Texere (E-Journal)
Not a member yet
111 research outputs found
Sort by
PEMBUATAN MASKER KAIN BERBAHAN POLIESTER KAPAS (TC) MENGGUNAKAN METODE PAPARAN PLASMA PIJAR DAN COATING ANTI BAKTERI DARI EKSTRAK DAUN EUCALYPTUS GLOBULUS
Masks have become an essential and inseparable part of daily life over the past few years. Even today, masks remain necessary to help maintain the quality of the air we breathe. Cloth masks are an economical choice due to their reusability; however, prolonged use may have negative effects on facial skin. Therefore, modifying mask materials has become a viable option to reduce these adverse effects. Surface modification is one such approach, particularly when using tetron cotton (TC), a fabric known for its good dimensional stability. Plasma exposure is considered an environmentally friendly method for altering the surface properties of TC fabric to improve its adhesiveness. The expected effect of plasma-induced surface modification is to increase the adhesive properties, transforming the fabric from hydrophobic to hydrophilic and enabling the addition of antibacterial properties. With the inclusion of antibacterial agents, TC fabric not only functions as an air filter for cloth masks but also helps protect facial skin from bacteria caused by moisture during prolonged use. Plasma treatment was applied with varying exposure times of 1.5, 2.5, 3.5, 4.5, and 5.5 minutes at a distance of 4 cm, and with varying distances of 4 cm, 4.5 cm, 5 cm, 5.5 cm, and 6 cm at a constant exposure time of 5.5 minutes. The novelty of this research lies in the development of an antibacterial cloth mask using a coating method with Eucalyptus globulus leaf extract, which serves as a barrier against bacteria that may potentially enter the respiratory tract.Masker menjadi salah satu bagian yang penting dan melekat pada wajah selama beberapa tahun terakhir. Bahkan hingga saat ini, Masker sudah menjadi kebutuhan dalam rangka menjaga kualitas udara yang kita hirup. Masker kain menjadi pilihan ekonomis karena dapat dipakai berulang-ulang namun penggunaan dalam waktu yang lama memberikan dampak yang kurang baik terhadap kulit wajah penggunannya. Modifikasi bahan masker menjadi pilihan untuk mengurangi dampak yang kurang baik terhafap wajah. Modifikasi permukaan menjadi salah satu pilihan ketika bahan tettron cotton (TC) sebagai bahan yang memiliki stabilitas dimensi yang baik dimodifikasi sifatnya untuk menaikan sifat adhesive nya. Paparan Plasma menjadi pilihan modifikasi yang ramah lingkungan untuk merubah sifat permukaan kain TC. Efek modifikasi permukaan akibat paparan plasma pijar diharapkan mampu menaikkan sifat adhesive, sehingga kain TC (tetteron cotton) yang semula memiliki sifat hidrofobik berubah menjadi hidrofilik dan dapat dilakukan penambahan sifat antibakteri. Dengan di tambahkannya sifat anti bakteri kain TC tidak hanya dapat menyaring udara sebagai bahan masker kain tetapi juga menjaga kulit wajah dari bakteri yang timbul akibat kelembaban selama penggunaan masker. Variasi yang diberikan dengan waktu proses treatment plasma yaitu 1.5, 2.5, 3.5, 4.5, 5.5 menit dengan jarak 4 cm. Kemudian variasi jarak yaitu 4 cm, 4.5 cm, 5 cm, 5.5 cm dan 6 cm pada waktu 5.5 menit selama pengujian. Hasil kebaharuan dari penelitian ini adalah dihasilkannya suatu produk masker kain yang memiliki sifat antibakteri dengan metode Coating Ekstrak Daun Eucalyptus Globulus serta berfungsi sebagai penghambat bakteri yang berpontensi masuk ke saluran pernapasan
PEMODELAN RESPON SURFACE METHODOLOGY (RSM) UNTUK MEMPREDIKSI pH DAN ARUS LISTRIK LARUTAN SISA PENCELUPAN POLIESTER MENGGUNAKAN ELEKTROKOAGULAN
Treating wastewater from polyester dyeing processes using disperse dyes is essential for environmental conservation. Among various treatment methods, electrocoagulation presents a promising alternative for textile effluent remediation. This study developed predictive models using Response Surface Methodology (RSM) to optimize the electrocoagulation process by examining the effects of process duration (0-30 minutes) and applied voltage (5-9 Volts) on pH and electric current. Results demonstrated that the RSM model achieved excellent predictive accuracy for electric current (R² = 0.9786), while the pH model showed moderate correlation (R² = 0.6013). Statistical validation confirmed model reliability through adjusted R², predicted R², and adequate precision values. The research identified optimal time-voltage parameter ranges for experimental waste treatment applications. Both independent variables significantly influenced the observed responses, with voltage exerting a dominant effect on electric current generation during electrocoagulation. These findings contribute to the development of more efficient treatment processes for textile wastewater and align with previous studies highlighting electrocoagulation's effectiveness in pollutant removal from industrial effluents.Pengolahan limbah cair dari proses pencelupan poliester dengan zat warna dispersi merupakan keharusan untuk menjaga kelestarian lingkungan. Di antara berbagai metode pengolahan, elektrokoagulasi hadir sebagai alternatif yang menjanjikan untuk mengatasi limbah tekstil. Penelitian ini mengembangkan model prediktif berbasis Response Surface Methodology (RSM) untuk mengoptimalkan proses elektrokoagulasi. Dengan memvariasikan waktu proses (0-30 menit) dan tegangan listrik (5-9 Volt), penelitian ini mengkaji pengaruhnya terhadap dua parameter kunci: pH dan arus listrik. Hasil analisis menunjukkan bahwa model RSM mampu memprediksi arus listrik dengan sangat baik (R² = 0,9786), sementara untuk pH memberikan akurasi moderat (R² = 0,6013). Berdasarkan model tersebut, diperoleh rekomendasi rentang waktu dan tegangan optimal untuk aplikasi pengolahan limbah secara eksperimental. Temuan penting lainnya adalah pengaruh signifikan kedua variabel independen terhadap respons yang diamati, dengan catatan khusus bahwa tegangan listrik memiliki peran dominan dalam menentukan besarnya arus listrik selama proses elektrokoagulasi
PERHITUNGAN STANDARD MINUTE VALUE (SMV) JAS LABORATORIUM DENGAN METODE PRE-DETERMINED MOTION TIME SYSTEM (PMTS)
Keberhasilan suatu sewing line dalam memproduksi suatu produk garmen dapat diukur dari ketercapaian terhadap target, nilai efisiensi produksi, kualitas produk yang dihasilkan, serta pengiriman tepat waktu. Untuk dapat menghitung target produksi dan efisiensi secara akurat dan objektif, dibutuhkan SMV (Standard Minute Value) atau SAM (Standard Allowed Minute) sebagai waktu standar yang biasa digunakan industri garmen dalam menghitung target produksi, efisiensi, biaya produksi, biaya tenaga kerja, dan line balancing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa SMV untuk jas laboratorium dengan metode Pre-Determined Motion Time System (PMTS) menggunakan software General Sewing Time (GST). Untuk memperoleh SMV, proses yang dilakukan adalah operation breakdown produk jas laboratorium, menganalisa unsur – unsur penyusun gerakan tiap proses jahit, kemudian membandingkan gerakan – gerakan tersebut dengan kode – kode gerakan yang sudah ditentukan dalam GST. Dari hasil perhitungan GST, maka diperoleh SMV jas laboratorium adalah 40,02 menit.The success of a sewing line in producing a garment product can be measured by its achievement on targets, production efficiency, product quality, and delivery on time. In calculation of production targets and efficiency accurately need SMV (Standard Minute Value) or SAM (Standard Allowed Minute) as the standard time commonly used by the garment industry in calculating production targets, efficiency, production costs, labor costs, and line balancing. This research aims to find out the SMV of laboratory coats using the Pre-Determined Motion Time System (PMTS) method by (General Sewing Time) GST software. To obtain SMV, the process carried out are breakdown processes of the laboratory coat and analyzing the motions of each operation to identify the motion codes specified in GST. GST calculation generated 40.02 minutes for SMV of laboratory coats
PENGARUH SUHU DALAM PROSES PENGHILANGAN KANJI POLIVINIL ALKOHOL (PVA) TERHADAP SIFAT FISIK KAIN KAPAS 100%
The removal of size from sarong woven fabric that has undergone yarn dyeing is very important to prepare the fabric for the next process. The handle of the sarong fabric will become stiff if the size removal process is not done perfectly. The size used to increase the strength of the yarn in the weaving of woven fabrics uses a synthetic polyvinyl alcohol size type. The size removal method is carried out using hot water by varying the process temperature of 70o C, 80o C, 90o C, and 100o C. The results of the starch removal process were evaluated for absorbency, stiffness and color difference values. The results showed that increasing the temperature of the size removal process significantly increased the effectiveness of polyvinyl alcohol removal. The optimum temperature for size removal was at 100o C, resulting in a weight reduction of 9.62%. The absorption test increased by 69.33% or 18.4 seconds. Fabric stiffness decreased drastically, with the largest decrease in stiffness of 63.15% in the warp direction and 61.3% in the weft direction. Color difference measurements showed the smallest ΔE value among other size removal temperature variations with a value of 0.36.Penghilangan kanji pada kain tenun sarung yang telah dilakukan proses pencelupan benang sangat penting untuk mempersiapkan kain untuk proses selanjutnya. Pegangan kain sarung akan menjadi kaku apabila proses penghilangan kanji tidak dilakukan secara sempurna. Kanji yang digunakan untuk meningkatkan kekuatan benang pada pertenunan pada kain kain tenun menggunakan jenis kanji sintetik polivinil alkohol. Metode penghilangan kanji dilakukan menggunakan air panas dengan memvariasikan suhu proses 70 o C, 80o C, 90o C, dan 100o C. Hasil proses penghilangan kanji dilakukan evaluasi daya serap, kekakuan serta nilai beda warna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan suhu proses penghilangan kanji secara signifikan meningkatkan efektivitas penghilangan polivinil alkohol. Suhu optimum penghilangan kanji yaitu pada suhu 100˚C, menghasilkan pengurangan berat 9,62%. Uji daya serap meningkat sebesar 69,33% atau 18,4 detik. Kekakuan kain menurun drastis, dengan penurunan kekakuan terbesar sebesar 63,15% pada arah lusi dan 61,3% pada arah pakan. Pengukuran beda warna menunjukkan nilai ΔE paling kecil diantara variasi suhu penghilangan kanji lainnya dengan nilai 0,36
PENETAPAN STANDAR LIFE TIME PENGGUNAAN PISAU AUTO CUTTING MACHINE SINGLE PLY PADA KAIN DRILL DI POLITEKNIK STTT BANDUNG
Mesin auto cutting merupakan mesin pemotongan kain dengan mengikuti pola yang terdapat pada kertas marker atau kain secara otomatis dengan digerakkan oleh sistem komputer yang dapat mengontrol jalannya proses produksi. Ketepatan dan kebersihan pemotongan menjadi persyaratan terhadap kualitas hasil pemotongan. Untuk mencapai proses pemotongan kain yang baik, salah satu bagian penting yang harus diperhatikan adalan penggunaan pisau potong. Tujuan penelitian ini adalah melakukan percobaan terhadap penggunaan pisau potong decagonal dengan ukuran 45 mm untuk mendapatkan usia pakai pisau potong dengan memperhatikan cutting length. Setelah melakukan penelitian usia pakai pisau potong mesin autocutting diperoleh kesimpulan bahwa total panjang cutting length sampai pisau tidak dapat memotong dengan sempurna adalah Cutting length 6760,03 meter untuk gramasi kain 209 gsm dan Cutting length 6341,25 meter untuk gramasi kain 216 gsm
PEMANFAATAN ANTI BAKTERI DAUN SIRIH HIJAU (Piper betle L) PADA PENGENTAL INDUK CAMPURAN NATRIUM ALGINAT DAN KARBOKSIMETILSELULOSA
Pengental memegang peranan penting dalam tingkat keberhasilan kualitas pencapan. Pada pencapan zat warna reaktif hasil optimum diperoleh dengan penggunaan campuran natrium alginat dan CMC. Pengental jenis natrium alginat memiliki waktu simpan yang singkat. Oleh karena itu, dalam penggunaannya perlu ditambahkan zat anti bakteri sehingga viskositas pengental tetap stabil. Salah satu zat anti bakteri alamiah yaitu daun sirih hijau. Sebelum digunakan, daun sirih hijau diekstraksi sampai diperoleh massa kental daun sirih hijau. Pengujian aktivitas anti bakteri dilakukan sebelumnya dan menunjukkan bahwa ekstrak daun sirih hijau dapat menghambat pertumbuhan bakteri dalam pengental induk. Penelitian dilakukan dengan penambahan ekstrak daun sirih hijau ke dalam pengental induk campuran dengan konsentrasi 0, 2, 5, dan 8 g/kg, yang disimpan dalam waktu kurun waktu 0 sampai 7 hari. Hal ini dibuktikan pada hasil uji aktivitas antibakteri dan viskositas pengental induk yang stabil hingga hari ke-7, berbeda dengan tanpa penggunaan ekstrak daun sirih hijau yang viskositasnya makin menurun drastis tiap harinya. Pada penggunaannya, makin banyak konsentrasi ektrak daun sirih hijau yang digunakan maka viskositas makin stabil dan ketajaman motif pun makin baik namun ketuaan warna makin menurun.
EKSPLORASI MOTIF TERINSPIRASI DARI PERTUNJUKAN EBEG BANYUMASAN DENGAN TEKNIK BORDIR DAN APLIKASI ZIPPER PADA BUSANA READY-TO-WEAR DELUXE
Semakin berkembangnya busana mengakibatkan munculnya keberagaman jenis dari busana. Salah satu jenis busana yang berkembang ialah ready-to-wear deluxe. Di Indonesia, busana tidak lepas dari pengaruh budaya sebagai negara yang kaya akan budaya yang patut untuk dilestarikan. Salah satu daerah dengan adat budaya yang masih kental dan dilestarikan adalah Ebeg Banyumasan di wilayah Eks-Karesidenan Banyumas. Dalam penelitian ini, pertunjukan Ebeg Banyumasan menjadi inspirasi dalam pembuatan busana ready-to-wear deluxe yang diaplikasikan melalui teknik bordir digital. Busana yang dibuat pada penelitian ini mengikuti trend forecasting 2023/2024, yakni mengambil tema The Saviors dengan ciri khas struktur busana yang tegas dan sporty. Koleksi busana yang dibuat diberi judul ‘Unketriwal’ yang diambil dari bahasa ngapak banyumasan “tidak hilang”. Pemilihan judul ini bertujuan untuk terus menjaga budaya bangsa, khususnya budaya Pertunjukan Ebeg Banyumasan agar tidak hilang di masa yang akan datang
PENGARUH KONSENTRASI GUAR GUM DAN UREA PADA PENCAPAN ZAT WARNA REAKTIF PADA KAIN KAPAS
Proses pencapan zat warna reaktif pada kain kapas umumnya menggunakan pengental alginat, namun harganya relatif mahal karena ketersedian alginat mulai terbatas. Salah satu alternatif pengental untuk pencapan dengan harga yang lebih murah yaitu menggunakan guar gum. Pada pencapan menggunakan zat warna reaktif menggunakan pengental alginat sering ditambahkan urea untuk memberikan kelembapan selama proses fiksasi sehingga pewarna dapat masuk ke dalam serat dengan baik. Hal tersebut mendorong perlunya dilakukan penelitian mengenai pengaruh konsentrasi guar gum dan urea terhadap hasil pencapan zat warna reaktif pada kain kapas. Pada penelitian ini dilakukan proses pencapan pada kain kapas menggunakan zat warna reaktif dengan memvariasikan guar gum sebesar 500, 600, 700, dan 800 g/kg dan urea sebesar 60, 80, 100 g/kg. Pengujian yang dilakukan meliputi pengujian viskositas, ketuaan warna, ketajaman motif, kekakuan kain, dan ketahanan luntur warna terhadap pencucian dan gosokan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa konsentrasi guar gum dan urea berpengaruh terhadap ketuaaan warna, ketajaman motif dan kekakuan kain, namun tidak berpengaruh pada ketahanan luntur warna terhadap pencucian dan gosokan. Konsentrasi guar gum juga berpengaruh pada viskositas pasta. Semakin besar konsentrasi guar gum maka semakin tinggi nilai viskositas pasta cap. Nilai optimum diperoleh dari hasil pencapan dengan konsentrasi guar gum 500 g/kg dan urea 60 g/kg yang memberikan nilai ketuaan warna tertinggi yaitu 15,3081 dan nilai ketajaman motif 4,6. Selain itu kekakuan kain dan ketahanan luntur warna terhadap pencucian dan gosokan memiliki hasil yang baik.
GRADASI WARNA DAN EMBELLISHMENT PADA GAUN PENGANTIN MUSLIMAH TERINSPIRASI DARI HANFU DRESS
Gaun pengantin adalah busana istimewa yang digunakan wanita pada saat hari pernikahan. Gaun pengantin yang modern tidak lagi berwarna putih saja, tetapi mulai berwarna sesuai keinginan pengantin. Gaun pengantin muslimah terinspirasi dan Chinese Hanfu dress menerapkan gradasi warna menggunakan teknik pencelupan dan penerapan embellishment pada busana, berupa bunga 3 dimensi dan payet (beads) diadaptasi dan bunga plum blossom alau Mei Hua vang memiliki makna sebagai harapan baru dan memberikan kebahagiaan di sekelilingnya. Metodologi yang digunakan adalah studi pustaka dan pembuatan produk busana. Proses pembuatan gaun pengantin muslimah ini dimulai dari proses perancangan konsep, pembuatan moodboard, pembuatan desain dan produksi busana. Proses produksi dimulai dan pembuatan gradası warna dengan teknik pencelupan kain, dilanjutkan pembuatan pola busana dan obi, pembuatan mock up. pemotongan, penjahitan, pembuatan bunga 3 dimensi, pemasangan embellishment, fitting awal, finishing, hingga fitting akhir, Perancangan gaun pengantin muslimah memiliki bentuk siluet A, terdiri dari inner dan outer dan dilengkapi dengan komponen obi dan hijab serta dibuat menutupi bagian aurat wanita. Warna putih pada bagian inner yang melambangkan kesucian dan bagian outer menerapkan warna putih yang diben efek gradasi warna pink kemerahan menjadi alternatif baru bagi pengantin muslimah yang menampilkan gaya feminine-romantic. Konsep gaun pengantin muslimah ini juga sejalan dengan warna dan siluet dari Trend Forecasting 2023/2024 Co-Exist tema The Soul Searchers
PENERAPAN RFID UNTUK MENGHITUNG DAN MENGETAHUI KEBUTUHAN KAIN DI BAGIAN PEMOTONGAN PADA INDUSTRI GARMEN
Proses pemotongan merupakan suatu proses di industri garmen untuk memotong lembaran kain menjadi potongan yang sesuai dengan pola pakaian yang akan dibuat yang kemudian akan didistribusikan ke lini produksi atau lini penjahitan. Proses pemotongan di industri garmen masih di dominasi dengan pekerjaan manual dari proses gelar susun kain, penempatan marker, menghitung kebutuhan kain, hingga proses pemotongan kain. Proses produksi di industri garmen saat ini telah memasuki era industri 4.0. Revolusi Industri 4.0 merupakan transformasi komprehensif dari keseluruhan aspek produksi di industri melalui penggabungan teknologi digital dan internet dengan industri konvensional. Penggunaan teknologi yang diterapkan bisa di contohkan dengan penggunaan RFID. Penelitian ini bertujuan meningkatkan efektivitas waktu dan penggunaan kain yang digunakan selama proses pemotongan. Metode yang digunakan adalah kuantitafif di mana tahapan awal penelitian adalah studi literatur kemudian dilanjutkan dengan studi lapangan dalam proses eksperimen pembuatan RFID. Hasil dari penelitian ini berupa penerapan teknologi RFID untuk meningkatkan efektivitas waktu pengerjaan serta mengetahui dan menghitung kebutuhan kain yang digunakan di sektor pemotongan pada industri garmen