Health Information : Jurnal Penelitian
Not a member yet
657 research outputs found
Sort by
Analisis Tahap Perkembangan Karakteristik pada Anak Usia Pendidikan Dasar
Tujuan pendidikan adalah untuk menciptakan lingkungan di mana individu dapat mencapai potensi penuh mereka, memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai, dan sikap yang diperlukan untuk menjadi anggota masyarakat yang efektif. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis aspek pada tumbuh kembang anak sekolah dasar. Adapun jenis metode yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Adapun pengumpulan data diperoleh dengan cara interview. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas 6 di SDN Desa Sei Merah. Hasil penelitian dianalisis menggunakan beberapa aspek dalam teori perkembangan anak sekolah dasar. Dari hasil penelitian deskriptif kualitatif ini mendeskripsikan karakteristik perkembangan anak pada tahun pertama sekolah dasar yaitu anak usia prasekolah. Usia muda ini merupakan masa singkat dalam perkembangan anak, namun merupakan masa yang sangat penting dalam kehidupan seorang anak. Oleh karena itu, pada masa kini perlu dimaksimalkan potensi yang dimiliki anak agar dapat berkembang secara optimal. Ciri-ciri perkembangan anak kelas 1, 2, dan 3SD pada umumnya sudah matang secara fisik, anak sudah menguasai tubuhnya dan kemampuannya menjaga keseimbangan. Untuk mengembangkan kecerdasan, anak tahun pertama sekolah dasar dibedakan dengan kemampuan menyusun, mengelompokkan benda, minat terhadap angka dan huruf, memperkaya kosakata, gemar berbicara, memahami kausalitas dan kemampuan mengembangkan pemahaman ruang dan waktu. Beberapa aspek perkembangan sifat tersebut mungkin dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan keluarga, lingkungan bermain. Oleh karena itu, memahami karakteristik anak sanggatlah penting agar guru dan orang tua dapat mendidik dan membimbing anak ke arah yang lebih baik
Gambaran Penyimpanan Obat High Alert di Instalasi Rawat Jalan di RSUD Majalaya Periode Juni 2023
Obat High Alert adalah obat yang harus diwaspadai karena sering menyebabkan terjadi kesalahan serius (Sentinel Event) dan obat yang berisiko tinggi menyebabkan reaksi obat yang tidak di inginkan yang dapat membahayakan keselamatan pasien. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui kesesuaian penyimpanan obat High Alert di Instalasi rawat jalan RSUD Majalaya. Penelitian ini merupakan jenis penelitian lapangan yang bersifat deskriptif kualitatif yang menggunakan metode observasional / cheklist sesuai dengan ketentuan Permenkes No. 72 Tahun 2016 tentang standar pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit. Dari hasil penelitian didapat bahwa penyimpanan obat High Alert Kategori LASA/NORUM di Instalasi rawat jalan RSUD Majalaya didapat hasil 100% kesesuaian dengan SOP. Penyimpanan Kategori LASA/NORUM sudah disimpan terpisah, sediaan di berikan jarak minimal 2 keranjang obat. Pelabelan obat sesuai namun masih ada petugas yang masih lalai dalam penempelan label obat High Alert. Suhu penyimpanan sudah sesuai dengan SOP Rumah sakit Umum Daerah Majalaya, yaitu disimpan dengan suhu kulkas 2-8?C dan suhu ruangan 15-25?C. Kesimpulan dari penelitian ini adalah tempat penyimpanan sudah 100% sesuai dengan SOP yaitu disimpan di lemari khusus 2 pintu dan 2 kunci yang berbeda. Pelabelan obat High Alert belum sesuai dengan SOP yaitu petugas masih ada yang lalai dengan kesesuaian 79,45%.High Alert drugs are drugs that must be watched out for because they often cause serious errors (Sentinel Events) and drugs that have a high risk of causing unwanted drug reactions that can endanger patient safety. Therefore, it is necessary to conduct research to determine the suitability of storing High Alert drugs in the outpatient installation at Majalaya Hospital. This research is a type of field research that is descriptive qualitative using observational methods / checklists in accordance with the provisions of Permenkes No. 72 of 2016 concerning pharmaceutical service standards in hospitals. From the results of the study it was found that the storage of High Alert Category LASA/NORUM drugs in the outpatient installation at Majalaya Hospital obtained results of 100% conformity with the SOP. Storage Category LASA/NORUM has been stored separately, preparations are spaced at least 2 drug baskets. Drug labeling is appropriate but there are still officers who are still negligent in affixing High Alert drug labels. The storage temperature is in accordance with the SOP of the Majalaya Regional General Hospital, which is stored at a refrigerator temperature of 2-8?C and room temperature of 15-25?C. The conclusion of this study is that the storage area is 100% in accordance with the SOP, which is stored in a special cupboard with 2 doors and 2 different keys. The labeling of High Alert drugs is not in accordance with the SOP, namely there are officers who are negligent with a conformity of 79.45%
Faktor Risiko Kejadian Karies Gigi pada Anak Sekolah di SDN 16 Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo
Karies gigi merupakan salah satu masalah kesehatan gigi yang umum terjadi pada anak-anak di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Karies gigi pada anak-anak dapat menyebabkan rasa nyeri, gangguan makan, serta masalah kesehatan yang lebih serius jika tidak ditangani dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berisiko terkait dengan kejadian Karies Gigi pada anak-anak di SDN 16 Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo. Jenis penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari siswa-siswa kelas IV, V, dan VI. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dan uji regresi logistik biner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kelamin (p=0,997) tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian karies gigi. Namun, cara menyikat gigi (p=0,000), frekuensi menyikat gigi (p=0,006), dan kebiasaan makan makanan kariogenik (p=0,004) adalah faktor-faktor risikoyang memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian Karies Gigi. Nilai odds ratio (OR) > 1 dan p value < 0,05 mengindikasikan bahwa frekuensi menyikat gigi merupakan faktor risiko yang paling kuat terkait dengan kejadian karies gigi pada anak-anak.Dental caries is one of the common dental health problems in childrenaround the world, including in Indonesia. Dental caries in children cancause pain, eating disorders, and more serious health problems if nottreated properly. This study aims to analyze risk factors related to the incidence of Dental Caries in children at SDN 16 Limboto Barat, Gorontalo Regency. This type of research is an analytical observational study with a cross-sectional approach. The research sample consisted ofstudents of grades IV, V, and VI. Data analysis was performed usingchi-square test and binary logistic regression test. The results showedthat sex (p = 0.997) did not have a significant relationship with theincidence of dental caries. However, brushing (p = 0.000), brushing frequency (p = 0.006), and eating habits of karyogenic foods (p = 0.004) are risk factors that have a significant relationship with the incidence of dental caries. An odds ratio (OR) of > 1 and a p value of <0.05 indicate that brushing frequency is the strongest risk factorassociated with dental caries in children
Determinants of Complete Basic Immunization in Infants in Indonesia : A Literature Review
Imunisasi dasar merupakan hak bagi setiap anak. Imunisasi merupakan salah satu upaya kesehatan masyarakat yang dapat melindungi bayi dari berbagai macam penyakit. Peranan imunisasi dalam menyelamatkan masyarakat dunia dari kesakitan, kecacatan dan kematian akibat dari penyakit yang dapat di cegah dengan imunisasi (PD3I). Tujuan telaah pustaka ini untuk mengetahui determinan apa saja yang mempengaruhi Imunisasi Dasar Lengkap Pada Bayi. Metode dalam kajian ini menggunakan metode literature review. Kriteria yang digunakan artikel dalam review ini adalah: mereka harus diterbitkan antara tahun 2019 dan 2023; mereka harus dapat diakses secara utuh (full text); mereka harus memiliki desain penelitian deskriptif, korelatif, atau analitik dengan pendekatan cross-sectional; dan spesifik sampel penelitian adalah ibu yang memiliki bayi. Artikel yang di telaah sebanyak 15 artikel. Hasil dari kajian ini di temukan banyak faktor yang dapat mempengaruhi kelengkapan imuniasai pada bayi. Faktor tersebut antara lain : faktor ibu (karakeristik ibu, pengetahuan ibu, self awareness, motivasi ibu, dan persepsi ibu) termasuk juga faktor status ekonomi, pendapatan ibu, status pekerjaan serta dukungan keluarga dan suami, ketersediaan vaksin, persediaan sarana kesehatan, dan jangkauan layanan imunisasi. Saran dalam kajian ini yaitu untuk mencapai kelengkapan imunisasi dasar pada bayi diperlukan kolaborasi yang baik antara keluarga dan orangtua bayi serta peran dari petugas kesehatan.Basic immunization is a right for every child. Immunization is one of the public health efforts that can protect infants from various diseases. The role of immunization in saving the world community from illness, disability and death due to diseases that can be prevented by immunization (PD3I). The purpose of this literature review is to determine what determinants affect Complete Basic Immunization in Infants. The method in this study uses the literature review method. The criteria that the articles used in this review are: they must be published between 2019 and 2023; they must be fully accessible (full text); they must have a descriptive, correlative, or analytical research design with a cross-sectional approach; And the specific sample of the study was mothers who had babies. The articles reviewed were 15 articles. The results of this study found many factors that can affect the completeness of immunity in infants. These factors include: maternal factors (maternal characteristics, maternal knowledge, self-awareness, maternal motivation, and maternal perception) including factors such as economic status, maternal income, employment status and family and husband support, vaccine availability, health facility supplies, and immunization service coverage. The suggestion in this study is that to achieve the completeness of basic immunization in infants requires good collaboration between families and parents of infants and the role of health workers
Pola Makan Dan Kepatuhan Tablet Tambah Darah Pada Anemia Ibu Hamil : Literature Review
Masalah anemia di Indonesia masih termasuk masalah kesehatan di dunia, tak terkecuali di Indonesia terdapat tiga penyebab utama kematian ibu salah satunya yakni perdarahan yang penyebab tidak langsungnya terjadi akibat anemia yang dialami selama kehamilan. Menurut Riskesdas terdapat peningkatan pravalensi anemia dari tahun 2013 37.1 % dan pada tahun 2018 sebanyak 48.9%. Artikel ini bertujuan untuk memberikan gambaran hubungan pola makan dan kepatuhan tablet tambah darah pada anemia ibu hamil. Metode yang digunakan adalah literature review yang mengkaji artikel 5 tahun terakhir dari tahun 2019-2023. Penelusuran dengan kata kunci yaitu pola makan, kepatuhan tablet tambah darah, dan anemia ibu hamil menghasilkan 265 artikel. Beberapa artikel didiskualifikasi karena tidak sesuai dan teks tidak lengkap. Sehingga ada 7 artikel yang diikutsertakan dalam proses pembuatan artikel. Analisi menunjukkan adanya hubungan pola makan dan kepatuhan tablet tambah darah terhadap anemia ibu hamil.The problem of anemia in Indonesia is still a health problem in the world, including in Indonesia there are three main causes of maternal death, one of which is bleeding, which is caused indirectly due to anemia experienced during pregnancy. According to Riskesdas, there was an increase in the prevalence of anemia from 37.1% in 2013 and 48.9% in 2018. This article aims to provide an overview of the relationship between diet and blood supplement adherence in pregnant women anemia. The method used is a literature review which examines the last 5 years of articles from 2019-2023. A search with keywords namely diet, adherence to iron tablets, and anemia of pregnant women resulted in 265 articles. Several articles were disqualified because they were inappropriate and the text was incomplete. So that there are 7 articles included in the article creation process. The analysis shows that there is a relationship between diet and blood supplement adherence to anemia in pregnant women
Efektivitas Ekstrak Daun Sirih Dan Daun Jambu Biji Dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus Aureus Penyebab Abses Periodontal
Karies gigi dan penyakit periodontal dikenal sebagai masalah kesehatan mulut teratas di negara berkembang dan maju yang mempengaruhi sekitar 20-50% penduduk dunia. Staphylococcus aureus menjadi suatu bakteri yang menyebabkan abses periodontal. Abses periodontal ialah penyakit infeksi yang mengakibatkan kerusakan di dalam jaringan pendukung gigi. Daun sirih di dalamnya terkandung komponen aktif misalnya minyak atsiri dan zat yang bersifat antimikroba seperti eugenol, kavikol, kavibetol, tannin, karvakol, kariofilen, hidroksikavikol dan asam askorbat. Daun jambu biji memiliki beragam senyawa aktif, antara lain tanin, triterpenoid, flavonoid, dan saponin sehingga daun jambu biji berkhasiat misalnya antidiare, antibakteri, efek kuratif, dan berpengaruh terhadap penyakit periodontal. Kedua daun tersebut terbukti mempunyai efek antibakteri. Tujuan yang hendak diwujudkan melalui riset ini adalah guna memperoleh suatu informasi terkait efektivitas yang terdapat pada ekstrak daun sirih dan daun jambu biji untuk mengakibatkan terhambatnya bakteri Staphylococcus aureus penyebab abses dalam bertumbuh di periodontal pada manusia. Riset ini ialah quasi eksperiment dimana menggunakan rancangan posttest only with control group design. Sampel yang dipergunakan ialah biakan bakteri Staphylococcus aureus. Pengujian daya hambat dengan teknik difusi disk. Ekstrak daun sirih dan daun jambu biji dimana pembuatannya menerapkan teknik maserasi menggunakan konsentrasi 25%, 50%, 75%, dan 100% dan diulangi sejumlah empat kali. Hasil yang diperoleh pada uji antibakteri, konsentrasi 100% merupakan konsentrasi daya hambat optimal pada daun sirih dan daun jambu biji. Dan daun jambu biji mempunyai daya hambat yang melebihi daun sirih. Hasil yang diperoleh pada uji One Way Anova didapatkan nilai p: <0.001 (p<0.05) bagi ekstrak daun sirih dan p: <0.001 (p<0.05) bagi ekstrak daun jambu biji. Persoalan ini memperlihatkan dijumpainya perbedaan luas zona hambat yang signifikan antara konsentrasi 25%, konsentrasi 50%, konsentrasi 75%, konsentrasi 100%, kontrol positif, dan kontrol negatif pada ekstrak daun sirih dan ekstrak daun jambu biji. Kesimpulannya, ekstrak daun sirih dan daun jambu biji efektif dalam memberikan hambatan terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus.Dental caries and periodontal disease are recognized as the top oral health problems in developing and developed countries that affect about 20-50% of the world's population. Staphylococcus aureus is one of the bacteria that causes periodontal abscess. Periodontal abscess is an infectious disease that damages the supporting tissues of the teeth. Betel leaf contains active components such as essential oils and antimicrobial substances such as eugenol, kavikol, cavibetol, tannin, karvakol, kariofilen, hydroxykavikol and ascorbic acid. Guava leaves have a variety of active compounds, including tannins, triterpenoids, flavonoids, and saponins so that guava leaves have properties such as antidiarrheal, antibacterial, curative effect, and influence on periodontal disease. Both leaves have been shown to have antibacterial effects. The purpose of this study was to determine the effectiveness of betel leaf and guava leaf extract in inhibiting the growth of Staphylococcus aureus causes periodontal abscess in humans. This research is a quasi-experimental design with posttest only with control group design. The sample used was Staphylococcus aureus. Inhibition test using disk diffusion technique. Extracts of betel leaf and guava leaf were made by maceration technique with concentrations of 25%, 50%, 75%, and 100% and were repeated four times. The results of the antibacterial test showed that 100% concentration was the optimal concentration of inhibitory power on betel leaf and guava leaf. And guava leaves have a greater inhibitory power than betel leaves.test results One Way Anova obtained p value: <0.001 (p<0.05) for betel leaf extract and p: <0.001 (p<0.05) for guava leaf extract. This shows that there is a significant difference in the area of ??the inhibition zone between the concentration of 25%, 50% concentration, 75% concentration, 100% concentration, positive control, and negative control on betel leaf extract and guava leaf extract. In conclusion, betel leaf and guava leaf extracts were effective in inhibiting the growth of Staphylococcus aureus
Pengaruh Pemberian Beras Analog Umbi Gembili (Dioscorea Esculenta) terhadap Kadar Kolesterol Total pada Tikus Diabetes Melitus Tipe 2
Background: Dyslipidemia is a lipid metabolism disorder characterized by an increase or decrease in the lipid fraction in plasma. The increase in cholesterol levels is influenced by the diet consumed. Gembili tuber analog rice contains 14.77% soluble fiber which has the potential to reduce cholesterol levels in type 2 diabetes mellitus mice. Objective: To determine the effect of administering tuber gembili rice analogues on cholesterol levels in type 2 diabetes mellitus mice. Research Method: This type of research is true experimental with a pre test-post test control group design. Samples of male Albino Wistar rats with a total sample of 28 were divided into four groups. Gembili tuber analog rice was given for 14 days. Cholesterol level examination uses the enzymatic colorimetric method (CHOD PAP). The effect of the dose of gembili rice analogue on cholesterol levels using the one way anova test and the difference between the gembili rice analogue diet on cholesterol levels using the paired t test and Kruskal Wallis. Results: There was an effect of the gembili tuber rice analogue diet on reducing total cholesterol levels with (p<0.001) the group given gembili tuber analog rice 6.17 g/rat/day was able to reduce cholesterol levels by 80.11 mg/dL lower than those given analog rice 4.16 g/rat/day for BAG 1 group experienced a decrease in cholesterol levels of 51.57 mg/dL. Conclusion: There is an effect of giving gembili tuber analog rice on cholesterol levels which decrease by 26-40%.Latar Belakang : Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid ditandai dengan peningkatan atau penurunan fraksi lipid dalam plasma. Kenaikan kadar kolesterol dipengaruhi diet makanan yang dikonsumsi. Beras analog umbi gembili memiliki kandungan serat larut 14,77% yang berpotensi menurunkan kadar kolesterol pada tikus diabetes mellitus tipe 2. Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh pemberian beras analog umbi gembili terhadap kadar kolesterol pada tikus diabetes mellitus tipe 2. Metode Penelitian : Jenis penelitian ini adalah true experimental dengan pre test-post test control grup design. Sampel tikus jantan Albino Wistar dengan total sampel 28 ekor dibagi empat kelompok. Pemberian beras analog umbi gembili dilakukan selama 14 hari. Pemeriksaan kadar kolesterol menggunakan metode kolorimetrik enzimatik (CHOD PAP). Pengaruh dosis beras analog umbi gembili terhadap kadar kolesterol menggunakan uji one way anova dan perbedaan diet beras analog umbi gembili terhadap kadar kolesterol menggunakan uji paired t test dan kruskal wallis. Hasil : Terdapat pengaruh diet beras analog umbi gembili terhadap penurunan kadar kolesterol total dengan (p<0,001) kelompok dengan pemberian beras analog umbi gembili 6,17 g/tikus/hari dapat menurunkan kadar kolesterol lebih rendah sebesar 80,11 mg/dL daripada pemberian beras analog 4,16 g/tikus/hari sebesar Pada kelompok BAG 1 mengalami penurunan kadar kolesterol sebesar 51,57 mg/dL. Kesimpulan : Ada pengaruh pemberian beras analog umbi gembili terhadap kadar kolesterol yang turun 26-40
Faktor Risiko Kejadian Diare pada Balita: Studi Observasional di Puskesmas Momunu, Kabupaten Buol
The purpose of this study was to analyze risk factors for diarrhea in toddlers based on general variables of children, gender, nutritional status, immunization status, maternal age, education, knowledge, mother's handwashing habits, income, availability of clean water facilities, utilization of clean water facilities, availability of latrines and utilization of latrines. The sample in this study consisted of 160 respondents. The research design used is a survey method with a cross sectional design. The results of the study were a relationship between nutritional status on the incidence of diarrhea in toddlers (p-value = 0.000), immunization status (p-value = 0.000), hand washing behavior (p-value = 0.038), income (p-value = 0.025), availability of clean water facilities (p-value = 0.044), utilization of clean water facilities (p-value = 0.006), availability of latrines (p-value = 0.000). Therefore, it is advisable to make policy rules for handling infectious diseases, especially diarrhea, by involving all stakeholders to be able to synergize comprehensively in Buol Regency.Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor risiko kejadian diare pada balita berdasarkan variable umu anak,jenis kelamin,status gizi,status imunisasi,umur ibu, pendidikan, pengetahuan,kebiasaan cuci tangan ibu,pendapatan,ketersediaan sarana air bersih,pemanfaatan sarana air bersih,ketersediaan jamban dan pemanfaatan jamban. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 160 responden. Rancangan penelitian yang digunakan adalah metode survey dengan desain cross sectional. Hasil penelitian adalah terdapat hubungan antara status gizi terhadap kejadian diare pada balita (p-value = 0.000), status imunisasi (p-value = 0.000), perilaku cuci tangan (p-value = 0.038), Pendapatan (p-value = 0.025), ketersediaan sarana air bersih (p-value = 0.044),pemanfaatan sarana air bersih (p-value = 0.006), ketersediaan jamban(p-value = 0.000).pemanfaatan jamban(p-value = 0.044) Kesimpulan dari penelitian ini adalah jamban memiliki risiko besar terhadap kejadian diare. Oleh karena itu disarankan untuk membuat aturan kebijakan penanganan penyakit menular khususnya diare dengan melibatkan seluruh stakeholder untuk dapat bersinergi secara komprehensip di Kabupaten Buol
Gambaran Efek Samping Obat pada Pasien Antihipertensi Poli Klinik di Salah Satu Rumah Sakit Cimareme
Hypertension is a condition of increasing systolic blood pressure greater than 140 mmHg and/or diastolic blood pressure greater than 90 mmHg. This study aims to describe the side effects of using antihypertensive drugs at Cimareme Hospital for the period April 1-30 2023. The research method is a quantitative descriptive method. The data collection technique in completing this Final Project uses a basic data questionnaire with a research sample of 19 respondents and the results of the data obtained will be presented in the form of percentages, tables and diagrams. The results of this study based on gender, age and occupation were the most common patients, namely male sex as many as 13 respondents (68.5%), for adults (37-60 years) 13 respondents (68.5%), and work as a private 10 respondents (52.6%). The most commonly used drugs were Amlodipine 10 mg by 10 respondents (52.7%), furosemide 40 mg by 5 respondents (26.3%), and amlodipine 5 mg by 4 respondents (21%). The most common side effects of hypertensive patients are urinating every night, drowsiness and pain in the ankles. The results of this study showed that the most patients who experienced drug side effects, namely Amlodipine 10 mg, were male, 13 respondents.Hipertensi merupakan keadaan meningkatnya tekanan darah sistolik lebih besar dari 140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik lebih besar dari 90 mmHg. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran efek samping penggunaan obat antihipertensi pada pasien hipertensi di salah satu Rumah Sakit Cimareme Periode 01-30 April 2023. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deksriptif kuantitatif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penyelesaian Tugas Akhir ini menggunakan kuesioner data pokok dengan sampel penelitian sebanyak 19 responden dan hasil data yang diperoleh akan disajikan dalam bentuk presentase, tabel dan diagram. Hasil penelitian ini berdasarkan jenis kelamin, usia dan pekerjaan adalah pasien penderita yang paling banyak yaitu jenis kelamin laki-laki sebanyak 13 responden (68,5%), untuk usia dewasa (37-60 tahun) 13 responden (68,5%), dan pekerjaan sebagai Swasta 10 responden (52,6%). Obat yang paling sering digunakan adalah Amlodipine 10mg sebanyak 10 responden (52,7%), sedangkan obat furosemide 40mg sebanyak 5 responden (26,3%), dan amlodipine 5mg sebanyak 4 responden (21%). Efek samping yang paling banyak dialami oleh pasien penderita hipertensi yaitu buang air kecil tiap malam, mengantuk dan sakit pada pergelangan kaki. Dari hasil penelitian ini didapat pasien terbanyak yang mengalami efek samping obat yaitu Amlodipine 10 mg dengan jenis kelamin laki-laki 13 responden
Pengayaan Pengetahuan dan Sikap Kader Kesehatan Masyarakat melalui Inovasi Program Pendidikan Pencegahan Stunting
The problem of stunting in Indonesia requires great attention by looking at the high prevalence of stunting. This study aims to improve the knowledge and attitudes of public health cadres accompanying mothers and children. The study was conducted with a pseudo-experimental method of one group pre-post test on the population of cadres in the Soropia Health Center Working Area, the number of cadres was 30 people taken with total sampling technique. Data collection was conducted through education to cadres with a focus on maternal health services, nutrition of pregnant women, breastfeeding mothers, and toddlers, and anthropometric measurement of toddlers. Cadres were given a handbook module during the education period. A total of four meetings with material provision for one month, and assistance again in the second month. The results of the study on the characteristics of knowledge and attitudes increased before and after the study, and the difference in total questionnaire scores was significant (p = 0.000). There are differences before and after the education program in the knowledge and attitudes of cadres. The stunting prevention education program was provided using a handbook module. To improve the motivation and attitude of cadres, it is necessary to conduct regular knowledge enrichment.Masalah stunting di Indonesia membutuhkan perhatian yang besar dengan melihat prevalensi Stunting yang masih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap kader kesehatan masyarakat pendamping ibu dan anak. Penelitian dilaksanakan dengan metode eksperimen semu one group pre-post test pada populasi kader di Wilayah Kerja Puskesmas Soropia, jumlah kader sebanyak 30 orang yang diambil dengan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui pendidikan kepada kader dengan fokus materi layanan kesehatan ibu hamil, gizi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, dan pengukuran antropomenteri balita. Kader diberikan modul pegangan selama masa pendidikan. Total empat kali pertemuan dengan pemberian materi selama satu bulan, dan pendampingan kembali pada bulan ke dua. Hasil penelitian pada karakteristik pengetahuan dan sikap mengalami peningkatan sebelum dan setelah penelitian, dan perbedaan total nilai kuesioner yang signifikan (p = 0,000). Terdapat perbedaan pada sebelum dan sesudah program pendidikan terhadap pengetahuan dan sikap kader. Program pendidikan pencegahan stunting diberikan dengan menggunakan modul pegangan. Sebagai upaya meningkatkan motivasi dan sikap kader, perlu dilakukan pengayaan pengetahuan secara berkala