Open Journal Systems STT Kadesi Yogyakarta
Not a member yet
130 research outputs found
Sort by
Peranan Roh Kudus Menyatakan Karunia Bernubuat dan Penolong Pada Masa kini, Serta Kaitannya Dengan Ineransi Yoel 2
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan pentingnya Roh Kudus sebagai motor penggerak Karunia bernubuat. Nubuatan nabi Yoel ini terjadi dan digenapi pada hari Pentakosta (Kis 2) ketika murid-murid menerima pencurahan Roh Kudus lalu para murid berbahasa lidah sesuai dengan pemberian Roh kepada mereka, di samping itu mereka bernubuat. Karunia bernubuat ini masih relevan masa kini dan karunia bernubuat akan berakhir sampai yang Sempurna itu datang kedua kali, yakni Yesus Kristus Tuhan. Alkitab tidak pernah menyatakan bahwa nubuatan berakhir pada zaman para rasul, tetapi nubuatan tetap berlangsung sebagai karunia Roh Kudus. Sehingga penulis berkesimpulan bahwa nubuatan masih ada sampai sekarang ini dan sangat dibutuhkan dalam membangun dan mendewasakan jemaat Tuhan.Roh Kudus juga berperan sebagai penolong dalam hal ini, Sebagai Penegur dosa, Pemandu jalan, Penghias pribadi, Manajer, Pembantu administrasi, pengikat perjanjian, penyelidik hati dan sebagai Guru dalam kehidupan manusia. Ineransi Alkitab menjelaskan bahwa semua firman Tuhan yang ditulis mulai dari Kejadian sampai dengan Wahyu benar adanya dan tidak mengandung kesalahan apapun, karena bersumber dari Allah itu sendiri. Metode penelitian yang digunakan penulis adalah deskriptif kualitatif, dimana teknik pengumpulan data dengan cara studi pustaka dan kesaksian penulis
Kepemimpinan Pembapaan dalam Penggembalaan Jemaat Modern
Yesus datang ke dunia dengan misi penyelamatan yang bernilai rohani dan kekal, tetapi sejak Yesus mulai melayani di dalam pelaksanaan-Nya sehari-hari, Dia tidak terlihat eksklusif dengan hanya beredar di lingkungan rohani; Sinagoga, Bait Allah, para Farisi dan Saduki, para imam dan Lewi saja. Bahkan Alkitab mencatat bahwa Yesus menggunakan waktu yang cukup banyak di dalam Bait Allah berbincang-bincang dengan para imam hanya sekali pada saat dia masih kecil. Tetapi sejak pelayanannya dimulai, Dia menyatu dengan masyarakat dari semua tingkatan/strata berbincang dengan bahasa yang membumi tetapi mendorong keluar nilai-nilai dan kualitas kehidupan orang-orang yang bergaul dengan-Nya. Kepemimpinan pembapaan bergerak berdasarkan mandat/panggilan ilahi, tetapi memiliki relasi simetris dengan seluruh tingkatan/strata, bergaul dengan lugas menginternalisasikan nilai-nilai kebenaran Alkitabiah dalam kemasan modern yang tidak terlihat rohani tetapi tetap bergerak dengan otoritas yang dikenali dan diakui oleh orang-orang di sekitarnya, dengan demikian efektifitas kepemimpinannya menghasilkan jemaat, anak-anak atau pengikut-pengikut yang berkualitas, yang secara berkelanjutan mempengaruhi dunia sekelilingnya dengan kekuatan yang lebih besar
Progressive Christianity from the Perspective of Constructive-Decolonial Theology: A Mirror of Liminal Space for Contemporary Theology
The emergence of the progressive Christian movement has sparked controversy and is considered a deviation from traditional Christian teachings. However, on the other hand, progressive Christianity is also seen as an effort to contextualize the Christian faith within the ever-evolving realities of the times. This research uses a qualitative method with a descriptive approach to illustrate the phenomenon of progressive Christianity. The aim of this study is to explore progressive Christianity and its development from the perspective of constructive-decolonial theology, thereby opening a more constructive paradigm in line with contemporary human life. Progressive Christianity is viewed as a "liminal space," or between old traditions and renewal in contemporary Christian theology. Constructive-decolonial theology are used as perspectives to understand progressive Christianity, where constructive theology encourages the Christian faith to exhibit dynamic openness. Progressive Christianity is a movement that has emerged in response to social, cultural, and theological changes. Openness and willingness to listen to and engage in constructive dialogue amidst differences are necessary, making liminality a space for ongoing theological creativity and transformation
Studi Biblikal 1 Timotius 4:12 tentang Keteladanan Hidup Sebagai Antisipasi Cemooh Terhadap Hamba Tuhan
Keteladan hamaba Tuhan adalah hal yang sangat dibutuhkan dalam gereja. Keteladanan yang baik akan membawa dampak positif bagi perkembangan gereja. Namun sebaliknya, hamba Tuhan yang hidupnya tidak menunjukan akan mendatangkan cemooh bagi dirinya dan akan merugikan pekerjaan Tuhan itu sendiri. Tujuan penelitian ini adalah menemukan keteladan yang harus dimiliki seorang hamba Tuhan berdasarkan 1 Timotius 4:12. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan eksegesa. Hasil dari penelitian adalah : pertama, membentuk hamba Tuhan yang memiliki keteladanan dalam perkataan. Kedua, membentuk hamba Tuhan memiliki keteladanan dalam tingkah laku. Ketiga, membentuk hamba Tuhan yang memiliki keteladanan dalam kasih. Keempat, membentuk hamba Tuhan yang memiliki keteladan dalam kesetiaan. Kelima bagian tersebut adalah wujud dari hamba Tuhan yang memiliki keteladanan hidup yang menjadi salah satu bagian antisipasi orang-orang untuk mencomooh
Eksplanatori dan Konfirmatori Pengajaran Rasul Paulus Tentang Manusia Baru Berdasarkan Surat Kolose 3:1-17 Bagi Jemaat GPdI
Setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus sangat penting mengetahui bahwa Yesus Kristus telah membebaskan setiap pribadi dari kehidupan lama ke kehidupan yang baru. Peneliti menemukan beberapa kesalahpahaman mengenai manusia baru seperti yang terdapat dalam Injil Yohanes 3 : 4 dan 7 "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?" Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Ayat diatas menunjukan bahwa tidak semua orang memahami kehidupan baru, lahir baru atau manusia baru. Dalam kitab Kolose ini khususnya pasal 3: 1-17 Rasul Paulus berusaha menjelaskan dalam suratnya dan meneguhkan iman orang percaya kepada Yesus Kristus di Jemaat Kolose dan Rasul Paulus mendorong untuk berusaha mendapatkan hal-hal yang sama dengan pikiran Yesus. Oleh karena itu ada beberapa hal yang menjadi tantangan yaitu di jaman yang serba canggih ini, seperti perkembangan teknologi, meluasnya dan berkembangnya sosial media. Jemaat-jemaat diperhadapkan situasi dan kondisi yang membahayakan pikiran dan tindakan tidak sesuai dengan kehidupan yang baru yaitu manusia baru, karena segala sesuatu dapat di akses secara mudah oleh generasi zaman ini. Alasan inilah yang perlu dipahami, bahwa orang percaya harus berusaha terus menerus untuk memiliki pikiran seperti yang Yesus pikirkan, sehinga orang percaya ini hidup sebagai manusia baru serta benar benar merdeka dari manusia lamanya.
Becoming a True Worshiper: Analisis Eksegetis Teologis Yohanes 4:23 tentang Penyembahan dalam Roh dan Kebenaran
Jurnal ini membahas analisis eksegetis teologis terhadap Yohanes 4:23, yang mengungkapkan konsep penyembahan sejati menurut ajaran Yesus. Dalam ayat tersebut, Yesus menekankan bahwa penyembahan yang benar adalah penyembahan "dalam roh dan kebenaran," yang berarti penyembahan tidak terbatas pada ritual atau tempat tertentu, melainkan harus melibatkan seluruh aspek kehidupan manusia, baik rohani, batiniah, maupun praktis, dan sesuai dengan wahyu Allah yang terkandung dalam Firman-Nya. Jurnal ini mengeksplorasi makna kata-kata kunci dalam teks Yunani, seperti "proskuneo" (penyembahan), "alethinoi" (benar), dan "en pneumati" (dalam roh), untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai prinsip-prinsip penyembahan sejati. Selain itu, jurnal ini juga mengidentifikasi implikasi teologis dari penyembahan sejati, yang berfokus pada transformasi hidup, kejujuran dan otentisitas, serta bagaimana penyembahan harus menjadi gaya hidup yang mencerminkan kedalaman hubungan dengan Allah. Dengan demikian, penelitian ini memberikan wawasan penting mengenai penerapan prinsip-prinsip penyembahan sejati dalam konteks gereja kontemporer dan kehidupan iman umat Kristiani
Peran Suami Sebagai Nabi, Imam dan Raja dalam Keluarga Menjadi Kunci Keluarga Bahagia
Banyak dijumpai kehidupan keluarga kristen masa kini yang tidak bahagia hal ini disebabkan mereka belum memahami cara mengelola kehidupan keluarga menurut kehendak Tuhan. Kehidupan keluarga tanpa melibatkan Tuhan didalamnya tidak akan mengalami kebahagiaan. Metode yang digunakan adalah metode deskritif kualitatif. Kesimpulan, keluarga bahagia tercipta ketika seorang suami berperan dalam tiga hal yaitu sebagai Iman, Nabi dan Raja. Sebagai Imam, ia bertanggunjawab membawa seluruh anggota keluarga beribadah kepada Allah. Sebagai Nabi, ia harus memiliki relasi yang kuat dengan Tuhan. Sebagai Raja, bertanggungjawab dalam mensejahterakan keluarga. Ketiga peran di atas menjadikan suami berperan secara maksimal, berperan secara rohani yaitu membawa keluarga dekat kepada Tuhan (sebagai Iman dan Nabi) dan berperan secara jasmani mampu menyejahterakan keluarga (sebagai raja)
Perkawinan Adat Sabu dan Perjumpaanya Dengan Pernikahan Kristen Di Kepualaun Sabu
Tujuan dari riset ini adalah untuk menggambarkan pandangan pernikahan orang sabu dan penikahan secara kekristenan. Metode yang dipakai dalam riset ini adalah metode sosial historis dengan pendekatan kualitatif. Subyek dari riset ini adalah tokoh adat, masyarakat, tokoh agama, pendeta. Maka hasil penelitian yang diperoleh saat melakukan penelitian adalah Gereja Masehi Injili di Timor bersikap terbuka dan dengan sepenuh hati menerima berbagai masukan yang terpercik dari nuansa kehidupan manusia dan masyarakat Sabu, dan dalam hal ini perkawinan kenoto. Makna dan nilai serta fungsi kehidupan yang terdapat dalam adat, tradisi dan budaya, haruslah diterima oleh Gereja Masehi Injili di Timor sebagai sesuatu yang positif dalam rangka mengembangkan cara pastoral yang lebih berpihak pada kepentingan manusia dan masyarakat sederhana. Serentak sikap Gereja Masehi Injili di Timor seperti ini menjadi indikator yang baik bahwa ia selalu membuka peluang untuk menghormati harga diri manusia dan secara luas pula memberi respek kepada Hak Azasi Manusia dalam citra berbudaya manusia dan masyarakat Sabu
Church growth theology
Jesus established the church in whom there is the hope of cross-growth. Church growth involves bringing people to Jesus who do not have a personal relationship with God. Church growth has to do with bringing souls to Jesus. So by its nature church growth includes the study of expansion, planting and multiplication, function and health of the church. There are generally two views on who is responsible for and expands church growth. One side of the responsibility is in the hands of the servants of God but on the other hand it is the responsibility of the people of God together. These two opinions need a correct understanding of the theology of church growth. So, whose responsibility is church growth? Is it only the servants of God, or does the entire church community also participate? Based on the formulation of the problem, the research title emerged, namely Theology of Church Growth. In this research, only the philosophy of church growth itself is discussed. The purpose of the research is to look at the principles of church growth and its philosophy. The object of research is church growth and the principles of church growth theologically. The research method is done by review literature that has existed before. The results of the research are: the basis of church growth is the Bible, there are two types of church growth in quality and quantity. The factors of church growth are caused by, having a burden in service, the work of the Holy Spirit, praying people who obey God in evangelism. This means that church growth itself is the work of the triune God. A growing church is God's desire, therefore people are responsible for the growth of the church
Biblical wisdom: rethinking Christian education according to Proverbs 1:2-7 and its relationship with national education philosophy
The purpose of this study is to discover the significance of biblical wisdom according to Proverbs 1:2-7 in Christian education and to use it as a point of view when highlighting the national education philosophy, as well as to see whether the nature of the two complement each other or sharpen each other when they meet? The method used was a combination of theological interpretation of Proverbs 1:2-7 and a synchronic perspective on the philosophy of the national education motto. This research found that Christian education has two sides when it meets the philosophy of the national education motto. First, Christian education remains based and aims at biblical wisdom, next, it can be open to the philosophy of the motto but applies analytical rigor and criticality