Jurnal Online STIKes Al-Insyirah
Not a member yet
731 research outputs found
Sort by
EFEKTIVITAS BUTTERFLY HUG DALAM MENGURANGI KECEMASAN PREOPERATIF PADA IBU HAMIL YANG MENJALANI SECTIO CAESAREA TERENCANA DI RUMAH SAKIT, INDONESIA
Kecemasan yang ibu rasakan saat masa kehamilan bisa berlanjut sampai menjelang tindakan sectio caesarea. Salah satu terapi nonfarmakologi yang dapat mengatasi kecemasan ibu sebelum sectio caesarea yaitu metode self healing dengan teknik butterfly hug. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana metode self-healing yang dikombinasikan dengan pendekatan butterfly hug berdampak pada kecemasan pasien yang mengalami sectio caesarea. Studi ini adalah quasi eksperiment dengan desain satu kelompok pretest dan kelompok posttest. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Sundari Medan dengan melibatkan sebanyak 33 orang sebagai sampel penelitian yang dipilih secara purposive. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu hamil yang mengalami kecemasan sebelum prosedur sectio caesarea dengan teknik butterfly hug Sebagian besar mengalami kecemasan berat, setelah melakukan metode self healing dengan teknik butterfly hug di sebagian besar cemas ringan. Metode self healing dengan teknik butterfly hug berpengaruh signifikan terhadap penurunan kecemasan pada ibu hamil yang menjalani sectio caesarea terencana . Perawat Rumah Sakit Umum Sundari Medan untuk memberikan edukasi terhadap pasien yang akan menjalani sectio caesarea, dalam pengelolaan kecemasan, dengan fokus pada pemanfaatan metode self healing dengan teknik butterfly hug sebagai salah satu cara untuk menurunkan tingkat kecemasanThe anxiety that mothers feel during pregnancy can continue until the caesarean section. One non-pharmacological therapy that can overcome maternal anxiety before caesarean section is the self-healing method using the butterfly hug technique The purpose of this study was to determine how the self-healing method combined with the hug butterfly approach affected the anxiety of patients undergoing cesarean section. This study was a quasi-experimental study with a single group pretest and posttest design. Sundari General Hospital in Medan served as the research location. The study involved 128 subjects, with 33 of them selected as a purposive sample. At Sundari General Hospital in Medan, data analysis was conducted using univariate and bivariate methods with a 95% confidence level (α=0.05). The results showed that patients who experienced anxiety before the cesarean section procedure using the butterfly hug technique mostly experienced severe anxiety (54.5%), with an average score of 29.45±5.729. After using the self-healing method with the butterfly hug technique, most patients experienced mild anxiety (78.8%), with an average score of 17.88±3.267. The self-healing method using the butterfly hug technique had a significant effect on reducing anxiety in caesarean section patients at the Sundari General Hospital in Medan, with a p-value = 0.000 < 0.05. Medan Sundari General Hospital nurses to provide education to patients who will undergo caesarean section, in managing anxiety, with a focus on the use of self-healing methods, with the butterfly hug technique as one way to reduce anxiety levels
EFEKTIVITAS PEMBERIAN KURMA DAN EKSTRAK MADU TERHADAP PENINGKATAN KADAR HEMOGLOBIN PADA REMAJA PUTRI DENGAN ANEMIA DI KARANG TARUNA DESA CIHIDEUNG KABUPATEN BANDUNG BARAT TAHUN 2025
Latar Belakang: Remaja pada masa pubertas sangat beresiko mengalami anemia gizi besi. Hal ini disebabkan banyaknya zat besi yang hilang selama menstruasi, selain itu diperburuk oleh kurangnya asupan zat besi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk percepatan pertumbuhan dan perkembangan. Hasil survey didapatkan anemia bisa menyebabkan Stunting, sehingga perlu penanganan serius karena 1 dari 4 remaja putri menderita anemia.
Tujuan Penelitian: Menganalis keefektifan kurna dan ekstrak madu dalam meningkatkan kadar hemoglobin pada remaja di desa cihideung tahun 2024.
Metode Penelitian: Penelitian kuantitatif dengan metode penelitian eksperimen dan menggunakan desain penelitian Two Group Pretest-Posttest. Pengambilan sampel menggunakan Teknik Purposive Sampling pada 30 responden.
Hasil Penelitian: Hasil penelitian didapatkan bahwa rata-rata kadar hemoglobin pada remaja dengan anemia setelah diberikan kurmaadalah 12,807 gr/dL dengan standar deviasi 0,6216 gr/dL, sedangkan rata-rata kadar hemoglobin remaja dengan anemia setelah diberikan madu adalah 12,173 gr/dL dengan standar deviasi 0,1422 gr/dL. Hasil uji statistik menggunakan Uji T Independen didapatkan nilai p = 0,006, dimana p < 0,05, sehingga terdapat perbedaan rata-rata kadar hemoglobin pada remaja dengan anemia yang signifikan antara kelompok kurma dan madu.
Simpulan: kurma lebih efektif dalam meningkatkan kadar hemoglobin pada remaja dengan anemia di desa cihideung Tahun 2024.
Kata Kunci : Anemia, Remaja, Kurma, MaduBackground: Adolescents during puberty are the most prone to anemia. This is due to many factors that affect it, one of which is the loss of iron during menstruation, in addition to being exacerbated by the lack of nutrient and iron intake that is needed by the body to help the growth and development process. The survey results found that anemia can cause stunting, so it needs serious treatment because 1 in 4 adolescent girls suffer from anemia. Research Objective: To analyze the effectiveness of kurna and honey extract in increasing hemoglobin levels in adolescents in Cihideung village in 2024. Research Method: Quantitative research with experimental research method and using a Two Group Pretest-Posttest research design. Sampling was done using the Purposive Sampling Technique on 30 respondents. Research Results: The results of the study found that the average hemoglobin level in adolescents with anemia after being given dates was 12.807 gr/dL with a standard deviation of 0.6216 gr/dL, while the average hemoglobin level of adolescents with anemia after being given honey was 12.173 gr/dL with a standard deviation of 0.1422 gr/dL. The results of the statistical test using the Independent T Test obtained a value of p = 0.006, where p < 0.05, so that there was a significant difference in the average hemoglobin level in adolescents with anemia between the date and honey groups. Conclusion: dates are more effective in increasing hemoglobin levels in adolescents with anemia in Cihideung village in 2024
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGENDALIAN HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS REJOSARI KOTA PEKANBARU TAHUN 2025
Hipertensi merupakan penyakit kelainan pada jantung dan pembuluh darah yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2023 menunjukkan prevalensi hipertensi di Indonesia menunjukkan 34,1% dari penduduk dewasa mengalami hipertensi. Berdasarkan data rekapitulasi 10 penyakit terbanyak di Puskesmas Rejosari tahun 2024, diketahui bahwa hipertensi merupakan peringkat tertinggi dengan kasus terbanyak yang tercatat sebesar 844 kasus. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pengendalian hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Rejosari Kota Pekanbaru. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain cross sectional. Adapun jumlah sampel diambil dari keseluruhan jumlah populasi yaitu sebanyak 80 responden (accidental sampling). Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis univariat dan bivariate mengunakan uji chi-square . Hasil penelitian menunjukkan responden yang memiliki perilaku yang tidak mengendalikan hipertensi sebanyak 53,7% dan mengendalikan hipertensi sebanyak 46,3%. analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan pengetahuan (P-value = 0,030), sosial ekonomi (p-value = 0,017), pelayanan kesehatan (p-value = 0,031), dukungan keluarga dan lingkungan sekitar (p-value = 0,031) dengan pengendalian hipertensi. Disarankan agar pasien hipertensi rutin memeriksakan tekanan darah, memanfaatkan layanan seperti Posbindu atau Prolanis, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk memperoleh pengobatan dan edukasi yang sesuai kemampuan. Pasien juga dianjurkan melibatkan keluarga dalam pengingat minum obat, penyediaan makanan sehat, dan pembentukan aktifitas fisik yang teraturHypertension is a cardiovascular disease characterized by elevated blood pressure and is often referred to as the silent killer due to its asymptomatic nature. The 2023 Basic Health Research (Riskesdas) reported that 34.1% of Indonesian adults suffer from hypertension. At Rejosari Public Health Center, hypertension ranked first among the ten most common diseases in 2024, with 844 recorded cases. This study aimed to analyze the factors associated with hypertension control in the working area of Rejosari Public Health Center, Pekanbaru City, in 2025. A quantitative study with a cross-sectional design was conducted on 80 respondents using total sampling. Data were collected through a validated and reliable questionnaire. Univariate and bivariate analyses were performed, with the chi-square test applied to examine associations between categorical variables. A total of 53.7% of respondents had uncontrolled hypertension, while 46.3% had controlled hypertension. Bivariate analysis revealed significant associations between knowledge (p=0.030; POR=3.506; CI 95%:1.237–9.943), socioeconomic status (p=0.017; POR=3.422; CI 95%:1.334–8.779), health services (p=0.031; POR=3.333; CI 95%:1.218–9.120), and family and environmental support (p=0.031; POR=3.333; CI 95%:1.218–9.120) with hypertension control. Knowledge, socioeconomic status, health services, and family/environmental support were significantly associated with hypertension control. Hypertensive patients are encouraged to routinely monitor blood pressure, utilize community-based programs such as Posbindu and Prolanis, and consult healthcare providers for appropriate treatment and education. Family involvement in reminding medication intake, preparing healthy meals, and promoting regular physical activity is essential to support effective hypertension management
PENERAPAN HEAD UP POSITION 30° PADA PASIEN STROKE NON HEMORAGIK DENGAN PENURUNAN KAPASITAS ADAPTIF INTRAKRANIAL: STUDI KASUS
Stroke non hemoragik merupakan salah satu penyebab tingginya angka kesakitan dan kematian, terutama akibat gangguan perfusi serebral dan peningkatan tekanan intrakranial (TIK). Peningkatan TIK dapat menurunkan kapasitas adaptif intrakranial sehingga berdampak pada penurunan kesadaran dan gangguan fungsi neurologis. Salah satu intervensi keperawatan yang efektif dan mudah diterapkan untuk menurunkan TIK adalah posisi head up 30°. Studi kasus ini bertujuan menggambarkan penerapan posisi head up 30° pada pasien Ny. M dengan diagnosis medis stroke non hemoragik dan masalah keperawatan penurunan kapasitas adaptif intrakranial. Penelitian dilakukan di Ruang ICU RSUD Kardinah Tegal pada tanggal 1–3 September 2025 menggunakan metode studi kasus yang meliputi pengkajian, diagnosis, intervensi, implementasi, dan evaluasi keperawatan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, pemeriksaan fisik, dan studi dokumentasi. Intervensi posisi head up 30° diberikan setiap hari dengan pemantauan tanda vital dan tingkat kesadaran. Hasil menunjukkan adanya perbaikan bertahap, ditandai dengan penurunan gelisah, peningkatan GCS dari E2M2V2 menjadi E4M5V2, serta penurunan tekanan darah dari 194/87 mmHg menjadi 147/88 mmHg. Kesimpulan dari studi kasus ini adalah bahwa posisi head up 30° efektif sebagai intervensi nonfarmakologis dalam menurunkan tekanan intrakranial dan memperbaiki perfusi serebral pada pasien stroke non hemoragik.Non-hemorrhagic stroke is a major cause of morbidity and mortality, primarily due to impaired cerebral perfusion and increased intracranial pressure (ICP). Elevated ICP reduces intracranial adaptive capacity, leading to decreased consciousness and neurological dysfunction. One of the effective and easily applied nursing interventions to reduce ICP is the 30-degree head-up position. This case study aims to describe the application of the 30° head-up position in Mrs. M, diagnosed with non-hemorrhagic stroke and experiencing decreased intracranial adaptive capacity. The study was conducted in the ICU of Kardinah General Hospital, Tegal, from September 1 to 3, 2025, using a case study approach covering assessment, diagnosis, intervention, implementation, and evaluation. Data were collected through observation, interviews, physical examination, and documentation review. The head-up 30° intervention was administered daily with continuous monitoring of vital signs and consciousness levels. The results showed gradual improvement, indicated by reduced restlessness, an increase in the GCS score from E2M2V2 to E4M5V2, and a decrease in blood pressure from 194/87 mmHg to 147/88 mmHg. In conclusion, the 30° head-up position is effective as a non-pharmacological intervention in reducing intracranial pressure and improving cerebral perfusion in patients with non-hemorrhagic stroke
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DAN STATUS NUTRISI TERHADAP KEJADIAN DEPRESI PADA LANSIA
Bertambahnya usia meningkatkan risiko depresi pada lansia, Berbagai faktor dapat mempengaruhi kondisi ini, termasuk dukungan dari keluarga serta status gizi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara dukungan keluarga dan status gizi terhadap kejadian depresi pada lansia yang berkunjung ke Puskesmas Rejosari, Pekanbaru. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampling adalah consecutive sampling berjumlah 256 lansia. Alat ukur yang digunakan meliputi Geriatric Depression Scale (GDS) untuk menilai tingkat depresi, kuesioner dukungan keluarga, Status gizi dinilai menggunakan instrumen Mini Nutritional Assessment (MNA), dan hubungan antara status gizi dengan depresi pada lansia dianalisis menggunakan uji Gamma. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga (nilai p: 0,001) dan status gizi (nilai p: 0,020) dengan tingkat depresi pada lansia. Temuan ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi keluarga serta tenaga kesehatan agar lebih memperhatikan aspek sosial dan gizi dalam upaya pencegahan depresi pada lansia.Advancing age increases the risk of depression among the elderly. Various factors may contribute to this condition, including family support and nutritional status. This study aimed to examine the relationship between family support and nutritional status with the incidence of depression among elderly individuals attending the Rejosari Health Center in Pekanbaru. A quantitative study with a cross- sectional design was conducted. A total of 256 elderly participants were selected using consecutive sampling. The instruments used included the Geriatric Depression Scale (GDS) to assess depression levels, a family support questionnaire, and the Mini Nutritional Assessment (MNA) to evaluate nutritional status. Data were analyzed using the Gamma statistical test. The results showed a significant relationship between family support (p = 0.001) and nutritional status (p = 0.020) with depression levels among the elderly. These findings are expected to provide valuable insights for families and healthcare professionals in addressing social and nutritional aspects to help prevent depression in the elderly
HUBUNGAN MOTIVASI DAN PERSEPSI PERAWAT DENGAN PELAKSANAAN PENDOKUMENTASIAN EDUKASI KESEHATAN DI RSUD ARIFIN ACHMAD
Pendokumentasian edukasi kesehatan merupakan proses penting dalam praktik keperawatan yang mencatat informasi edukasi yang diberikan kepada pasien, berfungsi sebagai legalitas perawat, dan mendukung integrasi tugas antar perawat. Kelengkapan pendokumentasian ini didorong oleh motivasi dan persepsi perawat akan pentingnya dokumentasi dalam meningkatkan kualitas perawatan. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara motivasi dan persepsi perawat terhadap pelaksanaan pendokumentasian edukasi kesehatan di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau. Penelitian menggunakan studi kuantitatif, dengan desain deskriptif korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel penelitian ini 47 orang perawat menggunakan Teknik total sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dan lembar observasi. Analisi data menggunakan uji statistik chi-square. Hasil penelitian didapatkan responden motivasi tinggi 24 orang perawat (51,1%), responden motivasi rendah 23 orang perawat (48,9%) dan responden persepsi baik 27 orang perawat (57,4%), responden persepsi kurang baik 20 orang perawat (42,6%). Hasil uji statistik chi-square didapatkan motivasi perawat p value (0,627) dan persepsi perawat p value (0,689) dimana p value > (0,05) yang bermakna tidak terdapat hubungan antara motivasi dan persepsi perawat terhadap pelaksanaan pendokumentasian edukasi kesehatan. Diharapkan kepala ruangan dan rumah sakit memberikan penghargaan terhadap perawat yang melakukan pendokumentasian edukasi dan perawat selalu menerapkan standar perosedur operasional (SPO) agar perawat lebih memperhatikan lagi setiap poin pendokumentasian edukasi kesehatan saat melakukan pendokumentasian.The documentation of health education is an essential process in nursing practice, recording the educational information provided to patients. It serves as legal proof for nurses and supports the integration of tasks among them. The completeness of this documentation is driven by nurses\u27 motivation and perception of its importance in improving the quality of care. This study aims to determine the relationship between nurses\u27 motivation and perception with the implementation of health education documentation at Arifin Achmad Regional General Hospital, Riau Province. The research employs a quantitative study with a descriptive-correlational design using a cross-sectional approach. The sample consists of 47 nurses selected through a total sampling technique. The research instruments include questionnaires and observation sheets. Data analysis was conducted using the chi-square statistical test. The results showed that 24 nurses (51.1%) had high motivation, while 23 nurses (48.9%) had low motivation. Additionally, 27 nurses (57.4%) had a good perception, whereas 20 nurses (42.6%) had a less favorable perception. The chi-square statistical test results indicated that nurses\u27 motivation had a p-value of 0.627, and nurses\u27 perception had a p-value of 0.689, where the p-value was> 0.05. This means there is no significant relationship between nurses\u27 motivation and perception of the implementation of health education documentation. It is recommended that the head of the ward and the hospital provide recognition or rewards to nurses who actively document health education. Furthermore, nurses should consistently adhere to Standard Operating Procedures (SOPs) to ensure greater attention to every aspect of health education documentation during the documentation process
PENGARUH HYDROTHERAPI TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2
Hydroterapi baik secara internal maupun eksternal, dapat menjadi terapi komplementer yang bermanfaat bagi penderita diabetes melitus tipe 2 dalam membantu mengelola kadar gula darah, Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh hydrotherapi terhadap penurunan kadar gula darah pada pasien diabetes milletus di Rumah Sakit X Medan. Penelitian ini menggunakan quasi experimen dengan kelompk kontrol. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Teknik purposive sampling sehingga didapatkan jumlah sampel sesuai kreteria inklusi sebanyak 30 orang partisipan yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu 15 partisipan kelompok intervensi dan 15 partisipan kelompok kontrol. Berdasarkan uji wilcoxon menunjukan terdapat pengaruh signifikan p<0,000 hal ini menunjukan bahwa ada pengaruh hydroterapi terhadap penurunan kadar gula darah pada pasien diabetes mellitus tipe 2. Diharapkan dapat menjadi terapi pendamping bagi penderita diabetes milletus tipe 2 yang dirawat dirumah sakit maupun di rumahHydrotherapy, both internally and externally, can be a useful complementary therapy for people with type 2 diabetes mellitus in helping to manage blood sugar levels. The purpose of this study was to determine the effect of hydrotherapy on reducing blood sugar levels in diabetes mellitus patients at X Hospital Medan. This study used a quasi-experimental design with a control group. The sampling technique used was a purposive sampling technique so that the number of samples obtained according to the inclusion criteria was 30 participants who were divided into two groups, namely 15 participants in the intervention group and 15 participants in the control group. Based on the Wilcoxon test, it showed a significant effect of p <0.000, this indicates that there is an effect of hydrotherapy on reducing blood sugar levels in type 2 diabetes mellitus patients. It is hoped that it can be a complementary therapy for type 2 diabetes mellitus patients who are treated in hospitals or at home
HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH DENGAN KEJADIAN HIPERBILIRUBINIA DI PUSKESMAS BONGO NOL
Penelitian memiliki tujuan guna memperoleh hasil dari analisis keterkaitan antara berat badan lahir rendah (BBLR) dan kejadian hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir di Puskesmas Bongo Nol. Penelitian ini memakai metode cross-sectional dengan mengikutsertakan 40 bayi sebagai sampel. Data diambil dari rekam medis dan dianalisis menggunakan pengujian tipe Kendall’s tau-b. Hasil akhir memperlihatkan bahwa terdapat keterkaitan positif yang sejalan antara BBLR dan hiperbilirubinemia (koefisien korelasi 0,562, p < 0,01). Bayi dengan BBLR mempunyai presentase lebih tinggi mengidap hiperbilirubinemia akibat ketidakmatangan fungsi hati yang menghambat eliminasi bilirubin. Kesimpulan penelitian ini menegaskan pentingnya deteksi dini dan intervensi pada bayi dengan BBLR untuk mencegah komplikasi serius. Rekomendasi mencakup penguatan edukasi ibu hamil, peningkatan asupan gizi selama kehamilan, dan akses layanan kesehatan yang lebih baik.This study aims to analyze the relationship between low birth weight (LBW) and the incidence of hyperbilirubinemia in newborns at Bongo Nol Health Center. This study used a cross-sectional design involving 40 infants as samples. Data were taken from medical records and analyzed using Kendall\u27s tau-b correlation test. The results showed that there was a significant positive relationship between LBW and hyperbilirubinemia (correlation coefficient 0.562, p < 0.01). Infants with LBW have a higher risk of hyperbilirubinemia due to immaturity of liver function that inhibits bilirubin elimination. The conclusion of this study emphasizes the importance of early detection and intervention in infants with LBW to prevent serious complications. Recommendations include strengthening education for pregnant women, increasing nutritional intake during pregnancy, and better access to health services
HUBUNGAN PENGHASILAN, KELOMPOK UMUR, TINGKAT PENDIDIKAN DAN STATUS PEKERJAAN TERHADAP KEPEMILIKAN ASURANSI KESEHATAN DI KOTA BOGOR
A Health insurance is a form of insurance designed to ease the financial burden due to changes in health. As of Q1 2023, Indonesia has 136 insurance companies consisting of 2 social insurance, 2 mandatory insurance, 72 general insurance, 53 life insurance and 7 reinsurance companies. The percentage of Bogor city residents who have health insurance in the form of BPJS health is 56.49%, Jamkesda/private insurance/Company is 7.91% in 2021. The absence of health insurance can be a poverty trap. In addition, the absence of health insurance will affect the utilization of health services, health expenditure and health status. This study aims to determine the relationship between income, age group, education level and employment status to health insurance ownership in the city of Bogor. This study is a further analysis by utilizing data from the Cohort Study of Non-Communicable Disease Risk Factors (NCDs) in Bogor City in 2018 from the Ministry of Health of the Republic of Indonesia. The design of this study is Cross Sectional. Respondents registered in the 2018 Bogor City NCD cohort study amounted to 3,784 respondents with the analysis test used was Chi Square. Ownership of health insurance in Bogor City is significantly influenced by income, age group, education level, and employment status, with each variable having a p-value <0.05. The results of this study can be the basis for developing more effective policies and programs to improve access to health services and community welfare
Asuransi kesehatan adalah salah satu bentuk asuransi yang dirancang untuk meringankan beban keuangan karena perubahan dari kesehatannya. Per Triwulan 1 2023, Indonesia memiliki 136 perusahaan asuransi yang terdiri dari 2 asuransi sosial, 2 asuransi wajib, 72 asuransi umum, 53 asuransi jiwa dan 7 perusahaan reasuransi. Persentase penduduk kota Bogor yang memiliki jaminan kesehatan berupa BPJS kesehatan sebesar 56,49%, jamkesda/asuransi swasta/Perusahaan sebesar 7,91 % pada tahun 2021. Ketiadaan jaminan kesehatan dapat menjadi sebuah jebakan kemiskinan. Selain itu, ketiadaan kepemilikan jaminan kesehatan akan berpengaruh terhadap utilisasi pelayanan kesehatan, pengeluaran kesehatan dan status kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penghasilan, kelompok umur, tingkat pendidikan dan status pekerjaan terhadap kepemilikan asuransi kesehatan di kota Bogor. Penelitian ini merupakan analisis lanjut dengan memanfaatkan data Studi Kohor Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular (PTM) di Kota Bogor tahun 2018 dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Desain penelitian ini adalah Cross Sectional. Responden yang teregistrasi pada studi kohor PTM Kota Bogor tahun 2018 berjumlah 3.784 responden dengan uji analisis yang digunakan adalah Chi Square. Kepemilikan asuransi kesehatan di kota Bogor secara signifikan dipengaruhi oleh penghasilan, kelompok umur, tingkat pendidikan, dan status pekerjaan, dengan masing-masing variabel memiliki p-value < 0,05. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar bagi pengembangan kebijakan dan program yang lebih efektif untuk meningkatkan akses layanan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat
EFEKTIVITAS PEMBERIAN KOMPRES HANGAT TERHADAP PENURUNAN NYERI MENSTRUASI PADA REMAJA PUTRI DI PONDOK PESANTREN SRAGEN
Latar belakang: Nyeri menstruasi merupakan terjadi sebelum dan selama menstruasi yang dapat mengganggu aktifitas. Prevalensi dysmenorrhea di Indonesia sebesar 60-70% wanita. Menyebabkan ketidaknyamanan, mengganggu aktifitas sehari-hari. Penanganan nyeri menstruasi farmakologis dan non farmakologis. Hal ini sering terjadi pada remaja yang dapat disebabkan karena beberapa faktor. Tujuan: penelitian ini untuk mengetahui kefektifan pemberian kompres hangat terhadap penurunan nyeri menstruasi pada remaja putri di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Ulya Sragen. Metode: Penelitian ini quasi experiment. Sampel diambil dengan konsekutif sampling jumlah 64 santriwati usia 15-18 tahun kriteria inklusi kulit tidak alergi terhadap panas dan dingin, tidak mengalami kelainan gangguan reproduksi lainnya. Pengumpulan data menggunakan lembar kuesioner NRS. Analisis data menggunakan Uji Paired T-Test. Hasil: penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nyeri menstruasi sebelumdan sesudah diberikan kompres hangat didapatkan selisih 3,28 (p=0,000), Sedangkan sebelum dan sesudah dilakukan kompres dingin selisih 0,65 (p=0,005). Selanjutnya di Uji dengan Paired T-Test disimpulkan bahwa ada perbedaan antara sebelum dan sesudah dilakukan teknik kompres hangat dengan nilai Sig. (0,000) dan kompres dingin dengan nilai Sig. (0.005). Maka dapat disimpulkan ada perbedaan penurunan nyeri menstruasi dengan kompres hangat dan kompres dingin.
Simpulan: Kompres Hangat lebih efektif dalam menurunkan nyeri menstruasi.Menstrual pain occurs before and during menstruation and can interfere with daily activities. The prevalence of dysmenorrhea in Indonesia is around 60-70% among women. It causes discomfort and disrupts daily routines. Menstrual pain can be managed through pharmacological and non-pharmacological methods. This condition is common among adolescents and can be caused by several factors. The aim of this study was to determine the effectiveness of warm compresses in reducing menstrual pain in adolescent girls at Miftahul Huda Al Ulya Islamic Boarding School, Sragen. This methods research was a quasi-experimental study. The sample was taken using consecutive sampling, involving 64 female students aged 15–18 years who met the inclusion criteria: no skin allergies to heat or cold, and no other reproductive disorders. Data collection used an NRS (Numeric Rating Scale) questionnaire. Data were analyzed using a Paired T-Test. Showed that the average reduction in menstrual pain before and after applying a warm compress was 3.28 (p = 0.000), while the reduction after applying a cold compress was 0.65 (p = 0.005). The Paired T-Test indicated a significant difference in pain levels before and after both warm and cold compress treatments, with significance values of 0.000 and 0.005, respectively. It can be concluded that there is a difference in the reduction of menstrual pain between the warm and cold compress method. Conclusion: of this study is that warm compresses are more effective in reducing menstrual pain