Administration of low-dose aspirin and calcium supplementation from early gestational age was shown to reduce the incidence of preeclampsia.Preeklampsia merupakan kondisi patologis kehamilan yang menyebabkan komplikasi serta kematian maternal maupun perinatal. Preeklampsia sendiri merupakan bagian dari hipertensi dalam kehamilan, yang telah menyebabkan kematian ibu sebesar 1.077 kasus pada tahun 2021 di Indonesia. Meskipun beberapa jurnal telah merekomendasikan penggunaan aspirin dan suplementasi kalsium untuk menurunkan insidensi preeklampsia, akan tetapi hal tersebut masih menjadi kontroversi di antara klinisi. Literature review ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi pemberian aspirin dengan suplementasi kalsium dalam penurunan insidensi preeklampsia. Database yang digunakan pada penelitian ini antara lain Pubmed, Google Scholar, Ebsco, Medline, Science Direct, Cochrane dan Hindawi. Beberapa studi membuktikan bahwa pemberian aspirin dosis rendah dengan tidak melebihi 150mg/hari pada awal usia gestasi dapat menurunkan faktor resiko preeklampsia dan mengurangi insidensi kematian maternal dan perinatal. Pemberian suplementasi kalsium menurunkan insidensi preeklampsia pada ibu dengan defisiensi kalsium. Pemberian aspirin dosis rendah dan suplementasi kalsium sejak usia gestasi dini terbukti menurunkan insidensi preeklampsia
Gambaran Hasil Pemeriksaan HIV Pada Penderita Tuberculosis Paru Di Rumah Sakit Khusus Paru Medan
Human Immunodeficiency Virus (HIV) infection has been the most important predisposing factor in the development of Tuberculosis (TB) since the early 1980s where one-third of HIV-infected patients in the world have co-infection with pulmonary TB. TB in people with HIV/AIDS (PLWHA) can have a clinical picture atypical which causes difficulty in diagnosis, and becomes the most opportunistic infection and causes death of HIV sufferers. The type of research used was descriptive with a retrospective approach by looking at patient medical records from January to June 2022. Based on the results of the research conducted, it can be concluded: A total of 6 people (2.75%) were HIV positive suffering from tuberculosis, 212 people ( 97.25%) HIV negative suffer from tuberculosis. Of the 6 HIV positive people, 3 are women and 3 are men.Infeksi Human Immunodeviciency Virus (HIV) telah menjadi faktor predisposisi terpenting dalam berkembangnya Tuberculosis (TB) sejak awal Tahun 1980an dimana sepertiga penderita yang terinfeksi HIV di dunia memiliki koinfeksi dengan TB Paru. Tb pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dapat memiliki gambaran klinis tidak khas sehingga menyebabkan kesulitan diagnosis, dan menjadi infeksi oportunistik terbanyak dan menyebabkan kematian penderita HIV. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan secara retrospektif dengan melihat rekam medik pasien dari bulan januari – juni tahun 2022. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka dapat disimpulkan: Sebanyak 6 orang (2,75%) positif hiv menderita tuberculosis, Sebanyak 212 orang (97,25%) negative hiv menderita tuberculosis, Dari 6 orang yang positif HIV diantaranya 3 perempuan, dan 3 laki-laki
Implementasi Program Germas Dalam Upaya Pencegahan PTM di Wilayah Kerja Puskesmas Langsa Lama (Studi Kasus Hipertensi pada Remaja)
Seiring gaya hidup modern. Gaya hidup seperti ini membuat manusia sangat menyukai hal-hal yang instan. Hal tersebut tentu dapat memicu timbunya berbagai penyakit, termasuk hipertensi. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor resiko pemicu dan pencegah terjadi nya hipertensi pada remaja di Kecamatan Langsa Lama, serta untuk mengetahui program germas apa saja yang sudah terlaksana di Puskesmas UPTD Langsa Lama dalam pencegahan hipertensi remaja, Metode penelitian menggunakan metode kualitatif, yaitu melalui pendekatan social dan pendekatan teologis, jenis dan sumber data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder, metode pengambilan data melalui wawancara mendalam dengan menjadikan tokoh - tokoh kunci sebagai sampel atau objek wawancara. Hasil berdasarkan hasil wawancara diketahui terdapat 268 remaja yang memiliki riwayat penyakit hipertensi yaitu berjenis kelamin laki - laki 126 remaja dan berjenis kelamin perempuan 142 remaja. Program germas untuk pencegahan hipertensi remaja, seperti, remaja dapat melakukan penerapan pola hidup sehat dengan menerapkan pola makan sehat, rutin melakukan aktifitas fisik, menghindari rokok, tidak mengkonsumsi garam dan minyak secara berlebihan, mengurangi mengkonsumsi kafein, makanan instan dan mengelola stres dengan baik, Kesimpulan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) merupakan upaya promotif dan preventif guna meningkatkan pola hidup sehat di masyarakat. Langkah Gerakan Masyarakat Hidup Sehat yaitu melakukan aktivitas fisik, makan buah dan sayur, tidak merokok, tidak mengkonsumsi minuman beralkohol, melakukan cek Kesehatan secara berkala, menjaga kebersihan lingkungan, dan menggunakan jamban.Along with the modern lifestyle. This kind of lifestyle makes humans very fond of instant things. This can certainly trigger the emergence of various diseases, including hypertension. The objectives to be achieved in this study are to determine the risk factors and prevent the occurrence of hypertension in adolescents in the Langsa Lama sub-district, as well as to find out what germas programs have been carried out at the UPTD Langsa Lama Health Center in preventing adolescent hypertension. The research method uses qualitative methods, namely through social approaches and theological approaches, the types and sources of data used are primary data and secondary data, data collection methods through in-depth interviews by making key figures as samples or interview objects, and data analysis methods using content analysis. The results based on the results of interviews found that there were 268 adolescents who had a history of hypertension, namely 126 adolescents and 142 adolescents females. The GERMAS program for the prevention of adolescent hypertension, such as, adolescents can apply a healthy lifestyle by applying a healthy diet, regular physical activity, avoiding cigarettes, not consuming salt and oil excessively, reducing consumption of caffeine, instant food and managing stress well, Conclusion The Healthy Living Community Movement (GERMAS) is a promotive and preventive effort to improve a healthy lifestyle in the community. The steps of the Healthy Living Community Movement are to carry out physical activity, eat fruits and vegetables, do not smoke, do not consume alcoholic beverages, conduct regular health checks, maintain environmental cleanliness, and use latrines
Pengaruh Pemberian Buah Pepaya Terhadap Peningkatan Produksi ASI Pada Ibu Menyusui Di Puskesmas Kutabumi Kec. Pasar Kemis Tangerang - Banten
Latar Belakang Banyak cara yang dilakukan ibu untuk proses peningkatan produksi ASI. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan mengonsumsi bahan-bahan herbal yang diketahui secara turun-menurun, yaitu seperti pemberian buah papaya . Kandungan pepaya yaitu laktogagum yang menjadi penyebab terproduksi nya ASI. Tujuan Penulisaan : untuk mengetahui pengaruh pemberian buah papaya terhadap peningkatan produksi ASI pada iu menyusui di Puskesmas Kutabumi Kec. Pasar Kemis Tangerang-Banten Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian pra experimentdengan pretest posttest tanpa kelompok kontrol Variabel independen dalam penelitian ini adalah pemberian buah pepaya dan variabel dependennya adalah peningkatan produksi ASI. Total reponden dalam penelitian ini adalah 60 responden yang terhitung pada ibu yang mempunyai bayi 0-6 bulan dengan terdata jumlah produksi ASI kurang. Hasil Penelitian Hasil penelitian ini menunjukkan uji statistic paires sampe t tes di dapatkan nilai Sig. (2-tailed) yaitu 0,00 < 0,05 maka dapat di simpulkan adanya perbedaan jumlah produksi ASI sebelum dan sesudah. Sehingga hasil penelitian ini dapat di simpulkan terdapat pengaruh pemberian buah pepaya terhadap peningkatan produksi ASI pada ibu menyusui di Puskesmas Kutabumi Kec. Pasar Kemis Tangerang Banten Kesimpulan dan Saran : Di harapkan dapat digunakan sebagai pedoman dalam tindakan kompementer kebidanan dalam pengobatan non farmakologi sehingga dapat di sosialisasikan khusunya pada wanita yang ASI kurang
Faktor – Faktor Kegagalan Pemberian ASI Eksklusif 0-6 Bulan Di Desa Banyu Asih Kecamatan Mauk- Tangerang Tahun 2023
Latar Belakang Pemberian ASI Eksklusif pada bayi merupakan kebutuhan dasar yang sangat penting untukmenjaga kesehatan dan pertumbuhan optimal bayi. Namun, masih banyak ibu yang belum memberikan ASI Eksklusif pada bayinya karena adanya beberapa faktor penghambat. Tujuan Penulisaan : untuk mengetahui faktor-faktor kegagalan pemberian ASI Eksklusif 0-6 bulan di Desa Banyu Asih Kecamatan Mauk-Tangerang Tahun 2023. Metode Penelitian : Desain penelitian secara cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Pengolahan data mengggunakan SPSS. Hasil Penelitian Pada hasil penelitian Pada 4 variabel yang meliputi pendidikan, pekerjaan, penghasilan, jarak anak sebelumnya terhadap kegagalan pemberian ASI Eksklusif 0-6 bulan di dapatkan hasil bahwa yang semua variabel tidak ada hubungan dalam kegagalan pemberian ASI Eksklusif.P value > 0,05. Kesimpulan dan Saran : Hasil penelitian ini dapat di sarankan bahwa kegagalan asi ekskulif tidak pada pendidikan, pekerjaan, penghasilan serta jarak anak sebelumnya, kegagalan juga dapat disebabkan dengan kurang lancar produksi ASI, maka perlu di sampaikan bahwa dalam memperlacar ASI
Pola Penggunaan Obat Antihipertensi Pasien Rawat Jalan RSAU dr. M Salamun Periode April-Mei 2023
Hypertension is a condition where arterial blood pressure exceeds normal limits and experiences a persistent increase. High blood pressure occurs because the blood has increased by more than 140/90 mmHg on two measurements with an interval of five minutes in a calm/rest state (Kemenkes RI, 2014). Basic Health Research (Riskesdas) in 2013 stated that 26.5% of Indonesia's population suffers from hypertension. This study aims to determine patient characteristics (age and gender) and class of drugs prescribed to outpatients at RSAU dr.M. Salamun period April-May 2023. This study used a retrospective descriptive method, the sampling technique in this study used a simple random sampling technique. The number of samples taken was 334 prescription sheet.. The results showed that 36% of patients with hypertension included >65 years of age, 29% of 56-65 years of age, 24% of 46-55 years of age, 7% of 36-45 years of age, and 1% of 26-35 years of age. There are more women with hypertension (55%) than men (45%). The highest use of a single drug was Candesartan in the ARB class, namely 18 prescriptions (6.9%), the most used combination of antihypertensive drugs was a combination of two drugs in the BB and ARB groups, namely Bisoprolol and Candesartan, 32 times (12.4%).Hipertensi adalah kondisi kenaikan tekanan darah arteri melebihi batas normal dan mengalami kenaikan yang bertahan. Tekanan darah tinggi terjadi karena darah mengalami kenaikan lebih dari 140/90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan tenang/istirahat (Kemenkes RI, 2014). Riset Kesehatan Dasar (riskesdas) pada tahun 2013 menyatakan bahwa 26,5% penduduk Indonesia menderita hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien (usia dan jenis kelamin) dan golongan obat yang di resepkan pada pasien rawat jalan RSAU dr.M. Salamun periode bulan April-mei 2023. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yang bersifat retrospektif, teknik pengambilan sampel pada penelitikan ini menggunakan teknik acak sederhana (simple random sampling). Jumlah sampel yang diambil sebanyak 334 lembar resep. Hasil penelitian diperoleh pasien penderita hipertensi sebanyak 36% termasuk usia >65 tahun, 29% usia 56-65 tahun, 24% usia 46-55 tahun, 7% usia 36-45 tahun, dan 1% usia 26-35 tahun. Penderita hipertensi Wanita (55%) lebih banyak dibandingkan dengan pria (45%). Penggunaan obat tunggal terbanyak adalah Candesartan golongan ARB yaitu sebanyak 18 kali diresepkan (6,9%), penggunaan kombinasi obat antihipertensi terbanyak adalah kombinasi dua obat golongan BB dan ARB yaitu Bisoprolol dan Candesartan sebanyak 32 kali diresepkan (12,4%)
Pengaruh Pendidikan Kesehatan dengan Media Audio Visual terhadapPeningkatan Kemandirian Keluarga dalam Merawat Lansia Hipertensi di KotaTasikmalaya
Peningkatan usia lanjut membawa konsekuesi peningkatan kejadian penyakit degenaratif, salah satunya penyakit hipertensi. Penyakit hipertensi merupakan salah satu penyakit yang sifatnya kronis dan merupakan faktor utama penyebab gagal jantung, gagal ginjal dan stroke. Angka kejadian hipertensi di Indonesia dari tahun ke tahun terjadi peningkatan termsuk di Jawa Barat dan juga di Kota Tasikmalaya. Upaya strategi yang sudah diprogramkan pemerintah adalah melalui PIS-PK, dimana pelayanan pada pasien hipertensi merupakan salah satu indicator. Pendekatan ini mendorong kemandirian keluarga dalam merawat anggota keluarga (lansia). Kemandirian ini dapat dicapai bila keluarga memiliki pengetahuan. sikap dan keeterampilan dalam merawat lansia hipertensi. Upaya untuk meningkatakan pengetahuan, sikap dan keterampilan dapat dilakukan melalui kegiatan edukasi. Salah satu media edukasi yaitu berbentuk audio visual. Tujuan penelitian ini untuk melihat peningkatan tingkat kemandirian keluarga dalam merawat lansia hipertensi menggunakan edukasi video. Sampel dalam penelitian berjumlah 30 orang kelompok intervensi dan 30 orang kelompok control. Hasil yang di dapatkan adalah sebelum dilakukan intervensi edukasi video baik kelompok intervensi maupun kelompok control berada pada tingkat kemandirian 1 dan setelah dilakukan intervensi edukasi video terdapat peningkatan yang signifikan.Increasing old age brings with it an increase in the incidence ofdegenerative diseases, one of which is hypertension. Hypertension is achronic disease and is the main factor causing heart failure, kidneyfailure and stroke. The incidence of hypertension in Indonesia hasincreased from year to year, including in West Java and also inTasikmalaya City. The strategic effort that has been programmed by thegovernment is through PIS-PK, where service to hypertensive patients isone indicator. This approach encourages family independence in caringfor family members (the elderly). This independence can be achieved ifthe family has knowledge. attitudes and skills in caring forhypertensive elderly. Efforts to improve knowledge, attitudes and skillscan be done through educational activities. One of the educational mediais audio-visual. The aim of this research is to see an increase in thelevel of family independence in caring for elderly people withhypertension using video education. The sample in the study consisted of 30 people in the intervention group and 30 people in the control group. The results obtained were that before the video education intervention was carried out, both the intervention group and the control group were at level 1 of independence and after the video education intervention was carried out there was a significant increase
Pengaruh Antioksidan Ekstrak Buah Kepel terhadap Kualitas Sperma Hewan Coba yang Diberikan Asap Rokok
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh antioksidan yang terdapat dalam ekstrak buah kepel terhadap kualitas sperma pada hewan coba yang telah diberikan asap rokok. Rokok mengandung banyak senyawa berbahaya yang dapat merusak sistem reproduksi. Oleh karena itu, penting untuk memahami apakah antioksidan alami dari buah kepel dapat melindungi sperma dari kerusakan akibat paparan asap rokok. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen kuantitatif. Pada penelitian ini terdapat manipulasi terhadap objek penelitian serta adanya kontrol. Penelitian yang dilakukan mengenai pengaruh pemberian ekstrak simplisia daun kepel (Stelechocarpus burahol) terhadap dosis ektrak dalam meningkatkan kualitas Kesehatan sperma Mencit (Mus musculus L.) jantan pasca diberikan paparan asap rokok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak buah kepel dengan kandungan antioksidan dapat meningkatkan kualitas sperma pada hewan coba yang diberikan asap rokok. Sperma pada kelompok yang menerima perlakuan antioksidan memiliki motilitas yang lebih baik, jumlah sperma yang lebih tinggi, dan morfologi yang lebih normal dibandingkan dengan kelompok yang tidak menerima perlakuan tersebut.pemberian ekstrak buah kepel dalam berbagai dosis tidak menghasilkan perbedaan yang signifikan dalam jumlah sperma, morfologi sperma, maupun viabilitas sperma pada hewan percobaan yang menjadi subjek penelitian.This study aims to evaluate the effect of antioxidants contained in kepel fruit extract on sperm quality in experimental animals that have been given cigarette smoke. Cigarettes contain many harmful compounds that can damage the reproductive system. Therefore, it is important to understand whether the natural an-thioxidant from kepel fruit can protect sperm from damage from exposure to cigarette smoke. The type of research used in this study is quantitative experimental research. In this study there is manipulation of the object of study and the control. Research conducted on the effect of Simplicia kepel leaf extract (Stelechocarpus burahol) on the dose of extract in improving the health quality of mouse sperm (Mus musculus L.) post males were given exposure to cigarette smoke. The results showed that kepel fruit extract with antioxidant content can improve sperm quality in experimental animals given cigarette smoke. Sperm in the group that received the antioxidant treatment had better motility, higher sperm count, and more normal morphology compared to the group that did not receive the treatment.administration of kepel fruit extract in various doses did not produce significant differences in sperm count, sperm morphology, and sperm viability in experimental animals that were the subject of the study