Texere (E-Journal)
Not a member yet
111 research outputs found
Sort by
PENGARUH PH AWAL DAN DURASI PENAMBAHAN ALKALI PADA PENCELUPAN KAIN RAJUT BAMBU DAN KAPAS (60%/40%) MENGGUNAKAN ZAT WARNA REAKTIF VINIL SULFON METODA ONE-BATH
Penelitian ini membahas tentang pencelupan kain rajut campuran Bamboo/Kapas (60%/40% ) dengan zat warna reaktif Vinil Sulfon. Perbedaan sifat daya serap Bamboo dan kapas serta pengaruh penggunaan pH pada awal proses dan waktu pemasukkan alkali (Na2CO3) akan dibahas dalam penelitian ini. Karakteristik hasil pencelupan dianalisa dengan pengujian K/S dan analisa terhadap ketahanan luntur warna setelah pencucian dan kerataan warna dengan menggunakan spektrofotometer. Hasil penelitian menunjukkan kondisi pH awal pencelupan, dan waktu penambahan alkali berpengaruh terhadap hasil pencelupan yang diamati. pH awal larutan, dan waktu pemasukkan alkali yang optimum pada proses pencelupan kain bamboo/ kapas metode One-Bath, adalah pH 7,5, dan waktu 10 menit dengan nilai ketuaan warna (K/S) 42,10, kerataan warna (SD K/S) 1,2031, dan ketahanan luntur warna rata – rata 4 – 5
KREATIVITAS DALAM DESAIN KAIN TENUN PANAWUAN GARUT
Kreativitas merupakan kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Salah satu produk kreatif yang ada di Kabupaten Garut adalah kain tenun Panawuan dengan berbagai bentuk dan aneka motif yang diterapkan. Motif kain tenun tidak terlepas dari unsur-unsur yang menjadi pendukung terjadinya bentuk-bentuk visual seperti garis, bidang, tekstur dan warna. Oleh karena itu masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah belum adanya pemaparan mengenai wujud motif kain tenun yang mempunyai karakteristik tertentu ditinjau dengan pendekatan estetik dan belum adanya pemaparan mengenai wujud visual yang terdapat pada produk tenun berkorelasi dengan prinsip kreativitas. Metode penelitian yang digunakan adalah metoda kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini antara lain: wawancara, observasi dan pencatatan dokumen. Hasil penelitian menunjukan bahwa wujud visual yang banyak terdapat pada produk tenun dilihat dari bentuk motifnya merupakan bentuk geometris dengan warna-warna yang tidak mencolok serta kreativitas dalam produk kain tenun Panawuan merupakan kemampuan menghasilkan sesuatu yang baru, berupa gagasan maupun karya nyata, baik dalam bentuk karya baru maupun kombinasi dari hal-hal yang sudah ada serta mengandung aspek-aspek seperti fluency (kelancaran), flexibility (keluwesan), elaboration (elaborasi) dan originality (keaslian)
PENGGUNAAN TEKNIK TRANSFER PRINTING DENGAN MOTIF ILUSTRASI TOKOH BARONG REOG PONOROGO PADA BUSANA READY TO WEAR DELUXE
Reog Ponorogo merupakan salah satu kesenian dan budaya yang ada di Indonesia. Berasal dari kota Ponorogo, Jawa Timur, memiliki ciri khas simbol kepala singa dan burung merak. Kedua karakter yang memiliki pesan akan keberanian dalam sikap hidup masyarakatnya. Metodologi penelitian yang digunakan adalah studi pustaka dan pembuatan produk busana. Hasil produk dari penelitian ini berupa busana ready to wear deluxe yang terinspirasi dari tokoh barong Reog Ponorogo yang dibuat untuk tujuan mempertahankan kesenian dan budaya Indonesia dalam bentuk busana. Perancangan busana dalam penelitian ini menggunakan ilustrasi dari tokoh Barong dalam Reog Ponorogo yang kemudian diterapkan pada kain dengan teknik transfer printing yang akan dijadikan detail menarik pada beberapa bagian busana. Teknik transfer printing adalah teknik cetak diatas permukaan kain sintetis dengan menggunakan mesin pemanas (heatpress) untuk memindahkan pigmen zat warna dari media kertas ke media kain. Pada busana tersebut ditambahkan aplikasi fringe untuk menonjolkan dan memberikan ciri khas kesenian Reog Ponorogo. Produk yang dibuat akan ditentukan harga jual sesuai dengan perhitungan harga jual dari harga pokok produksi (HPP). Tiga busana ready to wear deluxe dianalisa kesesuaian antara harga jual dan hasil produk yang sudah dibuat menggunakan metode kualitatif dengan penyebaran kuisioner. Pada 59 orang responden, busana (1) 16,9 % menilai sesuai dengan HPP , busana (2) 40,7 % mendekati HPP dan busana (3) 33,3 % sesuai HPP bahkan 28,3 % menilai lebih tinggi dari HPP
PENERAPAN SENSOR PUTUS BENANG PADA MESIN RAJUT DATAR MODIFIKASI
Seiring dengan perkembangan jaman mesin-mesin rajut mengalami perbaikan mulai dari kelancaran produksi hingga mutu produk yang dihasilkan. Perbaikan tersebut dapat berupa memodifikasi mesin yang ada tanpa membeli mesin yang baru. Untuk meningkatkan produktifitas pada mesin rajut datar manual, dilakukan modifikasi dengan penambahan motor penggerak sehingga kelancaran produksi akan meningkat. Namun akibat dari penggunaan motor pada mesin rajut modifikasi ini, sering terjadi putus benang yang tidak terdeteksi karena tidak adanya sensor yang mendeteksi ketika terjadinya putus benang. Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengaplikasikan sensor putus benang pada mesin rajut datar modifikasi. Sensor putus benang ini menggunakan sistem sensor tekanan dengan sistem saklar dimana berfungsi untuk mendeteksi jika terjadi putus benang dan mencegah terjadinya ambrol kain pada mesin. Dari percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa: Sensor tekanan dengan sistem saklar dapat diaplikasikan sebagai sensor putus benang pada mesin rajut datar modifikasi
PENERAPAN TEKNIK CETAK BIRU CYANOTYPE PADA BUSANA READY TO WEAR
Cyanotype, sering disebut sebagai proses cetak Biru, yang merupakan seni percetakan fotografi. Proses ini merupakan proses memanfaatkan sensitivitas terhadap cahaya untuk dapat membuat fotografi gambar atau fotogram di atas kertas atau kain. Cyanotype disebut juga dengan istilah blueprint karena karakteristik hasil cetaknya yang berwarna biru / cyan. Cyanotype masih digunakan dalam ruang lingkup yang kecil dan tidak terlalu berdampak pada dunia fesyen, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan teknik ini kepada ruang lingkup tekstil yang lebih besar dan sesuatu yang lebih lazim diterapkan pada busana fesyen, yaitu dengan menerapkan teknik cetak Cyanotype pada busana ready to wear untuk wanita.Inspirasi dari perancangan busana ready to wear pada penelitian ini adalah botanica prussian, ilustrasi botanica sebagai sejarah penggunaan proses Cyanotype dan juga pengaruh gaya hippies diterapkan menjadi motif pada proses cetak cyanotype untuk busana ready to wear dan prussian sebagai warna dasar yang dihasilkan dari zat kimia asam kalium ferricyanide pada proses cyanotype. Dengan style atau gaya busana yang digunakan mengacu kepada trend forecasting Indonesia tahun 2019/2020 yaitu Singularity dengan sub tema yang dipilih adalah svarga: Upskill Craft (kriya berkelas) merupakan sebuah peningkatan nilai dari hasil kriya yang dibuat menjadi seni kontemporer. Motif botanika yang dipilih adalah motif dedaunan dan dandelion serta bunga sepatu. Bunga dandelion memiliki arti kehidupan pantang menyerah dan bunga sepatu yang melambangkan kasih sayang, kemurnian, dan kebahagian. Kedua bunga ini mewakili arti dari sub tema svarga sebagai keindahan spritual yang kemudian bentuknya dimodifikasi menjadi bentuk renggaan yaitu memodifikasi bentuk alam menjadi bentuk baru dengan tidak menghilangkan bentuk aslinya.Berdasarkan percobaan penerapan motif botanica pada rancangan busana ready to wear dilakukan dengan menerapkan teknik cetak biru cyanotype pada media kain mori. Dengan proses pembuatan mulai dari pembuatan desain motif, persiapan emulsi cyanotype, proses sensitizing / pengolesan emulsi pada media kain, pengeringan, proses penyinaran, pembilasan dan pengeringan hasil akhir kain. Pada proses cetak biru cyanotype fiksasi warna dilakukan dengan menggunakan hidrogen peroksida dengan kadar 3 persen. Implementasi gaya hippies pada bentuk motif botanica pada busana ready to wear berupa dedaunan dan dandelion yang dimodifikasi menjadi motif renggaan diterapkan pada desain busana motif bunga sepatu yang dipadukan dengan gambar tape kaset telah diaplikasan pada busana ready to wear
Pencelupan Kain Rajut Kapas/Modal Menggunakan Zat Warna Reaktif Bifungsional Metoda One-bath
Zat warna reaktif bifuctional digunakan untuk mencelup kain rajut campuran Kapas/modal (65%/35%). Perbedaan sifat daya serap kapas dan modal serta pengaruh konsentrasi natrium sufat dan natrium karbonat akan dibahas dalam penelitian ini. Karakteristik hasil pencelupan dianalisa dengan pengujian K/S dan analisa terhadap ketahanan luntur warna setelah pencucian dengan menggunakan spektrofotometer. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh penggunaan konsentrasi natrium sulfat dan natrium karbonat terhadap ketuaan warna dan kerataan warna tetapi tidak berpengaruh terhadap ketahanan luntur warna terhadap pencucian. Penggunaan natrium sulfat 50 g/l dan natrium karbonat 15 g/l dan pH larutan sebesar 11,7 pada suhu 60 0C selama 60 menit dapat menaikkan ketuaan warna serta dapat meningkatkan kerataan warna hasil pencelupa
MODEL PERHITUNGAN BAHAN BAKU DI PABRIK PERTENUNAN DENGANMENGGUNAKAN SISTEM PAKAR
Perkembangan teknologi informasi yang semakin cepat mendorong ditemukannya sistem-sistem terbaru, salah satunya adalah sistem perhitungan bahan baku di pabrik pertenunan. Banyaknya permasalahan dan metode pada perhitungan bahan baku dalam proses pertenunan membutuhkan solusi yang cepat dan tepat. Untuk itu diperlukan sebuah model perhitungan bahan baku dengan menggunakan aplikasi komputer berbasis pengetahuan, yang telah didefinisikan terlebih dahulu oleh pakar pertenunan. Tujuan penelitian ini adalah merancang sebuah perangkat lunak sistem pakar yang dapat mengidentifikasi, meningkatkan kecepatan,ketelitian dan keakuratan perhitungan kebutuhan bahan baku. Perancangan perangkat lunak dimulai dari analisis model matematis perhitungan bahan baku, diagram konteks, aliran data, basis data, implementasi sistem, dan pengujian sistem atau perangkat lunak yang dihasilkan. Berdasarkan hasil pengujian sistem, dapat disimpulkan bahwa perangkat lunak yang telah dirancang telah mampu menghitung kebutuhan bahan baku secara cepat dan akurat. Sehingga dapat menjadi salah satu model perhitungan kebutuhan bahan baku di pabrik pertenunan
MODIFIKASI MESIN RAJUT DATAR MANUAL DENGAN PENAMBAHAN KOMPONEN MESIN MOTOR PENGGERAK
Perkembangan teknologi yang sangat pesat pada dasarnya bertujuan untuk menjawab kebutuhan akan efesiensi peralatan, baik yang telah ada maupun yang akan dirancang. Mesin rajut datar manual memiliki tingkat efisiensi yang rendah, karena dalam penggunaanya tergantung pada keahlian seseorang. Dengan demikian untuk meningkatkan kinerja mesin dan efektifitas dalam penggunaanya perlu dilakukan modifikasi, sehingga kinerja mesin rajut datar manual dapat meningkat. Modifikasi mesin rajut datar manual yang dilakukan adalah dengan penambahan komponen mesin motor pengerak dan peralatan transmisi berupa pulley dan belt maupun sproket dan rantai. Penerapan motor yang dilakukan dalam modifikasi mesin rajut datar ini merupakan jenis mesin motor listrik 1 fasa, karena dalam penggunaan secara umum sumber arus rumahan dapat berjalan dalam arus 220 volt. Dalam hasil modifikasi yang dilakukan, sistem penggerak atau penyeret dapat berkerja yaitu menarik dan mendorong stich cam pada jalur needle bed dengan kecepatan 32 course/menit
PENGARUH KONDISI TOP COMB PADA MESIN COMBING TERHADAP KETIDAKRATAAN DAN KEKUATAN TARIK BENANG KAPAS
Salah satu mesin yang berpengaruh dalam menentukan mutu benang combed adalah mesin combing. Kondisi sisir dalam mesin combing merupakan hal yang sangat penting dalam menentukan mutu benang yang dihasilkan, khususnya kekuatan dan ketidakrataan benang. Untuk menghasilkan benang dengan kekuatan dan ketidakrataan yang baik maka perlu diperhatikan kondisi sisir combing yang digunakan, apakah kondisi sisir baik (kondisi normal) atau tidak (kondisi cacat). Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan kekuatan dan ketidakrataan benang combed Ne 1 40 yang dihasilkan oleh top comb dengan kondisi normal dan top comb dengan kondisi cacat dengan standar perusahaan. Untuk tujuan tersebut maka dilakukan pengamatan langsung dilapangan dengan menggunakan dua macam kondisi sisir untuk memproses benang Ne1 40, kemudian dilakukan pengujian kekuatan tarik dan ketidakrataan terhadap masing masing benang yang dihasilkan. Dari penelitian ini diketahui bahwa kekuatan tarik benang yang dihasilkan oleh top comb dengan kondisi cacat adalah 14,625 cN/Tex nilai ini berada dibawah standar perusahaan yaitu 15 cN/Tex. Sedangkan Ketidakrataannya 11,53% nilai ini lebih tinggi dari standar perusahaan yaitu 11,5
PEMBUATAN NOWOVEN INSULATOR MEMANFAATKAN BAHAN LIMBAH BULU AYAM DAN KASA POLIPROPILEN
oai:ojs2.ojstexere.stttekstil.ac.id:article/15Pada tahun 2017 konsumsi daging ayam konsumen Indonesia diprediksi mencapai 4,69 kg/kapita sehingga membutuhkan 1,24 juta ton daging ayam, dengan kandungan bulu ayam 5% dari bobot ayam maka dihasilkan sebanyak 62.000 ton/tahun limbah bulu ayam. Saat ini di Indonesia limbah bulu ayam baru dimanfaatkan untuk bahan baku pakan ternak kualitas rendah, sebagai pembersih seperti kemoceng, untuk pengisi bantal dan boneka. Potensi limbah bulu ayam untuk bahan baku tekstil insulator masih belum banyak diteliti. Bulu ayam memiliki sifat ringan, kuat, berpori, dan sedikit hidrofob sehingga sangat potensial digunakan sebagai material insulator tekstil. Pada penelitian ini limbah bulu ayam dipilah dan dibersihkan dengan proses kimia kemudian diproses menjadi kain nowoven bersama jaring polipropilen dengan metode themal bonded. Percobaan dilakukan dengan memvariasikan perbandingan arah orientasi bulu ayam untuk menghasilkan material insulator yang optimal yang ditinjau dari kekuatan tarik dan mulur kain, sifat termal dan area density. Hasil pengujian area density (gramasi) diketahui bahwa gramasi kain nowoven insulator yang berbahan utama limbah bulu ayam memiliki nilai lebih dari 14 kali lipat dari gramasi material insulator komersial. Hasil pengujian uji tarik menunjukan kain nowoven berbahan utama limbah bulu ayam dengan arah orientasi unidirectional memiliki kekuatan tarik 6 kali lebih tinggi dibandingkan dengan kekuatan tarik material insulator komersial