OJS STIKES Guna Bangsa Yogyakarta
Not a member yet
272 research outputs found
Sort by
Analisis Kemampuan Petugas ISPA Dalam Penemuan Kasus Pneumonia Balita
Introduction: There were 7,575 cases of pneumonia suffered by balita (below 5 year-old children) in Medan in 2017, but only 349 cases which were found. Objective: The objective of the study was to find out the capacity of ISPA personnel in finding pneumonia case in balita at the Puskesmas in Medan, in 2018. Method: The study used descriptive quantitative method with cross sectional design. It was dine in September, 2018. The population was 39 ISPA personnel, and the samples were taken by using total population technique. Result: The result of chi square statistic test showed that the intellectual capacity of ISPA personnel was at p-value=0.003, their emotional capacity was at p-value=0.029, and their physical capacity was at p-value=0.001. Conclusion: There was the correlation of intellectual capacity, emotional capacity, and physical capacity of ISPA personnel with the finding of pneumonia cases in balita at the Puskesmas in Medan, in 2018.Pendahuluan; Pada tahun 2017 di Kota Medan angka perkiraan kasus pneumonia atau sasaran balita yang mengalami pneumonia sebesar 7.575 kasus. Tujuan; untuk mengetahui kemampuan petugas dalam penemuan kasus pneumonia balita di Puskesmas Kota Medan Tahun 2018. Metode; jenis penelitian yang digunakan kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan pada bulan September tahun 2018 dengan jumlah populasi sebanyak 39 petugas ISPA dan pengambilan sampel menggunakan total populasi. Hasil; hasil uji statistic menggunakan uji chi-square menujukkan bahwa kemampuan intelektual petugas ISPA dengan nilai p-value=0,003, kemampuan emosional petugas ISPA dengan nilai p-value=0,029 dan kemampuan fisik petugas ISPA dengan nilai p-value=0,001. Kesimpulan; ada hubungan kemampuan petugas ISPA dalam penemuan kasus pneumonia balita di Puskesmas Kota Medan tahun 2018
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanolik Daun Kecombrang (Nicolaia Speciosa) Terhadap Staphylococcus Aureus
Infectious diseases that often occur in humans are skin infections. One of the bacteria that cause infection in humans is Staphylococcus aureus. One of the plants used as an ingredient in traditional medicine and used as an anti-bacterial is a kecombrang plant. This research aims to test the antibacterial activity of leaf extract of kecombrang against Staphylococcus aureus. Kecombrang leaf obtained from Pandeglang Banten. Kecombrang leaves extracted with a maceration method using 96% ethanol solvent. Extracts of leaves are made in a various concentrations (100%, 75%, 50%, and 25%). The antibacterial activity test was performed by using the diffusion method to find out the large zone of diameter are formed to inhibiting Staphylococcus aureus bacteria.The results of the antibacterial activity of the leaves extract of kecombrang to Staphylococcus aureus at 25%, 50%, 75% and 100% concentrations respectively were 12.67 mm, 14.33 mm, 15.33 mm, and 17.00 mm. The data result showed, that leaf extract of kecombrang with 100% concentration had the largest inhibiting zone diameter of 17.00 mm, among other concentrations. This suggests that kecombrang leaf extract have antibacterial activity against Staphylococcus aureus.Penyakit infeksi yang sering terjadi pada manusia adalah infeksi kulit. Salah satu bakteri penyebab infeksi pada manusia adalah bakteri Staphylococcus aureus. Salah satu tanaman yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional dan sebagai antibakteri adalah tanaman Kecombrang. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antibakteri ekstrak daun kecombrang terhadap Staphylococcus aureus. Daun kecombrang diperoleh dari Pandeglang Banten. Daun Kecombrang diekstrak dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Ekstrak daun dibuat dalam berbagai variasi konsentrasi (100%, 75%, 50%, dan 25%). Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan menggunakan metode difusi untuk mengetahui besar diameter zona yang terbentuk untuk menghambat bakteri Staphylococcus aureus. Hasil penelitian aktivitas antibakteri dari ekstrak daun kecombrang terhadap Staphylococcus aureus pada konsentrasi 25%, 50%, 75% dan 100% secara berturut adalah 12,67 mm, 14,33 mm, 15,33 mm, dan 17,00. Data hasil menunjukan bahwa ekstrak daun kecombrang dengan konsentrasi 100% memiliki diameter zona hambat paling besar yaitu 17.00 mm, diantara konsentrasi yang lain. Hal ini menunjukan ekstrak daun kecombrang mempunyai aktivitas anti bakteri terhadap Staphylococcus aureus
Identifikasi Telur Hymenolepis Nana Dan Hymenolepis Diminuta Pada Feses Tikus Dan Feses Anak-Anak Di Dukuh Sraten, Kecamatan Pedan, Klaten
Rats are animals that are susceptible to being infected with dengerous diseases because they like dirty environments. Hemintheasis spread by rats, namely hymenolepiasis.transsmision of this worm disease can occur directly and indirectly. Direct trasmission is caused by consuming water or food contaminated with worm egg while direct trasmission occur through intermediate fleas. The purpose of the study was to determine the presence of Hymenolepis Nana dan Hymenolepis Diminuta eggs in rats faeces and childern’s faeces in hamlet sraten, and to find out what percentage of faeces of mice and faeces of childern’s infected with Hymenolepis Nana dan Hymenolepis Diminuta. The method used is direct method which is macroskopis and microskopis and indirect method of sedimentation examination. Faecel sampling is done by simple random sampling. Based on the results of examination of 30 rats samples and 17 faeces samples the childern obtained result of second faeces samples of mice positively infected with Hymenolepisdiminuta eggs or at 6,67%, in the childern’s faeces samples not Hymenolepis Diminuta eggs were found. Whereas Hymenolepis Nana infection was not found in the rat faeces samples or childern’s faeces samples or with a negative 100% percentage.Tikus merupakan hewan yang rentan terinfeksi penyakit berbahaya karena menyukai lingkungan yang kotor.Penyakit kecacingan yang disebarkan oleh tikus yaitu Himenolepiasis.Penularan penyakit kecacingan ini dapat terjadi langsung dan tidak langsung.Penularan langsung disebabkan mengkonsumsi air atau makanan yang terkontaminasi oleh telur cacing, sedangkan penularan tidak langsung terjadi melalui perantara pinjal.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya telur Hymenolepis Nana dan Hymenolepis Diminuta pada feses tikus dan feses anak-anak di dukuh Sraten, dan untuk mengetahui persentase feses tikus dan feses anak-anak yang terinfeksi Hymenolepis Nana dan Hymenolepis Diminuta. Metode yang digunakan yaitu dengan metodelangsung yaitu secara makroskopik dan mikroskopik serta metode tidak langsung yaitu pemeriksaan sedimentasi atau pengendapan. Cara pengambilan sampel feses dilakukan dengan simple random sampling.Berdasarkanhasil pemeriksaan dari 30sampel feses tikusdan 17 feses anak-anak didapatkan hasil 2 sampel feses tikus positif terinfeksi telur Hymenolepis Diminuta atau sebesar 6,67 %, pada sampel feses anak-anak tidak ditemukan adanya telur Hymenolepis Diminuta, sedangkan untuk infeksi telur Hymenolepis Nana tidak ditemukan dalam feses tikus maupun feses anak-anak dengan persentase 100% negatif
Hubungan Interaksi Sosial Dengan Kesepian Pada Lansia Di Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia X Yogyakarta
Mental and social problems experienced by the elderly who live in the most frequent homes are lonely, if loneliness in the elderly is not treated, then there will be a serious impact that arises depression. Some studies suggest that the elderly who live in homes have a higher risk of loneliness than the elderly who live at home together with their families. The purpose of the research carried out is to determine the relationship of social interaction with loneliness in the elderly at the Social Services Home of the Elderly X Yogyakarta. The research method uses correlation description with cross sectional design, purposive sampling with a total sample of 51 respondents, the research instrument uses questionnaires and the analysis method uses the Kendall's Tau test. The results showed the elderly in the social services house of the elderly X Yogyakarta with statistical analysis showed a significant relationship with a P-value of 0,000 (<0,05) with a relationship value of -0,508. Conclusion There is a relationship of social interaction with loneliness in the medium category.Kesepian adalah permasalahan mental dan sosial yang dialami oleh lansia yang tinggal di panti, apabila kesepian pada lansia tidak ditangani, maka bisa timbul dampak yang serius yaitu depresi. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa lansia yang tinggal di panti mempunyai risiko kesepian lebih tinggi dari pada lansia yang tinggal di rumah bersama dengan keluarganya. Tujuan dari penelitian yang dilakukan adalah untuk mengetahui hubungan Interaksi sosial dengan kesepian pada lansia di Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia X Yogyakarta. Metode penelitian dengan menggunakan deskripsi korelasi dengan desain cross sectional, pengambilan sampel secara purposive dengan jumlah sampel 51 responden, instrument penelitian menggunakan kuisioner dan metode analisis menggunakan uji Kendall’s Tau. Hasil penelitian menunjukkan lansia di rumah pelayanan sosial lanjut usia X Yogyakarta dengan analisis statistik menunjukkan adanya hubungan signifikan dengan nilai P-value sebesar 0,000 (<0,05) dengan nilai hubungan -0,508. Kesimpulan terdapat Hubungan interaksi sosial dengan kesepian dalam kategori sedang
Potensi Ekstrak Tanaman Lenca (Solanum Nigrum) Dan Biji Pepaya (Carica Papaya) Terhadap Mortalitas Larva Aedes Sp Dan Culex Sp Instar IV
Cases of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF), filariasis and chikungunya in Indonesia in 2018 carried by Aedes sp and Culex sp are still common. Excessive use of synthetic insecticides and larvicides cause resistance and are toxic to humans. The purpose of this study was to determine the concentration and LC50 values of lenca plant extracts (Solanum nigrum) and papaya seeds (Carica papaya) on the larvae of Culex sp and Aedes sp. The concentration variations used in the test were 0% (control), 0.50%, 1.5% and 2.5%. Total mortality of Culex sp larvae against variations in the concentration of Carica papaya extract (p = 0.373) and Solanum nigrum (p = 0.03). LC 50 extract of Solanum nigrum against Culex sp larvae at a concentration of 1.19%. Total mortality of Aedes sp larvae against variations in the concentration of Carica papaya extract (p = 0.11) and Solanum nigrum (p = 0.00). Carica papaya contains alkaloids which are toxic, proteolytic and inhibit larval growth hormone. Solanin in Solanum nigrum is neurotoxic glycalkaloid which can cause disruption of membrane function.Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD), filariasis dan chikungunya tahun 2018 di Indonesia yang dibawa oleh nyamuk Aedes sp dan Culex sp masih banyak ditemukan. Penggunaan insektisida dan larvasida sintetik yang berlebihan menimbulkan resistensi dan bersifat toksik bagi manusia. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui nilai konsentrasi dan LC50 ekstrak tanaman lenca (Solanum nigrum) dan biji pepaya (Carica papaya) terhadap larva Culex sp dan Aedes sp. Variasi konsentrasi yang digunakan dalam pengujianadalah 0 % (kontrol), 0,50 %, 1,5 % dan 2,5 %. Jumlah mortalitas larva Culex sp terhadap variasi konsentrasiekstrak Carica papaya(p= 0,373) dan Solanum nigrum (p=0,03). LC 50 ektrak Solanum nigrum terhadap larva Culex sp pada konsentrasi 1,19 %. Jumlah mortalitas larva Aedes sp terhadap variasi konsentrasi ekstrak Carica papaya(p=0,11). dan Solanum nigrum (p=0,00). Carica papaya mengandung alkaloid karpina bersifat toksik, proteolitik dan menghambat hormon pertumbuhan larva. Solanin pada Solanum nigrum bersifat neurotoxic glikoalkaloid yang dapat mengakibatkan gangguan fungsi membran
Tingkat Pengetahuan Pelajar SMK N 1 Bancak Kabupaten Semarang terhadap Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR)
Reproductive health education is not commonly talked about in Indonesian communities since it is still considered taboo. This result in the lack of understanding of a good basic knowledge of reproductive health, especially among the teenager. The lack of understanding makes the teenagers become quite fragile to negative behavior such as premarital sex which might resulted in unwanted pregnancy, abortus or even sexually transmitted diseases. The aim of this study is to describe the level of knowledge on reproductive health among the students of State Vocational High School in Bancak. The results showed that the respondents with sufficient knowledge as much as of 51.9%, as much good knowledge to 40.5%, and less knowledge as much as of 7.6%. Based on the result of the research, it can be concluded that the level of knowledge of State Vocational High School in Bancak on Adolescent Reproductive Health is in the category of medium.Sebagian besar masyarakat menganggap bahwa masalah kesehatan reproduksi remaja merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan, sehingga menyebabkan remaja sulit memiliki pengetahuan dasar yang baik tentang kesehatan reproduksi. Tanpa pengetahuan yang baik, remaja menjadi rentan melakukan perilaku negatif seperti perilaku seksual pranikah pada remaja yang berdampak pada kehamilan tidak diinginkan, abortus, hingga penyakit menular seksual. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan pelajar SMK Bancak tentang kesehatan reproduksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden berpengetahuan sedang mengenai kesehatan reproduksi remaja yaitu sebanyak 51,9%, responden dengan pengetahuan baik sebanyak 40,5% dan responden dengan pengetahuan kurang sebanyak 7,6%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan pelajar SMK N 1 Bancak Kabupaten Semarang terhadap KRR dalam kategori sedang
Hubungan Theory Health Belief Model dengan Kejadian Preeklamsia pada Ibu Hamil di Kabupaten Kediri Jawa Timur
Latar Belakang: Angka Kematian Ibu (AKI) yang tinggi tahun 2015 merupakan masalah yang besar di Indonesia, yaitu 305 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini sedikit menurun jika dibandingkan dengan SDKI (1991) yaitu sebesar 390 per 100.000 KH. Tujuan ke-3 SDG’s adalah kesehatan yang baik (menurunkan AKI) menjadi 102 per 100.000 KH. Kematian ibu tahun 2010-2012 disebabkan karena peningkatan pada kejadian preeklamsia, eklamsia dan faktor lain-lain, seperti masalah sosial, budaya, pendidikan yang kurang, hingga persoalan ekonomi. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan Theory Health Belief Model dengan kejadian preeklamsia pada ibu hamil di Kabupaten Kediri Jawa Timur.
Subjek dan Metode: Penelitian dilaksanakan di Puskesmas binaan Kabupaten Kediri. Metode penelitian kuantitatif jenis explanatory study, desain penelitian case control study, pada ibu dengan preeklamsia untuk kasus dan tidak preeklamsia untuk kontrol. Jumlah sampel adalah 100 ibu hamil dari Puskesmas Binaan Kabupaten Kediri. Variabel independen yang diteliti adalah umur ibu hamil, pendidikan, pekerjaan, Body Mass Index dan berat badan. Variabel dependen yang diteliti adalah preeklamsia. Analisa data yang digunakan adalah Chi Square menggunakan SPSS 22.
Hasil: Analisis bivariat menggunakan uji chi square didapatkan ada hubungan antara persepsi kerentanan(OR=0.32; 95% CI=0.13 to 0.74; p=0.007), persepsi keseriusan (OR=0.33; 95% CI=0.13 to 0.80; p=0.012),persepsi manfaat (OR=0.38; 95% CI=0.17 to 0.87; p=0.022) dan persepsi hambatan (OR=5.18; 95% CI=2.13 to 12.58; p=<0.001) dengan preeklamsia.
Kesimpulan: Ada hubungan antara umur ibu hamil, paritas, tingkat pendidikan dan pekerjaan dengan preeklamsia. Variabel lain yang tidak berhubungan dengan kejadian preeklamsia yaitu Body Mass Index dan berat badan.Latar Belakang: Angka Kematian Ibu (AKI) yang tinggi tahun 2015 merupakan masalah yang besar di Indonesia, yaitu 305 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini sedikit menurun jika dibandingkan dengan SDKI (1991) yaitu sebesar 390 per 100.000 KH. Tujuan ke-3 SDG’s adalah kesehatan yang baik (menurunkan AKI) menjadi 102 per 100.000 KH. Kematian ibu tahun 2010-2012 disebabkan karena peningkatan pada kejadian preeklamsia, eklamsia dan faktor lain-lain, seperti masalah sosial, budaya, pendidikan yang kurang, hingga persoalan ekonomi. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan Theory Health Belief Model dengan kejadian preeklamsia pada ibu hamil di Kabupaten Kediri Jawa Timur.
Subjek dan Metode: Penelitian dilaksanakan di Puskesmas binaan Kabupaten Kediri. Metode penelitian kuantitatif jenis explanatory study, desain penelitian case control study, pada ibu dengan preeklamsia untuk kasus dan tidak preeklamsia untuk kontrol. Jumlah sampel adalah 100 ibu hamil dari Puskesmas Binaan Kabupaten Kediri. Variabel independen yang diteliti adalah umur ibu hamil, pendidikan, pekerjaan, Body Mass Index dan berat badan. Variabel dependen yang diteliti adalah preeklamsia. Analisa data yang digunakan adalah Chi Square menggunakan SPSS 22.
Hasil: Analisis bivariat menggunakan uji chi square didapatkan ada hubungan antara persepsi kerentanan(OR=0.32; 95% CI=0.13 to 0.74; p=0.007), persepsi keseriusan (OR=0.33; 95% CI=0.13 to 0.80; p=0.012),persepsi manfaat (OR=0.38; 95% CI=0.17 to 0.87; p=0.022) dan persepsi hambatan (OR=5.18; 95% CI=2.13 to 12.58; p=<0.001) dengan preeklamsia.
Kesimpulan: Ada hubungan antara umur ibu hamil, paritas, tingkat pendidikan dan pekerjaan dengan preeklamsia. Variabel lain yang tidak berhubungan dengan kejadian preeklamsia yaitu Body Mass Index dan berat badan
Gambaran Pola Makan Lansia Obesitas dengan Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Tegalrejo Kota Salatiga
Background: Obesity is one of the problems of non-communicable diseases that are still commonly found. Indonesia is one of the developing countries with high levels of obesity. Based on the Central Java Health Profile of 2015, the highest prevalence of obese population is found in Salatiga. Obesity increases the risk of high blood pressure or hypertension. Elderly are age group that can be obese and hypertension. Problems of Obesity and Hypertension can occur in the elderly can be caused by the wrong diet.
Objective: The study was conducted to examine the diet of elderly people with obesity with hypertension in the work area of puskesmas Tegalrejo.
Method: This research method using descriptive quantitative. The elderly respondents aged> 50 years were selected based on secondary data from Tegalrejo Puskesmas with IMT calculation and hypertension identified. Data collection with structured interview using questionnaires, FFQ sheet feeding, and Food Recall. This research was carried out in February-April 2018. Data analysis includes questionnaire results from question items provided, then analyzed descriptively; the FFQ and Food Recall sheets were analyzed to obtain data on the types of foods routinely consumed within the observation period of the study, the frequency, the number of doses, the method of processing, and the calculation of nutrients and calories.
Result: Based on FFQ and Food recall fall into the category of deficit but based on anthropometry into more categories that affect diet.
Conclusion: Elderly diet obesity and hypertension tend to be less good and there are other factors that influence diet.Latar Belakang: Obesitas merupakan salah satu masalah penyakit tidak menular yang masih sering ditemukan. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan tingkat obesitas tinggi. Berdasarkan Profil Kesehatan Jawa Tengah tahun 2015, Prevalensi penduduk obesitas tertinggi terdapat di Salatiga. Obesitas meningkatkan resiko terjadinya penyakit tekanan darah tinggi atau hipertensi. Lansia merupakan kelompok umur yang dapat mengalami obesitas dan hipertensi. Masalah Obesitas dan Hipertensi dapat terjadi pada lansia dapat disebabkan pola makan yang salah.
Tujuan: penelitian dilakukan untuk mengkaji pola makan lansia penderita obesitas dengan hipertensi di wilayah kerja puskesmas Tegalrejo.
Metode: Metode penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif. Responden lansia berusia >50 tahun dipilih berdasarkan data sekunder dari Puskesmas Tegalrejo dengan penghitungan IMT dan teridentifikasi hipertensi. Pengumpulan data dengan wawancara terstruktur menggunakan kuisioner, pengisian lembar FFQ, dan Food Recall. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari-April 2018. Analisis data meliputi hasil kuesioner dari item – item pertanyaan yang disediakan, kemudian dianalisis secara deskriptif; lembar FFQ dan Food Recall dianalisis untuk mendapatkan data terkait jenis makanan yang rutin dikonsumsi dalam kurun waktu pengamatan penelitian, frekuensi, jumlah takaran, cara pengolahan, serta penghitungan zat gizi dan kalori.
Hasil: Berdasarkan FFQ dan Food Recall masuk dalam kategori defisit tetapi berdasarkan antropometri masuk dalam kategori lebih yang dipengaruhi oleh diet.
Kesimpulan: Diet obesitas dan hipertensi pada lansia cenderung kurang baik dan ada faktor lain yang mempengaruhi diet
Hubungan Indeks Massa Tubuh Dan Lama Anestesi Dengan Waktu Pulih Sadar Pada Anak Dengan General Anestesi Di Rumah Sakit Umum Daerah Kebumen Jawa Tengah
The calculation of body mass index and duration of anesthesia is the first step of a series of actions performed anesthesia on pediatric patients who planned to undergo anesthesia . The calculation of body mass index and duration of anesthesia determine the smoothness of anesthesia , and the patient's recovery period after general anesthesia. The study is to determine the relationship of body mass index and duration of anesthesia with conscious recovery time after general anesthesia in children using observational analytic cross sectional survey approach. The site of research is in recovery room of The Central Surgery Installation RSUD Kebumen Central Java with as many as 44 research sample consists of body mass index and duration of anesthesia, with postoperative assessment instruments Steward score. The result is patients with conscious recovery time after general anesthesia slowly, over 30 minutes is a patient with a body mass index is not ideal that 13 people ( 68.42 % ) of the total sample whereas patients who recovered quickly in less than or equal to 30 minutes as many as 17 people ( 72 % ) with an ideal tubu mass index of the total sample . From the statistical test Chi-square computer program values obtained value , the probability asymp . Sig . ( 2 - sided ) : 0,008 which means there is a relationship of body mass index of anesthesia with the patient recovery time , and patients recover with time after general anesthesia consciously slowly , over 30 minutes is a patient with a long lebi anesthesia time of 1 hour 12 people ( 75 % ) of the total sample whereas patients who recovered quickly in less than or equal to 30 minutes of 20 people ( 71.43 % ) with a time of anesthesia faster than the total sample . From the statistical test Chi-square computer program values obtained value , the probability asymp. Sig. ( 2 - sided): 0,003 which means there is a long-standing relationship with the anesthesia recovery time of patients, so there is a relationship of body mass index and duration of anesthesia with conscious recovery timePerhitungan indeks massa tubuh dan lama anestesi adalah langkah awal dari rangkaian tindakan anestesi yang dilakukan terhadap pasien anak yang direncanakan untuk menjalani tindakan anestesi. Perhitungan indeks massa tubuh dan lama anestesi menentukan dalam kelancaran tindakan anestesi, dan masa pemulihan pasien pasca general anestesi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan indeks massa tubuh dan lama anestesi dengan waktu pulih sadar pada anak pasca general anestesi menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan survey cross sectional. Tempat penelitian di Instalasi Bedah sentral ruang pemulihan RSUD Kebumen Jawa Tengah, dengan sample penelitian sebanyak 44 orang terbagi atas indeks massa tubuh dan lama anestesi, dengan instrumen penilaian pasca bedah Steward score. Hasil penelitian didapatkan pasien dengan waktu pulih sadar pasca general anestesi lambat, lebih dari 30 menit adalah pasien dengan indeks massa tubuh tidak ideal yaitu 13 orang (68,42%) dari total sampel sedangkan pasien yang pulih cepat dalam waktu kurang atau sama dengan 30 menit sebanyak 17 orang (72%) dengan indeks massa tubu ideal dari total sampel. Dari uji statistik dengan program Chi square komputer didapatkan nilai value, dengan probabilitas asymp. Sig. (2-sided) : 0,008 yang berarti terdapat hubungan indeks massa tubuh anestesi dengan waktu pulih pasien, dan pasien dengan waktu pulih sadar pasca general anestesi lambat, lebih dari 30 menit adalah pasien dengan waktu anestesi lama lebi dari 1 jam 12 orang (75%) dari total sampel sedangkan pasien yang pulih cepat dalam waktu kurang atau sama dengan 30 menit sebanyak 20 orang (71,43%) dengan waktu anestesi cepat dari total sampel. Dari uji statistik dengan program Chi square komputer didapatkan nilai value, dengan probabilitas asymp. Sig. (2-sided) : 0,003 yang berarti terdapat hubungan lama anestesi dengan waktu pulih pasien, sehingga dapat disimpulkan ada hubungan indeks massa tubuh dan lama anestesi dengan waktu pulih sadar
Skrining Toxoplasmosis pada Whole Blood Di PMI Sleman Yogyakarta
Toksoplasma memiliki potensi menular melalui komponen darah terutama whole blood karena tidak termasuk dalam parameter penyakit yang harus diuji saring menurut Peraturan Menteri Kesehatan No 91 Tahun 2015. Toxoplasma gondii protozoa penyebab penyakit toksoplasma yang menginfeksi seluruh sel yang berinti, termasuk leukosit dan makrofag. Resiko transfusi whole blood atau darah lengkap yang mengandung leukosit terhadap penularan penyakit toxoplasma tidak dapat diabaikan. Toxoplasmosis pada individu yang memiliki imunitas rendah (immunocompromised) seperti penderita HIV dapat menyebabkan infeksi oportunistik pada sistem saraf. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui infeksi toksoplasmosis dan prevalensi Toxoplasma gondii pada darah donor di UTD Yogyakarta. Subjek penelitian ini adalah darah donor dari pendonor perempuan dengan golongan darah A, B, AB dan O yang berjumlah 20 kantong darah. Penelitian ini menggunakan metode ELISA yang mengukur absorbansi reaksi antigen dan antibodi IgM anti-Toxoplasma pada serum darah donor. Hasil uji ELISA menunjukkan pada 20 sampel darah donor ditemukan 1 kantong darah atau 5% positif IgM anti-Toxoplasma pada golongan darah O dengan nilai A/C.O adalah 1,77 dan 19 kantong darah atau 95% sampel negatif IgM anti-Toxoplasma pada golongan darah A, B dan AB dengan nilai A/C.O kurang dari 1. Sampel darah donor dinilai reaktif ketika nilai A/C.O lebih dari atau sama dengan 1. Disimpulkan bahwa terdapat toxoplasma pada darah donor di UTD Yogyakarta dengan prevalensi sebesar 5%.Toksoplasma memiliki potensi menular melalui komponen darah terutama whole blood karena tidak termasuk dalam parameter penyakit yang harus diuji saring menurut Peraturan Menteri Kesehatan No 91 Tahun 2015. Toxoplasma gondii protozoa penyebab penyakit toksoplasma yang menginfeksi seluruh sel yang berinti, termasuk leukosit dan makrofag. Resiko transfusi whole blood atau darah lengkap yang mengandung leukosit terhadap penularan penyakit toxoplasma tidak dapat diabaikan. Toxoplasmosis pada individu yang memiliki imunitas rendah (immunocompromised) seperti penderita HIV dapat menyebabkan infeksi oportunistik pada sistem saraf. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui infeksi toksoplasmosis dan prevalensi Toxoplasma gondii pada darah donor di UTD Yogyakarta. Subjek penelitian ini adalah darah donor dari pendonor perempuan dengan golongan darah A, B, AB dan O yang berjumlah 20 kantong darah. Penelitian ini menggunakan metode ELISA yang mengukur absorbansi reaksi antigen dan antibodi IgM anti-Toxoplasma pada serum darah donor. Hasil uji ELISA menunjukkan pada 20 sampel darah donor ditemukan 1 kantong darah atau 5% positif IgM anti-Toxoplasma pada golongan darah O dengan nilai A/C.O adalah 1,77 dan 19 kantong darah atau 95% sampel negatif IgM anti-Toxoplasma pada golongan darah A, B dan AB dengan nilai A/C.O kurang dari 1. Sampel darah donor dinilai reaktif ketika nilai A/C.O lebih dari atau sama dengan 1. Disimpulkan bahwa terdapat toxoplasma pada darah donor di UTD Yogyakarta dengan prevalensi sebesar 5%