Texere (E-Journal)
Not a member yet
    111 research outputs found

    PERHITUNGAN KUBIKASI UNTUK MEMAKSIMALKAN PENGGUNAAN PETI KEMAS EKSPOR DENGAN KONSOLIDASI PENGIRIMAN SEBUAH STUDI KASUS

    Full text link
    PT Garmen Z merupakan perusahaan yang mendapatkan order dari beragam customer dan produknya telah diekspor ke berbagai negara. Order setiap style rata-rata jumlahnya kurang dari kapasitas maksimal peti kemas. Hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya kekurangan/kekosongan isi peti kemas dalam proses pengiriman, sedangkan biaya sewa peti kemas tidak dihitung berdasarkan isi atau beratnya. Dalam proses sewa peti kemas, perusahaan harus membayar secara penuh setiap pemesanan satu peti kemas. Oleh karena itu pada proses persiapan stuffing harus diperhatikan secara teliti cara menentukan, menghitung, dan menyesuaikan kemasan baik box atau hanger yang ukuran dan jumlahnya beragam dalam satu peti kemas (kubikasi). Pengamatan dilakukan dengan menentukan cara pengiriman barang melalui dua metode yang lebih efektif dan hemat. Dua metode pengiriman peti kemas yaitu Full Container Load (FCL) dan Less than Container Load (LCL). Customer yang menggunakan box yaitu HPI DIRECT dan customer yang menggunakan hanger yaitu CCA (City Club Apparel). Proses perhitungan kubikasi ekspor dilakukan dengan cara menghitung ukuran ruang peti kemas yang dibutuhkan. Perhitungan pertama dilakukan pada customer HPI DIRECT yang hanya membutuhkan ruang 3,21 m3 lalu dilanjutkan pada customer CCA yang hanya membutuhkan ruang 8,37 m 3 pada peti kemas dari batas maksimal ruang 33 m3. Solusi yang ditawarkan adalah pengiriman untuk customer HPI menggunakan metode LCL sedangkan customer CCA menggunakan sistem FCL dengan melakukan konsolidasi pengiriman ekspor antara dua perusahaan

    PENGGUNAAN TEKNIK KATAZOME DAN PEWARNA KUNYIT PADA INSPIRASI MOTIF REMPAH BUSANA READY TO WEAR

    Full text link
    Pembuatan desain motif di atas permukaan kain dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan metode perintangan. Teknik perintang warna yang berkembang di negara Jepang adalah teknik katazome. Katazome adalah teknik pembuatan motif reka latar pada kain menggunakan celup rintang pasta tepung beras. Pembuatan motif dilakukan dengan cara mengoleskan pasta tepung beras di atas cetakan berupa stensil kertas (katagami). Teknik katazome memberikan alternatif bagi pelaku dan pengguna fashion dalam pembuatan desain motif dan produk pakaian jadi. Metodologi yang digunakan adalah studi pustaka dan percobaan dalam pembuatan desain motif dan produk pakaian jadi. Teknik katazome sesuai jika diterapkan untuk membuat produk yang ramah lingkungan dan dekat dengan isu sustainable fashion saat ini. Bahan utama teknik ini terbuat dari bahan yang organik dan tidak banyak menggunakan bahan kimia. Hasil produk dari penelitian ini berupa busana ready to wear yang terinspirasi dari motif rempah. Tema yang diusung yaitu pada Trend Forecasting Singularity 2019/2020 tema Svarga dengan sub tema Upskill Craft. Penerapan teknik katazome pada kain berbahan kapas (strada terracotta) terdiri dari mordanting kain, pembuatan motif pada katagami, pembuatan pasta tepung beras dan pencelupan menggunakan pewarna kunyit. Takaran resep dalam pembuatan larutan zat warna yang berasal dari kunyit, jumlah celupan dan durasi perendaman kain dalam larutan fiksasi tunjung berpengaruh terhadap ketahanan luntur warna kain yang dilakukan penerapan teknik katazome

    PENYETELAN TEKANAN UDARA MAIN NOZZLE PADA PROSES PEMBUATAN KAIN YANG MENGGUNAKAN PAKAN FILAMENT TEKSTUR PADA AIR JET LOOM TOYOTA

    Full text link
    Putus benang pakan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kelancaran proses produksi. Kelancaran proses produksi dapat terganggu apabila terjadi banyak putus pakan sehingga kualitas dan kuantitas produksi yang dihasilkan pun akan menurun. faktor dominan penyebab putus benang pakan diduga adalah tidak tepatnya setelan tekanan udara pada main nozzle yang diberikan pada benang pakan. Permasalahan yang timbul penyebab kegagalam peluncuran benang pakan diantaranya adalah terlalu besar tekanan udara main nozzle yang diberikan kepada benang pakan yang mengakibatkan kegagalan peluncuran pakan yang disebut pakan panjang atau terlalu kecilnya tekanan udara main nozzle yang diberikan kepada benang pakan yang mengakibatkan kegagalan peluncuran pakan yang disebut pakan tak sampai. Setelah melakukan penyetelan main nozzle pada 1 mesin Air Jet Loom dengan menggunakan jumlah variasi penyetelan sebanyak 5 variasi untuk setiap shift maka terlihat adanya perbedaan kegagalan peluncuran benang pakan untuk setiap variasinya baik itu pakan tak sampai ataupun pakan panjang, setelah melakukan perubahan penyetelan main nozzle maka didapatkan penyetelan yang paling efektif adalah pada tekanan 5 bar pada main nozzle, dimana pada tekanan 5 bar dihasilkan kegagalan peluncuran pakan sebanyak 18 kali dalam 1 shift dan jumlah ini lebih sedikit dibandingkan dengan kegagalan peluncuran pakan pada penyetelan yang lainnya. Maka dengan menggunakan tekanan udara main nozzle sebesar 5 bar untuk pakan filament tekstur perusahan dapat mencapai efisiensi produksi yang tinggi

    METODE BLOK MARKER UNTUK PENINGKATAN EFISIENSI BAHAN BAKU DI RUMAH JAHIT GASA

    Full text link
    Perhitungan kebutuhan bahan baku merupakan salah satu proses perencanaan yang harus dilakukan sebelum proses produksi dimulai. Perencanaan produksi dilakukan agar proses produksi dapat berjalan secara efektif dan efisien baik dari jumlah produk, waktu penyelesaian maupun biaya produksi. Rumah Jahit Gasa memproduksi pesanan berupa 24 kemeja UKM Bhaskara Universitas Muhammadiyah Purwokerto pada Januari tahun 2020. Rumah Jahit Gasa mengalami permasalahan penghitungan kebutuhan bahan baku yang kurang tepat sehingga terdapat sisa bahan baku berlebih sebesar 4,8 meter. Permasalahan tersebut dapat diselesaikan dengan cara menerapkan metode blok marker yang sesuai untuk industri skala kecil dan menengah dalam membuat kemeja Bhaskara. Hasil dari penerapan metode blok marker pada kemeja Bhaskara akan mempengaruhi perhitungan kebutuhan bahan baku dan biaya bahan baku yang dibutuhkan untuk membuat kemeja Bhaskara. Beberapa data yang dibutuhkan untuk menerapkan metode blok marker yaitu spesifikasi produk, spesifikasi bahan baku, jumlah produk, spesifikasi ukuran, stitch, seam dan kampuh kemeja bhaskara. Pengaruh penerapan metode blok marker terhadap perhitungan kebutuhan bahan baku berupa kain drill untuk membuat 24 kemeja Bhaskara yaitu 34,66 meter dan mengalami penurunan sebesar 5,34 meter atau 13,35%, hasil tersebut menunjukkan penghematan dari segi biaya sebesar Rp.176.220,- atau 13,35% dari hasil penghitungan metode yang biasanya dilakukan oleh Rumah Jahit Gas

    UPAYA MENGURANGI CHANGE OVER TIME PADA PROSES PENJAHITAN DI SEWING LINE A20 PT. DF

    Full text link
    Pada industri pakaian jadi pelayanan dan kepuasan buyer menjadi hal penting dalam menghadapi persaingan agar dapat terus tumbuh dan berkembang. Order produksi setiap tahun terdiri dari berbagai macam style yang akan berganti setelah selesai diproduksi. Perusahaan akan melakukan penetapan waktu yang harus dicapai dalam menyelesaikan satu order, sehingga dapat berpengaruh pada efisiensi waktu proses dikarenakan seringnya aktivitas change over. Change over merupakan pergantian aktivitas produksi disuatu lini produksi dari satu produk ke produk lainnya. Metoda yang akan digunakan untuk mengurangi change over time (COT) pada lini produksi yaitu menggunakan Quick Change Over (QCO). Tujuan mengurangi COT untuk mengefisiensikan waktu proses produksi walaupun tidak untuk menambah kapasitas produksi. Waktu yang dibutuhkan selama set up mesin dalam QCO menjadi faktor yang paling lama sehingga beberapa proses set up harus disederhanakan sesuai dengan prinsip lean manufacturing. Upaya mengurangi COT pada proses penjahitan yaitu dengan penerapan pemeliharaan mesin yang terjadwal, menempatkan operator sesuai dengan skill matrix dan mempersiapkan aksesoris ketika diperlukan bagian produksi. Hasil setelah penerapan metoda QCO untuk style yang repeat order menunjukan bahwa COT line A20 mengalami penurunan, walaupun belum memenuhi standar target yang ditetapkan oleh perusahaan. Penurunan COT ini akan berdampak pada peningkatan produktivitas dan efisiensi di line A20

    PENCANGKOKAN POLI (N-ISOPROPILAKRILAMIDA) PADA JARING RASCHEL POLIETILENA MENGGUNAKAN PLASMA LUCUTAN KORONA BERTEKANAN ATMOSFIR

    Full text link
    Poli(N-isopropilakrilamida) (PNIPAAm) merupakan salah satu polimer responsif yang peka terhadap perubahan temperatur di sekitarnya dan telah banyak dipelajari potensi pemanfaatannya untuk aplikasi tekstil cerdas. Polimer tersebut berubah sifat dari hidrofilik menjadi hidrofobik secara reversibel dan konsisten di sekitar temperatur transisinya (LCST). Sifat tersebut telah dipelajari pemanfaatannya untuk membuat jaring penangkap air yang dapat menangkap dan melepaskan air mengikuti suatu siklus tertentu perubahan temperatur lingkungan. Pada studi ini, plasma lucutan korona bertekanan atmosfir telah digunakan untuk mencangkokkan PNIPAAm pada permukaan jaring raschel polietilena. Jaring tersebut biasa digunakan dalam pertanian untuk melindungi tanaman dari cahaya matahari dan terpaan hujan. Pengamatan morfologi permukaan dengan SEM memberikan petunjuk awal adanya pembentukan lapisan pada permukaan pita polietilena. Analisa kimia permukaan dengan FTIR mengkonfirmasi bahwa lapisan tersebut merupakan lapisan PNIPAAm yang telah berhasil dicangkokkan pada permukaan polietilena. Keberadaan PNIPAAm ditunjukkan dari kemunculan puncak-puncak serapan khas polimer tersebut pada frekuensi 1541 cm-1 dan 3428 cm-1 untuk regangan NH amida sekunder, 1639 cm-1 untuk regangan amida sekunder C=O, dan 2934 cm-1 untuk regangan asimetris -CH3. Puncak-puncak tersebut ditemukan pada semua spektra hasil pencangkokan yang belum maupun yang sudah dicuci dengan air ataupun detergen yang membuktikan bahwa NIPAAm telah berikatan kimia dan tercangkok dengan baik pada permukaan jaring polietilena. Hasil perhitungan penambahan berat pada sampel yang sudah dicuci menunjukkan jumlah pencangkokan NIPAAm bertambah sesuai dengan lamanya waktu iradiasi, yaitu masing-masing sebesar 2,83%, 4,82% dan 5,37% pada perlakuan plasma selama 5, 10 dan 15 menit. Dapat disimpulkan bahwa semakin lama waktu iradiasi plasma semakin banyak radikal bebas yang terbentuk pada permukaan polietilena dan menjadi pusat-pusat reaksi sehingga semakin banyak pula PNIPAAm yang berikatan dan berhasil dicangkokkan

    PENGGUNAAN KAIN TROSO DAN APLIKASI MAKRAME PADA BUSANA READY TO WEAR

    Full text link
    Indonesia memiliki kekayaan ragam kain tenun  tradisional dari masing-masing daerah. Salah  satu  daerah  yang menghasilkan  kain  tenun  tradisional  yaitu kabupaten Jepara, Jawa  Tengah.  Kain  tenun  yang diproduksi  di  desa  Troso  Kabupaten  Jepara  disebut  dengan  kain  tenun  Troso. Dalam upaya memperkenalkan kain tenun Troso, maka disusun rencana penelitian ini yang bertujuan  untuk memberikan  alternatif  baru  penggunaan  kain  tradisional  tenun  ikat  troso  dan aplikasi teknik ikat mengikat atau lebih dikenal dengan makrame yang pembuatannya dilakukan secara manual sebagai nilai  tambah dalam pembuatan busana. Hasil dari  penelitian  ini  berupa  busana  ready to wear  yang  terinspirasi  dari  Trend Forecasting Fashion tahun 2019-2020 Singularity yang diterbitkan oleh Bekraf dengan tema Svarga. Metodologi yang digunakan adalah studi literatur dan studi lapangan dalam proses eksperimen pembuatan  produk.  Kain  tenun  Troso  dan  kain  tambahan  yang  akan  digunakan memerlukan sifat yang menghasilkan kenyamanan serta kekuatan yang baik bagi penggunanya.  Hal  tersebut  mendasari  perlunya  dilakukan pengujian untuk kain tenun troso dan kain pendukung. Selain itu aplikasi makrame yang diterapkan akan diproduksi dengan teknik  pencelupan  zat warna  untuk memperoleh  hasil  gradasi warna. Produk  tekstil  atau  fashion  tersebut  kemudian  dinilai  secara  ekonomi  di masyarakat  dengan menggunakan metode kuantitatif berupa kuisioner

    PENGARUH PENGGUNAAN KONSENTRASI ENZIM SELULASE DAN BATU APUNG PADA PROSES BIOPOLISHING KAIN KAPAS

    Full text link
    Tren fashion, khususnya proses pelusuhan pakaian jadi banyak dikerjakan untuk menghasilkan efek khusus agar memiliki kenampakan berbeda setelah pencucian. Proses pencucian dapat dikerjakan diantaranya  biopolishing, stone wash dan acid wash/ice wash, hal ini dilakukan untuk memodifikasi produk akhir  memberikan tampilan berbeda dan meningkatkan kemampuan kenyamanan pakaian. Proses biopolishing adalah proses penyempurnaan menggunakan enzim, bertujuan memperbaiki kenampakan, pegangan kain, sifat permukaan  lebih halus, bebas pilling, dan memiliki daya serap tinggi. Penambahkan batu apung memperluas tingkat pelusuhan dibagian-bagian tertentu, dan memberikan tampilan berbeda.Percobaan menggunakan mesin washing skala laboratorium  dengan variasi konsentrasi enzim  1%, 2% , dan batu apung 1/3  dan 1/2  suhu 60oC selama 30 menit pada mesin washing skala laboratorium. Pengujian meliputi pilling kain, pengurangan berat (SNI ISO 7211-6), ketuaan warna (SNI ISO 105-J03), ketahanan jebol cara diagfrgma (SNI ISO 13938-1), dan ketahanan gosok metode  martindale (SNI ISO 12947-1). Hasil pengujian menunjukkan bahwa semakin tinggi penggunaan konsentrasi enzim dan batu apung, grade pilling semakin besar, pengurangan berat makin besar, tingkat ketuaan warna makin rendah, kekuatan jebol makin turun, dan semakin besar pengurangan tebal dan berat pada uji tahan gosok dengan metode martindale. Kondisi optimum diperoleh pada konsentrasi enzim 1 % dengan penggunaan batu apung 1/2  volume mesin washing skala laboratorium

    PENGATURAN TEKANAN UDARA MAIN NOZZLE PADA AJL TSUDAKOMA TYPE ZAX 9100 UNTUK BEBERAPA NOMOR BENANG CARDED

    Full text link
    PT “X” belum mempunyai standar tekanan udara untuk main nozzle pada masing-masing nomer benang cotton carded, dan juga pengaturan tekanan udara masih mengunakan prinsip trial and error. Dari masalah tersebut mendorong penulis untuk mengamati dan mencari tekanan udara yang optimum untuk beberapa nomer benang cotton carded, tujuanya agar dapat dijadikan acuan tekanan udara untuk proses produksi bagi perusahaan dengan weft trouble paling sedikit. Penelitian dilakukan dengan mencari tekanan udara yang optimum dari rentang tekanan 0,30 Mpa-0,39 Mpa. Tekanan yang diamati pada masing–masing main nozzle adalah 0,30 Mpa, 0,33 Mpa, 0,36 Mpa, 0,39 Mpa untuk nomer benang cotton carded Ne 1 20, Ne 1 30 dan Ne 1 40 yang kemudian dilakukan perhitungan terhadap jumlah weft trouble per shift, tekanan udara yang menghasilkan weft trouble paling kecil bisa dijadikan acuan standar perusahaan di PT “X”. Hasil percobaan dilapangan, tekanan udara yang optimum untuk nomer banang Ne 1 20 adalah sebesar 0,39 Mpa dengan weft troubel rata-rata 18 kali kejadian, sedangkan tekanan udara untuk Ne 1 30 adalah sebesar 0,36 Mpa dengan kejadian weft trouble rata–rata adalah 39 kejadian dan tekanan udara untuk Ne 1 40 adalah sebesar 0,33 Mpa dengan kejadian weft trouble rata-rata adalah 42 kali kejadian

    PEMBUATAN KOMPOSIT ISOLATOR PANAS BERBAHAN SERAT KAPUK (CEIBA PENTANDRA) DAN POLIPROPILENA DENGAN METODE THERMAL BONDING

    Full text link
    Komposit adalah suatu material yang terbentuk dari kombinasi dua material ataulebih melalui pencampuran yang tidak homogen, sehingga menghasilkan sebuah material dengan sifat baru yang berbeda dengan material pembentuknya. Perkembangan teknologi komposit saat ini tidak hanya mengkaji pada variasi struktur namun juga bahan baku yang lebih ramah lingkungan, salah satu bahan baku yang memiliki potensi besar adalah serat kapuk. Serat kapuk (ceiba pentandra) merupakan satu komoditi agrikultur yang tersedia dalam jumlah yang besar di Indonesia, Pada penelitian ini, serat kapuk digunakan bahan baku pembuatan insulator panas. Hal ini menjadi peluang untuk membuat produk dari pemanfaatan serat kapuk untuk meningkatkan harga jualnya. Serat kapuk digunakan sebagai penguat dan jaring polipropilena digunakan sebagai matriks. Pembuatan komposit dari kedua bahan ini dilakukan dengan menggunakan metode hot press. Komposit dibuat dengan 3 komposisi kapuk dan polipropilena yang berbeda yaitu 25:75, 20:80 dan 15:85. Proses produksi dilakukan melalui penekanan dengan alat thermal bondingpada suhu 100 0 C dan durasi 4 kali 30 detik. Komposit yang telah terbentuk melewati pengujian suhu panas dan dingin dengan alat bantu berupa sensor suhu. Berdasarkan hasil pengujian ketahanan suhu panas dan dingin, diketahui bahwa komposit dengan komposisi 25:75 memiliki kemampuan paling baik untuk mempertahankan suhu ruangan. Persentase serat kapuk pada komposit berbanding lurus terhadap ketebalan komposit serta kemampuan komposit mempertahankan suhu dalam ruangan panas dan dingin

    104

    full texts

    111

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Texere (E-Journal)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇