Texere (E-Journal)
Not a member yet
111 research outputs found
Sort by
EKSTRAKSI DAN KARAKTERISASI SIFAT SERAT DAUN DARI TANAMAN PANDAN WANGI (PANDANUS AMARYLLIFOLIUS)
Jurnal ilmiah ini melaporkan proses ekstraksi dan karakterisasi sifat serat dari daun tanaman pandan wangi (Pandanus amaryllifolius). Proses ekstraksi serat menggunakan metode water retting. Karakterisasi sifat serat meliputi pengujian penampang melintang membujur, kekuatan mulur, kehalusan, panjang, kadar air, dan friksi. Serat daun Pandanus amaryllifolius memiliki penampang melintang berbentuk bintik-bintik lonjong tidak beraturan, dan penampang membujur bersih tidak berpilin, bersisik ataupun berbintik, kekuatan 11,92 g/tex, mulur 5,92 %, kehalusan 3,8 tex, panjang serat 58,33 cm, moisture content 7,32 %, moisture regain 7,86 %, dan koefisien friksi 0,04 μ. Dari data tersebut, disimpulkan bahwa serat daun Pandanus amaryllifolius memiliki potensi untuk dipintal. Karakterisasi serat daun Pandanus amaryllifolius juga menunjukan bahwa serat ini berpotensi sebagai alternatif serat untuk bahan baku tekstil
CAMPURAN SERAT SABUT KELAPA DAN RAYON VISCOSA SEBAGAI MATERIAL NON-WOVEN UNTUK TEKSTIL AKUSTIK (ACOUSTIC TEXTILE)
Tekstil akustik merupakan salah satu kelompok tekstil teknik yang kainnya digunakan sebagai peredam suara. Peredam suara adalah suatu bahan dari kain yang dapat mengurangi dan mengendalikan kebisingan. Koefisien absorpsi bunyi dinyatakan dalam bilangan antara 0 sampai 1. Nilai koefisien absorpsi 0 menyatakan tidak ada energi bunyi yang diabsorpsi dan nilai koefisien absorpsi 1 menyatakan absorpsi yang sempurna (Leslie L. Doelle, 1985).Material yang digunakan pada penelitian ini adalah kain non-woven berbahan dasar serat serabut kelapa dan rayon viskosa dengan variasi berat 40 g, 50 g, dan 60 g yang dibuat di balai besar tekstil menggunakan mesin prototype Hot Press dengan metode Thermal Bonding.Berdasarkan hasil penelitian koefisien absorpsi bunyi tertinggi pada kain nonwoven dengan variasi berat 60 g yaitu 0,3 ɑs, kain nonwoven dengan variasi berat 50 g yaitu 0,18 ɑs, dan kain nonwoven dengan variasi berat 40 g adalah 0,15 ɑs. Penambahan berat pada kain non-woven dapat meningkatkan nilai koefisiensi absorpsi.Kesimpulannya adalah serat serabut kelapa dan rayon viskosa dapat dijadikan bahan kain non-woven untuk tekstil akustik dengan metode pembuatan thermal bonding. Semakin berat gramasi kain semakin tinggi nilai koefisiensi absorpsi.
PEMANFAATAN MOLASE UNTUK PEMBUATAN LEUKO ZAT WARNA INDIGO
Zat warna indigo dapat digunakan untuk mewarnai serat selulosa. Zat warna indigo tidak larut dalam air, sehingga harus diubah dalam bentuk leuko zat warna indigo menggunakan reduktor. Reduktor yang digunakan umumnya natrium hidrosulfit yang sensitif terhadap udara dan kelembaban. Reduktor yang dapat digunakan sebagai alternatif pengganti natrium hidrosulfit adalah molase. Molase merupakan limbah produksi gula tebu yang mengandung campuran glukosa dan fruktosa. Pembentukan leuko zat warna indigo menggunakan molase dilakukan dengan rasio zat warna dan molase 1:1 – 1:5 pada suhu 70oC selama 10 menit. Leuko zat warna yang dihasilkan kemudian digunakan untuk mencelup kain kapas. Molase yang digunakan memiliki kandungan gula pereduksi 17,1747%. Leuko zat warna diamati sifat kelarutan, potensial reduksi oksidasi, serta daya celup pada kapas. Penggunaan molase pada pembentukan leuko zat warna indigo berpengaruh terhadap kelarutan, potensial reduksi oksidasi, dan daya celup zat warna indigo yang makin baik seiring dengan pengingkatan rasio zat warna dengan molase. Kenaikan rasio molase pada pembentukan leuko, meningkatkan ketuaan warna dan kerataan warna hasil pencelupan. Penggunaan molase tidak berpengaruh terhadap ketahanan luntur warna terhadap pencucian dan gosokkan. Mutu leuko dan hasil pencelupan zat warna indigo yang diproses menggunakan molase lebih rendah dibandingkan pembentukan leuko zat warna indigo menggunakan glukosa murni.
ISOLASI LIMBAH AMPAS BATANG TEBU (SUGARCANE BAGASSE) SEBAGAI BAHAN BAKU ALTERNATIF SELULOSA
Kebutuhan polimer alam untuk bahan serat, film, komposit maupun kemasan mendorong pengembangan material baru yang dapat terbiodegradasi bersumber dari alam, terutama produk samping pertanian diantaranya ampas batang tebu. Pada penelitian ini telah dilakukan ekstraksi selulosa dari ampas batang tebu. Pengujian komposisi ampas batang tebu menunjukkan ampas batang tebu contoh uji memiliki kadar Selulosa 42,26%, Hemi Selulosa 23,24% Lignin 32,4% dan Zat ekstraktif lain sekitar 2,1%. Pengurangan berat hasil ekstraksi selulosa dari ampas batang tebu menunjukkan semakin tinggi konsentrasi NaOH semakin banyak pengurangan berat yang terjadi. Semakin tinggi konsentrasi NaOH yang digunakan semakin kecil serat yang dihasilkan. Penggunaan larutan NaOH 1,5 N merupakan konsentrasi optimal yang dapat digunakan untuk mengekstraksi selulosa dari ampas batang tebu. Pada Kondisi tersebut serat batang tebu yang dihasilkan memiliki kehalusan 31,23 tex, Tenacity 19,66 g/tex, Mulur 2,1 % dan MR 8,62%. Serat hasil ekstraksi, memiliki kadar selulosa alfa 90,45%, selulosa beta 5,24% dan selulosa gamma sebesar 4,31 %
Phase Change Material dari Campuran Parafin untuk Tekstil Swa-Termoregulasi
Phase change material (PCM) organik seperti lilin parafin memiliki kemampuan untuk menyerap sejumlah energi panas atau entalpi (kJ/kg) pada saat lilin parafin mengalami perubahan fasa dari padat ke cair, dan sebaliknya, melepaskan energi panas saat berubah fasa dari cair ke padat. Kemampuan unik lilin parafin ini telah diteliti oleh banyak peneliti seperti mengenai sifat-sifat termal dan pemanfaatannya sebagai thermal energy storage. Penelitian-penelitian tentang PCM organik yang telah banyak dikerjakan, umumnya menggunakan bahan kelas sintesa yang memiliki keunggulan dalam hal kemurnian tetapi memiliki kesulitan untuk diaplikasikan dalam skala industri karena faktor keekonomisan dan ketersediaan bahan yang sulit didapat dalam skala besar. Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan untuk mengetahui perubahan sifat termal dari campuran lilin parafin padat dan cair kelas mutu industri sebagai bahan utama PCM yang dapat dimanfaatkan dalam industri tekstil untuk membuat material tekstil yang responsif dan adaptif terhadap perubahan suhu lingkungan. Hasil analisa DSC (differential scanning calorimetry) menunjukkan bahwa pencampuran lilin parafin padat:cair dengan komposisi 9:1, 8:2, 7:3, dan 6:4 memperlihatkan adanya pembentukan entitas senyawa baru dengan sifat termal yang berbeda. Masing-masing kombinasi campuran yang berbeda memiliki titik leleh dan kandungan entalpi yang semakin menurun dari 60,4 ºC (9:1) ke 51,4 (6:4) seiring dengan menurunnya komposisi lilin parafin padat dan bertambahnya komposisi lilin parafin cair
Ekstraksi dan Karakterisasi Serat Alam dari Daun Sansevieria Laurenti dan Sansevieria Zeylinic
Penelitian ini bertujuan memahami potensi pemanfaatan Sansevieria laurenti Sansevieria zeylinic sebagai sumber serat selulosa alami untuk aplikasi tekstil. Makalah ini melaporkan proses ekstraksi karakterisasi properti serat dari daun tumbuhanSansevieria laurenti Sansevieria zeylinic. Ekstraksi serat menggunakan metode water retting. Karakterisasi properti meliputi pengujian penampang melintang membujur, kekuatan mulur, kehalusan, panjang, kadar air, dan friksi. Data yang didapatkan digunakan untuk menganalisis kemampuan serat untuk dipintal. Serat Sansevieria laurenti memiliki penampang melintang berbentuk oval dengan beberapa berbentuk bulat, penampang membujur berbentuk silinder dengan dinding yang tebal, kekuatan 2,45 g/denier, mulur 7,08 %, kehalusan 6,71 tex, panjang serat 32,1 cm, moisture content 10,4%, moisture regain 11,79%, dan koefisien friksi 0,0295 μ.Sementara seratSansevieria zeylinic memiliki penampang melintang berbentuk oval namun sebagian membentuk segitiga dengan sudut yang runcing, penampang membujur berbentuk silinder, kekuatan 2,19 g/denier, mulur 7,96 %, kehalusan 4,54 tex, panjang serat30,6 cm, moisture content serat 10,8%, moisture regain serat 12,37%, dan koefisien friksi 0,0296 μ.Disimpulkan bahwa serat Sansevieria laurenti Sansevieria zeylinic memiliki potensi untuk dipintal. Serat dari daun tumbuhan Sansevieria laurenti Sansevieria zeylinic dapat digunakan sebagai alternatif bahan baku aplikasi tekstil.Penelitian ini bertujuan memahami potensi pemanfaatan Sansevieria laurenti Sansevieria zeylinic sebagai sumber serat selulosa alami untuk aplikasi tekstil. Makalah ini melaporkan proses ekstraksi karakterisasi properti serat dari daun tumbuhanSansevieria laurenti Sansevieria zeylinic. Ekstraksi serat menggunakan metode water retting. Karakterisasi properti meliputi pengujian penampang melintang membujur, kekuatan mulur, kehalusan, panjang, kadar air, dan friksi. Data yang didapatkan digunakan untuk menganalisis kemampuan serat untuk dipintal. Serat Sansevieria laurenti memiliki penampang melintang berbentuk oval dengan beberapa berbentuk bulat, penampang membujur berbentuk silinder dengan dinding yang tebal, kekuatan 2,45 g/denier, mulur 7,08 %, kehalusan 6,71 tex, panjang serat 32,1 cm, moisture content 10,4%, moisture regain 11,79%, dan koefisien friksi 0,0295 μ.Sementara seratSansevieria zeylinic memiliki penampang melintang berbentuk oval namun sebagian membentuk segitiga dengan sudut yang runcing, penampang membujur berbentuk silinder, kekuatan 2,19 g/denier, mulur 7,96 %, kehalusan 4,54 tex, panjang serat30,6 cm, moisture content serat 10,8%, moisture regain serat 12,37%, dan koefisien friksi 0,0296 μ.Disimpulkan bahwa serat Sansevieria laurenti Sansevieria zeylinic memiliki potensi untuk dipintal. Serat dari daun tumbuhan Sansevieria laurenti Sansevieria zeylinic dapat digunakan sebagai alternatif bahan baku aplikasi tekstil
PENILAIAN CACAT LUBANG KAIN BERBASIS LIGHT DEPENDENT RESISTOR PADA MIKROKONTROLER ARDUINO UNO
Kain merupakan komponen utama dalam pembuatan garmen. Kualitas produk garmen dapat dipengaruhi oleh kualitas kain, maka sebelum melakukan proses produksi garmen perlu dilakukan kegiatan inspeksi kain untuk memeriksa keberadaan cacat pada kain. Pada umumnya inspeksi kain di industri garmen menggunakan sebuah mesin inspeksi yang dioperasikan oleh seorang operator. Akan tetapi operator sebagai seorang manusia akan tetap bisa melakukan kelalaian dalam bekerja. Misalnya terdapat cacat pada permukaan kain yang terlewat untuk diperiksa.Untuk mengurangi jumlah cacat lubang yang terlewat pada kain maka dilakukan penelitian mengenai studi pendeteksi cacat kain menggunakan Hardware berupa Arduino Uno dengan sensor cahaya (LDR) yang dilakukan pada mesin inspeksi kain sehingga dapat mendeteksi cacat lubang pada kain. Arduino adalah pengendali mikro single-board yang bersifat open-source, dirancang untuk memudahkan penggunaan elektronik dalam berbagai bidang. Hardware dalam arduino memiliki prosesor Atmel AVR dan menggunakan software dan bahasa sendiri. Sensor cahaya LDR ini merupakan resistor yang memiliki karakteristik peka terhadap cahaya. LDR akan dapat mendeteksi cahaya yang melewati lubang kain pada jarak tertentu. Cahaya yang melewati lubang dideteksi sebagai perubahan intensitas cahaya sehingga cacat lubang pada kain dapat terdeteksi berdasarkan ukurannya
SUSTAINABLE DEVELOPMENT PADA PEMBUATAN UNISEX SPORTSWEAR ANTI-RADIASI SMARTPHONE DENGAN MENGGUNAKAN PERLAKUKAN PLASMA PIJAR KORONA ELEKTRODA TIP-PLANE
Generasi milenial dan generasi Z yang memiliki rentang umur 19-30 tahun di kota metropolitan seperti Bandung dan Jakarta lebih menyukai menggunakan teknologi smartphone dalam kegiatan sehari-hari termasuk kegiatan olahraga. Mereka hampir selalu menggunakan smartphone yang disimpan di dalam kain patch pakaian untuk mendengarkan musik sambil berolahraga. Penggunaan smartphone ini dapat menimbulkan efek kesehatan beberapa diantaranya adanya gangguan ginjal sehingga menurunkan fungsi ginjal untuk menyerap cairan tubuh, penurunan kualitas sperma pada laki-laki serta meningkatkan suhu tubuh pada bagian yang terkena smartphone. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat sebuah produk pakaian anti-radiasi unisex sportswear dengan menggunakan konsep sustainable product development yang menitikberatkan pada kelangsungan produk tersebut di pasaran dengan menambahkan kepedulian akan aspek kesehatan dan lingkungan di samping sifat produk yang menarik dan fashionable. Sesuai dengan konsep sustainable product development ini akan digunakan bahan-bahan dan diupayakan proses-prosesnya peduli pada kesehatan baik pengguna maupun pembuat serta ramah lingkungan. Salah satu aspek kesehatan pengguna adalah dengan membuat kain patch anti-radiasi smartphone dan menggunakan bahan pewarna alam yaitu kunyit, secang dan indigo pasta. Pada penelitian ini telah dikembangkan sebuah produk pakaian anti-radiasi unisex sportswear menggunakan teknologi plasma pijar korona elektroda tip-plane. Plasma pijar korona dibangkitkan dengan listrik tegangan tinggi serta menggunakan elektroda asimetri (lancip dan plat). Pakaian anti-radiasi ini dibuat menggunakan kain cotton fleece yang permukaannya telah dimodifikasi melalui proses atmospheric pressure plasma. Kain ini kemudian dilapisi dengan tinta konduktif berbasis graphite. Hasil studi memperlihatkan bahwa kain anti-radiasi yang dibuat melalui proses ini berhasil mengurangi radiasi gelombang elektromagnetik smartphone. Disamping itu untuk memastikan produk ini ramah lingkungan dipilihlah bahan-bahan pewarna yang berasal dari alam. Bahan alami yang dipilih untuk pewarna baju menggunakan bahan secang (Caesalpinia sappan L), kunyit (Curcuma longa Linn) dan indigo (indigofera). Kedua proses di atas diharapkan dapat mengurangi resiko negatif pada bagian tubuh dan ramah lingkungan. Diharapkan produk ini dapat membantu generasi pertengahan milenial sampai awal generasi Z untuk melaksanakan aktifitas olahraga tanpa khawatir akan efek negatif dari radiasi smartphone dan pewarna tekstil sintetis. Kata kunci : unisex sportwear , anti radiasi, plasma pijar koron
PENGARUH PENCAMPURAN MELAMIN FORMALDEHIDA DAN DMDHEU TERHADAP KETAHANAN KUSUT KAIN POLIESTER-RAYON(65%-35%)
Jenis pengikat silang pada penyempurnaan anti kusut berpengaruh signifikan terhadap ketahanan kusut kain dan sifat fisik kain. Pemakaian Melamin Formaldehid (MF) memberikan ketahanan kusut yang lebih baik namun menghasilkan sifat kaku yang lebih tinggi pada kain, sementara Dimetiloldihidroksietilena Urea (DMDHEU) tidak memberikan sifat kaku berlebihan pada kain namun sifat ketahanan kusut yang dihasilkan tidak sebaik MF.Penelitian ketahanan kusut dan sifat fisik kain poliester-rayon (65%-35%) dengan kombinasi MF dan DMDHEU 2 : 5, 3 : 4, 4 : 3, 5 : 2, 6 : 1 dan 7 : 0 terhadap konsentrasi resin total sebesar 70 g/L menunjukkan pengaruh signifikan terhadap sudut kembali dan kekakuan kain sebelum dan setelah 5 kali pencucian berulang serta kekuatan tarik kain. Makin tinggi konsentrasi resin MF, sudut kembali kain dan kekakuan sebelum pencucian makin besar. Perbandingan variasi konsentrasi resin MF dan DMDHEU optimum adalah perbandingan variasi 4 : 3 dengan nilai sudut kembali sebelum pencucian 136 o arah lusi dan 135,4 o arah pakan, sudut kembali setelah 5 kali pencucian sebesar 131 o arah lusi dan 130,4 o arah pakan, nilai kekakuan kain sebelum pencucian 180,36mg.cm arah lusi dan 169,33 mg.cm arah pakan, nilai kekakuan kain setelah 5 kali pencucian arah lusi 103,22 mg.cm dan arah pakan 100,76 mg.cm. Kekuatan tarik kain arah lusi 39,00 kg dan 38,40 kg arah pakan dengan kadar formaldehid bebas sebesar 292,85 ppm
PENYEMPURNAAN DENGAN MENGGUNAKAN SENYAWA FLUOROKARBON PADA KAIN POLIESTER MICROFIBER TERHADAP SIFAT TOLAK AIR, KEKUATAN TARIK DAN KEKAKUAN KAIN
Proses penyempurnaan tolak air adalah proses pemberian senyawa kimia pada permukaan kain dengan cara melapisi benang-benangnya, yang bertujuan untuk meningkatkan daya pakai kain agar dapat menahan pembasahan atau penetrasi air yang jatuh diatas permukaan. Salah satu kain yang digunakan adalah pada kain microfiber. Kelebihan serat microfiber adalah memiliki filamen yang kecil dan rapat sehingga dapat menjaga suhu dan tetap terasa kenyamanan bagi penggunanya. Microfiber juga dapat menahan air masuk kedalam serat karena pada saat permukaan basah menyebabkan air membentuk butiran-butiran yang jauh lebih besar dari ruang antara benang dan air secara efektif. Kain microfiber yang digunakan adalah untuk pelapis jaket. Percobaan penyempurnaan dilakukan dengan resin tolak air senyawa fluorokarbon (Nikka Guard ND-1205) menggunakan mesin padder dan stenter skala laboratorium serta variasi konsentrasi 10 g/l, 25 g/l dan 30 g/l dan suhu pemanasawetan 140°C, 150°C dan 160°C selama 2 menit kemudian dilakukan pengujian terhadap uji siram, pencucian berulang, kekuatan tarik dan kekakuan kain. Berdasarkan pengujian dengan variasi diatas menunjukan bahwa peningkatan konsentrasi resin fluorokarbon dan suhu pemanasawetan dapat menaikkan daya tolak air dan kekakuan kain, tetapi menurunkan kekuatan tarik dan daya penyerapan pada uji tetes setelah dilakukan pencucian berulang. Kondisi optimum proses finishing water repellent diperoleh pada konsetrasi penggunaan resin senyawa fluorokarbon (Nikka Guard ND-1205) 25g/l dan suhu pemanasawetan 1500C dengan nilai uji tolak air ISO 4 (90), kekuatan tarik arah pakan 27,12 kg dan arah lusi 45,09 kg, kekakuan arah pakan 10,20 mg.cm dan arah lusi 11,17 mg.cm. Berdasarkan peninjauan dari aspek teknis-ekonomis, presentase pengurangan biaya produksi penyempurnaan terhadap resin senyawa flourokarbon (Nikka Guard ND-1205) adalah 28,57% dengan penghematan komponen sebesar 3,5 Kg sedangkan untuk pemanasawetan sebesar 11,76% dengan biaya penghematan komponen sebesar 603.460,56 kcal