Repository Universitas Ngudi Waluyo
Not a member yet
4951 research outputs found
Sort by
Minat Calon Pengantin Dalam Pemilihan Busana Pengantin Di Kabupaten Kudus
Kebaya merupakan salah satu busana tradisional sebagai ciri khas suatu daerah. Asal kata kebaya berasal dari bahasa Arab, abaya yang berarti pakaian. Dipercaya bahwa kebaya dulunya berasal dari daerah Tiongkok yang sudah berusia ratusan tahun yang lalu. Kemudian penggunaan busana kebaya mulai menyebar dari Malaka, Jawa, Bali, Sumatera, dan Sulewasi. Kota Kudus sebagai salah satu kota industri, menjadikan kota Kudus sebagai salah satu ikon fashion sarat dengan peninggalan sejarah dan budaya dari peradaban masyarakat. Karakteristik masyarakat lebih konsumtif dan modern dengan ciri heterogen budaya yang terdiri dari beberapa campuran etnis yaitu Cina, Arab dan sebagian besar suku Jawa. Namun khususnya di Kecamatan kota Kudus yang mayoritas masyarakat berasal dari suku Jawa. Di kecamatan ini, budaya yang berasal suku Jawa cenderung lebih berkembang dan diminati, salah satunya dalam busana pengantin. Busana pengantin dari Yogyakarta dan Solo banyak diminati masyarakat. Namun seiring waktu, masyarakat akan cenderung mengikuti perkembangan zaman dan ingin lebih praktis. Faktor budaya, lingkungan, status sosial dan kepribadian membuat masyarakat ingin terlihat mewah dalam bersosialisasi. Hal inilah yang membuat kebaya pengantin tradisional berkembang menjadi busana pengantin kebaya Modern. Kebaya tradisional merupakan kebaya yang berasal dari Yogyakarta. Dimana kebaya pengantin ini di anggap sakral sehingga membutuhkan faktor-faktor pendukung untuk meningkatkan kualitas agar sesuai dengan keinginan dan selera pengantin. Dahulu busana pengantin menggunakan busana kebesaran yakni kampuh/ dodot. Pada saat ini, adat dan budaya Indonesia mulai terpengaruh oleh modernisasi. Dalam mengumpulkan informasi yang valid dan sesuai mengenai perkembangan kebaya modern, penulisan ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara, observasi dan studi pustaka. Tujuan dari penulisan ini yaitu, untuk mengkaji perkembangan yang terjadi pada busana pengantin kebaya tradisional ke modern dengan dilandasi oleh teori transformasi budaya.
Kata kunci: Minat, Calon Pengantin, Busana Penganti
Pengaruh Tiktok Terhadap Gaya Berpakaian Karyawan Pt. Selalu Cinta Indonesia
Penelitian media sosial telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari masyarakat modern. Fenomena ini berdampak besar pada banyak aspek kehidupan, mulai dari interaksi sosial, penyebaran informasi, hingga pengaruh budaya. Perkembangan teknologi informasi dan pesatnya perkembangan internet telah memudahkan berkembangnya media sosial. Untuk mengikuti perkembangan fashion agar mampu membentuk pengaruh tiktok terhadap gaya berpakaian karyawan IM Sewing 2A di PT Selalu Cinta Indonesia dengan tujuan penelitian untuk mengetahui tiktok berpengaruh terhadap gaya berpakaian karyawan bagian IM Sewing 2A di PT Selalu Cinta Indonesia di Salatiga. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan teknik survei dilapangan menggunakan populasi dan sampel sebagai subjek penelitian. Data pada penelitian kuantitatif ini didapatkan dari 50 responden di PT. Selalu Cinta Indonesia. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan kuesioner/angket. Analisis data menggunakan uji validitas, uji reabilitas, analisis regresi liner,dan uji hipotesis. Hasil penelitian dengan olah data SPSS, uji validitas menunjukkan bahwa memiliki nilai r tabel 0,2787. Uji rehabilitas menunjukkan skor 0,800 yang dinyatakan reliable. Uji regresi linear menunjukkan Y=30,623+0,387. Dan uji hipotesis uji t sebesar 2,312 dan t tabel sebesar 1,667 yang artinya t hitung>t tabel, dngan taraf signifikan 0,025<0,05 sedangkan uji f bernilai 5,346 nilai F tabel 4,043. Dan dapat disimpulkan bahwa tiktok berpengaruh terhadap gaya berpakaian karyawan PT. Selalu Cinta Indonesia.
Kata Kunci : Tiktok, gaya berpakaian, penelitian kuantitati
GAMBARAN PENGETAHUAN KELUARGA TENTANG PENCEGAHAN ULKUS DM PADA ANGGOTA KELUARGA PASIEN DI WILAYAH DESA WOLO KECAMATAN PENAWANGAN KABUPATEN GROBOGAN
Latar Belakang: Meningkatnya angka kejadian diabetes melitus disebabkan oleh
manajemen diabetes yang buruk sehingga menimbulkan risiko kerusakan saraf,
selain itu 15% pasien diabetes mengalami ulkus kaki dan 12-24% pasien mengalami
ulkus kaki, ulkus kaki diabetik memerlukan amputasi. Ulkus kaki (ulkus
diabetikum) merupakan masalah umum dan komplikasi serius yang terjadi pada
pasien diabetes, selain komplikasi yang terjadi pada ginjal, mata dan sistem
kardiovaskular. Upaya pencegahan oleh keluarga menjadi penting terhadap
timbulnya luka pada pasien diabetes melitus karena peran keluarga sangatlah vital
dalam mengelola penyakit tersebut. Dengan tujuan untuk mengidentifikasi
pengetahuan tentang pencegahan luka diabetes melitus pada anggota keluarga
pasien diabetes melitus.
Metode: Metode yang digunakan yaitu deskriptif kuantitatif yang berfungsi
mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti, dan
menggunakan analisis univariat. Penelitian menggunakan total sample jumlah
sampel pada penelitian ini sebanyak 29 orang.
Hasil: Gambaran Pengetahuan Anggota Keluarga Pasien DM; pengetahuan baik
yaitu sejumlah 22 responden (75,9%), sedangkan sebagian kecil adalah
pengetahuan kurang sejumlah 7 responden (24,1%). Gambaran Pengetahuan
Keluarga Tentang Pencegahan Luka DM; sub-variabel yang paling dominan
adalah; pengetahuan deteksi awal sejumlah 23 orang (79,3%). Dan kategori
pengetahuan kurang untuk sub-variabel pengetahuan perubahan sensorik sejumlah
18 orang (62,1%).
Simpulan: bagi keluarga diharapkan adanya upaya-upaya untuk mempertahankan
dukungan keluarga terhadap pencegahan terjadinya ulkus penderita Diabetes
Melitus dalam menjalani perawatan secara rutin dan selalu mematuhi program diet
dan pengobatan.
Kata Kunci: Pengetahuan Diabetes Melitus, Pencegahan Luka Ulkus.
Kepustakaan: (2013 – 2024
GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG PEMBERIAN MP-ASI PADA BAYI DAN BALITA DI DESA LEYANGAN TAHUN 2024
Latar Belakang : Jutaan anak di Indonesia menghadapi kekurangan gizi yang mempengaruhi
perkembangan mental dan fisik mereka, terutama pada masa balita. Data dari WHO
menunjukkan bahwa 51% kematian anak balita disebabkan oleh penyakit terkait gizi seperti
pneumonia dan diare. Riset Kesehatan Dasar 2021 mencatat bahwa 29,9% kasus stunting di
Indonesia terjadi pada baduta. Faktor-faktor seperti berat badan lahir rendah dan pemberian
MP-ASI yang tidak tepat turut berkontribusi. MP-ASI, yang harus diberikan mulai usia 6 bulan,
penting untuk melengkapi ASI dalam memenuhi kebutuhan gizi anak. Keterlambatan atau
kesalahan dalam pemberian MP-ASI dapat menyebabkan stunting dan masalah kesehatan
lainnya. Pengetahuan ibu mengenai MP-ASI sangat berpengaruh pada kualitas pemberian
makanan ini (Dewi et al., 2024).
Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui karakteristik responden dan mengetahui gambaran
pengetahuan tentang MP-ASI pada balita di desa leyangan Tahun 2024.
Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan metode riset deskriptif kuantitatif untuk
menggambarkan karakteristik populasi ibu dengan balita usia 6-24 bulan di Desa Leyangan,
dengan sampel 80 dari 364 ibu dengan rumus slovin. Teknik pengambilan sampel adalah non-
probability sampling. Analisis data dilakukan secara univariat, disajikan dalam tabel distribusi
frekuensi dan persentase.
Hasil : Dari 80 responden, sebagian besar ibu dalam kondisi kesehatan reproduksi baik
(93,8%), memiliki pendidikan setingkat SMA (70,0%), dan tidak bekerja (68,8%). Selain itu,
62,5% ibu menunjukkan pengetahuan yang baik tentang topik terkait.
Simpulan : Dapat disimpulkan bahwa di Desa Leyangan, sebagian besar ibu memiliki kondisi
kesehatan reproduksi baik, pendidikan mayoritas SMA, tidak bekerja, dan pengetahuan baik
mengenai MP-ASI. Peneliti selanjutnya diharapkan mempertimbangkan variabel tambahan
untuk wawasan lebih mendalam.
Kata Kunci : Pengetahuan, Pekerjaan, Pemberian MP-ASI
PENGELOLAAN RESIKO INFEKSI PADA POST PROSTATEKTOMI DI RSUD dr. GUNAWAN MANGUNKUSUMO AMBARAWA
Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) merupakan kelainan di
kelenjar prostat berupa kelainan histologis dengan mengacu pada proliferasi sel
prostat itu sendiri. Hasil dari proliferasi ini dapat mengakibatkan penumpukan sel
sehingga dapat menyebabkan pembesaran pada volume prostat. BPH mampu
tumbuh semakin besar seiring dengan bertambahnya usia dan paling sering
menyerang laki-laki. Prevalensi BPH di Indonesia pada tahun 2018 mencapai
45% pada individu yang berusia di atas 50 tahun, sementara pada tahun 2019
meningkat menjadi 56% pada usia rata-rata di atas tahun. Tujuan: penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pengelolaan pada pasien post operasi BPH dengan
prosedur pembedahan TURP selama 3 hari dengan resiko infeksi untuk
mengurangi tingkat infeksi dan meningkatkan proses kesembuhan pasien.
Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif bentuk studi kasus untuk
mengeksplorasikan masalah asuhan keperawatan pada pasien prostat jinak (benign
prostatic hyperlasia). Pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan asuhan
keperawatan yang meliputi pengkajian diagnosa keperawatan, perencanaan,
implementasi, dan evaluasi. Hasil: hasil penelitian menunjukan pada pasien yang
diberikan pengelolaan resiko infeksi dengan perawatan luka pasca operasi TURP,
didapatkan hasil luka bersih, tidak ada tanda – tanda kemerahan, tidak ada tanda –
tanda bengkak, tidak ada tanda – tanda peningkatan suhu, tidak ada tanda – tanda
gangguan fungsi, namun didapatkan nyeri masih terasa dengan skala ringan.
Dengan begitu perawatan luka efektif dalam meningkatkan proses kesembuhan
pasien. Simpulan: pemberian perawatan luka pada pasien post operasi prosedur
pembedahan TURP terbilang efektif dalam menjaga dan mencegah timbulnya
infeksi pada luka insisi pembedahan
SENSITIVITAS INDEKS MASSA TUBUH (IMT) UNTUK MENDETEKSI MALNUTRISI BERDASARKAN IMBL PADA PASIEN PPOK DI RUMAH SAKIT PARU dr. ARIO WIRAWAN SALATIGA
IMT adalah salah satu indikator malnutrisi pada pasien PPOK.
IMT tidak dapat membedakan komposisi tubuh. Seperti yang telah digambarkan
IMBL (Indeks Massa Bebas Lemak).
Tujuan : Menganalisis sensitivitas IMT untuk mendeteksi malnutrisi berdasarkan
IMBL pada pasien PPOK di Rumah Sakit Paru dr. Ario Wirawan Salatiga.
Metode : Desain penelitian menggunakan observasional deskriptif dengan
pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Paru dr. Ario
Wirawan Salatiga pada bulan Oktober 2023-Februari 2024 dengan sampel pasien
baru yang terdiagnosa PPOK menggunakan teknik non probability sampling. Alat
pengumpulan data menggunakan stadiometer dan BIA (Bioelectrical Impedance
Analysis). Analisis data menggunakan kurva ROC, nilai AUC, sensitivitas dan
spesifisitas.
Hasil : Status gizi responden menurut IMT kategori malnutrisi sebanyak 26 orang
(28%) dan tidak malnutrisi sebanyak 67 orang (72%). Menurut IMBL kategori
rendah sebanyak 50 orang (53,8%) dan normal sebanyak 43 orang (46,2%). Nilai
sensitivitas IMT berdasarkan IMBL yaitu 50% dan spesifisitas 97,7%. Sensitivitas
lebih tinggi pada kelompok lansia (55,3%) dibandingkan pada dewasa (33,3%).
Kesimpulan : Klasifikasi IMT berdasarkan IMBL memiliki sensitivitas yang
kurang baik sebagai indikator malnutrisi pada pasien PPOK di Rumah Sakit Paru
dr. Ario Wirawan Salatiga
KANDUNGAN GIZI DAN TINGKAT KESUKAAN SNACK BAR BERBAHAN DASAR TEPUNG SUKUN (Artocarpus Altilis) DAN TEPUNG KACANG HIJAU (Vigna Radiate L)
Snack bar merupakan makanan selingan yang dikonsumsi
antara waktu makan utama dalam sehari untuk membantu memenuhi kebutuhan
zat gizi, memiliki karakteristik yang padat dan terbuat dari kombinasi beberapa
bahan pangan yang digabung menjadi satu dengan bantuan perekat. Modifikasi
olahan snack bar yaitu dengan menggunakan bahan dasar tepung sukun dan
tepung kacang hijau yang bertujuan untuk meningkatkan kandungan protein.
Tujuan : Mendeskripsikan tingkat kesukaan dan kandungan gizi pada snack bar
berbahan dasar tepung sukun (Artocarpus Altilis) dan tepung kacang hijau (Vigna
Radiate L).
Metode: Penelitian eksperimental menggunakan 3 formulasi yaitu dengan
perbandingan tepung sukun : tepung kacang hijau F1 = 70%:30%, F2 =
60%:40%, dan F3 = 50%:50%. Uji tingkat kesukaan dilakukan pada 25 panelis
agak terlatih. Analisis uji tingkat kesukaan menggunakan uji deskriptif. Analisis
kandungan gizi berupa protein dengan mikro-kjehdal, lemak dengan metode
soxhlet, karbohidrat dengan method by difference, dan kadar air dengan
gravimetri.
Hasil : Formulasi snack bar dengan tingkat kesukaan tertinggi yaitu F2 dengan
hasil analisis deskriptif 72,6% menggunakan perbandingan tepung sukun 60% dan
tepung kacang hijau 40%. Kandungan gizi Snack bar per-100 gram yaitu energi
398,32 kkal, protein 11,37 gram, lemak 7,08 gram, karbohidrat 72,33 gram, dan
kadar air 6,6%.
Simpulan : Formulasi terbaik snack bar adalah F2 dengan komposisi tepung
sukun 60% dan tepung kacang hijau 40%. Kandungan energi snack bar dapat
memenuhi 7,95% kebutuhan energi harian orang dewasa
Penerapan Mobilisasi Dini Terhadap Penurunan Tingkat Nyeri Pada Post Laparatomi Ruang Rawat Inap Restu Ibu
Latar Belakang: Laparotomi adalah prosedur bedah yang melibatkan insisi pada dinding perut untuk mengakses cavitas abdomen, sering digunakan untuk mengobati kondisi medis yang sulit diatasi yang menimbulkan nyeri pasca operasinya. Salah satu teknik nonfarmakologi yang bisa digunakan adalah mobilisasi dini. Mobilisasi dini, yang melibatkan upaya untuk menggerakkan pasien segera setelah operasi, telah diidentifikasi sebagai intervensi yang efektif untuk mengurangi nyeri pascaoperasi. Tujuan: menganalisis Mengetahui perbedaan Tingkat nyeri sebelum dan sesudah dilakukan mobilisasi dini pada pasien post laparatomi di ruang rawat inap Rumah Sakit Restu Ibu Balikpapan Metode: Penelitian ini menggunakan kuantitatif dengan metode Quaisy Experiment dengan Design pendekatan Pretest-posttest dimana sampel diukur pada hari pertama sebelum intervensi dan post intervensi ke 3 pada hari ke tiga. Penelitian dilakukan pada bulan Juli 2024 dengan melibatkan 15 responden. Alat ukur menggunakan kuesioner data demografi dan lembar observasi NRS (Numeric Rating Scale). Analisis data berupa statistic deskriptif-uji Uji Mann-Whitney. Hasil: Teridentifikasi distribusi pretest tingkat nyeri menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami nyeri sedang, yaitu sebanyak 12 orang (80%). Sementara itu, 3 responden (20%) mengalami nyeri berat. Hasil postest menunjukkan bahwa mayoritas responden mengalami nyeri ringan, yaitu sebanyak 14 orang (93.3%). Hanya 1 responden (6.7%) yang masih mengalami nyeri sedang. Hasil statistic uji Mann-Whitney mendapatkan p-value 0.006 Kesimpulan: Terdapat perbedaan antara pre dan postest dalam penurunan nyeri, p value yang didapatkan 0.006 sehingga dapat disimpulkan mobilisasi dini berpengaruh yang signifikan dalam mengurangi skala nyeri responden. Saran: Disarankan untuk memasukkan konsep dan praktik mobilisasi dini dalam kurikulum pendidikan kedokteran dan keperawatan, guna meningkatkan kompetensi calon tenaga medis dalam perawatan pascaoperasi
UPAYA KEPOLISIAN LALU LINTAS DALAM PENANGGULANGAN PELANGGARAN PENGENDARA SEPEDA MOTOR OLEH ANAK DI WILAYAH HUKUM POLRES MAGELANG KOTA
Latar belakang: Masih tingginya tingkat kecelakaan lalu lintas kendaraan sepeda
motor yang dikemudikan oleh anak di wilayah hukum Polres Magelang Kota,
dengan berbagai permasalahan yang ada di lapangan, maka peneliti tertarik untuk
meneliti lebih mendalam. Penelitian ini dilakukan karena meskipun pihak
kepolisian lalu lintas sudah melakukan berbagai upaya untuk meminimalisir angka
kecelakaan yang melibatkan anak-anak, namun ternyata masih banyak yang
melanggar.
Tujuan: mengetahui upaya dan model penegakan hukum kepolisian lalu lintas
dalam menanggulangi pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh anak sebagai
pengendara sepeda motor di wilayah hukum Polres Magelang Kota.
Metode: Desain penelitian kualitatif dengan pendekatan yuridis empiris.
Hasil: Upaya dan model penegakkan hukum yang dilakukan oleh kepolisian lalu
lintas Polres Magelang Kota dalam menanggulangi pelanggaran lalu lintas
pengendara motor oleh anak, yaitu melakukan tindakan preventif dengan cara
memberikan edukasi, pendampingan, dan sosialisasi kepada orang tua anak, serta
melakukan penyuluhan melalui program police goes to school. Tindakan represif
juga dilakukan berupa teguran kepada si anak dan orang tua, dan penindakan tilang.
Saran: Disarankan bagi polisi lalu lintas agar juga memberikan hukuman sosial
bagi si anak, seperti push up, mengunggah foto kejadian di media sosialnya sendiri,
dan lainnya.
Kata kunci: Pelanggaran Hukum, Polisi Lalu Lintas, Pengendara Sepeda
Moto
Perbedaan Pengetahuan Tentang Hypnobreastfeeding Sebelum Dan Sesudah Diberikan Penyuluhan Pada Ibu Hamiltrimester Iii Di Wilayah Kerja Puskesmas Penajam
Latar Belakang: Pemberian ASI dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain ASI tidak segera keluar setelah melahirkan, kesulitan bayi dalam menghisap, keadaan puting susu ibu yang tidak menunjang, ibu bekerja, dan pengaruh/promosi pengganti ASl. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan dalam pemberian ASI eksklusif. Faktor usia ibu, pendidikan ibu, dan pengetahuan ibu tentang menyusui dan ASI eksklusif. Hypnobreastfeeding merupakan teknik relaksasi untuk membantu kelancaran proses menyusui, dengan memasukkan kalimat-kalimat afirmasi positif ke dalam alam pikiran saat relaks atau dalam keadaan hipnosis.
Tujuan Penelitian: Mengetahui perbedaan pengetahuan tentang hypnobreastfeeding sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan pada ibu hamil trimester III di wilayah kerja Puskesmas Penajam.
Metode: Metode yang digunakan yaitu analitik eksperimental menggunakan rancangan pretest-post test one group design tanpa kelompok kontrol, dan menggunakan uji statistik Paired Sample T-Test. Dengan jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 25 orang ibu hamil trimester III.
Hasil: Pre-Test Pengetahuan tentang Hypnobreastfeeding pada ibu hamil trimester III menunjukkan range 7,00, dengan nilai minimal 2,00 dan nilai maksimal 9,00 dan mean 6,4000. Hasil Post-Test Pengetahuan Tentang Hypnobreastfeeding Pada Ibu Hamil Trimester III menunjukkan range 10,00, dengan nilai minimal 5,00 dan nilai maksimal 15,00 dan mean 11,0400. Hasil nilai t hitung didapatkan sebesar 0,000 < 0,05, maka H0 ditolak dan Ha diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan antara pengetahuan tentang hypnobreastfeeding sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan pada ibu hamil trimester III di wilayah kerja Puskesmas Penajam.
Simpulan: Diharapkan dapat meningkatkan pelayanan kesehatan bagi ibu dan bayi dengan memberikan pelayanan teknik hypnobreastfeeding pada ibu post nifas, serta dapat dikembangkan menjadi bagian dari asuhan sayang ibu dan anak di Puskesmas Penajam