Jurnal Online STIKes Al-Insyirah
Not a member yet
731 research outputs found
Sort by
ANALISIS TINGKAT KESELAMATAN PERALATAN PROTEKSI RADIASI TERHADAP RADIOGRAPHER PADA RUMAH SAKIT B PEKANBARU
Paparan dari sinar radiasi bersifat akumulatif dan mengakibatkan banyak dampak berbahaya seperti efek stokastik dan non stokastik terhadap pekerja radiasi dan masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan penerapan prosedur keselamatan radiasi yang memenuhi persyaratan dari standar peraturan Bapeten No.4 Tahun 2020. Pada peraturan ini, ditetapkan beberapa hal dalam upaya keselamatan radiasi antara lain adalah penggunaan Alat Pelindung Diri seperti Apron, Pelindung Mata dan Tiroid, Pelindung Tangan, serta penggunaan Dosimeter Pasif Personal untuk memonitor dosis yang diterima pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi SOP dari penggunaan Alat pelindung Diri dan Pemantauan Dosis Personal dari pekerja radiasi pada Radiologi Rumah Sakit B. Penelitian ini menggunakan metode Deskriptif Komparatif dengan melakukan survey dan observasi langsung dalam melakukan pengambilan data dengan objek yang diamati berupa Alat Pelindung Diri dan Arsip Dosimeter Pasif Personal. Persentase dari kesesuaian penerapan peralatan proteksi radiasi akan diukur dengan menggunakan Checklist yang mengacu pada SOP Bapeten, dan setelah itu dilakukan wawancara sebagai data pendukung dari penelitian. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan didapatkan persentase kesesuaian penerapan peralatan proteksi radiasi dengan sebagai berikut : Apron dengan persentase 87,5% dinyatakan memenuhi persyaratan, Pelindung Mata 83% memenuhi persyaratan, Sarung Tangan 37,5% Kurang memenuhi persyaratan, dan Pelindung Tiroid dinyatakan tidak memenuhi persyaratan dikarenakan tidak tersedia pada Rumah Sakit B, serta penerapan dari penggunaan Dosimeter Pasif Personal dengan persentase 100% memenuhi persyaratan
TINJAUAN LITERATUR: PENGARUH PEMBERIAN KUNYIT ASAM TERHADAP INTENSITAS NYERI DISMENORE PRIMER PADA REMAJA
Dismenore primer adalah kondisi nyeri haid tanpa kelainan organik yang sering dialami remaja putri dan wanita muda. Kunyit asam, kombinasi Curcuma longa dan Tamarindus indica, telah lama digunakan sebagai obat tradisional karena sifat antiinflamasi dan analgesiknya. Literatur review ini bertujuan merangkum bukti ilmiah terkait efektivitas kunyit asam dalam mengurangi nyeri haid. Sebanyak 20 artikel terpilih dari tahun 2017–2024 dianalisis berdasarkan desain studi, sampel, metode intervensi, dan hasil pengukuran nyeri. Hasil menunjukkan mayoritas studi, termasuk RCT dan quasi eksperimen, melaporkan penurunan nyeri haid yang signifikan setelah pemberian kunyit asam atau kurkumin. Efek ini diduga melalui mekanisme penghambatan prostaglandin dan penurunan inflamasi. Meskipun hasilnya menjanjikan, keterbatasan seperti ukuran sampel kecil, durasi pendek, dan variasi metodologi menjadi catatan penting. Diperlukan penelitian lanjutan dengan desain yang lebih rigor dan evaluasi jangka panjang untuk mendukung implementasi klinis kunyit asam sebagai terapi alternatif dismenore primer. Primary dysmenorrhea is menstrual pain without organic pathology, commonly affecting adolescent girls and young women. Turmeric-tamarind (Curcuma longa and Tamarindus indica) has been traditionally used for its anti-inflammatory and analgesic properties. This literature review aims to summarize current evidence on its effectiveness in reducing menstrual pain. A total of 20 studies from 2017 to 2024 were reviewed, covering various designs including RCTs and quasi-experiments. Most studies reported significant reductions in menstrual pain following turmeric-tamarind or curcumin administration, potentially through prostaglandin inhibition and inflammation modulation. While results are promising, limitations such as small sample sizes, short intervention durations, and methodological variations must be noted. Further well-designed trials are needed to validate turmeric-tamarind as a complementary therapy for primary dysmenorrhea
HUBUNGAN PERILAKU PENCEGAHAN GIGITAN NYAMUK ANOPHELES DENGAN KEJADIAN MALARIA DI PA’LALAKANG
Malaria merupakan penyakit infeksi parasit yang terpenting di dunia dengan perkiraan satu miliar orang berada dalam risiko tertular penyakit ini. Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar merupakan daerah pesisir pantai, hal ini terkait dengan kondisi lingkungan daerah yang kebanyakan daerah rawa-rawa yang menjadi tempat potensi nyamuk Anopheles untuk berkembang biak. Secara keseluruhan temuan penderita malaria di Kecamatan Galesong tiga tahun berturut-turut dengan jumlah penduduk yang berisiko 5.611 orang. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubugan perilaku menghindari gigitan nyamuk Anopheles dengan kejadian malaria. Penelitian ini merupakan jenis penelitian Observasional dengan pendekatan Cross Sectional Study. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Pa’lalakang Kecamatan Galesong Sampel penelitian sebanyak 140 responden yang diambil dengan menggunakan program SPSS dan Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan variabel penggunaan kelmabu, penggunaan kawat kasa, penggunaan obat nyamuk, kebiasaan berada diluar rumah dimalam hari dan penggunaan pakaian lengan panjang tidak memiliki hubungan dengan kejadia nmalaria dikarenakan nilai Ho (p >0,05). Penelitian ini menyarankan kepada masyarakat agar memperbaiki lingkungan dalam rumah seperti memasang kawat kasa pada ventilasi rumah, menggunakan kelambu dan obat nnyamuk waktu tidur, menghindari kegiatan diluar rumah pada malam hari pada jam aktif nyamuk Aopheles mengigit dan memakai pakaian pelindung.Malaria is the most important parasitic infectious disease in the world, with an estimated one billion people at risk of contracting the disease. Galesong District, Takalar Regency, is a coastal area, due to the area\u27s environmental conditions, which are mostly swampy, providing potential breeding grounds for Anopheles mosquitoes. Overall, malaria cases have been found in Galesong District for three consecutive years, with a population at risk of 5,611. The purpose of this study was to determine the relationship between behaviors to avoid Anopheles mosquito bites and malaria incidence. This study was an observational study using a cross-sectional approach. The study was conducted in Pa\u27lalakang Village, Galesong District. The sample size was 140 respondents, selected using SPSS software. Data analysis was performed using univariate and bivariate methods. The results of this study indicate that the variables of mosquito net use, wire netting, mosquito repellent use, nighttime outdoor habits, and long-sleeved clothing are not associated with malaria incidence, with a Ho value of p > 0.05. Although there is no significant relationship, efforts to prevent Anopheles mosquito bites still need to be increased through education, environmental management and integrated vector contro
EKSPLORASI PERSEPSI DAN TANTANGAN KADER DALAM MELAKUKAN TES BISIK SEBAGAI DETEKSI DINI GANGGUAN PENDENGARAN DI POSYANDU PADEMANGAN
Gangguan pendengaran merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sering tidak terdeteksi dini, terutama pada lansia, dan berdampak pada kualitas hidup serta fungsi sosial. Keterbatasan fasilitas THT di layanan primer mendorong perlunya metode skrining sederhana yang dapat dilakukan kader kesehatan. Tes bisik dipandang sebagai metode praktis, murah, dan berpotensi digunakan dalam skrining berbasis komunitas. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pengalaman kader Posyandu dalam melaksanakan tes bisik serta mengidentifikasi hambatan dan persepsi yang muncul dalam pelaksanaannya.
Penelitian menggunakan desain kualitatif di Posyandu Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara, pada Juni–Juli 2025. Subjek penelitian adalah kader Posyandu yang telah mendapatkan pelatihan pelaksanaan tes bisik. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi non- partisipatif, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis secara tematik.
Hasil penelitian menunjukkan kader menilai tes bisik mudah dilakukan dan dapat diterima oleh lansia, namun pelaksanaan sering terhambat oleh keterbatasan ruang, kondisi lingkungan yang bising, belum adanya daftar kata bisik baku, serta keterbatasan sarana. Observasi juga memperlihatkan adanya adaptasi kader, seperti mengintegrasikan tes bisik dengan pemeriksaan lansia meski tidak sepenuhnya sesuai standar WHO. Kader menekankan pentingnya pelatihan ulang dan dukungan teknis untuk meningkatkan keterampilan.
Temuan ini menunjukkan bahwa tes bisik berpotensi menjadi metode skrining gangguan pendengaran yang layak diterapkan di komunitas. Keberhasilan implementasi membutuhkan dukungan berupa standar operasional, ruang khusus, sarana prasarana yang memadai, serta supervisi berkelanjutan.Gangguan pendengaran merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sering tidak terdeteksi dini, terutama pada lansia, dan berdampak pada kualitas hidup serta fungsi sosial. Keterbatasan fasilitas THT di layanan primer mendorong perlunya metode skrining sederhana yang dapat dilakukan kader kesehatan. Tes bisik dipandang sebagai metode praktis, murah, dan berpotensi digunakan dalam skrining berbasis komunitas. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pengalaman kader Posyandu dalam melaksanakan tes bisik serta mengidentifikasi hambatan dan persepsi yang muncul dalam pelaksanaannya.
Penelitian menggunakan desain kualitatif di Posyandu Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara, pada Juni–Juli 2025. Subjek penelitian adalah kader Posyandu yang telah mendapatkan pelatihan pelaksanaan tes bisik. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi non- partisipatif, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis secara tematik.
Hasil penelitian menunjukkan kader menilai tes bisik mudah dilakukan dan dapat diterima oleh lansia, namun pelaksanaan sering terhambat oleh keterbatasan ruang, kondisi lingkungan yang bising, belum adanya daftar kata bisik baku, serta keterbatasan sarana. Observasi juga memperlihatkan adanya adaptasi kader, seperti mengintegrasikan tes bisik dengan pemeriksaan lansia meski tidak sepenuhnya sesuai standar WHO. Kader menekankan pentingnya pelatihan ulang dan dukungan teknis untuk meningkatkan keterampilan.
Temuan ini menunjukkan bahwa tes bisik berpotensi menjadi metode skrining gangguan pendengaran yang layak diterapkan di komunitas. Keberhasilan implementasi membutuhkan dukungan berupa standar operasional, ruang khusus, sarana prasarana yang memadai, serta supervisi berkelanjutan
PENGARUH TERAPI RELAKSASI NAPAS DALAM TERHADAP KEMAMPUAN MENGENDALIKAN AMARAH PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN JIWA YANG MEMILIKI RISIKO PERILAKU KEKERASAN
Kesehatan jiwa adalah kondisi optimal secara kognitif, emosional, fisik, perilaku, dan sosial, yang memungkinkan individu menjalankan fungsinya secara efektif dan merasa puas dalam peran sosial. Salah satu ancaman terhadap kesehatan jiwa adalah perilaku kekerasan, yang sering kali muncul sebagai respons terhadap stres atau emosi negatif seperti amarah yang tidak terkendali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi relaksasi napas dalam terhadap kemampuan mengendalikan amarah pada pasien gangguan jiwa dengan risiko perilaku kekerasan. Desain penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif pretest-posttest satu kelompok tanpa kontrol, dengan sampel sebanyak 30 pasien di fasilitas kesehatan jiwa. Intervensi berupa terapi relaksasi napas dalam diberikan setiap hari selama tujuh hari, masing-masing sesi berdurasi 15–20 menit dan dipandu oleh tenaga kesehatan. Kemampuan mengontrol amarah diukur melalui observasi dan skala penilaian risiko kekerasan, dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank dengan signifikansi p < 0,05. Hasil menunjukkan adanya perubahan signifikan sebelum dan sesudah intervensi, ditandai dengan penurunan agresivitas verbal maupun fisik, serta meningkatnya kemampuan kontrol emosi. Terapi ini terbukti merangsang sistem saraf parasimpatis serta pelepasan endorfin dan enkefalin, yang menimbulkan efek tenang dan meningkatkan fungsi kognitif. Meskipun demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan, seperti tidak adanya kelompok kontrol dan waktu pengamatan yang terbatas. Kesimpulannya, terapi relaksasi napas dalam efektif sebagai intervensi non-farmakologis untuk mengelola amarah dan mengurangi risiko kekerasan pada pasien gangguan jiwa. Disarankan terapi ini diterapkan secara rutin dalam program rehabilitasi. Mental health is an optimal condition in terms of cognitive, emotional, physical, behavioral, and social aspects, enabling individuals to function effectively and feel satisfied in their social roles. One of the threats to mental health is violent behavior, which often arises as a response to stress or negative emotions such as uncontrolled anger. This study aims to determine the effect of deep breathing relaxation therapy on the ability to control anger in psychiatric patients at risk of violent behavior. The research design used a quantitative one-group pretest-posttest approach without a control group, with a sample of 30 patients in a mental health facility. The intervention involved daily deep breathing relaxation therapy for seven days, each session lasting 15–20 minutes and guided by healthcare professionals. The ability to control anger was measured through observation and a violence risk rating scale, analyzed using the Wilcoxon Signed Rank test with a significance level of p < 0.05.The results showed a significant change before and after the intervention, marked by a decrease in verbal and physical aggression, as well as an improvement in emotional control. This therapy has been proven to stimulate the parasympathetic nervous system and the release of endorphins and enkephalins, which produce a calming effect and enhance cognitive function. However, this study has limitations, such as the absence of a control group and a limited observation period. In conclusion, deep breathing relaxation therapy is effective as a non-pharmacological intervention to manage anger and reduce the risk of violence in patients with mental disorders. It is recommended that this therapy be implemented regularly in rehabilitation programs
PELAYANAN KELUARGA BERENCANA SERENTAK DALAM RANGKA HUT IBI KE-74 DAN INTERNATIONAL DAY Of THE MIDWIFE 2025: KOLABORASI STRATEGIS IBI DAN BKKBN DALAM MENINGKATKAN AKSES KONTRASEPSI DI KOTA PEKANBARU
Pelayanan Keluarga Berencana (KB) merupakan upaya penting dalam menurunkan angka kehamilan tidak direncanakan dan mendukung program pembangunan keluarga. Keluarga berencana merupakan tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk untuk menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, tujuannya yaitu meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak serta mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera nelalui pengendalian kelahiran dan pengendalian pertumbuhan penduduk Indonesia (Anggraini, dkk, 2021). Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan akses dan pemanfaatan layanan KB melalui kegiatan pelayanan serentak yang dilakukan oleh Ikatan Bidan Indonesia (IBI) bekerja sama dengan BKKBN. Metode yang digunakan adalah kegiatan pelayanan langsung dan penyuluhan kepada Wanita Usia Subur (WUS) di wilayah kerja Puskesmas Tenayan Raya, Pekanbaru yang dimulai pada tanggal 5 Mei sampai 31 Mei 2025. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan jumlah akseptor baru, khususnya penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP). Tantangan berupa keraguan peserta terhadap kontrasepsi berhasil diatasi melalui konseling interpersonal oleh bidan. Kegiatan ini menunjukkan efektivitas pendekatan kolaboratif dalam penguatan program KB nasional.Pelayanan Keluarga Berencana (KB) merupakan upaya penting dalam menurunkan angka kehamilan tidak direncanakan dan mendukung program pembangunan keluarga. Keluarga berencana merupakan tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk untuk menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, tujuannya yaitu meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak serta mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera nelalui pengendalian kelahiran dan pengendalian pertumbuhan penduduk Indonesia (Anggraini, dkk, 2021). Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan akses dan pemanfaatan layanan KB melalui kegiatan pelayanan serentak yang dilakukan oleh Ikatan Bidan Indonesia (IBI) bekerja sama dengan BKKBN. Metode yang digunakan adalah kegiatan pelayanan langsung dan penyuluhan kepada Wanita Usia Subur (WUS) di wilayah kerja Puskesmas Tenayan Raya, Pekanbaru yang dimulai pada tanggal 5 Mei sampai 31 Mei 2025. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan jumlah akseptor baru, khususnya penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP). Tantangan berupa keraguan peserta terhadap kontrasepsi berhasil diatasi melalui konseling interpersonal oleh bidan. Kegiatan ini menunjukkan efektivitas pendekatan kolaboratif dalam penguatan program KB nasional
EFEKTIVITAS BUKU SAKU DAN PERAN TEMAN SEBAYA DALAM MENINGKATKAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA
Biological and sociological changes in adolescents allow for two forms of integration. First, they form a sense of consistency in their lives. Second, the achievement of the established role. Juvenile delinquency occurs because adolescents fail to reach the second integration period. Various emotional turmoil arises and can affect adolescent health. The role of the closest person is like a double-edged sword, which can be the reason for the success of adolescents in maintaining and preserving their reproductive health. This study aimed to see the pocketbook method\u27s effectiveness and peers\u27 role in improving students\u27 reproductive health. This study used a one-group pre-posttest design. The pocketbook method is effective, with a calculated t value for knowledge and attitudes of 6.294> t table 2.201, which means that there is a difference in the average knowledge and attitude, or the application of the pocketbook method results in changes in knowledge and attitudes. The role of peers is influential, with a calculated t value of 7.345 > t table 2.201, which means that there is a difference in the average knowledge and attitude, or the application of the peer method results in changes in knowledge and attitudes
PENGARUH EDUKASI TENTANG MENARCHE TERHADAP TINGKAT KECEMASAN DAN KESIAPAN MENGHADAPI MENARCHE PADA SISWI KELAS VI DI KABUPATEN SUKABUMI
Indonesia tahun 2018 terdapat 49,1% remaja usia 10-19 tahun yang mengalami kecemasan terhadap pubertas termasuk masalah menstruasi. Kecemasan yang tidak diatasi segera menimbulkan berbagai gangguan kesehatan yang dapat mengganggu aktivitas. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh edukasi tentang menarche terhadap tingkat kecemasan dan kesiapan menghadapi menarche pada siswi kelas VI di Kabupaten Sukabumi. Desain penelitian menggunakan quasi experiment pretest-posttest control group design. Populasi penelitian siswi kelas VI yang belum menstruasi dengan jumlah sampel di MI MWB 48, MI Muhammadiyah Cipetir 20, SDN Kadudampit 25. Analisis data menggunakan Wilcoxon dan mann whitney. Uji Wilcoxon di dapat ada pengaruh edukasi melalui media video, leaflet dan ceramah terhadap tingkat kecemasan dan kesiapan menghadapi menarche. Uji mann whitney tingkat kecemasan p-value 0,000 dan kesiapan menghadapi menarche p-value 0,702 artinya ada perbedaan pengaruh edukasi media video dengan media ceramah terhadap tingkat kecemasan dan tidak ada perbedaan kesiapan menghadapi menarche . Tingkat kecemasan p-value 0,046 dan kesiapan menghadapi menarche p-value 0,491 artinya ada perbedaan pengaruh edukasi media leaflet dengan media ceramah terhadap tingkat kecemasan dan tidak ada perbedaan terhadap kesiapan menghadapi menarche. Media leaflet paling efektif terhadap tingkat kecemasan dan kesiapan menghadapi menarche. Dengan demikian media edukasi video, leaflet dan ceramah berpengaruh terhadap tingkat kecemasan dan kesiapan menghadapi menarcheIndonesia in 2018 saw 49.1% of adolescents aged 10-19 years experiencing anxiety about puberty including menstrual problems. Anxiety that is not addressed immediately causes various health problems that can interfere with activities. The purpose of the study was to determine the effect of education about menarche on anxiety levels and readiness to face menarche in grade VI female students in Sukabumi Regency. The research design used a quasi experiment pretest-posttest control group design. The study population was grade VI female students who had not menstruated with the number of samples in MI MWB 48, MI Muhammadiyah Cipetir 20, SDN Kadudampit 25. Data analysis used Wilcoxon and mann whitney. The Wilcoxon test found that there was an effect of education through video media, leaflets and lectures on anxiety levels and readiness to face menarche. Mann Whitney test anxiety level p-value 0.000 and readiness to face menarche p-value 0.702 means there is a difference in the effect of video media education with lecture media on anxiety levels and no difference in readiness to face menarche. Anxiety level p-value 0.046 and readiness to face menarche p-value 0.491 means that there is a difference in the effect of leaflet media education with lecture media on anxiety levels and there is no difference in readiness to face menarche. Leaflet media is most effective on anxiety levels and readiness to face menarche. Thus video education media, leaflets and lectures have an effect on anxiety levels and readiness to face menarch
PENGARUH EDUKASI TEKNIK MENYUSUI TERHADAP KEEFEKTIFAN DALAM MENYUSUI DI RS dr. R. SOEHARSONO BANJARMASIN
Tenik menyusui merupakan fkctor yang sangat penting dalam mempengaruhi produksi ASI. Meskipun keterampilan menyusui dapat dikuasai secara alamiah pada setiap ibu, ibu harus tetap memahami teknik menyusui bayi yang baik dan benar. menjadi lecet sehingga ibu jadi segan menyusui, produksi ASI berkurang sehingga bayi menjadi malas menyusu Badan Pusat Statistik mencatat bahwa Angka Kematian Bayi di Indonesia mencapai 25,5 per 1000 kelahiran hidup. Mengetahui Pengaruh edukasi Teknik menyusui terhadap keefektifan ibu nifas dalam menyusui di RS dr. R. Soeharsono BanjarmasinMetode penelitian ini menggunakan observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah total sampling yang berjumlah 30 ibu nifas. Instrument penelitian menggunakan kuesioner dan alat ukur skor LATCH. Uji statistic menggunakan Wilcoxon Pair Test. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh keefektifan ibu nifas sebelum diberikan edukasi dan sesudah diberikan edukasi teknik menyusui. Analisis data diketahui p-value sebesar 0,000.ada pengaruh edukasi teknik menyusui terhadap keefektifan ibu nifas dalam menyusui dengan nilai Z table 03,985 dan signifikansi sebesar 0,000 (nilai p 0,000<0,05).Breastfeeding technique is an important factor affecting milk production. Even though breastfeeding skills can be mastered naturally by every mother, mothers must still understand the correct and proper technique for breastfeeding their babies so that they do not become sore which can cause mothers to be reluctant to breastfeed, reduce breast milk production so that babies become lazy about breastfeeding. The Central Bureau of Statistics noted that the Infant Mortality Rate in Indonesia reached 25.5 per 1000 live birthsKnowing the effect of breastfeeding technique education on the effectiveness of postpartum mothers in breastfeeding at dr. R. Soeharsono BanjarmasinThis research method uses analytic observational with a cross sectional approach. The sampling technique in this study was total sampling, amounting to 30 postpartum mothers. The research instrument used a questionnaire and a LATCH score measuring instrumentStatistical test using the Wilcoxon Pair Test. The results showed that there was an influence on the effectiveness of postpartum mothers before being given education and after being given education on breastfeeding techniques. Data analysis found that the p-value was 0.000.there is an effect of education on breastfeeding techniques on the effectiveness of postpartum mothers in breastfeeding with a Z table value of 03.985 and a significance of 0.000 (p value 0.000 <0.05)
HUBUNGAN POSISI KERJA DAN DURASI KERJA TERHADAP KELELAHAN KERJA PADA PEKERJA LAUNDRY
Latar belakang: Bekerja pada kondisi posisi tidak ergonomis pasti tidak nyaman dan cepat lelah, yang pada akhirnya produktivitas menurun. Lamanya waktu kerja seseorang akan mempengaruhi produktivitas kerjanya, biasanya orang yang bekerja lebih dari 8 jam perhari akan lebih cepat mengalami kelelahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan Posisi Kerja dan Durasi Kerja Terhadap Kelelahan Kerja Pada Pekerja Laundry. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 42 responden menggunakan teknik purposive sampling. Data diperoleh dari penyebaran IFRC dan lembar pengukuran REBA. Analisa data menggunakan uji chi square. Hasil: Sebagian besar pekerja bekerja dengan posisi kerja level resiko tinggi sebanyak 54,8%, sebagian besar pekerja bekerja dengan durasi kerja tidak normal sebanyak 69,0%, dan sebagian besar pekerja mengalami kelelahan ringan sebanyak 59,5%. Terdapat hubungan yang signifikan antara posisi kerja (pvalue = 0,008) dan durasi kerja (pvalue = 0,011) terhadap kelelahan kerja pada pekerja laundry di Kelurahan Sidomulyo Barat Kecamatan Tuah Madani Kota Pekanbaru. Kesimpulan: Mayoritas pekerja laundry bekerja dengan posisi kerja kategori level resiko tinggi, durasi kerja kategori tidak normal, dan mengalami kelelahan kategori ringan. Terdapat hubungan yang signifikan antara posisi kerja dan durasi kerja terhadap kelelahan kerja pada pekerja laundry. Disarankan kepada para pemilik usaha laundry untuk mendesain sarana kerja yang ergonomis seperti tata letak alat kerja, meja, dan kursi yang ergonomis serta mengatur durasi kerja para pekerja sesuai batas durasi kerja normal.Working in non-ergonomic positions tends to cause discomfort and fatigue more quickly, which in turn can reduce work productivity. In addition, prolonged work duration, especially exceeding 8 hours per day, also contributes to an increased risk of occupational fatigue. Based on this, this study aims to determine the relationship between work position and work duration on occupational fatigue in laundry workers. A quantitative study with a cross-sectional design was conducted. The sample size was 42 respondents using purposive sampling technique. Data was obtained from the distribution of IFRC and REBA measurement sheets. Data analysis used the chi-square test. Most workers worked in a high-risk working position of 54.8%, most workers worked with abnormal working duration of 69.0%, and most workers experienced mild fatigue of 59.5%. There was a significant relationship between working position (p-value = 0.008) and working duration (p-value = 0.011) on job fatigue among laundry workers in West Sidomulyo Village, Tuah Madani District, Pekanbaru City. The majority of laundry workers worked in a high-risk working position category, abnormal working duration category, and experienced mild fatigue category. There was a significant relationship between working position and working duration on job fatigue among laundry workers. It is recommended that laundry business owners design ergonomic work facilities such as the layout of work tools, ergonomic tables, and chairs, as well as regulate the working hours of workers according to the normal working duration limit