Repository Universitas Ngudi Waluyo
Not a member yet
4951 research outputs found
Sort by
Hubungan Antara Sedentary Lifestyle Dengan Tekanan Darah Pada Remaja Di Sma Negeri 1 Ungaran
Latar Belakang : Perkembangan teknologi yang semakin pesat telah membawa perubahan yang signifikan di semua aspek kehidupan, terutama pada remaja dalam mempengaruhi aktivitas fisik. Kemudahan akses terhadap perangkat digital menyebabkan remaja menghabiskan lebih banyak waktu untuk sedentary lifestyle. Sedentary lifestyle yang berkepanjangan dapat berdampak negatif pada kesehatan remaja, salah satunya adalah peningkatan tekanan darah.
Tujuan : Mengetahui hubungan antara sedentary lifestyle dengan tekanan darah pada remaja SMA Negeri 1 Ungaran.
Metode : Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional. Data dikumpulkan melalui metode Observasional dengan menggunakan Adolescent Sedentary Activity Questionnaire (ASAQ) untuk mengukur sedentary lifestyle dan tensimeter digital untuk mengukur tekanan darah. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja SMA Negeri 1 Ungaran, dengan jumlah sampel 310 responden yang dipilih menggunakan teknik Purposive Sampling.
Hasil : Responden dengan sedentary lifestyle tinggi yang mengalami tekanan darah tinggi sebanyak 119 remaja (97,3%). Penelitian ini menggunakan uji Chi Square dengan didapatkan hasil p-value 0,000 < α (0,05), dengan rata – rata waktu yang dihabiskan sebesar 9,41 jam/hari.
Kesimpulan : Terdapat hubungan yang signifikan antara sedentary lifestyle dengan tekanan darah pada remaja di SMA Negeri 1 Ungaran.
Saran : Diharapkan remaja lebih memahami bahayanya sedentary lifestyle terhadap tekanan darah, serta sadar akan pentingnya aktivitas fisik setidaknya 150 menit/minggu.
Kata Kunci : Remaja, Sedentary lifestyle, Tekanan Darah
PENERAPAN MEDIA MONITORING MENGGUNAKAN APLIKASI QR CODE UNTUK MENGETAHUI TINGKAT KEPUASAN PELAYANAN DI RUANG ICU RSUD dr.H.Jusuf SK Tarakan
Untuk menyelenggarakan pelayanan yang berkualitas, ada banyak hal yang perlu
dipahami. Salah satunya yang dianggap sangat penting adalah pemahaman mengenai
kualitas pelayanan itu sendiri. Tujuan umum dari tugas akhir ini adalah untuk
mempermudah pengukuran tingkat kepuasan pelayanan di ruang ICU RSUD dr. H.
Jusuf SK Tarakan. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan alat dan bahan sebagai
pendukung dalam perancangan implementasi untuk mengukur tingkat kepuasan
pelayanan menggunakan aplikasi berbasis web. Setelah seluruh tahapan selesai, penulis
melakukan uji coba inovasi kepada 23 responden di ruang ICU RSUD dr. H. Jusuf SK
Tarakan. Berdasarkan rentang usia, terdapat 12 responden (52%) berusia 30-39 tahun, 5
responden (21%) berusia 40-49 tahun, 3 responden (13%) berusia 50-59 tahun, 2
responden (8%) berusia 20-29 tahun, dan 1 responden (4%) berusia 60-69 tahun.
Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyimpulkan bahwa usia mempengaruhi
pengisian kuesioner kepuasan pelayanan. Semakin muda usia seseorang, semakin tinggi
pemahaman mereka terhadap edukasi yang diberikan. Berdasarkan jenis kelamin,
sebagian besar responden adalah perempuan, dengan jumlah 14 responden (60%), dan
laki-laki sebanyak 9 responden (40%). Peneliti juga menyimpulkan bahwa perempuan
cenderung lebih cepat memahami sistem yang dijelaskan. Berdasarkan pendidikan,
mayoritas responden berpendidikan SMA, sebanyak 9 responden (39%), diikuti oleh D3
dengan 6 responden (26%), S1 sebanyak 5 responden (21%), SMP sebanyak 2
responden (8%), dan SD sebanyak 1 responden (4%). Berdasarkan penelitian, semua
tingkat pendidikan dapat dengan mudah memahami dan mengisi sistem menggunakan
QR Code. Inovasi ini membantu mengurangi beban tenaga medis dalam memberikan
penjelasan berulang dan meningkatkan efisiensi waktu
Hubungan Komunikasi Keluarga Dengan Perilaku Self-Harm Pada Remaja Di Kecamatan Mijen Kota Semarang
Latar Belakang: Masa remaja merupakan periode transisi dengan berbagai tantangan emosional, fisik, dan sosial, yang dapat memengaruhi kesehatan mental. Salah satu fenomena yang sering terjadi adalah perilaku self-harm. Self harm dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah komunikasi keluarga. Komunikasi yang tidak efektif dalam keluarga dapat meningkatkan risiko perilaku ini, sementara komunikasi yang harmonis berperan sebagai faktor protektif.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara komunikasi keluarga dengan perilaku self-harm pada remaja di SMK Askhabul Kahfi, Kecamatan Mijen, Kota Semarang.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Responden penelitian adalah 183 siswa yang dipilih dengan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Revised Family Communication Pattern (RFCP) untuk menilai komunikasi keluarga, dan Self-Harm Inventory (SHI) untuk mengukur perilaku self-harm. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman Rank.
Hasil: Mayoritas responden memiliki komunikasi keluarga yang baik (98,4%), namun perilaku self-harm abnormal tetap ditemukan pada 73,2% responden. Hasil analisis menunjukkan nilai p-value = 0,157, yang berarti tidak ada hubungan signifikan antara komunikasi keluarga dengan perilaku self-harm pada remaja.
Saran: Pendekatan multidimensi diperlukan untuk menangani perilaku self-harm, melibatkan edukasi bagi keluarga, intervensi psikologis, serta program kesadaran di sekolah.
Kata Kunci: Komunikasi keluarga, perilaku self-harm, remaj
HUBUNGAN INDEX MASSA TUBUH (IMT) DENGAN WAKTU PASIEN PULIH SADAR PADA PASIEN POST OPERASI DENGAN GENERAL ANASTESI (GA) DI RUANG OPERASI RSU PREMAGANA
Pembedahan atau operasi merupakan cara pengobatan invasif yang
dilakukan dengan membuat sayatan pada bagian tubuh manusia yang dibantu dengan
teknik anestesi atau pembiusan yang diberikan berdasarkan berat badan pasien. General
anestesi adalah tindakan anestesi yang dapat mengubah status fisiologis pasien yang
ditandai dengan hilangnya kesadaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
hubungan index massa tubuh (IMT) dengan waktu pasien pulih sadar pada pasien post
operasi dengan general anastesi (GA) di Ruang Operasi RSU Premagana.
Metode: Desain penelitian ini adalah cross-sectional correlative dengan jumlah
sampel 94 orang yang dipilih melalui teknik accidental sampling. Instrumen yang
digunakan adalah lembar observasi IMT dan aldrete score untuk mengetahui waktu
pulih sadar pasien setelah operasi dengan general anestesi kemudian analisis data
dengan menggunakan uji statistik spearman rank.
Hasil: Hasil uji analisis menunjukkan bahwa nilai correlation coefficient pada uji
spearman rank sebesar 0,245 yang berarti antara index masa tubuh (IMT) dan waktu
pulih sadar pasien post operasi dengan general anestesi (GA) memiliki hubungan yang
lemah dengan nilai p-value 0,017 yang berarti < 0,05 sehingga antara indeks masa
tubuh (IMT) dan waktu pulih sadar pasien post operasi dengan GA memiliki hubungan
yang signifikan.
Simpulan: Semakin tinggi IMT pasien maka waktu pulih sadar yang diperlukan
semakin lama karena pemberian obat anestesi disesuaikan dengan berat badan pasien
Mutu Organoleptik Dan Kandungan Zat Gizi Mie Kering Dengan Penambahan Tepung Uwi Ungu (Dioscorea Alata L)
Latar Belakang: Mie kering merupakan mie komersial yang memiliki tinggi
karbohidrat dan rendah serat, penambahahan tepung uwi ungu dapat menjadikan
produk yang tidak hanya mengandung tinggi karbohidrat akan tetapi juga tinggi
serat. Uwi ungu merupakan bahan makanan yang kurang diminati oleh masyarakat,
sehingga produk ini juga dapat meningkatkan pangan lokal yang kurang diminati
masyarakat menjadi pangan fungsional.
Tujuan: Mengetahui mutu organoleptik dan kandungan zat gizi mie kering dengan
penmabahan tepung uwi ungu (Dioscorea alata L).
Metode: Peneliyian ini menggunakan desain eksperimental, perlakukan berupa
pembuatan tiga formulasi yang berbeda dengan perbandingan berat tepung uwi
ungu : tepung terigu yaitu F1(25%: 75%), F2 (50%: 50%) dan F3 (75%: 25%).
Selanjutnya dilakukan analisis uji mutu organoleptik secara subjektif dengan 3
panelis terlatih. Kemudian dilakukan analisis uji kandungan karbohidrat
menggunakan metode by difference dan analisis kandungan serat dengan metode
SNI 01-2891-1992.
Hasil: Uji Mutu Organoleptik ketiga formula memiliki aroma normal, warna ungu
dan tekstur keras. Kemudian berdasarkan hasil rata – rata uji karbohidrat, kadar
karbohidarat pada formula 1 (21,831 gram), formula 2 (21,548 gram), formula 3
(22,018 gram). Dan kandungan serat kasar pada formula 1 (0,963 gram), formula 2
(1,016 gram) dan formula 3 (1,182 gram).
Simpulan: Formula 3 merupakan formula dengan nilai kandungan karbohidrat per
100 gram 22,018 gram dan kandungan serat 1,182 gram belum memenuhi syarat
klaim tinggi serat dan sumber serat berdasarkan Peraturan BPOM No 1 tahun 2022
Tentang Pengawasan klaim pada label dan iklan pangan olahan.
Kata Kunci: Mie kering, uwi ungu, mutu organoleptik, kandungan karbohidrat,
serat kasa
Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Pasien Dengan Perilaku Mobilisasi Dini Pasien Post Laparotomi Di Rsud Dr. H. Jusuf Sk Tarakan
Latar Belakang: Mobilisasi dini telah diketahui secara luas manfaatnya, akan tetapi implementasinya di lapangan masih menghadapi berbagai kendala. Salah satu faktor penting yang memengaruhi perilaku mobilisasi dini pasien adalah tingkat pengetahuan mereka tentang manfaat dan cara melakukannya. Meskipun manfaat mobilisasi dini telah terbukti, masih terdapat pasien yang enggan atau terlambat melaksanakan mobilisasi dini akibat kurangnya pemahaman tentang pentingnya tindakan ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku mobilisasi dini pada pasien post laparotomi di RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif korelasi dengan dengan rancangan Cross Sectional. Sampel terdiri dari 56 pasien post operasi laparotomi Kriteria inklusi pada penelitian ini yaitu, pasien post operasi Laparotomi hari pertama yang bersedia menjadi responden, pasien dalam keadaan sadar, pasien dalam kategori minimal dewasa awal. Kriteria ekslusi pada penelitian ini yaitu pasien dengan kontraindikasi untuk dilakukan mobilisasi dini (Nyeri hebat yang tidak terkontrol, perdarahan aktif, kondisi medis yang memburuk, Instruksi dokter yang melarang mobilisasi), pasien tidak kooperatif.
Hasil: terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku mobillisasi dini pada pasien post laparotomi di RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan. dengan nilai p value = 0,049 (<0,05).
Simpulan: Pengetahuan pasien memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perilaku mereka dalam melaksanakan mobilisasi dini. Pasien yang memiliki pengetahuan yang baik lebih cenderung melaksanakan mobilisasi dini dengan baik, yang berperan dalam mempercepat proses pemulihan dan mencegah komplikasi.
Kata Kunci: Mobilisasi Dini, Post Laparotomi, Tingkat Pengetahua
Gambaran Frekuensi Paparan Pornografi Pada Remaja Di Kelurahan Bawen
Latar Belakang :. Paparan tayangan pornografi melalui media sosial semakin meningkat di kalangan remaja, yang dapat berdampak pada perilaku seksual dan kesehatan mental mereka. Kemudahan akses internet memungkinkan remaja untuk mengakses konten pornografi tanpa batasan yang jelas
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan frekuensi paparan tayangan pornografi pada remaja di Kelurahan Bawen.
Metode : Penelitian ini menggunakan desain deskriptif . Populasi penelitian adalah 77 remaja laki-laki berusia 14-22 tahun yang aktif menggunakan media sosial. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan menggunakan distribusi frekuensi.
Hasil Seluruh responden telah terpapar tayangan pornografi, dengan 44,2% berada dalam kategori sedang. Sebanyak 30,5% responden terpapar dalam kategori tinggi, sementara 25,3% berada dalam kategori rendah. Mayoritas responden mengakses tayangan pornografi melalui media sosial seperti Twitter, Instagram, dan TikTok
Kesimpulan : Mayoritas responden telah terpapar tayangan pornografi, dengan mayoritas berada dalam kategori sedang (44,2%). Sebanyak 30,5% berada dalam kategori tinggi, dan 25,3% dalam kategori rendah. Media sosial seperti Twitter, Instagram, dan TikTok menjadi platform utama akses tayangan pornografi bagi remaja..
Saran : Mayoritas remaja terpapar pornografi melalui media sosial. Diperlukan pengawasan, edukasi literasi digital, dan penelitian lanjutan terkait faktor serta dampaknya. Selain itu, penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk menggali lebih dalam faktor-faktor yang mempengaruhi frekuensi paparan serta dampaknya terhadap perilaku remaja.
Kata Kunci : Tayangan Pornografi, Remaja, Media Sosial, Kesehatan Seksual
Pengembangan Industri Rumah Tangga Melalui Program "Desa Wirausaha Mandiri" Sebagai Upaya Peningkatan Ekonomi Masyarakat Desa Trayu
Ormawa (Organisasi Kemahasiswaan) merupakan wadah bagi mahasiswa
untuk mengembangkan soft skills dan hard skills. Organisasi Kemahasiswaan yang
ada di Perguruan Tinggi memiliki berbagai jenis dan beragam kegiatan mulai dari
kesenian, olahraga hingga pengetahuan. Maka dari itu Organisasi Kemahasiswaan
dapat mengembangkan potensi, minat, bakat, kreativitas, kepemimpinan, rasa
kebangsaan hingga daya kritis. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan
Teknologi melalui Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi kembali melaksanakan Program
Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) yang bertujuan
untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan organisasi kemahasiswaan lebih
bermakna sebagai wadah pengembangan soft skills dan hard skills untuk
menjadikan SDM Unggul. Kegiatan ini berbentuk pengabdian masyarakat yang
membuat penulis sadar selain mengembangkan soft skill dan hard skill individu
dalam organisasi juga penting untuk memperhatikan masyarakat sekitar oleh karena
itu, penulis melaksanakan pengabdian ini menganalisa kebutuhan dari masyarakat
sehingga masyarakat dapat meningkatkan kemajuan desa.
Kata Kunci : Pengabdian Masyarakat, PPK Ormawa, Kemdikbudriste
Peranan Hakim Dalam Pengambilan Keputusan Guna Memperkokoh Integritas Peradilan Sebagai Pemenuhan Kepercayaan Publik
Sebagai putusan yang dibuat oleh hakim yang nantinyak akan menjadi dasar dan
asas umum bagi sistem peradilan, akan tetapi beberapa saat ini terdapat kejadian-
kejadian yang mengoda integritas peradilan guna meningkatkan kepercayaan
masyarakat terhadap seluruh jenjang dan jenis lembaga peradilan di Indonesia.
Maka diperoleh permasalahnya yakni (1) Peranan Hakim dalam Keputusannya
guna menjunjung Integritas Peradilan, (2) Penyebab menurunnya intergitas dalam
Keputusan Hakim yang dapat mempengaruhi kepercayaan publik. Dengan metode
yuridis empiris serta pendekatan empiris dengan hasil dan pembahasan (1) hakim
diharapkan untuk selalu menggali informasi, mengikuti perkembangan sosial,
dan.memahami nilai.hukum serta rasa.keadilan yang.ada dalam Masyarakat seusai
dengan Pasal 5 Undang-Undang. No. .48 Tahun 2009 yang sebenarnya sebagai
akibat dari aturan hukum dan juga menunjukkan profesionalisme hakim saat
melaksanakan tugas kekuasaan peradilan yang bebas.untuk menegakkan.hukum
dan.keadilan melalui lembaga peradilan yang diperkuat oleh pedoman perilaku
hakim No Nomer : KMA/I 04A/SK/XIl/2007 (2) terbagi menjadi Tantangan
Teknologi Terhadap Integritas Hakim, Kemandirian dan Kebebasan Hakim dan
Pengadopsian dissenting opinion guna meningkatkan kesadaran akan pentingnya
menjaga independensi dan kebebasan dalam menjalankan fungsi peradilan harus
ditanamkan sejak dini, agar tercipta masyarakat yang kuat.budaya.integritas dalam
sistem peradilan yang buruk di masyarakat dengan mengoptimalkan fungsi hukum
dalam pelaksanaannya Kode Etik Hakim Nomor: KMA/I 04A/SK/XIL/2007
dengan memperoleh hasil kesimpulan sebagai berikut (1) Kasus yang sederhana
dan yang kompleks perlu dibedakan dengan jelas. Hakim hanya perlu menerapkan
peraturan yang relevan tanpa melakukan analisis yang rumit, cukup dengan
menggunakan silogisme.(2)Perubahan besar dalam teknologi informasi telah
mengubah cara sistem peradilan beroperasi, menciptakan peluang pengefisiensi
demi keterbukan. Suatu masalah terkait keamanan pendataan, keprivasian, dan
manipulasi informasi menimbulkan risiko terhadap kepercayaan hakim dan
potensi korupsi, serta intervensi politik yang dapat mengganggu independensi
hakim, sehingga dapat mempengaruhi putusan peradilan yang harusnya
berdasarkan bukti dan hukum yang ada.
Kata Kunci : Peranan Hakim, Pengambilan Kepustusan Hakim, Kepercayaan Publi
HUBUNGAN PAPARAN PESTISIDA DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA PETANI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS DUREN
Hipertensi merupakan salah satu penyakit kardiovaskular yang
ditandai dengan tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan tekanan darah diastolik
≥90 mmHg. Hipertensi menjadi perhatian utama dalam bidang kesehatan di
Indonesia. Berdasarkan data Januari hingga Juli 2024, terdapat 564 kasus
hipertensi yang tercatat di wilayah kerja Puskesmas Duren. Petani dan
penggunaan pestisida merupakan dua aspek yang saling terkait. Petani merupakan
kelompok yang paling rentan terhadap risiko keracunan karena berinteraksi
langsung dengan pestisida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan
paparan pestisida dengan kejadian hipertensi berdasarkan masa kerja, tempat
penyimpanan pestisida, cara penyemprotan, frekuensi penyemprotan dan
penggunaan APD pada petani di wilayah kerja Puskesmas Duren.
Metode: Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif, menggunakan
desain observasional analitik dengan pendekatan Cross Sectional dan teknik
pengambilan sampel menggunakan teknik Quota Sampling. Populasi dalam
penelitian ini adalah petani. Sampel yang digunakan sebanyak 100 petani.
Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan tensimeter. Analisis bivariat
menggunakan uji Chi square.
Hasil: Hasil uji Chi square paparan pestisida didapatkan nilai ( p = 0,001 < 0,05,
masa kerja didapatkan nilai ( p = 0,002 < 0,05), tempat penyimpanan pestisida
didapatkan nilai (p = 0,153 > 0,05), cara penyemprotan didapatkan nilai (p =
0,003 < 0,05), frekuensi penyemprotan didapatkan nilai (p = 0,015 < 0,05) dan
penggunaan APD didapatkan nilai (p = 0,035 < 0,05).
Simpulan: Ada hubungan antara paparan pestisida dengan kejadian hipertensi
berdasarkan masa kerja, tempat penyimpanan pestisida, cara penyemprotan,
frekuensi penyemprotan dan penggunaan APD pada petani di wilayah kerja
Puskesmas Duren