Health Information : Jurnal Penelitian
Not a member yet
657 research outputs found
Sort by
Tingkat Ketergantungan Penggunaan Gadget pada Anak Prasekolah Sebelum dan Selama Masa Pandemi COVID-19 di TK Pembina Kota Samarinda
Latar Belakang : Penggunaan gadget oleh orangtua merupakan kebutuhan primer diera sekarang, tak terkecuali anak-anak yang rasa ingin tahu sedang berkembang. Orang tua yang sibuk, sering menjadikan gadget sebagai salah satu alternatif mereka, untuk mengatasi anak yang sedang meminta perhatian yang dianggap mengganggu aktivitas orang tua. Perlu menjadi perhatian, karena periode perkembangan anak yang sangat sensitif adalah saat usia 1-5 tahun. Tujuan : untuk mengetahui tingkat ketergantungan penggunaan gadget pada anak prasekolah sebelum dan selama masa pandemi Covid-19 di TK Pembina Kota Samarinda Tahun 2020. Metode: deskriptif analitik dengan melakukan observasi dan mengukur variabel pada saat yang sama, tiap subjek hanya di observasi sekali saja dan pengambilan data dilakukan pada saat itu juga. Sampel adalah semua anak usia prasekolah di TK Pembina Kota Samarinda, sebanyak 50 anak dengan teknik total sampilng. Hasil : Didapatkan bahwa median tingkat ketergantungan gadget pada anak prasekolah di TK Pembina mengalami peningkatan, dimana dengan nilai p value sebesar 0,001 (< ? = 0,05) dengan menggunakan uji Wilcoxon. Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan ada peningkatan rata-rata dari tingkat ketergantungan penggunaan gadget pada anak prasekolah pada masa sebelum dan selama masa pandemi Covid-19 pada anak yang bersekolah di TK Pembina kota Samarinda pada tahun 2020.Penggunaan gadget oleh orang tua merupakan kebutuhan primer diera saat ini, kecuali anak-anak yang rasa ingin tahu sedang berkembang. Orang tua yang sibuk, sering menjadikan gadget sebagai salah satu alternatif mereka, untuk mengatasi anak yang sedang meminta perhatian yang dianggap mengganggu aktivitas orang tua. Perlu menjadi perhatian, karena periode perkembangan anak yang sangat sensitif adalah saat usia 1-5 tahun. Tujuan untuk mengetahui tingkat ketergantungan penggunaan gadget pada anak sebelum dan selama masa pandemi Covid-19 di TK Pembina Kota Samarinda Tahun 2020. Metode deskriptif analitik dengan melakukan observasi dan mengukur variabel pada saat yang sama, tiap subjek hanya melakukan observasi sekali saja dan pengambilan data dilakukan pada saat itu juga. Sampel adalah seluruh anak usia kehamilan di TK Pembina Kota Samarinda sebanyak 50 anak dengan teknik total sampling. Didapatkan bahwa median tingkat ketergantungan gadget pada anak yang diprediksikan di TK Pembina mengalami peningkatan, dimana dengan nilai p value sebesar 0,001 (< ? = 0,05) dengan menggunakan uji Kata Kunci: Anak pembentukan, ketergantungan gadget, pandemi COVID 19. Poltekkes Kemenkes Kendari, Indonesia ISSN: 2085-0840 ISSN-e: 2622-5905 Berkala: Bianual vol. 15 tidak. 1 2022 [email protected] Diterima: 22 Oktober 2022 Diterima: 29 Desember 2022 Sumber Pembiayaan: tidak ada DOI: 10.36990/hijp.v14i2.744 URL: https://myjurnal.poltekkes kdi.ac.id/index.php/hijp/article/view/744 Ringkasan: Penggunaan gadget oleh Orangtua merupakan kebutuhan primer diera saat ini, kecuali anak-anak yang rasa ingin tahu sedang berkembang. Orang tua yang sibuk, sering menjadikan gadget sebagai salah satu alternatif mereka, untuk mengatasi anak yang sedang meminta perhatian yang dianggap mengganggu aktivitas orang tua. Perlu menjadi perhatian, karena periode perkembangan anak yang sangat sensitif adalah saat usia 1-5 tahun. Tujuan untuk mengetahui tingkat ketergantungan penggunaan gadget pada anak sebelum dan selama masa pandemi Covid-19 di TK Pembina Kota Samarinda Tahun 2020. Metode deskriptif analitik dengan Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan rata-rata dari tingkat ketergantungan penggunaan gadget pada anak yang dicegah pada masa sebelum dan selama masa pandemi Covid-19 pada anak yang bersekolah di TK Pembina kota Samarinda pada tahun 2020
Perbandingan Hipotiroid Kongenital Dengan Eutiroid Terhadap Kelainan Ginjal Dan Traktus Urinarius Pada Anak
Congenital hypothyroidism is an abnormal congenital condition that occurs in approximately 3000 - 4000 newborns in the world. The incidence number in Indonesia is 1 :2500 per population. Congenital hypothyroidism is usually associated with other congenital abnormalities, such as kidney and urinary tract disorder. This condition is affected by many factors, such as gene mutations (PAX8, FOXE1, TTF1, TTF2 TSHR, TPO, and NIS) and maternal disorders (hypothyroidism and epilepsy in pregnancy). This study was conducted to determine the relationship between congenital hypothyroidism and kidney and urinary tract disorder in order to reduce the risk of end-stage kidney disease in infants and children. The literature search was taken from trusted journal articles such as Pubmed, Google Scholar, Ebsco, Medline, Science Direct, Cochrane, and Hindawi which were published within the last 10 years. Apart from the PAX8 gene, mutations in other genes involved in kidney and urinary system development such as WT1, WNT4, SALL1, and NKX2-1 can cause congenital urinary system disorders (impaired kidney function or kidney formation). Hypernatremic dehydration in children due to acute glomerulonephritis often causes acute kidney injury in congenital hypothyroidism. Hypothyroidism can reduce kidney function and affect the processes of filtration, reabsorption, and secretion. This condition can affect fluid and electrolyte balance and cause kidney disorders. The occurrence of hypothyroidism can also reduce urine production and slow the absorption of fluids, which causes dehydration and worsens kidney conditions. Congenital abnormalities of the kidney and urinary tract are more common in congenitally hypothyroid children than in euthyroid children, with an odds ratio (OR) 13,2.Hipotiroid kongenital adalah kelainan kongenital yang sangat umum dijumpai pada neonatus, di mana satu dari 3000-4000 bayi di dunia mengalami hipotiroid kongenital. Angka kejadian hipotiroid kongenital di Indonesia sendiri yaitu 1:2500 per penduduk. Hipotiroid kongenital dapat berhubungan dengan kelainan kongenital lainnya, salah satunya kelainan ginjal dan traktus urinarius. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti mutasi gen (PAX8, FOXE1, TTF1, TTF2, TSHR, TPO, dan NIS) dan gangguan maternal (hipotiroid dan epilepsi dalam kehamilan). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan hipotiroid kongenital dengan kelainan ginjal dan traktus urinarius sehingga dapat menurunkan risiko penyakit ginjal stadium akhir pada bayi dan anak. Pencarian literatur diambil dari artikel jurnal terpercaya seperti Pubmed, Google Scholar, Ebsco, Medline, Science Direct, Cochrane, dan Hindawi yang diterbitkan dalam rentang waktu 10 tahun terakhir. Selain gen PAX8, mutasi pada gen-gen lain yang terlibat dalam perkembangan ginjal dan sistem urinarius seperti WT1, WNT4, SALL1, serta NKX2-1 dapat menyebabkan gangguan sistem urinarius kongenital seperti gangguan fungsi ginjal atau pembentukan ginjal. Kondisi dehidrasi hipernatremik pada anak akibat glomerulonefritis akut seringkali menyebabkan cedera ginjal akut pada hipotiroid kongenital. Hipotiroid dapat menurunkan fungsi ginjal dan mempengaruhi proses filtrasi, reabsorbsi, dan sekresi. Hal ini dapat mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit dan menyebabkan gangguan ginjal. Terjadinya hipotiroid juga dapat menurunkan produksi urin dan memperlambat proses penyerapan cairan, yang menyebabkan dehidrasi dan memperburuk kondisi ginjal. Kelainan kongenital ginjal dan traktus urinarius lebih banyak ditemukan pada anak hipotiroid kongenital dibandingkan anak eutiroid, dengan odds ratio (OR) 13,2
Hubungan Konsumsi Makanan Cepat Saji Dengan Status Gizi Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Di Masa Pandemi Covid-19
One of the problems of excess nutrition that occurs in children and adolescents and gets special attention in the world of health is obesity. Some of the risk factors that cause obesity, especially in adolescents, are lifestyle changes. The COVID-19 pandemic has increased the risk of obesity in children and adolescents due to lifestyle changes. The purpose of this study was to determine the relationship between fast food consumption and the incidence of overweight and obesity during the COVID-19 pandemic. This study uses a research design in the form of an analytic type with a cross-sectional approach. Subjects were taken using purposive non-probability sampling and obtained as many as 201 students as respondents in this study. This research was conducted boldly by giving a questionnaire via google form. Statistical analysis used a 2x2 table with chi-square test and the results were female subjects with an average age of 20.30 years. In this study, it was found that 98 (48.7%) subjects suffered from excess nutrition, namely overweight and obesity, also most of the subjects (69.2%) experienced weight gain during the COVID-19 pandemic. In this study, it was also found that before the pandemic period there were 50 (24.9%) subjects who consumed fast food 3x/week and during the pandemic there were 70 (34.8%) subjects who consumed fast food 3x/week. From this study it can be said that there is no significant relationship between fast food consumption habits and nutritional status (p = 0.580), with a prevalence value ratio of 0.849 meaning that students who eat fast food 3x/week have a 0.849 times greater risk of developing diabetes. the impact of obesity compared with students who eat fast food < 3x/week.Salah satu masalah kelebihan gizi yang terjadi pada anak dan remaja serta mendapatkan perhatian khusus di dunia kesehatan adalah obesitas. Beberapa faktor risiko yang menyebabkan meningkatnya prevalensi obesitas khususnya obesitas pada remaja adalah terjadinya perubahan pola hidup. Pandemi COVID-19 memperbesar risiko terjadinya obesitas pada anak dan remaja karena perubahan gaya hidup. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara konsumsi makanan cepat saji dengan kejadian overweight dan obesitas di masa pandemi COVID-19. Penelitian ini menggunakan desain penelitian berupa jenis analitik dengan pendekatan Cross-Sectional. Pengambilan subjek dilakukan dengan purposive non probability sampling dan didapatkan sebanyak 201 mahasiswa menjadi responden dalam penelitian ini. Penelitian ini dilakukan secara daring dengan memberikan kuesioner melalui google form. Analisis statistik menggunakan table 2x2 dengan uji chi-square dan didapatkan hasil mayoritas subjek berjenis kelamin perempuan dengan rata–rata usia 20,30 tahun. Pada penelitian ini didapatkan 98 (48,7%) subjek menderita gizi lebih yaitu overweight dan obesitas, juga sebagian besar subjek (69,2%) mengalami peningkatan berat badan selama pandemi COVID-19. Pada penelitian ini juga didapatkan sebelum masa pandemi terdapat 50 (24,9%) subjek yang mengonsumsi makanan cepat saji ? 3x/minggu dan selama masa pandemi sebanyak 70 (34,8%) subjek mengonsumsi makanan cepat saji ?3x/minggu. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kebiasaan konsumsi makanan cepat saji dengan status gizi (p = 0,580), dengan nilai prevalens ratio 0,849 berarti mahasiswa yang mengonsumsi makanan cepat saji ? 3x/minggu memiliki risiko 0,849 kali lebih besar untuk terkena obesitas dibandingkan dengan mahasiswa yang mengonsumsi makanan cepat saji < 3x/minggu
Pengaruh Edukatif Polusi (Puzzle Motorik Halus Sosial) Terhadap Motorik Halus Dan Personal Sosial Anak Usia 5-6 Tahun Di Tk Pertiwi Tajug
Terdapat keterlambatan perkembangan motorik halus dan personal sosial anak yang diberikan suatu permainan edukatif puzzle agar perkembangan anak sesuai dengan usianya. Mengetahui pengaruh bermain Polusi (Puzzle Motorik Halus Sosial) terhadap tingkat perkembangan motorik halus dan personal sosial anak usia 5-6 tahun. Desain penelitian menggunakan kuantitatif dengan metode pre-experimental design tipe one group pretest-postest. Populasi sebanyak 50 sampel, menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian sebelum dilakukan intervensi menunjukan nilai rata-rata tingkat motorik halus 11,24 dan personal sosial 9,04. Adanya peningkatan nilai rata-rata sesudah dilakukan intervensi dengan motorik halus 15,86 dan personal sosial 11,86. Ada pengaruh dari Polusi puzzle terhadap perkembangan motorik halus dan personal sosial anak usia 5-6 tahun
Tingkat Pengetahuan Pengunjung dalam Penggunaan Antibiotik Amoksisilin di Apotek Sehati Jaya
Background: Amoxicillin is an antibiotic used to treat various diseases related to bacterial infections, including tonsillitis, bronchitis, and ear infections. To induce the destruction of disease-causing bacteria, amoxicillin functions by preventing the production of bacterial cell walls. It is not possible to treat viral illnesses such as flu or mononucleosis with amoxicillin Objective: To determine the level of knowledge of visitors at the Apotek Sehati Jaya regarding the use of the antibiotic drug amoxicillin. Methodology: This research collects data through the use of a questionnaire, namely a survey approach. All patients who visited the Sehati Jaya Pharmacy for treatment were included in the study population. The samples used were only patients who received the antibiotic drug Amoxicillin. Results: 28 respondents from Sehati Jaya Pharmacy were asked about their knowledge in using the antibiotic amoxicillin. Of this number, 50% were in the good knowledge level group, 32% were in the sufficient category, and 18% were in the poor category. However, of the 10 questions that the author asked, there were several respondents who could not answer 2 to 3 questions, but it is considered that the respondents still have more knowledge about the antibiotic amoxicillin. Conclusion: The level of knowledge of respondents regarding the use of the antibiotic amoxicillin at the Apotek Sehati Jaya is included in the very good category.Latar Belakang: Amoksisilin adalah antibiotik yang digunakan untuk mengobati berbagai penyakit yang berhubungan dengan infeksi bakteri, termasuk radang amandel, bronkitis, dan infeksi telinga. Untuk menginduksi musnahnya bakteri penyebab penyakit, amoksisilin berfungsi dengan mencegah produksi dinding sel bakteri. Tidak mungkin mengobati penyakit akibat virus seperti flu atau mononukleosis dengan amoksisilin. Tujuan: Untuk mengetahui tingkat pengetahuan pengunjung yang ada di Apotek Sehati Jaya terhadap penggunaan obat antibiotik amoksisilin. Metodeologi: Penelitian ini mengumpulkan data melalui penggunaan kuesioner, yaitu pendekatan survei. Seluruh pasien yang berkunjung ke Apotek Sehati Jaya untuk berobat dimasukkan ke dalam populasi penelitian. Sampel yang digunakan hanya pasien yang mendapatkan obat antibiotik amoksisilin. Hasil: 28 responden Apotek Sehati Jaya ditanyai pengetahuannya dalam menggunakan antibiotik amoksisilin. Dari jumlah tersebut, 50% masuk dalam kelompok tingkat pengetahuan baik, 32% masuk dalam kategori cukup, dan 18% masuk dalam kategori buruk. Namun dari 10 pertanyaan yang penulis tanyakan, ada beberapa responden yang tidak bisa menjawab sebanyak 2 sampai 3 pertanyaan, tetapi hal tersebut dianggap bahwa responden masih memiliki pengetahuan lebih tentang antibiotik amoksisilin. Kesimpulan: Tingkat pengetahuan responden dalam penggunaan antibiotik amoksisilin di Apotek Sehati Jaya termasuk dalam kategori sangat baik
Kepatuhan Konsumsi Tablet Zat Besi (Fe) terhadap Hemoglobin Ibu Hamil Trimester III selama Tiga Bulan di Puskesmas Poasia dan Puskesmas Lepo-Lepo Kota Kendari
Latar belakang: Tablet zat besi (Fe) paling efektif untuk meningkatkan kadar hemoglobin dan dapat menurunkan prevalensi anemia sebesar 20-25% akibat kekurangan zat besi selama trimester III zat besi yang tidak mencukupi dapat ditularkan ke janin yang sedang berkembang. Ketidakpatuhan ibu hamil dalam mencukupi kebutuhan zat besi berpotensi terjadinya anemia, bayi lahir prematur dan kematian janin. Tantangan yang perlu dibenahi yaitu bagaimana menganjurkan ibu hamil untuk patuh konsumsi tablet besi (Fe) sesuai dengan anjuran bidan dan tenaga kesehatan lainnya. Tujuan penelitian: Untuk mengetahui kepatuhan konsumsi tablet zat besi (Fe) terhadap hemoglobin ibu hamil trimester III selama tiga bulan di Puskesmas Poasia dan Puskesmas Lepo-Lepo Kota Kendari. Metode: Penelitian ini menggunakan desain Quasi Experiment dengan rancangan non randomized control group pretest-posttest metode pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling besar sampel dalam penelitian ini berjumlah 140 yang terdiri dari 70 intervensi dan 70 kontrol, data dianalisis menggunakan uji Mann Whitney. Hasil: Penelitian menunjukkan terjadi peningkatan rerata skor hemoglobin pada kelompok intervensi yakni pretest 1,40 posttest 1,57. Hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,000 (p<0,05) yang menunjukkan ada perbedaan yang signifikan rerata skor hemoglobin. Nilai rerata skor pretest pada kelompok kontrol sebesar 1,07 dan posttest 1,67. Hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,000 (p<0,05) yang menunjukkan ada perbedaan yang signifikan rerata skor hemoglobin pada pretest dan posttest untuk kelompok kontrol. Hasil menunjukkan terjadi selisih rerata lebih tinggi kelompok intervensi dari pada kelompok kontrol. Kesimpulan:Terdapat perbedaan rerata skor peningkatan hemoglobin pada ibu hamil trimester III pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol
Factors Affecting Compliance with Fluid Restrictions in Patients with Chronic Kidney Failure
Pasien dengan gangguan ginjal kronik perlu mengubah gaya hidup mereka terutama berfokus pada asupan cairan. Ketidakpatuhan terhadap pembatasan asupan cairan yang disarankan menyebabkan memburuknya kondisi dengan cepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang mempengaruhi kepatuhan pembatasan asupan cairan pada pasien gagal ginjal kronis. Penelitian ini merupakan studi deskriptif korelasi dengan besar sampel sebanyak 65 orang yang menjalani hemodialisa di Rumah Sakit Islam Kota Semarang. Partisipan mengisi kuesioner yang diadaptasi dari kuesioner ESRD-AQ yang dianalisis dengan uji regresi linier sederhana. Hasil penelitian diperoleh bahwa responden yang tidak patuh dalam pembatasan asupan cairan sebanyak 63,1%. Pengetahuan (r=2,94, p-value=0,018) dan dukungan keluarga (r=3,15, p-value=0,01) berhubungan secara signifikan dengan kepatuhan pembatasan asupan cairan. Sedangkan umur, jenis kelamin, pendidikan, lama menjalani hemodialisa tidak terdapat hubungan dengan kepatuhan pembatasan asupan cairan. Pengetahuan dan dukungan keluarga merpakan faktor yang mempengaruhi kepatuhan pembatasan asupan cairan pada pasien gagal ginjal kronik, karena itu diperlukan peningkatan pengetahuan keluarga untuk membantu pembatasan kelebihan cairan pada pasien gangguan ginjal kronik.Patients with chronic kidney disease need to change their lifestyle, especially focusing on fluid intake. Non-compliance with recommended fluid intake restrictions leads to rapid deterioration of the condition. This study aims to analyze the factors that influence compliance with fluid intake restrictions in patients with chronic kidney failure. This research is a descriptive correlation study with a sample size of 65 people undergoing hemodialysis at Islamic Hospital Semarang City. Participants filled out a questionnaire adapted from the ESRD-AQ questionnaire which was analyzed by simple linear regression test. The results of the study showed that 63.1% of the respondents who did not comply with limiting fluid intake were 63.1%. Knowledge (r=2.94, p-value=0.018) and family support (r=3.15, p-value=0.01) are significantly related to compliance with fluid intake restrictions. Meanwhile, age, gender, education, and length of time undergoing hemodialysis had no relationship with adherence to fluid intake restrictions. Knowledge and family support are factors that influence compliance with fluid intake restrictions in patients with chronic kidney failure, therefore it is necessary to increase family knowledge to help limit excess fluids in patients with chronic kidney disease
Perbandingan Karakteristik Caspian Sea Yoghurt Sari Buah Markisa Kuning (P. Edulis Sims F. Flavicarpa Deg) Dengan Kajian Konsentrasi Starter Dan Lama Waktu Fermentasi
Yogurt merupakan salah satu makanan berbasis probiotik yang dibuat melalui proses fermentasi oleh bakteri asam laktat (BAL). Awalnya, yoghurt didefinisikan sebagai produk olahan susu fermentasi yang melibatkan peranan kultur bakteri dari jenis Steptococcus thermophilus dan Lactobacillus bulgaricus. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh penambahan starter dan lama fermentasi terhadap karakteristik sifat fisik, kimia, mikrobiologi dan organoleptik Caspian sea yogurt buah markisa kuning dan untuk mengetahui kombinasi perlakuan yang terbaik antara penambahan starter dan lama fermentasi untuk menghasilkan Caspian sea yoghurt buah markisa kuning dengan sifat fisiko kimia terbaik dan disukai konsumen. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial yang terdiri dari 2 faktor, yaitu konsentrasi stater (K) (3% ; 5% ; 7% ) dan lama fermentasi (F) (6 jam ; 8 jam ; 10 jam) yang masing-masing perlakuan diulang sebanyak dua kali. Hasil analisis menunjukkan bahwa penambahan ragi starter dan waktu inkubasi berpengaruh nyata terhadap kadar air, kadar lemak dan total padatan. Kandungan lemak dalam Caspian sea yoghurt berbeda secara signifikan saat pemanasan dan waktu inkubasi ditambahkan, karena butiran susu telah diubah menjadi makanan bagi bakteri untuk menjadi produk yogurt. Kadar protein, kadar abu dan kadar karbohidrat hanya dipengaruhi secara nyata oleh perlakuan penambahan starter. Interaksi antara kedua faktor perlakuan hanya berbeda pada kadar air dan padatan total.Yogurt is a probiotic-based food made through a fermentation process by lactic acid bacteria (LAB). Initially, yogurt was defined as a fermented milk product that involved the role of bacterial cultures of the types Streptococcus thermophilus and Lactobacillus bulgaricus. This study aims to study the effect of adding starter and fermentation time on the physical, chemical, microbiological, and organoleptic characteristics of Caspian sea yellow passion fruit yogurt and to determine the best combination of treatments between adding starter and fermentation time to produce Caspian sea yellow passion fruit yogurt with the best physicochemical and preferred by consumers. This study used a completely randomized design (CRD) with a factorial pattern consisting of 2 factors, namely starter concentration (K) (3%; 5%; 7%) and fermentation time (F) (6 hours; 8 hours; 10 hours) which each treatment was repeated twice. The results of the analysis showed that the addition of starter yeast and incubation time had a significant effect on the water content, fat content, and total solids. The fat content in Caspian sea yogurt differs significantly when heating and incubation time are added because the milk grains have been converted into food for the bacteria to become the yogurt product. Protein content, ash content, and carbohydrate content were only significantly affected by the addition of the starter treatment. The interaction between the two treatment factors differed only in moisture content and total solids
The Relationship of Carbohydrate Intake and Physical Activity with Fasting Blood Glucose Levels of Type 2 Diabetes Mellitus Patients
Diabetes Melitus (DM) merupakan kumpulan penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemi akibat kerusakan sekresi insulin, kinerja insulin, atau keduanya. Penyakit dibetes melitus sangat erat kaitannya dengan kadar glukosa darah terutama pada Diabetes melitus tipe 2, Diabetes melitus tipe 2 adalah kondisi saat gula darah dalam tubuh tidak terkontrol akibat gangguan sensitivitas sel pankreas untuk menghasilkan hormon insulin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan asupan karbohidrat dan aktifitas fisik dengan kadar glukosa darah pada penderita diabetes melitus tipe 2. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional, respoden penelitian ini adalah pasien diabetes melitus tipe 2 di Puakesmas Puuwati, Kota Kendari, yang didapatkan jumlah respoden kasus sebanyak 31. Teknik pengambilan respoden menggunakan yaitu purposive sampling, sedangkan uji statistik yang di gunakan yaitu uji Chi-square. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sebagian besar 61,3% asupan karbohidrat respoden berada pada kategori kurang. 54,8% aktivitas fisik respoden berada pada kategori cukup dan 58,1% status gizi respoden berada pada kategori normal. Tidak terdapat hubungan antara asupan karbohidrat ( p = 0,595), aktivitas fisik (p = 0,406)dengan kadar glukosa darah pada penderita diabetes mellitus tipe 2 di Puskesmas Puuwatu kota kendari.Diabetes Mellitus (DM) is a collection of metabolic diseases characterized by hyperglycemia due to damage to insulin secretion, insulin performance, or both. Dibetes mellitus disease is closely related to blood glucose levels, especially in type 2 Diabetes mellitus, Type 2 Diabetes mellitus is a condition when blood sugar in the body is not controlled due to impaired sensitivity of pancreatic cells to produce the hormone insulin. This study aims to determine the relationship between carbohydrate intake and physical activity with blood glucose levels in patients with type 2 diabetes mellitus. This study is an analytical descriptive study with a cross sectional approach, the response of this study was type 2 diabetes mellitus patients in Puakesmas Puuwati, Kendari City, which obtained a total of 31 case responses. The response retrieval technique uses purposive sampling, while the statistical test used is the Chi-square test. The results of this study showed that most of the 61.3% of respoden carbohydrate intake was in the deficient category. 54.8% of the physical activity of the respondents was in the sufficient category and 58.1% of the nutritional status of the respondents was in the normal category. There was no relationship between carbohydrate intake (p = 0.595), physical activity (p = 0.406) with blood glucose levels in patients with type 2 diabetes mellitus at Puuwatu Health Center in Kendari city
Faktor Keberhasilan Penanggulangan Tuberculosis Dengan Strategi Dots (Directly Observed Treatment Shortcourse)
This research article discusses the factors contributing to the success of tuberculosis (TB) control through the implementation of the DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) strategy. The author emphasizes the significance of patient compliance, motivation, the availability of anti-TB medications, and medication supervision in achieving favorable TB treatment outcomes. The study concludes that the DOTS strategy proves effective in TB control, with patient compliance, motivation, drug availability, and medication supervision playing pivotal roles in treatment success. Furthermore, the article delves into the treatment outcomes of tuberculosis patients in Jeddah, Saudi Arabia, by comparing a community mobile outreach directly observed treatment approach to a conventional facility-based approach. The article also references other studies examining tuberculosis treatment outcomes in various regions. In this research, it is evident that the DOTS strategy involving direct patient supervision has a positive impact on enhancing patient compliance and TB treatment results. The approach through community mobile services has also demonstrated its effectiveness in reaching out to challenging-to-access populations and improving the success rates of TB treatment. These findings offer critical insights for healthcare practitioners when designing effective TB control strategies. Factors such as patient compliance, motivation, drug availability, and medication supervision should be duly considered in efforts to enhance TB treatment outcomes. Furthermore, the community mobile service approach can serve as a viable alternative for reaching underserved populations and improving TB treatment success in diverse regions.Artikel penelitian ini membahas faktor-faktor yang berkontribusi terhadap keberhasilan pengendalian tuberkulosis (TB) menggunakan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse). Penulis menyoroti pentingnya kepatuhan, motivasi, ketersediaan obat anti-TB, dan keberadaan pengawasan obat dalam mencapai keberhasilan pengobatan TB. Studi ini menyimpulkan bahwa strategi DOTS efektif dalam pengendalian TB, dan faktor-faktor seperti kepatuhan pasien, motivasi, ketersediaan obat, dan pengawasan obat memainkan peran penting dalam keberhasilan pengobatan. Selain itu, artikel ini juga membahas hasil pengobatan pasien tuberkulosis di Jeddah, Arab Saudi, dengan membandingkan pendekatan pengawasan langsung melalui layanan komunitas mobile dengan pendekatan standar berbasis fasilitas. Artikel ini juga mencakup referensi terhadap penelitian lain tentang hasil pengobatan tuberkulosis di berbagai wilayah.Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa strategi DOTS yang melibatkan pengawasan langsung terhadap pasien memiliki dampak positif dalam meningkatkan kepatuhan pasien dan hasil pengobatan TB. Pendekatan melalui layanan komunitas mobile juga terbukti efektif dalam mencapai pasien yang sulit dijangkau dan meningkatkan tingkat keberhasilan pengobatan. Hasil penelitian ini memberikan wawasan penting bagi para praktisi kesehatan dalam merancang strategi pengendalian TB yang efektif. Faktor-faktor seperti kepatuhan pasien, motivasi, ketersediaan obat, dan pengawasan obat harus diperhatikan dalam upaya meningkatkan hasil pengobatan TB. Selain itu, pendekatan melalui layanan komunitas mobile dapat menjadi alternatif yang efektif dalam mencapai populasi yang sulit dijangkau dan meningkatkan keberhasilan pengobatan TB di berbagai wilayah