Direktori Jurnal Elektronik Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Mandailing Natal
Not a member yet
1167 research outputs found
Sort by
Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Nasabah Menggunakan Mobile Banking di PT. Bank Sumut Kantor Cabang Pembantu Syariah Panyabungan: Sri Ramadahani Putri HSb, Arwin, Siti Kholijah
Tujuan penelitian ini adalah pertama untuk menganalisis adanyapengaruh faktor kemudahan terhadap minat nasabah menggunakan mobilebanking kemudian menganalisis adanya pengaruh faktor kenyamananterhadap minat nasabah menggunakan mobile banking dan menganalisisadanya pengaruh faktor kemampuan akses terhadap minat nasabahmenggunakan mobile banking dan yang terakhir menganalisis adanyapengaruh faktor kemudahan, kenyamanan dan kemampuan akses terhadapminat nasabah menggunakan mobile banking.Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif data dikumpulkan dengankusioner dengan jumlah responden 85 orang menggunakan teknik simplerandom sampling dengan menggunakan bantuan SPSS versi 25.Berdasarkan hasil penelitian bahwa faktor kemudahan (X1) berpengaruhpositif terhadap minat nasabah (Y) dengan taraf signifikan (0,001<0,05) dandengan nilai t hitung > t tabel (3,567>1,990) kemudian faktor kenyamanan(X2) berpengaruh positif terhadap minat nasabah (Y) dengan taraf signifikan(0,006<0,05) dengan nilai t hitung > t tabel (2,779>1,990) kemudian faktorkemampuan akses (X3) terhadap minat nasabah (Y) dengan taraf signifikan(0,043<0,05) dengan nita t hitung > t tabel (2,053>1,990). Dan faktorkemudahan (X1), faktor kenyamanan (X2) dan faktor kemampuan akses (X3)berpengaruh positif terhdap minat nasabah (Y) dengan taraf signifikan(0,000<0,05) dengan nilai f hitung > f tabel (11,147>2,717) dan dengan nilaikoefisien determinasi (R2) sebesar 0,292 yang berarti semuanyamempengaruhi sebesar 29, 2% sedangkan sisanya 70,8% dipengaruhi olehvariabel lain selain variabel kemudahan, kenyamanan dan kemampuanakses.
Kata kunci : Faktor Kemudahan, Faktor Kenyamanan, Faktor Kemampuan Akses dan Minat Nasabah Menggunakan Mobile Bankin
ANALISI KOMPETENSI PENDIDIK DALAM TAFSIR AL MISHBAH Q.S. AL MUJADILAH AYAT 11
The many problems that occur in the world of education which result in not achieving educational goals are something that must be considered so that it is reviewed how problems in the world of education can be overcome. One factor that is the center of attention is the quality of the educators. This study aims to explain how the competence of educators contained in surah Al Mujadilah verse 11 is based on the explanation from the Al Misbah interpretation book with the aim that educators will be able to have competence in carrying out their duties as educators. In this study, researchers used qualitative methods, in which researchers presented discussions in journals by providing explanations from various literature. The type of research chosen is the library research method. The results of this study explain the four educator competencies that must be possessed by every educator when carrying out their profession based on the perspective of the Qur\u27an. These competencies are considered important in advancing the world of education to create a generation that has a high intellect and good character. Because the good side of students will emerge through the education provided by educators. An educator is a role model for his students, therefore to achieve the goals of learning starts from preparing himself as an educator who has competence in imparting knowledge to his students.Banyaknya permasalahan yang terjadi dalam dunia pendidikan yang berakibat pada tidak tercapainya dari tujuan pendidikan menjadi sesuatu yang harus diperhatikan agar dikaji ulang bagaimana permasalahan dalam dunia pendidikan dapat diatasi. Salah satu faktor yang menjadi pusat perhatian adalah kualitas dari para pendidik. Penelitian ini bertujuan guna menjelaskan bagaimana kompetensi pendidik yang terdapat didalam surah Al Mujadilah ayat 11 berdasarkan penjelasan dari kitab tafsir Al Misbah dengan tujuan agar nantinya para pendidik mampu memiliki kompetensi dalam melakukan tugasnya sebagai pendidik. Pada penelitian ini, peneliti memakai metode kualitatif, yakni para peneliti menyajikan pembahasan didalam jurnal dengan memberikan penjelasan dari berbagai literatur. Jenis penelitian yang dipilih adalah metode Penelitian Perpustakaan. Hasil penelitian ini menjelaskan empat kompetensi pendidik yang harus dimiliki oleh setiap pendidik ketika menjalankan profesinya berdasarkan perspektif Al Qur’an. Kompetensi tersebut dinilai penting dalam memajukan dunia pendidikan agar menciptakan generasi yang memiliki intelektual tinggi dan memiliki karakter yang baik. Sebab sisi baik dari peserta didik akan muncul melalui pendidikan yang diberikan oleh pendidik. Seorang pendidik merupakan tauladan terhadap peserta didiknya, oleh sebab itu untuk mencapai tujuan dari pembelajaran dimulai dari mempersiapkan diri sebagai pendidik yang memiliki kompetensi dalam memberikan ilmu pengetahuan terhadap peserta didiknya
Konsep Perdamaian dalam QS. Al-Hujurat Ayat 9-10 (Analisis Tafsir Al-Misbah Karya M. Quraish Shihab)
Sebagai negara majemuk dengan berbagai latar belakang budaya, bahasa dan agama, Indonesia menjadi salah satu negara yang masyarakatnya rentan terhadap konflik internal. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya konflik yang terjadi sejak terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Islam sendiri yang menjadi agama yang dianut oleh sebagian besar rakyat Indonesia memiliki acuan dalam penyelesaian konflik atau yang lebih dikenal dengan ishlah atau perdamaian melalui QS. Al-Hujurat ayat 9-10 serta merujuk kepada mufasir Indonesia, M. Quraish Shihab dalam kitabnya Tafsir Al-Misbah. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana penafsiran M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah tentang ishlah pada ayat tersebut serta bagaimana konsep perdamaian yang disuguhkan didalamnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan library research dan menjadikan Tafsir Al-Misbah sebagai sumber utamanya. Pada penelitian ini ditemukan bahwa M. Quraish Shihab menafsirkan QS. Al-Hujurat ayat 9-10 menggunakan pendekatan tafsir bil ra’yi, ia menjelaskan makna setiap ayat melalui arti kata secara tekstual serta memberikan penjelasan yang dalam terkait kontekstualitas ayat melalui penggunaan bahasa dalam ayat tersebut. Dalam tafsirnya ditemukan konsep perdamaian pada ayat ini berupa: pertama, penguatan keimanan merupakan pondasi dalam meredam konflik. Kedua, penyelesaian konflik harus dilakukan segera serta diatas dasar keadilan. Ketiga, tujuan dari perdamaian itu adalah untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah dan menghindari permusuhan antar umat
Ragam Syirik Modern Dalam Pandangan Al-Qur’an
Shirk is a concept in Islam that refers to the act of associating partners with Allah or giving obedience and worship to someone other than Him. Shirk is considered the greatest sin in Islam, because it tarnishes the concept of monotheism or the oneness of Allah. The impact of shirk in the life of a Muslim is very large. Apart from being the biggest sin, shirk can also result in spiritual and moral destruction. Islam teaches that a person\u27s faith will not be accepted if there are elements of shirk in his heart. Therefore, a correct understanding of monotheism and efforts to avoid all forms of shirk are important in a Muslim\u27s religious practice.
Shirk in Islam has evolved over time. This article examines the phenomenon of modern shirk, namely the form of shirk that appears in the context of contemporary life. Through a cultural and religious analysis approach, this research explores how the values of materialism, consumerism and technology can become a new form of shirk that emerges in modern society. Apart from that, this article also discusses the impact of modern shirk on the spiritual and moral life of society, as well as efforts to overcome and avoid its spread. By understanding modern shirk, it is hoped that better awareness can be created about the threat of shirk in the current context and provide a basis for prevention and control efforts.Syirik adalah konsep dalam Islam yang merujuk kepada perbuatan menyekutukan Allah atau memberikan ketaatan dan ibadah kepada selain-Nya. Syirik dianggap sebagai dosa yang paling besar dalam Islam, karena menodai konsep tauhid atau keesaan Allah. Dampak dari syirik dalam kehidupan seorang Muslim sangat besar. Selain menjadi dosa yang paling besar, syirik juga dapat mengakibatkan kehancuran spiritual dan moral. Islam mengajarkan bahwa keimanan seseorang tidak akan diterima jika ada unsur syirik dalam hatinya. Oleh karena itu, pemahaman yang benar tentang tauhid dan upaya untuk menjauhi segala bentuk syirik menjadi penting dalam praktek keagamaan seorang Muslim.
Kesyirikan dalam Islam, telah mengalami evolusi seiring perkembangan zaman. Artikel ini mengulas fenomena syirik modern, yaitu bentuk kesyirikan yang muncul dalam konteks kehidupan kontemporer. Melalui pendekatan analisis budaya dan agama, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana nilai-nilai materialisme, konsumerisme, dan teknologi dapat menjadi bentuk syirik baru yang muncul di tengah masyarakat modern.
Selain itu, artikel ini juga membahas dampak syirik modern terhadap kehidupan spiritual dan moral masyarakat, serta upaya-upaya untuk mengatasi dan menghindari penyebarannya. Dengan memahami syirik modern, diharapkan dapat tercipta kesadaran yang lebih baik tentang ancaman kesyirikan dalam konteks zaman sekarang dan memberikan landasan bagi upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan
Kolaborasi Mahasiswa STAIN Madina Dan Naposo Nauli Bulung Desa Parupuk Jae Dalam Menyemarakkan Peringatan Hari Besar Islam
Bulan muharram adalah bulan yang mulia dalam agama Islam, bulan ini menjadi istimewa disebabkan dalam sejarah banyak peristiwa penting yang terjadi dibulan Muharram, keutamaan paling besar pada bulan muharram terjadi di hari 10 muharram sering disebut sebagai hari ‘Asyura. Pada hari ‘Asyuro ummat muslim disunnahkan berpuasa sebagaimana disunnahkan dalam hadits nabi Muhammad SAW, dibeberapa daerah ada istilah bubur Asyura (membubur sekampug untuk bukaan puasa). Kegiatan ini baru pertama kali dilaksanakan di desa Parupuk Jae, Dalam kegiatan ini menggunakan metode PAR (Participatory Action Research); yaitu berangkat dari permasalahan yang ada di masyarakat kemudian dilakukan pemecahan masalah bersama. Dari hasil kegiatan pengabdian ini masyarakat merasa senang dan bangga dengan adanya kegiatan ini dibuktikan dengan antusiasnya mereka dalam menyemarakkan 10 muharram ini serta kegiatan ini diharapkan menjadi awal untuk kegiatan dalam menyemarakkan hari hari besar ummat islam sehingga bisa menumbuhkan kesadaran serta semangat beragama guna pengamalan agama yang lebih tinggi di masyarakat.
Muharram month is a noble month in Islam, this month becomes special because in history many important events that occur in the month of Muharram, the greatest virtue in the month of Muharram occurs on the 10th day of Muharram often referred to as the day of \u27Ashura. On the day of \u27Ashuro Muslims are advised to fast as recommended in the hadith of the prophet Muhammad SAW, in some areas there is a term bubur Asyura (burying sekampug for fasting). This activity was carried out for the first time in the village of Parupuk Jae, in this activity using the PAR (Participatory Action Research) method; namely, departing from the problems that exist in the community and then solving problems together. From the results of this community service activity, the community feels happy and proud of this activity as evidenced by their enthusiasm in enlivening the 10th of Muharram and this activity is expected to be the beginning of activities to enliven the holidays of Muslims so that it can foster religious awareness and enthusiasm for higher religious practice in the community
Peningkatan Kemampuan Membaca Al-Qur\u27an melalui Metode Balai Gurah di TPA Minangkabau Saiyo Panyabungan: Improving Qur\u27an Reading Skills through the Balai Gurah Method at TPA Minangkabau Saiyo Panyabungan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas metode Balai Gurah dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur\u27an di TPA Minangkabau Saiyo. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang bersifat kualitatif, dengan pendekatan deskriptif yakni menggambarkan keadaan atau status suatu kejadian atau fenomena. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan 1) Perencanaan guru dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur\u27an dengan metode Balai Gurah dimulai dengan menyusun kurikulum yang mengadopsi sistem pembelajaran Balai Gurah. 2) Pelaksanaan guru dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur\u27an dengan metode Balai Gurah terdiri dari dua tahap, Tahap 1 adalah kegiatan belajar Al-Qur\u27an di TPA Minangkabau Saiyo yang dilaksanakan dari hari Senin hingga Sabtu, mulai pukul 14.00 hingga 17.30 WIB. Tahap 2 melibatkan materi pembelajaran sebanyak 46 materi, yang mencakup tajwid dasar seperti pengenalan huruf beserta hukum tajwid lainnya, serta materi fiqih. Tahap ini dapat diselesaikan dalam waktu 5 bulan pertama. Setelah itu, murid-murid akan diarahkan untuk mempraktikkan membaca Al-Qur\u27an mulai dari juz 1. 3) Evaluasi pembelajaran di TPA Minangkabau Saiyo terdiri dari evaluasi mingguan dan evaluasi tahunan. Penerapan metode Balai Gurah memiliki pengaruh yang positif dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur\u27an anak-anak di TPA Minangkabau Saiyo
Pengaruh Lingkungan Keluarga terhadap Perkembangan Anak Usia Dini di Bidang Literasi: The Influence of Family Environment on Early Childhood Development in Literacy
The family environment is considered an important factor in the development of early childhood literacy. Parents, as the main family members, have an important role in instilling literacy in children from an early age. The aim of this research is to determine the influence of the family environment, especially the role of parents on the development of early childhood literacy. This research method uses a qualitative approach, namely literature study by collecting data from related articles over the last ten years. Accumulate and analyze the data sourced from books, magazines, newspapers and other scientific works. Based on the research results, it was found that early childhood education has an important role in lifelong development, and the family environment, especially the role of parents, that a key factor in children\u27s literacy development. The factors in the family environment that influence children\u27s literacy development includes interactions between parents and children, the practice to reading together, a physical environment that supports literacy, and an emotional atmosphere at home. The suggestion of this research is that parents instill literacy in children from an early age through various literacy activities, build a supportive literacy environment, and involve children in creative literacy activities
Menganalisis Literasi Media di Era Digital pada Mahasiswa IAIN Takengon
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat literasi media mahasiswa KPI di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Takengon dalam menghadapi era digital yang didominasi oleh media sosial. Literasi media menjadi aspek kritis dalam memahami, mengevaluasi, dan mengelola informasi yang tersebar di lingkungan digital. Dalam konteks ini, fokus utama penelitian adalah untuk mengidentifikasi tingkat pemahaman mahasiswa terhadap media sosial, kemampuan mereka dalam menilai kebenaran informasi, serta dampak literasi media terhadap partisipasi mereka dalam proses akademik dan sosial. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki tingkat literasi media yang cukup baik, tetapi masih terdapat beberapa area di mana mereka memerlukan peningkatan, seperti kemampuan verifikasi informasi dan kritisisme terhadap sumber. Faktor-faktor seperti kurangnya pemahaman terhadap risiko dan manfaat media sosial, serta keterbatasan sumber daya untuk literasi media, menjadi tantangan utama yang dihadapi mahasiswa.
 
TEACHERS’ DIFFICULTIES IN TEACHING READING COMPREHENSION OF THE SEVENTH GRADE STUDENTS
This article was conducted to find out the teachers’ difficulties in teaching reading comprehension of the seventh-grade students at SMPN 22 Palembang. The research design used in this study was descriptive qualitative method. The participants in this study were two English language teachers who teach in grade seventh at SMPN 22 Palembang. The data were collected using a semi- structured interview with open-ended questions. Then, data from interviews was analyzed using thematic analysis in this study as part of the analysis. After analyzing the data, the findings showed that there are five difficulties that teachers face when teaching reading comprehension in seventh grade students at SMPN 22 Palembang, as follows: (1) students’ lack of motivation, (2) limited instructional time, (3) lack of background knowledge (4) students’ limited vocabulary, and (5) lesson plan constraints. Therefore, this research discusses the difficulties experienced by English teachers in seventh grade, thus it is hoped that readers especially English teachers who experienced similar difficulties can use this research to increase their variety of learning activities and overcome the difficulties they are faced
Komparasi Tentang Masa Iddah Antara Kompilasi Hukum Islam dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
The waiting period after the breakup of a good marriage caused by death, divorce, and court decisions is an act regulated in the Compilation of Islamic Law and the Civil Code which has differences and similarities in concept, with the aim of knowing thoroughly about the waiting period, the difference findings are the length of the waiting period 90 days in KHI, and 300 days in the Civil Code. The provisions for the iddah period in KHI are very clear and detailed and in the Civil Code it is very limited. The similarity of the iddah period in Islamic law and the Civil Code is that it prohibits new marriages before the end of the iddah or waiting period, and the iddah period is calculated from the fall of a court decision that has permanent legal force. The purpose of the iddah period in Islamic law and the Civil Code is to prevent mixing of seeds or confistus sanginis (hereditary doubts).Masa tunggu setelah putusnya perkawinan baik yang disebabkan oleh kematian, perceraian, dan putusan pengadilan merupakan perbuatan yang diatur dalam Kompilasi Hukum Islam dan KUH Perdata yang memiliki perbedaan dan persamaan konsep, dengan tujuan untuk mengetahui secara menyeluruh tentang masa tunggu, temuan perbedaannya adalah lama masa tunggu 90 hari di KHI, dan 300 hari di KUH Perdata. Ketentuan masa iddah dalam KHI sangat jelas dan rinci dan dalam KUH Perdata sangat terbatas. Persamaan masa iddah dalam hukum Islam dan KUH Perdata adalah melarang perkawinan baru sebelum berakhirnya masa iddah atau masa tunggu, dan masa iddah dihitung dari jatuhnya putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Tujuan masa iddah dalam hukum Islam dan KUH Perdata adalah untuk mencegah percampuran benih atau confistus sanginis (keraguan turun-temurun)