Repository Universitas Ngudi Waluyo
Not a member yet
4951 research outputs found
Sort by
Analisis Kesesuaian Pelayanan Farmasi Klinik Di Apotek Sumber Waras Kota Salatiga Terhadap Permenkes Ri No 73 Tahun 2016
Latar Belakang: Pelayanan farmasi klinik di apotek memiliki peran penting untuk memastikan
penggunaan obat yang rasional dan tepat kepada pasien. Standar Pelayanan Kefarmasian yang
ditetapkan untuk menjadi pedoman dalam penyelenggaraan pelayanan farmasi yang berkualitas.
Adapun pedoman yang diacu dalam penelitian ini adalah Permenkes RI No 73 Tahun 2016.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kesesuaian pelayanan farmasi di Apotek
Sumber Waras dengan standar yang telah ditetapkan. Metode: Penelitian ini menggunakan
pendekatan deskriptif analitik dengan teknik pengambilan data observasi langsung terhadap
apoteker. Pengambilan data dilakukan dengan sampling sebanyak 85 pasien. Data dianalisis dan
disajikan dalam bentuk persentase untuk menilai tingkat kesesuaian terhadap berbagai aspek
standar pelayanan, seperti pengkajian resep dan dispensing. Hasil: Penelitian menunjukkan
bahwa Apotek Sumber Waras memiliki kategori baik dengan persentase dalam aspek pengkajian
resep 100% dan dispensing obat 100%. Keterbatasan Penelitian : Data yang digunakan mungkin
terbatas dan bias pada jumlah apotek tertentu, sehingga kurang merepresentasikan kondisi di
wilayah yang lebih luas. Simpulan: Diharapkan adanya peningkatan pelatihan bagi tenaga
kefarmasian serta pengawasan yang lebih ketat untuk memastikan pelayanan farmasi yang lebih
optimal.
Kata kunci: Standar, Pelayanan, Kefarmasian, Apote
Hubungan Mekanisme Koping Terhadap Tekanan Darah Pada Pekerja Yang Mengalami Stres
Latar Belakang : Stres kerja merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tekanan darah pekerja. Mekanisme koping yang digunakan individu dalam menghadapi stres berperan penting dalam mengelola tekanan darah dan mencegah dampak kesehatan yang lebih serius. Namun, masih sedikit penelitian yang secara spesifik membahas hubungan antara mekanisme koping dengan tekanan darah pada pekerja yang mengalami stres.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara mekanisme koping terhadap tekanan darah pada pekerja yang mengalami stres.
Metode : Desain penelitian menggunakan deskriptif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 100 pekerja di PT TI Matsuoka Winner Industry (PT Toray), yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner Brife COPE untuk mengukur mekanisme koping dan alat sphygmomanometer untuk mengukur tekanan darah. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square.
Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa 70% responden menggunakan mekanisme koping adaptif serta mayoritas memiliki tekanan darah sistolik normal 54%. Hasil uji Chi-Square menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara mekanisme koping dan tekanan darah sistolik (p=0,060).
Simpulan : Mekanisme koping adaptif berperan dalam menjaga stabilitas tekanan darah pekerja, sedangkan mekanisme koping maladaptif dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi.
Saran : Meskipun hasil penelitian tidak menunjukkan hubungan yang signifikan edukasi dan pelatihan manajemen stres tetap perlu diberikan untuk meningkatkan penggunaan mekanisme koping adaptif guna menjaga kesehatan pekerja.
Kata Kunci : stres kerja, mekanisme koping, tekanan darah, manajeme
Gambaran Perilaku Pencegahan Stroke Pada Pasien Hipertensi
Latar Belakang: Stroke merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan di dunia, dengan hipertensi sebagai faktor risiko utama. Upaya pencegahan stroke pada pasien hipertensi sangat penting untuk mengurangi risiko kejadian stroke pertama maupun berulang. Namun, masih terdapat kesenjangan pada perilaku pencegahan stroke di kalangan pasien hipertensi.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan perilaku pencegahan stroke pada pasien hipertensi serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Sampel penelitian berjumlah 85 pasien hipertensi berusia lanjut (60-74 tahun) di wilayah kerja UPTD Puskesmas Tuntang, Kabupaten Semarang. Dianalisis menggunaka SPSS dan disajikan dalam bentuk tabel dan diagram.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 63,5% responden memiliki aktivitas fisik sedang, 41,2% memiliki kualitas tidur buruk, dan 84,7% mengalami stres sedang. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak pasien hipertensi yang belum menerapkan perilaku pencegahan stroke secara optimal.
Kesimpulan: Perilaku pencegahan stroke pada pasien hipertensi perlu ditingkatkan, terutama dalam aspek aktivitas fisik, kualitas tidur, dan manajemen stres. Edukasi kesehatan yang lebih intensif dan intervensi berbasis komunitas diperlukan untuk meningkatkan kepatuhan pasien terhadap upaya pencegahan stroke.
Saran: Diperlukan program edukasi dan promosi kesehatan yang lebih efektif untuk meningkatkan kesadaran dan kepatuhan pasien hipertensi dalam menerapkan perilaku pencegahan stroke.
Kata Kunci: Hipertensi, Stroke, Perilaku Pencegahan, Aktivitas Fisik, Kualitas Tidur, Manajemen Stres.
Daftar Pustaka: 2015- 202
Pengaruh Penggunaan Convective Warming Device Terhadap Suhu Tubuh Pasien Post Operasi Sectio Caesarea yang Mengalami Hipotermia di Ruang OK Emergency RSUD dr. H. Jusuf SK. Tarakan Kalimantan Utara
Bagaimana Pengaruh Penggunaan Convective Warming Device
Terhadap Suhu Tubuh Pasien Post Operasi Sectio Caesarea yang Mengalami
Hipotermia di Ruang OK Emergency RSUD dr. H. Jusuf SK. Tarakan Kalimantan
Utara?. Untuk menguji pengaruh penggunaan convective warming device pada
pasien post operasi sectio caesarea yang mengalami hipotermia di ruang OK
Emergency RSUD dr. H. Jusuf SK. Tarakan Kalimantan Utara.
Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian quasi eksperimental dengan desain
penelitian pre post test with control group design. Teknik pengumpulan sampel
pada penelitian ini adalah purposive sampling, sampel disini adalah 60 responden
yang dibagi menjadi dua kelompok. Alat pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian ini terdiri dari; Lembar Observasi, Peralatan, SOP. Analisis yang
digunakan pada penelitian ini adalah uji independent sample t-test.
Hasil: hasil uji independent t-test didapatkan nilai Sig.(2-tailed) sebesar 0,000
angka ini menunjukan bahwa Sig (2-tailed) < 0,05 yang berarti ada perbedaan yang
signifikan dari rata-rata hasil suhu antara kelompok kontrol dan kelompok
perlakuan.
Simpulan: Suhu tubuh dipengaruhi secara signifikan oleh penggunaan convective
warming device dengan mendorong hipotalamus untuk bereaksi terhadap sistem
termoregulasi yang menyebabkan perubahan suhu tubuh, penggunaan convective
warming device membantu mengurangi kehilangan panas dari tubuh. Ada pengaruh
penggunaan convective warming device pada pasien post operasi sectio caesarea
yang mengalami hipotermia
Gambaran Pemberian Pmt Lokal Terhadsap Perubahan Statis Gizi Balita Di Desa Kartika Bhakti Wolayah Kerja Uptd Puskesmas Kuala Pembuang Ii
Latar Belakang: Upaya Pemerintah untuk menangani masalah gizi pada balita
yaitu dengan memberikan makanan tambahan ( MT ) berbasis Pangan Lokal.
Pemberian makanan tambahan ( PMT ) berbahan pangan lokal merupakan salah
satu strategi penanganan masalah gizi pada balita dan ibu hamil. Kegiatan PMT
tersebut perlu disertai dengan edukasi gizi dan kesehatan untuk perubahan perilaku
misalnya dengan dukungan pemberian ASI , edukasi dan konseling pemberian
makan, kebersihan serta sanitasi untuk keluarga. Tujuan Penelitian ini adalah untuk
mengetahui pengaruh pemberian makanan tambahan ( PMT ) Berbasis pangan local
terhadap perubahan status gizi balita didesa Kartika bhakti wilayah kerja UPTD
Puskesmas Kuala Pembuang II Tahun 2024.
Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional. Desain penelitian ini adalah
penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan observasi dan wawancara.
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 5 balita dengan teknik
purposive sampling. Instrumen yang digunakan berupa form pengambilan data
yang dari karakteristrik responden (usia ibu, pendidikan terakhir, pekerjaan, usia
anak, jenis kelamin, berat badan dan tinggi badan.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 100% (5 responden) adalah balita
berat badan kurang usia 12-59 bulan sebelum pemberian PMT dan mengalami
kenaikan berat badan tidak merubah status gizi. sesudah pemberian PMT ( 1 bulan
pertama pemberian ) balita mengalami perubahan status gizi. Kenaikan berat badan
balita balita usia 12-59 bulan dapat disebabkan oleh kepatuhan konsumsi PMT
Pemulihan yang dapat dilihat dari rata-rata PMT yang dihabiskan balita berat badan
kurang usia 12-59 bulan
Simpulan: Pemberian PMT lokal pada balita berpengaruh secara signifikan
terhadap status gizi balita ditandai adanya kenaikan berat badan balita.
Kata Kunci: Status gizi , PMT Lokal , balit
Analisis Yuridis Kewenangan Pejabat Pembuat Akta Tanah Dalam Proses Perubahan Akta Tanah Letter C Menjadi Sertifikat Hak Milik Di Kabupaten Semarang
Masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pendaftaran hak milik atas tanah sehingga masih banyak yang hanya memiliki bukti hak milik atas tanah berupa letter C. Pejabat Pembuat Akta Tanah berperan penting dalam peralihan hak atas tanah khususnya untuk mendampingi pembuatan akta sebagai bukti hak atas tanah atau Hak Milik Satuan Rumah Susun sesuai dengan PP No. 24 Tahun 2016 tentang PPAT melalui serangkaian proses pendaftaran tanah. Menurut Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 18 Tahun 2021 tentang pendaftaran tanah, maka pendaftaran atas tanah yang dilakukan Masyarakat merupakan suatu upaya untuk meningkatkan kualitas bukti kepemilikan dan hak atas tanah.
Berdasarkan penelitian penulis di wilayah Kabupaten Semarang diketahui bahwa masyarakat masih kurang memanfaatkan keberadaan PPAT untuk membuat akta otentik, perbuatan hukum tertentu tentang hak atas tanah atau hak milik atas satuan rumah susun dengan alasan anggapan pembiayaan yang mahal dan masih kurangnya informasi mengenai pentingnya peningkatan kualitas bukti kepemilikan tanah. Hal tersebut yang menjadi latar belakang penulis dalam penulisan.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui PPAT mempunyai kewenangan selaku pejabat yang ditugaskan oleh Menteri Agraria atau BPN untuk melaksanakan kegiatan tertentu yang menurut peraturan pemerintah dan peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam hal pembuatan Sertifikat hak milik, Adapun tugas PPAT adalah memberikan pelayanan kepada semua masyarakat yang memerlukan bantuan sesuai kewenangan dan fungsi PPAT tersebut.
Kata kunci : Analisis Yuridis, Kewenangan Pejabat Pembuat Akta Tanah, Perubahan Akta Tana
HUBUNGAN PAPARAN PESTISIDA DENGAN GANGGUAN FUNGSI KOGNITIF PADA PETANI DI DESA KEMAWI KECAMATAN SUMOWONO
Pestisida adalah bahan kimia untuk mengendalikan berbagai
jenis hama. Paparan pestisida dalam waktu lama dapat mengakibatkan keracunan
pestisida pasif. Indonesia melaporkan 771 insiden keracunan pestisida pada tahun
2016, dan 124 kasus pada tahun 2017. Beberapa pestisida yang masuk ke dalam
tubuh dapat menghentikan enzim asetilkolinestrase, yang mengakibatkan
gangguan fungsi kognitif. Gangguan kognitif merupakan kondisi yang
mempengaruhi sistem saraf manusia. Salah satu cara untuk menunjukkan status
kognitif seseorang menggunakan Mini Mental State Examination (MMSE). Dari
hasil studi pendahuluan di Desa Kemawi didapatkan 8 petani yang mengalami
gangguan fungsi kognitif dari 10 petani yang diwawancara.
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan paparan pestisida yang meliputi masa
kerja, lama penyemprotan, frekuensi penyemprotan, kesesuaian penggunaan
dosis, kelengkapa dengan gangguan fungsi kognitif pada petani di Desa Kemawi,
Kecamatan Sumowono.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik menggunakan
pendekatan kuantitatif. Dengan desain Cross sectional. Populasi penelitian ini
adalah petani di Desa Kemawi dengan sampel sebanyak 100. Sampel diambil
menggunakan teknik quota sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara.
Kemudian diolah menggunakan uji chi-squre.
Hasil: Terdapat hubungan antara paparan pestisida dengan gangguan fungsi
kognitif (p-value 0,002), masa kerja dengan gangguan fungsi kognitif (p-value
0,024), lama penyemprotan dengan gangguan fungsi kognitif (p-value 0,001),
frekuensi penyemprotan dengan gangguan fungsi kognitif (p-value 0,012),
kesesuaian penggunaan dosis dengan gangguan fungsi kognitif (p-value 0,008),
dan kelengkapan alat pelindung diri dengan gangguan fungsi kognitif (p-value
0,013).
Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa gangguan fungsi kognitif dipengaruhi
oleh paparan pestisida yang dilihat berdasarkan masa kerja, lama penyemprotan,
frekuensi penyemprotan, kesesuaian penggunaan dosis, kelengkapan APD pada
petani di Desa Kemawi, Kecamatan Sumowono
HUBUNGAN KUALITAS UDARA DALAM RUMAH DENGAN GEJALA ISPA PADA BALITA DI KELURAHAN BLOTONGAN WILAYAH KERJA PUSKESMAS SIDOREJO LOR KOTA SALATIGA
Polusi udara dalam ruangan meningkat pesat karena sebagian
besar orang menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan. Infeksi saluran
pernapasan akut (ISPA) adalah salah satu penyakit yang disebabkan oleh kualitas
udara yang buruk. Pada tahun 2024 terdapat 249 kasus balita ISPA di Kelurahan
Blotongan. Studi pendahuluan menunjukkan 10 dari 10 rumah memiliki kualitas
udara dengan konsentrasi PM10 dan PM25 yang tidak memenuhi syarat. Udara
kotor dapat mengganggu sistem pernapasan terutama ISPA pada balita karena
sistem kekebalan tubuh balita belum sempurna, mereka lebih rentan terhadap
ISPA.
Tujuan: untuk mengetahui hubungan kualitas udara dalam rumah dengan gejala
ISPA pada balita di Kelurahan Blotongan Wilayah Kerja Puskesmas Sidorejo Lor
Kota Salatiga.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis analitik dan
desain Cross sectional. Populasi pada penelitian iini adalah balita yang bertempat
tinggal di Kelurahan Blotongan. Responden dalam penelitian ini adalah ibu balita.
Besar sampel penelitian ini sebayak 239 balita dengan menggunakan teknik
sampling quota sampling. Pengambilan data dilakukan dengan observasi dan
wawancara kepada ibu balita. Pengukuran dilakukan menggunakan instrumen Air
Quality Monitor untuk mengetahui konsentrasi PM10 dan PM2,5 dalam rumah .
Hasil: Terdapat hubungan antara kualitas udara dalam rumah dengan gejala ISPA
pada balita dengan nilai p-value 0,001.
Kesimpulan: Terdapat hubungan antara kualitas udara dalam rumah dengan
gejala ISPA pada balita. Perlu dilakukan perbaikan kualitas udara dalam rumah
antara lain dengan meningkatkan kualitas udara dalam rumah serta perawatan dan
pembersihan rumah
GAMBARAN KEPUASAN PASIEN BERDASARKAN DIMENSI MUTU PADA PELAYANAN FARMASI DI PUSKESMAS BANGUNTAPAN 3 YOGYAKARTA
Pelayanan kesehatan di indonesia terus mengalami
perkembangan, tetapi mutu layanan, terutama dalam fasilitas kesehatan primer
seperti puskesmas masih menjadi tantangan. Puskesmas Banguntapan 3
Yogyakarta yang menjadi objek penelitian. Berikut beberapa dampaknya : pasien
tidak puas dengan pelayanan farmasi karena edukasi obat yang kurang jelas atau
obat tidak tersedia, mereka bisa menjadi kurang patuh dalam mengonsumsi obat
sesuai resep. Hal ini dapat menyebabkan efektivitas pengobatan menurun dan
meningkatkan risiko komplikasi penyakit, pasien yang merasa tidak puas dengan
pelayanan farmasi di puskesmas mungkin akan memilih untuk mencari layanan di
tempat lain, seperti apotek swasta atau rumah sakit. Ini dapat berdampak pada
penurunan jumlah kunjungan pasien di puskesmas. Berdasarkan penelitian yang
lakukan, faktor-faktor seperti waktu tunggu panjang, komunikasi terbatas antara
petugas farmasi dan pasien, serta fasilitas yang kurang memadai menjadi beberapa
penyebab ketidakpuasan pasien di Puskesmas Banguntapan 3 Yogyakarta. Oleh
karena itu, peningkatan mutu pelayanan farmasi melalui manajemen stok obat
yang lebih baik, percepatan waktu pelayanan, serta edukasi yang lebih interaktif
bisa menjadi solusi untuk mengurangi dampak negatif tersebut.
Metode : Penelitian deskriptif dengan pendekatan survei untuk menggambarkan
kepuasan pasien terhadap mutu pelayanan farmasi di Puskesmas Banguntapan 3
Yogyakarta berdasarkan lima dimensi. Jumlah sampel sebanyak 100 responden.
Data dikumpulkan melalui kuesioner. Analisis data dilakukan secara univariat.
Hasil : Hasil tingkat kepuasan pasien berada pada kategori sedang (63%) dan
tinggi (37%). Dimensi reliability (keandalan) menunjukkan bahwa sebagian besar
pasien menilai pelayanan cukup baik. Dimensi responsiveness (ketanggapan),
mayoritas pasien merasa puas dengan pelayanan tenaga farmasi. Dimensi
assurance (jaminan) menunjukkan bahwa pasien cukup baik. Dimensi empathy
(empati) mengindikasikan bahwa pasien merasa baik diperhatikan. Sementara itu,
dimensi tangibles (bukti fisik) menunjukkan bahwa fasilitas farmasi dinilai cukup
memadai.
Kesimpulan : Pelayanan farmasi di Puskesmas Banguntapan 3 Yogyakarta telah
memenuhi harapan pasien, namun masih terdapat ruang untuk peningkatan. Upaya
perbaikan dapat difokuskan pada manajemen stok obat, percepatan proses
pelayanan farmasi, peningkatan kenyamanan fasilitas, serta edukasi pasien
mengenai penggunaan obat