Ejournal Institut Agama Kristen Negeri Manado
Not a member yet
812 research outputs found
Sort by
NILAI-NILAI TEOLOGI DALAM TRADISI MAH’SIWO-SIWO: Tradisi Membantu Dalam Kegiatan Kemasyarakatan Etnis Tombulu-Minahasa, di Kelurahan Lansot, Kota Tomohon
Sulawesi utara memiliki beranekaragam kebudayaan dan tradisi. Salah satu tradisi yang dikenal di Sulawesi utara adalah tradisi mahsiwo-siwo yang masih dilakukan oleh etnis Tombulu-Minahasa. Mahsiwo-siwo adalah tradisi dalam bentuk tolong menolong yang dilakukan oleh etnis Tombulu-Minahasa dalam kegiatan kemasyarakatan. Tradisi mahsiwo-siwo ini memiliki makna yang dalam jika dilihat dari perspektif teologi, oleh sebab itu, tujuan penelitian dari tulisan ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisa tentang nilai-nilai teologi kristen dari tradisi mah’siwo-siwo. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Adapun analisis data yang digunakan adalah dengan mengkaji secara kepustakaan tentang tradisi mahsiwo-siwo, selanjutnya melakukan wawancara kepada pihak-pihak yang terkait khususnya etnis Tombulu-Minahasa, dari hasil wawancara tersebut dilakukan analisis dalam hasil dan pembahasan, selanjutnya, peneliti menganalisis dari nilai-nilai teologi Kristen yang terkandung dalam tradisi mahsiwo-siwo. Kesimpulan yang ditemukan dalam penelitian ini adalah tradisi Mah’siwo-siwo merupakan cara hidup masyarakat Indonesia untuk menjaga persatuan dan mengejawantahkan etika kontekstual, karena hal itu meruapakan kebutuhan bersama. Mah’siwo-siwo memberikan jawaban bagi masyarakat yang terbeban dalam melakukan acara, salah satunya acara dukacita. Dilihat secara teologi, Mah’siwo-siwo memiliki nilai teologis, yang di dalamnya ada unsur “tolong menolong”
Makna Lagu Kidung Jemaat No.27 “Meski Tak Layak Diriku‟ Bagi Religiusitas Jemaat GMIM Bethesda Ranotana Manado
Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk menganalisa Lagu Kidung Jemaat No.27 „Meski Tak Layak Diriku‟ dalam menemukan Pemaknaan Jemaat dalam lagu Kidung Jemaat No.27 “Meski Tak Layak Diriku‟ Bagi Religiusitas Jemaat GMIM Bethesda Ranotana Manado. Penelitian ini merupakan penelitian Kualitatif dengan metode anlisis data kualitatif, dimana data yang terkumpul melalui dokumentasi, observasi dan wawancara, yang kemudian dideskripsikan secara bertahap dalam bentuk tulisan ilmiah untuk menjawab seluruh pertanyaan yang terdapat dalam rumusan masalah yang dilaksanakan di jemaat GMIM Bethesda Manado pada Tahun 2022. Data yang dikumpulkan dari hasil dokumentasi, Observasi, serta wawancara kepada Jemaat GMIM Bethesda Manado menunjukan bahwa Makna dari lagu Kidung Jemaat No.27 “Meski Tak Layak Diriku” terlihat jelas dan berdampak baik bagi Religiusitas Jemaat GMIM Bethesda Ranotana Manado. Berdasarkan hasil Penelitian, Makna Lagu Kidung Jemaat No.27 “Meski Tak Layak Diriku” mempunyai dampak baik bagi Religiusistas Jemaat ditunjukan oleh jemaat yang mempunyai motivasi untuk berbuat baik ketika menyanyikan dan mendengarkan nyanyian tersebut. Oleh karna itu Ilmu dalam Musik Gereja sangat diperlukan
World Music di Indonesia: Hibriditas sebagai Jalan Keluar?
Penelitian ini bertujuan untuk mempertanyakan kembali tentang konsep world musik baik dari segi pengetahuan, praktek dan artisitik musiknya di Indonesia saat ini. Pada tataran ini, tulisan ini memfokuskan membahas mengenai strategi hibriditas sebagai cara menyikapi world music sebagai produk wacana kolonial. Pengumpulan data dilakukan dengan studi literatur, analisis musik dan pengamatan terhadap fenomena musik. Sebagai kesimpulan, hibriditas merupakan strategi menghadapi hirarki musik Barat dengan “yang lain”, sekaligus mengubah defenisi world music yang pada awalnya sebagai pemberian identitas oleh Barat kepada musik “yang lain”. Tetapi, hibriditas masih terus dapat dipikirkan sebagai salah satu strategi keluar dari wacana kolonial atau tidak.
Bincang Asik Dan Sosialisasi Pentingnya Moderasi Beragama Sebagai Upaya Membangun Persatuan Di Desa Tontalete Kecamatan Kema Kabupaten Minahasa Utara
Kegiatan pengabdian kepada Masyarakat ini di lakukan dengan metode ABCD (Asset Based Community Development). Dari hasil observasi asset dan potensi desa di dapatkan data penduduk desa Tontalete yang juluki sebagai desa “baku satu” atau desa yang bersatu karena tiga agama yakni Islam sebagai umat mayoritas 65%, Kristen 30% dan Katolik 5%. Desa Tontalete juga masuk dalam daftar daerah rawan konflik di Kabupaten Minahasa Utara, namun ada hal menarik yang di lakukan sebagai bentuk apresiasi terhadap budaya lokal yaitu dengan penyelenggaraan Upacara Adat “Umbia Wanua Tontalete” yang artinya “Ator Kampung Tontalete” setiap tahun oleh seluruh lapisan masyarakat yang berasal dari suku Minahasa, Gorontalo, Aceh dan Nusa Utara. Dengan melihat potensi budaya dalam memperstukan kemajukan masyarakat di desa Tontalete dan adanya kemungkinan terjadinya eksklusifisme dan radikalisme dengan melihat data desa Tontalete sebagai daerah rawan konflik, maka penguatan pemahaman terkait Moderasi Beragama yang dikemas oleh Mahasiswa KKN Nusantara IAKN Manado melalui kegiatan Bincang Asik dan Sosialisasi Moderasi Beragama dilakukan sebagai upaya peningkatan pemahaman masyarakat terkait Moderasi Beragama. Hasil yang di peroleh yaitu adanya pemahaman dari diskusi antar tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, pemeritah desa dan masyarkat
Gaya Kepemimpinan Musa Sebagai Karakter Kepemimpinan Kristen
Musa adalah seorang pemimpin yang dipilih oleh Allah sendiri. Musa memiliki gaya kepemimpinan dengan selalu bersandar dan berpegang pada perintah Allah. Melalui imannya kepada Allah ia bisa membawa keluar bangsa Israel dari tanah perbudakan Mesir. Hal itu dilakukannya dengan cara memilih tim kerjanya dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai mitra Allah dengan penuh seleksi dan dengan standar yang dipakai. Gaya kepemimpinan Musa ini menjadi teladan bagi pemimpin-pemimpin di zaman sekarang ini, di mana mereka harus mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi serta kerelaan untuk berkorban
The Humanity (In and Through) of Jesus of Nazareth: An Analysis of the Thought of John Shelby Spong
This article explores the thoughts of a character namely John Shelby Spong with his radical idea of Jesus of Nazareth. Spong highlights Jesus not from a doctrinal point of view as institutional Christianity continues to echo. The Jesus echoed here is Jesus from a human perspective, a real character who lived in a place and time in the past. His life is more about humanizing humans who bring equality. John Shelby Spong was Bishop of the Episcopal Church of Newark, New Jersey from 1976 to 2000. His radical writings and lectures have challenged Christianity for many years. There are so many thoughts about the Christian faith which of course he criticizes radically, but in this paper, the researcher focuses on Spong's interpretive thoughts about Jesus of Nazareth and his practical actions. This paper uses a qualitative approach to literature that highlights certain figures. Of course, the discussion will center on the context of Spong's thought reconstructing Jesus of Nazareth the Jew. From the results of the discussion, it can be said that Jesus in Spong's thinking is a character who revives, and humanizes humans, destroys ethnic boundaries, and Jewish exclusivity, equalizes men and women, and destroys the racial prejudices and stereotypes of his time. Those who are rejected are accepted by Jesus and see him as a complete human being. That's the Jesus of Nazareth according to Spong that Christianity must live today
Pengalaman Belajar Mahasiswa Dalam Laboratorium Kewirausahaan (Galeri Investasi - The Gallery by Polimdo) Politeknik Negeri Manado
Pengalaman belajar mahasiswa merupakan komponen yang penting dalam mempengaruhi hasil belajar mahasiswa. Optimalisasi pengalaman belajar mahasiswa dalam integrasi proses pembelajaran didalam kelas dengan laboratorium kewirausahaan melalui metode Teaching Factory diperlukan untuk memaksimalkan pengembangan pengetahuan dan kompetensi baru yang diharapkan diperoleh oleh mahasiswa dalam integrasi proses pembelajaran ini. Pengalaman belajar mahasiswa berjalan beringan dengan tujuan pembelajaran dan bentuk pembelajaran yang diaplikasikan oleh institusi dalam proses pembelajaran. Optimalisasi pengalaman belajar ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menyerap pengetahuan dan kompetensi baru yang bisa diukur dari evaluasi/asesmen dalam akhir periode integrasi proses pembelajaran dengan metode Teaching Factory
Implementasi Bahasa Inggris Teologi Sebagai English for Spesific Purpose (ESP) pada Perkuliahan Bahasa Ibrani di Prodi PAK STT Periago Jakarta
Learning Hebrew in practice requires a supporting language that has morphologically and grammatically close language forms. Theological English as English for Specific Purpose (ESP) the language of instruction in Hebrew lectures has benefits for students of the Christian Religious Education Study Program (PAK). Theological English (ESP) is the key for English being used as the language of instruction, especially in language courses because it can affect translation and provide practical benefits for students taking language courses. This research used a qualitative approach with data collection techniques through a survey at the Christian Religious Education Study Program of STT Periago Jakarta. English is important as the medium of instruction in Hebrew lectures, ESP as the medium of instruction in Hebrew lectures has benefits for students of the Christian Religious Education Study Program
Landasan Biblical tentang Peneguhan bagi Murid Kristus
The problem discussed in this article is closely related to the importance of establishing for new believers. Establish serves to convince his faith, as well as to remove all obstacles that hinder a person's decision to believe in the Lord Jesus, such as doubts or feeling unworthy before God. The goal is to establish himself in order to grow in his spirituality. The method used is the Bible study method. The results show that establishing of a new convert is a strategic step to solidify his decision to become a follower of Jesus Christ. In addition, edification has a close relationship with evangelism to prepare him to join the local congregation. It is also clear that establishing is not the same as “Sidi” (learn church doctrine or catechism). Because establishing is a place for reaffirmation of his faith before he was handed over to the church. Establishing has a strategic place in building the mature Body of Christ because it strengthens its faith and testimony
Peran Guru Kristen sebagai Penuntun dalam Pembentukan Perilaku Belajar Siswa selama Pembelajaran Daring
Online learning that is currently being carried out in Indonesia is a policy from the government to prevent the spread of Covid-19 from increasing among the community. Through online learning, it is hoped that learning will continue as much as possible in the midst of an emergency like this. However, during online learning, problems were found regarding the behavior of being less active, undisciplined, irresponsible for the assigned tasks, and being lazy to participate in learning caused by decreased learning motivation. The problem formulation of this paper is how the teacher's role as a guide in the formation of student learning behavior during online learning, the aim is to find out how the teacher's role as a guide in the formation of student learning behavior during online learning. The method used is literature review. The results of the study show, as a teacher guide in carrying out his role, he must live in God, make God's Word the foundation of life, recognize students, love students as expressed through reprimand and understand the purpose of the learning carried out. The conclusion of the teacher as a guide must stand on the basis of the truth of God's word and be born again. Suggestions, teachers can use games to deliver learning materials, so that they can trigger students' enthusiasm to learn