121 research outputs found
Sort by
Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun (Studi Kasus Industri Pembekuan Ikan PT. X)
Abstract: PT. X is a company engaged in the field of Freezing Fish which in its production process produces B3 waste. The hazardous waste produced needs special management so that it does not pollute the environment. The purpose of this research is to determine the management of B3 waste technically based on the generation and type of B3 waste at PT. X. This research method uses primary data collection, secondary data and data analysis. PT. X has not been able to process B3 waste independently, so the manager cooperates with a third party to transport and process the resulting waste. The hazardous waste generated is Used Oil Filter (0.25 kg/month), Used Refrigerant (30 kg/month), Used lubricant packaging (0.25 kg/month), Used Oil (8.3 kg/month), Waste electronics (0.75 kg/month) as well as rags and B3 contaminated gloves (0.05 kg/month). PT. X requires TPS LB3 to store B3 waste before it is transported by a third party. The required dimensions of the TPS for hazardous waste are 4 m2PT. X merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pembekuan ikan dimana dalam proses poduksinya menghasilkan limbah B3. Limbah B3 yang dihasilkan perlu pengelolaan khusus agar tidak mencemari lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan pengelolaan limbah B3 secara teknis berdasarkan timbulan dan jenis limbah B3 pada PT. X. Metode penelitian ini menggunakan pengumpulan data primer, data sekunder serta analisis data. PT. X belum mampu mengolah limbah B3 secara mandiri, sehingga pengelola bekerjasama dengan pihak ketiga untuk mengangkut dan mengolah limbah yang dihasilkan. Limbah B3 yang dihasilkan yaitu filter oli bekas (0,25 kg/bulan), Refrigerant bekas (30 kg/bulan), bekas kemasan pelumas (0,25 kg/bulan), oli bekas (8,3 kg/bulan), limbah elektronik (0,75 kg/bulan) serta majun dan sarung tangan terkontaminasi B3 (0,05 kg/bulan). PT. X membutuhkan TPS LB3 untuk menyimpan limbah B3 sebelum dibawa oleh pihak ketiga. Dimensi TPS Limbah B3 yang dibutuhkan sebesar 4 m2
Analysis and Management of Senayan PLTD Noise Pollution
PLTD activities must pay attention to environmental conditions on the important impacts that occur, specifically regarding the impact of noise that occurs from the operation of the machine. This study\u27s intention is to quantify the degree to which the Senayan 101 MW PLTD\u27s operation has an adverse effect on the neighborhood\u27s noise levels. Constant Noise Type having a broad frequency range. It is advised to install a barrier made of concrete blocks 200 x 200 x 400 with a thickness of 300 mm as high as 6000 mm and a distance of 3000 mm in areas where the noise level is above 70 dB.A. This will help to reduce noise pollution by 20.05 dB.A, bringing the initial noise level down to 68.65 dB. A.Kegiatan PLTD harus memperhatikan kondisi lingkungan terhadap dampak penting yang terjadi, khususnya mengenai dampak kebisingan yang terjadi dari pengoperasian mesin. Tujuan studi ini adalah untuk mengukur sejauh mana pengoperasian PLTD Senayan 101 MW berdampak buruk pada tingkat kebisingan lingkungan. Jenis Kebisingan Konstan memiliki rentang frekuensi yang luas. Disarankan untuk memasang penghalang yang terbuat dari balok beton 200 x 200 x 400 dengan ketebalan 300 mm setinggi 6000 mm dan jarak 3000 mm di daerah yang tingkat kebisingannya di atas 70 dB.A. Ini akan membantu mengurangi polusi suara sebesar 20,05 dB.A, menurunkan tingkat kebisingan awal menjadi 68,65 dB
Dampak Industri Tahu Rumahan Terhadap Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan: Studi Kasus di Desa Bakung Kecamatan Udanawu Kabupaten Blitar
The tofu home industry operation can discharge environmentally harmful wastewater. The question of this study is to know what are the economic, social and environmental impacts of the tofu home industry. The purpose of this study is to determine the impact of a tofu home industry on the economy, society and the environment. The research is qualitative research using a descriptive method. The information was obtained through observations and interviews with home-based tofu business owners, residents, and various workers. The results showed that the company help the surrounding community to meet their needs by the availability of works. In addition, awareness of the importance of healthy and rich protein foods such as tofu has changed the way of life of local. However, the tofu home industry has a disturbing impact on society and the river water ecosystem, where sometimes it still dumps waste water into the river, which can cause a fishy smell and make the river turn white.Industri tahu rumahan dalam melakukan usahanya dapat menghasilkan limbah cair yang membahayakan kondisi lingkungan. Dalam penelitian ini, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana dampak ekonomi, sosial dan lingkungan yang ditimbulkan dari adanya industri tahu rumahan. Tujuan dari penelitian ini yakni untuk mengetahui dampak dari home industri dari segi ekonomi, sosial, dan lingkungan. Metode penelitiannya yakni penelitian kualitatif, dengan pendekatan deskriptif. Data diperoleh melalui observasi dan wawancara dengan pemilik industri tahu rumahan, warga dan beberapa karyawan. Hasil penelitian menyatakan bahwa masyarakat sekitar menjadi terbantu dalam hal ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dengan adanya lapangan pekerjaan. Selain itu, adanya perubahan gaya hidup masyarakat sekitar industri tahu rumahan dalam hal sosial dimana mereka mempunyai kesadaran terkait pentingnya mengkonsumsi makanan sehat yang berprotein seperti tahu. Namun, industri tahu rumahan memiliki dampak yang menggangu masyarakat dan ekosistem air sungai, di mana terkadang masih membuang air limbah ke sungai, yang dapat menimbulkan bau amis dan warna sungai menjadi putih.
Distribusi Kandungan Logam Berat Pb Pada Ekosistem Perairan Kepri
Banyaknya aktivitas di perairan Kepri dapat menjadi penyebab pencemaran logam berat Pb pada ekosistem maupun biota perairan. Analisis pada kajian ini dilakukan dengan me-review artikel-artikel pada penelitian sebelumnya yang dilakukan di beberapa lokasi di perairan Kepri (Perairan Bukit Bestari, Pantai Pulau Bintan Utara, Perairan Batam, Perairan Tanjung Lanjut dan Perairan Teluk Tanjungpinang). Hasil kajian didapati kandungan logam berat Pb pada air laut berkisar 0,035–0,611 ppm, pada sedimen berkisar 2–15,31 ppm, pada mollusca berkisar 0,16–21,56 ppm, pada udang putih (Penaeus merguiensis) berkisar 0,009–0,0128 ppm, pada lamun (Enhalus acoroides) berkisar 0,1088–5,67 ppm, pada mangrove berkisar 0,45-1,17 ppm dan pada makroalga berkisar 0,86–16,81 ppm. Kandungan logam berat Pb pada Lamun (Enhalus acoroides) paling tinggi ditemukan pada akar yaitu 0,0611 ppm. Perbedaan distribusi tinggi rendahnya kandungan logam berat Pb bergantung terhadap aktivitas yang terjadi diperairan tersebut
Sistem Pengolahan dan Pemanfaatan Air Limbah Domestik (Studi Kasus Pada PT. X)
Abstract: PT. X is a nut and bolt industry in Surabaya. PT. X treats their domestic wastewater in the Biofilter WWTP and uses it as water for sprinkling open spaces and green open spaces. This is interesting to learn because it can become material for study in domestic wastewater management systems in the industrial sector. The research method uses a qualitative data analysis approach with primary and secondary data sources. Data was collected through observation, interviews and documentation. The results obtained are the existing conditions of water management, starting from the use of clean water to produce waste water, processing, utilization, and efficiency of waste water utilization. The processing produces recycled water which meets quality standards, so that it can be used as watering open spaces and green open spaces. The efficiency of domestic wastewater utilization reaches 99%, with the benefits obtained, namely being able to reduce the cost of purchasing clean water for irrigation and reduce the volume and load of pollutants in water bodies.
Keywords: Biofilter, Domestic Wastewater, WateringPT. X merupakan salah satu industri mur dan baut yang ada di Surabaya. PT. X mengolah air limbah domestiknya di IPAL Biofilter dan memanfaatkannya sebagai air penyiraman ruang terbuka dan ruang terbuka hijau. Hal ini menarik untuk diteliti karena dapat menjadi bahan kajian dalam sistem pengelolaan air limbah domestik dalam sektor industri. Metode penelitian menggunakan pendekatan analisis data kualitatif dengan sumber data primer dan sekunder. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil yang diperoleh yaitu kondisi eksisting pengelolaan air, mulai dari penggunaan air bersih hingga menghasilkan air limbah, pengolahan, pemanfaatan, dan efisiensi pemanfaatan air limbah. Proses pengolahan menghasilkan air daur ulang (recycle) yang telah memenuhi baku mutu, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai penyiraman ruang terbuka dan ruang terbuka hijau. Efisiensi pemanfaatan air limbah domestik mencapai 99 %, dengan manfaat yang didapatkan yaitu mampu menekan biaya pembelian air bersih untuk penyiraman dan mengurangi volume serta beban pencemar pada badan air
An Ethnobotanical Study to Species Used as Upakara Materials in Ngerebong Ceremony in Kesiman Village, Denpasar City
The ngerebong ceremony held in Pakraman Kesiman Village, Denpasar City, has been carried out for generations by the local community. Nevertheless, studies have not determined what living things were used in the ritual. This study aims to identify species used as upakara ingredients in the Ngerebong ritual with an ethnobotanical study approach. The mixed-methods research design was used for two months. Data analysis is carried out descriptively. The findings showed that 39 species of plants, consisting of 25 families, were used as material for making banten. The parts used consist of stems, leaves, flowers, fruits, roots, and tubers. The components used include water, wine (berem), white thread, salt, anchovies, whiting, duck eggs, chicken eggs, pennies, incense, eel, babi guling, rupiah bills, chicken satay, and gauze. The complexity of materials used in the ngerebong ceremony makes it necessary to conserve and preserve biological resources in order to maintain their existence.Upacara ngerebong yang dilaksanakan di Desa Pakraman Kesiman, Kota Denpasar telah dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat setempat. Namun, belum terdapat penelitian yang berupaya mengidentifikasi sumber daya hayati yang digunakan dalam ritual tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies yang digunakan sebagai bahan upakara dalam upacara Ngerebong dengan pendekatan studi etnobotani. Desain penelitian mixed-method digunakan selama dua bulan. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Temuan menunjukkan terdapat 39 spesies tumbuhan yang digunakan sebagai bahan upakara membuat banten yang terdiri dari 25 keluarga. Bagian yang digunakan terdiri dari batang, daun, bunga, buah, akar, dan umbi – umbian. Komponen yang digunakan meliputi Air, arak/berem, benang putih, garam, ikan teri, kapur sirih, telur bebek, telur ayam, uang kepeng, dupa, belut, babi guling, uang rupiah, sate ayam, dan kain kasa. Kompleksnya bahan yang digunakan dalam upacara ngerebong menjadikan konservasi dan pelestarian sumber daya hayati perlu dilakukan untuk menjaga ketersediaan sumber daya hayati.
 
Analisis Ekowisata dan Budaya Alam Santosa Sebagai Learning Center di Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung
The establishment of a Learning Center on Ecotourism and Natural Culture of Santosa encourages the development of local policy insights, contributing to the development of national cultural values. Included in the Santosa Nature Ecotourism and Culture private area which provides coffee shop facilities, lodging places with themes that have a strong Sudanese cultural nuance. The purpose of this study was to determine the factors of establishing a Learning Center in a culture-based tourism village. This journal analyzes descriptively qualitatively, filling out questionnaires in the surrounding community, and the parameters seen include attractions, amenities, and accessibility presented in the SWOT analysis. The results of the factors that influenced the establishment of Ecotourism and Culture Alam Santosa to become a Learning Center were influenced by internal and external factors with the strongest factors being the attractions of diverse cultural infrastructure and the trust that was woven with a strong community.Penetapan menjadi Learning Center pada Ekowisata dan Budaya Alam Santosa mendorong pengembangan wawasan kebijakan lokal, dalam kontribusi pembangunan nilai budaya nasional. Termasuk kedalam kawasan pribadi Ekowisata dan Budaya Alam Santosa yang menyajikan sarana kedai kopi, tempat penginapan dengan tema yang bernuansa budaya khas suku Sunda yang kental. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor dari ditetapkannya Learning Center di Desa wisata berbasis budaya. Jurnal ini menganalisis secara deskriptif kualitatif, pengisian kuesioner pada masyarakat sekitar, dan parameter yang dilihat mencakup atraksi, amenitas, dan aksesibilitas yang disajikan dalam analisis SWOT. Hasil faktor yang mempengaruhi ditetapkannya Ekowisata dan Budaya Alam Santosa menjadi Learning center adalah dipengaruhi dari faktor internal dan eksternal dengan faktor terkuat ada pada atraksi infrastruktur budaya yang beragam dan kepercayaan yang dijalin dengan masyarakat yang kuat
Dampak Ekologi, Ekonomi dan Sosial Pembangunan Pelabuhan Kaliadem Muara Angke
Ecological-based development is a sustainable development that does not only have an impact on the economy but also pays attention to the environmental conditions of natural resources, the reclamation of the Muara Angke port has an impact on the livelihoods of fishermen around the coast. This study aims to find out how the port of Muara Angke has an impact on the economy of coastal communities not only on the economy but also on environmental aspects. This study uses literature study sourced from documents, journals and articles. The results of this study found that the construction of the Muara Angke port has not fully paid attention to the ecological aspects of this because of environmental conditions such as floods, puddles, and slum settlements in the coastal area of ??Muara Angke.Pembangunan pelabuhan muara angke dilaksanakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, namun dalam pembangunan perlu diperhatikan juga bagaimana aspek sosial, ekonomi dan ekologinya sehingga pembangunan tersebut dapat berkelanjutan di mana pembangunan berkelanjutan merupakan pembangunan yang tanpa menghabiskan sumber daya terutama sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan dikemudian hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana dampak dari pembangunan pelabuhan muara angke terhadap masyarakat sekitar dari aspek ekonomi, ekologi dan sosial terutama pada masyarakat nelayan. Penelitian ini menggunakan studi literatur melalui jurnal, artikel, maupun dokumen pendukung lainnya yang bersumber dari website dan buku. Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa dampak yang terjadi akibat dari reklamasi maupaun revitalisasi bagi masyarakat pelabuhan sudah cukup serius di mana adanya pencemaran air, berkurangnya lahan nelayan dalam penangkapan ikan dan kurangnya pelibatan masyarakat dalam kegiatan di pelabuhan
Keterlibatan Perempuan Kamboja dan Indonesia dalam Pembangunan Lingkungan Komoditas Hutan pada Program UN-REDD+
The UN-REDD+ program has the goal of reducing forest emissions and increasing natural carbon stocks by taking into account the issue of gender equality. Gender issues in forest management are a concern both in Cambodia and Indonesia. The results of a review of previous writings show that women\u27s involvement in the REDD+ program has not been carried out optimally. There is no significant difference between the low participation of women in Cambodia and Indonesia. The low involvement of women is shown by the domination of men in forest management institutions, where women are only partially involved or not even involved. Their low participation is due to the low level of women\u27s knowledge, limited access to knowledge and opportunities in meetings and decision-making as well as a hierarchical societal culture and deeply rooted traditional norms regarding the different roles of women and men where the public role must be for men and women in domestic activities. This is a concern as well as a threat to the achievements that will be realized in forest management in the REDD+ program such as efficiency and effectiveness as well as justice.Program UN-REDD+ memiliki tujuan pengurangan emisi hutan serta peningkatan cadangan karbon alami dengan memperhatikan isu kesetaraan gender. Permasalahan kesetimpangan antara laki-laki dan perempuan dalam pengelolaan hutan menjadi kekhawatiran baik di Kamboja maupun di Indonesia. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana keterlibatan perempuan serta faktor apa saja yang mempengaruhi keterlibatan tersebut. Setelah dilakukan review dari tulisan-tulisan terdahulu didapatkan hasil bahwa partisipasi perempuan di Kamboja maupun di Indonesia tidak memiliki perbedaan yang signifikan, yaitu perempuan hanya terlibat sebagian dalam program REDD+. Belum aktifnya ketelibatan perempuan digambarkan oleh dominasi kaum laki-laki dalam kelembagaan pengelolaan hutan, di mana perempuan hanya terlibat sebagian atau bahkan tidak terlibat. Rendahnya partisipasi mereka dikarenakan tingkat pengetahuan perempuan yang rendah, terbatasnya akses untuk mendapatkan pengetahuan dan kesempatan dalam pertemuan dan pengambilan keputusan serta budaya masyarakat yang hirarkis dan norma tradisional yang mengakar tentang perbedaan peran perempuan dan laki-laki dimana peran publik harus kepada laki-laki dan perempuan dalam kegiatan domestik. Hal ini dapat menjadi perhatian bersama bahwa keadilan bagi kaum perempuan khusunya dalam pembangungan lingkungan komoditas hutan masih perlu untuk ditingkatkan