Open Journal Systems STT Kadesi Yogyakarta
Not a member yet
    130 research outputs found

    Christian Education Correlation With The Moral of Student's Developments

    Full text link
    The moral formation of a child is first found in the family, so education at school adds more formation and knowledge to strengthen his personality. Because in school a child learns in three domains, namely cognitive, affective, and psychomotor, cooperation, responsibility, respect, and even to recognize himself. The reality is that students learn do not have advantages and uniqueness personally but on the contrary student achievement decreases, does not carry out their obligations as students to learn, and does not know themselves. There is a very significant positive relationship between Christian religious education and the moral formation of students at Pelita Bangsa Christian Middle School Bandung in the 2019/2020 school year, this is indicated by the product-moment correlation value of 0.737 with a significant level of 0.05

    First Communion Celebrations in Manggarai Flores and The Pastoral Implications on Faith Family Education

    Full text link
    The Eucharist, one of the seven sacraments in the Catholic Church, holds a central and pivotal role in Christian life. Through this sacred ritual, Christians find communion with Christ, who is presented in the consecrated bread and wine. The celebration of the Eucharist is fundamental to the spiritual journey of believers. When a child receives their first communion, the church marks this significant milestone with great enthusiasm. Simultaneously, parents also take part in the celebration. This article explores the diverse ways in which Flores parents in East Nusa Tenggara celebrate their child's first communion. This research employed ethnography as the research methodology, with observations and interviews as the tool to collect data. Our findings revealed various ways of celebrating the first communion within the community. Among then, parties were the prevailing mode of celebration. Each celebration carried both positive and negative implications. While parties fostered familial prestige, they could also be wasteful and fail to prioritize child-friendliness. Regrettably, these festivals often lean more toward adult-oriented gatherings rather than child-centered or spiritually enriching events. As the conclusion, the First Communion ceremony among the Flores people transcended their religious practice; it transformed into a joyous occasion that involved the entire family and served as a social gathering. Given the potential drawbacks of excessive partying, the church should implement a pastoral strategy that emphasizes comprehensive family faith education and eucharistic understanding

    Telaah Teologis: Pengajaran Tentang Konsep Hidup dalam Alkitab

    Full text link
    Konsep hidup (life) dalam Alkitab memuat dimensi yang kaya dan mendalam, mencakup aspek fisik, spiritual, relasional, dan eskatologis. Dalam Perjanjian Lama, istilah chayyim sering digunakan untuk merujuk pada kehidupan sebagai anugerah dari Allah yang berkaitan erat dengan ketaatan kepada hukum-Nya. Sementara dalam Perjanjian Baru, kata Zoe muncul sebagai konsep hidup yang kekal dan berlimpah dalam Kristus. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengajaran Alkitab mengenai ‘hidup’ dari perspektif biblika dan teologis serta menguraikan implikasinya terhadap pembinaan iman umat Kristen, khususnya dalam konteks pendidikan teologi dan pembentukan karakter. Melalui pendekatan kualitatif dan studi kepustakaan, ditemukan bahwa pengajaran tentang hidup dalam Alkitab bukan hanya berbicara tentang keberadaan biologis, tetapi lebih jauh lagi menyentuh relasi dengan Allah, kebermaknaan eksistensi, dan panggilan hidup umat Allah. Penelitian ini menemukan konsep hidup sebagai nilai teologis sentral dalam kurikulum Pendidikan Agama Kristen, guna menanamkan kesadaran eksistensial dan tanggung jawab etis dalam kehidupan sehari-hari

    Penilaian Implementasi Pembelajaran Berbasis Proyek dalam Pendidikan Agama Kristen

    Full text link
    Dalam Penelitian ini menyelidiki implementasi Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL) dalam konteks Pendidikan Agama Kristen (PAK) di Sekolah Tinggi Teologi KADESI Yogyakarta, dengan fokus khusus pada penilaian keterampilan menulis teologis dan reflektif mahasiswa. Dengan menggunakan desain penelitian pra-eksperimental.  Penelitian ini melibatkan 5  mahasiswa teologi dan 5 mahasiswa PAK  semester lima  yang dipilih melalui pengambilan sampel. Pra-tes dan pasca-tes diberikan untuk mengevaluasi hasil belajar mahasiswa terkait penulisan esai teologis dan interpretasi Pendidikan Agama Kristen.  Penelitian ini menggunakan desain penelitian pra-eksperimental dengan model pra-tes dan pasca-tes satu kelompok untuk menyelidiki efektivitas pendekatan Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL) dalam meningkatkan prestasi akademik dalam konteks Pendidikan Agama Kristen. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan PjBL memfasilitasi perilaku akademik utama seperti pendekatan pembelajaran, penelitian mandiri, berbagai sumber data, dan refleksi teologis. Lebih lanjut, mahasiswa menunjukkan peningkatan keterlibatan dalam pemecahan masalah dan diskusi antarteman ketika tugas dibingkai melalui pertanyaan-pertanyaan pendorong yang relevan dengan doktrin Kristen dan praktik pelayanan. Dengan demikian semakin banyaknya literatur tentang PjBL dalam pendidikan tinggi berbasis agama dan menawarkan wawasan praktis bagi para pendidik yang ingin merancang kurikulum teologi yang lebih efektif dan berpusat pada mahasiswa. Model penilaian yang diusulkan menyoroti keseimbangan antara ketelitian akademis dan keterlibatan spiritual reflektif, yang penting bagi pendidikan teologi formatif

    Implementasi Prinsip-Prinsip Pelayanan Tuhan Yesus Kristus Berdasarkan Injil Matius Bagi Gembala Sidang Se Mojokerto Provinsi Jawa Timur

    Full text link
    Masa pelayanan Tuhan Yesus di dunia hanya sekitar tiga setengah tahun, tetapi selama masa tiga setengah tahun memiliki pengaruh besar dan memberikan perubahan pada kehidupan manusia sepanjang sejarah.Dalam tindakan-Nya, Tuhan Yesus disebut sebagai Tuhan dan guru tidak hanya oleh murid-murid-Nya tetapi juga oleh musuh-musuh-Nya. Dia bukan hanya seorang guru biasa Dia adalah seorang guru agung karena dia melakukan apa yang dia katakan untuk menjadi teladan bagi murid-murid-Nya. Sangat menarik bahwa, sebagai pemipin rohani bagi umat manusia, para Gembala Sidang memiliki gaya hidup keteladanan Yesus Kristus dan memiliki kemampuan untuk mengajarkan kepada jemaatNya, yang Tuhan percayakan dengan prinsip yang tepat untuk mencapai tujuan mereka dengan cara yang efektif dan efisien. Keteladanan Yesus bagi guru Kristen berdasarkan Injil Matius dibahas dalam artikel ini dengan metode kuantitatif. Semua Gembala Sidang sebagai pemimpin rohani,  memiliki tanggung jawab atas apa yang mereka ajarkan. Tujuan dari artikel ini adalah untuk melihat bagaimana keteladanan Yesus digunakan oleh para Gembala Sidang dalam menjalankan tugas mereka untuk memberitakan Injil Kerajaan Surga dan melakukan pelayanan Tuhan Yesus Kristus berdasarkan Injil Matius di antara para Gembala Sidang di wilayah Mojokerto Provinsi Jawa Timur. Diharapkan bahwa penelitian ini akan menjadi dasar bagi setiap Gembala Sidang sebagai pemimpin rohani

    Application of the Constructivist Method and Its Implementation in Christian Religious Education at Paulus Theological Seminary Jakarta

    Full text link
    This study examines the application of constructivist pedagogy within Christian Religious Education at Sekolah Tinggi Teologi Paulus Jakarta. Constructivism rooted in the work of Jean Piaget and Lev Vygotsky posits that knowledge is actively built by learners through experience, reflection, and social interaction rather than passively transferred from instructors. In theological education, this shift reframes lecturers as facilitators who scaffold students’ personal and communal engagement with Scripture and Christian doctrine. Employing a qualitative descriptive design that integrates literature review, non-participant observation, and semi-structured interviews with lecturers and students, the study finds that constructivist practices at STT Paulus Jakarta promote higher-order thinking, contextual biblical interpretation, and collaborative learning. Notwithstanding these benefits, challenges persist in lecturer readiness, student self-regulation, and resource availability. The paper argues that constructivism is both relevant and effective for Christian education, provided it is supported by institutional commitment to professional development and pedagogical innovation

    Mengembangkan Karakter Siswa Yang Unggul dan Mandiri Melalui Pendekatan Deep Learning Dalam Pembelajaran PAK

    Full text link
    Pendidikan yang efektif tidak hanya menitikberatkan pada aspek kognitif, tetapi juga pada pembentukan karakter siswa yang unggul dan mandiri. Saat ini, banyak peserta didik mengalami krisis moral, seperti mudah berkata kasar, kurang sopan, serta kecanduan bermain game. Hal ini dipengaruhi oleh kurangnya apresiasi dari lingkungan sekitar dan tingginya paparan dunia maya yang minim nilai etika. Akibatnya, karakter anak menjadi rapuh dan jauh dari sikap santun dan tanggung jawab. Untuk mengatasi permasalahan ini, pendidikan perlu mengadopsi pendekatan yang lebih holistik. Salah satu strategi yang efektif adalah penerapan metode deep learning, yakni pendekatan pembelajaran yang menekankan proses belajar yang mendalam, reflektif, dan bermakna. Tujuannya adalah agar siswa tidak hanya memahami materi secara konseptual, tetapi juga mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kemampuan memecahkan masalah, serta nilai-nilai karakter seperti jujur, disiplin, sopan, rendah hati, dan tanggung jawab. Artikel ini disusun menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan mengkaji berbagai sumber yang berkaitan dengan penerapan deep learning dalam pembentukan karakter siswa. Hasil kajian menunjukkan bahwa metode ini mampu merangsang aktivitas berpikir tingkat tinggi dan mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dan kolaboratif dalam pembelajaran. Dengan demikian, deep learning tidak hanya meningkatkan aspek akademik, tetapi juga sangat efektif dalam membangun karakter siswa yang tangguh secara moral dan spiritual

    Hubungan Online Resilience dan Perilaku Cyberbullying Pada Remaja

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara online resilience dan perilaku cyberbullying pada remaja. Pendekatan pada penelitian ini bersifat kuantitatif dengan desain korelasional, dan pengambilan sampelnya dilakukan dengan menggunakan metode probabilitas. Partisipan penelitian berjumlah 62 remaja berusia 12-22 tahun yang aktif mengunakan media sosial dan pernah pengalami cyberbullying. Instrumen yang digunakan terdiri dari skala online resilience berdasarkan aspek digital literacy, Emotional literacy, dan coping stategy serta skala perilaku cyberbullying berdasarkan tujuh aspek dari Willard (2018). Hasil analisis data mengunakan Pearson Product Moment menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara online resilience dan perilaku cyberbullying (r= -0,622, p < 0,05). Hasil penelitian menujukkan bahwa remaja dengan tingkat online resilience yang lebih tinggi cenderung memiliki risiko yang lebih rendah untuk terlibat dalam atau mengalami cyberbullyng. Penelitian ini menunjukkan pentingnya penguatan online resilience sebagai stategi preventif dalam menghadapi tantangan dunia digital, khususnya dalam konteks perlindungan kesehatan mental remaja

    Konflik Kristologis dalam Injil Yohanes 5:18: Kajian Atas Tuduhan Penyamaan Diri dengan Allah

    Full text link
    Penelitian ini menelaah Yohanes 5:18 sebagai locus penting dalam Kristologi Yohanes, khususnya terkait tuduhan bahwa Yesus “menyamakan diri dengan Allah.” Ayat ini menandai transisi dari konflik seputar hukum Sabat menuju konflik teologis yang lebih mendalam tentang identitas Yesus. Melalui pendekatan kualitatif dengan eksegesis teologis, kajian ini menunjukkan bahwa tuduhan tersebut bukan sekadar reaksi polemis, melainkan bagian dari strategi naratif Yohanes untuk menegaskan kesatuan Yesus dengan Bapa. Konflik dalam Yohanes 5:18 tidak dapat dilepaskan dari konteks monoteisme Yahudi, namun justru di dalam ketegangan itu Injil Yohanes menampilkan Kristologi yang menjadi dasar refleksi gereja mula-mula tentang relasi Bapa dan Anak. Dengan demikian, teks ini berperan sebagai fondasi teologis yang menjelaskan mengapa jalan Yesus menuju salib tidak terhindarkan, sekaligus membuka ruang bagi pengembangan doktrin Trinitas

    The Key to Mental Health: Social and Semantic Domain Analysis of Sesoken in Matthew 9:22

    Full text link
    Mental health is an important issue and is one way to achieve a golden Indonesia in 2045. However, in Indonesia, the issue has not received much attention. The authors in this study try to discuss mental health by linking it to the health of faith. The authors found that having healthy faith is the key to mental health. Through social analysis of Matthew 9:20-22, it can be seen that the story of the bleeding woman is about mental health. Even though she is experiencing very heavy suffering, a bleeding woman can still have mental health because of the faith she has. The healthy faith that she has already has a big impact on her mental health. This is clearly seen through Jesus' expression towards her, "...your faith has saved you..." (Matt. 9:22). The word "save" in the text apparently has various translations. Through semantic domain analysis of the words "save” or “sesoken", it turns out that they contain the meaning "to heal". In this way, through social and semantic domain analysis of the word “sesoken” in Matthew 9:22, it becomes clear that healthy faith is the key to mental health

    125

    full texts

    130

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Open Journal Systems STT Kadesi Yogyakarta
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇