Journal of Education and Teaching (JET)
Not a member yet
129 research outputs found
Sort by
Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah dalam Penerapan Kurikulum Merdeka
This study examines the principal's transformational leadership in implementing the Merdeka curriculum at a primary school. Ideally, transformational leadership is an effort to change individuals to achieve the best quality. However, the inability of the principal as a leader to provide stimulus can be feared to hurt the implementation of school activities. The research method used descriptive qualitative research, is a rigorous approach that provides in-depth insights. The location of the research is at SD Muhammadiyah Wirobrajan 1 Yogyakarta. This study's data sources were primary and secondary data sources. Primary data was collected through interviews, while the research subjects comprised two people: the principal and the deputy for curriculum. Secondary data is through observation and documentation. The data analysis technique involves managing, grouping, sorting, marking, and coding, as well as providing data categories so that working hypotheses can be obtained and formulated according to the data obtained. The data analysis procedure is data reduction and concluding. The study results showed that the principal of Muhammadiyah Wirobrajan 1 Elementary School Yogyakarta made efforts to develop suggestions and para Sana, build good relationships with teachers, and realize the school's vision, mission, and academic development through the independent curriculum.Penelitian ini mengkaji kepemimpinan transformasional kepala sekolah dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka di sekolah dasar. Fokus penelitian ini adalah pada penerapan gaya kepemimpinan transformasional kepala sekolah. Idealnya, kepemimpinan transformasional adalah upaya untuk mengubah individu guna mencapai kualitas terbaik. Namun, dikhawatirkan kurangnya stimulus kepala sekolah sebagai pemimpin dapat mempersulit terlaksananya kegiatan sekolah. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif, yang merupakan pendekatan mendalam untuk memberikan wawasan yang komprehensif. Lokasi penelitian berada di SD Muhammadiyah Wirobrajan 1 Yogyakarta. Sumber data penelitian ini adalah sumber data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan dua orang subjek yaitu kepala sekolah dan wakil kepala sekolah bidang kurikulum. Data sekunder diperoleh melalui observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data melibatkan pengelolaan, pengelompokan, penyortiran, penandaan, dan pengkodean, serta pemberian kategori data sehingga hipotesis kerja dapat diperoleh dan dirumuskan sesuai dengan data yang diperoleh. Prosedur analisis data meliputi reduksi data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah SD Muhammadiyah Wirobrajan 1 Yogyakarta melakukan upaya pengembangan sarana dan prasarana, membangun hubungan yang baik dengan guru, dan mewujudkan visi, misi, serta pengembangan akademik sekolah melalui implementasi kurikulum merdeka
Mengintegrasikan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pengajaran Bahasa Inggris di Pendidikan Tinggi
In English Language Teaching, the differences in technology integration between novice and experienced teachers may affect the effectiveness of English teaching methods, students’ engagement in the class, and overall students’ learning outcomes. This study investigated the differences between English novice and experienced teachers’ ICT knowledge and use level and challenges. Four novice and seven experienced English teachers working in different high schools volunteered in this study. The researchers employed a qualitative design using a questionnaire and an in-depth interview as research instruments The findings showed that novice and experienced English teachers were confident in accessing the Internet and using ICT tools. They were well-informed about various ICT tools and techniques for English teaching. The difference was that novice English teachers showed high confidence and innovatively used ICT, whereas experienced English teachers were uncertain and cautious, sometimes relying on students’ assistance and considering some aspects such as students’ backgrounds and familiarity with ICT. Both English novice and experienced teachers used ICT, including learning websites, search engines, educational games, and multimedia presentations for class discussions, student assessments, brainstorming, and group projects to make the class interactive. This study has implications for English teachers, educators, and future researchers.Dalam Pengajaran Bahasa Inggris, perbedaan integrasi teknologi antara guru pemula dan guru berpengalaman dapat memengaruhi efektivitas metode pengajaran Bahasa Inggris, keterlibatan siswa di kelas, dan hasil belajar siswa secara keseluruhan. Penelitian ini menyelidiki perbedaan antara Guru Bahasa Inggris pemula dan berpengalaman terhadap pengetahuan TIK, tingkat penggunaan, dan tantangan. Empat guru pemula dan tujuh guru berpengalaman bekerja di sekolah menengah berbeda menjadi sukarelawan dalam penelitian ini. Para peneliti menggunakan desain kualitatif dengan menggunakan kuesioner dan wawancara mendalam sebagai instrumen penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru pemula dan berpengalaman percaya diri dalam mengakses Internet dan menggunakan perangkat TIK. Mereka memiliki informasi yang baik tentang berbagai perangkat dan teknik TIK untuk pengajaran bahasa Inggris. Perbedaannya adalah guru pemula menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi dan menggunakan TIK secara inovatif, sedangkan guru berpengalaman tidak yakin dan berhati-hati, terkadang mengandalkan bantuan siswa dan mempertimbangkan beberapa aspek seperti latar belakang siswa dan kebiaasan dengan TIK. Guru pemula dan berpengalaman menggunakan TIK, seperti situs web pembelajaran, mesin pencari, permainan edukatif, dan presentasi multimedia untuk diskusi kelas, penilaian siswa, curah pendapat, dan proyek kelompok untuk membuat kelas menjadi interaktif. Penelitian ini memiliki implikasi bagi guru bahasa Inggris, pendidik, dan peneliti di masa mendatang
Ambiguitas Semantik dalam Penggunaan 'Konteks' pada Buku Teks Kurikulum Merdeka: Implikasi terhadap Hasil Belajar dan Strategi Pembelajaran
This study examines errors in interpreting the word “konteks” (context) and its equivalents in Merdeka Curriculum textbooks for Indonesian Language, Civic Education, and English Language subjects. Semantic ambiguity and inaccuracies in the use of this term have led to misunderstandings that hinder students' comprehension and learning outcomes. The research aims to identify patterns and potential sources of misinterpretation to ensure alignment between textbook language and the learning objectives of the Merdeka Curriculum. Using a qualitative approach with a comparative method, the study analyzed the meaning and usage of “konteks” across subjects. Data were collected through documentation of both explicit and implicit references, followed by descriptive content analysis based on Miles et al.'s interactive model. Triangulation, expert validation, and adherence to ethical standards ensured the validity and reliability of findings. Results indicate that misinterpretations of “konteks” often lead to fragmented understanding, making it difficult for students to connect concepts across academic and social settings. This disrupts cognitive processes, preventing the development of complex analytical skills. To address these issues, teachers should facilitate clarifying exercises and discussions emphasizing context. Additionally, textbook evaluations must prioritize accurate definitions, precise usage, and illustrative examples to minimize ambiguity and enhance learning outcomes.Penelitian ini mengkaji kesalahan dalam menginterpretasikan kata “konteks” dan padanannya dalam buku teks Kurikulum Merdeka untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Pendidikan Kewarganegaraan, dan Bahasa Inggris. Ambiguitas semantik dan ketidakakuratan penggunaan istilah ini menyebabkan kesalahpahaman yang menghambat pemahaman siswa dan hasil belajar mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola dan potensi sumber kesalahan interpretasi untuk memastikan kesesuaian bahasa dalam buku teks dengan tujuan pembelajaran Kurikulum Merdeka.
Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode komparatif, penelitian ini menganalisis makna dan penggunaan “konteks” di berbagai mata pelajaran. Data dikumpulkan melalui dokumentasi penggunaan eksplisit dan implisit, yang kemudian dianalisis menggunakan model interaktif dari Miles et al. Validitas dan reliabilitas penelitian dijamin melalui triangulasi, validasi ahli, dan pemenuhan pedoman etika.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesalahan interpretasi terhadap “konteks” menyebabkan pemahaman yang terfragmentasi, menyulitkan siswa untuk menghubungkan konsep-konsep dalam konteks akademik dan sosial. Hal ini mengganggu proses kognitif, menghambat pengembangan keterampilan analitis yang kompleks. Untuk mengatasi masalah ini, guru sebaiknya menerapkan latihan klarifikasi dan diskusi berbasis konteks. Selain itu, evaluasi buku teks harus memprioritaskan definisi yang akurat, penggunaan yang tepat, dan contoh ilustratif untuk mengurangi ambiguitas dan meningkatkan hasil belajar
KonservasiTransformasi Konservasi Gedung Perpustakaan Universitas: Studi Deskriptif tentang Praktik Pelestarian di Nigeria Gedung Perpustakaan untuk Pelestarian Informasi yang Efektif di Perpustakaan Universitas di Negara Bagian Enugu, Nigeria
The study examined the conservation of library building for effective information preservation among university libraries in Enugu State, Nigeria. Descriptive survey with population of 325 library staff made up the study. The instruments for collecting data is questionnaire, analysed and presented in mean score, standard deviation as well as percentage and t-test. Results: conservation criteria for library building are clearing and cleaning of the library building, repair of roof, windows and doors, installation of fire and smoke alarm system, and the provision of enough security personnel around the building. Library buildings are being conserved to protect resources against natural disasters like flooding, and earthquake, against man-made disaster like fire, making library resources accessible, promote an end to wasteful use of non-renewable information resources, to encourages best practices in records management, and it provides an extremely attractive environment for the use of books. Findings on the adequacy level of policy and regulatory framework shows that disaster management, storage capacity for documentary resources, appropriateness of environmental conditions are to be consider in the library. The study recommended that the university library management should provide monitoring system for environmental condition, storage capacity for digital resources and disaster preventive measure in the library.
Studi ini meneliti konservasi gedung perpustakaan untuk pelestarian informasi yang efektif di antara perpustakaan universitas di Negara Bagian Enugu, Nigeria. Penelitian ini dilakukan melalui survei deskriptif dengan populasi 325 staf perpustakaan. Instrumen pengumpulan data adalah angket, dianalisis dan disajikan dalam bentuk mean score, standar deviasi serta persentase dan uji t. Hasil: Kriteria konservasi gedung perpustakaan adalah pembersihan dan pembersihan gedung perpustakaan, perbaikan atap, jendela dan pintu, pemasangan sistem alarm kebakaran dan asap, serta penyediaan aparat keamanan yang cukup di sekitar gedung. Bangunan perpustakaan dilestarikan untuk melindungi sumber daya dari bencana alam seperti banjir dan gempa bumi, dari bencana yang disebabkan oleh manusia seperti kebakaran, membuat sumber daya perpustakaan dapat diakses, mendorong diakhirinya penggunaan sumber daya informasi yang tidak terbarukan secara boros, untuk mendorong praktik terbaik dalam pengelolaan arsip. , dan ini menyediakan lingkungan yang sangat menarik untuk penggunaan buku. Temuan mengenai tingkat kecukupan kerangka kebijakan dan peraturan menunjukkan bahwa manajemen bencana, kapasitas penyimpanan sumber daya dokumenter, kesesuaian kondisi lingkungan harus dipertimbangkan di perpustakaan. Studi ini merekomendasikan agar manajemen perpustakaan universitas menyediakan sistem pemantauan kondisi lingkungan, kapasitas penyimpanan sumber daya digital dan tindakan pencegahan bencana di perpustakaan
Mengevaluasi Profil Literasi Digital Calon Guru Teknik Otomotif yang Produktif
The objective of this study is to assess the level of digital literacy among aspiring automotive engineering educators. Given the intricate nature of the subject matter, which often necessitates disassembling components for study, it becomes crucial for students to excel in digital literacy. The research, conducted over a week from November 1 to November 7, 2023, employed a descriptive approach with 80 undergraduate automotive engineering education students as participants. Utilizing a questionnaire as the data collection tool, the analysis applied descriptive statistics and presented the findings in tabular form. The results indicate a generally high level of digital literacy among student automotive engineering teacher candidates, particularly in collaboration, communication, cultural understanding, and digital technology. Proficiency in identifying information aspects is also notable. However, areas such as e-safety, critical thinking, creativity, and functional skills, as well as aspects beyond the immediate scope, exhibit lower levels of proficiency.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai tingkat literasi digital di kalangan calon pendidik teknik otomotif. Mengingat sifat rumit dari materi pelajaran, yang sering kali memerlukan pembongkaran komponen untuk studi lebih lanjut, menjadi penting bagi mahasiswa untuk memiliki keahlian literasi digital yang baik. Penelitian ini dilakukan selama seminggu, dari 1 - 7 November 2023, dengan pendekatan deskriptif dan melibatkan 80 mahasiswa program pendidikan teknik otomotif sebagai partisipan. Menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data, analisis dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif dan hasilnya disajikan dalam bentuk tabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum, calon pendidik teknik otomotif memiliki profil literasi yang tinggi, terutama dalam kolaborasi, komunikasi, pemahaman budaya, dan teknologi digital, serta pemahaman terhadap cara mengidentifikasi aspek informasi. Namun, dalam hal keselamatan digital, pemikiran kritis, kreativitas, keterampilan fungsional, dan aspek-aspek di luar batas materi tertentu masih memiliki tingkat kemahiran yang rendah
Peran Kepemimpinan dalam Membentuk Kinerja Kerja Pustakawan di Lingkungan Akademik
The role of librarians within academic institutions has garnered increasing attention due to their important position in facilitating information access and knowledge dissemination. Therefore, the study focused on librarians’ leadership style as correlate of job performance among academic librarians in southwest Nigeria. Correlation design was used with population of 84 librarians. A stratified random sampling technique was used to select the respondents. Mean score ( ), standard deviation (SD), and regression was used for data analysis. The findings indicate a high prevalence of laissez-faire leadership style, a weak positive correlation between laissez-faire leadership and job performance, a moderate relationship between instructional leadership and job performance, and a weak positive relationship between servant leadership style and job performance. Suggestions include create a supportive work environment that encourages creativity, recognizes employees' achievements, prioritizing styles that promote accountability, increase productivity, and improve communication channels. Implementing motivating methods to encourage personnel and enhance their output, providing regular training, and prioritizing their well-being will lead to increased job satisfaction and organizational productivity in the long term.Peran pustakawan dalam institusi akademik semakin mendapat perhatian karena posisi penting mereka dalam memfasilitasi akses informasi dan penyebaran pengetahuan. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada gaya kepemimpinan pustakawan sebagai korelasi kinerja kerja di antara pustakawan akademik di barat daya Nigeria. Desain korelasi digunakan dengan populasi 84 pustakawan. Teknik pengambilan sampel acak berstrata digunakan untuk memilih responden. Skor rata-rata (), deviasi standar (SD), dan regresi digunakan untuk analisis data. Temuan menunjukkan tingginya prevalensi gaya kepemimpinan laissez-faire, korelasi positif lemah antara kepemimpinan laissez-faire dan kinerja kerja, hubungan moderat antara kepemimpinan instruksional dan kinerja kerja, serta hubungan positif lemah antara gaya kepemimpinan pelayanan dan kinerja kerja. Saran meliputi menciptakan lingkungan kerja yang mendukung yang mendorong kreativitas, mengakui prestasi karyawan, memprioritaskan gaya yang mempromosikan akuntabilitas, meningkatkan produktivitas, dan meningkatkan saluran komunikasi. Menerapkan metode motivasi untuk mendorong personel dan meningkatkan output mereka, memberikan pelatihan rutin, dan memprioritaskan kesejahteraan mereka akan meningkatkan kepuasan kerja dan produktivitas organisasi dalam jangka panjang
The Effect of Audiovisual and Demonstration Towards Students Swimming Ability of Navy’s Cadets
This study investigates the learning outcomes of Navy Cadets at Puslatdiksarmil in basic swimming, specifically breaststroke. A quantitative experimental design was used, involving 100 students divided into two groups: an experimental group receiving audiovisual and demonstration (AV-D) instruction and a control group with only demonstration (D). The performance test, based on the correctness of breaststroke technique, measured students' skills before and after treatment. A motivation questionnaire was also used to assess the impact of motivation on swimming ability. Results showed that the experimental group achieved a higher average score (73.16) compared to the control group (66.39). This indicates that AV-D significantly improves learning outcomes. Therefore, incorporating AV-D is recommended to enhance cadets' swimming abilities at Puslatdiksarmil.Penelitian ini menyelidiki hasil belajar siswa Kadet Angkatan Laut di Puslatdiksarmil dalam mata pelajaran renang dasar, khususnya gaya dada. Desain eksperimen kuantitatif digunakan, melibatkan 100 siswa yang dibagi menjadi dua kelompok: kelompok eksperimen yang menerima instruksi audiovisual dan demonstrasi (AV-D) dan kelompok kontrol yang hanya menggunakan demonstrasi (D). Tes kinerja, yang menilai ketepatan teknik gaya dada, digunakan untuk mengukur kemampuan siswa sebelum dan sesudah perlakuan. Kuesioner motivasi juga digunakan untuk menilai pengaruh motivasi terhadap kemampuan berenang. Hasil menunjukkan bahwa kelompok eksperimen mencapai skor rata-rata lebih tinggi (73,16) dibandingkan kelompok kontrol (66,39). Hal ini menunjukkan bahwa AV-D secara signifikan meningkatkan hasil belajar. Oleh karena itu, penggunaan AV-D direkomendasikan untuk meningkatkan kemampuan renang kadet di Puslatdiksarmil
Melangkah Bersama: Menghidupkan Pancasila melalui Kurikulum Merdeka
The comprehensive consideration of curriculum in educational management is pivotal, particularly amidst the pursuit of higher quality learning through the phased implementation of an independent curriculum. Amidst prevalent challenges within the education sphere hindering the development of intelligent human resources with exemplary character, the adoption of an independent curriculum is seen as a strategic measure to address educational deficiencies by prioritizing student-centered learning processes. This research, utilizing a descriptive qualitative approach, focuses on analyzing the planning, organizing, actuating, and controlling aspects of implementing an independent curriculum. Conducted at Muhammadiyah 8 Middle School in Bandung City, data collection methods encompass interviews, documentation, and observations, further validated through data triangulation. The findings reveal the adoption of a potential and competency-based curriculum, with an emphasis on a learning model rooted in high order thinking skills (HOTS) and 21st-century competencies, including critical thinking, creativity, problem-solving, communication, and collaboration (4C). Additionally, the school integrates various character development programs, highlighting the impact of independent learning on realizing the six dimensions of the Pancasila Student Profile.Pertimbangan komprehensif terhadap kurikulum dalam manajemen pendidikan sangatlah penting, terutama di tengah upaya meningkatkan kualitas pembelajaran melalui implementasi bertahap dari kurikulum mandiri. Di tengah tantangan yang melanda di ranah pendidikan yang menghambat pengembangan sumber daya manusia cerdas dengan karakter yang unggul, adopsi kurikulum mandiri dipandang sebagai langkah strategis untuk mengatasi kekurangan pendidikan dengan memprioritaskan proses pembelajaran yang berpusat pada siswa. Penelitian ini, menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, berfokus pada menganalisis aspek perencanaan, pengorganisasian, pengaktifan, dan pengendalian dalam mengimplementasikan kurikulum mandiri. Dilakukan di Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah 8 di Kota Bandung, metode pengumpulan data meliputi wawancara, dokumentasi, dan observasi, yang kemudian divalidasi melalui triangulasi data. Temuan penelitian mengungkap adopsi kurikulum berbasis potensi dan kompetensi, dengan penekanan pada model pembelajaran yang berakar pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS) dan kompetensi abad ke-21, termasuk berpikir kritis, kreativitas, pemecahan masalah, komunikasi, dan kolaborasi. Selain itu, sekolah mengintegrasikan berbagai program pengembangan karakter, yang menyoroti dampak pembelajaran mandiri dalam mewujudkan enam dimensi Profil Siswa Pancasila
Investigasi Tingkat Kesiapan Belajar Mandiri Daring Mahasiswa Tahun Pertama di Universitas
This study aims to investigate the online learning readiness of first year students at the University of Mpumalanga in South Africa. This university uses Moodle as its online Learning Management System. This is a quantitative, non-experimental study within a positivism paradigm. 150 students were randomly sampled and were enrolled for a Diploma in Agriculture programmed. A Self-Directed Learning Readiness Scale (SDLRS) questionnaire was used to measure the readiness level for students’ SDL. The results reveal that more than two-thirds of the students have a medium self-directed readiness level with a total mean for all the questions of 2.91, a standard deviation of 0.79, and a variance of 0.77. This shows that first-year students are therefore not self-directed learners, which makes the transition to tertiary education difficult. This study is useful because assessing the level of readiness towards SDL among first year university students could help to introduce the modern method of student-centered teaching approach. The results of this study could assist universities to develop intervention strategies that will encourage self-directed learning. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki kesiapan pembelajaran daring mahasiswa tahun pertama di Universitas Mpumalanga di Afrika Selatan. Universitas ini menggunakan Moodle sebagai Sistem Manajemen Pembelajaran daringnya. Ini adalah penelitian kuantitatif, non-eksperimental dalam paradigma positivisme. Sebanyak 150 mahasiswa yang diambil secara acak dan terdaftar dalam program Diploma di bidang Pertanian. Skala Kesiapan Belajar Mandiri (SDLRS) digunakan untuk mengukur tingkat kesiapan belajar mandiri mahasiswa. Hasilnya mengungkapkan bahwa lebih dari dua pertiga mahasiswa memiliki tingkat kesiapan belajar mandiri sedang dengan total rata-rata untuk semua pertanyaan sebesar 2.91, standar deviasi sebesar 0.79, dan varians sebesar 0.77. Ini menunjukkan bahwa mahasiswa tahun pertama bukanlah pembelajar mandiri, yang membuat transisi ke pendidikan tinggi menjadi sulit. Penelitian ini berguna karena menilai tingkat kesiapan terhadap belajar mandiri di kalangan mahasiswa tahun pertama dapat membantu memperkenalkan metode modern pendekatan pengajaran yang berpusat pada mahasiswa. Hasil penelitian ini dapat membantu universitas dalam mengembangkan strategi intervensi yang akan mendorong pembelajaran mandiri
Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Mendengarkan Siswa Menggunakan Video Animasi
This current research aims to improve students' listening comprehension skills using animation videos. The classroom action research was conducted at Senior High School 2 in Teriak, Bengkayang, with 34 first-grade students participating. These students faced challenges in comprehending word meanings, implicit messages, and explicit messages in audio. Over two research cycles, findings indicated that animation videos significantly enhanced students' understanding of simple past tense verbs. The videos provided repeated exposure to vocabulary and, through the combination of moving pictures and audio, helped students better grasp both implicit and explicit messages of the stories. Consequently, the researchers concluded that students' listening comprehension skills can be effectively improved through the use of animation videos.Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan pemahaman mendengarkan siswa menggunakan video animasi. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di SMA Negeri 2 Teriak, Bengkayang, dengan melibatkan 34 siswa kelas satu. Para siswa ini menghadapi kesulitan dalam memahami makna kata, pesan implisit, dan pesan eksplisit dalam audio. Selama dua siklus penelitian, hasilnya menunjukkan bahwa video animasi secara signifikan meningkatkan pemahaman siswa terhadap kata kerja dalam bentuk lampau sederhana. Video tersebut memberikan paparan kosa kata yang berulang, dan melalui kombinasi gambar bergerak dan audio, membantu siswa lebih memahami pesan implisit dan eksplisit dari cerita. Oleh karena itu, peneliti menyimpulkan bahwa keterampilan pemahaman mendengarkan siswa dapat ditingkatkan secara efektif melalui penggunaan video animasi