Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Alqur'an (JHQ)
Not a member yet
    211 research outputs found

    Al-Qur’an sebagai Sumber Ilmu Pengetahuan

    Get PDF
    The peak era of Islam's glory in the classical period was marked by the development of knowledge in the form of science, theology, philosophy, hadith, the Koran and other sciences. The success did not last long because it was displaced by western civilization and the colonialism and Sufism movements of the Muslim community itself which made Islam decline. Then there was Ziauddin Sardar, an Islamic thinker who was present who wanted to reconcile Western and Eastern civilization with the ideas of Islamic knowledge. This research aims to find out that the Koran is a source of knowledge. This research uses qualitative research methods with the type of library research. The data in this research uses primary data and secondary data. Then analyzed using the tahlili method and content analysis method to achieve the research objectives. After carrying out all the research processes, it can be seen that the letter Al-'Alaq, which is the first revelation, is basically a command to pay attention to science, which contains three aspects, namely the value of skills education, the value of divine education, and the value of intellectual education

    Konsep Al-Birr Menurut Tafsir An-Nur Karya Hasbi Ash-Shiddieqy

    Get PDF
    This research examines the concept of al-Birr according to Tafsir An-Nur by Hasbi Ash-Shiddieqy and its implementation in contemporary life. The Qur'an describes humans as creatures created with the best forms and abilities, and in their social interactions, humans are ordered to help each other in virtue and piety as stated in Surah Al-Maidah verse 2. This research uses a descriptive qualitative method with a literature approach, where the main data comes from Tafsir An-Nur and other supporting sources from books, journals, and related documents. The results show that al-Birr in Hasbi Ash-Shiddieqy's view includes two main aspects: aspects of faith and belief, as well as aspects of charity and deeds. The aspect of faith includes belief in Allah, the last day, angels, books, and prophets, while the aspect of charity includes the implementation of worship such as prayer and zakat, as well as social virtues such as providing assistance to the needy and being kind to others. The implementation of the concept of al-Birr in modern life emphasises the consistency of faith, the implementation of worship with solemnity, and sincere intentions in charity. True virtue according to the Qur'an and Hasbi Ash-Shiddieqy's interpretation is done without seeking popularity or human praise. This research reveals that the relevance of al-Birr in today's life is as a practical guide to living a better and meaningful life, and avoiding phenomena that eliminate the values of piety such as riya' and showing off

    Kaedah Tafsir Mantuq dan Mafhum

    Get PDF
    Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji kaidah manṭūq dan mafhūm dalam studi Al-Qur’an. Dalam Al-Qur’an, terdapat lafaz makna yang berdasarkan pada bunyi asli (manṭūq), ada pula yang berdasarkan pada makna yang tersirat (mafhūm). Agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam memahami lafal atau redaksi ayat, kaedah manthuq dan mafhum merupakan salah satu kaidah yang baik untuk dikaji dalam upaya memahami Al-Qur’an khususnya yang bermuatan hukum. Metode dalam penelitian ini adalah library research atau penelitian pustaka dengan mengumpulkan data melalui literatur-literatur bidang keilmuan. Hasil dari penelitian ini yaitu Manṭūq terbagi menjadi dua, diantaranya lafaz yang tidak mempunyai kemungkinan mempunyai satu arti atau disebut dengan manṭūq nash dan lafaz yang mempunyai kemungkinan mempunyai arti lebih dari satu atau di sebut dengan manṭūq ẓāhir dan mu’awwal. Sedangkan mafhūm terbagi menjadi dua, diantaranya mafhūm muwāfaqah dan mafhūm mukhālafah. Manṭūq dan mafhūm berperan penting dalam penyesuaian hukum Islam sesuai dengan kemaslahatan umat, pengembangan hukum, serta pengujian dan pemeliharaan kualitas keimanan umat Islam

    Rekam Jejak Pembelajaran Imam Sibaweh dan Dampaknya terhadap Termonologi Nahwu

    Get PDF
    Imam Sibawayh (760-796 M) awalnya mempelajari Hadis, namun beralih fokus ke ilmu Nahwu setelah dikritik oleh gurunya karena kesalahan gramatikal. Dibimbing oleh ahli bahasa seperti Al-Khalil ibn Ahmad al-Farahidi dan Isa ibn Umar, Sibawayh memperdalam ilmu tata bahasa Arab melalui diskusi, analisis teks, dan observasi. Karya utamanya, "Al-Kitab," menjadi ensiklopedia penting dalam ilmu Nahwu, membahas konsep-konsep seperti I’rab, Mabni, dan kategori kata dalam bahasa Arab. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur, analisis tekstual, dan kritik sumber untuk memahami kontribusi Sibawayh dalam pengembangan terminologi Nahwu. Hasilnya menunjukkan integrasi berbagai sumber dalam karya Sibawayh, serta dampaknya dalam standardisasi terminologi dan pengajaran Nahwu, meskipun terdapat beberapa dampak negatif seperti ketidakselarasan konseptual dan keterbatasan kontekstual

    Kemunculan Dinasti Mamluk Di Mesir Penyelamat Peradaban Islam

    Get PDF
    Dinasti Mamluk/Mamalik adalah sebuah dinasti Islam yang pernah muncul di Mesir, yang saat itu Mesir menjadi salah satu wilayah Islam yang selamat dari prahara dunia yang dahsyat akibat serbuan bangsa Mongol, baik yang dipimpin oleh Hulagu Khan maupan Timur Lenk. Dinasti ini dikenal dengan nama Mamluk karena dinasti ini didirikan oleh para bekas budak. Dinasti Mamluk menghasilkan banyak peradaban, mulai dari bidang ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), monumen-monumen yang berupa bangunan-bangunan bersejarah, seperti masjid, madrasah, kompleks makam, rumah sakit dan perpustakaan. Ia juga menjadi penyelamat peradaban Islam dari kehancuran akibat serbuan bangsa Mongol, Tatar, dan Pasukan Salib. Penulisan ini menggunakan metode studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif. Kemudian dilanjutkan dengan konten analisis. yang tahapannya meliputi heuristik (pengumpulan data), yang dikutip dari buku buku sejarah dan karya ilmiah tentang sejarah dinasti mamluk. Hasil yang ditemukan Dinasti Mamluk mewariskan banyak peradaban mulai dari bidang ekonomi, politik, pemerintahan, arsitektur dan pembangunan, ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) monumen-monumen yang berupa bangunan-bangunan bersejarah, seperti masjid, madrasah, kompleks makam, rumah sakit dan per pustakaan. Ia juga menjadi penyelamat peradaban Islam dari kehancuran akibat serbuan bangsa Mongol dan Tatar, serta Pasukan Salib

    Makna Filosofis dan Saintifik Terkait Janji dan Ancaman (al-Jannah wa Al-Nar)

    Get PDF
    This research discusses the philosophical and scientific meaning of the concepts of promises and threats in a religious context, especially in Islamic teachings regarding al-Jannah (heaven) and al-Nar (hell). Allah's promises regarding rewards for individuals who believe and do good deeds function as moral motivation, while threats against violators of moral norms function to prevent bad behavior. With a qualitative approach that discusses relevant literature, this research explores the interaction of these two concepts in shaping social norms and individual morality. The research results highlight that the synergy between promises and threats is not only powerful in regulating individual behavior, but also provides a deep perspective on moral and spiritual responsibility. A strong understanding of promises and threats can help individuals make wiser decisions in accordance with religious teachings, as well as build good character. These findings imply the importance of moral and spiritual education to increase people's awareness in living a life that adheres to good ethical values ​​and social responsibility. This research also shows that clear promises and threats can encourage harmonious social development and reduce the potential for conflict in society

    Konsep Ilmu dalam Perspektif Al-Qur'an: Sumber, Klasifikasi, dan Etika dalam Menuntut Ilmu

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk membahas konsep ilmu dalam perspektif Al-Qur’an dengan fokus pada sumber ilmu, klasifikasinya, dan etika dalam menuntut ilmu. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan posisi ilmu dalam Islam, sumber utama ilmu menurut Al-Qur'an, serta bagaimana umat Islam seharusnya mempraktikkan etika menuntut ilmu. Pendekatan kualitatif digunakan dengan merujuk pada tafsir Al-Qur'an, literatur klasik Islam, dan pemikiran ulama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ilmu dalam Al-Qur'an mencakup berbagai bidang, baik agama maupun sains, dengan sumber utama yang meliputi wahyu, alam semesta, diri manusia, dan sejarah umat manusia. Ilmu diklasifikasikan menjadi ilmu ladunni (langsung dari Allah) dan ilmu kasbi (hasil usaha manusia). Selain itu, Islam menekankan pentingnya adab dalam menuntut ilmu, seperti niat yang ikhlas, penghormatan terhadap guru, dan pemanfaatan waktu secara bijak. Temuan ini menggarisbawahi bahwa ilmu bukan sekadar pengetahuan teknis, tetapi juga sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan berkontribusi pada kesejahteraan umat manusia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengintegrasian ilmu agama dan umum, sebagaimana dianjurkan oleh Al-Qur'an, dapat mengatasi dikotomi ilmu dan memberikan arah yang harmonis dalam kehidupan umat Islam

    Dilalah Ta’rif dan Tankir : Suatu Kajian dalam Ilmu Tafsir

    Get PDF
    Dilalah Ta’rif dan Tankir merupakan dua konsep penting yang digunakan untuk memahami makna ayat-ayat Al-Qur'an. Dilalah Ta’rif merupakan penunjukan makna yang jelas dan eksplisit dari teks Al-Qur'an, di mana tafsir dilakukan berdasarkan makna langsung yang terkandung dalam kata-kata ayat tersebut. Sebaliknya, Tankir mencakup penunjukan makna yang tersirat, yang memerlukan pemahaman yang lebih mendalam dan kontekstual, baik dari segi bahasa, sejarah, atau situasi sosial yang melingkupi wahyu tersebut. Tujuan penulisan asrikel ini adalah untuk mengkaji Dilalah Ta’rif dan Tankir dalam kajian Ilmu Tafsir. Penelitian ini menggunakan metode library research atau studi kepustakaan yang menggunakan sumber data yang menjadi koleksi perpustakaan dengan pensekatan kualitatif deskriptif. Kemudian dilakukan content analisis terhadap data yang diperoleh. Hasil yang ditemukan menunjukkan bahwa kedua konsep ini saling melengkapi dalam proses penafsiran Al-Qur'an. Dilalah Ta’rif memberikan pemahaman dasar yang kuat, sementara Tankir membuka ruang untuk eksplorasi makna yang lebih dalam dan aplikatif. Dengan demikian, Dilalah Ta’rif dan Tankir bukan hanya memperkaya pemahaman terhadap wahyu Ilahi, tetapi juga membantu penafsiran yang lebih dinamis dan adaptif terhadap perubahan konteks kehidupan umat Islam

    Analisis Manthuq dan Mafhum Dalam Makna Tersurat dan Tersirat

    Get PDF
    Penelitian ini membahas konsep manthuq dan mafhum dalam Al-Qur'an, yang mencakup makna tersurat (manthuq) dan makna tersirat (mafhum). Manthuq merujuk pada makna eksplisit dari lafaz ayat, sedangkan mafhum adalah makna implisit yang membutuhkan analisis lebih lanjut. Studi ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, mengacu pada sumber primer seperti kitab-kitab tafsir dan sumber sekunder berupa artikel jurnal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manthuq terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu manthuq sarih dan manthuq ghair al-sarih, sementara mafhum terdiri dari mafhum muwafaqah dan mafhum mukhalafah. Kedua konsep ini memiliki peran signifikan dalam memperluas pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur'an, khususnya dalam konteks ijtihad hukum Islam. Dengan memahami manthuq dan mafhum, pengambilan hukum menjadi lebih komprehensif dan relevan dengan kebutuhan kontemporer, sehingga memperkokoh posisi Al-Qur'an sebagai pedoman utama umat Islam

    Pandangan MUI Rokan Hilir atas Kontradiksi Undang Undang No 16 Tahun 2019 terkait Batas Minimal Usia Nikah Dengan Hukum Islam

    Get PDF
    Batas minimal usia perkawinan yang ditetapkan dalam Undang-Unang Nomor 16 Tahun 2019 naik menjadi 19 tahun wanita yang sebelumnya 16 tahun sedangkan bagi pria tetap yakni 19 tahun. Hal ini menjadikan polemik di tengah masyarakat. Untuk itu dilakukan penelitian campuran antara studi pustaka dengan studi lapangan terkait topik pandangan MUI Rokan Hilir atas kontradiksi Undang Undang Nomor 16 Tahun 2019 terkait batas minimal usia nikah dengan Hukum Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa batas usia minimal perkawinan pada Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 sesuai dengan teori maqashid syari‟ah dengan pemenuhan kelima unsur (ushul al-khamsah) dasar yang menjadi dasar putusan dalam maqashid syari‟ah   yakni hifdz al diin, hifdz al nafs, hifdz al aql, hifdz al maal, dan hifdz al nasl. Jadi jelas bahwa dengan terpenuhinya ushul al-khamsah tersebut, maka kemaslahatan yang diharapkan akan bisa direalisasikan. Hasil penelitian berikutnya bahwa secara umum pandangan ulama pengurus MUI Rokan Hilir menyatakan bahwa tidak terjadi kontradiksi antara Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019   Tentang   Batas   Minimal   Usia   Nikah dengan hukum Islam. Deskripsinya bahwa pertimbangan menaikkan batas usia minimal izin menikah bagi wanita dari 16 Tahun menjadi 19 tahun sudah memenuhi berbagai prosedur penetapan perundangan yang berlaku di Indonesia, dan sudah sesuai dengan pertimbangan maqashid syari‟ah yakni untuk kemaslahatan

    185

    full texts

    211

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Alqur'an (JHQ)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇