Texere (E-Journal)
Not a member yet
111 research outputs found
Sort by
Aplikasi Proximity Sensor Pada Mesin Rajut Datar Semi Otomatis Berbasis Komputer
Perkembangan teknologi semakin pesat dengan adanya alih teknologi 4.0 pada industri tekstil khususnya pada produksi kain rajut. Kain rajut diproduksi menggunakan mesin rajut salah satunya adalah mesin rajut datar semi otomatis. mesin rajut datar semi otomatis yang ada di politeknik sttt bandung, dapat memproduksi kain rajut dengan lebar 80 - 100 cm. Pada produksi kain rajut yang menggunakan mesin rajut datar, sering terjadi cacat bolong yang disebabkan oleh benang putus pada jarum rajut. Hal ini akan mengakibatkan produksi kain rajut menjadi tidak maksimal, karena mesin sering berhenti tiap kali benang putus. Oleh karena itu pada penelitian ini akan dilakukan perancangan dan pembuatan sensor cacat bolong pada kain rajut pada mesin rajut datar semi otomatis. Pendeteksi cacat bolong kain rajut menggunakan sensor LDR, kemudian variable nilai output sensor diolah menggunakan mikrokontroler, dari mikrokontroler menghasilkan trigger untuk menyalakan alarm, menghitung jumlah cacat, serta menghentikan mesin. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas atau mutu kain rajut, mengetahui efisiensi mesin serta dapat mengaplikasikan salah satu penerapan dari teknologi 4.0 dalam hal sistem kontrol otomatis berbasis komputer pada proses pembuatan kain rajut pada mesin rajut datar semi otomatis
IMPLEMENTASI WASTE ASSESMENT MODEL UNTUK MENINGKATKAN OUTPUT PRODUKSI (STUDI KASUS SEWING LINE PT X)
Rendahnya tingkat pencapaian output produksi dapat terjadi karena adanya pemborosan atau waste. Waste ditandai dengan tingginya rework dan reject, serta rendahnya kualitas dan produktivitas kerja. Waste dapat direduksi dengan mengetahui tingkat prosentase waste tertinggi dan terendah, sehingga dapat diketahui jenis waste yang paling mempengaruhi timbulnya jenis waste yang lain. Dengan mengidentifikasi jenis waste yang terjadi diharapkan dapat dicari akar penyebab waste dan solusinya sehingga berdampak pada peningkatan output produksi. Waste Assessment Model (WAM) merupakan metode yang digunakan untuk mengetahui jenis waste yang terjadi pada industri manufaktur. Berdasarkan pendekatan metode WAM pada studi kasus proses penjahitan artikel “01” ditemukan bahwa waste yang paling kritis yaitu waste inappropriate processing. Waste ini diakibatkan oleh tingginya tingkat rework pada bagian kerah dari output yang dihasilkan. Akar penyebab rework pada bagian kerah yaitu tidak adanya alat bantu yang dapat meminimalisir dan memudahkan proses penjahitan kerah. Setelah dilakukan perbaikan tingkat rework menurun yang diikuti dengan meningkatnya output produksi
UPAYA MENGURANGI WAKTU IDLE MESIN POTONG OTOMATIS MEREK GERBER TIPE XLc7000
Dalam dunia industri saat ini, mesin-mesin otomatis telah banyak digunakan dengan tujuan untuk meningkatkan produktifitas industri tersebut. PT TWI merupakan salah satu industri yang telah menggunakan mesin-mesin otomatis dalam proses produksinya. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan di bagian Cutting PT TWI, diketahui terdapat mesin potong otomatis Gerber, namun dalam penggunaannya tidak maksimal sehingga menyebabkan tingginya waktu idle mesin tersebut. Terdapat beberapa proses pengerjaan yang seharusnya dapat dilakukan secara bersamaan atau bahkan dihilangkan, namun pada kenyataannya tidak dilakukan. Untuk itu, diterapkan perbaikan dengan cara menghilangkan beberapa proses dan menggabungkan atau melakukan beberapa proses secara bersamaan, terutama pada proses-proses yang menyebabkan waktu idle menjadi tinggi. Hasil dari perbaikan ini didapatkan waktu idle mesin potong yang lebih rendah, yaitu 3.827,24 detik atau 63,79 menit, yang awalnya sebesar 4.821,9 detik atau 80,37 menit. Meskipun tidak dapat menghilangkan waktu idle mesin secara keseluruhan, namun waktu idle dapat diturunkan cukup besar, yaitu sebesar 994,66 detik atau 16,58 menit
PENGARUH TIO2 TERHADAP HASIL PROSES PENYEMPURNAAN TAHAN API KAIN KAPAS DENGAN MENGGUNAKAN THPC-UREA
Kapas memiliki sifat mudah terbakar dan bara apinya meneruskan pembakaran dengan nilai LOI 18,4%. Untuk mangatasi keterbatasan tersebut, maka dilakukanlah proses penyempurnaan tahan api menggunakan THPC dan urea. Adanya TiO2 diperkirakan mampu untuk meningkatkan sifat penyempurnaan tahan api. TiO2 yang digunakan berupa hasil sintesis menggunakan metode sol-gel. Proses sintesis dilakukan dengan cara pencampuran antara TiCl4 dengan etanol, kemudian digelatinisasi selama 24 jam dan dilakukan proses kalsinasi pada suhu 550oC selama 2 jam. Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan TiO2 hasil sintesis sebagai zat tahan api pada penyempurnaan tahan api kain kapas dengan memvariasikan konsentrasi TiO2 yaitu 0, 3, 6, dan 9 %. TiO2 dikombinasikan dengan tetrakis hydroxyl phosphonium chloride (THPC)-urea sebagai zat tahan api utama. Selanjutnya dilakukan pengujian berupa XRD, FTIR , pengujian tahan api cara vertikal dan pengujian kekuatan tarik kain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencampuran TiCl4 dengan etanol berhasil membentuk TiO2 anatase, TiO2 hasil sintesis berhasil menempel pada kain kapas hasil penyempurnaan tahan api. Efek dari penggunaan kombinasi zat tahan api THPC-Urea-TiO2 dapat mengakibatkan penurunan kekuatan tarik pada kain kapas. Kain yang diberikan TiO2 memberikan waktu nyala yang lebih lama dan panjang arang yang lebih pendek jika dibandingkan dengan kapas tanpa penyempurnaan tahan api
SOLASI SERAT BATANG PISANG SEMU SEBAGAI SERAT PENGUAT BIOKOMPOSIT
Pemanfaatan serat alam dari limbah tanaman di banyak sektor seperti tekstil , komposit, automotif dan lainnya mulai banyak dikembangkan. Hal ini karena keunggulannya dibandingkan dengan serat sintetis, diantaranya ramah lingkungan, sifat mekanik yang baik, dan merupakan sumber daya alam yang melimpah dan terbarukan. Pada tanaman pisang, bagian batang yang dibuang pada proses pemanenan memiliki kandungan serat selulosa yang tinggi. Serat batang pisang juga memiliki sifat anti bakteri yang cukup baik karena adanya kandungan fenolik. Proses isolasi serat dari batang pisang dilakukan dengan proses degumming secara menggunakan enzim xilanase dan degumming secara kimia menggunakan natrium karbonat. Proses degumming secara kimia lebih efektif, dibandingkan secara enzimatis. Hasil degumming secara kimia menghasilkan pengurangan berat lebih besar dan sifat penyerapan air lebih banyak, namun memiliki kekuatan tarik yang sedikit lebih rendah dibandingkan degumming secara enzimatis. Degumming menggunakan natriumkarbonat dengan konsentrasi 30g/L menghasilkan penurunan berat sebesar 12,1%, kekuatan tarik sebesar 18,84 g/teks dengan mulur sebesar 21,74 %, dan kemampuan menyerap air sebesar 1310,33%. Pada pengujian sifat termal, menunjukkan serat yang dihasilkan dapat terdegadrasi pada suhu sekitar 360oC. Serat yang dihasilkan dapat diaplikasikan sebagai serat tekstil maupun serat penguat pada pembuatan biokomposit
PEMBUATAN BUSANA READY TO WEAR DELUXE DENGAN ORNAMEN BORDIR MOTIF PEMBULUH DARAH PADA WATER SOLUBLE MATERIAL
Pembuatan busana ready to wear deluxe memiliki konstruksi desain yang tergolong lebih rumit dan bervariasi. Ciri khas yang dimiliki oleh busana ready to wear deluxe ini yaitu dibuat dengan teknik yang khusus, menggunakan teknik rekayasa bahan. Rekayasa meterial yang dapat diaplikasikan pada busana ready to wear deluxe ini salah satunya yaitu aplikasi ornamen bordir. Aplikasi ornamen bordir adalah hiasan yang terbuat dari benang khusus yang dijahitkan pada kain menggunakan mesin bordir kemudian dilakukan pengkomposisian warna dan bentuk yang bertujuan untuk menambah keindahan dan meningkatkan nilai jual yang lebih tinggi. Ornamen bordir yang digunakan pada busana ready to wear deluxe ini terinspirasi dari pembuluh darah arteri dan pembuluh darah vena. Water soluble material sebagai media pembuatan ornamen bordir dipilih karena water soluble material memiliki kemampuan dapat larut dalam air serta dapat membentuk hasil dari rancangan embroideri seperti bentuk kerancang atau berlubang. Water soluble material dapat mempercepat proses desain dari rancangan embroideri apabila dikerjakan dengan menggunakan solder
UPAYA PENINGKATAN KUALITAS HASIL POTONGAN KAMPUH PADA KOMPONEN DAUN KERAH DI AUTOMATIC TEMPLATE SEWING MACHINE
Automatic template sewing machine adalah mesin yang dapat melakukan penjahitan otomatis serta pemotongan kampuh dengan menggunakan laser. Syarat pemotongan yang baik adalah hasil potongan tepat dan akurat, hasil potongan bersih dan rapi, pinggiran kain tidak saling menempel, potongan yang konsisten. Di PT X target produksi tidak tercapai karena potongan kampuh kerah tidak rata sehingga operator harus memotong kembali kampuh tersebut agar rapi. Faktor yang mempengaruhi hasil potongan laser yang paling umum pada automatic template sewing machine adalah kecepatan pemotongan, kecepatan pergerakan template serta karakteristik kain yang digunakan. Upaya perbaikan dilakukan dengan cara melakukan pengaturan kecepatan laser (2000 rpm, 2200rpm, 2400rpm) serta kecepatan pergerakan template (2400 rpm, 2600 rpm dan 2800 rpm) untuk mengetahui kecepatan yang sesuai dan dapat digunakan pada automatic template sewing machine untuk jenis bahan poliester 100% sehingga dapat meningkatkan kualitas potongan kampuh pada kerah. Dari 9 sampel pengujian, didapatkan hasil potongan yang optimal pada kecepatan laser 2000 rpm dengan kecepatan template (2400 dan 2600) rpm dengan hasil potongan kampuh rapi, pada ujung kampuh kerah terpotong dengan rapi dan baik, lapisan antar kain tidak lengket dan pinggir kain tidak berwarna kekuningan
SUSTAINABLE FASHION PADA BUSANA READY-TO-WEAR DENGAN TEKNIK ECOPRINT
AbstrakDewasa ini, produk fashion berkonsep ramah lingkungan, seperti eco fashion, menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Filosofi eco fashion berkesinambungan dengan konsep produk yang berkelanjutan (sustainable product). Salah satu metoda pewarnaan yang dapat digunakan untuk memenuhi konsep eco fashion dan sustainable product adalah teknik eco printing. Pada penelitian ini digunakan teknik ecoprinting metoda pukul pada kain kapas yang telah dicelup dengan warna dasar menggunakan pewarna alami, kulit kayu tegeran. Proses pre-mordanting menggunakan zat kapur dan tawas dilakukan sebagai upaya untuk mencegah terjadinya kelunturan warna akibat penggunaan zat warna alam. Kain yang telah diproses ecoprinting kemudian di produksi menjadi 2 buah busana Ready-to-wear dengan tema neo medieval subtema dystopian fortress pada trend forecasting singularity 2019-2020. Survey kelayakan harga dilakukan berdasarkan uji kuantitatif sehingga didapatkan data bahwa sebanyak 55% - 80% responden menyatakan tertarik dengan model produk yang ditawarkan, 75 -77% responden merasa bahwa produk pertama dan kedua yang ditawarkan layak dihargai Rp 1.000.000 – Rp 1.500.000
Metoda Pengeringan Zat Warna Bubuk Ekstraksi Kulit Bawang Merah menggunakan Convection Oven-drying dan Spray-drying
Pigmen warna dalam kulit bawang merah hasil ekstraksi mengandung senyawa yang dapat memberi warna pada kain. Ekstrak dalam bentuk cair tidak tahan lama dalam penyimpanan sehingga dibuat dalam bentuk bubuk agar lebih tahan lama. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mendapatkan zat warna lebih tahan lama dalam penyimpanan dengan cara pengeringan. Proses pengeringan zat warna yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan oven dan spray dryer. Karakterisasi yang digunakan untuk mengevaluasi hasil pencelupan menggunakan spektrofotometri, Laundry-O- meter untuk ketahanan terhadap pencucian dan crockmeter untuk ketahanan terhadap gosokan. Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah berat kering zat warna bubuk Hasil pengeringan menggunakan oven dan spray dryer masing-masing sebesar 4,97 gram dan 2,68 gram dari 1 Liter larutan ekstraksi. Kandungan air yang terdapat dalam zat warna bubuk dengan pengeringan menggunakan oven sebesar 35% sedangkan menggunakan spray dryer sebesar 3% setelah didiamkan selama 2 bulan. Evaluasi terhadap hasil pencelupan menggunakan zat warna bubuk hasil pengeringan menggunakan oven dan spray dryer masing-masing memiliki ketuaan warna (K/S) sebesar 3,46 ; kerataan warna (standar deviasi) sebesar 0,105; kecerahan dan arah warna L* 74, 28 ; a* 0,68 dan b* 25,55 ; dan ketuaan warna (K/S) sebesar 3,05 ; kerataan warna (standar deviasi) sebesar 0,08 ; kecerahan dan arah warna L* 77,19 ; a* - 2,03 dan b* 27,32. Untuk ketahanan luntur warna terhadap pencucian dan ketahanan warna terhadap gosokan basah serta kering keduanya memiliki hasil yang sama yaitu 4-5 dan 5. Kandungan air zat warna bubuk dan kerataan warna yang lebih baik dihasilkan dengan pengeringan menggunakan spray dryer
KARAKTERSITIK ZAT WARNA TERMOKROMIK TOUCH ACTIVATED DAN HASIL PENCAPANNYA PADA KAIN KAPAS
Zat warna termokromik, yang dikategorikan sebagai salah satu jenis smart dyes, dikembangkan terutama untuk memperoleh aspek-aspek fungsional pada bahan tekstil melalui kemampuannya untuk merespon rangsangan tertentu. Zat warna termokromik jenis touch activated dapat memudar warnanya ketika disentuh (pada suhu 29 o C / 84 o F). Kebutuhan untuk melengkapi informasi mengenai aspek-aspek teknis aplikasi dan karakteristik zat warna termokromik komersial jenis touch activated mendorong dilakukannya penelitian ini. Penelitian dilakukan dengan mengaplikasikan zat warna tersebut pada kain kapas dengan metode pencapan. Perbandingan zat warna:binder sebesar 1:1 dan diikuti dengan fiksasi pada temperatur ruang selama 30 menit. Hasil analisa FTIR menunjukkan bahwa zat warna tersusun atas senyawa organik aromatik dengan beberapa puncak serapan yang dominan seperti C=O, C=C, dll. Kain hasil pencapan memudar setelah menerima rangsangan sentuhan dan bersifat reversibel. Perbedaan usia dan jenis kelamin responden yang melakukan stimulus sentuhan tidak berpengaruh secara signifikan pada waktu retensi respon perubahan warna kembali. Ketahanan luntur warna kain hasil pencapan terhadap pencucian cukup rendah (nilai staining scale mencapai 2-3). Zat warna termokromik jenis touch activated lebih tepat digunakan untuk kepentingan teknis dan estetis pada aplikasi di bidang garmen atau untuk aplikasi sensor dan sejenisnya