Texere (E-Journal)
Not a member yet
111 research outputs found
Sort by
UPAYA MENGURANGI KESADAHAN AIR RECYCLE LIMBAH TEKSTIL MENGGUNAKAN ZEOLIT DAN ARANG AKTIF
Air merupakan kebutuhan utama pada proses basah tekstil. Hal ini berbanding terbalik dengan ketersediaan air. Dalam upaya mengefisienkan penggunaan air, salah satu pabrik tekstil menggunakan kembali air hasil recycle limbah produksinya. Air hasil recycle limbah pabrik tersebut memiliki tingkat kesadahan dan kandungan logam yang masih tinggi sehingga perlu dilakukan pengolahan sebelum digunakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perbandingan komposisi zeolit dan arang aktif serta waktu kontak adsorpsi terhadap penurunan kesadahan untuk memperbaiki kualitas air proses hasil recycle limbah produksi di salah satu pabrik tekstil tersebut. Proses adsorpsi dilakukan dengan metode filtrasi saringan cepat dilakukan dua tahapan. Pada tahap awal dilakukan filtrasi dengan beberapa komposisi media zeolit:arang aktif sehingga didapat komposisi optimum media zeolit: arang aktif ialah 8:1. Dilanjutkan dengan uji tahap dua yaitu variasi waktu kontak. Komposisi optimum media zeolit-arang aktif yaitu pada perbandingan 8:1 dapat menurunkan nilai kesadahan sebesar 54,36%. Nilai optimum yang dapat dicapai dengan komposisi zeolit:arang aktif 8:1 yaitu pada waktu adsorpsi selama 8 menit dengan hasil nilai pH 6 dan nilai kesadahan total sebesar 3,03°dH dengan efisiensi 74,55%, kesadahan Ca sebesar 1,12°dH dengan efisiensi 69,97%, kesadahan Mg 1,91°dH dengan efisiensi 76,65%
Pengaruh Konsentrasi Elektrolit pada Pencelupan Kain Rajut Campuran Modals/Spandex (97%/3%) Menggunakan Zat Warna Reaktif Bifungsional
Kain rajut campuran modals/spandex (97%/3%) dapat dicelup dengan zat warna reaktif bifungsional. Penelitian ini membahas tentang waktu difusi pada pencelupan modals/spandex dan penambahan elektrolit (garam) untuk mendapatkan ketuaan dan kerataan warna yang baik. Laju difusi zat warna dan kerataan warna dipengaruhi oleh waktu difusi dan konsentrasi elektrolit. Karakterisasi yang dilakukan terhadap hasil pencelupan dianalisa dengan pengujian K/S dan kerataan warna menggunakan spektrofotometer dan ketahanan luntur warna setelah pencucian. Hasil penelitian menunjukkan waktu difusi dan konsentrasi elektrolit berpengaruh terhadap hasil pencelupan. Waktu difusi yang optimum pada proses pencelupan kain modals/spandex adalah 40 menit dan konsentrasi garam sebanyak 50 g/L dengan nilai ketuaan warna (K/S) 17.77, kerataan warna 0.47 dan ketahanan luntur warna rata-rata 4 – 5
STABILITAS WARNA DAN MUTU PENCELUPAN ZAT WARNA KUNYIT SERBUK HASIL PROSES SPRAY DRY
Zat warna kunyit dapat digunakan pada pencelupan dengan berbagai kondisi pH dan suhu. Pengolahan ekstrak kunyit menjadi serbuk menggunakan spray dryer dapat menghasilkan zat warna yang lebih tahan lama serta kemudahan mobilisasi dan konsistensi penggunaan. Perilaku zat warna kunyit pada berbagai kondisi pencelupan menjadi acuan penilaian kestabilan zat warna kunyit tersebut selama penyimpanan. Zat warna kunyit serbuk dihasilkan melalui proses ekstraksi kunyit pada suhu kamar selama 24 jam. Sebagian larutan ekstrak dibuat menjadi zat warna serbuk menggunakan spray dryer dan sebagian lagi tetap dalam bentuk larutan ekstrak untuk pembanding. Performa zat warna kunyit serbuk hasil spray dry dan larutan ekstrak kunyit diamati terhadap perubahan pH dan suhu, serta dicelup pada suhu 30oC, 50oC, 70oC, 90oC dengan kemudian pengujian diulang setelah penyimpanan 28 hari. Stabilitas warna dan mutu hasil pencelupan pada kapas dievaluasi menggunakan metode spektrofotometri serta uji ketahanan luntur warna terhadap pencucian. Larutan zat warna kunyit serbuk memiliki stabilitas warna yang hampir sama dengan larutan ekstrak zat warna pada semua pH dan suhu yang diuji coba, namun lebih stabil terhadap penyimpanan. Intensitas warna hasil pencelupan zat warna serbuk rata-rata lebih rendah dibandingkan larutan ekstrak. Perubahan zat warna yang diserbukkan tidak berpengaruh terhadap ketahanan luntur warna terhadap pencucian
ANALISIS PERBANDINGAN METODE DOUBLE EXPONENTIAL SMOOTHING DAN METODE SIKLIS PADA FORECASTING PERMINTAAN PRODUKSI VISVAL BAGS
Forecasting (peramalan) merupakan salah satu proses yang dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi produksi, karena dengan menggunakan forecasting gambaran di masa yang akan datang dapat diketahui berdasarkan data ataupun kejadian di masa lampau. Dengan forecasting, diharapkan semua pemborosan ataupun kekurangan bahan baku produksi di masa yang akan datang dapat diantisipasi. Penelitian kami lakukan di PT Niaga Karya Kreatif yang dalam sistem produksinya menerapkan sistem produksi make to stock. Analisis forecasting (peramalan) permintaan produksi dilakukan dengan menggunakan data permintaan aktual di masa lalu sebagai acuan untuk digunakan dalam percobaan beberapa metode forecasting yang sesuai dengan pola permintaan produksi di masa lalu. Adapun metode yang digunakan ialah metode double exponential smoothing dan metode siklis. Melalui metode-metode tersebut mampu diperhitungkan besaran forecasting permintaan produksi yang akan terjadi di masa depan. Setelah dilakukan perhitungan forecasting, maka kedua metode akan dihitung nilai error-nya dengan menggunakan metode MAPE (Mean Absolute Percentage Error), untuk kemudian bisa dipilih salah satu metode yang memiliki nilai error terkecil. Setelah dilakukan penelitian ternyata didapatkan metode forecasting siklis sebagai metode dengan nilai error terkecil yaitu sebesar 1,83% sedangkan nilai error pada metode forecasting double exponential smoothing sebesar 1,85%. Selanjutnya, hasil perhitungan pada metode siklis diuji menggunakan peta moving range dan hasilnya menunjukkan bahwa metode forecasting siklis lolos uji verifikasi. Dari penelitian yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa metode siklis merupakan metode forecasting yang bisa digunakan di PT Niaga Karya Kreatif karena memiliki nilai error yang kecil dan lolos uji verifikasi peta kendali moving average. Dengan adanya usulan penerapan metode forecasting ini diharapkan PT Niaga Karya Kreatif dapat mengantisipasi jumlah permintaan produksi di masa yang akan datang. Sehingga proses perencanaan produksi dan pengendalian terhadap bahan baku bisa dimaksimalkan dengan baik
STUDI KENYAMANAN TERMAL DAN MOISTURE MANAGEMENT TERHADAP MATERIAL JAS ALMAMATER REVERSIBLE
Perkembangan dunia fashion di Indonesia saat ini banyak mengalami peningkatan serta perubahan yang dapat dilihat dari tren fashion yang masuk ke Indonesia. Di Indonesia penggunaan Jas almamater merupakan identitas bagi mahasiswa yang sedang atau sudah pernah menuntut ilmu di sekolah/perguruan tinggi tempat belajar. Jaket merupakan pakaian casual yang saat ini tidak hanya berfungsi sebagai pelindung tubuh dari cuaca, tetapi juga berfungsi sebagai trend fashion bagi pemakainya. Reversible clothing atau pakaian reversible yaitu sebuah pakaian yang dapat digunakan bolak balik sebagai bagian luar dan dalam. Umumnya, jas almamater hanya didesain seperti jas pada biasanya dengan logo almamater yang berbeda. Dengan reversible clothing maka jas almamater itu akan mempunyai nilai lebih dari segi estetika maupun segi fungsionalitas. Reversible clothing membuat pemakai dapat merubah fashion formal menjadi casual dengan waktu yang singkat. Reversible clothing ini juga dapat menghemat ruang, karena 2 jenis fashion yang berbeda terdapat dalam 1 buah pakaian. Tidak hanya trend atau model busana saja yang berpengaruh terhadap model penampilan. Kenyamanan juga penting untuk mendukung penampilan yang maksimal. Umumnya serat buatan sangat tidak higroskopis pada kulit, ini yang membuat segi kenyamanan pada pakaian terganggu. Tingkat kenyamanan pada pakaian sangat berpengaruh terhadap kinerja pemakai selama berkegiatan. Seseorang yang dalam kondisi nyaman dapat lebih berkonsentrasi dan produktif dalam kegiatannya
KAJI EKSPERIMENTAL NONWOVEN BERBAHAN SERAT DOMBA WONOSOBO SEBAGAI INSULATOR UNTUK APLIKASI ATAP
Domba Wonosobo atau Dombos merupakan hasil persilangan antara domba lokal daerah Kejajar Kabupaten Wonosobo yang dikenal sebagai domba ekor tipis dan domba ekor gemuk dengan Domba Texel yang berasal dari Belanda. Adanya aktifitas peternakan menyebabkan adanya limbah bulu domba yang terbuang begitu saja. Hal ini menimbulkan gagasan baru untuk membuat material insulator karena Indonesia merupakan daerah tropis dan panas. Berdasarkan sifat fisik bulu domba yang memiliki densitas sangat rendah dan bulky yang dapat menahan udara dan panas yang baik. Untuk membuat material tersebut bernilai tinggi perlu dipilih metode hotpress dan semaksimal mungkin menggunakan bahan recycle atau bahan alam yang ramah lingkungan. Pembuatan material insulator ini menggunakan teknik proses nonwoven metode needle punch dan thermal bonding sistem hot press, untuk meningkatkan daya rekat antar serat bulu dombos ditambahkan serat poliester dengan titik leleh yang rendah sebagai binder atau perekat. Penggunaan dombos pada nonwoven dengan ketebalan 20 mm pada suhu 73o C dapat menurunkan hingga temperature hingga 64.4 %, sedangkan untuk nonwoven dengan ketebalan 10 mm dapat menurunkan temperature hingga 57.5 % dan nilai thermal konduktifitasnya lebih baik di bandingkan dengan material glasswool yaitu 54.8 % dan nonwoven waste denim 50.7 %
PROSES BIOWASHING MENGGUNAKAN ENZIM SELULASE TIPE NETRAL (CELLUSOFTCR) TERHADAP KENAMPAKAN DAN SIFAT FISIK KAIN DENIM
Pada dasarnya benang lusi kain denim dicelup menggunakan zat warna indigo dengan proses perendaman beberapa kali (multi dip) menggunakan metoda slasher dyeing. Metoda ini menghasilkan celupan ring-dyeing, yaitu hasil pencelupan yang terkonsentrasi di permukaan benang sehingga mempermudah diperolehnya efek lusuh. Biowashing merupakan teknologi dalam proses penyempurnaan tekstil dengan memodifikasi pegangan serat menggunakan enzim selulase sebagai biokatalis dengan memutus ikatan 1,4-b-glukosida pada rantai molekul selulosa. Enzim yang digunakan adalah enzim selulase tipe netral (CellusoftÒCR) dengan variasi kondisi larutan pH 6, 7, 8 dengan waktu proses 10 menit, 20 menit dan 30 menit. Nilai optimum aktifitas kerja enzim selulase tipe netral (CellusoftÒCR) yaitu pada pH 6 selama 30 menit dengan hasil efek lusuh kain secara visual menunjukkan ranking pertama dengan nilai sebesar 99, pengurangan berat kain sebesar 3,03 %, kekuatan tarik kain sebesar 556 N untuk arah lusi dan 359 N untuk arah pakan dan kekakuan kain sebesar 7,9 mg.cm untuk arah lusi dan 2,9 mg.cm untuk arah pakan
PENGARUH KONSENTRASI ASAM ASETAT DAN RETARDER KATIONIK PADA PROSES PENCELUPAN BENANG POLIAKRILAT MENGGUNAKAN ZAT WARNA BASA
Pencelupan benang poliakrilat dengan zat warna basa untuk warna muda sampai medium sering mengalami permasalahan diantaranya adalah ketidakrataan dalam pencelupan. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hasil pencelupan tersebut adalah penggunaan retarder dan kondisi proses seperti suhu dan pH larutan celup. Pada penelitian ini membahas pengaruh variasi konsentrasi asam asetat dan retarder kationik terhadap ketuaan dan kerataan warna yang dihasilkan dalam proses pencelupan. Selain itu untuk menentukan konsentrasi optimum dari penggunaan asam asetat dan retarder kationik pada proses pencelupan sehingga menghasilkan pencelupan yang sesuai. Varasi konsentrasi asam asetat sebesar 0,5; 1,0; 1,5; dan 2,0 ml/l dan retarder kationik sebesar 0,5; 1,0; 1,5; dan 2,0 ml/l pada suhu 105°C dan waktu pencelupan selama 20 menit dengan metode arrest temperature system. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi asam asetat mengakibatkan hasil celup lebih tua tetapi lebih rata dan makin tinggi konsentrasi retarder kationik maka hasil celup lebih muda tetapi lebih rata. Kondisi optimum diperoleh pada pengerjaan dengan konsentrasi asam asetat 0,5 ml/l menggunakan retarder kationik 0,5 ml/l berdasarkan bobot perangkingan dengan total nilai sebesar 1340. Pada kondisi tersebut nilai K/S 11,46 dengan standar deviasi 0,27 dan nilai tahan luntur warna sebesar 4 – 5
PENERAPAN EMBELLISMENTS DARI LIMBAH KAIN DENGAN TEKNIK LASER CUTTING PADA EVENING GOWN
Meningkatnya permintaan masyarakat terhadap pakaian dapat memberikan dampak buruk bagi lingkungan karena dapat menyebabkan produksi pakaian jadi dilakukan dalam skala besar sehingga limbah garmen yang dihasilkan juga semakin besar. Salah satu upaya untuk mengurangi limbah garmen adalah dengan mengolah limbah kain sebagai material utama dalam pembuatan hiasan busana wanita atau embellishment. Teknik yang dapat digunakan adalah teknik pemotongan menggunakan mesin laser cutting. Metodologi penelitian yang digunakan adalah studi pustaka dan pembuatan produk. Hasil produk dari penelitian ini berupa evening gown yang memanfaatkan limbah kain sebagai embellisment. Pada evening gown yang dibuat diterapkan embellisment corsage pada bagian pinggang dan lingkar leher dengan tujuan agar busana tampak elegan dan mewah sebagai busana yang dikenakan pada kesempatan pesta di malam hari. Komposisi serat material utama embellisment adalah 100 % poliester. Pengaturan speed dan power pada mesin laser cutting berpengaruh terhadap hasil potongan embellisment. Produk yang dibuat akan ditentukan harga jualnya sesuai dengan perhitungan harga jual dari harga pokok produksi (HPP) ditambah dengan laba yang diharapka
PENYISIHAN COD (CHEMICAL OXYGEN DEMAND) DAN WARNA PADA PENGOLAHAN LIMBAH CAIR IKM BATIK MENGGUNAKAN ALAT ELEKTROKOAGULASI
Industri Kecil Menengah (IKM) batik merupakan salah satu industri yang terus berkembang di Indonesia. Sentra-sentra IKM batik di Pekalongan, Solo, Jogjakarta sentra IKM yang lebih kecil seperti Bandung, Purwakarta maupun Bekasi juga terus berproduksi terus berproduksi meskipun masa pandemik ini. Pada satu sisi, hal ini menguntungkan bagi perekonomian daerah namun limbah cair yang terbentuk pada saat produksi batik sangat berpotensi merusak lingkungan. Pada umumnya IKM Batik tidak memiliki sarana instalasi pengolahan limbah cair yang baik. Penelitian pengolahan limbah cair batik telah banyak dilakukan, seperti metoda adsorpsi, koagulasi, oksidasi dan biologi. Salah satu metode yang berhasil mengolah limbah cair batik dengan baik adalah metoda koagulasi menggunakan elektrokoagulan yang tidak memerlukan penambahan bahan kimia. Namun, pada umumnya penelitian tersebut belum sampai pada skala yang lebih besar dengan volume limbah di bawah 5 liter. Penelitian ini menggunakan limbah cair yang mempunyai karakteristik melebihi baku mutu limbah cair industri tekstil yaitu COD 1.485 mg/l, warna yang sangat pekat, dan pH 9. Alat elektrokoagulan ini dilengkapi arus listrik hingga 20 ampere, jarak elektroda 1 cm dan waktu tinggal hingga 30 menit. Hasil penelitian ini adalah alat elektrokoagulasi dengan kapasitas 6 – 10 liter untuk mengatasi limbah yang dihasilkan oleh IKM Batik. Alat elektrokoagulasi tersebut mampu menurunkan kadar COD sebesar 51,9%, pH menjadi 7, dan penurunan warna hingga 76,70%.