Online Electronic Journal Portal Universitas Negeri Surabaya
Not a member yet
41952 research outputs found
Sort by
Planning Pengelolaan program P5BK untuk meningkatkan citra lembaga melalui proyek Kebekerjaan (studi kasus: SMK Kartika 1-2 Padang): Perencanaan, pengkoordinasian, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan
Kurikulum merdeka merupakan gagasan baru dari Kemendikbud. Salah satunya adalah di
sekolah menengah kejurusan (SMK) dimana kurikulumnya adalah P5BK (Proyek
penguatan profil pelajar Pancasila Budaya Kerja) memiliki 9 tema yang menarik. Tim
pengelolaan P5BK haruslah memahami 9 tema tersebut yang dapat diaplikasikan dengan
keadaan sekolahnya. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini untuk menganilisis dan
mendeskripsikan 1). Perencanaan, 2). Pengorganisasian, 3).Pengarahan,
4).Pengkoordinasian, 5). Pengawasan terhadap Pengelolaan P5BK untuk meningkatkan
citra Lembaga melalui proyek kebekerjaan. Tempat penelitian ini di SMK Kartika 1-2
Padang terletak di Jl. Simpang Haru, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat. Smk ini
memiliki 4 program keahlian. Antara lain; 1. Akuntansi, 2. Pemasaran, 3. Administrasi
Perkantoran, 4. Teknik Komputer dan Jaringan. Penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif dengan cara menelaah data secara deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah
Wakasek Kurikulum, Wakasek Humas, Koordinator P5BK, dan 2 Peserta didik. Teknik
pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Citra lembaga
pada penelitian dilihat dari hasil akhir dari P5BK tema Kebekerjaan sebagai bahan
presentasi untuk mempromosikan SMK ini ke sekolah SMP yang dituju. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pengelolaan P5BK untuk meningkatkan citra Lembaga melalui
proyek kebekerjaan dikatakan berhasil karena sudah memenuhi standar modul P5BK dan
Kerjasama tim yang baik. Sehingga dapat memberikan dampak yang baik citra Lembaga.
Kata Kunci: Kurikulum merdeka, P5BK, Citra lembag
Self Injury : Faktor dan Dampak Psikologis Pada Dewasa Awal (Gen-Z)
Non-Suicidal Self-Injury (NSSI) is an act of self-harm committed by individuals without the intention to end their lives. Self-injury, a behavior that can have a significant psychological impact on early adult individuals. This study aims to deepen the understanding of the trigger factors and psychological impacts experienced by early adult individuals who commit selfinjury. The purpose of this study is to analyze the factors and impact of self-injury psychology and explore how self-injury relates to family and environmental factors. This study used a qualitative approach with semi-structured interviews. The subjects in this study were three early adult women aged 20 years who experienced self-injury behavior. This study results that the factors that trigger self-injury include loneliness, broken home, strict parents, problems arising from the family, communication with parents, social environment, response to problems. Study subjects described feelings of relief and decreased tension as a positive impact, but also experienced anxiety and addiction as a negative impact of self-injury behavior
Gambaran Penerimaan Diri Remaja yang Mengalami Perceraian Orang Tua
Menerima kondisi yang tidak utuh bukanlah perkara yang mudah, apalagi jika menyangkut keluarga. Dampak dari perceraian dapat menimbulkan luka batin dan penerimaan diri remaja yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses penerimaan diri remaja yang mengalami perceraian orang tua. Penerimaan diri merupakan kondisi individu yang memiliki kemampuan dalam menerima kelebihan dan kelemahan yang dimiliki. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif fenomenologi. Fenomena pada penelitian ini yaitu tingginya angka perceraian orang tua di Indonesia. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu wawancara semi terstruktur dan menggunakan analisis Interpretative Phenomenological Analysis kepada empat subjek remaja yang mengalami perceraian orang tua.Tiga tema utama yaitu proses percereaian subjek, dampak perceraian, serta proses penerimaan diri menjadi temuan dalam penelitian ini. Terdapat tujuh hal yang mempengaruhi proses penerimaan diri subjek; memiliki perasaan sederajat, percaya akan kemampuan yang dimiliki, rasa tanggung jawab, orientasi keluar diri, memiliki pendirian, menyadari adanya keterbatasan, dan menerima sifat kemanusiaan. Dukungan sosial dari ibu, teman, maupun orang terdekat lainnya memberikan pengaruh signifikan dalam pemerimaan diri subjek
Kecenderungan Online Impulsive Buying Ditinjau dari Jenis Kelamin
Penelitian ini dimotivasi oleh kemajuan teknologi yang membawa perubahan mode belanja dari yang sebelumnya offline store menjadi online store. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecenderungan online impulsive buying ditinjau dari jenis kelamin. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan sampel berjumlah 240 individu di Universitas X di Kota Surabaya, Jawa Timur. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dimana sampel harus memiliki kriteria yang dibutuhkan dalam penelitian ini yaitu pengguna aktif e-commerce. Instrumen yang digunakan adalah Impulsive Buying Scale berjumlah 13 aitem pernyataan menggunakan Google Formulir. Teknik analisa data menggunakan metode statistik deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa terdapat perbedaan skor kecenderungan online impulsive buying antara laki-laki dan perempuan. Skor rata-rata yang didapatkan oleh perempuan lebih tinggi (41,95) daripada skor yang didapatkan oleh laki-laki (39,34). Temuan lain dalam penelitian ini adalah kecenderungan online impulsive buying pada laki-laki dan perempuan berada dalam kategori sedang. Penelitian ini berhasil membuktikan bahwa online impulsive buying lebih sering dialami oleh perempuan
Hubungan antara Knowledge Sharing dan Pemberdayaan Psikologis dengan Perilaku Inovatif pada Guru Sekolah Menengah Kejuruan Negeri
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara knowledge sharing dan pemberdayaan psikologis dengan perilaku inovatif pada guru Sekolah Menengah Kejuruan Negeri. Penelitian ini menggunakan kuantitatif korelasional. Teknik sampling yang digunakan yaitu sampel jenuh dengan subjek berjumlah 79 guru. Data diambil menggunakan skala psikologis yang dikembangkan oleh peneliti berupa skala perilaku inovatif yang mengacu teori dari De Jong dan Den Hartog (2010), skala knowledge sharing dari Hoof dan Ridder (2004), dan skala pemberdayaan psikologis dari Spreitzer (2008). Data dianalisis menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu terdapat hubungan positif dan signifikan antara knowledge sharing dengan perilaku inovatif sebesar 0,756, terdapat hubungan positif dan signifikan antara pemberdayaan psikologis dengan perilaku inovatif sebesar 0,752, dan terdapat hubungan positif dan signifikan antara knowledge sharing dan pemberdayan psikologis dengan perilaku inovatif sebesar 0,604 atau 64%. Peningkatan knowledge sharing dan pemberdayaan psikologis akan diikuti pula peningkatan pada perilaku inovatif yang ditunjukan oleh guru
Gambaran Resiliensi Janda Cerai Mati yang Tidak Menikah Di Tengah Stigma Masyarakat Madura
Hubungan antara Modal Psikologis dengan Readiness to Change pada Guru Sekolah Dasar Swasta X
Penelitian dilakukan guna mengetahui hubungan yang terjadi antara modal psikologis dengan readiness to change pada guru sekolah dasar swasta X. Penggunaan metode pada penelitian adalah kuantitatif dengan instrumen berupa skala modal psikologis dan skala readiness to change. Teknik sampling menggunakan sampling jenuh, yaitu sebanyak 58 guru tetap. Data dianalisis menggunakan uji korelasi pearson product moment menggunakan aplikasi SPSS 25.0 dan memperoleh besaran nilai signifikansi, yaitu 0.000 (<0,05) dengan artian adanya hubungan signifikan dan positif antara modal psikologis dengan readiness to change. Selain itu, didapatkan nilai dari koefisien korelasi senilai 0.837 yang masuk dalam kategori sangat kuat. Hasil yang telah diperoleh mengandung arti bahwa modal psikologis berhubungan secara positif dan searah dengan readiness to change dengan hubungan yang sangat kuat. Dengan demikian, semakin meningkat modal psikologis maka akan semakain meningkatkan readiness to change pada guru sekolah dasar swasta X
Hubungan antara Body Image dengan Kepuasan Hidup Pada Remaja
Tanpa disadari kepuasan hidup adalah tingkat perilaku yang memiliki arti dan tujuan hidup seseorang. Body image menjadi salah satu faktor penyebab yang mendominasi bagi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara body image dengan kepuasan hidup pada remaja. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan SMK X di Kota Surabaya sebagai tempat penelitian. Sampel penelitian ini melibatkan rentan umur 14-17 tahun pada siswi remaja tengah perempuan kelas XI kuliner dengan jumlah sampel 120 orang. Teknik pengumpulan data yang dipergunakan menggunakan kuesioner. Instrumen pada penelitian ini menggunakan skala body image dan skala kepuasan hidup (The Riverside Life Satisfaction) Teknik analisis data yang digunakan adalah uji korelasi. Hasil uji hipotesis menujukkan nilai koefisien korelasi sebesar 0,243 (r=0,243) dan taraf signifikan 0,008 (p<0,05) artinya menunjukkan hubungan body image dengan kepuasan hidup termasuk kedalam kategori rendah. Hasil analisis data yang didapatkan menunjukkkan bahwa hipotesis diterima, yaitu terdapat hubungan antara body image dengan kepuasan hidup. peneliti selanjutnya dapat memakai sasaran lain seperti remaja awal, remaja akhir, dewasa awal bahkan dapat ditinjau dari jenis kelamin, media sosial dan lain sebagainya
Gambaran Loneliness pada Perempuan Dewasa Awal yang Melakukan Perilaku Self-Harm
Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran loneliness pada perempuan dewasa awal yang melakukan perilaku self-harm. Pembahasan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan 5 orang partisipan. Data yang diperoleh diolah dengan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Untuk meningkatkan validitas data, 5 orang penting lainnya dari partisipan juga diwawancarai. Hasil yang diperoleh menunjukkan adanya gejala perilaku, kognitif, dan psikososial pada individu yang melakukan self-harm selaras dengan aspek-aspek-aspek loneliness. Adanya perbedaan gambaran kesepian pada orang dengan riwayat self-harm dengan individu pada umumnya sehingga mempengaruhi dinamika psikologis pada orang yang melakukan self-harm. Di sisi lain, penting juga untuk mempertimbangkan adanya riwayat gangguan kejiwaan pada orang yang memiliki riwayat self-harm