Online Electronic Journal Portal Universitas Negeri Surabaya
Not a member yet
41952 research outputs found
Sort by
Validitas dan Kepraktisan e-LKPD Berbasis Learning Cycle 7E untuk Melatih Keterampilan Berpikir Kritis Peserta Didik pada Sub Materi Transpor Membran
Kurikulum merdeka sebagai bentuk inovasi dalam sistem pendidikan mampu mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kurikulum merdeka memuat Profil Pelajar Pancasila yang berisi aspek berpikir kritis yang termasuk dalam “The 4Cs” untuk memenuhi tuntutan abad 21. Tujuan penelitian yaitu untuk mengembangkan e-LKPD learning cycle 7E untuk melatih berpikir kritis pada sub materi transpor membran yang valid dan praktis. Penelitian ini menggunakan model 4D (Define, Design, Development, dan Disseminate). Kevalidan e-LKPD didapat dari hasil validasi oleh ahli pendidikan, ahli materi, serta guru biologi. Kepraktisan e-LKPD didapat dari hasil observasi aktivitas peserta didik dan angket respons peserta didik. Penelitian ini diujicobakan kepada kelas XI-F MA Negeri 1 Jombang yang berisi 36 peserta didik. Hasil penelitian yaitu e-LKPD mendapatkan validitas rata-rata yaitu 3,69 dengan kriteria sangat valid. Hasil kepraktisan sesuai aktivitas peserta didik mendapatkan persentase 100% dan angket respons mendapatkan persentase 98,8% dengan kriteria sangat praktis. Kesimpulan dari penelitian yaitu e-LKPD yang dihasilkan valid dan praktis untuk pembelajaran serta mampu melatihkan berpikir kritis peserta didik.
Kata Kunci: Validitas, kepraktisan, e-LKPD, Learning Cycle 7E, berpikir kritis, transpor membran
IMPLEMENTASI E-LKPD KOLOID BERBASIS PROBLEM BASED LEARNING-STEM PADA MATERI SISTEM KOLOID UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar dan kemampuan berpikir kritis siswa pada materi sistem koloid dengan menerapkan e-LKPD berbasis PBL-STEM. Penelitian menggunakan metode desain one group pre-test post-test dengan melibatkan 35 siswa kelas XI IPA 1 SMAN 1 Kedamean. Instrumen penelitian meliputi lembar keterlaksanaan pembelajaran dan tes berupa pilihan ganda dan uraian. Analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlaksanaan pembelajaran sangat baik dengan persentase 91,8%. Nilai rata-rata pre-test dan post-test hasil belajar adalah 52,3 dan 82,3, sedangkan nilai rata-rata pre-test dan post-test kemampuan berpikir kritis adalah 48,29 dan 79,71. Persentase N-gain untuk hasil belajar kategori sedang sebesar 25,7% dan kategori tinggi sebesar 74,3%. Persentase N-gain aspek berpikir kritis kategori sedang sebesar 25,7% dan kategori tinggi sebesar 74,3%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan e-LKPD berbasis PBL-STEM dapat meningkatkan hasil belajar dan kemampuan berpikir kritis siswa pada materi sistem koloid
ANALISIS KETERAMPILAN KOLABORASI PESERTA DIDIK MENGGUNAKAN MODEL PBL (PROBLEM BASED LEARNING) BERBASIS KEARIFAN LOKAL
Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengembangan keterampilan kolaborasi peserta didik menggunakan model PBL berbasis kearifan lokal. Sampel yang digunakan yaitu total 61 peserta didik yang terbagi dalam kelas eksperimen 32 anak dan kelas kontrol 29 anak, dengan teknik purposive sampling. Desain dalam penelitian ini yaitu The Static-Group Comparison Design. Penelitian menggunakan instrumen yang meliputi lembar observasi keterampilan kolaborasi, keterlaksanaan pembelajaran, serta angket respon terhadap pembelajaran. Analisis dilakukan terhadap data keterampilan kolaborasi melalui perhitungan persentase dan uji Mann Whitney untuk menguji dugaan sementara. Penelitian yang dilakukan mendapat hasil berupa keterampilan kolaborasi peserta didik menjadi naik dan lebih tinggi kelas eksperimen dibandingkan dengan kelas kontrol
Construction of the Rusunawa X Community Regarding Sex Education as an Effort to Prevent Pregnancies of Teenage Girls Outside of Marriage: Konstruksi Komunitas Rusunawa X Tentang Pendidikan Seks Sebagai Upaya Mencegah Kehamilan Remaja Putri Di Luar Nikah
Social construction in communities influences views and norms about sexual education, impacting adolescent sexual behavior and out-of-wedlock pregnancies. The stigma and taboo surrounding sexual education can hinder open communication, affect adolescents' decisions about sexual relationships, and contribute to the psychological and social impacts of teenage pregnancy. This study aims to understand the influence of sex education provided by families on the knowledge and understanding of reproductive health among female adolescents in Rusun A, while exploring the effects of social constructions accompanying the taboo stigma towards sexual education, thus affecting adolescent dating behaviors. The research methodology is grounded theory with subjects being the residents of Rusun A (Rumah Susun A) located at Jl. Tanah Merah V, Tanah Kali Kedinding, Kec. Kenjeran, Kota Surabaya. Data collection techniques include interviews, with stages of analysis including coding, concept formation, categorization, and theory development. Overall, the community construction in Rusunawa Tanah Merah has shown great potential in integrating sexual education as a preventive effort against teenage out-of-wedlock pregnancies. Through various social, religious, and educational activities held at Rusunawa, this approach can create an environment that supports better understanding of reproductive health and healthy behavior among its residents.
Konstruksi sosial di masyarakat memengaruhi pandangan dan norma tentang Pendidikan seksual yang berdampak pada perilaku seksual remaja dan kehamilan di luar nikah. Stigma dan tabunya pendidikan seksual dapat menghambat komunikasi terbuka, memengaruhi keputusan remaja mengenai hubungan seksual, dan berkontribusi pada dampak psikologis dan sosial dari kehamilan remaja. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk memahami pengaruh pendidikan seks yang diberikan oleh keluarga pada remaja putri Rusun A tentang pengetahuan dan pemahaman kesehatan repoduksi, sambil menggali dampak yang timbul dari konstruksi sosial yang menyertai stigma tabu terhadap pendidikan seksual sehingga berdampak pada gaya berpacaran remaja. Metode penelitian ini dengan metodologi grounded research dengan subjek Masyarakat penghuni Rusun A (Rumah Susun A) yang beralamat di Jl. Tanah Merah V, Tanah Kali Kedinding, Kec. Kenjeran, Kota Surabaya. Teknik pengumpulan data penelitian ini menggunakan Teknik wawancara dengan tahap analisis diantaranya tahap pengkodean, tahap pembentukan konsep, tahap kategorisasi dan tahap pembentukan teori. Secara keseluruhan, konstruksi komunitas di Rusunawa Tanah Merah telah menunjukkan potensi besar dalam mengintegrasikan pendidikan seks sebagai upaya preventif terhadap kehamilan remaja di luar nikah. Melalui berbagai kegiatan sosial, keagamaan, dan pendidikan yang diselenggarakan di Rusunawa, pendekatan ini dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pemahaman yang lebih baik tentang kesehatan reproduksi dan perilaku yang sehat di antara para penghuninya.
Kata kunci: Kehamilan; Konstruksi Social; Remaja; Pendidikan Seksual
 
Tingkat Kesadaran Masyarakat Dalam Menjaga Lingkungan Sungai Karanggayam Kelurahan Pucanganom Kecamatan Sidoarjo Kabupaten Sidoarjo
Penelitian ini dilatar belakangi oleh fenomena pencemaran sungai yang terjadi di Kabupaten Sidoarjo akibat TPA (Tempat Pembuangan Akhir) yang terletak di Kecamatan Jabon mengalami kelebihan beban. Hal ini mengakibatkan sampah yang tidak tertampung terlihat di aliran sungai dan membuat sungai menjadi tercemar. Salah satu sungai di Kabupaten Sidoarjo yang mengalami pencemaran akibat sampah adalah Sungai Karanggayam yang terbagi menjadi dua sisi yakni sisi selatan dan sisi utara. Sungai Pencemaran dapat terjadi kesadaran masyarakat sekitar. Penyebab lain terjadinya polusi juga dapat disebabkan oleh kondisi fisik di sungai. Tujuan penelitian ini (1) Mengetahui tingkat kesadaran masyarakat pada sisi selatan dan sisi utara Sungai Karanggayam dalam menjaga sungai, (2) Mengetahui kondisi fisik Sungai Karanggayam. Pada penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis deskriptif yang digunakan untuk menjelaskan fakta di lokasi penelitian. Memanfaatkan teknik pengambilan data kuisioner untuk mengetahui tingkat kesadaran responden dan observasi untuk mengetahui kondisi fisik Sungai Karanggayam. teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan rumus lameshow dengan jumlah 100 responden. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Berdasarkan sampel keterangan dari 100 responden sebagai penelitian diperoleh hasil penelitian yang menunjukkan bahwa masyarakat di sisi selatan Sungai Karanggayam masyarakatnya memiliki tingkat kesadaran yang tinggi, sedangkan di sisi utara Sungai Karanggayam memiliki tingkat kesadaran yang cukup dalam menjaga lingkungan sungai. Hasil observasi pada kondisi fisik Sungai Karanggayam diperoleh kecepatan rata-rata sungai berada pada 19 cm/s yang termasuk pada kecepatan lambat serta berdasarkan nilai kekasaran manning Sungai Karanggayam berada pada kategori buruk. Kondisi fisik Kali Karanggayam secara kekasaran manning termasuk kategori buruk dengan perolehan terendah pada skor pengaruh nisbi penghalang dan vegetasi dengan kategori sangat tinggi. Oleh karena itu dapat disimpulkan kesadaran masyarakat tidak menjadi penyebab pencemaran Sungai Karanggayam. Penyebab pencemaran Sungai Karanggayam terdapat pada kondisi fisik sungainya baik dari aliran maupun kondisi-kondisi yang mempengaruhi kecepatan aliran. Dengan adanya penyebab tersebut, membuat Sungai Karanggayam tercemar karena aliran lambatnya menahan limbah dan sampah lebih lama pada badan sungai.
Kata Kunci : Tingkat Kesadaran Masyarakat, Pencemaran Sungai, Kondisi Fisik Sungai
 
Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Partisipasi Masyarakat Dalam Pengelolaan Waduk (Studi Kasus Waduk Gondang Desa Gondanglor Kecamatan Sugio Kabupaten Lamongan)
Abstrak
Pemanfaatan Waduk Gondang secara lokal oleh masyarakat Desa Gondanglor cukup berperan dalam kehidupan sehari-hari dimana sebagian masyarakat memanfaatkan waduk dalam aktivitas perekonomiannya seperti pada sektor pertanian, pariwisata, dan perikanan. Namun terdapat permasalahan terkait keberadaan sampah di sekitar area perairan maupun lingkungan sekitar waduk sehingga dapat mempengaruhi kualitas dan fungsi dari waduk. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis partisipasi masyarakat dan menganalisis hubungan tingkat pendidikan dengan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan waduk.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan jenis penelitian survei. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik simple random sampling dengan jumlah sampel yang digunakan yaitu 91 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, kuisioner, wawancara terstruktur, dan studi literatur dengan teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif persentase dan uji korelasi kendal tau b.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) jenis-jenis partisipasi masyarakat dalam pengelolaan Waduk Gondang antara lain partisipasi ide termasuk dalam kategori rendah, partisipasi tenaga termasuk dalam kategori rendah, dan partisipasi uang termasuk kategori rendah; (2) hubungan antara tingkat pendidikan formal dengan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan waduk gondang tidak terdapat hubungan signifikan dengan perolehan nilai sig 0,061 > 0,05; (3) hubungan antara tingkat pendidikan formal ditunjang tingkat pendidikan non formal juga tidak terdapat hubungan secara signifikan dengan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan waduk dengan perolehan nilai sig 0,113 > 0,05. Faktor pendidikan baik formal maupun non formal hanya mampu menjelaskan sebagian kecil pengaruhnya dengan partisipasi masyarakat, sehingga pengaruh dari variabel atau faktor lain diidentifikasi lebih berkorelasi dengan partisipasi masyarakat antara lain faktor ekonomi, faktor kesadaran masyarakat, faktor sosial budaya, faktor kebijakan terkait pengelolaan waduk, dan faktor jarak rumah masyarakat ke waduk.
Kata kunci : Tingkat Pendidikan, Partisipasi Masyarakat, Pengelolaan Waduk
Abstract
Local use of the Gondang Reservoir by the people of Gondanglor Village plays a significant role in daily life where some people use the reservoir in their economic activities such as in the agricultural, tourism and fisheries sectors. However, there are problems related to the presence of waste around the water area and the environment around the reservoir, which can affect the quality and function of the reservoir. This research aims to identify types of community participation and analyze the relationship between education level and community participation in reservoir management.
The research method used is a quantitative method with a survey research type. Sampling is carried out using techniques simple random sampling with the number of samples used being 91 respondents. Data collection was carried out by observation, questionnaires, structured interviews, and literature study with data analysis techniques using descriptive percentage analysis and the Kendal Tau b correlation test.
The research results show that: (1) the types of community participation in the management of the Gondang Reservoir include idea participation in the low category, energy participation in the low category, and money participation in the low category; (2) there is no significant relationship between the level of formal education and community participation in the management of the Gondang reservoir with a sig value of 0.061 > 0.05; (3) there is no significant relationship between the level of formal education and the level of non-formal education with community participation in reservoir management with a sig value of 0.113 > 0.05. Education factors, both formal and non-formal, are only able to explain a small part of their influence on community participation, so that the influence of other variables or factors identified as being more correlated with community participation include economic factors, community awareness factors, socio-cultural factors, policy factors related to reservoir management, and factor of the distance from people's houses to the reservoir.
Keywords : Education Level, Community Participation, Reservoir Managemen
PERAN DUTA GENRE (GENERASI BERENCANA) DALAM MENUMBUHKAN KESADARAN SOSIAL GENERASI-Z PADA KASUS PERKAWINAN USIA ANAK DI KECAMATAN POGGOK KABUPATEN BLITAR
Abstract
The role of teenagers in changing character and morals in social life has a top priority. The research, which was motivated by the lack of social awareness in Generation Z, regarding the promiscuity of teenagers, caused cases of child marriage to soar. Marriage dispensation is not the only way to resolve teenage problems caused by pregnancy out of wedlock. The cultivation of social awareness also includes the role of parents by providing youth education counseling by the Blitar Regency Planning Generation Ambassador. Through interviews involving Blitar Regency GenRe Ambassadors and conducting participant observation through method outreach activities in research carried out by means of interviews, observation and documentation. In the research conducted, it was found that the role of GenRe Ambassadors as an extension of the Blitar Regency Women's Empowerment, Child Protection, Population Control and Family Planning Service was an important factor in approaching peers through outreach. implemented in a re-educational normative approach which will later reduce five core issues from the standard theory of Biddle and Thomas's role in the peer group. The results of research findings in research related to the role of GenRe Ambassadors in fostering social awareness in generation z in Ponggok District, Blitar Regency can be mapped into several things. that exist, namely: 1) Conducting counseling with a normative re-educative approach to teenagers 2) Guiding parents regarding supervision of teenagers 3) Youth campaign through social media as a preventive effort to raise social awareness for teenagers 4) Skeptical attitudes towards generation z as GenRe Ambassadors carry out counseling on marriage dispensations. 5) Lack of active GenRe Ambassador members in village areas.
Keywords: Planning Generation Ambassador, Role, Social AwarenessAbstrak
Peran remaja dalam perubahan karakter dan moral dalam kehidupan bermasyarakat memiliki prioritas utama. Penelitian yang dilatarbelakangi oleh kurangnya kesadaran sosial pada generasi z dalam pergaulan bebas dari remaja menyebabkan kasus perkawinan usia anak melambung tinggi. Dispensasi kawin bukan hanya salah satunya jalan untuk menuntaskan permasalahan remaja akibat hamil diluar nikah. Penanaman kesadaran sosial pun juga mengikutsertakan peran orang tua dengan diberikanlah penyuluhan edukasi keremajaan oleh Duta Generasi Berencana Kabupaten Blitar. Melalui wawancara yang melibatkan Duta GenRe Kabupaten Blitar dan melakukan observasi partisipasi melalui kegiatan penyuluhan metode pada penelitian dilakukan dengan cara wawancara, observasi dan dokumentasi. Pada penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa peran Duta GenRe sebagai perpanjangan tangan dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Blitar menjadi salah satu faktor penting bagi pendekatan antara teman sebaya melalui penyuluhan yang dilakukan. diimplemetasikan dalam pendekatan normatif reedukatif yang nantinya mereduksi lima perkara inti dari penerapan teori peran Biddle dan Thomas dalam lingkup teman sebaya.Hasil temuan penelitian pada penelitian terkait peran Duta GenRe dalam menumbuhkan kesadaran sosial pada generasi z di Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar yaitu dapat dipetakan menjadi beberapa hal yang ada yaitu: 1) Melakukan penyuluhan dengan pendekatan secara normatif reedukatif pada remaja 2) Pembinaan kepada orang tua terkait pengawasan pada remaja 3) Kampanye keremajaan melalui sosial media sebagai upaya preventif menumbuhkan kesadaran sosial bagi remaja 4) Sikap skeptis pada generasi z saat Duta GenRe melakukan penyuluhan dispensasi perkawinan. 5) Kurangnya anggota aktif Duta GenRe di wilayah desa.
Kata Kunci: Duta Generasi Berencana, Peran, Kesadaran Sosial
 
Upaya Dinas Sosial PPPA Serta PMD dalam Mengurangi Angka Perkawinan Anak di Kecamatan Kerek Kabupaten Tuban
Child marriages that occur in Kerek District, Tuban Regency are in the highest ranking position based on data from applicants for marriage dispensation (Diska) in 2022 and 2023. The high rate of child marriages is caused by economic, cultural factors and the condition of out-of-wedlock pregnancies. The aim of this research is to determine the efforts made by the Social Service for Women's Empowerment and Child Protection (PPPA) and Community and Village Empowerment (PMD) in reducing the number of child marriages that occur in Kerek District, Tuban Regency and to find out what obstacles are experienced in implementing these efforts. the. The theory used in this research is structuration theory by Anthony Giddens. This research uses a qualitative method with a case study design. Data collection techniques use observation, interviews and documentation. The results of this research show that (1) the Social Services for Women's Empowerment and Child Protection (PPPA) and Community and Village Empowerment (PMD) have made efforts to reduce the number of child marriages through programs including diska counseling, women's schools, trustful family bonds and child love (Glass Shoes). ), outreach, Tuban Ronggolawe children's forum, integrated service center for women and child protection (P2TP2A), women and child protection task force (P2A) and partnerships between regional organizations (OPD). (2) In implementing this program, there are obstacles experienced by the PPPA Social Service and PMD, including (1) unreachable human resources, limited facilities and infrastructure, traditional culture, and weak law enforcement.
Perkawinan anak yang terjadi di Kecamatan Kerek Kabupaten Tuban menempati pada posisi peringkat tertinggi berdasarkan data pemohon dispensasi kawin (diska) pada tahun 2022 dan 2023. Tingginya angka perkawinan anak disebabkan oleh adanya faktor ekonomi, budaya, dan kondisi hamil di luar nikah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui upaya yang dilakukan oleh Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) serta Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) dalam mengurangi angka perkawinan anak yang terjadi di Kecamatan Kerek Kabupaten Tuban serta mengetahui hambatan apa saja yang dialami dalam pelaksanaan upaya tersebut. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori strukturasi oleh Anthony Giddens. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan (1) Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) serta Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) telah melakukan upaya dalam mengurangi angka perkawinan anak melalui program diantaranya konseling diska, sekolah perempuan tuban keluarga amanah dan cinta anak (Sepatu Kaca), sosialisasi, forum anak ronggolawe Tuban, pusat pelayanan terpadu perlindungan perempuan dan anak (P2TP2A), satgas perlindungan perempuan dan anak (P2A) dan kemitraan antar organisasi perangkat daerah (OPD). (2) Dalam pelaksanaan program upaya tersebut terdapat hambatan yang dialami oleh Dinas Sosial PPPA serta PMD meliputi (1) sumber daya manusia yang belum terjangkau, sarana dan prasarana yang terbatas, budaya tradisi, dan penegakan hukum yang lemah
Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Berbantuan QR-Code Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Pada Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila
Critical thinking skills are one of the abilities that must be possessed by students to face life in the 21st century. This study aims to determine whether or not there is an effect of the Problem Based Learning learning model assisted by Qr-Code on students' critical thinking skills. The results of this study indicate that the implementation of learning with the implementation model of the Problem Based Learning learning model assisted by Qr-Code is able to improve students' critical thinking skills. This is evidenced by the observation data of the implementation of learning in the experimental class of 92.5% with a very good category. The results of the average value of the critical thinking ability test obtained by the experimental class received a value of 80. Based on the results of the paired sample t-test hypothesis test, it can be seen that the sig value. (2-tailed) experimental class and control class with a sample size of 32 people for each class is 0.000 for the experimental class and 0.001 for the control class. Because 0.000 and 0.001 <0.05, Ha is accepted and H0 is rejected. So, it can be said that there is an effect of the problem-based learning model assisted by QR-Code on the critical thinking skills of Class XI SMA Labschool Unesa 1 Surabaya City.Kemampuan berpikir kritis merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh peserta didik untuk menghadapi kehidupan di abad 21. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning berbantuan Qr-Code terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keterlaksanaan pembelajaran dengan model penerapan model pembelajaran Problem Based Learning berbantuan Qr-Code mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Hal ini dibuktikan dengan data observasi keterlaksanaan pembelajaran di kelas eksperimen sebesar 92,5% dengan kategori sangat baik. Hasil nilai rata-rata dari tes kemampuan berpikir kritis yang diperoleh kelas eksperimen mendapatkan nilai 80. Berdasarkan hasil uji hipotesis paired sampel t-test dapat diketahui bahwa nilai sig. (2-tailed) kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan jumlah sampel masing-masing kelas sebanyak 32 orang sebesar 0,000 untuk kelas eksperimen dan 0,001 untuk kelas kontrol. Karena 0,000 dan 0,001 < 0,05 maka Ha diterima dan H0 ditolak. Sehingga, dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh model model problem based learning berbantuan QR-Code terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik Kelas XI SMA Labschool Unesa 1 Kota Surabaya
PANDANGAN PEMILIH PEMULA PADA ORGANISASI PIMPINAN CABANG IKATAN PELAJAR MUHAMMADIYAH KECAMATAN NGORO TERHADAP PRAKTIK MONEY POLITIC DALAM PEMILU 2024
This study aims to determine to describe the views of the beginner voters in Pimpinan cabang Ikatan pelajar Muhammadiyah of Ngoro on the presence of political money practices in the 2024 general election. The data collection techniques used are observations, interviews, and documentation. This research uses a type of descriptive qualitative research. This study involves a beginner voter in the organization Pimpinan cabang Ikatan pelajar Muhammadiyah of Ngoro district with a total of 13 people. The results of the study show that beginner voters have different views on the existence of money political practices that occurred in the 2024 elections, there are beginners voters considering that money political practice as a logical and permissible thing, voters view that money politics practices carried out by a candidate politician, indicate the seriousness of candidate politicians in nominating themselves. Furthermore, the provision of money by candidate politicians is used as a form of maximization of utilities such as satisfaction of needs and so on. Other novice voters view money-politics as an election violation, changing one's political choices in an unfair way, by giving a bribe or bribes.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pandangan pemilih pemula pada organisasi pimpinan cabang ikatan pelajar Muhammadiyah kecamatan Ngoro terhadap adanya praktik money politic pada pemilihan umum 2024. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian ini melibatkan pemilih pemula pada organisasi pimpinan cabang ikatan pelajar Muhammadiyah kecamatan Ngoro dengan jumlah keseluruhan adalah 13 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pemilih pemula memiliki pandangan yang beragam terhadap adanya praktik money politic yang terjadi pada pemilu 2024, terdapat pemilih pemula menganggap bahwa praktik money politic sebagai suatu hal yang wajar dan diperbolehkan, pemilih berpandangan bahwa praktik money politic yang dilakukan oleh calon politisi, menandakan keseriusan calon politisi dalam mencalonkan diri. Pemilih pemula lainnya berpandangan bahwa praktik money politic yang diterima, tidak mengganggu finansial calon politisi yang bersangkutan, sehingga apabila diterima, tidak akan merugikan pihak manapun. Selain itu, pemberian uang oleh calon politisi digunakan sebagai bentuk pemaksimalan utilitas berupa pemenuhan kebutuhan dan lain-lain. Pemilih pemula lain memandang praktik money politic sebagai suatu pelanggaran dalam pemilu, mengubah pilihan politik seseorang dengan cara yang tidak fair yakni dengan memberikan sogokan atau suap