Texere (E-Journal)
Not a member yet
111 research outputs found
Sort by
SIFAT PENYERAPAN BUNYI MATERIAL NONWOVEN SERAT RAYON VISCOSA UNTUK MENGURANGI KEBISINGAN PADA AREA SEKITAR RUANGAN STUDIO MUSIK
Pada zaman yang semakin canggih ini semakin banyak masalah yang muncul. Salah satu masalah yang muncul dan mengkhawatirkan saat ini adalah masalah kebisingan. Kebisingan dapat menyebabkan seseorang menjadi terganggu kesehatan pendengarannya. Tekstil akustik adalah kain yang digunakan sebagai peredam suara. Bahan yang digunakan yaitu bahan material nonwoven dengan metoda thermal bonding. Serat dasar yang digunakan yaitu serat rayon viskosa dengan serat pengikatnya adalah serat polyester low melt. Material nonwoven dengan bahan baku serat rayon viskosa memiliki nilai daya tembus udara lebih kecil dibanding material nonwoven lain yang digunakan. Serat rayon viskosa memiliki morfologi penampang melintang yang memiliki rongga sehingga bisa menjadi material penyerap bunyi yang baik. Material nonwoven dengan serat rayon viskosa memiliki nilai koefisien absorpsi bunyi paling tinggi dengan nilai 0,99 ɑs pada frekuensi 5000 f/Hz.. Berdasarkan hasil pengujian koefisien absorpsi bunyi dengan nilai koefisien 0,388 ɑs dan 0,306 ɑs pada frekuensi 1000 f/Hz maka material nonwoven serat rayon viskosa dapat digunakan sebagai peredam suara pada area studio musik yang mempunyai standar koefisien absorpsi 0,3-0,4 ɑs
STRUKTUR, KEREAKTIFAN DAN IMOBILISASI PERMUKAAN ANTIMIKROBA POLIKATIONIK: bagian 1
Infeksi mikroba masih menjadi masalah serius di beberapa bidang, terutama peralatan medik, obat-obatan, perawatan kesehatan dan aplikasi higienik, rumah sakit, tekstil, sistem pemurnian air, pengemasan dan penyimpanan makanan. Di Amerika Serikat, kira-kira 2 juta kasus infeksi nosokomial menghabiskan biaya hampir 11 milyar dolar per tahunnya. Pengembangan zat antimikroba mendapat perhatian besar dari dunia akademik mapun industri karena potensinya untuk meningkatkan mutu berbagai jenis bahan untuk berbagai keperluan yang mengutamakan keselamatan dan kesehatan. Artikel ini berisi tinjauan literatur mengenai pengembangan antimikroba polimer yang di dalamnya juga dibahas persyaratan dan penggolongan zat antimikroba, serta faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitasnya. Ini merupakan bagian pertama dari dua tulisan. Bagian kedua akan membahas imobilisasi antimikroba polimer pada permukaan padatan dan strategi perancangan permukaan bersifat antibakteri permanen serta optimasi kinerjanya
USAHA MEMPERBAIKI WARNA HASIL OVER WEIGHT REDUCE PADA KAIN POLIESTER AGAR SESUAI DENGAN TARGET
Proses weight reduce dilakukan pada kain poliester untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Terkadang muncul kegagalan proses berupa overweight reduce yang mengakibatkan warna kain hasil pencelupannya lebih tua dari warna kain target (normal weight reduce) yang dicelup menggunakan resep yang sama. Untuk mengatasi masalah tersebut, yaitu mendapatkan warna hasil overweight reduce agar sesuai dengan target, dilakukan percobaan tahap pertama dengan cara membandingkan nilai warna (K/S) dengan variasi konsentrasi zat warna terhadap nilai warna (K/S) dengan variasi besarnya weight reduce. Dari kedua hasil tersebut dibuat suatu grafik hubungan antara K/S dengan variasi konsentrasi zat warna dan K/S dengan variasi weight reduce. Sehingga jika hasil tersebut merupakan suatu grafik garis lurus, maka dapat dibuat persamaan garis lurus antara harga K/S dengan variasi konsentrasi zat warna dan harga K/S dengan variasi weight reduce. Dari kedua persamaan tersebut, dengan metoda eliminasi dapat dihasilkan persamaan garis lurus untuk menghitung berapa konsentrasi zat warna yang dibutuhkan untuk mendapatkan warna hasil weight reduce yang sesuai dengan permintaan. Setelah didapatkan data percobaan, maka diperoleh persamaan antara konsentrasi zat warna (Z) dengan weight reduce (X) yaitu 24.,4 Z = 11,2 X + 15,34. Dilakukan pengujian validasi formula yang didapat terhadap kain dengan weight reduce 12%. Dari formula tersebut dapat dihitung bahwa konsentrasi zat warna yang diperlukan adalah sebesar 0.726% agar didapatkan warna sesuai target (WR 5%). Dilakukan pencelupan dengan konsentrasi zat warna 0,726 % terhadap kain hasil weight reduce 12% dan didapat nilai K/S bahan sebesar 16,7859. Hal ini sesuai dengan nilai K/S hasil weight reduce target (5%)
PENGARUH POSISI FILAMEN LYCRA PADA PROSES PEMBUATAN BENANG ELASTAN CMSY 10/40 D SEBAGAI USAHA TERHADAP KEKUATAN TARIK DAN MULUR BENANG DI MESIN RING SPINNING DENGAN ALAT TAMBAHAN V-GROOVE
Dalam proses pembuatan benang inti elastan (lycra) khususnya pada mesin ring frame, terdapat perbedaan perlakuan dibandingkan dengan pemintalan jenis lainya. Secara umum terdapat tiga fungsi pada mesin ring frame yaitu; peregangan, pemberi antihan dan penggulungan. Penambahan alat v groove pada mesin ring frame mempunyai fungsi sebagai penghantar filamen, dalam tegangan dan kecepatan tertentu, kepada mulut rol peregang bagian depan. Pada alat tersebut didapat berbagai macam setting posisi untuk menghasilkan benang dengan kualitas tertentu.Filamen lycra dihantarkan terhadap mulut rol peregang bagian depan dimana terjadi peregangan, dan diteruskan ke proses selanjutnya yaitu proses penggintiran antara filamen lycra sebagai benang inti dan roving dengan bahan baku serat kapas sebagai pembungkus luar dari benang tersebut, percobaan terhadap posisi filament, posisi 1 (pinggir), posisi 2 (tengah) dan posisi 3 (diantaranya) yang mempunyai pengaruh pada pembuatan benang elastan terhadap kekuatan dan mulur benang
UPAYA PERBAIKAN SIFAT FISIK SERAT RAYON VISKOSA SELAMA PENYIMPANAN MELALUI PENGGUNAAN HIDROGEN PEROKSIDA PADA PROSES PENYEMPURNAAN SERAT RAYON VISKOSA
Proses pengelantangan pada pembuatan serat rayon viskosa menggunakan NaOCl dapat mengakibatkan menurunnya derajat putih dan kecerahan serat selama masa penyimpanan yang disebabkan adanya sisa klor yang masih menempel pada serat, sehingga dilakukan proses menggunakan H2O2 untuk menghilangkan sisa klor dari proses pengelantangan. Dalam percobaan ini digunakan variasi konsentrasi H2O2 0; 0,2; 0,4 dan 0,6 g/l pada pH 6, suhu pengerjaan 50 ℃, kecepatan konveyor 3,75 m/menit dan panjang mesin 3,2 meter. Pengerjaan dilakukan di akhir proses penyempurnaan serat, bersamaan dengan proses pelembutan. Serat yang telah kering kemudian diuji kecerahan, derajat putih, kekuatan tarik dan mulur sebelum dan sesudah penyimpanan (0 dan 90 hari penyimpanan). Dari percobaan didapat hasil bahwa dengan meningkatnya konsentrasi H2O2, perubahan kecerahan, derajat putih, kekuatan tarik dan mulur serat rayon2 viskosa semakin berkurang. Pada konsentrasi H2O2 0,4 g/l, perubahan sifat fisik selama penyimpanan sangat kecil dan masih sesuai dengan standar, kecerahan menurun 0,11 %, derajat putih 0,43 %, kekuatan tarik kering dan basah masingmasing sebesar 0,73 % dan 0,15 % serta pertambahan mulur kering dan basah masing-masing sebesar 0,98 % dan 0,89 %
Perancangan Lintasan Perakitan Garmen dengan Menggunakan “Ranked Positional Weight Technique”
Desain lintasan perakitan mempunyai tujuan utama meningkatkan efisiensi lintasan dengan memaksimalkan rasio antara throughput dan cost. Pembuatan lintasan perakitan memerlukan investasi yang besar karena menyangkut penyediaan mesin, ruangan produksi, dan penyusunan layout. Untuk mengoptimalkan biaya yang harus disediakan dalam pembuatan lintasan produksi maka diperlukan penyusunan desain lintasan produksi yang optimal yaitu dengan biaya minimal dan dapat merespon permintaan konsumen dengan baik. Lintasan perakitan harus dibuat sedemikian rupa sehingga mempunyai keseimbangan yang baik (balance) dan sesuai dengan cycle time dari permintaan pelanggan sehingga permintaan pelanggan dapat terpenuhi sesuai due date-nya. Ada berbagai cara untuk membuat keseimbangan lintasan perakitan, cara yang dipakai dalam tulisan ini adalah “Ranked Positional Weight Technique”. Setelah menerapkan Metoda Bobot Posisi (Rangked Positional Weight Technique) ternyata metoda ini merupakan metoda yang mudah untuk diterapkan dan menghasilkan efisiensi lintasan perakitan yang tinggi. Berdasarkan hasil pengolahan data pembuatan celana pendek diperoleh hasil, yaitu Efisiensi lintasan perakitan = 97,2 % dan total waktu idle = 0,20 menit
PERUMUSAN STRATEGI KORPORASI UNTUK INDUSTRI KECIL MENENGAH (IKM), STUDI KASUS PERUSAHAAN DISTRO CV NS
CV NS adalah salah satu industri kreatif yang bergerak dibidang industri clothing yang termasuk kategori industri kecil menengah (IKM). Berdasarkan pengamatan dilapangan banyak permasalahan yang dihadapi, sehingga untuk berubah menjadi industri kecil modern perlu dirumuskan strategi korporasi untuk memecahkan permasalahan yang terjadi. Metode perumusan strategi diawali dengan analisis sistem existing perusahaan baik eksternal maupun internal, analisis portofolio, analisis SWOT dan terakhir dengan melakukan skala prioritas dari masing-masing strategi dengan QSPM. Hasil analisis portfolio BCG menunjukkan bahwa CV NS berada dalam dimensi “question mark”. Analisis alternatif strategi berdasarkan analisis SWOT menghasilkan alternatif strategi yang kemudian dengan analisis QSPM menghasilkan rumusan strategi yang diperlukan oleh CV NS untuk mencapai visi misi dan tujuannya dengan prioritas yaitu penetrasi pasar, peningkatan teknologi produksi, pengembangan produk, peningkatan partnership dan peningkatan kemampuan organisasi
PERUBAHAN KELEMBABAN RELATIF (RH) PADA RUANGAN PERTENUNAN AJL TERHADAP EFISIENSI DAN GRADE KAIN YANG DIHASILKAN
Kelembaban Relatif atau Relative Humidity (RH) yaitu banyaknya uap air yang ada di dalam ruangan yang membuat ruangan menjadi lembab dan basah pada suhu yang sama. Persentase kelembaban adalah jumlah kandungan uap air di dalam ruangan. Besarnya nilai kelembaban merupakan faktor penting yang harus diperhatikan karena dapat mempengaruhi efisiensi mesin dan kualitas kain. Keadaan yang panas dan kering akan membuat kekuatan benang kapas yang diproses menurun sehingga dapat mempengaruhi jumlah putus benang dan efisiensi mesin yang kemudian diikuti oleh kemungkinan turunnya grade kain yang dihasilkan. Pada pengamatan ini penulis mengamati pada nilai temperatur 29 ℃ dalam tiga variable nilai kelembaban (RH) yaitu: 61%, 63% dan 65% terhadap efisiensi mesin AJL merek Tsudakoma ZA-205 dan terfokus pada benang Carded Ne1 40. Pada nilai Rh 63% menunjukan nilai efisiensi 88,69% dan pada nilai ini pula dicapai tingkat efisiensi terbesar diantara nilai lainnya yang diamati. Pada nilai kelembaban 63% juga dicapai tingkat kelancaran mesin dan grade kain yang baik, dengan persentase grade A1 dan A2 sebesar 90,8%
TINJAUAN TENTANG TEKNOLOGI ELECTROSPINNING PADA PROSES PEMBUATAN SERAT NANOFIBERS
Electrospinning telah diakui sebagai teknik yang efisien untuk pembuatan nanofiber polimer. Berbagai jenis polimer telah berhasil dipintal dengan teknik ini menjadi serat ultrafine dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar dalam larutan pelarut dan beberapa dalam bentuk lelehan. Potensi aplikasi nanofiber khususnya digunakan sebagai penguat dalam pengembangan nanokomposit telah terwujud. Dalam tulisan ini, tinjauan disajikan pada penelitian dan pengembangan yang berkaitan dengan nanofiber electrospun polimer termasuk pengolahan dan aplikasinya. Informasi tentang polimer beserta kondisi proses untuk electrospinning serat ultrafine telah disarikan dalam paper ini. Isu-isu lain mengenai keterbatasan dalam hal teknologi, tantangan penelitian serta tren masa depan juga dibahas
PENGGUNAAN METODE RTN (RAPID THERMO NEUTRAL) PADA PENCELUPAN KAIN POLIESTER-RAYON (65/35%) DENGAN ZAT WARNA DISPERSI DAN REAKTIF (Dispanyl Blue SE 2R dan Chloranyl Blue CSGR) TERHADAP KETIDAKRATAAN WARNA
Metode pencelupan kain campuran poliester-rayon konvensional pada umumnya menggunakan metode pencelupan dua larutan dua tahap. Untuk efisiensi biaya digunakan metode pencelupan satu larutan satu tahap atau biasa disebut RTN (Rapid Thermo Neutral). Masalah yang sering timbul terhadap hasil pencelupannya adalah warna tidak rata. Untuk mengetahui tingkat ketidakrataan hasil pencelupan dilakukan percobaan dengan penggunaan konsentrasi zat warna dispersi-reaktif masing-masing 1, 3, 5, 7, 9 dan 11 g/l. Faktor ketidakrataan warna hasil pencelupan dapat dipengaruhi oleh pemilihan zat warna, zat pembasah dan zat anti migrasi, urea, natrium bikarbonat, serta suhu dan waktu thermofiksasi. Hasil percobaan menunjukan penggunaan konsentrasi campuran zat warna diatas 7 g/l menghasilkan kain celupan yang tidak rata. Koefisien variasi pada konsentarsi 7 g/l adalah 0,08 dan tahan luntur warna terhadap gosokan kering 4-5, gosokan basah 4, perubahan warna setelah uji pencucian 40oC adalah 4 dengan tingkat penodaan warna terhadap kapas 4-5 dan poliester 4-5