OJS STIKES Guna Bangsa Yogyakarta
Not a member yet
    272 research outputs found

    Transformasional Leadership Meningkatkan Tindakan Augmentatif And Alternative Comunication Pada Pasien Stroke Afasia Motorik

    No full text
    About 21% -35% of patients with acute stroke experience aphasia or motor impairment language interpretation. Impact because of the lack of action independence of the nurse in improving Augmentative Alternative Communication (AAC) is not the fulfillment of the needs of the patient. AAC is media in the form of electronic devices, alphabet boards, drawing boards that contain the basic needs which may be designated by the patient that helps in communicating. The research method is a literature research, focused on the search of some previous research. The results of the research show that the role of transformational leadership increase the AAC in stroke patients aphasia motor through insiparasional motivation where the leader becomes an example to be emulated by subordinates, providing a strong motivation for change with guidance and training, individualizad consideration that is hear input to want to change apply the AAC, Idealized influence where the leader as a mentor who has charisma makes followers want to practice the AAC, and intellectual stimulation is to encourage the subordinates to see problems in aphasia motor can be minimized with the AAC. Thus it can be concluded that the Style of transformational leadership has a used of therapeutic AAC to nurses practice.Sekitar 21%–35% pasien stroke akut mengalami afasia motorik atau gangguan interpretasi bahasa. Dampak karena kurangnya tindakan kemandirian perawat dalam meningkatkan Augmentative Alternative Comunication (AAC) adalah tidak terpenuhinya kebutuhan pasien.  AAC adalah media berupa perangkat elektronik, papan alfabet, papan gambar yang berisi kebutuhan dasar yang dapat ditunjuk oleh pasien yang berfungsi membantu dalam berkomunikasi. Metode penelitian adalah literature research, menitikberatkan pada pencarian beberapa penelitian sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran dari kepemimpinan transformasional meningkatkan AAC pada pasien stroke afasia motorik melalui insiparasional motivation dimana pemimpin menjadi contoh yang perlu ditiru oleh bawahan, memberi motivasi  yang kuat untuk berubah dengan bimbingan dan pelatihan AAC, individualizad consideration yaitu mendengar masukan – masukan untuk mau berubah menerapkan AAC, Idealized influence dimana pemimpin sebagai mentor yang memiliki kharisma membuat pengikutnya mau berlatih AAC, dan intellectual stimulation yaitu mendorong bawahan agar melihat persoalan afasia motorik dapat diminimalisir dengan AAC. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa  Gaya kepemimpinan transformasional dapat digunakan untuk upaya perawat melatih terapi AAC

    Hubungan Status Gizi Dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Pada Balita Di Puskesmas Mekarwangi Garut Tahun 2018

    Get PDF
    Acute respiratory tract infections is an acute infection caused by viruses, fungi and bacteria. Acute respiratory tract infections cases in Indonesia still rank first with a prevalence of 25% with malnutrition morbidity of 14.9%. In Garut District, the highest incidence of ARI was in Mekarwangi Health Center as many as 8004 cases and in 1840 children under five. While the prevalence of malnutrition or (thin) as many as 104 cases and 1 case of malnutrition. Nutritional status is a state of the body as a result of food consumption and use of nutrients. Differentiated between thin nutritional status, very thin, normal nutrition and fat nutrition. Nutritional status is one of the factors that play an important role in the health of children under five. If the nutritional status of under-fives or (underweight) toddlers will be susceptible to diseases, especially infectious diseases. The general objective of this study was to determine the relationship of nutritional status with the incidence of ARI in infants in Mekarwangi Garut Health Center in 2018. The type of research used was descriptive correlative, with a case control approach, a sample of 114 respondents divided into 57 case groups and 57 control groups. bivariate test analysis using chi-square. The results of the research on the nutritional status of most underweight children and half of children under five experienced acute respiratory tract infections. Conclusion there is a relationship between nutritional status with acute respiratory tract infections in infants in Mekarwangi Garut Public Health Center in 2018. It is recommended that health workers improve counseling to the public about the factors that affect acute respiratory tract infections  in order to be able to overcome and prevent, especially the problem of nutrition improvement.ISPA adalah penyakit Infeksi akut yang disebabkan oleh virus, jamur dan bakteri. Kasus ISPA di Indonesia masih menempati urutan pertama dengan prevalensi 25 % dengan morbiditas gizi kurang 14,9%. Di Kabupaten Garut kejadian ISPA terbanyak terdapat di Puskesmas Mekarwangi sebanyak 8004 kasus dan pada balita sebanyak 1840 kasus. Sedangkan prevalensi gizi kurang atau (kurus) sebanyak 104 kasus dan 1 kasus gizi buruk. Status gizi merupakan  keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Dibedakan antara status gizi kurus, sangat kurus, gizi normal  dan gizi gemuk. Status gizi merupakan salah satu faktor yang berperan penting terhadap kesehatan balita. Apabila status gizi balita kurang atau (kurus) balita akan mudah terserang penyakit, terutama penyakit infeksi. Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan status gizi dengan kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Mekarwangi Garut Tahun 2018. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelatif, dengan pendekatan case control, sampel 114 responden yang terbagi menjadi kelompok kasus 57 dan kelompok kontrol 57, analisa uji bivariat menggunakan chi-square. Hasil penelitian status gizi sebagian besar balita  kurus dan setengah dari balita mengalami ISPA. Kesimpulan terdapat hubungan antara status gizi dengan ISPA pada balita di Puskesmas Mekarwangi Garut Tahun 2018. Disarankan agar petugas kesehatan meningkatkan penyuluhan kepada masyarakat tentang faktor-faktor yang mempengaruhi ISPA agar bisa menanggulangi dan melakukan pencegahan terutama masalah perbaikan gizi

    Gambaran Kadar Hemoglobin pada Sediaan Produk Darah Packed Red Cells (PRC) selama Masa Simpan 20 hari

    Get PDF
    Packed Red cells (PRC) merupakan sediaan produk darah yang tercacat paling banyak digunakan pada transfusi darah. Indikasi penggunaan PRC adalah untuk menaikan kadar hemoglobin pada pasein. 1 unit PRC dapat menaikkan kadar hematokrit 3-5 %. Peran vital pemberian PRC dalam menaikkan kadar hemoglobin tidak terlepas dari fakta bahwa PRC terus mengalami penurunan kualitas selama masa penyimpanan. Hal ini disebabkan sel-sel darah mengalami lisis, sehingga berpengaruh secara langsung pada morfologi sel, kadar hemoglobin, pH darah, dan kadar ion-ion darah. Pada penelitian ini dilakukan pengamatan kadar Hemoglobin pada sediaan PRC selama masa simpan 20 hari menggunakan metode Rapid test. Sampel penelitian sejumlah 3 kantong darah PRC bergolongan darah O rhesus positif. Hasil pengamatan kadar Hemoglobin pada sampel PRC menunjukkan terjadi penurunan kadar PRC pada masa simpan 20 hari yang berkisar antara 7,8- 11,2%.Packed Red cells (PRC) merupakan sediaan produk darah yang tercacat paling banyak digunakan pada transfusi darah. Indikasi penggunaan PRC adalah untuk menaikan kadar hemoglobin pada pasein. 1 unit PRC dapat menaikkan kadar hematokrit 3-5 %. Peran vital pemberian PRC dalam menaikkan kadar hemoglobin tidak terlepas dari fakta bahwa PRC terus mengalami penurunan kualitas selama masa penyimpanan. Hal ini disebabkan sel-sel darah mengalami lisis, sehingga berpengaruh secara langsung pada morfologi sel, kadar hemoglobin, pH darah, dan kadar ion-ion darah. Pada penelitian ini dilakukan pengamatan kadar Hemoglobin pada sediaan PRC selama masa simpan 20 hari menggunakan metode Rapid test. Sampel penelitian sejumlah 3 kantong darah PRC bergolongan darah O rhesus positif. Hasil pengamatan kadar Hemoglobin pada sampel PRC menunjukkan terjadi penurunan kadar PRC pada masa simpan 20 hari yang berkisar antara 7,8- 11,2%

    Analisis Perbedaan Peak Expiratory Flow (PEF) Pada Atlet Olahraga Renang dan Lari

    Get PDF
    Background: Asthma is a chronic disease that can be found in all ages. Basic Health Research Data (RISKESDAS) 2013 shows the prevalence in Indonesia of 4.5%. Asthma affects the expiratory rate in the lungs. PEF is the maximum expiratory speed that can be achieved by a person, expressed in liters per minute (L / min) or liters per second (L / sec). PEF can be measured using PEF meter. PEF meter is a tool for measuring maximum expiratory speed. Aerobic exercise such as swimming and running is the recommended exercise for asthmatics. Objective: This study aims to study the differences in PEF in individuals who regularly exercise swimming and running. Method: This study is a comparative study. The subjects of this study were 20 athletes who actively sport swimming and 20 athletes who are active in running sport determined by purposive sampling technique. Data analysis using independent t test. Result: The results of the study using the independent t test sig.0,890 value which states the average value of PEF athletes pool and run the same. Conclusion: Based on the research the value of PEF athletes pool higher than the value of PEF athletes runLatar Belakang: Asma merupakan penyakit kronis yang dapat dijumpai di semua usia. Data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013 menunjukan prevalensi di Indonesia sebesar 4,5%. Penyakit asma berpengaruh terhadap kecepatan ekspirasi pada paru-paru. PEF adalah kecepatan ekspirasi maksimal yang bisa dicapai oleh seseorang, dinyatakan dalam liter per menit (L/menit) atau liter per detik (L/detik). PEF dapat diukur menggunakan PEF meter. PEF meter merupakan alat untuk mengukur kecepatan ekspirasi maksimal. Olahraga yang bersifat aerobik seperti renang dan lari adalah olahraga yang dianjurkan untuk penderita asma.  Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari perbedaan PEF pada individu yang rutin melakukan olahraga renang dan lari.  Metode: Penelitian ini merupakan studi komparatif. Subyek penelitian ini adalah 20 atlet yang aktif olahraga renang dan 20 atlet yang aktif olahraga lari yang ditentukan dengan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan uji t independent. Hasil: Hasil penelitian menggunakan uji t independent nilai sig.0,890 yang menyatakan rata–rata nilai PEF atlet renang dan lari sama. Kesimpulan: Berdasarkan penelitian nilai PEF atlet renang lebih tinggi dibandingkan nilai PEF atlet lari

    Hubungan Kualitas Tidur Dengan Kejadian Hipertensi Pada Lansia Di Panti Perlindungan Sosial Tresna Werdha Provinsi Jawa Barat

    Get PDF
    Sleep is a basic human need that must be fulfilled. As you get older the quality of one's sleep will decrease. Sleep quality is a measure where a person can easily start sleeping, can maintain a state of sleep and get adequate REM and NREM sleep stages. Poor sleep quality can increase the risk of hypertension, heart disease, and other medical conditions. Hypertension is the main risk factor for cardiovascular disease and is known as the silent killer because it is asymptomatic. The purpose of this study was to determine the relationship between sleep quality and the incidence of hypertension in the elderly. The type of research used was correlative with a case control approach, the sampling technique was purposive sampling with 74 elderly people divided into control groups and case groups. Data collection uses PSQI (Pittsburgh Sleep Quality Index) and medical records, then analyzed by Chi-square. The results showed that there was a correlation between sleep quality and the incidence of hypertension in the elderly at the Tresna Werdha Social Institution in West Java Province (p = 0.047, p <0.05) with a low closeness rate of 0.225. Health workers are expected to be able to provide information about the factors that influence the incidence of hypertension and make efforts that can improve sleep quality in the elderly.Tidur merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi.  Seiring bertambahnya usia kualitas tidur seseorang akan menurun. Kualitas tidur merupakan ukuran dimana seseorang itu dapat dengan mudah memulai tidur, dapat mempertahankan keadaan tidur dan mendapatkan tahapan tidur REM dan NREM yang cukup. Kualitas tidur yang buruk dapat meningkatkan resiko hipertensi, penyakit jantung, dan kondisi medis lainnya. Hipertensi merupakan faktor resiko utama penyebab penyakit kardiovaskuler dan dikenal sebagai silent killer (pembunuh dalam diam) karena tanpa gejala. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara kualitas tidur dengan kejadian hipertensi pada lansia. Jenis penelitian yang digunakan adalah korelatif dengan pendekatan case control, teknik pengambilan sampel dengan  purposive sampling sebanyak 74 lansia yang dibagi menja kelompok kontrol dan kelomok kasus. Pengumpulan data menggunakan PSQI (Pittsburgh Sleep Quality Index) dan rekam medis, kemudian dianalisis dengan Chi-square. Hasil penelitian menunjukan ada hubungan antara kualitas tidur dengan kejadian hipertensi pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Provinsi Jawa Barat (p = 0,047,p<0,05) dengan tingkat keeratan yang rendah yaitu 0,225. Petugas kesehatan diharapkan dapat memberikan  informasi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian hipertensi dan  melakukan upaya-upaya yang dapat meningkatkan kualitas tidur pada lansia

    Relaksasi Otot Progresif Dalam Meningkatkan Kualitas Tidur: Review Sistematik

    Get PDF
    Background: Untreated sleep quality can bring changes that can affect both physically and psychologically so that it can reduce sleep quality in menopausal women, one of the non-pharmacological management in improving sleep quality is progressive muscle relaxation by reducing muscle tension, eliminating fatigue so as to improve quality sleep in menopausal women. Objective: to determine the effectiveness of progressive muscle relaxation in improving sleep quality. Method: A systematic review through review of maternity nursing articles to identify the effect of progressive muscle relaxation in improving sleep quality in menopausal women. The article inclusion criteria used were the effect of progressive muscle relaxation in improving sleep quality, while the exclusion criteria ie articles were not full text. Search articles are accessed from databases, namely: Sciencedirect, Pubmed, JKI, JKD. Articles that meet the inclusion criteria are collected and examined systematically. Search for literature published from 2015 to 2018. the article search process gets 4 articles that meet the requirements for inclusion and exclusion criteria. Results: in this systematic review shows that progressive muscle relaxation can improve sleep quality. Conclusion: Progressive muscle relaxation can improve sleep qualityLatar Belakang: Kualitas tidur yang tidak ditangani dapat membawa perubahan yang dapat mempengaruhi fisik maupun psikologis sehingga dapat menurunkan kualitas tidur pada perempuan menopause, salah satu penatalaksanaan nonfarmakologis dalam meningkatkan kualitas tidur adalah relaksasi otot progresif dengan cara mengurangi ketegangan otot, menghilangkan kelelahan sehingga dapat meningkatkan kualitas tidur pada perempuan menopause. Tujuan: untuk mengetahui efektifitas relaksasi otot progresif dalam meningkatkan kualitas tidur. Metode: Sebuah tinjauan sistematika melalui review artikel keperawatan maternitas untuk mengidentifikasi pengaruh relaksasi otot progresif dalam meningkatkan kualitas tidur pada perempuan menopause. Kriteria inklusi artikel yang digunakan adalah pengaruh relaksasi otot progresif dalam meningkatkan kualitas tidur, sedangkan kriteria ekslusi yaitu artikel tidak full text. Pencarian artikel diakses dari database yaitu: Sciencedirect, Pubmed, JKI, JKD. Artikel yangmemenuhi kriteria inklusi dikumpulkan dan diperiksa secara sistematis. Pencarian literature yang di publikasikan dari tahun 2015 sampai 2018. Proses pencarian artikel mendapatkan 4 artikel yang memenuhi syarat kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil: Sistematik review ini menunjukan bahwa relaksasi otot progresif mampu meningkatkan kualitas tidur. Kesimpulan: relaksasi otot progresif mampu meningkatkan kualitas tidur

    Aktivitas Antibakteri Senyawa 2’-hidroksi-4’,6’ dimetoksikalkon

    No full text
    Kalkon merupakan senyawa flavanoid rantai terbuka yang memiliki beragam aktivitas farmakologis diantaranya sebagai antioksidan, antibakteri, antiinflamatori dan antikanker. Senyawa 2’-hidroksi-4’,6’-dimetoksikalkon telah dilaporkan memiliki aktivitas antikanker yang sangat baik dan bersifat selektif, yaitu hanya aktif mematikan sel kanker namun tidak mematikan sel normal. Aktivitas senyawa 2’-hidroksi-4’,6’-dimetoksikalkon yang baik terhadap sel kanker diharapkan juga bekerja pada bakteri. Penggunaan alkohol sebagai desinfektan pada proses aftap memberi resiko lisis darah, sehingga diperlukan senyawa kimia yang efektif sebagai antibakteri namun minim resiko melisiskan darah. Aktivitas antibakteri senyawa kalkon diuji menggunakan metode difusi agar dengan sumuran, zona bening yang terbentuk disekitar sumuran menunjukan aktivitas senyawa kalkon dalam menghambat pertumbuhan bakteri. Pada penelitian ini seluruh larutan kalkon dalam variasi konsentrasi 2;  4; 8; 10; dan 20 % tidak menunjukkan aktivitas penghambatan pertumbuhan bakteri, sedangkan pada sumuran yang diisi padatan kristal kalkon menunjukkan zona bening sekitar 1 mm sehingga dapat disimpulkan bahwa senyawa 2’-hidroksi-4’,6’-dimetoksikalkon tidak memiliki aktivitas sebagai antibakteri.Kalkon merupakan senyawa flavanoid rantai terbuka yang memiliki beragam aktivitas farmakologis diantaranya sebagai antioksidan, antibakteri, antiinflamatori dan antikanker. Senyawa 2’-hidroksi-4’,6’-dimetoksikalkon telah dilaporkan memiliki aktivitas antikanker yang sangat baik dan bersifat selektif, yaitu hanya aktif mematikan sel kanker namun tidak mematikan sel normal. Aktivitas senyawa 2’-hidroksi-4’,6’-dimetoksikalkon yang baik terhadap sel kanker diharapkan juga bekerja pada bakteri. Penggunaan alkohol sebagai desinfektan pada proses aftap memberi resiko lisis darah, sehingga diperlukan senyawa kimia yang efektif sebagai antibakteri namun minim resiko melisiskan darah. Aktivitas antibakteri senyawa kalkon diuji menggunakan metode difusi agar dengan sumuran, zona bening yang terbentuk disekitar sumuran menunjukan aktivitas senyawa kalkon dalam menghambat pertumbuhan bakteri. Pada penelitian ini seluruh larutan kalkon dalam variasi konsentrasi 2;  4; 8; 10; dan 20 % tidak menunjukkan aktivitas penghambatan pertumbuhan bakteri, sedangkan pada sumuran yang diisi padatan kristal kalkon menunjukkan zona bening sekitar 1 mm sehingga dapat disimpulkan bahwa senyawa 2’-hidroksi-4’,6’-dimetoksikalkon tidak memiliki aktivitas sebagai antibakteri

    Meningkatkan Kemandirian Perawatan Diri Ibu Postpartum Melalui Transformational Leadership: Literature Review

    Get PDF
    Background: Self-care for postpartum mothers is very necessary, based on Orem's theory that humans basically have the ability to care for themselves. The way to improve mother's independence is by the influence of a leader (health worker). Transformational leadership is a leadership style that can motivate subordinates to be able to do better, in this case can be applied in improving the independence of postpartum mothers. Objective: Provide an overview of how to improve self-care of postpartum mothers through transformational leadership. Method: The method used in the search process using the PubMeds website, Nursing Journal Bina Husada, Diponegoro Nursing Journal. Search keywords are independence, postpartum mothers, self care. Result: Idealized / Charismatic Influence: the influence of a leader is needed to create an ideal influence, the experience of childbirth supports the ability of postpartum mothers to perform postpartum care. Inspirational Motivation: motivation and inspiration that can provide encouragement, independent family development affects the level of mother's independence. Individualized Consideration: a nurse must be able to respect the patient's background and environment in order to create a harmonious relationship and increase the patient's confidence. Intellectual Stimulation: transformational leadership style that encourages subordinates to solve problems carefully, the higher the level of knowledge the easier it is to receive information. Conclusion: Postpartum mother independence can be improved through transformational leadershipPendahuluan: Perawatan diri secara mandiri pada ibu nifas sangat diperlukan, berdasarkan Teori Orem manusia pada dasarnya mempunyai kemampuan untuk merawat dirinya sendiri. Cara untuk meningkatkan kemandirian ibu adalah dengan adanya pengaruh seorang pemimpin (tenaga kesehatan). Kepemimpinan transformasional adalaha gaya kepemimpinan yang dapat memotivasi bawahannya untuk dapat beebuat lebih baik, dalam hal ini dapat diterapkan dalam meningkatkan kemandirian ibu nifas. Tujuan: Memberikan gambaran terhadap cara meningkatkan kemandirian perawatan diri ibu postpartum melalui kepemimpinan transformasional. Metode: Metode yang digunakan dalam proses pencarian dengan menggunakan website PubMeds, Jurnal Keperawatan Bina Husada, Jurnal Keperawatan Diponegoro. Kata kunci pencarian yaitu kemandirian, ibu nifas, perawatan diri. Hasil dan Pembahasan: Idealized/Charismatic Influence: pengaruh dari seorang pemimpin sangat dibutuhkan agar menimbulkan pengaruh yang ideal, pengalaman melahirkan mendukung kemampuan ibu nifas dalam melakukan perawatan masa nifas. Inspirational Motivation: motivasi dan inspirasi yang dapat memberikan dorongan, bina keluarga mandiri berpengaruh terhadap tingkat kemandirian ibu. Individualized Consideration: seorang perawat harus mampu menghargai latarbelakang dan lingkungan pasien agar tercipta hubungan yang harmonis dan meningkatkan rasa percaya diri pasien. Intellectual Stimulation: gaya kepemimpinan transformasional yang mendorong bawahannya untuk menyelesaikan permasalahan dengan cermat, makin tinggi tingkat pengetahuan makin mudah menerima informasi. Kesimpulan: Kemandirian ibu nifas dapat ditingkatkan melalui kepemimpinan transformasional

    Analisis Faktor Demografi yang Berhubungan dengan Distres Pasien Rawat Inap Diabetes Tipe II di Yogyakarta

    Get PDF
    The high expectations and tightness of the diabetes therapy regimen is one of the biggest causes of distress in DM patients who are characterized by feelings of despair, worry about financing treatment, frustration due to uncontrolled blood glucose and blood pressure, and fear of the threat of further complications from DM. The aim of this study was to identify the demographic characteristics associated with distress in type 2 diabetes patients in Yogyakarta. There are five demographic factors identified as independent variables in this study including age, gender, education level, duration of diabetes and comorbidities. The results showed that most diabetic patients experienced mild distress (68.8%), moderate (31.3%), and severe (0%). The most associated factor with diabetes distress is the level of education [p = 0.039; 95% confidence interval (CI): 0.464-9.889] Patients with lower levels of education have a risk of 2,143 times having diabetes distress [Exp (B): 2,143)].Tingginya harapan maupun ketatnya regimen terapi diabetes menjadi salah satu penyebab terbesar munculnya distress pada pasien DM yang ditandai perasaan putus asa, cemas akan akan pembiayaan pengobatan, perasaan frustasi akibat glukosa darah dan tekanan darah yang tidak terkontrol, serta takut akan ancaman terjadinya komplikasi lanjutan dari DM. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor karakteristik demografi yang berhubungan dengan distress pada pasien diabetes tipe 2 di Yogyakarta. Terdapat lima faktor demografi yang diidentifikasi peneliti sebagai variabel bebas dalam penelitian ini meliputi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, lama menderita diabetes serta ada tidaknya komorbid diabetes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien diabetes mengalami distress ringan (68,8%), sedang (31,3%), dan berat (0%). Faktor yang paling berhubungan dengan diabetes distres adalah tingkat pendidikan [p=0,039; 95% confidence interval (CI): 0,464-9,898]. Pasien dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah berisiko 2,143 kali mengalami diabetes distress [Exp(B): 2,143)]

    Potensi Etnomedicine Daun Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L. Poir) dan Daun Ubi Jalar Putih (Ipomoea batatas L.) Sebagai Obat Demam Berdarah di Sleman DIY

    Get PDF
    Pendahuluan: Kearifan lokal, pengobatan tradisonal, dan pengetahuan etnobotani perlu dipelajari dan dikembangkan. Salah satu masalah yang masih sering terjadi pada masyarakat adalah munculnya penyakit demam berdarah yang disebabkan nyamuk Aedes Aegypti. Demam Berdarah Dengue merupakan  penyakit yang ditakuti karena menurunkan konsentrasi trombosit ke tingkat rendah (trombositopenia) dan dapat menyebabkan perdarahan. Jumlah sel trombosit yang rendah, harus segera ditingkatkan untuk menghindari terjadinya syok. Secara empiris, masyarakat menggunakan air rebusan daun ubi jalar pada kasus-kasus DBD (Demam Berdarah Dengue) dan menunjukkan perbaikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi etnomedicine daun ubi jalar ungu (ipomoea batatas l. poir) sebagai obat  demam berdarah di wilayah Sleman, DIY. Selain itu juga untuk mengetahui persentase peningkatan jumlah trombosit pada Tikus Putih (Rattus norvegicus) dengan pemberian infusa Daun Ubi Jalar Ungu dan ubi jalar putih (Ipomoea batatas .L) Jenis penelitian: True experimental dengan rancangan penelitian pretest dan post test with control group design. Penelitian ini menggunakan 35 tikus putih jantan yang dibagi dalam 7 kelompok perlakuan infusa  daun ubi jalar ungu yaitu kelompok kontrol, kelompok dosis ringan, kelompok dosis sedang dan kelompok dosis berat untuk masing-masing infusa daun ubi jalar. Tikus diturunkan jumlah trombositnya melalui mekanisme kerusakan limpa dengan induksi anilin secara intravena. Setelah 24 jam penginduksian, hewan coba diberi perlakuan sesuai kelompok. Semua kelompok dihitung jumlah trombositnya sebelum dan sesudah perlakuan. Data yang diperoleh dari hasil penelitian dianalisis secara deskriptif yang disajikan dalam bentuk tabel dan narasi. Hasil penelitian: Terjadi peningkatan jumlah trombosit pada kelompok kontrol sebanyak 43%. Pada kelompok infusa daun ubi jalar ungu dosis ringan tidak ada peningkatan, kelompok dosis sedang meningkat sebesar 94%, dan kelompok dosis tinggi diperoleh  peningkatan sebesar  224%. Pada kelompok infusa dun ubi jalar putih terdapat peningkatan pada dosis tinggi yaitu 7,2 ml/200gr BB atau 26,46 %. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa pemberian infusa daun ubi jalar putih pada pre test dan post test memiliki perbedaan yang bermakna dengan nilai p value 0,023. Sedangkan pemberian infusa daun ubi jalar ungu sebelum dan sesudah perlakuan tidak memiliki perbedaan secara bermakna yang ditunjukkan dengan nilai p value 0,550. Kesimpulan: Infusa daun ubi jalar ungu mampu meningkatkan jumlah trombosit yang lebih banyak dibandingkan dengan infusa daun ubi jalar putih. Infusa daun ubi jalar ungu dan ubi jalar putih memiliki potensi etnomedicine sebagai obat demam berdarah di Sleman, DIY

    0

    full texts

    0

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    OJS STIKES Guna Bangsa Yogyakarta
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇