Ejournal Institut Agama Kristen Negeri Manado
Not a member yet
812 research outputs found
Sort by
Pendidikan Perdamaian Bagi Pemuda Gereja
This study aims to describe peace education for church youth at the Minahasa Evangelical Christian Church (GMIM) Talita Kum Amurang. This study uses descriptive qualitative research to describe the phenomenon based on the point of view of the informant. Data collection techniques were carried out by conducting interviews and observations based on interview guides. The instrument in this study was the researcher himself as the key instrument and used interview questionnaires that had been prepared. The data that has been obtained is then analyzed using the stages of data collection, data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results showed that peace education was emphasized on positive values based on the theological views of the Bible and Church theology in social life in society. Starting to be taught from an early age with appreciation and solving problems in the environment based on a comprehensive analysis and peace education with positive values such as love, compassion, peace and gentleness which are interpreted according to the spiritual activities carried out by the church
Musik Kakula Yang Politis Melampaui Politik
Abstrak
Essai ini merupakan respon atau pembacaan ulang terhadap buku “Musik Itu Politik, Studi Hubungan Pengaruh Kebijakan Kebudayaan pada Perubahan Musik”. Data, analisis dan kesimpulan buku ini dibaca ulang dengan perspektif politik estetika Ranciere. Musik kakula yang dibahas dalam buku ini dijelaskan dari masa ke masa, yaitu dimulai dari masa pra Kolonial hingga konteks saat ini. Terlihat berbagai macam perubahan yang terjadi akibat pengaruh kebjakan politik setiap eranya. Sejak era pra kolonial hingga era orde baru, musik kakula dikuasai dengan kepentingan politik. Namun, berdasarkan pembacaan ulang yang dilakukan, justru musik kakula mampu bergerak keluar dari politik rezim penguasa dengan menempatkan diri setara dengan kelompok-kelompok dominan. Melalui kakula batas antara “kita vs mereka” ditiadakan, kemudian dimaksud sebagai yang politis.
 
Religioteinment Sebagai Fenomena Globalisasi: Sebuah Perspektif Antropologi Agama
The focus of research in this paper is the impact of the online worship phenomenon when the government instructs all community activities, including worship, to be carried out from home. In principle, worship anywhere, open a problem for Christians. However, when the issue of worship is linked to the issue of consumerism and globalization, what appears is the relogical protein style. The principles of worship are calculated based on the terms digital marketplace and infoteinment. This is where the phenomenological approach can be used as a "scalpel" in seeing the value and meaning of consumerism and globalization from the perspective of religious anthropology. The result is that advances in communication technology must contribute to humanity. Humans must be placed as subjects in the use of communication technology to fulfill their spiritual needs
METODE PEMBELAJARAN UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI TENGAH PANDEMI COVID-19 PADA JENJANG ANAK USIA DINI
Pada masa pandemi covid-19 ini hampir seluruh pendidikan di Indonesia mengubah sistem pembelajaran termasuk pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus pada jenjang anak usia dini. Pembelajaran dilakukan secara daring untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19. Anak diharuskan belajar di rumah dengan pendampingan orangtua namun tetap dalam pengawasan guru. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui metode pembelajaran untuk anak berkebutuhan khusus ditengah pandemi covid-19. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat beberapa metode pembelajaran yaitu pembelajaran daring dimana pemaparan materi hanya melalui online dan home visit dimana guru mengunjungi anak dan memberikan pelajaran secara langsun
Antara Kreativitas dan Konvensi: Pertunjukan Musik Sebagai Kreasi Artistik yang Terbatas
Banyak orang beranggapan bahwa semua seni adalah praktik kreatif. Kreatif sendiri adalah konsep yang pengertiannya banyak dikaitkan dengan kebaruan atau inovasi. Namun, status praktik memainkan musik sebagai domain kreatif (seni) bisa menjadi kontradiktif, mengingat dalam konteks musik seni tradisi Barat, pertunjukan musik selalu bertolak dari musik yang sudah dibuat oleh komponis. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengelaborasi pertanyaan sejauh apa pertunjukan musik bisa dikatakan kreatif? Karena itu teori yang digunakan dalam tulisan ini yaitu kreativitas (Sternberg & Lubart, Boden, Clark, WIlliamon, Chaffin) yang dielaborasikan dengan konteks historis dari pentas musik. Adapun metode yang digunakan adalah meta analisis interpretatif. Dari analisis yang dilakukan bisa dikatakan bahwa, pertunjukan musik masih bisa dilihat sebagai praktik kreatif sejauh kreativitas (sebagai tolak ukur penilaian) dikonseptualisasi ulang dengan mempertimbangkan relevansinya dengan masyarakat dan tradisi yang melingkupi praktik kreatif tersebut
PENINGKATAN PEMAHAMAN WARGA GEREJA GMIM JEMAAT NAZARETH BULOH DALAM MENYIKAPI COVID-19
Melihat dari angka statistika kasus penyebaran Covid-19 di dunia, Indonesia dan secara khusus di Sulawesi Utara yang semakin bertambah setiap harinya, mengharuskan masyarakat oleh Pemerintah untuk mematuhi protokol kesehatan ketika berada di luar rumah. Namun, dalam penerapannya di Gereja Masehi Injili Minahasa (GMIM) Nazareth Buloh masih ada warga gereja yang memiliki tingkat kesadaran diri yang rendah dalam upaya mencegah Covid-19. Hal ini nampak dalam kesehariannya yang kurang mematuhi protokol kesehatan ketika berada di tempat-tempat umum, khususnya ketika beribadah. Salah satu faktor yang menyebabkannya adalah karena mereka kurang percaya dengan adanya Covid-19 dan bahayanya. Mengacu pada permasalahan tersebut maka yang menjadi tujuan Pengabdian kepada Masyarakat di GMIM Nazareth Buloh adalah untuk memberikan edukasi mengenai Covid-19 dan sikap yang baik dalam pencegahan Covid-19. Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Cara mengedukasi masyarakat tentang Covid-19 adalah; Pertama, dengan melaksanakan webinar dengan tema: Covid-19 dan vaksinasi. Kedua, mengadakan diskusi secara luring dengan tema: menyikapi pandemi Covid-19 menurut Kristen. Ketiga, memberikan edukasi kreatif secara daring dalam bentuk poster dan teks mengenai pencegahan Covid-19 bagi warga gereja. Keempat, menyalurkan hand sanitizer dan masker bagi warga gereja. Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat berbasis KKNT ini, warga gereja teredukasi mengenai Covid-19 dan bahayanya, serta semakin meningkatnya tingkat kesadaran diri dari warga gereja untuk mematuhi protokol kesehatan ketika berada di tempat-tempat umum, khususnya ketika beribadah.
 
Pendekatan Psikologis Dalam Upaya Manajemen Konflik Agama
ABSTRACT: This study uses a descriptive qualitative approach. The purpose of this study is to find out how the psychological approach of religion in conflict management efforts. In religious life, living in peace is a very important part. Even though it is realized that religion is often used to show radicalism and intolerance. Religion, which is universal in nature, is understood as a concept, experience and actualization of espoused values. Religion is expected to provide a solution to the problems of the soul of its adherents because the values contained include mutual respect and respect. Through a religious psychology approach, we can see the resolution of a conflict
KOMUNIKASI DAN KHOTBAH: (Suatu Kajian Teologi Komunikasi dalam berkhotbah)
This study aims to describe communication in preaching. In communicating, we can convey what is the intention of the speaker (communicator) to (the communicant), whether it's just to exchange ideas, share information, give advice, invitations and so on. There are many media that can be used as communication, one of which is through preaching, especially for Christians, preaching are the media or means used to convey the Word of God. But in practice, even though the preaching material has been prepared as well as possible, there are many preachers as communicators who cannot provide good communication skills; this is the main problem that hinders communication in preaching. The use of voice and gesture also plays an important role in the preaching, it must be studied because not all people who are born have the ability to communicate, so that God's Word that is delivered does not become bland and can be a blessing for the listener
Telaah Etnografi Mengenai Inkulturasi dan Akulturasi Sebagai Kearifan Lokal Etnis Baliem, Papua
This article is an ethnographic study of the Inculturation and Acculturation of the Baliem, as ethnic groups in the Land of Papua. The elements of inculturation under study consist of personality, leadership substance, ritual and communication, while the elements of acculturation studied consist of socio-cultural changes that occur in the Baliem community and their attitudes towards outside influences and other openness dynamics. This study shows that the Baliem ethnic group has a unique traditional cultural wealth and through the influence of the outside community has undergone socio-cultural changes which are supported by an open attitude to other communities. With such local wisdom, this study will contribute and stimulate learning, further research and a holistic community service and development approach, both spiritually, mentally and physically as well as dynamic contextually for the Baliem ethnic in Land of Papua
PENINGKATAN PEMAHAMAN DAN KETERAMPILAN GURU SEKOLAH MINGGU DALAM PEMANFAATAN DIGITAL STORYTELLING DI GEREJA MASEHI INJILI TALAUD
Kemajuan teknologi telah memberikan banyak kemudahan dan manfaat positif bahkan menjadi cara baru dalam melakukan aktifitas manusia. Tidak bisa dipungkiri bahwa kemajuan tersebut telah membawa perubahan yang terjadi dalam masyarakat, termasuk pada pelayanan gerejawi khususnya perubahan perilaku pada anak sekolah minggu. Tujuan dari pengabdian kepada masyarakat ini adalah meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru sekolah minggu dalam pemanfaatan digital storytelling untuk mendidik anak dan juga berbagi pengalaman terkait pelayanan anak di Gereja Masehi Injii Talaud (GERMITA). Metode yang digunakan dalam melaksanakan kegiatan ini adalah metode ceramah, tanya jawab, diskusi dan demonstrasi. Berdasarkan hasil evaluasi kegiatan, seluruh peserta mendapatkan pemahaman dan keterampilan dalam pemanfaatan digital storytelling untuk mendidik anak sekolah minggu