Online Electronic Journal Portal Universitas Negeri Surabaya
Not a member yet
41952 research outputs found
Sort by
PROJECT BASED LEARNING MODEL (PjBL) TO IMPROVE COLLABORATION SKILLS AND STUDENT COGNITIVE LEARNING RESULTS
This research aims to describe the improvement in collaboration skills and cognitive learning outcomes of students using the PjBL learning model on mixed separation material. This type of research is quantitative research with a one-group pretest-posttest design. Data collection techniques use observation of collaboration skills, cognitive learning outcomes tests, and distribution of questionnaires. The results obtained from this research show that students' collaboration skills have increased at each meeting, from the collaborative category to very collaborative. Student learning outcomes have increased as evidenced by the average N-Gain score in the medium category. The results of the paired t-test show that there is a significant difference between cognitive learning outcomes before and after the implementation of the PjBL learning model. Based on the results obtained, it can be concluded that the implementation of the PjBL learning model has succeeded in improving collaboration skills and cognitive learning outcomes for junior high school students
VALIDITAS PERANGKAT AJAR BERBASIS INKUIRI TERBIMBING UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS PADA MATERI BUMI DAN TATA SURYA
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kevalidan perangkat ajar berbasis inkuiri terbimbing pada materi bumi dan tata surya, pada topik rotasi bumi, gerhana dan fase bulan untuk melatihkan keterampilan berpikir kritis. Perangkat ajar yang dideskripsikan meliputi rencana pelaksanaan pembelajaran, Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), dan lembar uji keterampilan berpikir kritis. Jenis penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik survei yang dilakukan oleh tiga validator ahli, yaitu dua dosen dan sati guru IPA SMP. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar validasi. Hasil validasi yang didapatkan berupa skor dan saran untuk perbaikan. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis validasi ahli menggunakan modus. Hasil validasi rencana pelaksanaan pembelajaran, Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), dan lembar uji keterampilan berpikir kritis menunjukkan hasil yang sama yaitu modus sebesar 4 sehingga termasuk dalam kategori valid. Hasil tersebut menunjukkan bahwa perangkat ajar dikatakan valid dan layak digunakan dalam proses pembelajaran dengan dilakukan revisi berdasarakan saran yang telah diberikan validator. Kesimpulan penelitian ini adalah perangkat ajar berbasis inkuiri terbimbing dinyatakan layak dari aspek validitas untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis pada materi bumi dan tata surya khususnya pada topik rotasi, gerhana dan fase bulan
ANALISIS STRATEGI KOMUNIKASI DAN KREATIVITAS KONTEN KREATOR DALAM MEMPROMOSIKAN PRODUK SHOPEE AFFILIATE MELALUI MEDIA SOSIAL
This research aims to analyze the communication strategies and creativity of content creators in promoting products on social media, with a focus on the Shopee Affiliate program. Identify strategies and creative elements used by content creators to increase the effectiveness of product promotions on social media. This research uses observation and interview methods with four informants who are active as content creators on various social media platforms. Data was collected through observation, interviews and documentation. The research results show that content creators develop promotional media through the use of attractive visuals, educational content, language that is easy to understand, and the use of viral elements such as hashtags and popular sounds. These strategies help create interesting content and can increase engagement with the audience. The use of effective communication strategies and creativity in creating content has been proven to increase the success of Shopee Affiliate product promotions on social media. Content creators need to continue to innovate and follow trends to maintain the appeal of the content they create.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi dan kreativitas konten kreator dalam mempromosikan produk di media sosial, dengan fokus pada program Shopee Affiliate. Mengidentifikasi strategi dan elemen kreativitas yang digunakan oleh konten kreator untuk meningkatkan efektivitas promosi produk di media sosial. Penelitian ini menggunakan metode observasi dan wawancara terhadap empat informan yang aktif sebagai konten kreator di berbagai platform media sosial. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konten kreator mengembangkan media promosi melalui penggunaan visual yang menarik, konten edukatif, bahasa yang mudah dimengerti, dan pemanfaatan elemen viral seperti hashtag dan sound populer. Strategi-strategi ini membantu menciptakan konten yang menarik dan mampu meningkatkan engagement dengan audiens. Penggunaan strategi komunikasi yang efektif dan kreativitas dalam pembuatan konten terbukti dapat meningkatkan keberhasilan promosi produk Shopee Affiliate di media sosial. Konten kreator perlu terus berinovasi dan mengikuti tren untuk menjaga daya tarik konten yang dibuat
Pengembangan Modul Merias Diri Dasar Bagi Peserta Didik Tunanetra Kelas XI di SLB Negeri Gedangan Sidoarjo
Abstrak
Keterampilan merias diri dasar membantu peserta didik tunanetra meningkatkan kepercayaan diri dan penerimaan sosial di lingkungan masyarakat, serta dapat menjadikan peserta didik lebih mandiri dalam kehidupan sehari-hari tanpa bergantung pada bantuan orang lain. Penelitian pengembangan ini bertujuan mengembangkan modul merias diri dasar yang layak dan sesuai dengan peserta didik tunanetra. Penelitian ini merupakan jenis penelitian dan pengembangan (Research and Development). Model yang digunakan dalam penelitian pengembangan ini adalah model pengembangan ADDIE, penelitian ini dilakukan hanya sampai tiga langkah, yaitu 1) Analyze, 2) Design, 3) Development. Data dianalisis menggunakan data persentase. Penelitian pengembangan dilaksanakan di SLB Negeri Gedangan Sidoarjo. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah ahli materi, ahli media dan praktisi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa modul merias diri dasar bagi peserta didik tunanetra layak dan sesuai dengan presentase kelayakan (1) penilaian dari ahli materi mencapai 74% (2) penilaian dari ahli media mencapai 100% (3) penilaian dua praktisi dengan rata-rata mencapai 100% dengan kategori sangat layak digunakan. Berdasarkan hasil penelitian modul merias diri dasar layak digunakan dalam pembelajaran. Implikasi hasil penelitian yaitu meningkatkan pengetahuan peserta didik tunanetra tentang merias diri dasar melalui penggunaan modul, mengembangkan modul yang mudah dipahami dalam kebahasaannya, dan modul dapat digunakan secara mandiri dimana saja dan kapan saja, peserta didik juga dapat menjadi lebih mandiri dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam merias diri dasar tanpa bergantung pada bantuan orang lain, sekaligus meningkatkan rasa percaya diri.
Kata Kunci: modul, merias diri dasar, tunanetra
Abstract
Basic makeup skills help visually impaired students build self-confidence and gain social acceptance in their communities. This research aims to develop a feasible and suitable basic makeup module for visually impaired students using the Research and Development (R&D). The model used in this development research is the ADDIE development model, this research was carried out in only three steps, namely1) Analyze, 2) Design, 3) Development. Data were analyzed using data percentages. Development research was carried out at SLB Negeri Gedangan Sidoarjo. The subject used in this study were material experts, media experts, and practitioners.
The results of the research show that the basic makeup module is feasible and in accordance with the feasibility percentage (1) asessment from material experts reaches 74%, (2) asessment from media experts reaches 100%, (3) asessment from two practitioners with an average of 100% with the category very suitable for use. Based on the research results, the basic meridian module is suitable for use in learning. The implications of the research results are about increasing visually impaired student knowledge of basic makeup through the use of modules, developing modules that are easy to understand in their languange, and modules that can be used independently anywhere and at any time. Students can also become more independent in every life, especially in doing basic makeup without relying on the help of others, while increasing their self confidence.
Keywords: module, basic makeup, visually impaire
MANAJEMEN PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU DI ERA DIGITAL: STUDI KASUS IMPLEMENTASI DI PONDOK PESANTREN SABILILLAH SURABAYA
Penerimaan peserta didik baru (PPDB) di era digital menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi institusi pendidikan, termasuk pondok pesantren, untuk meningkatkan efisiensi, akuntabilitas, dan aksesibilitas dalam proses seleksi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manajemen penerimaan peserta didik baru di Pondok Pesantren Sabilillah Surabaya, dengan fokus pada implementasi sistem berbasis digital. Menggunakan pendekatan studi kasus, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana teknologi digital diintegrasikan dalam tahapan pendaftaran, seleksi, dan pengumuman hasil, serta dampaknya terhadap kepuasan calon santri dan efektivitas proses penerimaan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan manajemen pesantren dan survei terhadap calon peserta didik serta orang tua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan teknologi digital di PPDB Pondok Pesantren Sabilillah Surabaya mampu meningkatkan transparansi, mempercepat proses seleksi, dan memberikan kemudahan akses bagi peserta didik dari berbagai lokasi. Namun, terdapat tantangan dalam hal adaptasi teknologi oleh orang tua dan santri dari daerah terpencil. Studi ini memberikan rekomendasi mengenai peningkatan infrastruktur digital serta pelatihan bagi pemangku kepentingan untuk mengoptimalkan PPDB berbasis digital di pondok pesantren
Kata kunci : Manajemen Penerimaan Peserta Didik Baru, Era Digital, Pondok Pesantren, Sistem Berbasis Digital, Transparansi, Efisiensi, Pondok Pesantren Sabilillah Surabay
PENGEMBANGAN MEDIA POSTER KOMIK MATERI HAK DAN KEWAJIBAN UNTUK SISWA SEKOLAH DASAR
Dalam proses pembelajaran, Pendidikan Pancasila merupakan salah satu mata pelajaran yang sulit dipahami. Selain itu, siswa SDN Lakarsantri III/474 sering kali merasa bosan dikarenakan hanya terpaku pada penjelasan guru dan teks di buku sehingga menyebabkan kurangnya responsif siswa dalam kegiatan pembelajaran. Salah satu faktor penyebab pembelajaran kurang efektif adalah kurangnya inovasi guru dalam pembelajaran. Berdasarkan permasalahan yang ditemukan, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan media poster komik yang efektif dalam pembelajaran Pancasila di sekolah dasar. Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian R&D (Research and Development) dengan model pengembangan ADDIE yaitu analyze (analisis), design (desain), development (pengembangan), implementation (implementasi), dan evaluation (evaluasi). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Lakarsantri III/474 Surabaya yang berjumlah 14 siswa.
Hasil uji validasi materi memperoleh hasil 89,23% dan uji validasi media memperoleh hasil 90,90%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media poster komik efektif dipakai sebagai alternatif media pembelajaran siswa berdasarkan hasil analisis N-Gain yang menunjukkan perolehan nilai 0,81 dengan kategori tinggi dalam pencapaian hasil belajar siswa. Media poster komik sangat praktis digunakan untuk media pembelajaran materi hak dan kewajiban di sekolah dari hasil angket respon siswa yang memperoleh hasil 94,57% dan hasil wawancara guru yang menyimpulkan bahwa media poster komik sangat cocok diterapkan pada pembelajaran Pendidikan Pancasila materi hak dan kewajiban di sekolah.
Kata Kunci : media, poster komik, materi hak dan kewajiban
HEGEMONI AKADEMIS: ANALISIS SOSIOLOGI SASTRA DALAM NOVEL PENAKLUK BADAI KARYA AGUK IRAWAN MN
Penelitian ini mengkaji konsep hegemoni sebagaimana direpresentasikan dan interpretasikan dalam novel Penakluk Badai karya Aguk Irawan MN. Menggunakan pendekatan sosiologi sastra, penelitian ini menggali dinamika kekuasaan antara guru dan murid dalam konteks pendidikan kolonial. Dengan menganalisis teks melalui lensa teori hegemoni Gramsci, penelitian ini berusaha mengungkap bagaimana faktor-faktor budaya, ideologi, dan institusional berkontribusi pada pemeliharaan struktur kekuasaan dominan.Temuan-temuan menunjukkan bahwa novel tersebut secara efektif menggambarkan berbagai bentuk hegemoni, termasuk hegemoni budaya yang terwujud dalam pelestarian metode pengajaran tradisional dan pemujaan tokoh-tokoh agama, hegemoni ideologi yang terlihat dalam penyebaran nilai-nilai dan kepercayaan tertentu, serta hegemoni institusional yang ditunjukkan melalui peran pesantren sebagai pusat perlawanan dan pelestarian budaya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Penakluk Badai menawarkan eksplorasi yang bernuansa tentang interaksi kompleks antara kekuasaan, pengetahuan, dan identitas dalam konteks kolonial dan pasca-kolonial Indonesia. Novel ini menyoroti pengaruh abadi dari kekuatan hegemonik dalam membentuk kesadaran individu dan kolektif, sekaligus menunjukkan potensi untuk perlawanan dan transformasi.
Kata Kunci: Sosiologi Sastra, Hegemoni, Penakluk Badai.
 
PENERAPAN MEDIA QUIZLET UNTUK KETERAMPILAN MENULIS KALIMAT SEDERHANA BAHASA JERMAN KELAS XI SMAN 1 MENGANTI
Writing skills are an essential part of learning German and should be developed effectively. Based on discussions with the German language teacher, it was observed that the low writing proficiency of students in class XI-7 was linked to the limited variety of teaching media used in lessons, particularly for writing activities. To address this issue, Quizlet was introduced as a learning tool. This study aimed to examine how Quizlet was implemented and to evaluate its impact on improving students’ ability to write simple sentences in German at SMAN 1 Menganti. The research adopted a qualitative approach, presenting results in descriptive form. Findings revealed significant improvements through the use of Quizlet. During the first session, observation scores reached 16 points (66.67%), categorized as “good,” and rose to 20 points (83.33%) in the second session, categorized as “very good.” Additionally, students’ writing test scores showed noticeable improvement from the first test to the second. In conclusion, Quizlet proves to be an effective medium for enhancing students’ skills in writing simple German sentences, particularly when supported with random vocabulary exercises.
Keywords: Quizlet, writing skills, learning outcomes, German language
PIPE CLEANER SEBAGAI MEDIA KARYA SENI RUPA TIGA DIMENSI KELAS X SMA KHADIJAH SURABAYA
Dalam bidang kesenian terdapat tren pemanfaatan pipe cleaner yang sedang ramai di sosial media. Pada kalangan remaja, tidak semua remaja secara otomatis tertarik dalam tren seni yang sedang berkembang, meskipun teknologi telah memberikan inspirasi melalui platform digital. Oleh karena itu, perlunya memfasilitasi eksplorasi kreativitas remaja melalui pembelajaran seni rupa di sekolah dengan mengkolaborasikan antara teknologi dan seni untuk pemanfaatan pipe cleaner sebagai media pembelajaran.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan proses, hasil karya, dan tanggapan peserta didik dan guru seni budaya pada kegiatan pembelajaran seni budaya dengan memanfaatkan pipe cleaner sebagai media karya tiga dimensi pada peserta didik kelas X SMA Khadijah Surabaya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan sifat deskriptif. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara guru seni budaya, angket responden peserta didik terhadap kegiatan serta hasil pembelajaran seni rupa tiga dimensi dengan media pipe cleaner, dan dokumentasi kegiatan penelitian. Adapun teknik analisis data yang digunakan melalui reduksi data, penyajian data dan kesimpulan atau verifikasi. Validasi menggunakan teknik triangulasi data.
Proses pembelajaran dilaksanakan dalam tiga pertemuan yakni (1) penyampaian materi mengenai pipe cleaner sebagai media seni rupa tiga dimensi oleh peneliti dan pembahasan karya yang akan dibuat, pembagian kelompok, demonstrasi teknik merangkai bunga dari pipe cleaner, (2) membuat bunga dari pipe cleaner dengan jumlah 4 bunga utuh, (3) merangkai karya dari pipe cleaner yang telah dibuat dengan konsep seni ikebana dan tahap finishing sebelum dikumpulkan.
Hasil pembelajaran pada 26 peserta didik kelas X peminatan seni rupa yang dibagi menjadi 6 kelompok dan menghasilkan 6 karya penataan yang berbeda-beda hingga perolehan penilaian hasil karya sudah cukup baik, meskipun terdapat beberapa kesulitan yang dialami peserta didik seperti memotong pipe cleaner, membentuk pipe cleaner, dan penggunaan lem tembak. Terdapat empat kelompok yang memperoleh penilaian kriteria baik dengan nilai 83, 85, 87 dan 88. Sedangkan 2 kelompok lainnya memperoleh penilaian kriteria sangat baik dengan nilai 92 dan 93.
Respon dari peserta didik dan guru dapat dianalisis melalui hasil angket respon peserta didik dan wawancara guru. Hasil angket respon peserta didik setelah pembelajaran seni rupa tiga dimensi dengan media pipe cleaner, data yang diperoleh pada kriteria setuju secara keseluruhan sebanyak 80% mendapat tanggapan positif dan kelayakan dari peserta didik. Sedangkan hasil wawancara guru memperoleh tanggapan bahwa beliau tertarik dan mengapresiasi terhadap media baru yang sedang tren di media sosial serta menganggap media pipe cleaner layak untuk diterapkan pada pembelajaran. Dari respon peserta didik dan guru seni budaya SMA Khadijah Surabaya dapat disimpulkan bahwa hasil karya peserta didik sudah dapat dikatakan berhasil dan layak untuk diterapkan dalam pembelajaran.
Profil Soal Numerasi yang Dikembangkan oleh Calon Guru Matematika
Prospective teachers are at the forefront in forming quality students. As a prospective teacher, it is good to be able to master the material given to students, including prospective teacher’s mastery of numeracy questions. For this reason, this research aims to determine the numeracy abilities of prospective teachers in applying problems in everyday life. This qualitative descriptive research uses numeracy questions created by students by providing a sample of 27 students. The technical analysis used is manual analysis by two analysts and Cohen Kappa analysts agreed that the quality of the questions being developed was still at the lowest level. Apart from that, grouping numeracy questions based on cognitive level, context, and domain content. Furthermore, the Cohen Kappa analysis shows a value of 1, which means there has been good agreement between the two analysts