Texere (E-Journal)
Not a member yet
111 research outputs found
Sort by
Efektifitas Penggunaan pH Alkali Dalam Pencelupan Kain Kapas dengan Zat Warna Reaktif Monoklorotriazin Metode Perendaman
Zat warna reaktif panas jenis monoclorotriazin merupakan zat warna yang memiliki sifat tidak tahan terhadap alkali. Namun, dalam proses pencelupan dengan zat warna reaktif memerlukan alkali untuk proses fiksasi agar zat warna dapat berikatan dengan serat. Faktor yang berpengaruh pada proses fiksasi adalah penggunaan alkali dan pH larutan pencelupan. Dalam penelitian membahas mengenai pengaruh pH alkali pada larutan pencelupan zat warna monoclorotriazin (C.I Reactive Orange 13) untuk mendapatkan hasil pencelupan pada kain kapas yang memiliki ketuaan dan kerataan warna, serta ketahanan warna terhadap pencucian yang baik (nilai 4-5). Alkali yang digunakan menggunakan alkali kuat (natrium hidroksida) dengan rentang pH 10, 10,5, 11, 11,5, dan 12. Metode pencelupan menggunakan metode perendaman pada suhu 80 selama 60 menit. Evaluasi ketuaan dan kerataan warna menggunakan spektrofotrometer dan laundry O meter untuk menganalisis ketahanan luntur warna terhadap pencucian. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan alkali berpengaruh terhadap ketuaan warna tetapi tidak berpengaruh terhadap kerataan dan ketahanan luntur warna. Hasil pencelupan optimum didapat pada pH 10.5 dengan nilai ketuaan warna (K/S) sebesar 2,94, nilai standar deviasi (kerataan warna) sebesar 0,01, nilai 5 pada ketahanan luntur terhadap pencucian.
PENERAPAN KONSEP TEKNIK UPCYCLE PADA BUSANA READY TO WEAR DELUXE DENGAN GAYA ANDROGINI
Seiring perkembangan zaman, pakaian telah berkembang dari kebutuhan pokok menjadi media ekspresi diri dan penanda status sosial. Namun, tren fast fashion yang menawarkan produk murah dan massal menimbulkan masalah lingkungan serius, terutama karena sulitnya mengurai bahan pakaian tersebut. Sebagai solusi, konsep mode berkelanjutan seperti upcycling menjadi gaya hidup baru di dunia fashion. Dalam penelitian ini, konsep upcycling diterapkan pada busana ready to wear deluxe dengan gaya androgini dan penggunaan sablon glow in the dark yang mengacu pada Indonesia Trend Forecasting 2024/2025 dengan tema Avant Tech. Busana dirancang dengan siluet I-line dan A-line menggunakan material utama dari pakaian bekas, khususnya celana jeans, yang dipadukan dengan kain katun poliester. Hasil akhir menunjukkan bahwa busana dengan tema "Eidith" yang menggabungkan upcycling dan sablon glow in the dark tidak hanya estetis tetapi juga fungsional. Teknik ini juga berpotensi dikembangkan lebih lanjut dengan inovasi material lainny
Pengaruh Kecepatan Rol Pelilinan di Mesin Winding Terhadap Friksi dan Hairiness Benang
Kualitas benang yang dihasilkan oleh perusahaan pemintalaan adalah hal yang mutlak perlu dipertahankan bahkan ditingkatkan, akhir-akhir ini di PT. X terjadi penurunan kualitas benang, yaitu nilai koefisien friksi dan hairiness benang. Salah satu faktor yang mempengaruhi nilai koefisien friksi dan hairiness benang yaitu proses pemberian lilin yang dilakukan di mesin winding. Dalam proses pemberian lilin terdapat beberapa pilihan kecepatan rol pelilinan. Pada penelitian ini dilakukan percobaan di mesin winding dengan memvariasikan lima variasi kecepatan rol pelilinan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh kecepatan putaran rol pelilinan terhadap nilai koefisien friksi dan hairiness benang serta mengetahui kecepatan putaran rol pelilinan yang akan menghasilkan nilai koefisien friksi serta hairiness benang minimum. Percobaan dilakukan di mesin winding merek Savio Polar M dengan bahan baku benang poliester 100% Ne 30s. Variasi kecepatan rol pelilinan yang digunakan yaitu RPM 20, 45, 56, 75, dan 113. Benang hasil percobaan lalu diuji koefisien friksi dan hairiness-nya. Hasilnya kecepatan rol pelilinan memberikan pengaruh terhadap nilai koefisien friksi dan hairiness benang yang dihasilkan. Penyetelan kecepatan rol pelilinan yang menghasilkan nilai koefisien friksi dan hairiness minimum yaitu RPM 20 yang menghasilkan nilai koefisien friksi sebesar 0,11752 u dan hairiness sebesar 5,448 cm/1cm benang
PERANCANGAN BUSANA READY-TO-WEAR DENGAN INSPIRASI ARSITEKTUR SUKIYA-ZUKURI MENGGUNAKAN TEKNIK INTERLOCKING MODULAR
Pembuatan busana ready-to-wear dengan inspirasi dari gaya arsitektur sukiya-zukuri dapat diterapkan dengan menggunakan teknik interlocking modular. Teknik interlocking modular merupakan teknik penggabungan modul-modul kecil dengan melakukan pengulangan tanpa perekatan ataupun penjahitan. Teknik ini memiliki keunikan pada proses penggabungan modul-modul melalui mekanisme kuncian. Teknik interlocking modular menjadi salah satu teknik alternatif yang dapat digunakan pada bidang fesyen sehingga menampilkan desain permukaan dan kenampakan yang berbeda pada busana. Metodologi penelitian yang digunakan adalah studi pustaka, observasi, eksploratif dan pembuatan produk. Hasil produk dari penelitian ini berupa busana ready-to-wear yang terinspirasi arsitektur sukiya-zukuri dengan teknik interlocking modular untuk mendapatkan kenampakan yang berbeda melalui efek kuncian pada modul sehingga meningkatkan nilai estetika busana saat digunakan pada kegiatan sehari-hari ataupun menghadiri acara dengan tema khusus lainnya. Jenis kain yang digunakan pada reka bahan interlocking modular mempengaruhi kekuatan sambungan interlock pada modul. Jenis kain yang sesuai untuk reka bahan interlocking modular adalah kain dengan serat poliester–kapas yang memiliki kontruksi kain tenun anyaman polos dan penyempurnaan sueding dengan nama dagang kain suede
MENINGKATKAN KINERJA PENCELUPAN KAPAS: MENGEKSPLORASI PENGARUH PH ASAM PADA LARUTAN PENCELUPAN EKSTRAK DAUN JATI DAN EFEK POST MORDANTING
Daun Jati merupakan jenis tumbuhan yang berpotensi diaplikasikan sebagai zat warna alami tekstil. Memiliki pigmen tanin dan antosianin membuat daun jati dapat menghasilkan warna yang variatif dan menarik. Pencelupan dilakukan dengan metode exhaust pada kain tenun kapas, 40 oC dalam suasana asam (pH 4). Guna memperoleh ikatan kimia antar zat warna dan serat setelah pencelupan, dilakukan proses mordanting dengan melihat pengaruh zat mordan berbeda menggunakan tawas dan ferrosulfat. Evaluasi yang dilakukan pada kain hasil pencelupan ialah ketuaan, kerataan, arah warna, serta ketahanan luntur warna akibat pencucian dan gosokan. Hasil evaluasi menunjukan penambahan mordan ferrosulfat memiliki nilai ketuaan warna tertinggi dengan K/S 1,6692 dibandingkan dengan tawas dengan nilai K/S 0,3526. Arah warna pada mordan tawas diperoleh nilai a* +1,62 dan b* -1,2, serta pada ferrosulfat didapatkan nilai a* -3,9 dan b* +4,86. Ketahanan luntur warna berdasarkan pencucian menggunakan grey and staining scale dengan penggunaan kedua mordan mendapatkan nilai baik (4-5) dan berdasarkan gosokan kering dan basah dengan nilai baik hingga cukup baik. Dengan penambahan mordan diketahui dapat meningkatkan nilai ketahanan luntur warna terhadap pencucian maupun gosokan
OPTIMALISASI pH DENGAN CAMPURAN ALKALI NA2CO3-NAOH PADA PENCELUPAN KAPAS DENGAN ZAT WARNA REAKTIF PANAS
Zat warna reaktif banyak digunakan untuk mencelup kain kapas. Salah satu faktor yang berpengaruh dalam proses pencelupan menggunakan zat warna reaktif panas adalah penggunaan alkali sebagai pengatur pH larutan pencelupan dan untuk proses fiksasi zat warna ke dalam serat. Campuran alkali (Na2CO3–NaOH) digunakan sebagai pemberi suasana alkali pada pH 10,5, 11, 11,5, dan 12. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses fiksasi zat warna dipengaruhi oleh penggunaan campuran alkali (Na2CO3–NaOH) pada pH 10,5-12. Ketahanan luntur warna terhadap pencucian, kerataan warna, kecerahan warna, dan ketuaan warna (K/S) diuji. Kondisi proses terbaik diperoleh pada pH 11. Pada kondisi tersebut, nilai ketuaan warna (K/S) sebesar 22,578, nilai kecerahan warna (lightness) sebesar 17,154, nilai kerataan warna (standar deviasi) sebesar 0,310 dan nilai ketahanan luntur warna terhadap pencucian untuk penodaan warna pada kain pelapis kapas dan wol di multifiber sebesar 5 dan perubahan warnanya adalah 4-5
PEMANFAATAN EKSTRAK DAUN BAMBU TALI (Gigantochloa apus) SEBAGAI ZAT ANTIBAKTERI PADA KAIN KAPAS
Kain kapas merupakan kain yang terbuat dari serat alam yang masih masif digunakan karena memiliki beberapa kelebihan. Akan tetapi, kain kapas juga memiliki kekurangan yaitu adanya kemungkinan menjadi tempat berkembangnya bakteri. Hal tersebut dapat diatasi dengan proses penyempurnaan antibakteri sehingga diperoleh kain yang memiliki ketahanan terhadap bakteri. Ekstrak daun bambu tali (Gigantochloa apus) dapat dimanfaatkan sebagai zat antibakteri karena mengandung senyawa fenol, alkaloid, dan flavonoid yang berpotensi untuk menghambat pertumbuhan bakteri. Penyempurnaan antibakteri dilakukan menggunakan larutan penyempurnaan yang terdiri dari ekstrak daun bambu tali, zat pengikat silang yang divariasikan yaitu asam sitrat dan binder GSL, dan katalis. Metode penyempurnaan yang digunakan yaitu metode pad-dry-cure dengan WPU sebesar 80% dan suhu pemanas-awetan yang divariasikan pada suhu 160°C dan 170°C. Pengujian yang dilakukan pada kain tersebut ialah pengujian aktivitas antibakteri terhadap bakteri E. coli dan pengujian sifat fisika kain meliputi kekuatan tarik dan mulur kain dan kekuatan sobek kain metode Elmendorf. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun bambu tali dengan zat pengikat silang asam sitrat yang diaplikasikan pada kain kapas memiliki aktivitas antibakteri yang cukup dengan diameter zona hambat yang terbentuk sebesar 6 mm. Selain itu, penyempurnaan antibakteri ini tidak menyebabkan perubahan sifat fisika kain (kekuatan tarik, mulur kain, dan kekuatan sobek) yang signifikan secara statistika
PENGARUH OKSIDASI KALIUM PERMANGANAT TERHADAP HASIL PRE-TREATMENT KAIN POLIESTER-KAPAS (65%-35%)
Kain greige merupakan kain mentah yang masih mengandung impuritas serat dan kotoran yang menempel pada kain saat produksi. Pengotor tersebut harus dihilangkan melalui tahap proses penghilangan kanji dan pengelantangan menggunakan zat kimia, salah satunya ialah zat pengoksidasi (oksidator). Oksidator yang umum digunakan ialah H2O2. Namun zat tersebut memiliki kekurangan yaitu waktu pengerjaanya lebih lama baik secara tunggal maupun simultan. Oleh karena itu digunakan oksidator KMnO4 dengan variasi konsentrasi 3 g/L, 4 g/L, 5 g/L, dan 6 g/L serta suhu 90 dan 100 oC sehingga diharapkan konsumsi waktu pengerjaan lebih singkat serta hasil yang setara dibandingkan H2O2 bahkan lebih baik ditinjau dari hasil evaluasi menggunakan beberapa pengujian. Berdasarkan penelitian, diperoleh kondisi optimum pada konsentrasi 6 g/L suhu 90 oC dimana pada kondisi tersebut didiperoleh hasil pengujian pengurangan berat sebesar 7,87%, derajat putih sebesar 68,416%, Daya serap sebanyak 28,84 detik, dan kekuatan tarik 42,5774 kg (lusi) serta 36,4624 kg (pakan
PEMBUATAN MARKER JAS LABORATORIUM DENGAN KONSEP POLA ZERO WASTE
Limbah kain sisa terutama dari bahan kain sintetis seperti polyester dapat menjadi ancaman serius bagi lingkungan, karena membutuhkan waktu hingga puluhan tahun bahkan ratusan tahun untuk dapat terurai. Sebagai pelaku di industri tekstil, sedini mungkin harus berupaya untuk mengurangi limbah kain sehingga tidak menambah dampak pencemaran lingkungan. Salah satu caranya dengan menerapkan konsep zero waste dalam proses produksi pada pembuatan pola. Konsep pola ini diterapkan pada pola jas laboratorium, yang digunakan sebagai pola marker untuk pemotongan kain. Kain hasil potongan tersebut akan dijahit kemudian menjadi produk jadi yang siap dipakai. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan studi literatur dan percobaan pembuatan beberapa jenis pola marker dengan konsep pola zero waste. Dari tiga jenis pola marker alternatif yang dibuat kemudian dibandingkan dengan pola marker yang asli, salah satu nya menghasilkan pola marker yang lebih sedikit kebutuhan kainnya. Pola alternatif tersebut dibuat dengan Pola CAD Gerber dan memiliki angka efisiensi sebesar 85,53%. Jas laboratorium ini membutuhkan banyak komponen yang bentuknya tidak bisa diubah menyesuaikan garis pola pada marker karena komponen tersebut memiliki fungsi tertentu. Sehingga pada setiap bentuk pola dan marker pasti ada bagian yang tersisa karena tidak bisa mengubah bentuk pola dan tidak bisa mengubah limbah menjadi 0%, tetapi hanya bisa mengurang limbah menjadi sesedikit mungkin
PENGARUH PENCUCIAN BERULANG TERHADAP PERFORMA KAIN KERUDUNG RAYON 100% YANG TELAH DILAKUKAN PENYEMPURNAAN ANTI KUSUT
Pemakaian kerudung dalam aktivitas sehari – hari dan proses pencucian yang terus menerus serta penambahan zat penyempurnaan anti kusut seperti resin, katalis, dan softener pada kain kerudung tentunya akan berpengaruh terhadap performa kain kerudung yaitu smoothness appearance, kekuatan tarik kain, dan kelangsaian kain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pencucian berulang terhadap performa kain kerudung anti kusut serta mengetahui jumlah pencucian yang dapat menurunkan mutu kerudung anti kusut. Proses penyempurnaan anti kusut dilakukan secara exhaust menggunakan resin DMDHEU. Proses pencucian berulang dan pengujian performa kain kerudung seperti pengujian smoothness appearance, kekuatan tarik kain, dan kelangsaian dilakukan berdasarkan ketentuan yang ada di SNI. Adanya pencucian berulang terbukti menurunkan performa kerudung anti kusut dan berpengaruh terhadap pemenuhan syarat mutu yang ada dalam SNI 8098:2017