Texere (E-Journal)
Not a member yet
    111 research outputs found

    STUDI SIFAT FISIK DAN KENYAMANAN KAIN MUKENA

    Full text link
    Mukena merupakan produk yang sering digunakan khususnya oleh wanita muslim untuk beribadah, dimana penggunaannya sebanyak 5 kali dalam sehari. Selain itu penggunaan mukena untuk ibadah haji atau umroh juga menjadi perhatian, karena penggunaannya di luar ruangan dan dalam jangka waktu yang panjang. Oleh karena itu sangat penting untuk memilih mukena yang baik dan nyaman digunakan. Pada penelitian ini diambil 5 buah sampel mukena yang beredar di pasaran, kemudian menguji sifat fisik kelima sampel tersebut berdasarkan SNI 8856:2020 serta kenyamanannya menggunakan alat Fabric Touch Tester (FTT), Moisture Management Tester (MMT) dan Sweating Guarded Hot Plate (SGHP). Hasil pengujian menunjukan bahwa sampel mukena CTP yang berbahan baku 100% kapas tidak memenuhi standar mutu kekuatan tarik dan stabilitas dimensi, namun memiliki nilai resistansi termal kering dan resistansi evaporasi termal yang paling tinggi. Sedangkan sampel PEP2 memiliki nilai resistansi evaporasi termal yang paling rendah, namun memiliki grade Accumulative One-Way Transport Index (AOTI) yang paling tinggi. Penelitian ini masih perlu dilanjutkan terutama untuk dilakukan pengujian kimia untuk mengetahui sifat-sifat kimia dari sampel-sampel mukena tersebut

    Pengaruh Zat Anti Sadah terhadap Kualitas Air Proses dan Hasil Pencelupan Poliester-Rayon

    Full text link
    Air yang dapat digunakan dalam proses pencelupan adalah air dengan kesadahan antara 0-3 dH. Air proses yang memiliki kesadahan tinggi perlu diturunkan nilai kesadahannya sebelum digunakan untuk proses pencelupan. Penurunan kesadahan air proses dilakukan dengan cara kompleksometri yaitu mengikat ion-ion logam penyebab sadah dengan zat anti sadah.  Dalam penelitian ini, air sadah diproses dengan menggunakan zat anti sadah organik fosfonat untuk menurunkan kesadahan pada air proses.  Air yang telah diturunkan kesadahannya  selanjutnya digunakan sebagai air untuk proses pencelupan. Proses pencelupan dilakukan pada kain poliester rayon dengan zat warna dispersi dan reakfif. Karakterisasi yang dilakukan pada penelitian ini meliputi nilai kesadahan, ketuaan warna (K/S), kerataan warna, dan  ketahanan luntur warna terhadap pencucian. Penggunaan zat anti sadah organik fosfonat dengan variasi konsentasi 0 ml; 0,2ml/L; 0,4ml/L berhasil menurunkan kesadahan air dengan nilai kesadahan 10,3 dH ; 5,6 dH ; 0 dH. Hasil pencelupan menggunakan air proses yang telah diturunkan kesadahannya menunjukkan nilai nilai ketuaan warna  sebesar 18,23, nilai kerataan warna  sebesar 0,052. Nilai penodaan warna pada uji ketahanan luntur warna terhadap pencucian pada serat selulosa asetat 4 dan pada serat nylon 3-4 pada penggunaan 0,4 ml/L dengan kesadahan 0 dH. Makin rendah kesadahan air maka kerataan warna hasil pencelupan dan ketahanan luntur warna terhadap pencucian makin baik walaupun terjadi penurunan ketuaan warna.Kata kunci : zat anti sadah, Organik fosfonat, Poliester, Rayon, Zat warna dispersi, Zat warna Reaktif

    Penentuan Kondisi Optimum Nacl Dan Na2co3 Dalam Proses Pencelupan Kain Rajut Kapas-Bambu (60%-40%) Dengan Zat Warna Reaktif (Reactive Blue Brf)

    Full text link
    Pengembangan bahan tekstil banyak dilakukan dalam beberapa tahun terakhir, contohnya pembuatan serat dari tanaman bambu. Penggunaan serat bamboo biasanya dicampur dengan serat kapas yang merupakan serat alam untuk menghasilkan kain dengan sifat daya serap terhadap air atau keringat yang tinggi. Penggunaan serat bamboo sebagai bahan tekstil terbarukan diklaim memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan serat kapas, salah satunya adalah daya serapnya yang tinggi. Daya serap tersebut dipengaruhi oleh sifat moisture regain (MR) yang terdapat pada suatu serat. Moisture regain serat bamboo hampir 2 kali lipat daripada moisture regain serat kapas. Perbedaan moisture regain antara serat kapas dan bamboo tersebut dapat menyebabkan perbedaan daya serap pada kain yang terdiri dari campuran serat kapas dan bamboo.Perbedaan daya serap antara serat kapas dan serat bamboo cukup signifikan sehingga dapat berpengaruh terhadap kerataan warna hasil pencelupan kain campuran kapas-bamboo. Untuk meningkatkan kerataan warna, diperlukan penambahan zat pembantu tekstil dalam proses pencelupan. Zat pembantu tekstil yang berperan penting dalam pencelupan serat selulosa dengan zat warna reaktif adalah elektrolit (natrium klorida) dan alkali (natrium karbonat). Penambahan elektrolit dan alkali dengan konsentrasi tertentu ke dalam larutan celup dapat meningkatkan penyerapan zat warna ke dalam serat. Penggunaan elektrolit dan alkali tersebut diharapkan mampu membuat penyerapan zat warna reaktif terhadap serat kapas dan bamboo menjadi relatif sama sehingga menghasilkan kerataan warna yang baik dengan ketuaan warna yang tinggi serta ketahanan luntur warna yang baik pula.Percobaan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pencelupan kain rajut kapas-bamboo (60%-40%) dengan zat warna reaktif bifungsional (Reactive Blue BRF) yang memiliki dua gugus reaktif (monoklorotriazin dan vinil sulfon) menggunakan metode perendaman. Dalam percobaan ini dilakukan dua variasi, yaitu variasi konsentrasi natrium klorida (30 g/l, 45 g/l, 60 g/l) dan natrium karbonat (10 g/l, 20 g/l, 30 g/l) yang berfungsi sebagai zat pembantu tekstil dalam proses pencelupan. Kain hasil pencelupan dievaluasi ketuaan warna, kerataan warna, dan ketahanan luntur warnanya terhadap pencucian.Hasil pengujian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi natrium klorida dan natrium karbonat berpengaruh terhadap ketuaan dan kerataan warna hasil pencelupan, tetapi tidak berpengaruh terhadap ketahanan luntur warna terhadap pencucian. Semakin tinggi konsentrasi natrium klorida dan natrium karbonat yang digunakan, maka semakin tinggi ketuaan warna dan kerataan warna kain hasil pencelupan. Akan tetapi, penggunaan natrium klorida dan natrium karbonat dengan konsentrasi berlebih dapat menyebabkan warna hasil pencelupan kurang rata.Kondisi optimum yang diperoleh dari penelitian ini adalah pencelupan dengan menggunakan natrium klorida (NaCl) 45 g/l dan natrium karbonat (Na2CO3) 20 g/l. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kain kapas-bamboo yang dicelup dengan konsentrasi tersebut memiliki ketuaan warna yang cukup tinggi (nilai K/S zat warna yang terserap pada bahan 12,1963), kerataan warna terbaik (nilai standardeviasi paling rendah 0,2560), dan ketahanan luntur warna terhadap pencucian yang baik dengan skala penodaan pada kain pelapis atau multifiber 4-5

    DAUR ULANG LIMBAH PASCA PEMAKAIAN PRODUK FASHION MENGGUNAKAN TEKNIK WATER SOLUBLE EMBROIDERY

    Full text link
    Maraknya produk fast fashion dan berkembangnya industri fashion Indonesia tak disangka telah mempengaruhi gaya hidup untuk selalu membeli pakaian mengikuti tren terkini. Limbah tekstil merupakan salah satu polutan utama saat ini. Limbah tekstil dapat dihasilkan dari pra pemakaian yaitu pada proses produksi serta pasca pemakaian oleh konsumen. Permasalahan lingkungan hidup inilah yang menjadi landasan proses daur ulang sebagai salah satu alternatif dalam menerapkan konsep berkelanjutan. Penelitian ini melakukan pengolahan limbah celana denim pasca pemakaian untuk dijadikan bahan alternatif berupa kain. Tahap awal penelitian adalah tinjauan pustaka yang dilanjutkan dengan studi lapangan pada proses percobaan pembuatan produk serta pengujian kualitas kain. Hasil dari penelitian ini adalah sebuah alternatif kain baru dengan menerapkan teknik sulam mesin/bordir menggunakan lembaran film yang larut dalam air. Keutamaan penelitian ini adalah sebagai alternatif dalam mengurangi limbah pasca pemakaian produk denim pada lingkungan dengan konsep waste to product

    PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI KAIN WASTRA NUSANTARA MOTIF PA’ SEKONG KANDAURE KHAS TORAJA MENGGUNAKAN MESIN RAJUT DATAR STOLL CMS 530 HP

    Full text link
    Indonesia sudah dikenal dengan keberagaman budaya yang dimiliki karena kondisi masyaratnya yang majemuk. Bentuk keberagaman budaya yang ada salah satunya adalah wastra nusantara, yang dapat diartikan sebagai kain tradisional yang dihasilkan di wilayah Indonesia yang mengandung filosofi atau makna, contohnya seperti batik, tenun ikat, dan songket. Setiap wastra nusantara memiliki ciri khasnya masing-masing, salah satunya adalah motif Pa’sekong Kandaure yang berasal dari Kota Toraja. Pembuatan dari wastra nusantara motif Pa’sekong Kandaure umumnya menggunakan proses pertenunan. Sehingga pada penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan wastra nusantara yang dapat menyerupai motif Pa’sekong Kandaure dengan proses pembuatan menggunakan Mesin Rajut Datar Stoll CMS 530 HP. Penelitian ini dilakukan dengan memvariasikan jeratan jacquard yaitu jacquard net, stripe, dan twill dengan bahan baku benang kapas combed Ne1 20/2 berwarna biru dan hitam. Proses yang dilakukan dalam pengembangan motif tersebut sampai dengan tahapan pembuatan sampel kain. Hasil sampel kain tersebut akan diuji CPI, WPI, uji ketebalan kain, uji gramasi, uji daya tembus udara, uji tahan jebol kain, dan uji stabilitas dimensi.wastra nusantara motif Pa’sekong Kandaure dapat dibuat menggunakan Mesin Rajut Datar Stoll CMS 530 HP, jenis jeratan jacquard yang dapat memproduksi motif tersebut, yaitu jacquard net, stripe, dan twill. Pengembangan dari struktur jacquard yang menyerupai pada proses perajutan yaitu jacquard stripe.sifat kain rajut dengan jenis Jacquard net memiliki spesifikasi ketebalan kain 1,5 mm, gramasi kain 481,5 g/m2, dan daya tembus udara 54,1 cm3/s/cm2 dan tahan jebol 13,78 kgf. Sifat kain rajut dengan jenis Jacquard stripe memiliki spesifikasi ketebalan kain 1,2 mm, gramasi kain 310,1 g/m2, dan daya tembus udara 111 cm3/s/cm2 dan tahan jebol 5,89 kgf. sifat kain rajut dengan jenis Jacquard twill memiliki spesifikasi ketebalan kain 1,7 mm, gramasi kain 587,7 g/m2, dan daya tembus udara 32,1 cm3/s/cm2 serta tahan jebol 10,14 kgf

    PEMBUATAN BAJU KERJA UNTUK IBU MENYUSUI MENGGUNAKAN KAIN IMEGO DENGAN FINISHING RUCO GUARD USR 6

    Full text link
    Pakaian untuk ibu menyusui memiliki banyak desain dan bentuk pada akses menyusui, namun ada saja kekurangan yang ditemukan dalam penggunaannya. Dalam hal ini kekurangan yang terjadi pada pakaian ibu menyusui bagi ibu bekerja adalah ASI yang rembes yang diakibatkan oleh ASI tidak diberikan pada bayi saat waktunya karena waktu kerja yang tidak memungkinkan. ASI yang rembes dapat menyebabkan noda yang tampak pada kain terlebih pada kain yang memiliki warna cerah dan menimbulkan ketidaknyamanan karena bekas noda tersebut akan terlihat. Untuk mengatasi hal tersebut, dibuat inovasi untuk membantu kebutuhan ibu bekerja dalam berpakaian yaitu dengan membuat pakaian kerja dengan akses menyusui yang menggunakan kain Imego dengan finishing Ruco Guard USR6 yang mampu menahan rembesan ASI, karena komposisi Air susu Ibu (ASI) terdiri dari air, protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, zat antibodi, dan enzim maka kain yang digunakan untuk menahan rembesan ASI harus mampu menahan zat-zat tersebut untuk tidak masuk ke dalam permukaan kain.  Hasil dari pembuatan prototipe baju kerja untuk Ibu menyusui dengan kain Imego dengan finishing RUCO GUARD USR6 ini adalah sebuah produk baju kerja dengan desain yang dibuat untuk wanita berhijab berupa gamis atau dress panjang yang disesuaikan dengan kebutuhan Ibu menyusui dalam melakukan aktivitas pekerjaannya. 

    PENGARUH METODE MORDAN PADA PENCELUPAN KAIN NYLON MENGGUNAKAN ZAT WARNA ALAM EKSTRAK KULIT BUAH RAMBUTAN (Nephelium Lappaceum L)

    Full text link
    Pengembangan pewarna tekstil yang aman untuk lingkungan merupakan salah satu alasan dilakukan eksplorasi terhadap bahan alam salah satunya adalah kulit buah rambutan. Kulit buah rambutan mengandung tanin, saponin dan flavonoid sebagai senyawa pewarna alam tekstil yang ramah lingkungan. Pada penelitian ini pewarnaan menggunakan kulit buah rambutan yang sudah dikeringkan kemudian diekstraksi,. Metode ekstraksi yang dilakukan adalah ekstraksi cara dingin, maserasi selama 24 jam. Mordan yang digunakan yaitu tawas (Al2SO4)3 dan kapur (CaCO3) dengan massa mordan 8 gram. Penelitian dilakukan  adalah dengan memvariaskan metode yaitu pra-mordan, meta-mordan dan post-mordan. Pencelupan dilakukan pada serat sintetis yaitu serat nylon karena memiliki dua gugus fungsi yaitu gugus amina (NH2) dan gugus amida (NHCO) yang berperan untuk mengadakan ikatan dengan pewarna alam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh metode  mordan terhadap hasil pewarnaan alami kulit buah rambutan yang dikerjakan pada kain nylon.  Pengujian yang dilakukan yaitu  analisa FTIR  pada larutan dan kain hasil pencelupan, ketuaan warna, kerataan warna, arah warna dan ketahanan luntur warnanya.  Hasil pencelupan yang optimum peroleh dengan metode post-mordan dengan arah warna kuning kecoklatan. Ketuaan warna K/S pada metode post-mordan lebih besar nilainya dibandingkan metode yang lainnya. KS untuk  jenis mordan  tawas 20,81 dan mordan kapur adalah 18,71,nilai kerataan warna 0,28,  dan arah warna kuning kecoklatan. Hasil ketahanan luntur warna berdasarkan gosokan kering memperoleh nilai yang baik (4) dan gosokan basah memperoleh nilai cukup baik (3 – 4). Hasil ketahanan luntur warna berdasarkan pencucian menggunakan grey scale dan staining scale pada penggunaan mordan tawas dan mordan kapur memperoleh nilai yang baik 4 -5

    EKSPLORASI RAGAM HIAS LAYANG-LAYANG PADA FESTIVAL KAGHATI KOLOPE DENGAN PENERAPAN APLIKASI BORDIR DAN TEKNIK MAKRAME PADA BUSANA READY TO WEAR DELUXE

    Full text link
    Perancangan busana ready to wear deluxe ini terinspirasi dari salah satu festival layang-layang di Indonesia yaitu festival kaghati kolope yang berasal dari Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Karya busana ini berjudul “Kaghati Pasole”, diambil dari Bahasa Muna dan memiliki arti layang-layang yang cantik. Keragaman bentuk layang-layang pada festival kaghati kolope menjadi sumber inspirasi yang diimplementasikan pada busana dengan penerapan aplikasi bordir dan teknik makrame. Bahan utama yang digunakan adalah kain american drill dengan warna light blue dan navy. Warna yang digunakan pada koleksi busana ready to wear deluxe ini merupakan perpaduan warna analogus dengan light blue sebagai warna utama busana yang terinspirasi dari warna langit. Bentuk layang-layang sebagai inspirasi juga ditonjolkan pada garis busana yang tegas dengan siluet busana H dan Y yang memiliki keseimbangan simetris. Aplikasi bordir pada busana ini dibuat dengan dua macam tusukan yaitu tusuk satin dan tusuk tatami. Sedangkan simpul makrame yang digunakan yaitu simpul kepala, simpul rantai, simpul tunggal, simpul ganda dan simpul gordin

    PENERAPAN TEKNIK ECOPRINT TULANG DAUN JATI DAN PEWARNA ALAMI JELAWE PADA BUSANA READY-TO-WEAR BERGAYA POST APOCALYPTIC

    Full text link
    Produk tekstil yang terinspirasi dari alam dan tengah populer saat ini adalah produk yang dibuat dengan teknik ecoprint. Teknik ecoprint merespon isu-isu lingkungan sustainable fashion yang erat kaitannya dengan industri fast fashion yang menimbulkan pencemaran lingkungan dari limbah industri tekstil. Tujuan dari penelitian ini adalah membuat produk busana ready-to-wear yang menerapkan kain hasil reka latar teknik ecoprint dengan material pembuatan motif dan pewarna yang berasal dari alam.Metodologi yang digunakan adalah metode kualitatif dengan studi literatur dan eksperimen pembuatan produk. Pada tahap eksperimen dilakukan eksplorasi reka bahan untuk mencari material kain, komposisi zat pewarna dan mordan yang digunakan dalam perancangan konsep busana dan pembuatan produk dengan teknik ecoprint. Perancangan konsep busana untuk busana ready-to-wear terinspirasi dari gaya Post Apocalyptic yang termasuk Trend Forecasting 2019/2020 Singularity tema Neo Medieval dengan subtema Dystopian Fortress.Produk yang dihasilkan pada tahap eksperimen berjumlah dua busana ready-to-wear. Busana pertama terdiri dari outer long cardi, inner dan celana kulot. Pada celana kulot terdapat aksen saku cargo pada bagian kanan dan aksen tali pada bagian sisi yang dapat ditarik. Busana kedua terdiri dari blazer, inner dan celana kulot. Pada badan bagian depan dan lengan blazer terdapat aksen tali yang dapat ditarik. Semua komponen busana menggunakan teknik ecoprint tulang daun jati yang berwarna abu tua, hitam dan coklat keabuan.Kata kunci : teknik ecoprint, tulang daun jati, ready-to-wear, post apocalypti

    KAJIAN PENGGUNAAN DUA SISIR TENUN BERPROFIL PADA MESIN TENUN AIR JET TOYODA TIPE JAT 810

    Full text link
    Di industri pertenunan air jet terdapat dua jenis sisir tenun berprofil yang dapat digunakan pada mesin tenun air jet, yaitu sisir tenun berprofil tipe C dan sisir tenun berprofil tipe E . Pada saat mesin tenun menggunakan sisir tenun profil tipe C, terjadi jumlah stop pakan yang cukup tinggi, sehingga tekanan udara dinaikkan agar jumlah stop pakan dapat berkurang. Ketika tekanan udara dinaikkan konsekwensinya konsumsi  udara akan bertambah. Untuk mengurangi jumlah stop pakan maka dilakukan percobaan menggunakan sisir tenun profil tipe E.Maksud dan tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan dua sisir berprofil beda terhadap  jumlah weft stop dan konsumsi pemaikan udara pada proses pertenunan. Percobaan dilakukan dengan memvariasikan tiga tekanan udara yaitu 0,22 Mpa, 0,25 Mpa, dan 0,28 Mpa. Berdasarkan hasil percobaan saat menggunakan sisir tenun profil tipe C dengan tekanan 0,25 Mpa, jumlah weft stop yang terjadi rata-rata sebanyak 50 kali dalam waktu satu shift. Pada saat mesin menggunakan sisir tenun profil tipe E dengan tekanan udara 0,22 Mpa, jumlah weft stop yang terjadi rata-rata sebanyak 44 kali dalam waktu satu shift.Terjadi penurunan jumlah weft stop saat menggunakan sisir tenun profil tipe E dengan tekanan udara yang lebih rendah. Dari pengamatan bentuk profil kedua sisir tenun, ternyata sisir tenun profil tipe E, jarak semburan antara pusat semburan (lubang sub nozzle) dengan permukaan benang pakan lebih dekat sehingga dengan tekanan udara yang lebih rendah dibanding sisir tenun profil tipe C, akan memberikan kecepatan angin serta gaya dorong yang relatif lebih tinggi terhadap benang pakan. Hal tersebut dapat terjadi karena penyebaran udara pada sisir tenun profil tipe E relatif lebih kecil yang mengakibatkan kecepatan udara dan gaya dorong terhadap benang pakan dapat meningkat.Kata kunci: sisir berprofi

    104

    full texts

    111

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Texere (E-Journal)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇