Health Information : Jurnal Penelitian
Not a member yet
657 research outputs found
Sort by
Analisis Kadar Serat Pangan dan Lemak pada Cookies dengan Substitusi Tepung Biji Nangka
Latar Belakang: Tepung biji nangka mengandung serat pangan yang tinggi yaitu 9,87% dibandingkan dengan tepung terigu sebanyak 2,4%, serat pangan bermanfaat untuk memperlambat pengosongan lambung, dan meningkatkan gerakan peristaltik lambung sehingga dapat menimbulkan rasa kenyang lebih lama. Sedangkan lemak pada tepung biji nangka lebih rendah yaitu 1,34% dibanding tepung terigu sebanyak 1,67% sehingga bermanfaat untuk digunakan sebagai camilan diet. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi tepung biji nangka terhadap kadar serat pangan dan lemak pada cookies biji nangka. Metode Penelitian: Eksperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 2x pengulangan empat perlakuan substitusi tepung biji nangka 0%, 10%, 20%, 30% . Sampel diperiksa kadar serat menggunakan metode OAOC dan kadar lemak menggunakan metode soxhlet. Data yang telah terkumpul di uji statistik menggunakan One Way Anova dan dilanjutkan dengan uji Post Hoc Tukey. Hasil: Kadar serat pangan paling tinggi pada cookies substitusi tepung biji nangka 30% sebesar 8,8% dan kadar serat pangan yang paling rendah adalah 0% sebesar 5,88%. sedangkan kadar lemak paling tinggi pada cookies substitusi tepung biji nangka yaitu 30% sebesar 21,68% dan kandungan kadar lemak cookies substitusi tepung biji nangka yang paling rendah adalah 0% sebesar 8,11%. Kesimpulan: Tidak ada pengaruh yang signifikan substitusi tepung biji nangka terhadap kadar serat pangan dan lemak.Introduction: Jackfruit seed flour contains a significantly higher percentage of dietary fiber than wheat flour, with 9.87% compared to wheat flour's 2.4%. Dietary fiber is useful slowing down gastric emptying, and altering the stomach's peristaltic movement, which can lead to a longer-lasting feeling of fullness. Additionally, jackfruit seed flour has a lower fat content, with only 1.34% compared to wheat flour's 1.67%, making it an ideal choice for those looking for a healthy diet snack. Objective: This study aimed to determine the effect of jackfruit seed flour substitution on the levels of dietary fiber and fat in jackfruit seed cookies. Research Method: The research was conducted using an experimental method with a completely randomized design (CRD) with two repetitions of four substitution treatments seed flour substitution treatments of - 0%, 10%, 20%, 30% - Sample were checked with a a fiber test using the OAOC method and fat test using the Soxhlet method. The collected data was tested statistically using One Way Anova and continued with the Post Hoc Tukey test. Results: The cookies made with 30% jackfruit seed flour had the highest dietary fiber content at 8.8%, while some cookies had no dietary fiber content at all, with the lowest being 0% at 5.88%. The cookies substituted with jackfruit seed flour had the highest fat content, reaching 30% and 21.68%, whereas the fiber content was the lowest at 0% and 8.11%, respectively. Conclusion: Based on the results, it can be concluded that there is no significant effect of jackfruit seed flour substitution on dietary fiber and fat levels in jackfruit seed cookies
Stunting Di Desa Blimbing Kecamatan Gudo Kabupaten Jombang
Di Indonesia, berdasarkan data Riskesdas tahun 2018, kejadian stunting terus berfluktuasi, naik turun setiap tahunnya. Stunting akibat balita di Kabupaten Jombang, terjadi akibat malnutrisi dan pola asuh yang salah. Pada tahun 2021, lebih dari 85.000 anak di bawah usia lima tahun menjadi target dari sasaran timbang, di mana 9.700 di antaranya akan diidentifikasi berisiko atau menderita stunting. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan stunting di Desa Blimbing Kecamatan Gudo Kabupaten Jombang, Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif observasional. Analisis data yang digunakan adalah statistik deskriptif. Prosedur yang dilakukan meliputi: review data, klasifikasi data, tabulasi data, perhitungan frekuensi data dan pengolahan selanjutnya sesuai statistik deskriptif yang sesuai. Hasil penelitian menunjukkan stunting rata-rata terjadi pada usia 33,21 bulan dan sering terjadi pada bayi yang berusia 25 bulan. Kemudian dilihat berdasarkan BB:TB kasus stunting rata-rata terjadi pada angka -1.004198282 dan angka stunting paling tinggi pada angka - 2.9021226.Kemudian 48 balita laki-laki (46,6%) mengalami stunting. Tabel ini juga menunjukkan bahwa 55 balita perempuan (53,4%) mengalami stunting. Balita yang berjumlah 103 dengan umur 3 bulan sampai 60 bulan diketahui bahwa stunting sering terjadi pada bayi yang berusia 25 bulan. Data ini menunjukkan bahwa bayi pada usia 25 bulan sangat rentan mengalami stunting.In Indonesia, based on Riskesdas data in 2018, the incidence of stunting continues to fluctuate, up and down every year. Stunting due to toddlers in Jombang Regency, occurs due to malnutri-tion and wrong parenting. By 2021, more than 85,000 children under the age of five will be tar-geted by the weighing target, of which 9,700 will be identified as at risk or suffering from stunt-ing. This study aims to describe stunting in Blimbing Village, Gudo District, Jombang Regency. The method used in this study is a descriptive observational study. Analysis of the data used is descriptive statistics. The procedures carried out include: data review, data classification, data tabulation, calculation of data frequency and subsequent processing according to appropriate descriptive statistics. The results showed that stunting occurred on average at the age of 33.21 months and often occurred in infants aged 25 months. Then, based on BB:TB, stunting cases averaged -1.004198282 and the highest stunting rate was -2.9021226. Then 48 male toddlers (46.6%) experienced stunting. This table also shows that 55 girls under five (53.4%) are stunted. It is known that there are 103 toddlers aged 3 months to 60 months that stunting often occurs in infants aged 25 months. This data shows that infants at the age of 25 months are very suscepti-ble to stunting
Experience of Participation of Nursing Students in Prehospital Emergency Care: A Phenomenological Study from Sports Activities
Penyelenggaraan olahraga berpotensi mengakibatkan kejadian kegawatdaruratan. Kasus trauma fisik merupakan kasus yang sering terjadi, tetapi kejadian henti jantung juga beberapa kali terjadi saat olahraga. Mahasiswa perlu memiliki pengalaman praktik dalam penanganan kegawatdaruratan pada penyelenggaraan olahraga, karena mereka harus siap ditempatkan dimanapun setelah lulus termasuk menjadi tim medis dalam penyelenggaraan olahraga. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan eksplorasi pengalaman mahasiswa keperawatan dalam praktik pertolongan kegawatdaruratan dalam penyelenggaraan olahraga. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, dengan jumlah sample 10 orang diambil dengan teknik purposive sampling. Teknik pengambilan data menggunakan teknik wawancara semi-terstruktur dari daftar pertanyaan. Hasil penelitian menunjukan 4 tema diantaranya: Perlu latihan penanganan cedera secara langsung dan spesifik, Merasa tidak percaya diri, Kesenjangan antara yang dipelajari dengan praktik, Kebutuhan kompetensi profesional penanganan cedera. Dapat disimpulkan bahwa penanganan kegawatdaruratan pada olahraga memiliki kekhususan sehingga proses pembelajaran sebelum praktik harus mendapat perhatian yang sama dengan keilmuan lainnya, sehingga kedepan kompetensi penanganan kegawatdaruratan olahraga perlu dimasukan kedalam pokok bahasan dalam kurikulum.Sports event has the potential to cause emergency events. Cases of physical trauma are common cases, but cardiac arrest also occurs several times during exercise. Students need to have practical experience in handling emergencies in sports, because they must be ready to be placed anywhere after graduation, including being a medical team in sports management. This study aims to explore the experiences of nursing students in the practice of emergency aid in the implementation of sports. The research method uses a qualitative approach, with a sample of 10 people taken by purposive sampling technique. The data collection technique used a semi-structured interview technique from a list of questions. The results showed 4 themes including: The need for direct and specific injury management training, Feeling insecure, The gap between what is learned and practiced, The need for professional competence in handling injuries. It can be concluded that the handling of emergencies in sports has specificity so that the learning process before practice must receive the same attention as other sciences. So that in the future the competence of handling sports emergencies needs to be included in the subject matter in the curriculum
Efektivitas Penggunaan Alat Bantu Pengambilan Keputusan (ABPK )Terhadap Peningkatan Pengetahuan Akseptor KB Suntik 1 Bulan di PMB Bidan Mira Kurnia Tahun 2022
Background: Family planning (KB) is one of the most basic and primary preventive health measures for women. Many women experience difficulties in determining the choice of contraception. One way that can be used to assist mothers in choosing family planning is to use decision-making tools. Data from PLKB Rangkasbitung District in January-August 2022 showed that 9539 couples of childbearing age were actively using family planning, of which 106 had stopped using family planning. already dead. Purpose: To find out "Effectiveness of the Use of Decision Making Assistance Tools (ABPK) on Increasing the Knowledge of 1-Month Injecting Contraception Acceptors at Pmb Midwife Mira Kurnia in 2022. Research method: The research design used in this study is a quantitative study. This research is a method research quasi experimental design with Pre and Post Test with Control Group Design. The type of research used was research based on a questionnaire. The sampling technique was purposive sampling. The population in this study were 88 elderly people while the sample was taken using the sample size technique as many as 48 people. Data analysis used the Wilcoxon statistical test quisioner. Results: After conducting bivariate analysis using the chi-square statistical test, we obtained a p-value = 0.012 (p <0.05), which means that there is a relationship between the use of decision-making aids and the choice of contraceptives. Conclusion: That "3. There is Effectiveness of the Use of Decision Making Assistance Tools (ABPK) on Increasing Knowledge of 1-Month Injecting Family Planning Acceptors at Pmb Midwife Mira Kurnia in 2022''.Latar Belakang : Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu kesehatan preventif yang palin dasar dan utama bagi wanita. Banyak wanita yang mengalami kesulitan dalam menentukan pilihan jenis kontrasepsi. Salah satu cara yang bisa digunakan dalam membantu ibu dalam memilih KB adalah menggunakan alat bantu pengambilan keputusan. Data dari PLKB Kecamatan Rangkasbitung di bulan Januari-Agustus tahun 2022 didapati hasil bahwa pasangan usia subur yang aktif menggunakan KB sebanyak 9539 diantaranya yang berhenti menggunakan KB sebanyak 106 pus penyebabnya adalah mereka yang tidak cocok menggunakan KB sebelumnya, ingin memiliki anak lagi, dan pasangan yang sudah meninggal. Tujuan: Untuk Mengetahui “Efektivitas Penggunaan Alat Bantu Pengambilan Keputusan (ABPK ) Terhadap Peningkatan Pengetahuan Akseptor KB Suntik 1 Bulan Di Pmb Bidan Mira Kurnia Tahun 2022. Metode penelitian :Desain penelitian yang di gunakan dalam penelitian ini adalah adalah penelitian kuantitatif Penelitian ini merupakan penelitian metode quasi eksperimental dengan design Pre and Post Test with Control Group Design. Jenis penelitian yang digunakan bersifat penelitian berdasarkan Angket .Teknik pengambilan sampel ini dengan purposive sampling, Populasi dalam penelitian ini yaitu 88 orang lansia sedangkan sempel diambil dengan menggunakan teknik sempel size sebanyak 48 orang analisis data dengan menggunakan quisioner uji statistic Wilcoxon. Hasil: Setelah dilakukan analisa bivariat dengan menggunakan uji statistik chi-square di peroleh nilai p- value = 0,012 (p<0,05) yang berarti ada hubungan penggunaan alat bantu pengambilan keputusan dengan pemilihan alat kontrasepsi. Kesimpulan : Bahwa “ Ada Efektivitas Penggunaan Alat Bantu Pengambilan Keputusan (ABPK) Terhadap Peningkatan Pengetahuan Akseptor KB Suntik 1 Bulan Di Pmb Bidan Mira Kurnia Tahun 2022’’
Perbandingan Efektivitas Terapi Ablasi Jantung Dan Terapi Medikamentosa Pada Pasien Atrial Fibrilasi : Sebuah Review
Atrial fibrilasi (AF) adalah kondisi aritmia jantung yang sering terjadi mempengaruhi sekitar 1%-2% populasi. Terapi obat antiaritmia (rhythm control) telah menjadi pengobatan utama untuk AF selama beberapa dekade. Namun, tingkat efektivitas dan juga risiko efek samping menjadi pertimbangan para ahli untuk mencari alternatif terapi lain dalam mempertahankan irama sinus pada pasien AF. Pada tahun 1998, muncul laporan yang menunjukkan bahwa terapi ablasi jantung lebih efektif dibandingkan terapi obat antiaritmia dalam mengurangi episode AF paroksismal berulang. Sejak saat itu, penggunaan ablasi jantung telah diperluas untuk diteliti lebih lanjut. Tujuan Untuk mengetahui perbandingan efektivitas terapi ablasi jantung dengan terapi medikamentosa pada pasien atrial fibrilasi. Tinjauan literatur dari empat database PubMed, DOAJ, Cochrane, dan Google Scholar yang diterbitkan dalam rentang waktu 5 tahun terakhir yaitu dari tahun 2018-2022. Didapatkan 15 literatur yang melaporkan efektivitas terapi ablasi jantung dibandingkan dengan terapi medikamentosa berdasarkan usia, jenis kelamin, outcome primer, outcome sekunder, dan untuk mencegah perkembangan AF menjadi persisten. Outcome primer yang diukur berupa tingkat mortalitas dan tingkat pencegahan morbiditas terhadap penyakit lain seperti stroke, pendarahan, atau cardiac arrest. Outcome sekunder yang diukur meliputi kekambuhan, kualitas hidup, biaya dan lamanya perawatan. Berdasarkan karakteristik pasien, manfaat yang signifikan dari terapi ablasi jantung ditemukan pada pasien <65 tahun. Peningkatan kualitas hidup lebih baik pada pasien wanita dibandingkan pria. Berdasarkan outcome primer dan sekunder, terapi ablasi lebih unggul dalam perbaikan outcome sekunder seperti peningkatan kualitas hidup, peningkatan LVEF, menjaga sinus rhythm, lebih cost-effectiveness, dan mengurangi risiko kekambuhan atau gejala berulang. Tidak ditemukan perbedaan yang signifikan untuk perbaikan outcome primer pada terapi ablasi jantung maupun terapi medikamentosa. Terapi ablasi jantung juga lebih unggul dibandingkan pemberian obat rate control ataupun rhythm control untuk mencegah terjadinya perkembangan paroksismal AF menjadi persisten AF.Atrial fibrillation (AF) is a common cardiac arrhythmic condition that affects 1%-2% of the population. For decades, antiarrhythmic drug therapy (rhythm control) has been the mainstay of treatment for AF. However, the level of effectiveness as well as the risk of side effects is a consideration for experts looking for other alternative therapies in maintaining sinus rhythm in AF patients. In 1998, a study found that cardiac ablation therapy was more effective than antiarrhythmic drug therapy in reducing recurrent episodes of paroxysmal AF. Since that time, the use of cardiac ablation has been expanded for further research. Objective: To compare the effectiveness of catheter ablation and drug therapy in patients with atrial fibrillation. Methods: Literature review of four database; PubMed, DOAJ, Cochrane, and Google Scholar published within the last 5 years from 2019-2023. Results: There were 15 studies reporting the effectiveness of cardiac ablation therapy compared to medical therapy based on age, gender, primary outcome, secondary outcome, and to prevent the development of persistent AF. The primary outcome measured included the mortality rate and the level of morbidity, prevention from other diseases such as stroke, bleeding, or cardiac arrest. The secondary outcomes measured included recurrence, quality of life, costs and length of hospitalization. Conclusion: Based on patient characteristics, cardiac ablation therapy provided a significant benefit to patients with age < 65 years old. Female patients have higher quality of life than male patients. Based on primary and secondary outcomes, ablation therapy is superior in improving secondary outcomes such as improving quality of life, increasing LVEF, maintaining sinus rhythm, being more cost-effective, and lowering the risk of recurrence. There was no significant difference in primary outcome improvement between cardiac ablation therapy and medical therapy. Cardiac ablation therapy is also more effective than rate control or rhythm control drugs in preventing the progression of paroxysmal AF to persistent AF
Efek Kurkumin Terhadap Stres Oksidatif Dan Profil Metabolik Pasien Sindrom Ovarium Polikistik
Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS) menjadi penyakit endokrin yang paling sering dikeluhkan oleh wanita usia reproduktif. Perjalanan penyakit PCOS bersifat multifaktorial, namun, dua proses penting yang mempengaruhi perkembangan PCOS yaitu stres oksidatif dan hiperlipidemia. Komplikasi dari PCOS seperti infertilitas menjadi akibat dari terapi yang hingga kini belum kunjung ditemukan untuk mengatasi kondisi tersebut. Intervensi yang telah dicoba untuk mengatasi PCOS memiliki berbagai efek samping yang mempengaruhi kondisi pasien. Oleh sebab itu, suatu terobosan baru diperlukan untuk mengatasi PCOS. Senyawa fitokimia yaitu kurkumin dipandang memiliki potensi dalam tatalaksana PCOS. Efek antioksidan dan pengaturan lipid dapat menjadi terobosan baru untuk mengatasi PCOS. Metode: Pencarian jurnal dilakukan melalui beberapa database penelitian antara lain Google Scholar, PubMed, dan Wiley. Kata kunci yang digunakan adalah “kurkumin”, “stres oksidatif”, “profil metabolik” dan “PCOS”. Hasil: Pencarian literatur menghasilkan 1.772 jurnal dengan 39 jurnal sesuai dengan kriteria. Studi yang diprioritaskan merupakan studi yang diterbitkan Kami memprioritaskan penelitian yang diterbitkan dalam jangka waktu lima tahun terakhir. Simpulan: Berbagai studi telah membuktikan efektivitas kurkumin dalam mengubah proses patofisologi stres oksidatif dan hiperlipidemia pasien PCOS. Selain itu, pemanfaatan dan pengguaan kurkumin di Indonesia cukup mudah dijangkau. Pemberian kurkumin dapat direkomendasikan pada pasien PCOS secara luas dan efisien.Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) is the most common endocrine disease complained by women of reproductive age. The course of PCOS disease is multifactorial, however, two important processes that influence the development of PCOS are oxidative stress and hyperlipidemia. Complications from PCOS such as infertility are the result of therapies that have not yet been found to treat this condition. Interventions that have been tried to treat PCOS have various side effects that affect the patient's condition. Therefore, a new breakthrough is needed to overcome PCOS. Phytochemical compounds, namely curcumin, is considered to have potential in the management of PCOS. The effect of antioxidants and lipid regulation can be a new breakthrough to treat PCOS. Literature searching were carried out through several research databases including Google Scholar, PubMed, and Wiley. The keywords used were "curcumin", "oxidative stress", "metabolic profile" and "PCOS". Literature search resulted in 1,772 journals with 39 journals compatible to our criteria. We prioritize studies that were published in the last five years. Various studies have proven the effectiveness of curcumin in changing the pathophysiological processes of oxidative stress and hyperlipidemia in PCOS patients. In addition, the utilization and use of curcumin in Indonesia is quite easy to reach. Administration of curcumin can be widely and efficiently recommended in PCOS patients
Hubungan Antara Pendidikan Ibu Dengan Status Gizi Anak Usia 1 Tahun 6 Bulan Sampai 2 Tahun Di Rs Sumber Waras
Pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi status gizi pada anak. Tingkat pendidikan orang tua khusunya ibu, berkaitan dengan pemahaman pemberian nutrisi yang baik untuk anak. Tujuan dilakukan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan ibu dengan status gizi anak usia 1 tahun 6 bulan sampai 2 tahun di RS Sumber Waras Jakarta Barat. Jenis penelitian ini bersifat observasional menggunakan desain cross- sectional (potong lintang) dengan data rekam medik sebanyak 64 peserta anak berusia 1 tahun 6 bulan sampai 2 tahun. Metode statistika yang digunakan untuk menguji korelasi antar variabel pada penelitian ini adalah uji korelasi kendall’s tau. Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan p value 0.003 (<0.05), sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan ibu dengan status gizi anak usia 1 tahun 6 bulan sampai 2 tahun. Terdapat korelasi koefisien positif sebesar r 0.323, hal ini menunjukkan semakin tinggi tingkat pendidikan ibu semakin baik status gizi anak. Dengan demikian hasil penelitian ini terdapat hubungan yang erat antara tingkat pendidikan ibu dengan status gizi anak usia 1 tahun 6 bulan sampai 2 tahun di RS Sumber Waras Jakarta Barat. Oleh karena itu penting untuk melihat tingkat pendidikan dan pemahaman ibu agar dapat memenuhi status gizi yang baik pada anak.Maternal education is one of the factors that can affect the nutritional status of children. The level of education of the parents especially the mother, is related to understand a good nutrition for children. The purpose of this study is to determine the relationship of mother's educational level with the nutritional status of children aged 1 year 6 months to 2 years old at Sumber Waras Hospital, West Jakarta. A cross-sectional study was done using medical record data of 64 children aged 1 year 6 months to 2 years old. The statistical method used to test in this study is kendall's tau correlation test. There is significant different 0.03 (p <0.05) between maternal education level and the nutritional status of children aged 1 year 6 months to 2 years old. In addition, a positive correlation (r = 0.323) was found between the two parameters. This shows the higher the maternal education level, the better the nutritional status of children. There is a close relationship between the maternal education level with the nutritional status of children aged 1 year 6 months to 2 years old at Sumber Waras Hospital, West Jakarta. Therefore, It is important to look at the level of education and knowledge of the mother in order to get a good nutritional status in children
Risk Prediction Acute Kidney Injury Pada Pasien Sepsis
Sepsis merupakan kondisi disfungsi organ yang disebabkan oleh terganggunya respon inflamasi tubuh dalam mengatasi infeksi. Acute kidney injury (AKI) merupakan keadaan penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG) secara tiba-tiba selama ? 7 hari, peningkatan kreatinin serum ?0.3 mg/dL dalam 48 jam atau peningkatan kreatinin serum ?1.5 kali dari nilai awal dalam 7 hari atau volume urin <0.5 mL/kgBB/jam selama 6 jam. Sepsis-associated acute kidney injury (S-AKI) adalah komplikasi yang umumnya terjadi pada pasien sepsis yang dirawat dan meningkatkan risiko perburukan penyakit dan risiko mortalitas. Beberapa faktor risiko dikatikan dengan terjadinya S-AKI tetapi faktor risiko secara lengkap belum sepenuhnya diketahui. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko terjadinya S-AKI. Desain penelitian yang digunakan adalah tinjauan pustaka terkait faktor risiko terjadinya AKI pada pasien sepsis. Sumber pustaka diperoleh dari Pubmed, Google Scholar, ScienceDirect, Ebsco dan Hindawi yang dipublikasikan dalam 5 tahun terakhir. Secara keseluruhan faktor risiko terjadinya AKI pada pasien sepsis adalah jenis kelamin, ras, riwayat gagal jantung, diabetes, obesitas, penggunaan Angiotensin-converting enzyme inhibitors (ACEI) atau angiotensin II receptor blockers (ARB), bilirubin, kreatinin, blood urea nitrogen (BUN) dan ventilasi mekanik. S-AKI merupakan komplikasi yang umum terjadi pada pasien sepsis. Faktok risiko S-AKI harus dinilai sejak dini untuk mengurangi risiko mortalitas. Sepsis is a condition of organ dysfunction caused by disruption of the body's inflammatory response in dealing with infection. Acute kidney injury (AKI) is a sudden decrease in Glomerulus Filtration Rate (GFR) for ? 7 days, an increase in serum creatinine ?0.3 mg/dL within 48 hours or an increase in serum creatinine ?1.5 times from the baseline within 7 days or urine volume <0.5 mL/kg body weight/hour for 6 hours. Sepsis-associated acute kidney injury (S-AKI) is a complication that commonly occurs in treated septic patients and increases the risk of disease worsening and the risk of mortality. Several risk factors are associated with the occurrence of S-AKI but the full risk factors are not fully known. This study is a literature review of studies in the following database: Pubmed, Google Scholar, ScienceDirect, Ebsco and Hindawi that were published in the last 5 years. After finding a variety of appropriate literature, the writing of the manuscript began. Overall risk factors of S-AKI that were found are gender, race, history of heart failure, diabetes, obesity, use of Angiotensin-converting enzyme inhibitors (ACEI) or angiotensin II receptor blockers (ARB), bilirubin, creatinine, blood urea nitrogen (BUN) and mechanical ventilation. S-AKI is a complication that commonly occurs in \ septic patients. Risk factors should be assessed early for initial treatment to reduce mortalit
Perbandingan Efek Pemberian Salep Ekstrak Daun Binahong (Anredera Cordifolia (Tenore) Steenis) Dan Salep Silver Sulfadiazine 1% Pada Penyusutan Luka Bakar Derajat Ii Tikus Putih Jantan (Rattus Norvegicus)
Luka bakar adalah kerusakan jaringan yang disebabkan oleh panas yang ekstrem, bahan-bahan kimia, listrik, radioaktivasi, dan paparan sinar matahari yang berkepanjangan. Daun binahong mengandung senyawa flavonoid, saponin, asam askorbat, asam ursolik, dan asam oleanolat yang meningkatkan angiogenesis dan merangsang pembentukan kolagen yang berperan dalam perkembangan kesembuhan luka. Studi ini bertujuan membuktikan dampak diberikannya ekstrak daun binahong terhadap proses penyembuhan cedera bakar derajat II. Metode yang diimplementasikan dalam studi ini merupakan metode Post Test Only Control Group Design. Studi ini membutuhkan sampel, yaitu 25 ekor., sampel terbagi dalam 5 bagian, yaitu diberikannya basis salep (K), diberikannya ekstrak daun Binahong (P1), diberi ekstrak daun Binahong 20% (P2), diberi ekstrak daun Binahong 40% (P3), serta diberi salep silver sulfadiazine 1% (P4) diberikan perlakuan selama 30 hari. Data dianalisis menggunakan uji Repeated measure ANOVA yang diproses melalui uji Tukey. Temuan penelitian mendeskripsikan bahwa nilai uji Repeated measure ANOVA adalah P Value 0,000 yang menunjukan adanya perbedaan yang berarti antara tiap kelompok perlakuan. Hasil uji Tukey adalah P Value signifikan pada kelompok ekstrak daun binahong 20% (P2) daripada hasil dari tim lainnya, kesimpulan dari hasil temuan adalah ekstrak daun binahong 20% berdampak pada reduksi area permukaan luka bakar.Burns is tissue damage caused by high heat, chemical compounds, electricity, radioactivation and excessive exposure to sunlight. Binahong leaves contain flavonoids, saponins, ascorbic acid, ursolic acid, and oleanolat acid which increase angiogenesis and stimulate collagen formation which plays a role in the wound healing process. The purpose of this study was to prove the effect of binahong leaf extract on healing second degree burns. This study uses the Post Test Only Control Group Design method. The sample used in the study was 25 rats. The samples were divided into 5 groups, namely given ointment base (K), given Binahong leaf extract (P1), given Binahong leaf extract 20% (P2), given Binahong leaf extract 40% (P3) , and given 1% silver sulfadiazine ointment (P4), treated for 30 days. The data were analyzed using the Repeated measure ANOVA test and then continued with the Tukey statistical test. The repeated measure ANOVA showed significant differences between each treatment group (P-value 0.000). Tukey's test results showed a significant P-value in the 20% binahong leaf extract group (P2) compared to other groups. The conclusion was that 20% binahong leaf extract affected on reducing the burn surface area
GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG ISPA PADA TODDLER DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PURWOSARI SURAKARTA
Acute Respiratory Infection (ARI) is one of the leading causes of death in toddlers. ISPA can cause complications if not handled properly. The purpose of this study was to describe the mother's knowledge about ISPA in toddlers in the working area of the Purwosari Surakarta Health Center. This research uses descriptive quantitative method. Most of the respondents in this study were aged 26-35 years (61.4%), had high school education (74.3%), worked as housewives (74.3%), toddler age 2 – < 3 (44.3%), and had sons (57.1%) ). Most of the respondents in this study had good knowledge (55.7%).Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan satu dari beberapa faktor utama kematian pada balita. ISPA bisa mengakibatkan komplikasi apabila tidak ditangani secara baik. Tujuan dari penelitian ini adalah guna memperoleh gambaran pengetahuan ibu mengenai ISPA pada toddler di wilayah kerja Puskesmas Purwosari Surakarta. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Responden penelitian ini mayoritas memiliki usia 26-35 tahun (61.4%), dengan pendidikan terakhir SMA (74.3%), berprofesi sebagai ibu rumah tangga (74.3%), usia toddler 2 – < 3 (44.3%), dan memiliki anak laki-laki (57.1%). Responden penelitian ini sebagian besar berpengetahuan baik (55.7%)