Jurnal Online STIKes Al-Insyirah
Not a member yet
731 research outputs found
Sort by
PEMBERDAYAAN KELUARGA DALAM PERAWATAN LUKA DIABETES DENGAN TERAPI SULFUR DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KAMPUNG BARU
Luka diabetes merupakan salah satu komplikasi kronis dari Diabetes Melitus yang sering menimbulkan kecacatan bahkan amputasi apabila tidak dirawat dengan baik. Perawatan luka di rumah memerlukan peran aktif keluarga, namun keterbatasan pengetahuan sering menjadi hambatan dalam pelaksanaannya. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa terapi sulfur memiliki potensi sebagai agen penyembuh luka yang efektif, aman, dan mudah diaplikasikan. Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah untuk memberdayakan keluarga dalam perawatan luka diabetes melalui edukasi dan pelatihan penggunaan terapi sulfur. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif yang melibatkan 40 keluarga pasien diabetes di wilayah kerja Puskesmas Kampung Baru. Kegiatan terdiri dari penyuluhan, pelatihan praktik, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pengetahuan dan keterampilan keluarga terkait perawatan luka diabetes. Sebanyak 80% peserta mencapai kategori pengetahuan tinggi setelah intervensi edukasi. Program ini membuktikan bahwa pemberdayaan keluarga melalui pendekatan berbasis penelitian dapat meningkatkan kualitas perawatan luka secara mandiri di rumah dan menjadi model edukasi yang dapat direplikasi pada komunitas lain.Luka diabetes merupakan salah satu komplikasi kronis dari Diabetes Melitus yang sering menimbulkan kecacatan bahkan amputasi apabila tidak dirawat dengan baik. Perawatan luka di rumah memerlukan peran aktif keluarga, namun keterbatasan pengetahuan sering menjadi hambatan dalam pelaksanaannya. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa terapi sulfur memiliki potensi sebagai agen penyembuh luka yang efektif, aman, dan mudah diaplikasikan. Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah untuk memberdayakan keluarga dalam perawatan luka diabetes melalui edukasi dan pelatihan penggunaan terapi sulfur. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif yang melibatkan 40 keluarga pasien diabetes di wilayah kerja Puskesmas Kampung Baru. Kegiatan terdiri dari penyuluhan, pelatihan praktik, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pengetahuan dan keterampilan keluarga terkait perawatan luka diabetes. Sebanyak 80% peserta mencapai kategori pengetahuan tinggi setelah intervensi edukasi. Program ini membuktikan bahwa pemberdayaan keluarga melalui pendekatan berbasis penelitian dapat meningkatkan kualitas perawatan luka secara mandiri di rumah dan menjadi model edukasi yang dapat direplikasi pada komunitas lain
PEMERIKSAAN PMS IBU HAMIL: UPAYA PENCEGAHAN KOMPLIKASI KEHAMILAN DI DESA BANDAR SETIA KABUPATEN DELI SERDANG
Penyakit Menular Seksual (PMS) masih menjadi tantangan kesehatan global dengan dampak yang signifikan, khususnya pada ibu hamil dan janin. Penularan dari ibu ke anak dapat menimbulkan berbagai komplikasi kehamilan, antara lain keguguran, persalinan prematur, infeksi bawaan, hingga kematian bayi. Pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman ibu hamil mengenai PMS dan melakukan deteksi dini melalui pemeriksaan triple eliminasi terhadap HIV, sifilis, dan hepatitis B. Kegiatan ini berlangsung di Desa Bandar Setia, wilayah kerja Puskesmas Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, dan melibatkan 46 ibu hamil. Metode yang digunakan mencakup penyuluhan dengan media leaflet, pengukuran tingkat pengetahuan melalui pre-test dan post-test, serta pemeriksaan menggunakan rapid diagnostic test. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan. Sebelum diberikan penyuluhan, sebanyak 21 peserta (45,6%) memiliki pengetahuan yang kurang, setelah dilakukan edukasi, terdapat 2 orang (4,3%) yang masih berpengetahuan kurang. Pemeriksaan triple eliminasi mendeteksi 2 orang (4,4%) menunjukkan hasil yang diduga reaktif terhadap HIV. Selain itu, ditemukan pula 4 ibu hamil (8,6%) dengan indikasi positif sifilis, serta 1 orang (2,2%) yang diduga terinfeksi hepatitis B. Adapun 39 responden lainnya (84,8%) dengan hasil non-reaktif. Temuan ini menegaskan pentingnya pelaksanaan skrining rutin bagi ibu hamil serta peran edukasi dalam mencegah penularan vertikal PMS. Kegiatan ini memberikan bukti bahwa penyuluhan kesehatan reproduksi dan pemeriksaan triple eliminasi sangat efektif dalam mendukung upaya eliminasi penularan PMS dari ibu ke anak. Diperlukan sinergi berkelanjutan antara petugas kesehatan, kader masyarakat, dan lembaga pendidikan guna memperluas cakupan kegiatan serta menjamin keberlanjutan program di tingkat komunitas.Sexually Transmitted Diseases (STDs) remain a global health challenge with significant impacts, especially on pregnant mothers and their fetuses. Transmission from mother to child can lead to various pregnancy complications, including miscarriages, premature births, congenital infections, and even infant mortality. This community service is aimed at increasing pregnant mothers\u27 understanding of STDs and conducting early detection through triple elimination testing for HIV, syphilis, and hepatitis B. The activities took place in Bandar Setia Village, under the jurisdiction of the Percut Sei Tuan Health Center, Deli Serdang Regency, and involved 46 pregnant mothers. The methods used included counseling with leaflet media, measuring knowledge levels through pre-tests and post-tests, and examinations using rapid diagnostic tests. The results of the activities showed a significant increase in knowledge. Before the counseling, 21 participants (45.6%) had insufficient knowledge. After education was provided, there were 2 people (4.3%) who still had insufficient knowledge. The triple elimination test detected 2 pregnant women (4.3%) reactive to HIV, 8 people (17.3%) reactive to syphilis, 1 person (2.1%) reactive to hepatitis B, and 35 people (76.1%) with non-reactive results. These findings emphasize the importance of routine screening for pregnant women and the role of education in preventing vertical transmission of STIs. This activity provides evidence that reproductive health counseling and triple elimination testing are very effective in supporting efforts to eliminate STI transmission from mother to child. Ongoing synergy is required between health workers, community cadres, and educational institutions to broaden the scope of activities and ensure the sustainability of programs at the community level
HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DAN INTENSITAS SHOLAT TAHAJUD PADA JAMAAH HAJI YANG MENGALAMI HIPERTENSI DI YOGYAKARTA
Latar Belakang: Hipertensi merupakan penyakit yang umum terjadi di masyarakat dan angka kejadian hipertensi pada jamaah haji cenderung tinggi. Kondisi ini dapat memberikan dampak negative bagi jamaah haji, antara lain menurunkan kondisi fisik dan rasa lelah yang kemudian dapat memicu rasa cemas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat kecemasan dengan intensitas sholat tahajud pada jamaah haji yang mengalami hipertensi di Yogyakarta.
Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif-analitis dengan metode cross-sectional. Data dikumpulkan dari jamaah haji yang terdaftar di KBIH (Kantor Berita Islam dan Haji) di Daerah Istimewa Yogyakarta. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner DASS-42 untuk mengukur tingkat kecemasan dan instrumen intensitas shalat Tahajud untuk mengukur intensitas shalat tahajud. Analisis statistik yang digunakan meliputi analisis univariat dan analisis bivariat.
Hasil: Sebagian besar responden (94,7%) mempunyai tingkat kecemasan normal, sedangkan 5,3% mengalami tingkat kecemasan ringan. Terkait intensitas salat Tahajud, sebagian besar responden (84,2%) memiliki intensitas rendah, sedangkan 15,8% memiliki intensitas tinggi. Namun analisis bivariat tidak menemukan hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan dengan intensitas shalat Tahajud jamaah haji di Yogyakarta.
Kesimpulan: Tidak ditemukan hubungan signifikan pada penelitian ini, hasil tersebut dapat memberikan informasi penting bagi promosi kesehatan dan penatalaksanaan komprehensif bagi jamaah haji yang mengalami hipertensi.
Kata Kunci: Tingkat Kecemasan, Intensitas Shalat Tahajud, Jamaah Haji, HipertensiThis condition can negatively impact Hajj pilgrims, including reduced physical condition and fatigue, which may in turn trigger anxiety. This study aims to determine the relationship between anxiety levels and the intensity of Tahajud prayer among Hajj pilgrims with hypertension in Yogyakarta.The research uses a descriptive-analytical approach with a cross-sectional method. Data were collected from Hajj pilgrims registered at KBIH (Islamic and Hajj Information Office) in the Special Region of Yogyakarta. The instruments used were the DASS-42 questionnaire to measure anxiety levels and a Tahajud prayer intensity instrument to measure the frequency of Tahajud prayer. The statistical analyses employed included univariate and bivariate analyses. The majority of respondents (94.7%) had normal anxiety levels, while 5.3% experienced mild anxiety. Regarding Tahajud prayer intensity, most respondents (84.2%) had low intensity, while 15.8% had high intensity.However, bivariate analysis did not find a significant relationship between anxiety levels and the intensity of Tahajud prayer among Hajj pilgrims in Yogyakarta. Although no significant relationship was found, the results of this study may provide important information for health promotion and comprehensive management of Hajj pilgrims with hypertension
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN, PENDIDIKAN DAN USIA IBU NIFAS TENTANG PERAWATAN PAYUDARA DENGAN KELANCARAN PENGELUARAN ASI EKSLUSIF DI RUANG NIFAS RSUD dr. MURJANI SAMPIT
Pelayanan Kesehatan pada ibu nifas penting untuk .iperhatikan selain Kesehatan pada ibu hamil dan bersalin. Masalah pada payudara selama menyusui dapat menjadi salah satu tanda bahaya masa nifas (Kemenkes RI, 2014). Permasalahan pada payudara yang sering dialami ibu menyusui anatar lain salah satunya adalah kelancaran pengeluaran ASI. Ketidaklancaran pengeluaran ASI menjadikan payudara bengkak (Mansyur & Dahlan, 2014). Faktor yang mempengaruhi kelancaran pengeluaran ASI adalah perawatan payudara. Tujuan dari perawatan payudara adalah untuk melancarkan sirkulasi darah dan mencegah tersumbatnya saluran susu, sehingga pengeluaran Asi lancar. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan, pendidikan dan usia ibu nifas tentang perawatan payudara dengan kelancaran pengeluaran ASI ekslusif di Ruang Nifas RSUD dr. Murjani Sampit. Metode: Jenis penelitian ini adalah analitik dengan desain cross sectional. Penelitian dilakukan di Ruang Nifas RSUD dr. Murjani Sampit, populasi adalah ibu nifas. Teknik sampel yang digunakan accidental sampling sebanyak 32 responden dengan anlisis uji fisher excact. Hasil: Nilai ρ value pengetahuan sebesar 0,002, pendidikan sebesar 0,004 dan usia sebesar 0,000 atau lebih kecil dari 0,05 sehingga disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan, pendidikan dan usia ibu nifas tentang perawatan payudara dengan kelancaran pengeluaran ASI ekslusif di Ruang Nifas RSUD dr. Murjani Sampit. Simpulan: Ibu nifas sangat penting dalam melakukan perawatan payudara. Karena perawatan yang dilakukan secara rutin akan membantu pemenuhan asupan ASI pada bayi ibu secara optimal tanpa adanya masalah-masalah yang bisa membuat kelancaran pengeluaran ASI terganggung dan berdampak untuk pemenuhan nutrisi bayi.Health services for postpartum mothers are important to pay attention to in addition to health in pregnant women and maternity. Problems with the breast during breastfeeding can be one of the danger signs of the puerperium (Kemenkes RI, 2014). Health services for postpartum mothers are important to pay attention to in addition to health in pregnant women and maternity. Problems with the breast during breastfeeding can be one of the danger signs of the puerperium (Kemenkes RI, 2014). Problems with the breasts that are often experienced by breastfeeding mothers include one of them is the smooth production of breast milk. The smoothness of milk production makes the breasts swollen (Mansyur & Dahlan, 2014). A factor that affects the smooth release of breast milk is breast care. Objective: This study aims to determine the relationship between knowledge, education and age of postpartum mothers about breast care with the smooth production of exclusive breastfeeding in the Postpartum Room at dr, Murjani Sampit Hospital. Methodes: This type of research uses an analytical type with a cross sectional research design. What was done in the postpartum room at RSUD Dr. Murjani Sampit in 2023 with a total sample of 32 samples using accidental sampling technique. Result: The Results of analysis Using the fisher excact test. With the result of a ρ value of knowledge is 0.002, education is 0.004 and age is 0.000 or smaller than 0.05, it can be concluded that there is a significant relationship betwee knowledge, education and age of postpartum mothers about breast care and the smooth production of exclusive breastfeeding the Postpartum Room at dr, Murjani Sampit Hospital. Conclusion: It was concluded that there was a significant relationship between postpartum mothers\u27 knowledge about breast care and the smooth production of exclusive AS
ANALISIS PERBANDINGAN SISTEM PARAMAGNETIK DAN SISTEM OKSIGEN SENSOR MESIN VENTILATOR
Ventilator merupakan peralatan penting pada unit perawatan intensif. Sensor O2 dalam ventilator juga dapat dihasilkandengan sensor O2 galvanik yang pada dasarnya adalah sel pembangkit listrik kecil yang membutuhkan O2 untukmengaktifkan reaksi kimianya, sedangkan pada sensor paramagnetic menggunakan fakta bahwa O2 memiliki karakteristikparamagnetic yang kuat dari pada gas lainnya. Desain penelitian ini desain eksperimental. Pada penelitian ini disajikan datapenelitian yang telah dilakukan dengan mengukur parameter konsentrasi oksigen pada ventilator dengan sensor galvanikdan ventilator dengan sensor paramagnetic. Pada ventilator dengan sensor galvanik memiliki rata-rata tingkat keakurasiannilai konsentrasi oksigen sebesar 99,00%. Hal ini membuktikan bahwa tingkat keakurasian nilai FiO2 pada ventilatordengan oksigen sensor galvanik memiliki tingkat keakurasian yang masih sesuai dengan standar toleransinya sebesar ±10%.Pada ventilator dengan sensor paramagnetik memiliki rata-rata tingkat keakurasian nilai konsentrasi oksigen sebesar 99,44%.Hal ini membuktikan bahwa tingkat keakurasian nilai konsentrasi oksigen ventilator dengan oksigen sensor paramagnetikmemiliki tingkat keakurasian yang masih sesuai dengan standar yaitu toleransinya sebesar ±10%. Harapan penulis kepadarumah sakit lebih menggunakan ventilator yang menggunakan sistem paragmanetik karena biaya pengeluaran dari rumah sakit lebih irit dan lebih tidak perlu pergantian Oksigen sensor dan pastinya akan menghemat biaya kepada pasien
HUBUNGAN KEPATUHAN TERAPI ARV TERHADAP VIRAL LOAD DAN INFEKSI OPORTUNISTIK
HIV/AIDS merupakan salah satu penyakit menular tertinggi di Puskesmas Lima Puluh yaitu ada sebanyak 305 kasus. Dari jumlah tersebut pasien HIV yang sedang mendapat pengobatan ARV sebanyak 204 orang (66,9%) dan sebanyak 102 (50%) pasien yang tidak patuh terhadap terapi ARV. Menurut hasil pemeriksaan viral load, diperoleh 86,3% pasien HIV dengan viral load tersupresi dan 13,7% tidak tersupresi. Viral load yang tersupresi sangat penting untuk menjaga kesehatan mereka sendiri dan menurunkan risiko penularan HIV kepada orang lain. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan kepatuhan terapi ARV terhadap Viral Load dan Infeksi Oportunistik. Jenis penelitian kuantitatif analitik observasional dengan desain studi potong lintang. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien HIV yang sedang menjalani pengobatan ARV di Puskesmas Limapuluh Kota Pekanbaru tahun 2024 berjumlah 204 pasien. Besaran sampel dengan alpha 5% sebesar 84 responden, dengan teknik Simple random sampling. Pengumpulan data Kepatuhan Terapi dengan wawancara menggunakan kuesioner sementara untuk pengumpulan data viral load dan infeksi oportunistik menggunakan data sekunder. Analisis bivariat menggunakan uji qhi square. Hasil penelitian diketahui tidak ada hubungan Kepatuhan terapi ARV dengan Viral Load (p value 0,09) namun Odds Viral Load tidak patuh terapi ARV 2,5 kali lebih tinggi dibandingkan yang patuh terapi ARV (POR = 2,5; CI 95% = 0,9 -6,7). Kepatuhan terapi ARV berhubungan dengan Infeksi Oportunistik (P value =0,013). Odds Infeksi Oportunistik pada yang tidak patuh terapi ARV 3,8 kali lebih tinggi dibandingkan yang patuh terapi ARV. Disarankan agar penderita HIV-AIDS dapat mematuhi Terapi ARV sehingga dapat menurunkan kadar viral load dan mencegah infeksi oportunistik.
HIV/AIDS is one of the highest infectious diseases in the Limapuluh Community Health Center, with 305 cases. Of this number, 204 (66.9%) HIV patients were receiving ARV treatment and 102 (50%) patients were not adherent to ARV therapy. According to the results of the viral load examination, 86.3% of HIV patients had a suppressed viral load and 13.7% were not suppressed. A suppressed viral load is essential for maintaining their own health and reducing the risk of transmitting HIV to others. The aim of the research was to determine the relationship between adherence to ARV therapy and Viral Load and Opportunistic Infections. This type of observational analytical quantitative research with a cross-sectional study design. The population in this study were HIV patients who were undergoing ARV treatment at the Limapuluh Community Health Center, Pekanbaru City in 2024, totaling 204 patients. The sample size with an alpha of 5% was 84 respondents, with a simple random sampling technique. Collecting data on Therapy Adherence by interview using a questionnaire while collecting data on viral load and opportunistic infections using secondary data. Bivariate analysis uses the chi square test. The results of the study showed that there was no relationship between adherence to ARV therapy and Viral Load (p value 0.09) but the odds of Viral Load not complying with ARV therapy were 2.5 times higher than those complying with ARV therapy (POR = 2.5; 95% CI = 0 .9 -6.7). Adherence to ARV therapy is associated with opportunistic infections (P value = 0.013). The odds of opportunistic infections in those who do not adhere to ARV therapy are 3.8 times higher than those who adhere to ARV therapy. It is recommended that HIV-AIDS sufferers comply with ARV therapy so that they can reduce viral load levels and prevent opportunistic infectio
PATRIARKI DAN KESEHATAN MENTAL PADA IBU YANG MEMILIKI BALITA
Patriarchy is a social system that places men as the main power holders and domination in various roles in society and households. Patriarchy requires wives or mothers to be responsible for domestic affairs and taking care of children. Mothers are one of the groups that are vulnerable to mental health problems, especially depression. The purpose of this study was to determine the relationship between patriarchy and the mental health of mothers who have toddlers, especially in terms of depression as measured by DASS 42. This research method is a quantitative study with a cross-sectional research design. The research sample used a total sampling of 37 mothers who have toddlers in Rawa Bangun Village, Rengat District, Indragiri Hulu Regency, Riau Province. The results of the DASS 42 measurement on the aspect of depression showed that the majority of mothers of toddlers were in the normal range, namely 19 people (51.4%), mild category 8 people (21.6%), moderate 8 people (21.6%), severe 1 person (2.7%) and in the very severe range 1 person (2.7%). The one way ANOVA test showed a p-value of 0.853, which means there is no relationship between patriarchy and the mental health of mothers with toddlers in terms of depression.In society, there is a social system that places men in a higher position than women, men have a greater power relationship and have a dominant role than women, which is usually called patriarchy. Patriarchy requires wives or mothers to be responsible for domestic affairs and taking care of children. Mothers are one of the groups that are vulnerable to mental health problems, especially depression. The purpose of this study was to determine the relationship between patriarchy and the mental health of mothers who have toddlers, especially in terms of depression as measured by DASS 42. This research method is a quantitative study with a cross-sectional research design. The research sample used a total sampling of 37 mothers who have toddlers in Rawa Bangun Village, Rengat District, Indragiri Hulu Regency, Riau Province. The results of the DASS 42 measurement on the aspect of depression showed that the majority of mothers of toddlers were in the normal range, namely 19 people (51.4%), mild category 8 people (21.6%), moderate 8 people (21.6%), severe 1 person (2.7%) and in the very severe range 1 person (2.7%). The one way ANOVA test showed a p-value of 0.853, which means there is no relationship between patriarchy and the mental health of mothers with toddlers in terms of depressio
ANALISIS HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP KANKER PAYUDARA DAN PEMERIKSAAN PAYUDARA SENDIRI (SADARI) PADA PERAWAT: STUDI KORELASIONAL
Kanker payudara merupakan salah satu penyebab utama kematian pada perempuan yang dapat dicegah melalui deteksi dini seperti pemeriksaan payudara sendiri (SADARI). Meskipun perawat berperan penting dalam edukasi kesehatan, belum semua perawat memiliki persepsi yang tepat terhadap kanker payudara maupun rutin melakukan SADARI. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi terhadap kanker payudara dengan pemeriksaan SADARI pada perawat. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain korelasi dan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini adalah perawat perempuan di ruang rawat inap Dahlia, Edelweis, Gardenia dan rawat jalan Seruni RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau berjumlah 66 responden yang diambil dengan teknik total sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner Breast Cancer Perception Scale dan Pemeriksaan Payudara Sendiri. Analisis univariat dengan tendency central dan distribusi frekuensi serta analisis bivariat menggunakan pearson chi square. Hasil penelitian didapatkan median usia perawat adalah 37 tahun dan lama bekerja 12 tahun. Mayoritas pendidikan perawat S1+Ners (53%), sudah menikah (83,3%), tidak memiliki riwayat keluarga yang menderita kanker payudara (92,4%), tidak memiliki riwayat masalah pada payudara (93,9%), memiliki persepsi positif terhadap kanker (56,1%), dan melakukan SADARI secara ya, kadang-kadang (51,5%). Terdapat hubungan antara persepsi perawat terhadap kanker payudara dengan SADARI dengan p-value 0,034. Diharapkan perawat untuk lebih rutin melakukan SADARI agar kanker payudara dapat terdeteksi lebih awal.Breast cancer remains one of the leading causes of mortality among women, despite being preventable through early detection methods such as Breast Self-Examination (BSE). Nurses play a critical role in health promotion and education; however, not all nurses possess adequate perceptions of breast cancer or routinely perform BSE. This study aimed to examine the relationship between nurses’ perceptions of breast cancer and their BSE practices. A quantitative, correlational research design with a cross-sectional approach was employed. The sample consisted of 66 nurses working in the Dahlia, Edelweiss, Gardenia inpatient units and Seruni outpatient units at Arifin Achmad Regional Hospital, Riau Province, selected through total sampling. Data were collected using the Breast Cancer Perception Scale and a BSE practice questionnaire. Univariate analysis was conducted using measures of central tendency and frequency distribution, while bivariate analysis was performed using the Pearson chi-square test. The univariate results showed a median age of 37 years and a median length of employment of 12 years. Most respondents held a bachelor\u27s degree in nursing with professional certification (53%) and were married (83.3%). Additionally, 92.4% had no family history of breast cancer, and 93.9% had no history of breast problems. More than half of the respondents (56.1%) had a positive perception of breast cancer, and 51.5% reported performing BSE occasionally. Bivariate analysis revealed a significant relationship between breast cancer perception and BSE practice (p = 0.034). These findings highlight the importance of enhancing nurses\u27 awareness and encouraging regular BSE practices as a preventive measure against breast cancer
EFEKTIVITAS PROMOSI KESEHATAN TERHADAP PERUBAHAN PENGETAHUAN TENTANG PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT PADA TATANAN RUMAH TANGGA DI KELURAHAN PEBATUAN
PHBS perwujudan kondisi kondusif bagi masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku kesehatan. Dampak perilaku dan lingkungan tidak sehat di masyarakat akan timbulnya berbagai macam penyakit menular. Tujuan penelitian mengetahui efektivitas promosi kesehatan terhadap perubahan pengetahuan tentang PHBS pada tatanan rumah tangga di Kelurahan Pebatuan. Jenis penelitian kuantitatif dengan rancangan pre eksperimental desain penelitian one group pretest posttest. Populasi dalam penelitian adalah sebanyak 94 orang. Sampel penelitian ini dipilih secara purposive sampling dengan menggunakan rumus lemeshow yang berjumlah 38 orang. Data diperoleh dari penyebaran kuesioner. Analisa data menggunakan uji non parametric yaitu uji wilcoxon rank test. Hasil penelitian didapatkan persentase responden dengan pengetahuan ASI ekslusif kurang sebelum promosi kesehatan sebanyak 55.3% dan pengetahuan baik ASI ekslusif 84.2% sesudah promosi kesehatan dan persentase responden dengan pengetahuan menimbang bayi/ balita kurang sebelum promosi kesehatan sebanyak 78.9% dan pengetahuan menimbang bayi/ balita baik 73.7% sesudah promosi kesehatan. Hasil penelitian menunjukan promosi kesehatan efektif untuk meningkatkan pengetahuan tentang PHBS dengan nilai p-value 0.000 <0.05. Saran dalam penelitian ini diharapkan peneliti selanjutnya dapat melakukan riset tentang pengaruh promosi kesehatan terhadap seluruh indikator (PHBS) dalam tatanan rumah tangga.PHBS represents the creation of a conducive condition for the community to improve knowledge, attitudes, and health behaviors. The impact of unhealthy behaviors and environments in the community will lead to various infectious diseases. The purpose of the research is to determine the effectiveness of health promotion on changes in knowledge about PHBS in the household setting in the Pebatuan Village. This is a quantitative research type with a pre-experimental design using a one-group pretest-posttest approach. The population for this study consists of 94 individuals. The sample for this study was selected through purposive sampling using the Lemeshow formula, resulting in a total of 38 individuals. Data was obtained through the distribution of questionnaires. Data analysis was performed using a non-parametric test, specifically the Wilcoxon rank test. The results of the study showed that the percentage of respondents with insufficient knowledge of exclusive breastfeeding before health promotion was 55.3%, and the percentage with good knowledge of exclusive breastfeeding after health promotion was 84.2%. The percentage of respondents with insufficient knowledge of weighing infants/children before health promotion was 78.9%, while the percentage with good knowledge of weighing infants/children after health promotion was 73.7%. The study results indicated that health promotion is effective in increasing knowledge about PHBS (Clean and Healthy Living Behavior) with a p-value of 0.000 <0.05. It is recommended that future researchers conduct studies on the impact of health promotion on all indicators (PHBS) within the household setting
PERANCANGAN APLIKASI PENGOLAHAN DATA BEROBAT DAN MELAHIRKAN PADA BIDAN FITRI PASAMAN BARAT DENGAN MENGGUNAKAN BAHASA PEMROGRAMAN JAVA DAN DATABASE MYSQL
Komputer merupakan salah satu teknologi yang dapat meringankan pekerjaan manusia terutama dalam pengolahan data. Data yang diolah akan menghasilkan output yang terjamin keakuratannya. Begitu juga pada Bidan Fitri, dalam pengolahan data berobat dan melahirkan pada bidan ini masih menggunakan pencatatan di kertas pada saat transaksi berobat dan melahirkan dan pembuatan laporannya masih pencatatan di buku besar. Selain itu tidak terstrukturnya data kelahiran sehingga susah dalam pembuatan surat keterangan kelahiran. Untuk dapat melakukan pengolahan data yang lebih cepat serta menghasilkan informasi yang akurat maka dibangunlah sebuah sistem informasi pengolahan data berobat dan melahirkan sebagai pengganti dari sistem lama yang masih dilakukan secara manual serta penyimpanan data dalam bentuk arsip