OJS STIKES Guna Bangsa Yogyakarta
Not a member yet
    272 research outputs found

    Gambaran Indeks Eritrosit Pada Anak Jalanan Di Kota Yogyakarta

    Get PDF
    The transportation sector has proven to be one of the causes of lead pollution in the air. Lead pollution is a result of vehicle fuel use. Lead is a metal that is very dangerous because it can accumulate in the body resulting in reduced production of erythrocytes and erythrocyte morphological abnormalities. Buskers have a risk of red cell Indices abnormalities due to exposure to vehicle exhaust gas every day. Buskers in the city of Yogyakarta carry out activities (busking) every day around trafficlight so that it will increase the risk of respiratory poisoning. The study was conducted by giving questionnaires to 32 respondents and the red cell Indices examination was performed using a hematology analyzer. The results showed that the average value of red cell Indices based on sex, age, duration of work, alcohol and cigarette consumption habits were still within normal limits (normocytic normochromic). There are no red cell Indices abnormalities (size and color) in buskers in Yogayakarta CitySektor transportasi terbukti menjadi salah satu penyebab pencemaran timbal di udara. Pencemaran Timbal merupakan akibat dari penggunaan bahan bakar kendaraan. Timbal merupakan metal yang sangat berbahaya karena dapat terakumulasi dalam tubuh sehingga mengakibatkan menurunya produksi eritrosit dan kelainan morfologi eritrosit.  Anak jalanan memiliki resiko kelainan indeks eritrosit akibat terpapar gas buang kendaraan setiap hari. Anak jalanan yang berada di kota Yogyakarta melakukan aktifitasnya (mengamen) setiap hari di sekitar trafficlight sehingga akan meningkatkan resiko keracunan timbal melalui pernafasan. Penelitian dilakukan dengan memberikan kuisioner pada 32 responden dan pemeriksaan indeks eritrosit dilakukan menggunakan hematology analyzer.  Hasil penelitian menunjukan rata-rata nilai indeks eritrosit anak jalanan berdasarkan jenis kelamin, usia, lama bekerja, kebiasaan konsumsi alkohol dan rokok masih berada dalam batas normal (normositik normokromik). Tidak terdapat kelainan indeks eritrosit (ukuran dan warna eritrosit) pada anak jalanan di Kota Yogayakart

    Gambaran Aktivitas Fisik Pada Individu Obesitas Di Wilayah Kerja Puskesmas Sidorejo Kidul Salatiga

    Get PDF
    Background: Obesity is one of the health problems related to the prevalence of cardiometabolic disease. WHO states that obesity is a complex, serious problem experienced by all age groups, ranging from children, adults to the elderly. Obesity must be treated immediately because it has the potential to become a health problem (1). In obese patients who have a Body Mass Index (BMI)> 30 kg / m2 will increase the risk of Coronary Heart Disease (CHD), both men and women. The American Heart Association (AHA) classifies obesity as a risk factor for coronary heart disease. Someone with central Obesity (upper body obesity) will be easily exposed to the risk of heart disease and other metabolic diseases known as metabolic syndrome compared with ginoid obesity (lower body obesity) is very small will be the risk of metabolic disease and coronary heart disease. Objective: The purpose of the study to determine the description of community behavior seen from the point of view of physical activity that became one of the causes of obesity in Salatiga City. Method: This research method is descriptive quantitative with observation approach. The population in this study is the people who have checked themselves to the Puskesmas Sidorejo Kidul, each from the scope of work area of Sidorejo Kidul Puskesmas. The inclusion criteria applied were: 1) people living in the working area of pusidmas sidorejo kidul, 2) aged 40 years and over, 3) IMT more than 27,0. Variables studied in this research is the intensity of physical activity and BMI. The instrument used to measure the intensity of physical activity is the Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ). The interview was conducted to identify the understanding of the community in the work area of Sidorejo Kidul Public Health Center towards obesity and physical activity. Result: After all the data collected the results of the research were carried out by analyzing the data by data reduction, data presentation, drawing conclusions, and verification. Setelah semua data terkumpul hasil penelitian dilakukan dengan cara analisa data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, dan verifikasi. Conclusion: The physical activity of the elderly in the working area of the Puskesmas Sidorejo in the city of Salatiga, based on the Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) calculation is included in the medium category of 50% with physical activities generally carried out by housewives such as sweeping, mopping, cooking, and wash. As many as 15% of the elderly are in the category of low physical activity and the rest are included in the high category of 35%.Latar Belakang: Obesitas merupakan salah satu masalah kesehatan yang berkaitan dengan prevalensi penyakit kardiometabolik. WHO menyatakan bahwa obesitas merupakan masalah serius yang kompleks yang dialami oleh segala kelompok umur, mulai dari anak – anak, dewasa sampai lansia. Obesitas harus segera ditangani karena berpotensi menjadi suatu masalah kesehatan (1). Pada penderita obesitas yang memiliki Indeks Masa Tubuh (IMT) > 30 kg/m2 akan meningkatkan risiko Penyakit Jantung Koroner (PJK), baik pada laki – laki maupun perempuan. American Heart Association (AHA) mengklasifikasikan obesitas sebagai faktor risiko terjadinya penyakit jantung koroner. Seseorang dengan Obesitas sentral (upper body obesity) akan mudah terkena risiko penyakit jantung dan penyakit metabolik lain yang dikenal sebagai sindrom metabolik dibandingkan dengan obesitas ginoid (lower body obesity) sangat kecil akan risiko terjadinya penyakit metabolik dan jantung koroner.  Tujuan: Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran perilaku masyarakat dilihat dari sudut pandang aktivitas fisik yang menjadi salah satu penyebab kejadian obesitas di Kota Salatiga.  Metode: Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan observasi. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang pernah memeriksakan diri ke Puskesmas Sidorejo Kidul, masing – masing berasal dari lingkup wilayah kerja Puskesmas Sidorejo Kidul. Kriteria inklusi yang diterapkan adalah: 1) masyarakat yang tinggal di wilayah kerja puskesmas sidorejo kidul, 2) berusia 40 tahun ke atas, 3) IMT lebih dari 27,0 .variabel yang dipelajari dalam penelitian ini adalah intensitas aktivitas fisik dan IMT. Instrumen yang dipakai untuk mengukur intensitas aktivitas fisik adalah Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ). Wawancara dilakukan untuk mengidentifikasi pemahaman masyarakat yang ada di wilayah kerja Puskesmas Sidorejo Kidul terhadap obesitas dan aktivitas fisik. Hasil: Setelah semua data terkumpul, hasil penelitian dilakukan dengan menganalisis data dengan reduksi data, penyajian data, penarikan simpulan, dan verifikasi. Setelah semua data terkumpul hasil penelitian dilakukan dengan cara analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, kesimpulan, dan verifikasi. Kesimpulan: Aktivitas fisik para lansia yang berada di wilayah kerja puskesmas sidorejo kidul kota salatiga, berdasarkan penghitungan Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) termasuk dalam kategori sedang 50% dengan aktivitas fisik yang umumnya dilakuan oleh Ibu Rumah Tangga (IRT) seperti menyapu, mengepel, masak, dan mencuci. Sebanyak 15% lansia berada dalam kategori aktifitas fisik rendah dan sisanya termasuk dalam kategori tinggi 35%

    Analisis Faktor Risiko Terjadinya Stres Oksidatif Pada Wanita Obesitas

    Get PDF
    Obesity is a condition of imbalance in the number of calories entered by the number of calories where the excess is heaped up as body fat. Obesity followed by an increase in fat metabolism will cause Reactive Oxygen Species (ROS) production to increase. This condition causes oxidative stress. Indicators of oxidative stress can be observed from plasma levels of Malondialdehyde (MDA). This study aims to determine the risk factors for oxidative stress in obese women. The results of this study indicate that high fat intake (> 60 g / day) is at risk of increasing MDA-P levels twice. Low fiber consumption (<30 gr / day) gives the risk of an increase in MDA-P levels of 2.09 times. Poor physical activity is a risk factor for MDA-P increase of 1.15 times. High cholesterol (> 200mg / l) and LDL (> 130 mg / l) and low HDL (≤45mg / dl) levels are at risk of increasing MDA-P levels by 1.02 times (cholesterol), 1.13 (LDL) ) and 1.12 (HDL). Based on this study it can be concluded that high fat intake, low fiber intake, low physical activity, high cholesterol and HDL levels and low HDL levels are risk factors for oxidative stress.Obesitas merupakan suatu kondisi ketidakseimbangan jumlah kalori yang masuk dengan jumlah kalori dimana kelebihannya ditimbun sebagai lemak tubuh. Obesitas yang diikuti dengan peningkatan metabolisme lemak akan menyebabkan produksi Reactive Oxygen Species (ROS) meningkat. Kondisi ini menyebabkan terjadinya stres oksidatif. Indikator terjadinya stres oksidatif dapat diamati dari kadar Malondialdehida (MDA) plasma. Penelitian ini bertujuan  untuk mengetahui faktor risiko terjadinya stres oksidatif pada wanita obesitas. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa asupan lemak yang tinggi (>60 g/hari) berisiko peningkatan kadar MDA-P sebanyak dua kali. Konsumsi serat yang rendah (< 30 gr/hari) memberikan rIsiko terjadinya peningkatan kadar MDA-P sebesar 2,09 kali. Aktifitas fisik yang kurang menjadi faktor risiko peningkatan MDA-P sebanyak 1,15 kali. Kadar kolesterol (>200mg/l) dan LDL (>130 mg/l) yang tinggi dan kadar HDL (≤45mg/dl) yang rendah beresiko peningkatan kadar MDA-P sebanyak 1,02 kali (kolesterol), 1,13 (LDL) serta 1,12 (HDL). Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa asupan lemak yang tinggi, asupan serat yang rendah, aktifitas fisik yang rendah, kadar kolesterol dan HDL yang tinggi serta kadar HDL yang rendah menjadi faktor risiko terjadinya stres oksidatif

    Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Pemberantasan Sarang Nyamuk dalam Upaya Pencegahan Penyakit Demam Berdarah di Desa Sumbermulyo Bambanglipuro Bantul

    Get PDF
    Dengue hemorrhagic fever (DHF) is an endemic disease in Bantul district. Counselling of pandemic Society and mosquito eradication program has been conducted to increase knowledge and the chance of happened behavioral change the effort to eliminate behavior of eradication mosquitonest. But infect Dengue Hemorragic Fever insidensi still be high. There are three factor play a part in infection of DHFdisease, that is virus agent, human being and environment, beside Aedes aegypti mosquito as infection vektors such as.Goal of: The relationship of knowledge with the effort to eliminate behavior of eradication mosquitonest in the attempt preventing of disease dengue in Sumbermulyo Bambanglipuro Bantul. Method: This research was a quantitative research with descriptive method survey. 77 people was taken by using Non Probability sampling technique with Purposive Sampling method. Test Validity is product moment pearson and test reliabilitas is cronbach alpha and continued with Chi Square data analysis. Prevalency value < 1.Chi-square was used to analize data. Result of: to the result of this study was 0,453. This result indicatied that there was no relationship between knowledge and PSN's behaviors in this Village Sumbermulyo Bambanglipuro Bantul. It is recommended to increase the community knowledge about the PSN program by using the appropriate strategy. The level of knwledge and the effort to eliminate behavior of eradication mosquitonestDemam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit yang endemis di kabupaten Bantul. Penyuluhan masyarakat tentang penyakit DBD dan program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) telah dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan dengan harapan terjadi perubahan perilaku pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Tetapi insidensi DBD masih terus tinggi. Tiga faktor yang berperan dalam penularan penyakit DBD, yaitu virus (agen), manusia (penjamu), dan lingkungan, di samping nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor penularan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan perilaku pemberantasan sarang nyamuk dalam upaya pencegahan penyakit demam berdarah di desa Sumbermulyo Bambanglipuro Bantul. Metode penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif survey. Dalam penelitian ini digunakan sampel sebanyak 77 orang dengan menggunakan dengan menggunakan teknik Non Probability sampling dengan metode purposive sampling. Uji validitas menggunakan uji pearson product moment sedangkan uji reliabilitas menggunakan alfa cronbach dan dilanjutkan dengan analisis data Chi Square. Nilai Ratio Prevalensi yaitu RP<1. Analisis data menggunakan chi-square diperoleh nilai koefisiensi korelasi sebesar 0,563 dengan nilai probabilitas 0,556 yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan perilaku PSN di desa Sumbermulyo Bambanglipuro Bantul.. Disarankan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang program PSN dengan strategi yang tepat. Tingkat pengetahuan dan perilaku pemberantasan sarang nyamu

    Kebiasaan Tidak Menggunakan Selimut/Pakaian Lengkap Sewaktu Tidur Malam Sebagai Faktor Risiko Terinfeksi Filariasis Pada Anak Usia Sekolah Dasar

    Get PDF
    Filariasis is caused by 3 species of filarial worms and is transmitted by the Culex quinquefasciatus mosquito. Pekalongan Regency is an endemic filariasis area with an Mf rate of >1%. The prevalence of filariasis in primary school children is 1.98% in Tirto and Buaran Subdistricts, the behavior of using blankets / complete clothing while sleeping at night in children needs to be studied further to prove the risk factors for filariasis. This study is a cross sectional analytic study, to prove the use of blankets / complete clothing during night sleep as a risk factor for the incidence of filariasis, using purposive samples of 84 samples of primary school age children in grades 3, 4, 5, 6. The stage of this research is finger blood screening using Immunochromatographic Card Test (ICT), indept interview and direct observation in Tirto and Buaran Subdistricts of Pekalongan Regency. The results of screening 17 positive and 67 negative filariasis were obtained. The results of the analysis using Chi Square did not use blankets / complete clothing while sleeping at night, p = 0,000 and POR = 10,967 (95% CI: 2,837-42,400). Not using mosquito nets when sleeping at night p value = 0.022 and POR = 4.527 (95% CI: 1.335-15.3353). The habit of playing in the open space / place of breeding / resting vector is obtained p = 0.830 and POR = 1.383 (95% CI: 0.401-4.764). Not using blankets / complete clothes while sleeping at night and not using mosquito nets while sleeping at night is a possible risk factor for filariasis in primary school-aged children.Filariasis disebabkan oleh 3 spesies cacing filaria dan ditularkan oleh nyamuk Culex quinquefasciatus. Kabupaten Pekalongan merupakan daerah endemis filariasis dengan Mf rate > 1%. Prevalensi kejadian filariasis pada anak usia sekolah dasar 1,98% di Kecamatan Tirto dan Buaran, perilaku penggunaan selimut/ pakaian lengkap sewaktu tidur malam pada anak perlu dipelajari lebih lanjut untuk membuktikan faktor risiko kejadian filariasis. Penelitian ini merupakan penelitian Cross Sectional analitik, untuk membuktikan penggunaan selimut/pakaian lengkap sewaktu tidur malam sebagai faktor risiko kejadian filariasis, dengan menggunakan sampel purposif sebanyak 84 sampel anak usia sekolah dasar kelas 3, 4, 5, 6. Tahap penelitian ini skrining darah jari menggunakan Immunochromatographic Card Test (ICT), indept interview dan observasi langsung di Kecamatan Tirto dan Buaran Kabupaten Pekalongan. Berdasarkan hasil skrining didapatkan 17 positif dan 67 negatif filariasis. Hasil analisis menggunakan Chi Square tidak menggunakan selimut/pakaian lengkap sewaktu tidur malam didapatkan nilai p = 0,000 dan POR = 10,967 (95% CI : 2,837-42,400). Tidak menggunakan kelambu sewaktu tidur malam didapatkan nilai p = 0,022 dan POR = 4,527 (95% CI : 1,335-15,353). Kebiasaan bermain di ruang terbuka/tempat perindukan/istirahat vektor didapatkan nilai p = 0,830 dan POR = 1,383 (95% CI : 0,401-4,764). Tidak menggunakan selimut/pakaian lengkap sewaktu tidur malam dan tidak menggunakan kelambu sewaktu tidur malam dimungkinkan merupakan faktor risiko kejadian filariasis pada anak usia sekolah dasar

    Gambaran Golongan Darah ABO-Rhesus dan Pola Sidik Jari Pada Mahasiswa Program Studi D-3 Teknologi Transfusi Darah STIKES Guna Bangsa Yogyakarta

    Get PDF
    Human identification is the recognition of individuals based on some physical characteristics that are unique to individuals. Fingerprints are constant, individuality and form the most reliable criteria for identification. ABO-Rhesus Blood group is also one method used to identify someone, because blood type is inheritance. This research was conducted to see the description of ABO-Rhesus blood group and fingerprint patterns students D-3 Teknologi Transfusi Darah STIKES Guna Bangsa Yogyakarta. In this study using quantitative cross sectional descriptive research and blood group samples were taken using the slide method and fingerprint patterns were taken using the fingerprint method. In this study there were 78 samples, 58 females (74.36%) and 20 males (25.64%). The ABO blood group that is dominant is blood type O(35.90%), followed by blood group A(29.49%), B(28.21%), and AB(6.41%). The dominant Rhesus blood type is the positive Rhesus blood group. The percentage of fingerprint patterns in this study was loop 61.03%, whorl 37.56%, and arch 1.41%. The characteristics of the right and left hand fingerprint patterns have the same percentage of arch fingerprint patterns found on the index finger. Whorl fingerprint patterns are found on the ring finger. Loop fingerprint patterns are found on the little finger.Identifikasi manusia adalah pengakuan individu berdasarkan beberapa karakteristik fisik yang khas pada individu. Sidik jari bersifat konstan, individualitas dan membentuk kriteria yang paling dapat diandalkan untuk identifikasi. Golongan darah ABO-Rhesus juga salah satu metode yang digunakan untuk mengidentifikasi seseorang, karena golongan darah merupakan sifat yang inheritance.Penelitian ini dilakukan untuk melihat gambaran golongan darah ABO-Rhesus dan pola sidik jari pada mahasiswa D-3 Teknologi Transfusi Darah STIKES Guna Bangsa Yogyakarta. Pada penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif cross sectional secara kuantitatif dan sampel golongan darah diambil menggunakan metode slide dan pola sidik jari diambil menggunakan metode cap jari.Pada penelitian ini terdapat 78 sampel, perempuan 58 (74,36%) dan laki-laki 20 (25,64%). Golongan darah ABO yang dominan adalah golongan darah O (35,90%), diikuti oleh golongan darah A (29,49%), B (28,21%), dan AB (6,41%). Golongan darah Rhesus yang dominan adalah golongan darah Rhesus positif. Persentase pola sidik jari pada penelitian ini adalah loop 61,03%, whorl 37,56%, dan arch 1,41%. Karakteristik pola sidik jari tangan kanan dan tangan kiri memiliki persentase yang sama yaitu pola sidik jari arch banyak ditemukan pada jari telunjuk. Pola sidik jari whorl banyak ditemukan pada jari manis. Pola sidik jari loop banyak ditemukan pada jari kelingking

    Hubungan Perilaku Minum Teh Dengan Kadar Hemoglobin Pada Mahasiswa STIKes Guna Bangsa Yogyakarta

    Get PDF
    Iron has an important role in the body that functions to transport oxygen from the lungs to all body tissues through hemoglobin in the blood. Iron deficiency is one of the factors causing anemia. Anemia can be diagnosed from a level of hemoglobin. If a person's has Hb level is low, it can be said that the person is suffering from anemia. The low Hb level can be influenced by several factors, one of which is the consumption of tea. The content of tannins in tea can reduce iron absorption by the body. This study aims to analyze the relationship between drinking of tea behavior in STIKES Guna Bangsa Yogyakarta students with level of hemoglobin. The method is carried out by direct interviews with 55 samples of female students and level of henoglobin were checked using the Hb meter automatic. The results obtained were that 71% of the samples consumed tea and 29% did not consume tea. 53.85% of the sample who consumed tea had a low Hb level whereas 68.75% of the samples that did not consume tea had normal Hb levels. Data from the results of chi-square analysis obtained a value of p = 0.001 <0.05, which means that there is a relationship between the behavior of tea drinking with hemoglobin levels in STIKES students for YogyakartaZat besi memiliki peranan penting dalam tubuh yang berfungsi untuk mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh melalui hemoglobin dalam darah. Defisiensi zat besi merupakan salah satu faktor penyebab anemia. Anemia dapat didiagnosa dari kadar Hb seseorang. Apabila kadar Hb seseorang rendah maka dapat dikatakan orang tersebut menderita anemia. Rendahnya kadar Hb dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah konsumsi teh. Kandungan tanin dalam teh dapat mengurangi penyerapan zat besi oleh tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara perilaku minum teh pada mahasiswa STIKES Guna Bangsa Yogyakarta dengan kadar Hb. Metode yang dilakukan dengan wawancara langsung terhadap 55 sampel mahasiswa yang berjenis kelamin perempuan dan dilakukan pengecekan kadar Hb menggunakan Hb meter automatic. Hasil yang didapat bahwa sebanyak 71% sampel mengkonsumsi teh dan 29% tidak mengkonsumsi teh. 53,85% sampel yang mengkonsumsi teh memiliki kadar Hb rendah sedangkan 68,75% sampel yang tidak mengkonsumsi teh memiliki kadar Hb normal. Data hasil hasil analisis chi square diperoleh nilai p = 0,001< 0,05, yang berarti bahwa terdapat hubungan antara perilaku minum teh dengan kadar Hemoglobin pada mahasiswa STIKES Guna Bangsa Yogyakarta

    Perbedaan Persepsi Mahasiswa Terhadap Kompetensi Preceptor Klinik Dan Preceptor Akademik pada Stase Keperawatan Dasar Profesi (KDP) Program Studi Ners Stikes Guna Bangsa Yogyakarta

    Get PDF
    Background: Clinical practice in nursing is an opportunity for all students to translate theoretical knowledge into actual action. In the clinic environment, students jwill be motivated by the suitability of competencies carried out through active participation in clinical learning, while thinking, action, and professional attitudes are played by clinical counselors (preceptors). Objective: To know the difference between student perceptions of clinical preceptor competency and academic preceptor on Basic Nursing Professional Stase. Research Method: This type of research uses descriptive comparative with cross sectional method. The population of this study was all Ners profession students. The research sample amounted to 48 respondents taken using the total sampling technique. Data collection uses questionnaires and the results of statistical tests used are T-test analysis. Results: Based on the research, students 'perceptions of clinical preceptor competency in the medium category were 32 (66.7%) and the students' perceptions of academic preceptor competencies in the high category were 26 (54.2%). The results of the analysis of the T test (t-test), obtained the value of tcount = 0.006. Thus the value of tcount <0.05, it is stated that the hypothesis Ha is accepted. Conclusion: There is a difference between student perceptions of clinical preceptor competency and academic preceptor on Basic Nursing Professional Stase (KDP)

    Pengaruh Faktor Eksposi dengan Ketebalan Objek pada Pemeriksaan Foto Thorax Terhadap Gambaran Radiografi

    Get PDF
    Telah dilakukan penelitian tentang hubungan faktor exspos dengan ketebalan objek pada pemeriksaan foto thorax terhadap hasil gambaran radiografi menggunakan pesawat sinar-X. Pemberian faktor ekspos yang tidak sesuai dapat menyebabkan radiograf tidak dapat memberikan informasi secara optimal, faktor ekspos yang terlalu tinggi dapat menyebabkan hasil radiografi hitam (gelap) begitu juga pemberian faktor ekspos yang terlalu rendah akan mengakibatkan hasil menjadi putih (terang). Perbedaan pemberian faktor ekspos pada setiap pengambilan foto radiografi dipengaruhi oleh ketebalan yang dimiliki tiap objek. Semakin tebal objek yang akan difoto maka faktor ekspos yang digunakan akan semakin tinggi. Untuk mendapatkan hasil radiografi yang bagus diperlukan faktor ekspos yang tepat sehingga dapat membantu dalam mendiagnosa untuk tahap selanjutnya. Dari hasil pengamatan di lapangan didapatkan nilai untuk faktor eksposipada ketebalan objek 14cm; kV:47, mAs:7,1, t:35 ,16cm; kV:48, mAs:8, t:39 ,18cm; kV:49, mAs:9, t:45

    Kadar Kolesterol Total Tikus Hiperkolesterolemia dengan Pemberian Ekstrak Etanol Daun Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas (L.) Lam)

    Get PDF
    The increase in total cholesterol level increases the risk of cardiovascular disease. Sweet potato leaves are a food that contains polyphenols, flavonoids, quercetin, tannin, and fiber that effectively lower total cholesterol levels. This study aims to analyze the effect of ethanol extracts of leaf purple sweet potato on serum total cholesterol levels of rats fed a high-fat diet. An experimental study with design pre and posttest carried out on 10 male Wistar rats (Rattus norvegicus) fed a high-fat, which are 2 groups: 1 group the control hypercholesterolemia and 1 group ethanol extracts of leaf purple sweet potato. Dose based on leaves of quercetin that is equal to 2 mg/kgBB. The average content of quercetin ethanol extracts of leaf purple sweet potato was analyzed to obtain 14,08 mg/100g. Ethanol extracts of leaf purple sweet potato are given for 14 days by way of on the sonde. Serum total cholesterol was determined by the CHOD-PAP method. The data obtained were analyzed descriptively.The result of this study obtained the average total cholesterol level of white blood rats before giving ethanol extracts of leaf purple sweet potato that is 189,89 mg/dl, whereas after administration of ethanol extracts of leaf purple sweet potato dose 2 mg/kgBB that is 131,92 mg/dl. The decrease in total cholesterol level of white rats after giving ethanol extracts of leaf purple sweet potato with dose 2 mg/kgBB that is 30,52 %.Peningkatan kadar kolesterol total meningkatkan resiko terjadinya penyakit kardiovaskuler. Daun ubi jalar merupakan bahan makanan yang mengandung polifenol, flavonoid, quercetin, tannin, dan serat yang efektif menurunkan kadar kolesterol total. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar kolesterol total pada tikus hiperkolesterolemia sebelum dan sesudah pemberian ekstrak etanol daun ubi jalar ungu (Ipomoea batatas (L.) Lam). Jenis penelitian ini adalah  penelitian exsperimental dengan rancangan pretest and posttest dilakukan pada tikus wistar jantan (Rattus norvegicus) yang diperi pakan tinggi lemak yang dikelompokkan menjadi 2 kelompok yaitu: 1 kelompok kontrol hiperkolesterolemia dan 1 kelompok yang diberikan ekstrak etanol daun ubi jalar ungu. Dosis berdasarkan kadar quercetin yaitu sebesar 2 mg/kgBB. Kadar rata-rata quercetin ekstrak etanol daun ubi jalar ungu dianalisis sehingga diperoleh 14,08 mg/100g. Ekstrak etanol daun ubi jalar ungu diberikan selama 14 hari dengan cara sonde. Kadar kolesterol total serum ditentukan melalui metode CHOD-PAP. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif.Hasil penelitian ini didapat rerata kadar kolesterol total darah tikus putih sebelum pemberian ekstrak etanol daun ubi jalar ungu yaitu 189,89 mg/dl, sedangkan setelah pemberian ekstrak etanol daun ubi jalar ungu dosis 2 mg/kgBB yaitu 131,92 mg/dl.Penurunan kadar kolesterol total darah tikus putih sesudah pemberian ekstrak etanol daun ubi jalar ungu dengan dosis 2 mg/kgBB yaitu 30,52 %

    0

    full texts

    0

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    OJS STIKES Guna Bangsa Yogyakarta
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇