Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Alqur'an (JHQ)
Not a member yet
211 research outputs found
Sort by
The Historical Development of Islamic Scholarly Thought and Literature on the Qur’an’s Miraculous Nature (Iʿjāz al-Qur’ān)
The Miraculous Nature of the Qur’an has remained one of the central themes in Islamic studies throughout history. Over time, the understanding of this miraculous nature has evolved, influenced by the social, cultural, and intellectual contexts in which scholars lived and produced their works. This study aims to examine the dynamics of thought regarding the Qur’an’s miraculousness by analyzing the works of scholars from three significant periods: classical, medieval, and contemporary. The method employed is a qualitative-descriptive library study, focusing on the works of al-Jurjānī, al-Suyūṭī, Mannā‘ al-Qattān, and Quraish Shihab as representatives of each respective era. The findings reveal that although these scholars emphasize different aspects in their interpretations of the Qur’an’s miraculousness, they all begin from a shared conviction that the Qur’an possesses an unmatched uniqueness. This study concludes that such differences in perspective reflect the intellectual richness of Islamic thought—complementary rather than contradictory. The contribution of this research lies in its effort to map and elucidate the diversity of scholarly approaches to the theme of miraculousness, as well as to encourage the development of Qur’anic studies that are more contextual, open, and responsive to contemporary challenges
Pendekatan Konstruktifisme dalam Psikologi Belajar Berbasis Nilai-Nilai Islam
Psikologi belajar merupakan bidang penting dalam memahami bagaimana individu memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Pendekatan konstruktivisme, yang menekankan bahwa pembelajaran adalah proses aktif di mana peserta didik membangun pengetahuan mereka melalui pengalaman dan interaksi, menawarkan pendekatan yang relevan dengan pendidikan modern. Integrasi teori ini dengan nilai-nilai Islam memberikan perspektif unik, terutama dalam konteks pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji teori konstruktivisme dalam psikologi belajar, mengeksplorasi relevansinya dengan nilai-nilai Islam, dan menganalisis penerapannya dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan studi kasus pada materi zakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui studi literatur, analisis isi, dan studi kasus. Data diperoleh dari kajian teori konstruktivisme, pemikiran tokoh-tokoh Islam seperti Al-Ghazali dan Ibn Khaldun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruktivisme sejalan dengan prinsip Islam, seperti dorongan untuk berpikir kritis, pembelajaran berbasis pengalaman, dan pengembangan holistik individu. Studi kasus menunjukkan peningkatan pemahaman konseptual, keterampilan sosial, dan kesadaran religius siswa melalui pendekatan kolaboratif dan berbasis masalah. Namun, penerapan konstruktivisme memerlukan peran aktif guru sebagai fasilitator, dukungan sarana yang memadai, dan waktu yang cukup untuk pelaksanaannya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konstruktivisme dapat diadaptasi secara efektif dalam pembelajaran PAI untuk mengintegrasikan nilai-nilai Islam, meningkatkan kualitas pembelajaran, dan membentuk individu yang lebih kritis, reflektif, dan religius
Peran Al-Qur’an sebagai Pengendali Akhlak Santri di Era Digital
Era digital telah membawa perubahan besar dalam gaya hidup dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat, termasuk santri, yang merupakan siswa pesantren. Artikel ini membahas peran penting Al-Qur’an dalam membentuk dan menjaga akhlak santri di tengah kompleksitas era digital. Al-Qur’an, sebagai sumber utama nilai-nilai moral dalam Islam, menyediakan pedoman etika, pengendalian diri, dan kesabaran yang relevan untuk berinteraksi secara online. Al-Qur’an juga mendorong kesadaran sosial dan ketahanan terhadap ekstremisme online. Dalam rangkaian tantangan yang ditimbulkan oleh era digital, Al-Qur’an tetap menjadi pedoman yang kokoh bagi santri dalam menghadapi perubahan zaman. Artikel ini menggambarkan bagaimana Al-Qur’an tidak hanya menjadi sumber ajaran agama, tetapi juga menjadi landasan kuat bagi pembentukan akhlak yang baik di era digital
Perspektif Yuridis dan Hukum Islam terhadap Keabsahan Ayah Angkat sebagai Wali Nikah
Marriage registration is often a challenge for marriage registrars at the sub-district level because people often do not understand the laws and regulations related to marriage. One of the obstacles that often arises is the inconsistency of data regarding the status of guardians, even though administratively all requirements have been met during registration. This problem generally occurs when the bride-to-be is an adopted child, where the identity on the birth certificate and ID card includes the surname of the adoptive father. This situation causes difficulties in the recording process, especially related to the determination of the legal guardian as one of the pillars of marriage. If the adoptive father's name is included in the marriage book, this can cause problems later on, such as in terms of inheritance rights and other legal aspects. This research is a library research using a normative approach. There are several problem formulations in this study, including First, how is the perspective of Islamic law on the validity of the adoptive father as a guardian in marriage. Second, what is the juridical perspective regarding the adoptive father as the guardian of the marriage. The method of collecting legal materials used is the collection of library materials, because this method is in accordance with the type of research that has been described earlier.
The results of the study show that in the view of Islamic law, nasab describes a strong kinship bond, especially in the relationship of descent between children and parents. The person who has the main right to be the guardian for a woman who is going to marry is the guardian of the nasab line. This is because the nasab relationship is considered the strongest and closest bond, thus providing special rights in terms of guardianship. Meanwhile, Article 6 paragraph (6) of the Law on Marriage and Article 20 paragraph (2) in the Compilation of Islamic Law regarding the position of the marriage guardian show that the adoptive father cannot be the marriage guardian for the Muslim bride. This is because the adoptive father is not included in the category of guardian nasab, because there is no blood relationship with the bride. Therefore, for the adopted children of Muslim women, the right as a guardian falls to the guardian of the judge
Pendidikan Berbasis Hikmah dalam Al-Qur’an: Analisis Ayat-Ayat Al-Mulk
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hikmah-hikmah yang dapat kita pelajari dari Al-Qur’an surat Al-Mulk. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif melalui literatur rivew atau library research, Sumber primer dalam pembahasan ini yaitu berupa kitab suci Al-Qur’an. Sumber sekunder berupa kitab-kitab tafsir. Metode yang di gunakan adalah analisa data deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Konsep hikmah dalam Al-Qur'an mencakup kebijaksanaan yang berasal dari Allah SWT, yang menjadi pedoman untuk berpikir, bersikap, dan bertindak. Dan dalam Al-Qur’an surah Al-Mulk begitu banyak hikmah yang dapat kita pelajari, diantaranya adalah Hikmah dalam menghadapi ujian hidup, Hikmah dalam menggunakan akal, Hikmah Optimisme dan Harapan, Hikmah pentingnya belajar dari pengalaman, Hikmah kesadaran tanggung jawab, Hikmah Syukur atas nikmah Allah SWT, dan Hikmah Kesadaran atas keterbatasan Manusia
Kaedah Tafsir: Memahami Amar, Nahi, dan Sighat Taklif dalam Al-Qur’an
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan memahami kaidah tafsir terkait perintah (amar), larangan (nahi), dan sighat taklif dalam Al-Qur’an, yang menjadi dasar penting dalam penerapan syariat Islam. Amar adalah seruan untuk melaksanakan suatu tindakan yang diwajibkan atau dianjurkan, sedangkan nahi adalah larangan untuk menghindari hal-hal yang diharamkan atau dimakruhkan. Sighat taklif mencakup bentuk ekspresi dari perintah dan larangan yang mengandung pembebanan hukum bagi mukallaf. Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan pendekatan kualitatif melalui analisis sumber-sumber tertulis, seperti buku, jurnal, dan dokumen lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa amar dan nahi dalam Al-Qur’an tidak hanya bermakna perintah atau larangan secara langsung, tetapi juga memiliki berbagai makna kontekstual, seperti doa, bimbingan, atau ancaman, tergantung pada penggunaannya dalam teks. Sighat taklif menjadi kunci untuk memahami pembebanan hukum, baik dalam konteks wajib, sunah, maupun haram. Kaidah-kaidah tafsir yang terkait dengan amar dan nahi, seperti hubungan antara perintah dan larangan, serta implikasi pelanggaran terhadap larangan, juga diuraikan untuk memberikan panduan dalam penafsiran yang tepat. Dengan demikian, penelitian ini memperkuat pentingnya memahami kaidah-kaidah tersebut untuk memastikan penafsiran dan penerapan syariat Islam sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an
Kesejahteraan Sosial Berkelanjutan dalam Peradaban Islam : Analisis Sistematis terhadap Peran Zakat dan Wakaf
Kesejahteraan sosial berkelanjutan merupakan tujuan penting dalam pembangunan masyarakat yang adil, terutama dalam konteks peradaban Islam. Zakat dan wakaf sebagai instrumen keuangan Islam memiliki potensi besar dalam mencapai tujuan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi zakat dan wakaf dalam menciptakan kesejahteraan sosial berkelanjutan. Metode yang digunakan adalah kajian literatur dan analisis kualitatif terhadap berbagai sumber yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zakat berfungsi sebagai alat redistribusi kekayaan yang efektif, sementara wakaf memberikan kontribusi jangka panjang melalui pembangunan infrastruktur sosial. Sinergi antara zakat dan wakaf dapat memperkuat solidaritas sosial dan mengurangi ketimpangan. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya pengelolaan yang baik dan inovasi dalam program zakat dan wakaf untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. Manfaat penelitian ini adalah memberikan wawasan bagi pengelola zakat dan wakaf serta pembuat kebijakan dalam merancang program yang lebih efektif untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan
Implementasi Metode Ummi dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur’an Santri di Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang
The Ummi method is a method that teaches the Al-Quran in a tartil manner that is in accordance with the science of tajwid. This method is a new method that was founded in 2011 even though it is relatively new. This method has been widely used in institutions throughout Indonesia. including the al-khoirot Islamic boarding school, the alkhoirot Islamic boarding school is an institution that chooses and uses the ummi method in learning the Koran in order to improve the ability to read the Koran in students. The aim of this research is to describe how the Ummi method is used to improve students' reading of the Quran and what obstacles arise when using this method. The method used in this research uses a descriptive qualitative approach, taking the research location at the Al-Khoirot Islamic Boarding School, Malang. Data collection uses interviews, observation and documentation of teachers and students. The research results show: the use of the Ummi method at the Al-Khoirot Islamic boarding school is considered an effective method in improving the ability to read the Qur'an with the existence of Quality Control which is not only applied to santi, but also to Qur'an teachers. The obstacles that arise when using the Ummi method are: 1) students pay less attention to what the teacher says. 2) there are students who sleep. 3) their ability to understand
Analisis Mubtada dan Khobar Pada Kitab Matan Ghayah Wa Taqrib Karya Imam Abu Syuja
Penelitian ini mendalami konsep mubtada dan khabar dalam kitab “Matan Ghoyah wa Taqrib” karya Imam Abu Syuja. Mubtada didefinisikan sebagai isim marfu yang tidak dipengaruhi oleh amil lafadz, sedangkan khabar merupakan isim marfu yang disandarkan kepada mubtada, keduanya bersama-sama membentuk jumlah ismiyah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan desain penelitian kepustakaan, di mana data dikumpulkan dari berbagai buku yang relevan sebagai sumber utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kitab “Matan Ghoyah wa Taqrib” terdapat 465 mubtada dan 465 khabar. Dari jumlah tersebut, 465 mubtada terdiri dari 392 mubtada berupa isim dhohir dan 73 mubtada berupa isim mudmar. Sementara itu, 465 khabar terdiri dari 257 khabar yang berbentuk mufrod dan 208 khabar yang berbentuk ghoiru mufrod. Penelitian ini memberikan pemahaman mendalam mengenai penggunaan mubtada dan khabar dalam teks klasik Islam, khususnya dalam karya Imam Abu Syuja, serta menekankan pentingnya analisis struktural dalam studi bahasa Arab
Konsep Akhlak pada Surah Al-A’raf ayat 199 (Studi Komparatif Tafsir Al-Munir dan Tafsir Ath-Thabari)
This study examines the meaning of ethics in Surah Al-A'raf, verse 199, using a comparative method between the Tafsir Al-Munir and Tafsir Ath-Thabari. Tafsir Ath-Thabari is one of the exegetes who lived during the classical era, while Tafsir Al-Munir is an exegete from the contemporary period. The purpose of this research is to understand the meaning of the concept of morality in Surah Al-A'raf verse 199 according to Al-Munir and Ath-Thabari, as well as to examine the comparison between the two interpreters regarding that verse. This research is based on a literature review that utilizes books available in libraries as well as digital resources that can be easily accessed. Based on the research findings, there are three fundamental morals contained in this verse, namely forgiving, doing good, and avoiding foolish people. The meaning of Al Afw is forgiveness, which is also referred to as noble character; the meaning of maruf is to do good and encourage others to do good, while turning away from foolish people is interpreted as protecting oneself from the negative influence of foolish individuals. Both interpretations have the same meaning, but there are differences in emphasis on several aspects