Texere (E-Journal)
Not a member yet
111 research outputs found
Sort by
PENGARUH KETIDAKSTABILAN TEGANGAN BENANG PADA PROSES REWINDING TERHADAP MUTU BENANG DI MESIN JUMBO WINDER NAKAGOSHI TIPE MT-JS
Mutu barang merupakan faktor penting yang harus diperhatikan dalam penggunaan suatu barang. PT “X” merupakan perusahaan yang memproduksi kain berbahan baku poliester 100%. Mutu kain yang dihasilkan sangat tergantung dengan mutu benang yang diproses. PT “X” memproses berbagai jenis benang, terdapat benang yang tersusun dari dua jenis benang disatukan (benang bikomponen), dinamakan benang spesial. Pada proses persiapan pertenunan, terdapat proses yang dinamakan rewinding, pada proses ini benang diubah bentuk gulungannya sesuai dengan kebutuhan proses selanjutnya menggunakan mesin Jumbo Winder. Berdasarkan pengamatan, terdapat spindel dengan putaran yang tidak sentris di Mesin Jumbo Winder yang menyebabkan tegangan berbeda, dan tegangan yang dihasilkan lebih tinggi. Untuk benang bikomponen, perbedaan tegangan kemungkinan dapat mempengaruhi terhadap mutu benangnya. Untuk mengetahui pengaruh dari tegangan benang yang berubah terhadap mutu benang bikomponen yang dihasilkan, maka dilakukan percobaan dengan membuat sample pada Mesin Jumbo Winder dengan kondisi putaran spindel sentris dan putaran spindel tidak sentris. Setelah itu dilakukan pengujian terhadap mutu benangnya meliputi, kekuatan tarik benang, mulur benang, nomor benang (denier) dan jumlah interlace pada benang. Berdasarkan hasil pengujian didapatkan perbedaan nilai rata-rata, yang menandakan adanya pengaruh tegangan benang terhadap mutu benangnya. Semakin tinggi tegangan benang akan menurunkan mulur dan kekuatan tarik benangnya, nomor benang yang dihasilkan lebih kecil dan jumlah interlace berkurang
PERANCANGAN SENSOR PUTUS BENANG PADA MESIN KELOS UNTUK MENURUNKAN LIMBAH
Masalah terjadi pada proses perangkapan benang adalah ketika salah satu atau kedua benang yang dirangkap putus. Operator mengalami kesulitan untuk memantau posisi benang yang putus. Jika salah satu benang yang dirangkap putus, benang yang tidak putus akan tetap diproses dan harus dibuang menjadi limbah. Berdasarkan pengamatan dilapangan jumlah limbah yang dihasilkan mesin bobbin winder untuk lima line dalam satu shift adalah 38,65 g/bobin di atas standar perusahaan yakni sebesar 5 % atau 27,50 g/bobin. Oleh karena itu, diperlukan usaha untuk membuat suatu sistem yang mempermudah operator untuk mendeteksi jika terjadi benang putus. Sistem tersebut berupa sensor. Sensor banyak dijual di pasar tetapi belum tentu yang cocok dengan ruang yang tersedia di mesin bobbin winder yang dimodifikasi. Sensor putus benang adalah sensor yang memiliki fungsi untuk mendeteksi saat terjadi putus benang dan memberikan sinyal berupa nyala lampu. Sinyal lampu yang timbul saat terjadi putus benang memudahkan operator untuk melihat posisi benang yang putus. Pemasangan sensor putus benang dilakukan pada mesin bobbin winder yang dimodifikasi, yakni diletakkan antara pengantar benang dan peralatan penegang benang. Hasil pengamatan jumlah limbah setelah pemasangan sesnsor putus benang menunjukan adanya penurunan yaitu menjadi sebesar 0,309 % atau 1,69 g/bobin
PENGARUH DENSITAS TERHADAP KETEBALAN HASIL BORDIR LOGO PADA SAKU ARTIKEL Z0158
Salah satu produk yang diproduksi di Divisi Bordir PT X adalah logo saku artikel Z0158 menggunakan mesin Barudan tipe BEVS-Y912, densitas pada logo saku tersebut adalah 3276 stitch, jenis stitch yang digunakan pada bagian dasar logo yaitu stitch tatami, stitch satin pada bagian huruf logo dan kain yang digunakan untuk membuat logo yaitu kain katun dengan gramasi 16.788 gr. Dalam proses produksi terjadi hambatan seperti terjadinya benang putus, jarum patah akibat densitas terlalu tinggi sehingga kenampakan hasil logo saku terlalu timbul tidak sesuai dengan keinginan konsumen.Untuk itu dilakukan pengujian dengan cara membuat tiga variasi densitas yaitu 3276 stitch, 2500 stitch, dan 1500 stitch. Ketiga variasi densitas tersebut dinilai dengan tiga aspek yaitu keindahan, kerapihan dan ketebalan pada hasil bordir. Penilaian dilakukan dengan membuat kuesioner yang diberikan kepada responden. Responden berasal dari quality control Divisi Bordir PT X, hasil penilaian dari responden dihitung dengan menggunakan software Statistical Package for the Social Sciences 17 (SPSS 17) menggunakan metode one-way anova untuk mengetahui densitas yang optimum untuk logo saku artikel Z0158. Uji anova yang dilakukan memberikan hasil bahwa variabel densitasberpengaruh terhadap hasil bordir. Densitas yang optimum untuk logo saku artikel Z0158 adalah densitas 2500, dilihat dari tiap aspek penilaian mempunyai nilai tertinggi dan produk yang dihasilkan tidak terlalu kaku dan kenampakan jahitan tidak terlalu rapat dengan ketebalan sebesar 2.028 mm
PENGGABUNGAN TEKNIK BATIK PADA PEMBUATAN KAIN TENUN IKAT MENJADI KAIN BATIK TENUN IKAT
Kain batik tenun ikat merupakan kain yang dibuat dengan penggabungan teknik batik dan teknik tenun, dimana motif yang dihasilkan pada kain menjadi tidak teratur akibat dari pergeseran benang saat dilakukan proses penenunan, teknik ini dilakukan dengan proses membatik terlebih dahulu kemudian benang pakan diambil dan dilakukan proses menenun kembali, teknik pewarnaannya tidak menggunakan teknik celup ikat (tie dye) tetapi menggunakan teknik batik. Percobaan ini dilakukan selama satu bulan karena proses pembuatannya membutuhkan waktu yang lama, membutuhkan tenaga dan ketrampilan yang tinggi karena proses pembuatannya masih dilakukan secara manual. Langkah-langkah yang dilakukan dalam pembuatan kain batik tenun adalah menyiapkan bahan baku dan peralatan kemudian melakukan proses pertenunan yang pertama lalu proses membatik, setelah itu mencabut benang pakan pada kain tersebut dan yang terakhir melakukan pertenunan kedua dengan menggunakan benang pakan yang telah dicabut sebelumnya
PENGARUH POSISI FILAMEN LYCRA PADA PROSES PEMBUATAN BENANG ELASTAN TERHADAP MUTU BENANG
Salah satu produk unggulan PT IS Tbk. adalah benang elastan yang memiliki karakteristik elastisitas tinggi dan daya serap tinggi. Karakteristik tersebut didapat dari penggabungan dua serat antara kapas dan lycra. Filamen lycra pada proses ini dapat disebut juga sebagai benang inti dan kapas sebagai pembungkus. Proses pembungkusan benang inti didapat pada proses antara peregangan dan penggintiran, dimana kedua serat tersebut tergabung menjadi satu sehingga menghasilkan benang elastan (Ne1 40 cotton + 40 D lycra). Pada Departemen Spinning IV di PT IS Tbk. teknologi pemintalan benang elastan menggunakan mesin ring spinning merk Laksmi Rieter dengan alat tambahan rol pengantar v-groove merek Pinter SA. Pada proses produksi rol pengantar filamen tersebut banyak mendapat getaran dari mesin, sehingga kemungkinan posisi rol pengantar bisa berubah. Perubahan posisi rol pengantar tersebut dapat mempengaruhi posisi filamen lycra pada benang serta memungkinkan terjadi perubahan terhadap mutu benang yang dihasilkan. Pengamatan dilakukan terhadap posisi filamen lycra pada alat tambahan v-groove, dengan percobaan pada proses produksi di mesin ring spinning dengan variasi posisi filamen lycra dengan benang kapas pada area front roll. Setelah dianalisa dengan metoda statistik, terdapat pengaruh posisi filamen lycra pada proses pembuatan benang elastan (Ne1 40 cotton + 40 D lycra) terhadap mutu benang. Dengan membandingkan nilai rata-rata mutu benang yang dihasilkan dan menyesuaikan dengan standar mutu perusahaan maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh dari perubahan posisi rol pengantar terhadap mutu benang karena dengan semakin jauhnya posisi filamen menghasilkan kekuatan tarik benang tertinggi (16,14 cN/Tex), mulur benang tertinggi (6,93 %), mempunyai nilai kerataan tertinggi (10,54 %) dan komposisi filamen lycra tertinggi (11,96 %). Berdasarkan hasil pengujian posisi 1 mm dan 2 mm menunjukan mutu benang terhadap kekuatan, mulur, ketidakrataan masih memenuhi standar, namun hanya posisi tengah yang komposisi lycranya memenuhi standar. Hal tersebut dapat mengganggu proses selanjutnya yaitu cacat belang pada kain. Untuk menanggulangi pergeseran rol pengantar maka proses maintenance pengontrolan proses harus berjalan secara rutin, dengan sistem perawatan dan tindak lanjut yang jelas pelaksanaanya serta terjadwal, sehingga penanggulangan pergeseran rol dapat ditangani dengan cepat
APLIKASI KAIN TENUN SUMBA PAHIKUNG PADA BUSANA READY TO WEAR
Tenun merupakan salah satu warisan budaya tinggi kebanggaan dan jati diri bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, tenun baik dari segi teknik produksi, desain dan produk yang dihasilkan harus dijaga dan dilestarikan keberadaannya, serta dimasyarakatkan penggunaannya. Salah satu daerah yang tetap melestarikan kain tenun yaitu Sumba Pahikung. Untuk lebih mengenalkan pada khalayak dan melestarikan kain tenun Sumba Pahikung, maka disusun rencana penelitian ini yang bertujuan untuk mengangkat dan mengembangkan muatan lokal Sumba berupa ragam hias yang diaplikasikan pada busana ready to wear. Desain perancangan busana ready to wear yang memiliki inspirasi warna dan garis desain dengan tema Vigilant dari Trend Forecasting Greyzone Fashion 2017-2018 Bekraf. Produk pakaian jadi dengan aplikasi kain tenun Sumba Pahikung akan dinilai secara ekonomi serta dengan metode kuantitatif berupa kuisioner yang disebar ke masyarakat akan dianalisa kelayakan harga dan kualitas yang dihasilkan. Dua desain busana ready to wear yang dibuat dapat diterima masyarakat secara kualitas disain etnik, akan tetapi saat dinilai secara harga masih ada sedikit perbedaan dengan perhitungan biaya produksinya
STUDI PERBANDINGAN KEKUATAN TARIK KOMPOSIT BERBAHAN CHOPPED STRAND MAT METODE HAND LAY-UP DAN VACUUM ASSISTED RESIN INFUSION
Sifat fisik dan mekanik sebuah produk komposit ditentukan oleh beberapa faktor yang diantaranya adalah proses manufaktur dan jenis material penyusun. Material penguat dan matriks yang memiliki kekuatan tarik tinggi akan berpeluang menghasilkan komposit yang memiliki kekuatan tarik yang tinggi pula dan begitupun sebaliknya. Pada penelitian ini dilakukan perbandingan pembuatan komposit dengan proses manufaktur yang sederhana selain hand lay-up, yaitu dengan Vacuum Assisted Resin Infusion. Penelitian ini menggunakan material yang paling murah dan mudah ditemukan di pasaran. Hasil pengujian kekuatan tarik komposit hasil proses manufaktur hand lay-up sebesar 2.22 MPa sedangkan kekuatan tarik komposit hasil proses manufaktur Vacuum Assisted Resin Infusion adalah 55.54 MPa. Hal tersebut terjadi dikarenakan tingginya fraksi volume void dari komposit yang dibuat dengan proses manufaktur hand lay-up yang disebabkan oleh gerakan dua arah rol pada saat proses manufaktur. Hal ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi para pelaku usaha kecil dan menengah di bidang pembuatan produk komposit. Dengan menggunakan metode Vacuum Assisted Resin Infusion kekuatan tarik dapat ditingkatkan secara signifikan namun metode wet hand lay up mampu menghasilkan komposit dengan elongasi yang lebih tinggi
PENERAPAN BUDAYA KAIZEN PADA SEWING LINE GC7 (STUDI KASUS DI PT SS)
Penelitian ini merupakan studi kasus pada industri tekstil otomotif PT. SS yang dilakukan dengan metode kualitatif dan pendekatan deskriptif. Fokus penelitian ini untuk melakukan pengamatan penerapan budaya Kaizen pada line sewing GC7 part Armrest. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui budaya Kaizen yang telah diterapkan serta tantangan yang dihadapi dalam penerapannya pada line tersebut.Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner dan wawancara. Wawancara dilakukan dengan tidak terstruktur pada 3 orang purposive sample. Narasumber merupakan orang yang memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai konsep Kaizen dan penerapannya, serta mengetahui tantangan yang dihadapi selama melakukan upaya penerapan Kaizen di perusahaan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa 3 konsep budaya Kaizen: 5S, 3M dan Standardisasi Kaizen telah diterapkan dengan baik dan efektif. Adapun tantangan yang dihadapi dalam upaya penerapan Kaizen adalah kesadaran dan konsistensi dari seluruh operator di line sewing tersebut, namun dapat diatasi berkat kerja sama dari semua pihak
Studi Penyisihan Zat Warna Reaktif Dalam Air Menggunakan Bottom Ash Batu Bara Menggunakan Cara Batch
Sisa pembakaran batu bara dari ketel uap (boiler) yang berupa bottom ash dapat menyebabkan masalah pencemaran lingkungan bila tidak dikelola dengan baik. Berdasarkan karakteristiknya, bottom ash merupakan abu yang berbentuk granula dan memiliki kadar karbon yang tinggi. Maka limbah padat ini memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai adsorben limbah cair dari industri tekstil. Oleh karena itu dalam penelitian ini dilakukan studi pemanfaatan bottom ash sisa pembakaran batu bara untuk mengolah limbah zat warna reaktif. Pada percobaan pendahuluan dilakukan pengujian penyisihan warna menggunakan bottom ash yang diproses aktivasi secara kimia (menggunakan HCl, NaOH dan H2O2) dan secara fisika (dipanaskan pada suhu 600°C – 900°C), juga penyisihan warna menggunakan bottom ash tanpa aktivasi. Dari hasil pengujian diketahui bahwa bottom ash tanpa aktivasi memberikan hasil yang paling baik dibandingkan dengan bottom ash yang diaktivasi secara kimia atau fisika. Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa bottom ash yang tidak diaktivasi memiliki potensi yang baik dalam menyisihkan warna pada larutan zat warna reaktif
PENGARUH PENYETELAN SKALA SHEDDING TIME TERHADAP JUMLAH WEFT STOP PADA AIR JET LOOM
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penyetelan Sheding Time terhadap WeftStop dengan cara melakukan penyetelan skala shedding time untuk lima variasi skala yaitu skala 2700, 2800, 2900, 3000 dan 3100 . Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa penyetelan shedding time berpengaruh terhadap jumlah weft stop pada mesin AJL. Memperlambat skala shedding sampai skala tertentu dapat menghasilkan weft stop yang rendah. Apabila telah lewat dari skala tersebut maka weft stop akan kembali naik. Penyetelan skala shedding time untuk pembuatan kain twill 3/1 menggunakan mesin tenun AJL Tsudakoma ZAX 9100 adalah skala 2900