Health Information : Jurnal Penelitian
Not a member yet
    657 research outputs found

    Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Bidan Terhadap Kepatuhan Penggunaan Alat Pelindung Diri Saat Persalinan : Systematic Review

    Get PDF
    The risk of infection transmission during childbirth to midwives is still observed to be high. Prevention by using standards personal protective equipment tends to be less adhered to by midwives. The compliance is associated with the level of knowledge and attitudes of midwives. This study will discuss the relationship between knowledge and attitudes of midwives as predisposing factors for compliance of PPE during childbirth. This systematic literature review (SLR) uses Google Scholar and PUBMED in accordance with keywords and PRISMA guidelines. Data was extracted into Microsoft Excel and analyzed descriptively. 9 cross-sectional articles included in this SLR and most of the studies stated that the knowledge and attitudes of midwives were significantly related to compliance of PPE during childbirth assistance. Knowledge will be a control for midwives to have a positive attitude, especially in wearing complete PPE. Several studies also report that these two factors don’t relate each other because it can be influenced by low levels of knowledge and attitudes as well as external factors such as discomfort when wearing PPE. Therefore, the knowledge and attitude factors of a midwife are still dominant in influencing the level of compliance of PPE during childbirth assistance.Risiko penularan infeksi selama persalinan terhadap bidan masih terpantau tinggi. Pencegahan dengan pemakaian alat pelindung diri sesuai standar cenderung kurang dipatuhi oleh bidan.  Kepatuhan tersebut dikaitkan dengan tingkat pengetahuan dan sikap bidan. Studi ini akan membahas mengenai hubungan pengetahuan dan sikap bidan sebagai faktor predisposisi dari kepatuhan penggunaan APD saat persalinan. Systematic literature review (SLR) ini dengan google scholar dan PUBMED dalam pencarian menggunakan keyword serta sesuai PRISMA. Data diekstraksi ke dalam microsoft excel dan dianalisis secara deskriptif. 9 artikel cross-sectional terinklusi dalam penelitian ini dan sebagian besar penelitian menyatakan pengetahuan dan sikap bidan berhubungan signifikan terhadap kepatuhan penggunaan APD pada pertolongan persalinan. Pengetahuan akan menjadi kontrol bagi bidan untuk bersikap positif khususnya dalam memakai APD lengkap.  Beberapa penelitian juga melaporkan tidak adanya hubungan kedua faktor tersebut karena dapat dipengaruhi tingkat pengetahuan dan sikap yang rendah serta faktor eksternal seperti ketidaknyaman saat memakai APD. Oleh karena itu, faktor pengetahuan dan sikap seorang bidan masih dominan untuk memengaruhi tingkat kepatuhan penggunaan APD selama persalinan

    ANALISIS KESIAPAN MASYARAKAT DALAM MEMANFAATKAN APLIKASI PELAYANAN KESEHATAN DI ERA DIGITALISASI KABUPATEN GORONTALO

    Get PDF
    The use of technology brings many advantages. The open exchange of medical in-formation between a person and health workers through the use of electronic tech-nology will lead to an increase in health services and patient health status. One of the government and private breakthroughs is to create health applications. Howev-er, the problem that occurs is that not all people use the application. The purpose of this study is to analyze community readiness in utilizing health applications in the digital era. This research is a quantitative research with cross sectional analytic study. The population in this study is the community in the working area of the puskesmas in Gorontalo district. The sampling technique uses probability sampling with cluster sampling techniques. The number of samples used were 97 respond-ents. Data analysis using chi square. The results of this study obtained a p value of 0.0001 at the cognitive level of the community with community readiness in utiliz-ing health applications, a p value of 0.0001 in affective with community readiness in utilizing health applications, a p value of 0.026 at cognitive level with readiness in utilizing health applications. The need for support from the government in so-cializing the importance of utilizing health applications in today's digital era. Lack of exposure to information is one of the reasons people don't take advantage of ex-isting applications.Penggunaan tekhnologi membawa banyak keuntungan. Pertukaran informasi medis yang terbuka antara seseorang dengan tenaga kesehatan melalui penggunaan teknologi elektronik akan menyebabkan peningkatan layanan kesehatan dan status kesehatan pasien. Salah satu gebrakan pemerintah dan swasta adalah menciptakan aplikasi kesehatan. Namun, permasalahan yang terjadi tidak semua masyarakat memanfaatkan aplikasi tersebut. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis kesiapan masyarakat dalam memanfaatkan aplikasi kesehatan di era digital. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan study analitik cross sectional study. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang ada diwilayah kerja puskesmas di kabupaten gorontalo. Tekhnik pengambilan sampel menggunakan probablitity sampling dengan tekhnik sampling cluster sampling. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 97 responden. Analisa data menggunakan chi square. Hasil dari penelitian ini didapatkan p value 0,0001 pada tingkat kognitif masyarakat dengan kesiapan masyarakat dalam memanfaatkan aplikasi kesehatan, p value 0,0001 pada afektif dengan kesiapan masyarakat dalam memanfaatkan aplikasi kesehatan, p value 0,026 padda kognitif dengan kesiapan dalam memanfaatkan aplikasi kesehatan. Perlunya dukungan dari pemerintah dalam mensosialisasikan pentingnya memanfaatkan aplikasi kesehatan di era digital saat ini. Kurangnya paparan informasi merupakan salah satu alasan masyarakat tidak memanfaatkan aplikasi yang sudah tersedia

    Intervensi Nonfarmakologis Kecemasan Ibu Hamil Primigravida Trimester III dengan Permainan Melatih Otak

    Get PDF
    Primigravida women experience higher anxiety than women who have had children before. This anxiety is caused by internal and external factors, hormonal changes, uncertainty about the delivery process and baby care, financial problems, and social and family support. Handling anxiety with non-pharmacological methods helps reduce anxiety status, but there is no scientific evidence for brain training games on the anxiety of pregnant women. This research is a quasi-experimental two control group pre-posttest on primigravida women in the working area of ??the Soropia Health Center. The research will be conducted in 2022. The population is 50 people and 30 samples are determined based on minimum sampling. The sample was divided into two groups of 15 respondents each in the intervention group and the control group. The intervention group received brain training games and counseling at the beginning of each month for three meetings, and was provided with training modules, while the control group received a lecture at the beginning of the study. Anxiety data was collected using the Hamilton Anxiety Rating Scale (HAM-A) questionnaire. Based on the Wilcoxon signed rank statistical test, the difference in mean anxiety scores was significant in the intervention group (p <0.05), but not significant in the control group (p = 0.157). The anxiety level of respondents in the intervention group decreased from moderate anxiety to mild anxiety.Wanita primigravida mengalami kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang telah memiliki anak sebelumnya. Kecemasan ini disebabkan oleh faktor internal dan eksternal, perubahan hormonal, ketidakpastian mengenai proses persalinan dan perawatan bayi, masalah finansial, dan dukungan sosial dan keluarga. Penanganan kecemasan dengan metode nonfarmakologis membantu menurunkan status kecemasan, namun belum terdapat bukti ilmiah untuk permainan melatih otak pada kecemasan wanita hamil. Penelitian ini merupakan quasi eksperiment two control group pre-posttest pada wanita primigravida di Wilayah Kerja Puskesmas Soropia. Penelitian dilakukan pada tahun 2022. Populasi sejumlah 50 orang dan ditetapkan 30 sampel berdasarkan minimum sampling. Sampel dibagi ke dalam dua kelompok yang masing-masing 15 responden pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Kelompok intervensi mendapatkan permainan melatih otak dan konseling setiap awal bulan selama tiga kali pertemuan, dan dibekali modul pelatihan, sedangkan pada kelompok kontrol mendapatkan ceramah pada awal penelitian. Data kecemasan dikumpulkan dengan kuesioner Hamilton Anxiety Rating Scale (HAM-A). Berdasarkan uji statistik Wilcoxon signed rank perbedaan rerata skor kecemasan signifikan pada kelompok intervensi (p < 0,05), namun tidak signifikan pada kelompok kontrol (p = 0,157). Tingkat kecemasan responden pada kelompok intervensi mengalami penurunan dari kecemasan sedang kepada kecemasan ringan

    Knowledge, Attitudes, and Practices of Prevention of Decompression and Barotrauma by Communities in Untia Fisherman's Village, Makassar City: Observational Study

    Get PDF
    Nelayan penyelam memiliki resiko gangguan kesehatan dan ancaman terhadap kecatatan dan bahkan kematian. Masalah yang lazim terjadi pada nelayan penyelam yaitu dekompresi dan barotrauma, dimana keduanya dapat menyebabkan masalah kesehatan yang fatal sehingga penelitian terkait upaya pencegahan dekompresi dan barotrauma menjadi penting untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan, sikap, dan praktik masyarakat nelayan terhadap upaya pencegahan dekompresi dan barotrauma di Kampung Nelayan Untia Kota Makassar. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode cross-sectional study. Populasi dan sampel merupakan masyarakat nelayan di Kampung Nelayan Untia Kota Makassar. Hasil penelitian mengenai pencegahan dekompresi dan barotrauma di Kampung Nelayan Untia Kota Makassar menunjukkan nelayan yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 86%, sikap dengan kategori baik sebanyak 98%, dan praktik dengan kategori baik sebanyak 58%. Kemudian berbeda pada variabel sikap, ditemukan pengaruh antara pengetahuan dan praktik dengan penggunaan alat bantu napas sebagai upaya pencegahan dekompresi dan barotrauma nelayan di Kampung Nelayan Untia Kota Makassar dengan p-value sebesar 0.003 dan 0.040. Hal ini disinyalir masih banyak faktor lain yang juga dapat mempengaruhi sikap nelayan antara lain pengalaman pribadi, emosional, bahkan kebudayaan.Diverse fishermen have a risk of health problems and even threats of disability and death. Problems that are common in diving fishermen are decompression sickness and barotrauma, both of which can cause fatal health problems, so research related to efforts to prevent decompression and barotrauma is important to do. The purpose of this study is to determine the level of knowledge, attitudes, and practices of the fishing community in the Fishermen's Village of Untia Makassar City regarding efforts to prevent decompression and barotrauma. The study was conducted using the cross-sectional study method. The population and sample are fishing communities in Untia Makassar City's Fishermen Village. The findings of a study on the prevention of decompression and barotrauma in the Untia Makassar City Fishermen's Village revealed that fishermen with good knowledge (86%), good attitudes (98%), and good practice (58%), had low rates of decompression and barotrauma. Then, in the attitude variable, we discovered a P-value of 0.003 and 0.040 for the influence of knowledge and practice with the use of breathing aids as an effort to prevent decompression and barotrauma in fishermen in Untia Makassar City's Fishermen Village. This is allegedly true, but there are numerous other factors that can influence fishermen's attitudes, including personal, emotional, and even cultural factors

    Kasus Tinea Korporis Disertai Hipertensi Dan Obesitas Dengan Pendekatan Kedokteran Keluarga

    Get PDF
    Tinea corporis is a superficial dermatophyte infection characterized by  an inflammatory or non inflammatory lesion with central healing on the glabrous skin. The prevalence of tinea corporis in Indonesia is 52% (2015). The prevalence of hypertension in Indonesia is 34,11% whereas obesity is 21,8% (2008). This family medicine approach visit aims to treat tinea corporis infection in Mr. M, prevent secondary infection, and transmission to the family members. In addition, this visit also aims to control blood pressure and obesity which has recently occured and identified in Mr. M. Mr. M is a patient with tinea corporis infection in the calf which is spreading vastly to the front calf and left knee. The patient experienced sleep disturbances and difficulty concentrating due to itching. Based on the history and physical examination, the diagnosis was tinea corporis, hypertension, and obesity. Through the family medicine approach using Mandala of Health, there is an increase in knowledge about tinea corporis, hypertension, and obesity resulting a change in treatment, diet, and physical activity. Therefore, the tinea corporis infection in Mr. M is healed, the blood pressure is controlled, and the body weight is maintained. Conclusion: The cause of tinea corporis in Mr. M was found from the patient’s habit of fishing while putting his feet into the pond. Lack of knowledge and poor hygiene of the patient causes the tinea corporis lesion to spread vastly. Poor eating habits of the patient causes hypertension and obesity. After being treated with a family medicine approach, Mr. M recovered from tinea corporis, his blood pressure has decreased, and his diet improved.Tinea korporis adalah infeksi dermatofita superfisial yang ditandai dengan lesi inflamasi maupun non inflamasi dengan central healing pada kulit yang tidak berambut. Prevalensi tinea korporis di Indonesia adalah 52% (2015). Prevalensi hipertensi di Indonesia adalah 34,11% sedangkan obesitas adalah 21,8% (2018). Kunjungan kasus dokter keluarga ini bertujuan untuk mengobati penyakit tinea korporis pada Tn. M, mencegah infeksi sekunder, dan penularan pada anggota keluarga. Selain itu, kunjungan ini juga bertujuan untuk mengontrol tekanan darah dan obesitas yang baru saja diketahui terjadi pada Tn. M. Tn. M merupakan penderita tinea korporis di bagian betis yang semakin meluas ke bagian betis depan dan lutut kiri. Pasien mengalami gangguan tidur dan sulit konsentrasi akibat rasa gatal yang dialami. Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan diagnosis pasien adalah tinea korporis, yang disertai dengan hipertensi dan obesitas. Melalui pendekatan kedokteran keluarga menggunakan Mandala of Health terjadi peningkatan pengetahuan tentang tinea korporis, hipertensi, dan obesitas sehingga terjadi perubahan pengobatan, pola makan, dan aktivitas fisik sehingga terjadi kesembuhan tinea korporis, terkendalinya tekanan darah, dan tidak bertambahnya berat badan Tn. M. Ditemukannya penyebab terjadinya tinea korporis Tn. M dari kebiasaan pasien yang suka memancing sambil memasukkan kakinya ke empang. Kurangnya pengetahuan dan kebersihan yang buruk menjadikan lesi tinea korporis pasien semakin meluas. Kebiasaan makan pasien yang buruk menyebabkan hipertensi dan obesitas. Setelah dilakukan tatalaksana dengan pendekatan kedokteran keluarga Tn. M sembuh dari penyakit tinea korporis, tekanan darahnya turun dan pola makannya menjadi baik

    Peran Pemerintah Dan Perilaku Masyarakat Dalam Menjaga Ekosistem Hutan Mangrove Di Kabupaten Langkat

    Get PDF
    Latar Belakang:Sebagai paru-paru dunia hutan mangrove di Indonesia merupakan salah satu hutan penyumbang O2 (Oksigen), dan penampung cadangan biomassa terbesar. Terdapat 5,3 juta ha hutan mangrove di Indonesia berkurang dalam 19 tahun terakhir. Setelah 8,6 juta ha hutan mangrove Indonesia pada tahun 2002 berkurang dan hanya tersisa 3,3 juta ha di tahun 2021. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran pemerintah dalam menjaga kelestarian hutan mangrove dan perilaku masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan mangrove di kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara. Metode:Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah mix method (metode campuran) dengan menggabungakan antara penelitian kualitatif dan kuantitatif. Penelitian kuantitatif dilakukan dengan desain pendekatan Cross Sectional.Data di peroleh dari data primer dan data skunder. Hasil:Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemerintahmemiliki peran penting sebagai pembuat aturan serta kebijakan dalam upaya menjaga ekosistem hutan mangrove di kabupaten Langkat.  Dari hasil Uji Statistik hubungan perilaku masyarakat dengan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh pemerintah dengan pendekatanChi-Square menunjukkan bahwa rata-rata p-value 0,000 (< 0,05) sehingga H0 di tolak dan Ha diterima, maka perilaku masyarakat memiliki hubungan dengan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan pemerintah. Kesimpulan: Penelitian menunjukkan bahwa pemerintah memiliki peran penting sebagai pembuat aturan serta kebijakan dalam upaya menjaga ekosistem hutan mangrove, kebijakan pemerintah di kabupaten Langkat juga mempengaruhi perilaku  serta pengetahuan masyarakat yang dapat membantu dalam upaya penjagaan ekosistem hutan mangrove.Background:As the lungs of the world, mangrove forests in Indonesia are one of the forests contributing to O2 (Oxygen), and the largest reservoir of biomass reserves. There are 5.3 million ha of mangrove forests in Indonesia reduced in the last 19 years. After 8.6 million ha of Indonesia's mangrove forests in 2002 were reduced and only 3.3 million ha remained in 2021. Objectives:This study aims to determine the role of the government in preserving mangrove forests and community behavior in maintaining the preservation of mangrove forests in Langkat district, North Sumatra Province. Methods: The method used in this study is the mix method by combining qualitative and quantitative research. Quantitative research was conducted with a Cross Sectional approach design. Quantitative research was conducted with a Cross Sectional approach design. Data obtained from primary data and skunder data

    Faktor Water, Sanitation, dan Hygiene (WASH) dengan Kejadian Stunting pada Balita di Kawasan Pesisir

    Get PDF
    Background : Stunting is a disorder of growing height due to chronic malnutrition during the growth period, especially in the first 1000 days of life (HPK) (World Health Organization, 2020). Purpose: The purpose of this study was to determine the factors of water, sanitation, and hygiene with the incidence of stunting in coastal areas. Method : This study uses quantitative research with primary data using a questionnaire adopted from (Khairil Sinatrya & Muniroh, 2019). Samples were drawn using proposive sampling, namely using samples based on criteria determined by the researchers themselves. The researcher uses a non-probability sampling technique because not everyone gets the opportunity to be sampled where the focus of the researchers is only mothers who have children under five aged 0-3 years as the research focus (respondents). Results : The results of the chi square test on the variable water with stunting yielded a p-value of 0.000, on the variable sanitation with stunting it had a p-value of 0.001, the results of the chi square test on the variable washing hands with stunting had a p-value of 0.001 where these results indicate that the three factors This affects the incidence of stunting. Conculusion : The factor of water that does not meet the requirements, family behavior in open defecation and hand washing has an effect on the incidence of stunting in coastal areas. These factors are still widely practiced in the community but are still often underestimated.Latar Belakang:  Stunting adalah gangguan pertumbuhan tinggi badan akibat kekurangan gizi kronis selama masa pertumbuhan, terutama pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK) (World Health Organization, 2020). Tujuan:  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor air, sanitasi, dan higiene dengan kejadian stunting di wilayah pesisir. Metode : Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan data primer menggunakan kuesioner yang diadopsi dari (Khairil Sinatrya & Muniroh, 2019) . Pengambilan sampel menggunakan proposive sampling, yaitu menggunakan sampel berdasarkan kriteria yang ditentukan sendiri oleh peneliti. Peneliti menggunakan teknik non-probability sampling karena tidak semua orang mendapat kesempatan untuk dijadikan sampel dimana fokus peneliti hanya ibu yang memiliki anak balita usia 0-3 tahun sebagai fokus penelitian (responden). Hasil: Hasil uji chi square pada variabel air minum dengan stunting menghasilkan p-value 0,000, pada variabel sanitasi dengan stunting didapatkan p-value 0,001, hasil uji chi square pada variabel cuci tangan dengan stunting memiliki p-value sebesar 0,001 dimana hasil tersebut menunjukkan bahwa ketiga faktor tersebut berpengaruh terhadap kejadian stunting.  Simpulan: Faktor air yang tidak memenuhi syarat, perilaku keluarga buang air besar sembarangan dan cuci tangan berpengaruh terhadap kejadian stunting di wilayah pesisir. Faktor-faktor tersebut masih banyak dipraktekkan di masyarakat namun masih sering disepelekan

    Identifikasi Trichomonas Vaginalis Pada Sampel Urine Penyebab Keputihan Pada Wanita Di Lingkungan Perumahan River Park

    Get PDF
    Keputihan suatu tanda dan gejala seorang wanita mengalami kelainan alat reproduksi. Keputihan yang keluar tidak berlebihan, berwarna bening,tidak berbau dan tidak menimbulkan rasa gatal atau perih dikatakan normal.Keputihan yang keluar banyak berwarna putih, kuning atau kehijauan, gatal, perih, dan disertai bau amis atau busuk disebut abnormal. Keputihan abnormal disebabakan oleh bakteri, jamur, dan parasit. Dampak kesehatan yang dialami apabila keputihan disepelekan dapat mengakibatkan kemandulan, radang panggul dan kanker serviks, penyakit trichomonas.Tujuan penulisan ini mengidentifikasi Trichomonas vaginalis pada Wanita dengan sampel urin sebanyak 32 responden sampel urin di Lingkungan Perumahan River Park. Pengujian aktivitas antijamur dilakukan dengan metode difusi agar yang dibuat dengan berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 32 responden yang dilakukan pemeriksaan urin sebanyak 2(6%) responden yang positif Trichomonas vaginalis dan 30 (94%) responden yang negatif Trichomonas vaginalis. Vaginal discharge is a condition of a woman who becomes a symptom of reproductive disorders, vaginal discharge is divided into two, namely physiological (normal) and pathological (abnormal). If vaginal discharge is ignored, it can have a greater health impact, including trichomonas disease or trichomoniasis. In addition, other health impacts due to vaginal discharge that are not handled properly are infertility, pelvic inflammation and cervical cancer. Objective: To identify Trichomonas vaginalis in urine samples that cause vaginal discharge in the River Park Residential Environment, Mangga Village, Medan Tuntungan District, Medan City in 2022. Method: The type of research used is qualitative where qualitative research is research that is descriptive and tends to use analysis. Process and meaning are emphasized in qualitative research. Result: Trichomonas vaginalis in urine samples of women in Indonesia. River Park Housing, Mangga Village, Medan Tuntungan District, Medan City, from 32 respondents who underwent urine examination, 2 (6%) respondents were positive for Trichomonas vaginalis and 30 (94%) respondents were negatif for Trichomonas vaginalis

    Peningkatan Pengetahuan dan Sikap tentang Swamedikasi melalui Media Buku Saku Swamedikasi berbasis Problem-Based Learning pada Komunitas GKI Emaus Makorem 181/PVT Sorong

    Get PDF
    Self-medication is the community's choice as the first response to complaints of illness before seeking treatment to health services. However, self-medication poses a risk to polypharmacy. The purpose of this study was to determine the effect of problem-based learning self-medication pocket books on increasing knowledge and attitudes of the community in the GKI Emmaus Makorem 181 / PVT Sorong Church in conducting rational self-medication. This study used a quasi-experimental design with pre-posttest control group design in February-April 2020. The population in this study was the entire GKI Emmaus Makorem 181/PVT Sorong congregation and the samples used were samples that met the inclusion criteria. As many as 60 respondents were willing to sign the informed consent and participate in the study, taken as a whole and not sampled, and divided into two groups, namely 30 respondents in the intervention group and 30 respondents in the control group. Data were taken from respondents' questionnaire sheets, assessed and statistically analyzed. PBL-based self-medication pocketbooks have an effect on increasing respondents' knowledge, namely the difference in increasing knowledge between the control group and the intervention p value 0.000 < 0.05. Meanwhile, the pocketbook had no effect on improving respondents' attitudes, namely the difference in attitude improvement between the control group and the intervention with a p value of 0.334 > 0.05. Further research is needed to explore the factors that influence the effectiveness of pocketbooks in improving respondents' attitudes in order to improve their use strategies in the context of self-medication education.Swamedikasi menjadi pilihan masyarakat sebagai penanggulangan pertama keluhan sakit sebelum berobat ke pelayanan kesehatan. Namum, pengobatan sendiri memberikan risiko terhadap polifarmasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh buku saku swamedikasi berbasis problem-based learning terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap masyakat di Jemaat GKI Emaus Makorem 181/PVT Sorong dalam melakukan swamedikasi yang rasional. Penelitian ini menggunakan rancangan quasi experimental dengan pre-posttest control group design pada bulan Februari-April 2020. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh Jemaat GKI Emaus Makorem 181/PVT Sorong dan sampel yang digunakan adalah sampel yang memenuhi kriteria inklusi. Responden sebanyak 60 orang bersedia menandatangani inform consent dan mengikuti penelitian, diambil secara utuh dan tidak dilakukan sampling, dan dibagi dua kelompok yaitu 30 responden di kelompok intervensi dan 30 responden di kelompok kontrol. Data diambil dari lembar kuesioner responden, dinilai dan dianalisis secara statistik. Buku saku swamedikasi berbasis PBL berpengaruh pada peningkatan pengetahuan responden yaitu perbedaan peningkatan pengetahuan antara kelompok kontrol dengan intervensi nilai p value 0,000 < 0,05. Sedangkan, buku saku tidak berpengaruh pada peningkatan sikap responden yaitu perbedaan peningkatan sikap antara kelompok kontrol dengan intervensi dengan nilai p value 0,334 > 0,05. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengeksplorasi faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas buku saku dalam meningkatkan sikap responden guna memperbaiki strategi penggunaannya dalam konteks pendidikan swamedikasi

    Patofisiologi Otitis Media Efusi (OME) Pada Pasien Dengan Refluks Laringofaringeal (LPR)

    Get PDF
    Otitis media dengan efusi (OME) adalah suatu kondisi di mana terdapat efusi non-purulen pada telinga tengah tanpa disertai perforasi membran timpani. Selama beberapa dekade terakhir, refluks gastroesofageal, yang kemudian dapat berkembang menjadi refluks laringofaringeal, telah diusulkan sebagai salah satu faktor etiologi yang penting untuk OME. Sebuah studi prevalensi pada tahun 2019 menyatakan kejadian OME ditemukan 4,5 kali lebih banyak pada kelompok pasien dengan LPR dibandingkan kelompok tanpa riwayat LPR. Mekanisme patofisiologis ini sering dipertanyakan dalam penelitian terdahulu, karena terdapat berbagai hipotesis yang dapat menjelaskan pengaruh LPR terhadap patogenesis OME. Tujuan: Penulis ingin memberikan referensi baru yang lebih akurat mengenai patofisiologi terjadinya otitis media efusi pada kasus refluks laringofaringeal berdasarkan referensi-referensi yang telah dibuat sebelumnya. Metode: Pencarian literatur dilakukan dengan menggunakan database seperti PubMed, Cochrane Library, dan Science Direct dengan kata kunci “patofisiologi”, “otitis media efusi", “OME”, “refluks laringofaringeal” dan “LPR”. Kriteria inklusi dalam studi ini adalah semua studi yang membahas definisi, etiologi, epidemiologi dan mekanisme patofisiologi OME pada pasien dengan LPR. Literatur-literatur yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis secara sistematis dan disajikan dalam bentuk artikel, tabel dan diagram yang sesuai untuk mempermudah pemahaman mengenai patofisiologi otitis media efusi pada kasus refluks laringofaringeal. Hasil: Mekanisme LPR dalam mengembangkan OME dapat dibagi menjadi beberapa kemungkinan sugestif: a) disfungsi tuba Eustachius karena LPR; b) stimulasi inflamasi di telinga tengah oleh H. pylori; dan c) aktivitas proteolitik pepsin di telinga tengah. Konten yang mengalami refluks dari gaster dapat mencapai tuba Eustachius dan menyebabkan obstruksi tuba secara langsung atau menyebabkan inflamasi, adhesi, dan kolaps pada saluran tersebut sehingga memfasilitasi mikroorganisme untuk mengembangkan OME. Di sisi lain, konten refluks yang mengandung bakteri H. pylori dan pepsin juga berperan dalam memicu respon inflamasi yang menyebabkan OME. Kesimpulan: Mekanisme yang paling mungkin menjelaskan patogenesis otitis media efusi (OME) pada kasus refluks laringofaringeal (LPR) terbagi dalam tiga proses patofisiologi utama sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Pembahasan lebih lanjut mengenai upaya eradikasi H. pylori dan modifikasi gaya hidup yang bersifat preventif untuk LPR perlu dilakukan.Otitis media with effusion (OME) is a condition in which there is a non-purulent effusion in the middle ear without perforation of the tympanic membrane. Over the last few decades, gastroesophageal reflux, which can then develop into laryngopharyngeal reflux, has been proposed as one of the important etiologic factors for OME. A prevalence study in 2019 stated that the incidence of OME was found to be 4.5 times more in the group of patients with LPR than in the group without a history of LPR. This pathophysiological mechanism has often been questioned in previous studies because various hypotheses can explain the effect of LPR on the pathogenesis of OME. Objective: The author wants to provide a new, more accurate reference regarding the pathophysiology of otitis media with effusion in cases of laryngopharyngeal reflux based on previous references. Methods: A literature search was performed using databases such as PubMed, Cochrane Library, and Science Direct with the keywords "pathophysiology", "otitis media with effusion", "OME", "laryngopharyngeal reflux" and "LPR". The inclusion criteria in this study were all a study discussing the definition, etiology, epidemiology, and pathophysiological mechanisms of OME in patients with LPR. Literature that met the inclusion criteria was analyzed systematically and presented in appropriate articles, tables, and diagrams to facilitate an understanding of the pathophysiology of otitis media with effusion in cases of laryngopharyngeal reflux. Results: The mechanism of LPR in developing OME can be divided into several suggestive possibilities: a) Eustachian tube dysfunction due to LPR; b) stimulation of inflammation in the middle ear by H. pylori; and c) proteolytic activity of pepsin in the middle ear. gastric can reach the Eustachian tube and cause direct tubal obstruction a tau causes inflammation, adhesions, and collapse of the duct thereby facilitating microorganisms to develop OME. On the other hand, reflux content containing H. pylori bacteria and pepsin also plays a role in triggering the inflammatory response that causes OME. Conclusion: The mechanism that most likely explains the pathogenesis of otitis media with effusion (OME) in cases of laryngopharyngeal reflux (LPR) is divided into three main pathophysiological processes as previously described. Further discussion regarding efforts to eradicate H. pylori and lifestyle modifications that are preventive for LPR needs to be done

    477

    full texts

    657

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Health Information : Jurnal Penelitian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇