Repository Universitas Ngudi Waluyo
Not a member yet
    4951 research outputs found

    Hubungan Pelaksanaan Fungsi Afektif Keluarga Dengan Perilaku Merokok Pada Remaja Awal Di Smp Negeri 4 Ungaran

    Get PDF
    Latar Belakang : Merokok merupakan perilaku yang merugikan kesehatan, baik bagi individu maupun lingkungan. Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku merokok pada remaja adalah faktor keluarga, terutama fungsi afektif. Fungsi afektif keluarga berperan dalam memberikan kasih sayang dan perhatian kepada anak, yang dapat memengaruhi keputusan mereka untuk merokok. Remaja yang kurang mendapatkan kasih sayang dari orang tua lebih berisiko merokok, sehingga dukungan keluarga sangat penting pada tahap perkembangan ini. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pelaksanaan fungsi afektif keluarga dengan perilaku merokok pada remaja awal di SMP Negeri 4 Ungaran. Metode : Deskriptif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 203 siswa laki-laki yang dipilih melalui stratified random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Fungsi Afektif Keluarga dan Glover Nilson-Smoking Behavior Questionnaire. Analisis data menggunakan uji Fisher’s Exact Test. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan fungsi afektif kategori adekuat sebanyak 127 (62,6%) dengan perilaku merokok kategori sedang 58 siswa (28,6%). Hasil analisa data uji Fisher’s Exact Test didaptkan nilai p value = 0,000 < α (0,05), maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan pelaksanaan fungsi afektif keluarga dengan perilaku merokok pada remaja awal di SMP Negeri 4 Ungaran. Simpulan : Terdapat hubungan pelaksanaan fungsi afektif keluarga dengan perilaku merokok pada remaja awal di SMP Negeri 4 Ungaran. Saran : Diharapkan orang tua dapat meningkatkan pelaksanaan fungsi afektif keluarga agar perilaku merokok pada remaja tidak meningkat. Kata kunci : fungsi afektif keluarga, perilaku merokok, remaja

    Gambaran Perilaku Personal Hygiene Pada Anak Retardasi Mental Di SLB N Ungaran

    Get PDF
    Latar Belakang : Personal hygiene merupakan upaya yang dilakukan untuk menjaga dan merawat kebersihan diri untuk mencapai kesehatan. Anak retardasi mental memiliki kemampuan personal hygiene yang rendah karena keterbatasan kognitif dan motoriknya. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perilaku personal hygiene pada anak retardasi mental di SLB Negeri Ungaran. Metode : Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan studi deskriptif. Sampel penelitian adalah seluruh anak retardasi mental (tunagrahita ringan) di SLB Negeri Ungaran yang berjumlah 51 anak. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang mencakup tiga domain perilaku: pengetahuan, sikap, dan tindakan. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa 66,7% anak memiliki perilaku cukup baik, sementara 33,3% lainnya berperilaku baik. Domain pengetahuan menunjukkan bahwa 52,9% anak memiliki pengetahuan yang kurang, sedangkan pada domain sikap terdapat 82,4% anak menunjukkan sikap baik, dan domain tindakan personal hygiene terdapat 58,8% memiliki tindakan yang baik. Studi ini menekankan pentingnya peran orang tua, guru, dan tenaga kesehatan dalam meningkatkan personal hygiene anak tunagrahita melalui pendidikan, pendampingan, dan promosi kesehatan yang berkelanjutan. Kesimpulan : Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku personal hygiene siswa SLB N Ungaran mayoritas dalam kategori cukup baik (60,8%). Saran : Diharapkan pihak sekolah dan orang tua dapat lebih aktif memberikan motivasi dan pembelajaran mengenai personal hygiene kepada anak. Kata kunci : Anak Retardasi Mental, Personal Hygiene, Perilak

    Manajemen Asuhan Keperawatan Melalui Intervensi Kombinasi Teknik Pursed Lips Breathing Dan Tripod Position Pada Pasien PPOK Di Ruang DAHLIA A RSUD. Dr. H. Jusuf SK

    Get PDF
    Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) adalah kelainan paru heterogen yang ditandai dengan keluhan respirasi kronik seperti sesak napas, batuk dan produksi dahak yang disebabkan oleh abnormalitas saluran napas (bronchitis dan bronkiolitis) dan/atau alveoli (emfisema) yang mengakibatkan hambatan aliran udara yang persisten dan seringkali progresif. Berdasarkan beberapa studi menunjukan bahwa teknik pursed lips breathing dan tripod position dapat mengurangi sesak napas. Pasien PPOK diberikan intervensi kombinasi teknik pursed lips breathing dan tripod position untuk memantau status saturasi oksigen (SpO2) di Ruang Dahlia A RSUD dr. H. Jusuf SK. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis intervensi kombinasi Pursed Lips Breathing dan Tripod Position pada Pasien PPOK. Penulisan menggunakan metode laporan kasus dengan pasien PPOK sebanyak 5 orang. Responden diberikan intervensi kombinasi teknik pursed lips breathing dan tripod position 15 menit dalam tiap sesi tiap hari. Intervensi dilakukan selama 3 hari berturut-turut Hasil analisa penerapan teknik pursed lips breathing dan tripod position pada pasien terjadi perubahan peningkatan saturasi oksigen menjadi 97%-99% pada hari ketiga. Penerapan teknik pursed lips breathing dan tripod position pada 5 pasien PPOK di Ruang Rawat Inap dapat digunakan untuk meningkatkan saturasi oksigen (SpO2). Penulis menyarankan teknik pursed lips breathing dan tripod position diterapkan pada pasien PPOK yang mengalami sesak napas. Kata Kunci: PPOK, Pursed Lips Breathing, Saturasi Oksigen, Tripod Position

    ANALISIS PENERAPAN PROGRAM POS UKK (UPAYA KESEHATAN KERJA) SEKTOR PERTANIAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEMOWO

    Get PDF
    Jumlah pekerja sektor informal di Indonesia lebih besar dan didominasi bidang pertanian dengan persentase 59,31% tenaga kerja informal. Risiko munculnya masalah kesehatan pekerja informal pertanian meliputi gangguan musculoskeletal dan gangguan pernapasan. Upaya pemerintah untuk pemecahan masalah kesehatan kerja sektor informal yaitu membentuk Pos UKK (Upaya Kesehatan Kerja) melalui Puskesmas sebagai pelayanan kesehatan tingkat pertama yang berperan sebagai fasilitator, memberdayakan serta membina pelaksanaan Upaya Kesehatan Kerja (UKK). Puskemas Semowo membina tiga Pos UKK Kelompok Tani di wilayah kerjanya dengan pelaksanaan yang masih penuh tantangan dalam penerapannya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kesesuaian yang berdasar pada regulasi Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 100 Tahun 2015 Tentang Pos Upaya Kesehatan Kerja Terintegrasi. Metode: Penelitian menggunakan kualitatif deskriptif, teknik sampel purposive sampling dengan 10 informan, pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Hasil: Jumlah kader sudah memenuhi, tenaga pelaksana belum mendapat pelatihan secara maksimal, penggunaan sarana dan prasarana Pos UKK terintegrasi dengan Posbindu tetapi belum memadai dan pembiayaan masih terbatas. Kegiatan pelayanan kesehatan belum dilaksanakan secara maksimal oleh kader dan banyak bergantung pada petugas kesehatan. Tingkat perkembangan ketiga Pos UKK termasuk Mandiri. Simpulan: pelaksanaan program UKK di wilayah kerja Puskesmas Semowo belum terealisasi sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 100 tahun 2015 tentang Pos UKK Terintegrasi

    HUBUNGAN ANTARA GERAKAN REPETITIF DENGAN KELUHAN MUSCULOSKELETAL DISORDERS PADA PEKERJA PETANI DI DESA NGRAPAH KECAMATAN BANYUBIRU KABUPATEN SEMARANG

    Get PDF
    Musculoskeletal disorders adalah Gangguan pada sistem musculoskeletal yang disebakan oleh penggunaan otot,sendi,ligamen, dan tendon secara berlebihan,berulang atau posisi yang tidak ergonomi dalam jangka waktu yang lama,sehingga menimbulkan keluhan yang sangat sakit atau sangat nyeri ketidaknyamanan/mengganggu pekerjaan dan dapat berisiko dalam kondisi menetap atau cacat secara permanen.Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara gerakan repetitf dengan keluhan musculoskeletal disorders pada pekerja petani di Desa Ngrapah Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang.Metode dalam penelitian ini observasional dengan pendekatan cross secsional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petani di Desa Ngrapah, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang yang berjumlah 300 petani. Teknik sampling menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 40 responden yang tergabung sebagai anggota Kelompok Tani Manunggal. Instrument dalam penelitian ini adalah stopwatch dan lembar observasi digunakan untuk mengukur gerakan repetitif, dan lembar kuesioner Nordic Body Map (NBM) untuk mengukur keluhan musculoskeletal disorders. Analisis data yang digunakan adalah uji chi square. Petani melakukan gerakan repetitif berisiko rendah 14 (35,0%) dan gerakan repetitive berisiko tinggi 26 (65,0%) dengan keluhan musculoskeletal sedang 7 (17,5%), tinggi 33 reponden (82,5%). Hasil uji chi square p -value = 0,04 < 0,05 Terdapat hubungan yang signifikan antara gerakan repetitif dengan keluhan musculoskeltal disorders pada pekerja petani di Desa Ngrapah, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang. Petani dapat melakukan peregangan melakukan variasi gerakan hindari gerakan yang terus menerus dan berulang dan istirahat yang cukup

    HUBUNGAN TINGKAT KELELAHAN KERJA DENGAN KELUHAN MUSCULOSKELETAL DISORDER (MSDs) PADA PRAMUJASA BUS RAPID TRANSIT (BRT) TRANS JAWA TENGAH

    Get PDF
    MSDs merupakan penyakit akibat kerja yang umum terjadi, dengan prevalensi 7,3% di Indonesia (Riskesdas 2018). Seiring berkembangnya BRT sebagai transportasi publik utama, pramujasa sebagai garda terdepan pelayanan melakukan aktivitas kerja fisik yang melibatkan berdiri lama, gerakan berulang, dan keterbatasan waktu istirahat. Kondisi ini dapat menurunkan produktivitas, mengganggu kualitas pelayanan, serta meningkatkan risiko kelelahan kerja. Observasi menunjukkan bahwa pramujasa sering mengalami nyeri di leher, punggung, dan kaki bagian bawah. Penelitian oleh Patandung dan Widowati (2022) mengkonfirmasi adanya korelasi positif antara kelelahan kerja dan keluhan MSDs. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat kelelahan kerja dengan keluhan MSDs pada pramujasa BRT Trans Jawa Tengah. Metode : Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan cross sectional dan teknik sampling yaitu purposive sampling. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pramujasa BRT Trans Jawa Tengah Koridor I Semarang – Bawen. Sampel yang digunakan sebanyak 64 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner IFRC dan NBM. Analisis bivariat menggunakan uji Pearson Product Moment. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa 40% responden dengan keluhan MSDs tinggi juga mengalami kelelahan kerja tinggi, sementara 0,0% mengalami kelelahan kerja sedang dan 3,3% mengalami kelelahan kerja rendah. Ada hubungan antara tingkat kelelahan kerja dengan keluhan MSDs pada pramujasa BRT Trans Jawa Tengah (p value = 0,037) dengan (r = 0,262) yang menunjukkan hubungan positif dengan kekuatan korelasi yang lemah. Kesimpulan : Ada hubungan tingkat kelelahan kerja dengan keluhan Musculosceletal Disorders (MSDs) pada pramujasa Bus Rapid Transit (BRT) Trans Jawa Tenga

    HUBUNGAN ANTARA MASSA KERJA DENGAN KELELAHAN KERJA PADA PEDAGANG SAYUR DI PASAR KARANGJATI

    Get PDF
    Pasar Karangjati berfungsi sebagai pusat perbelanjaan yang ada di kecematan Bergas, pasar Karangjati memiliki 2 jenis pasar pasar yaitu pasar pagi dan pasar biasa. Pasar Karangjati menjadi tempat sumber penghasilan bagi pedagang – pedagang. Salah satunya pedagang sayur, pedagang sayur merupakan pekerja yang bersiko mengalami kelelahan kerja karena masa kerja yang lama, serta aktivitas yang dilakukan secara berulang – ulang. Berdasarkan hasil observasi awal pedagang sayur di pasar pagi Karangjati mengeluh mengalami gejala kelelahan kerja seperti mengantuk, sulit berkonsentrasi serta nyeri di tubuh. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara masa kerja dengan kelelahan kerja pada pedagang sayur di pasar pagi Karangjati. Metode: penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. penelitian ini menggunakan pendekatan rancangan cros sectional yang mana melibatkan pengukuran variabel bebas (masa kerja) dan variabel terikat (kelelahan kerja) yang diukur sekali pada waktu tertentu terhadap subjek penelitian. Responden dalam penelitian ini sebanyak 55 pedagang sayur di pasar pagi Karangjati, sample pada penelitian ini menggunakan total sampling yaitu 55 responden. Pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan kuisioner baku yaitu subjectif self rating test. Analisis data pada penelitian ini adalah uji Chi-Square. Hasil: dari hasil analisis menunjukkan karakteristik responden umur sebanyak 54,5% dewasa lanjut (41-60 tahun), jenis kelamin sebanyak 67,3% perempuan, Tingkat Pendidikan 52,7% SMP. Masa kerja sebanyak 80% pada masa kerja lama, kelelahan kerja 69,1% sangat tinggi. Ada hubungan masa kerja dengan kelelahan kerja pada pedagang sayur di pasar pagi Karangjati p=0,024. Simpulan: Ada hubungan antara masa kerja dengan kelelahan kerja pada pedagang sayur di pasar pagi Karangjati

    Profil Kondisi Fisik Atlet Wushu Sasana Satria Pandanaran Semarang

    Get PDF
    Monitoring profil kondisi fisik atlet diperlukan guna mengetahui kapasitas fisik yang dimiliki atlet, sehingga ini bertujuan untuk pelatih meninjau kondisi fisik atletnya yang dapat digunakan dalam menyiapkan program latihan bagi atlet untuk mencapai prestasi. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Penelitian dilakukan pada bulan Januari 2025. Populasi dalam penelitian ini menggunakan total sampling yaitu seluruh atlet yang berlatih di Sasana Satria Pandanaran Semarang berjumlah 8 orang. Pengambilan data menggunakan tes dan pengukuran, dengan instrumen yang digunakan sebagai berikut: kekuatan otot lengan menggunakan tes Grip Strength Dynamometer, kecepatan menggunakan tes lari 30 meter, kelincahan menggunakan tes illionist agility, keseimbangan menggunakan tes stork stand dan daya tahan menggunakan tes MFT (Multistage Fitness Test). Hasil penelitian menunjukkan rata-rata dan kategori sebagai berikut: 1) Kekuatan otot lengan diperoleh rata-rata lengan kanan 20,4 dan lengan kiri 17,5 dalam kategori kurang sekali. 2) Kecepatan diperoleh rata-rata 5,92 dalam kategori kurang sekali. 3) Kelincahan diperoleh rata-rata 18,8 dalam kategori kurang. 4) Keseimbangan diperoleh rata-rata 25 dalam kategori sedang. 5) Daya tahan diperoleh rata-rata 51,3 dalam kategori baik. Secara umum, kondisi fisik atlet wushu Sasana Satria Pandanaran Semarang berada pada kategori kurang

    implementation of agile and waterfall methods in a web-based admission system for streamlined registration and communication

    Get PDF
    implementation of agile and waterfall methods in a web-based admission system for streamlined registration and communicatio

    SANCAKA

    Get PDF
    8 koleksi busana yang bertema SANCAKA yaitu Sanca kembang (atau disingkat Sancaka) atau sanca batik. Ular sanca tersebar luas di daerah beriklim tropis dan panas salah satunya di Indonesia. Nama Sancaka diambil dari satwa mitologi yang digambarkan sebagai ular naga yang pengayom dan dapat bertahan di segala keadaan. Warna yang digunakan yaitu warna hitam melambangkan keberanian dan kekuatan, hijau lambang dari ketenangan, kedamaian, dan kesegaran, kemudian warna putih dan abu-abu melambangkan kebebasan, keterbukaan, dan bebas dari apapun. Pada desain menggunakan teknik tucking yang terinspirasi pada sisik ular . Teknik tucking adalah teknik manipulasi kain yang dilakukan dengan cara melipat kain, kemudian dijahit untuk menciptakan tekstur pada kain, sehingga menghasilkan efek seperti lipatan-lipatan kecil yang tidak bergerak pada pakaian tersebut. Penggunaan bahan busana menggunakan bahan motif ular sanca batik, kain tenun hujan gerimis, dan juga kain polos

    4,702

    full texts

    4,951

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Repository Universitas Ngudi Waluyo
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇