Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Alqur'an (JHQ)
Not a member yet
211 research outputs found
Sort by
Perbandingan Konsep Pendidikan Akhlaq Menurut Ibnu Miskawaih dan Ibnu Sahnun
Pendidikan akhlak merupakan komponen penting dalam pembentukan karakter individu yang berkualitas dalam masyarakat Islam. Perkembangan zaman yang semakin kompleks menghadirkan tantangan tersendiri dalam mempertahankan nilai-nilai moral. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep pendidikan akhlak dari dua tokoh pemikir Islam, Ibnu Miskawaih dan Ibnu Sahnun, serta membandingkan pendekatan mereka dalam mengajarkan moralitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kepustakaan untuk mengumpulkan data dari berbagai literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ibnu Miskawaih menekankan keseimbangan jiwa melalui pengendalian diri dan penanaman kebiasaan baik secara filosofis, sementara Ibnu Sahnun lebih fokus pada nilai-nilai agama dan disiplin praktis dalam pendidikan akhlak. Kedua tokoh ini memberikan kontribusi signifikan yang relevan bagi pengembangan pendidikan akhlak di era modern, dimana pendekatan normatif dan filosofis saling melengkapi dalam membentuk karakter yang berakhlak mulia
Makna Term Malaikat Dalam Al-Quran Perspektif Semantik Toshihiko Izutsu
Angels are supernatural creatures created by Allah with various tasks and characteristics given to them. Even though angels are invisible to human senses, the Qur'an proves that the existence and information of angels definitely exists.This research uses the key term angels in the Koran using semantic concepts. The data obtained was by collecting verses that contain the word angel. The primary source was obtained from Toshihiko's book "The Relationship between God and Man". Meanwhile, secondary sources were obtained from journals, theses and websites. The method used is Toshihiko Izutsu's semantic method. Analysis of the words studied uses several stages, including finding basic meaning, relational meaning, synchronic and diachronic aspects. This research aims to find out the word angel in the Koran using Toshihiko Izutsu's semantic perspective. The word angel is mentioned in the Koran 83 times. The word angel has the basic meaning of messenger. Syntagmatically, the word angel includes four meanings, namely: those who obey God's commands and always exalt, those who confirm humans in goodness, those who bring revelation and information from God including happy news for Maryam, and those who take lives. Paradigmatically, the word angel has a synonymous relationship with the words al-Ruh and Harut Marut. Meanwhile, the relationship of anonymity is established with the words Jinn, Devil, and Satan. In the pre-Qur'anic period, the word angel was conceived by pre-Islamic Arabs as well as by the beliefs of people before the revelation of the Koran as very beautiful and attractive creatures. In the Qur'anic period, angels had various glories and nobility but could not be made God or children of God. In the post-Qur'anic era the meaning of angels is seen even more broadly and is not limited to belief.
 
Analisis Kesulitan Membaca Al-Quran di Kalangan Mahasiswa Pendidikan Teknik Mesin UPI Angkatan 2024
This study aims to analyze the factors contributing to difficulties in reading the Quran among students of the Mechanical Engineering Education program at Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), class of 2024. Various barriers, such as limited formal religious education, lack of practice time, and an academic focus centered on technical fields, often lead to neglect of spiritual development. The study employs a quantitative approach with a survey method, gathering data through an online questionnaire that addresses students' reading frequency and the challenges they face. Findings reveal that most students spend 5-15 minutes daily reading the Quran, with the primary challenge being the application of tajweed rules. Based on these findings, the study recommends intensive guidance and motivational programs to improve students' Quran reading skills. Face-to-face instruction is considered essential for addressing technical difficulties, while campus-supported motivational programs can foster greater student interest
Kaidah Bahasa Arab Dalam Menafsirkan Al Qur’an
Al-Qur'an adalah kitab suci umat Islam yang berfungsi sebagai pedoman hidup. Penafsiran Al-Qur'an memerlukan pemahaman mendalam terhadap kaidah bahasa Arab, karena bahasa Al-Qur'an adalah bahasa Arab yang memiliki struktur, gaya, dan retorika yang khas. Artikel ini membahas kaidah bahasa yang digunakan dalam menafsirkan Al-Qur'an, termasuk nahwu (tata bahasa), sharaf (morfologi), balaghah (retorika), dan semantik. Metode penelitian dalam Studi ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis. Data primer diambil dari kitab-kitab tafsir klasik seperti Tafsir al-Jalalain, Al-Itqan fi Ulum al-Quran, serta literatur linguistik klasik seperti Al-Risalah Musthafa al-Baaby al-Halaby karya al-Syaafi`i. Pendekatan filologi digunakan untuk menelaah teks-teks klasik, sementara analisis kontemporer dilakukan untuk memahami implikasi kaidah bahasa dalam tafsir modern. Hasil penelitiannya adalah bahwa kaidah-kaidah bahasa Arab yang harus dikuasai dari segi keilmuan sebagai syarat untuk menafsirkan Al-Qur`an al-Karim. Seperti ilmu nahwu, ilmu sharaf, ilmu balaghah, penulis juga mencantumkan beberapa kaidah-kaidah tafsir dalam menafsirkan Al Qur’an antara lain: Isim Dhamir, Nakirah dan Makrifah, As-sual dan al-Jawab, Jumla
Relevansi Sumber Tafsir Al-Qur'an: Perspektif Tafsir Bi Al-Ma’tsur, Bi Ar-Ra’yi, Dan Bi Al-Isyari
Tafsir Al-Qur'an merupakan disiplin ilmu yang lahir dari kebutuhan umat Islam untuk memahami petunjuk Allah SWT secara mendalam. Ilmu tafsir memiliki posisi yang mulia karena objek kajiannya adalah Al-Qur'an, kalam Allah yang penuh hikmah dan pedoman hidup. Tujuan utama dari mempelajari tafsir adalah memahami pesan-pesan Ilahi untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari guna meraih keselamatan dunia dan akhira. Dalam perjalanan sejarahnya, tafsir berkembang menjadi salah satu kontribusi intelektual utama dalam peradaban Islam. Berdasarkan sumbernya, tafsir Al-Qur'an dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis utama: tafsir bi al-ma’tsur (berbasis riwayat), tafsir bi ar-ra’yi (berbasis akal), dan tafsir bi al-isyari (berbasis isyarat atau intuisi). Ketiga jenis tafsir ini muncul untuk menjawab kebutuhan umat yang terus berkembang seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan dinamika sosial. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka, yang mencakup identifikasi, analisis, dan sintesis terhadap berbagai literatur relevan seperti buku, jurnal, dan dokumen akademik lainnya. Pendekatan ekspositori digunakan dalam analisis data untuk memahami hubungan antara konsep-konsep dalam tafsir Al-Qur'an. Dengan memahami jenis-jenis tafsir berdasarkan sumbernya, diharapkan umat Islam dapat lebih mendalami makna Al-Qur'an dan menjadikannya pedoman hidup yang relevan sepanjang zaman
Pembaharuan Hukum Keluarga Islam Indonesia
Pembaruan hukum Islam disebabkan karena adanya perubahan kondisi, situasi, tempat, dan waktu, Pembaruan hukum Islam terdapat tipologi refomistik, tujuan pembaruan ini adalah reformasi dengan penafsiran-penasiran baru yang lebih hidup dan lebih cocok dengan tuntutan zaman. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian Pustaka dengan metode analisis deskriptif-preskriptif dengan pendekatan normatif/yuridis empiris. Penelitian ini menyatakan bahwa Perubahan hukum keluarga Islam akan senantiasa mengikuti perubahan tempat dan waktu, bentuk-bentuk perubahan hukum tersebut bisa saja dengan dua model, yakni rekonstruksi ataupun dekonstruksi hukum, perubahan hukum keluarga Islam di Indonesia dapat dilihat dari zaman ke zaman, sejak awal Islam masuk, yang kemudian para ulama hanya menjadikan kitab-kitab fikih sebagai rujukan untuk menyelesaikan masalah, hingga terbentuknya kodifikasi hukum keluarga, terbitnya KHI, dan seterusnya dengan perubahan pasal-pasal baik berupa judicial review di Mahkamah Konstitusi ataupun perubahan yang diusulkan oleh pemerintah
Bermedia Sosial Prespektif Al-Qur’an: Aplikasi Hermeneutika Hassan Hanafi atas Q.S Al-Hujurat: 6-8 Dan 11-12
This article is entitled "Using Social Media from an Al-Qur'an Perspective (Application of Hassan Hanafi's Hermeneutics to Q.S. Al-Hujurat: 6-8 and 11-12)", with the aim of exploring the meaning and ethical implications of the verses of the Al-Qur'an. Dealing with social media issues. The main focus of this article is on the interpretation of the verses Al-Hujurat: 6-8 and 11-12 by Hassan Hanafi, a prominent Muslim scholar. By carrying out Hassan Hanafi's hermeneutical approach to analyze how the concept of social media can be understood and applied in a contemporary context. This research identifies the ethical principles of communication and social interaction outlined by Hassan Hanafi in interpreting these verses. Through the library research research methodology, data was collected through analysis of the text of the Al-Qur'an, Hassan Hanafi's interpretation, and related literature. The results of this research show that using social media, according to Hassan Hanafi's perspective, involves a deep understanding of Islamic values, justice and tolerance in disseminating information
I’rab dan Tafsir Al-Qur’an: Fase Penciptaan Manusia dalam Perspektif QS. Al-Mu’minun Ayat 12-14
Penelitian ini mengkaji tentang fase penciptaan manusia dalam perspektif Al-Qur’an surah Al-Mu’minun ayat 12-14. Dimana pembahasan ini berkaitan langsung dengan kita sebagai manusia, makhluk ciptaan-Nya. Selain itu, penelitian ini juga mengkaji analisis bahasa melalui litertur Í’robul Qur’an Lidduas. Untuk mengetahui fase penciptaan manusia beserta hikmahnya melalui ayat-ayat tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur. Data dan informasi dikumpulkan kemudian dianalisis sesuai dengan kajian dan tujuan penelitian. Dengan mengkaji tafsir surah Al-Mu’minun ayat 12-14 ini, dapat menjadi bukti kebesaraan Allah Swt. Dalam hal ini fase penciptaan manusia mulai dari sari pati tanah hingga menjadi makhluk yang berbentuk
Penerapan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Dalam Kurikulum Merdeka
Perubahan kurikulum menjadi hal yang baru bagi sekolah, yang mana kurikulum Kurikulum merdeka merupakan kebijakan yang dirancang pemerintah untuk membuat lompatan besar dalam aspek kualitas pendidikan agar menghasilkan siswa dan lulusan yang unggul dalam menghadapi tantangan masa depan yang kompleks. Inti Kurikulum merdeka adalah kemerdekaan berpikir bagi siswa dan guru. Dalam skripsi ini akan membahas mengenai penerapan kurikulum merdeka pada pembelajaran PAI di kelas VII SMP Unggulan Al- Hidayah Kutorejo.Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan kurikulum merdeka di sekolah,model dan metode pembelajran yang di terapkan dikelas VII, serta faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan kurikulum merdeka.Penelitian ini menggunakan jenis studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Teknik perolehan data menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian SMP Unggulan Al-Hidayah Kutorejo sudah menggunakan kurikulum merdeka pada kelas VII. Dengan sistem pembelajaran kelas pada pembelajaran Pendidikan agama islam menggunakan motode pembelajaran aktif (active learning) dan model Pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Namun disini dalam penerapan pembelajaran memiliki faktor pendukung dan penghambat. Faktor pendukungnya adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa sehingga siswa berperan aktif dan bebas berekspresi. Sedangkan faktor penghambatnya adalah kurangnya media pembelajaran yang memadai
Hubungan Kematangan Emosi dengan Gejala Psikosomatis pada Santri yang Tinggal di Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat
The phenomenon of psychosomatic tendencies is also experienced by adolescents, where adolescence is considered a period of "storm and stress"—a period during which emotional tension increases due to physical and glandular changes (Hurlock, 1980: 212). The aim of this research is to determine the relationship between emotional maturity and psychosomatic symptoms in students residing at the Cendekia Amanah Islamic boarding school in Depok, West Java. This research adopts a correlational quantitative approach, employing data collection techniques through the Emotional Maturity Scale and Psychosomatic Tendency Scale.The research subjects include 86 students selected from the total of 430 students at the Cendekia Amanah Islamic Boarding School in Depok, West Java, utilizing the simple random sampling method for data collection. Product moment analysis, with a significance level of 0.05, is employed as the data analysis technique. The research findings indicate a significant relationship between emotional maturity and psychosomatic tendencies among students in Islamic boarding schools at the Cendekia Amanah Islamic Boarding School, Depok, West Java, with a significance value of 0.001 < 0.05. In the correlation table, the correlation coefficient value is -0.343, signifying that higher emotional maturity corresponds to lower psychosomatic symptoms. Conversely, lower emotional maturity is associated with higher psychosomatic symptoms