Health Information : Jurnal Penelitian
Not a member yet
    657 research outputs found

    Hubungan Kepatuhan Minum Obat Dengan Kesembuhan Pasien Tuberkulosis Paru Di Rumah Sakit

    Full text link
    Lung tuberculosis, also known as pulmonary tuberculosis, is an infection that affects the lungs and is caused by a bacteria called Mycobaterium tuberculosis. Lung tuberculosis is still a problem that affects people all around the world. More than seventy-five percent of people who are of working age will get lung tuberculosis at some point in their lives. Patients who have pulmonary tuberculosis may have a harder time recovering from their illness depending on a number of factors, including their age, level of education, nutritional status, environmental conditions, and compliance with their medicine. Patients who have pulmonary TB are being studied at the X Government Hospital in Denpasar, Indonesia, in order to establish how treatment adherence affects the patients' chances of recovering from their illness. Studies based on observations are going to be done as part of this inquiry. Patients are polled utilizing data extracted from their medical files as the source of the information. The sample size for this particular investigation is composed of 53 different patients. Nonprobability In this particular study, sampling was carried out using the method of purposeful sampling. Patients who do not take their medication as directed can be divided into two categories: those who are errant and those who are disobedient. The researchers who conducted their study at X Government Hospital Denpasar discovered that there was no connection between patients' adherence to their treatment and their rate of recovery from pulmonary tuberculosis. There is a statistically significant connection (p = 0.000) between patients at X Government Hospital Denpasar taking their medications as prescribed and having a higher rate of success in curing pulmonary tuberculosis with medicines. The degree of cooperation plays a big role in the overall significance of the healing. This is due to the fact that the rate of healing is proportional to the strength of the power relationships, which in this instance equals a value of 0.681 Patients who are getting better, taking their medication as prescribed, and tuberculosisTBC paru-paru, juga dikenal sebagai TBC paru, adalah infeksi yang mempengaruhi paru-paru dan disebabkan oleh bakteri yang disebut Mycoterium tuberculosis. Tuberkulosis paru masih menjadi masalah yang menyerang masyarakat di seluruh dunia. Lebih dari tujuh puluh lima persen orang yang berada dalam usia kerja akan menderita tuberkulosis paru pada suatu saat dalam hidup mereka. Pasien yang menderita tuberkulosis paru mungkin lebih sulit untuk sembuh dari penyakitnya tergantung pada sejumlah faktor, termasuk usia, tingkat pendidikan, status gizi, kondisi lingkungan, dan kepatuhan minum obat. Pasien yang menderita TB paru sedang diteliti di Rumah Sakit Pemerintah X di Denpasar, Indonesia, untuk mengetahui bagaimana kepatuhan pengobatan mempengaruhi peluang pasien untuk sembuh dari penyakitnya. Studi berdasarkan pengamatan akan dilakukan sebagai bagian dari penyelidikan ini. Pasien disurvei menggunakan data yang diambil dari file medis mereka sebagai sumber informasi. Ukuran sampel untuk penyelidikan khusus ini terdiri dari 53 pasien yang berbeda. Nonprobability Dalam penelitian ini pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling. Pasien yang tidak meminum obatnya sesuai petunjuk dapat dibagi menjadi dua kategori: mereka yang sesat dan mereka yang tidak patuh. Para peneliti yang melakukan penelitian di RS Pemerintah X Denpasar menemukan bahwa tidak ada hubungan antara kepatuhan pasien berobat dengan tingkat kesembuhan pasien tuberkulosis paru. Ada hubungan yang bermakna secara statistik (p = 0,000) antara pasien di RS Pemerintah X Denpasar yang minum obat sesuai resep dengan tingkat keberhasilan penyembuhan tuberkulosis paru dengan obat lebih tinggi. Tingkat kerjasama memainkan peran besar dalam keseluruhan signifikansi penyembuhan. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa tingkat penyembuhan sebanding dengan kekuatan hubungan kekuatan, yang dalam hal ini sama dengan nilai 0,681 Pasien yang membaik, minum obat sesuai resep, dan tuberkulosis

    Faktor Risiko Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut Ditinjau dari Kondisi Lingkungan Fisik pada Masyarakat di Kepulauan Spermonde: Penelitian Observasional

    Full text link
    Acute Respiratory Infection (ARI) is a disease caused by the environment and is one of the main causes of high morbidity and mortality. ISPA cases are spread in various areas in South Sulawesi Province, including in the Spermonde Archipelago, Makassar City. In general, there are three main risk factors for the occurrence of ARI, namely environment, individual and behavior. The purpose of this study was to analyze environmental parameters related to the incidence of ARI in the Spermonde Archipelago. The study was conducted using a cross-sectional observational design in 640 neighborhoods. Determination of the sample using the method of proportional systematic random sampling. Statistical data were analyzed by Chi-Square test. The results of the data analysis showed a significant correlation with the variable floor area of ??the house (p = 0.000), indoor lighting (p = 0.023), occupancy density (p = 0.000), and use of mosquito coils (p = 0.000). Variables that did not show a correlation with the incidence of ARI were smoking habits of family members (p = 0.087), ventilation (p = 0.252), and indoor air temperature (p = 0.709). Environmental factors that influence the incidence of ARI are the floor area of ??the house, lighting in the house, residential density, and the use of mosquito coils. Further research is needed to determine the factors causing the physical environmental conditions of the Spermonde Island community.Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyakit akibat lingkungan dan menjadi salah satu penyebab utama tingginya angka kesakitan dan kematian. Kejadian ISPA tersebar di berbagai wilayah di Provinsi Sulawesi Selatan, termasuk di Kepulauan Spermonde Kota Makassar. Umumnya, terdapat tiga faktor risiko utama penyebab terjadinya ISPA yaitu lingkungan, individu, dan perilaku. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis parameter lingkungan yang berhubungan dengan kejadian ISPA di Kepulauan Spermonde. Penelitian dilakukan dengan desain observasional potong lintang pada 640 Rukun Tetangga. Penentuan sampel menggunakan metode proporsional systematic random sampling. Data statistik dianalisis dengan uji Chi-Square. Hasil analisis data menunjukkan korelasi yang signifikan pada variabel luas lantai rumah (p = 0,000), pencahayaan dalam rumah (p = 0,023), kepadatan hunian (p = 0,000), serta penggunaan obat nyamuk bakar (p = 0,000). Variabel yang tidak menunjukkan korelasi dengan kejadian ISPA yaitu kebiasaan merokok anggota keluarga (p = 0,087), keberadaan ventilasi (p = 0,252), dan suhu udara di dalam rumah (p = 0,709). Faktor lingkungan yang mempengaruhi kejadian ISPA adalah luas lantai rumah, pencahayaan dalam rumah, kepadatan hunian, serta penggunaan obat nyamuk bakar. Dibutuhkan penelitian lanjutan untuk mengetahui faktor penyebab kondisi lingkungan fisik masyarakat pulau spermonde

    Hubungan Pengetahuan Tentang Dampak Merokok Terhadap Kesehatan Gigi Dan Mulut Dengan Frekuensi Merokok

    Full text link
    The purpose of this study was to determine the relationship between smoking frequency and oral health with the level of oral health knowledge among adolescents at one of the Kuningan District High Schools. The type of research used is an analytic survey with a research design using cross sectional which intends to find relationships between one condition and another at the same time and the same population. The research was carried out in April 2021 with a total of 40 young male respondents in class XI at a high school in Kuningan Regency aged 16-18 years. Sampling using purposive sampling. The results of this study can be concluded that there is a relationship between smoking frequency and oral health knowledge in terms of the lighter the frequency of smoking and the type of cigarette used, the higher the knowledge of dental health.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk hubungan frekuensi merokok bagi kesehatan gigi dan mulut dengan tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut pada remaja di salah satu SMA Kabupaten Kuningan. Jenis penelitian yang di gunakan adalah survei analitik dengan rancangan penelitian menggunakan cross sectional yang bermaksud mencari hubungan antara suatu keadaan dengan keadaan lain pada saat bersamaan dan populasi yang sama. Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2021 dengan jumlah responden remaja laki-laki kelas XI di salah satu SMA di Kabupaten Kuningan usia 16-18 tahun sebanyak 40 siswa. Pengambilan sampel menggunakan purposivie sampling. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat Hubungan frekuensi merokok dengan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut ditinjau dari semakin ringan frekuensi merokok dan jenis rokok yang digunakan semakin tinggi pengetahuan kesehatan giginya

    Efek Pemberian Terapi GH Terhadap Peningkatan Densitas Tulang Pada Pasien Dengan Defisiensi GH

    Full text link
    Osteoporosis is a condition in which there is an imbalance in bone resorption and remodeling which causes a decrease in bone mineral density and increases the risk of fractures, which is often experienced in people who have growth hormone deficiency. Growth hormone therapy is given with the aim of increasing bone mineral density by encouraging bone formation, resorption and replacement in people with growth hormone deficiency. The purpose of this review is to determine the effectiveness and role of growth hormone therapy in increasing bone mineral density in an effort to reduce the risk of osteoporosis, which is a risk factor for fractures in patients with growth hormone deficiency. Literature search through collecting data from articles related to giving growth hormone therapy to increasing bone density in the 2013-2023 period using databases in the form of Pubmed, Google Scholar, Ebsco, Medline, Cochrane, and Hindawi. GH therapy can increase bone density by up to 3.5% and reduce the risk of fractures by up to 28%. GD deficiency is associated with low level of bone replacement, leading to reduced bone density. GH acts by promoting IGF-1 synthesis in osteoblasts by promoting bone turnover, including the additional of makers of bone resorption. So that there is an increase in bone mineral density and can reduce the risk of fractures.Osteoporosis merupakan keadaan dimana adanya ketidakseimbangan resorpsi dan remodeling tulang yang menyebabkan penurunan densitas mineral tulang dan meningkatkan resiko patah tulang, dimana hal ini sering dialami pada orang yang memiliki defisiensi growth hormone. Terapi growth hormone diberikan  dengan tujuan untuk meningkatkan kepadatan mineral tulang dengan cara mendorong pembentukan, resorpsi dan pergantian tulang pada orang dengan defisiensi growth hormone. Tujuan dari tinjauan ini untuk mengetahui efektifitas dan peran terapi growth hormone dalam meningkatkan kepadatan mineral tulang dalam upaya menurunkan resiko terjadinya osteoporosis yang menjadi salah satu factor resiko terjadinya patah tulang pada pasien dengan defisiensi growth hormone. Pencarian literatur melalui collecting data dari artikel yang berkaitan dengan pemberian terapi growth hormone terhadap peningkatan densitas tulang dengan rentan waktu 2013-2023 dengan menggunakan database berupa Pubmed, Google Scholar, Ebsco, Medline, Cochrane, dan Hindawi. Pemberian terapi GH mampu meningkatakan densitas tulang hingga 3,5% dan menurunkan risiko patah tulang hingga 28%.  Defisiensi GH dikaitkan dengan kadar pengantian tulang yang rendah, menyebabkan  penurunan kepadatan tulang. GH bekerja dengan mendorong sintesis IGF-1 dalam osteoblas dengan mendorong pergantian tulang, termasuk penambahan penanda pembentukan tulang dan penurunan penanda resorpsi tulang. Sehingga terjadi peningkatan kepadatan mineral tulang dan dapat menurunkan risiko terjadinya patah tulang

    Faktor Faktor Yang Berhubungan Dengan Hiperemesis Gravidarum Di Klinik Mardianum Kecamatan Medan Area Tahun 2022

    Full text link
    Hiperemesis gravidarum (HEG) merupakan suatu kondisi muntah persisten dalam kehamilan sehingga menyebabkan berbagai gangguan keseimbangan tubuh seperti dehidrasi, gangguan elektrolit, metabolik dan defisiensi nutnsi bahkan dapat menyebabkan kematian. Etiologinya belum diketahui secara pasti. Beberapa faktor risikonya adalah usia ibu, gravida, paritas, tingkat pendidikan, sosial ekonomi, kehamilan ganda, mola hidatidosa, dan riwayat HEG. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan hyperemesis gravidarum di klinik mardianum kecamatan medan area. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan desain case control. Populasi penelitian ini adalah seluruh ibu hamil trimester 1 di klinik mardianum kecamatan medan area tahun 2022. sampel yang dibutuhkan dalam penelitian sebesar 56 ibu hamil yang diambil dengan menggunakan teknik accidental sampling. Pengumpuian data dianalisis dengan uji chi-square. Hasil penelitian ini menunjukkan pravelensi kejadian hiperemesis gravidarum di klinik mardianum pengetahuan dengan hyperemesis gravidarum sebesar 42,9% dan sikap dengan hyperemesis gravidarum sebesar 76,6%. Hasil analisis biavriat di dapat ada hubungan antara pengetahuan dengan hyperemesis gravidarum di klinik mardianum kecamatan medan area tahu 2022 dengan p value = 0.019(<0.1),ada hubungan antara sikap dengan hyperemesis gravidarum di klinik mardianum kecamatan medan area tahun 2022 denga p value = 0.004(<01).Hyperemesis gravidarum (HEG) is a condition of persistent vomiting in pregnancy that causes various disturbances in the body's balance such as dehydration, electrolyte disturbances, metabolism and nutritional deficiencies and can even cause death. The etiology is not known with certainty. Some of the risk factors are maternal age, gravida, parity, educational level, socioeconomic, multiple pregnancies, hydatidiform mole, and history of HEG. This study aims to determine the factors associated with hyperemesis gravidarum at the Mardianum Clinic, Medan Area District. This type of research is an analytic observational study with a case control design. The population of this study were all 1st trimester pregnant women at the Mardianum clinic, Medan area district in 2022. The sample required for this study was 56 pregnant women who were taken using the accidental sampling technique. Data collection was analyzed by chi-square test. The results of this study showed that the prevalence of hyperemesis gravidarum at the knowledge mardianum clinic with hyperemesis gravidarum was 42.9% and attitude with hyperemesis gravidarum was 76.6%. The results of the biavria analysis show that there is a relationship between knowledge and hyperemesis gravidarum at the Mardianum clinic, Medan sub-district, in 2022 with a p value = 0.019 (<0.1), there is a relationship between attitude and hyperemesis gravidarum at the Mardianum clinic, Medan area in 2022 with a p value = 0.004 (<01)

    Knowledge and Family Support Regarding Regular Medication Taking in Tuberculosis Resistant Patients

    Full text link
    Knowledge and family one factor in success treatment of Multidrug-Resistant Tuberculosis (MDR TB), and is support orientation to function enhancement regularity in take anti- tuberculosis medication (OAT). Regularity is behavior Good especially in drink medication that has been given. Patient Resistant Tuberculosis (R-TB) is patients who do not complete drink drug so that bacteria the develop which results resistant. Study aim For know connection knowledge and support family to regularity taking OAT in R-TB patients at Persahabatan Hospital . Study with cross sectional technique . Sample of 104 respondents with purposive sampling method . Research results univariate showing majority 46-55 years old , male , college high or not working . Analysis results bivairat Spearman's rho method is obtained exists relationship knowledge and family with regularity drink medication in patients resistance tuberculosis . Advice on the need improved awareness in patients , evidence support family That real during operate treatment period long and digging related matters with regularity drink medicine .Knowledge and family one factor in success treatment of Multidrug-Resistant Tuberculosis (MDR TB), and is support orientation to function enhancement regularity in take anti- tuberculosis medication (OAT). Regularity is behavior Good especially in drink medication that has been given. Patient Resistant Tuberculosis (R-TB) is patients who do not complete drink drug so that bacteria the develop which results resistant. Study aim For know connection knowledge and support family to regularity taking OAT in R-TB patients at Persahabatan Hospital . Study with cross sectional technique . Sample of 104 respondents with purposive sampling method . Research results univariate showing majority 46-55 years old , male , college high or not working . Analysis results bivairat Spearman's rho method is obtained exists relationship knowledge and family with regularity drink medication in patients resistance tuberculosis . Advice on the need improved awareness in patients , evidence support family That real during operate treatment period long and digging related matters with regularity drink medicine

    Radiografi Buick Near Overzicht dengan Sangkaan Cholelithiasis di Rumah Sakit Umum Advent Medan

    Full text link
    Radiografi BNO dengan sangkaan Cholelithiasis di Rumah Sakit Advent Medan. Karya Tulis ilmiah program studi Diploma III Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi Yayasan Sinar Amal Bhakti Medan 2021. Radiografi BNO dengan menggunakan sinar-X merupakan metode yang tepat untuk memperlihatkan kelainan pada BNO khususnya Plain Abdomen dengan sangkaan Cholelithiasis. Pemeriksaan ini menggunakan proyeksi Antero-Posterior Supine, dan Antero-Posterior posisi Lateral. Penelitian dilakukan di Radiologi Rumah Sakit Advent Medan dengan jenis pesawat rontgen yang digunakan adalah General X-ray Unit dengan kapasitas yang relative besar pada bulan April 2021. Jenis penelitian yang dilakukan adalah metode penelitian kualitatif, teknik pengambilan data berdasarkan hasil observasi. Hasil penelitian diperoleh pemeriksaan radiografi BNO dengan sangkaan Cholelithiasis di Rumah Sakit Advent Medan yaitu tampak gambaran opak di hypochondrium kanan setinggi L.1. Proses pengolahan film dilakukan dengan Computer Radiografi (CR).BNO radiography with suspected cholelithiasis at Medan Adventist Hospital. Scientific writing for Diploma III Radiodiagnostic Engineering and Radiotherapy study program, Sinar Amal Bhakti Foundation, Medan 2021. BNO radiography using X-rays is the right method to display abnormalities in BNO, especially Plain Abdomen with suspected Cholelithiasis. This examination uses the Antero-Posterior Supine projection, and the Antero-Posterior Lateral position. Research carried out at Medan Adventist Hospital Radiology with the type of x-ray aircraft used was the General X-ray Unit with a relatively large capacity in April 2021. The type of research carried out was a qualitative research method, data collection techniques based on observation results. The results of the research obtained from a BNO radiographic examination with suspected cholelithiasis at the Medan Adventist Hospital, namely that an opaque image appeared in the right hypochondrium at the level of L.1. The film processing is carried out using Computer Radiography (CR)

    Findings from the Indonesian Socioeconomic Survey and the Indonesian Nutritional Status Survey on Factors Influencing Stunting Prevalence

    Full text link
    Pemerintah Indonesia menargetkan untuk mengurangi angka kejadian stunting menjadi 14 persen ditahun 2024. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 diketahui bahwa prevalensi stunting masih berada pada angka 24,4 persen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang paling berpengaruh terhadap kejadian stunting di wilayah kabupaten/ kota di Indonesia. Sumber data dalam penelitian ini berasal dari hasil olah Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) di 514 kab/kota pada tahun 2021 dan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) pada tahun 2021. Metode analisis pada penelitian ini menggunakan ordered probit model analysis dan hasilnya dibedakan menjadi tiga wilayah yang menggunakan set variabel yang sama namun cakupan wilayah yang berbeda. Dari hasil analisis ditemukan bahwa pendidikan perempuan, angka kesakitan, penolong persalinan, berat bayi ketika lahir, imunisasi lengkap, akses air minum layak dan pengeluaran pemerintah berpengaruh menurunkan angka kejadian stunting di wilayah Indonesia. Berat bayi ketika lahir memiliki pengaruh paling besar dalam menurunkan status stunting pada penelitian ini. Selain itu, ketiga kelompok wilayah dalam penelitian ini memiliki prediktor yang berbeda-beda dalam menentukan kejadian stunting di wilayah Indonesia.The government targets to reduce the incidence of stunting to 14 percent by 2024. Based on the results of the Indonesia Nutrition Status Survey (SSGI) in 2021, it is known that the prevalence of stunting is still at 24.4 percent. This study aims to determine what factors have the most influence on the incidence of stunting in regencies/cities in Indonesia. The data sources in this study came from the results of the National Socio-Economic Survey (Susenas) in 514 regencies/cities in 2021 and the Indonesian Nutrition Status Survey (SSGI) in 2021. The analytical method in this study used ordered probit model and the results were divided into three regions that use the same set of variables but have different coverage areas. From the results of the analysis, it was found that women's education, morbidity rates, birth attendants, baby's weight at birth, complete immunization, access to safe drinking water and government spending had an effect on reducing the incidence of stunting in Indonesia. Infant weight at birth has the greatest influence in reducing stunting status in this study. In addition, the three regional groups in this study have different predictors in determining the incidence of stunting in Indonesia

    Pelaksanaan Asuhan Keperawatan di Ruang  Isolasi COVID-19:  Kajian Mixed Methode

    Full text link
    Perawat adalah garda terdepan dalam penanganan COVID-19. Melaksanakan asuhan keperawatan kepada pasien COVID-19 di ruang isolasi merupakan suatu tantangan bagi perawat. Tujuan penelitian ini adalah penyelenggaraan penampungan pada pasien COVID-19 di ruang isolasi RSUD Kota Kendari. Studi ini menggunakan pendekatan metode campuran, desain triangulasi konkuren dengan jumlah 17 partisipan yang bertugas di ruang Isolasi COVID-19. Pelaksanaan pengkajian memiliki skor terendah yaitu 57,5 ??dengan indeks 67.6 %, penegakan diagnosa pembunuhan memiliki skor 74 dengan indeks 87,1 %, rencana pembunuhan memiliki skor 75 dengan indeks 88,2 %, skor implementasi 72,5 dengan indeks 85,3 %, dan evaluasi pembunuhan dengan skor 75 dan indeks 88,2 %. Terdapat perbedaan yang signifikan antara skor pelaksanaan pengkajian dengan umur (p= 0,034) dan jabatan perawat (p=0,009). Dalam penelitian ini diperoleh 9 tema yaitu pengkajian pembedahan tidak maksimal, pengkajian fokus pada keluhan, diagnosa pembedahan sama dengan rekaman medis, diagnosa utama, intervensi kolaborasi, intervensi berkesinambungan, implementasi kurang kooperatif, implementasi kurang maksimal dan evaluasi pembedahan berkesinambungan.Perawat adalah garda terdepan dalam penanganan COVID-19. Melaksanakan asuhan keperawatan kepada pasien COVID-19 di ruang isolasi merupakan suatu tantangan bagi perawat. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien COVID-19 di ruang isolasi RSUD Kota Kendari. Studi ini menggunakan pendekatan mixed methode, desain concurrent triangulation dengan jumlah 17 partisipan yang bertugas di ruang Isolasi COVID-19. Pelaksanaan pengkajian memiliki skor terendah yaitu 57,5 dengan indeks 67.6 %, penegakan diagnosa keperawatan memiliki skor 74 dengan indeks 87,1 %, rencana keperawatan memiliki skor 75 dengan indeks 88,2 %, skor implementasi 72,5 dengan indeks 85,3 %, dan evaluasi keperawatan dengan skor 75 dan indeks 88,2 %. Terdapat perbedaan signifikan antara skor pelaksanaan pengkajian dengan umur (p= 0,034) dan jabatan perawat (p=0,009). Dalam penelitian ini diperoleh 9 tema yaitu pengkajian keperawatan tidak maksimal, pengkajian fokus pada keluhan, diagnosa keperawatan sama dengan yang direkam medis, diagnosa utama, intervensi kolaborasi, intervensi berkesinambungan, implementasi kurang kooperatif, implementasi kurang maksimal dan evaluasi keperawatan berkesinambungan

    Laporan Kegiatan Diagnosis Komunitas Dalam Upaya Penurunan Insiden Demam Berdarah Dengue Dengan Intervensi Penyuluhan Demam Berdarah Dengue

    Full text link
    Dengue hemorrhagic fever (DHF) is a disease caused by a viral infection that transmitted by Aedes aegypti to human. WHO reported around 5.2 million cases of DHF in 2019. In 2022, there were 116,127 cases of DHF in Indonesia and 4,349 DHF cases in Banten Province. At Gembong Primary Health Center, DHF cases increased in the last 3 months. The results of mini-survey indicated environment factor was the problem among the community. The root cause of the problem was the lack of knowledge about DHF and the 3M plus prevention. The aim was to increase Tobat Village people’s knowledge about DHF and prevention of 3M Plus. The activity was carried out using community diagnosis approach. Problem identification was done using Blum’s paradigm. The priority of the problems was determined by non-scoring technique (Delphi). The root cause of the problem was determined by fishbone method. The intervention was health promotion about DHF and 3M Plus prevention. Evaluation of activities was carried out with a system approach. The result of the intervention showed that 30 participants (100%) had an increase in pre-test to post-test scores and 28 (93.3%) participants obtained post-test scores ? 80. This community diagnosis activity resulted in increasing knowledge of Tobat Village people regarding DHF and 3M Plus prevention. It is hoped that new cases of DHF in the working area of the Gembong Health Center will decrease.Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti ke manusia. WHO melaporkan sekitar 5,2 juta kasus DBD pada tahun 2019. Pada tahun 2022, terdapat 116.127 kasus DBD di Indonesia dan 4.349 kasus DBD di Provinsi Banten. Di Puskesmas Gembong, kasus DBD meningkat dalam 3 bulan terakhir. Hasil mini-survey menunjukkan adanya permasalahan faktor lingkungan di masyarakat. Akar permasalahan adalah kurangnya pengetahuan tentang DBD dan pencegahan 3M plus bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat Desa Tobat tentang DBD dan pencegahan 3M Plus. Kegiatan tersebut dilakukan dengan pendekatan diagnosa komunitas. Identifikasi masalah dilakukan dengan menggunakan paradigma Blum. Prioritas permasalahan ditentukan dengan teknik non-scoring Delphi. Akar permasalahan ditentukan dengan metode tulang ikan. Intervensi berupa promosi kesehatan mengenai DBD dan pencegahan 3M Plus. Evaluasi kegiatan dilakukan dengan pendekatan sistem. Hasil intervensi menunjukkan 30 peserta (100%) mengalami peningkatan nilai pre-test ke post-test dan 28 (93,3%) peserta memperoleh nilai post-test ? 80. Kegiatan diagnosa komunitas ini menghasilkan peningkatan pengetahuan pada masyarakat Desa Tobat mengenai DBD dan pencegahan 3M Plus. Diharapkan kasus baru DBD di wilayah kerja Puskesmas Gembong dapat menurun

    477

    full texts

    657

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Health Information : Jurnal Penelitian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇