BIMIKI (E-Journal)
Not a member yet
153 research outputs found
Sort by
FAKTOR- FAKTOR RISIKO YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR (HIPERTENSI DAN DIABETES MELLITUS DI PADUKUHAN JODAG, KABUPATEN SLEMAN, YOGYAKARTA
Hipertensi dan Diabetes Mellitus merupakan faktor risiko utama penyakit jantung koroner, gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal kronik. Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian hipertensi dan diabetes mellitus diperlukan untuk mengembangkan strategi yang tepat untuk mencegah komplikasi tersebut
HUBUNGAN TINGKAT KECERDASAN EMOSI DENGAN PELAKSANAAN TEKNIK KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DI RSJ. DR. RADJIMAN WEDIONINGRAT LAWANG
Keperawatan jiwa merupakn proses interpersonal untuk meningkatkan dan mempertahankan perilaku yang mengkontribusi pada fungsi yang terintegrasi sehingga perawat harus mampu berkomunikasi terapeutik
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SIKAP MASYARAKAT DALAM MEMILIH PENGOBATAN ALTERNATIF BEKAM
Pendahuluan:Saat ini penggunaan pengobatan alternatif semakin banyak diminati, salah satu diantaranya adalah pengobatan alternatif bekam. Selain biayanya relatif murah dan juga karena perawatan media konvensional yang didukung peralatan canggih tidak bisa menjawab semua kebutuhan masyarakat dalam bidang kesehatan, banyak cerita-cerita atau kejadian-kejadian di tengah masyarakat yang membuat banyak orang berpaling kepada pengobatan alternatif. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi sikap masyarakat dalam memilih pengobatan alternatif bekam yaitu faktor ekonomi, faktor budaya, faktor psikologis, faktor pribadi masyarakat, faktor sosial, dan faktor pengetahuan.
Metode:Tujuan pada penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi sikap masyarakat dalam metode penyembuhan alternatif bekam. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan survey analitik dengan metode cross sectional study. Penarikan jumlah sampel dengan teknik accidental sampling dengan jumlah 33 responden.
Hasil dan Pembahasan:Hasil penelitian berdasarkan nilai mean menunjukkan bahwa terdapat pengaruh faktor pribadi masyarakat terhadap sikap masyarakat dalam memilih pengobatan alternatif bekam dengan nilai mean 13,88; faktor budaya dengan nilai mean 13,79; faktor sosial dengan nilai mean 13,61; faktor psikologis dengan nilai mean 13,48; faktor pengetahuan dengan nilai mean 13,24; dan faktor ekonomi dengan nilai mean 12,33. Adapun faktor tertinggi yang mempengaruhi sikap masyarakat dalam metode penyembuhan alternatif bekam adalah faktor pribadi masyarakat dengan nilai mean 13,88 dan SD 2,46.
Kesimpulan:Disarankan untuk penelitian selanjutnya agar meneliti lebih lanjut faktor-faktor yang mempengaruhi sikap masyarakat dalam memilih pengobatan alternatif bekam dengan menggunakan uji determinan
PERILAKU PENCARIAN PELAYANAN KESEHATAN TERKAIT HIV AIDS DAN IMS PADA KALANGAN IMS
Kalangan laki-laki berhubungan seksual dengan laki-laki memiliki risiko tinggi tertular dan menularkan HIV AIDS dan IMS
LITERATURE REVIEW MANFAAT SENAM LANSIA TERHADAP KUALITAS HIDUP LANSIA
ABSTRACTIntroduction: 52.31% of the number of health complaints in elderly women is higher than the percentage of elderly men is 49, 74%. Changes that occur in the elderly tend to decrease in physical, psychological, psychosocial systems. This requires an action activity that can reach all aspects of the decline that is by doing elderly gymnastics. The purpose of this research to identify the benefits of elderly exercise on the quality of life of the elderly. Research methods by using literature review as a guide to search for research articles obtained from the internet using the Science Direct site, and Google Scholar. The results analysis of 10 selected research articles shows that elderly exercise can have several benefits, namely: physical benefits can improve physical fitness, body balance, breathing, and decreased blood pressure in elderly hypertension. Psychological benefits can improve sleep quality, decrease insomnia levels, decrease depression levels, reduce stress levels, and manage pain. Social and environmental benefits. Elderly exercise 3 times a week with a minimum duration of 30 minutes and a maximum of 40 minutes with a time of> 4 weeks will be more effective in getting many benefits
MANAJEMEN STRES KERJA PERAWAT PELAKSANA: DIHUBUNGKAN DENGAN SELF-MANAGEMENT, SELF-EFFICACY, DAN BEBAN KERJA DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT
Pendahuluan: Perawat pelaksana merupakan tenaga kesehatan yang memberikan peran pengaruh bagi kondisi kliennya secara signifikan. Perawat pelaksana memiliki risiko untuk mengalami stres kerja. Perawat pelaksana dengan self-management dan self-efficacy dan beban kerja yang kurang efektif cenderung berpengaruh pada proses pemberian asuhan keperawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara self-management, self-efficacy, dan beban kerja dengan stres kerja perawat pelaksana. Metode: Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross-sectional dengan jumlah sampel sebanyak 40 orang yang dipilih melalui teknik sampling purposive dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Kuesioner digunakan sebagai instrumen dalam penelitian ini kemudian dianalisis dengan menggunakan uji univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil: Hasil uji korelasi rank spearman menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara self-management dengan stres kerja (p=0,043), self-efficacy dengan stres kerja (p=0,007), beban kerja dengan stres kerja (p=0,001). Hasil uji regresi linear mendapatkan bahwa beban kerja merupakan prediktor yang paling dominan berhubungan terhadap stres kerja (p=0,000) (p≤0,05). Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan hubungan yang signifikan antara masing-masing variabel dimana prediktor utama stres kerja adalah beban kerja. Peneliti menyarankan adanya upaya untuk mencegah terjadinya beban kerja dan stres kerja serta upaya untuk meningkatkan self-management dan self-efficacy perawat pelaksana. Implikasi dari penelitian ini adalah adanya peningkatan self-management dan self-efficacy perawat pelaksana sehingga dapat beradaptasi dengan beban kerja dan stres kerja
DISFAGIA POST STROKE DAN PENALAKSANAANYA
Disfagia merupakan kondisi yang sering terjadi pada pasien stroke
IMPLEMENTASI ART-THERAPY UNTUK MENGATASI PTSD PADA ANAK PASCA BENCANA
Selama lima tahun terakhir, angka kejadian bencana alam di Indonesia mengalami peningkatan
TERAPI BERMAIN MAGGALENCENG SEBAGAI METODE UNTUK MENURUNKAN KECEMASAN PADA ANAK USIA SEKOLAH YANG MENJALANI HOSPITALISASI: A LITERATURE REVIEW
Pendahuluan:United Nations Children’s Fund (UNICEF) (2012) menyatakan bahwa prevalensianak yang menjalaniperawatandi rumahsakitsekitar 84%. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (KEMENKES RI) (2015) menyatakan hasil surveinya berdasarkan Angka kesakitan anak di Indonesia menurut kelompok usia 0-2 tahun sebesar15,14%,usia3-5tahun sebesar 25,8%,usia 6-12 tahun sebanyak 13,91%. Hospitalisasi adalah masuknya individu ke rumah sakit sebagai pasien dengan berbagai alasan seperti pemeriksaan diagnostik, prosedur operasi, perawatan medis, pemberian obat dan menstabilkan atau pemantauan kondisi tubuh. Hospitalisasi dapat menimbulkan krisis pada kehidupan anak karena ketika di rumah sakit, anak harus menghadapi lingkungan yang asing, pemberian asuhan yang tidak dikenal, dan gangguan terhadap gaya hidup mereka, sehingga anak dapat mengalami kecemasaan akibat perubahan, baik pada status kesehatan maupun lingkungan dalam sehari-hari. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menurunkan kecemasan pada anak yang menjalani hospitalisasi adalah terapi bermain maggalenceng. Maggalencengceng adalah permainan memindah-mindahkan butir-butir batu atau biji buah asem ke dalam lubang-lubang pada sebidang kayu atau plastik.
Metode:Penulisan ini, bersifat library research (penelitian pustaka) yang disajikan secara deskriptif melalui beberapa literatur yang relevan dengan tulisan ini.
Hasil dan Pembahasan:Terapi bermain adalah salah satu aspek penting dari kehidupan anak dan efektif untuk mengatasi stress ketika dirawat di rumah sakit. Bermain maggalenceng dapat merangsang keluarnya hormon kebahagiaan, yaitu endorphin dan serotonin. Endorphin tidak saja digunakan untuk merilekskan bagian otot dan saraf, atau sebagai zat imun kita, melainkan juga mampu megurangi rasa sakit. Serotonin adalah zat yang membantu menjaga suasana hati kita dibawah kontrol pikiran, menenangkan kecemasan, dan mengurangi depresi.
Kesimpulan:Terapi bermain maggalenceng efektif digunakan sebagai metode untuk menurunkan kecemasan pada anak usia sekolah. Selain mampu mengaktifkan otak anak dan menurunkan kecemasan, maggalenceng juga memiliki nilai kearifan lokal dan mengandung nilai-nilai budaya tradisional Indonesia
PreMan-actiV, SANG PENYELAMAT IBU HAMIL
Infeksi merupakan salah satu penyebab kematian ibu hamil, termasuk didalamnya adalah infeksi akibat bacterial vaginosis (BV)