121 research outputs found
Sort by
Pengelolaan Sampah di Kawasan Wisata Kuliner Pantai Warna Oesapa Kota Kupang
Permasalahan sampah di kawasan wisata masih menjadi masalah. Jika tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan dampak bagi kesehatan, lingkungan dan minat wisatawan. Studi ini bertujuan menggambarkan pengelolaan sampah di kawasan wisata kuliner Pantai Warna Oesapa Kupang. Metode yang digunakan adalah observasi pada tahapan pengelolaan sampah mulai dari penimbulan, pewadahan, pengangkutan, dan kondisi TPS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paling banyak wadah pengumpulan sampah berupa karung. Sampah paling banyak dihasilkan pada hari Sabtu dan Minggu. Kondisi wadah pengumpul sampah pada pedagang dan TPS belum memenuhi syarat. Pengangkutan sampah menuju TPA sudah dilakukan dengan baik. Perlu adanya edukasi bagi para pedagang dan pengawasan dan evaluasi terus menerus dalam upaya penanganan sampah
Ancaman Perubahan Iklim di Pulau Kecil: Studi Kasus Kerentanan Ekologis Pulau Bawean
Climate change has a significant impact on small islands, including Bawean Island, which faces various threats such as rising sea levels, increasing temperatures, and the degradation of marine ecosystems, particularly coral reefs. This study aims to assess the ecological vulnerability of Bawean Island to climate change and the adaptive strategies employed by the local community, especially fishermen. The results show that climate change affects the livelihood of fishermen through changes in weather patterns, seasonal cycles, and reduced fish catches. Bawean\u27s fishing communities have developed various adaptive strategies, such as avoiding the use of destructive fishing gear, utilizing local knowledge of winds and seasons, and participating in conservation programs like mangrove planting to mitigate coastal erosion. This study emphasizes the importance of a human ecology approach in understanding community adaptation to climate change. These adaptations not only involve responses to physical environmental changes but also social and economic engagement influences community resilience. The study recommends the need for policy interventions that support ecosystem sustainability and the development of environmentally friendly technologies to enhance the adaptive capacity of Bawean Island\u27s communities in the face of future climate change impacts.Bawean Perubahan iklim memiliki dampak signifikan pada pulau-pulau kecil, termasuk Pulau Bawean, yang menghadapi berbagai ancaman seperti kenaikan permukaan air laut, suhu yang meningkat, dan degradasi ekosistem laut, terutama terumbu karang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kerentanan ekologis Pulau Bawean terhadap perubahan iklim serta strategi adaptasi yang dilakukan oleh masyarakat setempat, khususnya para nelayan. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, penelitian ini melibatkan wawancara, observasi, dan diskusi kelompok terarah (FGD) dengan para nelayan di beberapa desa di Pulau Bawean. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan iklim memengaruhi mata pencaharian masyarakat nelayan melalui perubahan pola cuaca, siklus musim, dan penurunan hasil tangkapan ikan. Masyarakat nelayan Bawean telah mengembangkan berbagai strategi adaptasi, seperti menghindari penggunaan alat tangkap destruktif, memanfaatkan pengetahuan lokal tentang angin dan musim, serta berpartisipasi dalam program konservasi seperti penanaman mangrove untuk mengurangi abrasi pantai. Studi ini menekankan pentingnya pendekatan human ecology dalam memahami adaptasi masyarakat terhadap perubahan iklim. Adaptasi ini tidak hanya mencakup respons terhadap perubahan lingkungan fisik tetapi juga keterlibatan sosial dan ekonomi yang memengaruhi ketahanan masyarakat. Penelitian ini merekomendasikan perlunya intervensi kebijakan yang mendukung kelestarian ekosistem dan mengembangkan teknologi ramah lingkungan guna meningkatkan kapasitas adaptasi masyarakat Pulau Bawean terhadap dampak perubahan iklim di masa mendatang
Ancaman Keselamatan dan Kenyamanan Lingkungan Hidup di Sekitar Area Pembuangan Sampah: Studi Kasus TPST Bantar Gebang
The increasing volume of waste is now a new problem that needs to be solved. This research aims to determine the threat of safety and environmental comfort around the waste disposal area, specifically at the Bantar Gebang Integrated Waste Management Site. The method used in this research is a literature study obtained from the results of literature studies sourced from journals, literature, publications, and other relevant sources. The results of this study can be a recommendation to prevent various threats to the safety and comfort of the environment around the Integrated Waste Management Site that have the potential to threaten the sustainability of the environment and the living conditions of the surrounding community.Meningkatnya volume sampah, kini menjadi masalah baru yang perlu diselesaikan. Hal ini dikarenakan berdampak juga kepada meningkatnya volume sampah yang ada di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST). Bahkan, kapasitas TPST sudah mencapai overload. Hal ini terjadi di TPST Bantar Gebang. Meningkatnya volume sampah ini berbanding lurus dengan adanya potensi ancaman keselamatan dan kenyamanan di sekitar area TPST Bantar Gebang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ancaman keselamatan dan kenyamanan lingkungan hidup di sekitar area pembuangan sampah, terkhusus pada Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu Bantar Gebang. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian dianalisis dan disertai dengan memberikan pemahaman dan penjelasan. Berdasarkan penelitian, ditemukan adanya ancaman keselamatan berupa potensi terjadinya longsor sampah serta dalam aspek kesehatan, yaitu berbagai penyakit kulit, pernapasan hingga demam berdarah
Analisis Pengendalian Kualitas Air Sungai Dengan Penerapan Metode Six Sigma (DMAIC): Studi Sungai Wonokromo Segmen Jl. Nginden Intan – Jl. Wonorejo
Sungai Wonokromo merupakan salah satu cabang Sungai Surabaya bagian DAS Brantas. Keberadaan Sungai Wonokromo yang melintasi kawasan padat penduduk dapat meningkatkan risioko tinggi terhadap pencemaran lingkungan. Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Surabaya Tahun 2014-2034, Sungai Wonokromo akan dikembangkan menjadi destinasi wisata dan pusat pelayanan angkutan sungai. Sehingga diperlukan penelitian yang berfokus pada permasalahan terjadinya kegagalan pada air sungai yang tidak memenuhi baku mutu sesuai peruntukannya. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis pengendalian kualitas air Sungai Wonokro untuk mengidentifikasi level sigma yang tidak sesuai dengan spesifikasi dan mengusulkan perbaikan dalam mengurangai kegagalan. Analisis data menggunakan metode Six Sigma dengan tahapan DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control). Hasil penelitian ini memperoleh nilai DPMO (Defect Per Million Opportunity) sebesar 130.300 dengan nilai level sigma 2,625. Kegagalan dalam kualitas air Sungai Wonokromo dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya kegiatan industri, kegiatan domestik, kurangnya partisipasi masyarakat, dan strategi pengelolaan sungai. Untuk memaksimalkan pengurangan kegagalan, diperlukan upaya perbaikan yang dapat dilakukan disekitar Sungai, seperti melakukan integrasi perencanaan, penegakan hukum yang berlaku, dan memanfaatkan teknologi sensor untuk memantau aktivitas disepanjang tepian sungai
Peran Kader Konservasi Sebagai Mitra Taman Nasional Alas Purwo Dalam Upaya Pelestarian Alam
Kawasan konservasi Taman Nasional Alas Purwo berfungsi secara ekologis maupun ekonomis bagi masyarakat sekitar desa penyangga. Mampu memberikan manfaat baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga keseimbangan penyangga kehidupan tetap terjaga. Namun sekarang potensi sumber daya alam sudah mengalami penurunan kualitas dan kuantitas disebabkan adanya deforestasi. Kerusakan sumber daya alam hayati dan ekosistem tentu akan berdampak buruk bagi kelestarian lingkungan. Jenis penelitian ini kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara mendalam, dokumentasi. Analisa data menggunakan model interaktif, meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan kader konservasi sebagai garda terdepan sebagai pelopor kegiatan pelestarian dan pengawetan sumber daya alam hayati dan ekosistem di Taman Nasional Alas Purwo. Peran kader konservasi sebagai inisiator, motivator, fasilitator, sekaligus mitra pembangunan yang diharapkan mampu berperan serta dalam upaya mewujudkan masyarakat yang mencintai alam dan lingkungan
Identifikasi Dampak Perubahan Suhu Pada Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah
The Dieng Plateau is an area with an abundant diversity of flora and fauna. However, this area can experience temperatures. The objectives of this research are 1) to determine the factors causing drastic temperature changes in the Dieng area, Central Java; 2) to analyze the impact of temperature changes on the environment, ecosystem, and living creatures in Dieng; and 3) to look for solutions to overcome the negative impacts of changes in Dieng. The research method used is a study of literature from several journals which is then summarized, analyzed, and supported by the researcher\u27s arguments. The Dieng area has different temperatures during the day and at night, making it different. This impacts the agricultural, tourism, health, quality, and availability of drinking water sectors. This can be overcome with several strategies, such as using plants resistant to temperature changes, maintaining body health, and good tourism management. Therefore, significant temperature changes have positive and negative impacts on the ecosystem and surrounding communities.Dataran Tinggi Dieng merupakan salah satu wilayah dengan keanekaragam flora dan fauna yang melimpah. Fluktuasi suhu sering terjadi pada wilayah tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan perubahan drastis pada suhu di daerah Dieng Jawa Tengah; 2) menganalisis dampak perubahan suhu terhadap lingkungan, ekosistem hingga makhluk hidup Dieng; dan 3) mencari solusi untuk mengatasi dampak negatif dari perubahan Dieng. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dari beberapa jurnal yang kemudian dirangkum, dianalisis serta didukung argument dari peneliti. Kawasan Dieng memiliki suhu yang berbeda-beda pada siang dan malam hari karena adanya curah hujan yang menjadikan berbedaan suhu. Hal ini berdampak pada sektor pertanian masyarakat, pariwisata, kesehatan pada masyarakat. Hal ini dapat ditanggulangi dengan beberapa strategi, seperti pemanfaatan tanaman yang tahan terhadap perubahan suhu, menjaga kesehatan tubuh, serta pengelolaan pariwisata yang baik. Oleh karena itu adanya perubahan suhu yang signifikan berdampak positif dan negatif bagi ekosistem dan masyarakat sekitar. Dampak positifnya seperti pemanfaatan suhu dingin menjadi wisata dan dampak negatifnya kesehatan masyarakat dan pertanian yang buruk
Sepiring Makanan Sebagai Acuan Produksi dan Konsumsi Pangan Berkelanjutan
Sepiring makanan sebagai acuan produksi dan konsumsi berkelanjutan yang dimaksud dalam artikel ini adalah simbol kebutuhan pada saat manusia membuat keputusan mulai dari pilihan konsumsi pangan sampai dengan tahap produksi limbah yang akan dibuang ke lingkungan. Artikel ini adalah sebuah kajian literatur yang bertujuan untuk menjelaskan secara mendalam mengenai dimensi kebutuhan yang disimbolkan dalam sepiring makanan. Berdasarkan hasil kajian, dapat disimpulkan bahwa terdapat lima dimensi kebutuhan yang dapat disimbolkan dalam sepiring makanan yaitu: (1) hak asasi manusia atas lingkungan hidup yang berkualias menjadi upaya untuk mengusahakan kebutuhan fisiologis sesuai dengan kondisi fisik dan non fisik. Cakupan kebutuhan fisiologis meliputi konsumsi pangan yang beragam, bergizi, berimbang, dan aman; (2) ketersediaan pangan merupakan pondasi kehidupan sehat dan sejahtera; (3) pangan menjadi alat harmonisasi pilihan yang berbeda, sehingga aktifitas makan merupakan momen silaturahmi lintas manusia dan lintas kehidupan; (4) akses terhadap pangan tetap menghormati keberadaan makhluk hidup lain; dan (5) pilihan pangan yang menyelamatkan bumi melalui “Think Globally, Act Locally”.
Etika Lingkungan dalam Tradisi Berladang Suku Dayak Meratus
Upaya penanganan dan pencegahan dampak destruktif aktivitas ekonomi manusia terhadap ekologi harus berakar pada kesadaran moral-etis yang berorientasi pada keseimbangan lingkungan. Etika lingkungan sebagai sebuah refleksi kritis tentang norma, nilai atau prinsip moral dalam kaitannya dengan lingkungan hidup dapat digagas dari perspektif budaya lokal. Melalui penelitian ini, penulis hendak menggali serta mengeksplorasi etika lingkungan yang secara potensial termuat dalam tradisi berladang masyarakat suku Dayak Meratus di pedalaman Kalimantan Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif melalui wawancara dan studi literatur. Penulis menyimpulkan bahwa tradisi berladang masyarakat suku Dayak Meratus memuat prinsip-prinsip etika lingkungan khas lokal, yaitu (1) alam sebagai ibu: prinsip rasa hormat terhadap alam, (2) alam sebagai saudara: prinsip solidaritas terhadap alam, dan (3) alam sebagai tempat kudus: prinsip submisif terhadap alam
Analisis Masalah Sampah Penyebab Kebakaran di Gunung Andong
Mount Andong is a natural tourist destination in Magelang Regency, Central Java, Indonesia. Mount Andong faces serious challenges related to waste management and the risk of forest fires. This research provides an overview of the condition of Mount Andong regarding the increasing accumulation of waste, especially plastic waste which is detrimental to the ecosystem and natural sustainability. Apart from the waste problem, Mount Andong is experiencing the threat of forest fires, both due to natural factors such as extreme weather and high temperatures, as well as human negligence such as burning agricultural land and carelessly throwing away cigarette butts. The fire on August 10 2023 is an example of the cause of significant forest damage. This research focuses on forest fire mitigation and management as an effort to achieve sustainability on Mount Andong. Integrated steps are needed including improving waste management infrastructure, educational campaigns, and strict law enforcement regarding illegal waste dumping. This research emphasizes the importance of collaboration between the government, community and related parties to manage Mount Andong sustainably, protect its ecosystem and create a better future.Gunung Andong merupakan destinasi wisata alam di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Gunung Andong menghadapi tantangan serius terkait pengelolaan sampah dan risiko kebakaran hutan. Penelitian ini memberikan gambaran tentang kondisi Gunung Andong terhadap peningkatan penumpukan sampah, terutama sampah plastik yang merugikan ekosistem dan kelestarian alam. Selain masalah sampah, Gunung Andong mengalami ancaman kebakaran hutan, baik karena faktor alam seperti cuaca ekstrem dan suhu tinggi, maupun kelalaian manusia seperti pembakaran lahan pertanian dan pembuangan puntung rokok sembarangan. Kebakaran pada tanggal 10 Agustus 2023 sebagai contoh penyebab kerusakan hutan yang signifikan. Penelitian ini memfokuskan pada mitigasi dan manajemen kebakaran hutan sebagai upaya mencapai keberlanjutan Gunung Andong. Diperlukan langkah-langkah terpadu termasuk perbaikan infrastruktur pengelolaan sampah, kampanye edukasi, dan penegakan hukum ketat terkait pembuangan sampah ilegal. Penelitian ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pihak terkait guna mengelola Gunung Andong secara berkelanjutan, melindungi ekosistemnya, dan menciptakan masa depan yang lebih baik
Kerusakan Ekosistem Akibat Penambangan Pasir di Kawasan Gunung Merapi Kabupaten Sleman, Yogyakarta
Penambangan pasir di Kawasan Gunung Merapi Kabupaten Sleman, Yogyakarta telah menyebabkan kerusakan ekosistem yang signifikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dampak kerusakan ekosistem akibat penambangan pasir di kawasan tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan yang mengintegrasikan studi literatur dan analisis data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambangan pasir secara berkala menyebabkan berkurangnya keanekaragaman hayati baik flora maupun fauna. Selain itu, kondisi topografi di kawasan Gunung Merapi juga mengalami perubahan akibat pengerukan pada wilayah-wilayah sungai yang dapat menyebabkan tanah longsor pada tebing, erosi sungai, dan terjadi perubahan pola aliran sungai. Penambangan pasir yang dilakukan secara ilegal dan tanpa izin semakin memperparah kerusakan ekosistem di kawasan tersebut. Oleh karena itu, pengelolaan keanekaragaman hayati menjadi jalan utama agar tercipta keanekaragaman yang stabil, aman, dan berkelanjutan.