Progress in social development (E-Journal)
Not a member yet
78 research outputs found
Sort by
Ethnographic Gayo Community Of Tampur Paloh Village In The Lower Tamiang River, Simpang Jernih District, East Aceh Regency, Aceh Province: Etnografi Masyarakat Gayo Desa Tampur Paloh Di Hilir Sungai Tamiang, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh
ABSTRACT:
Formal education in Tampur Paloh Village is lagging in all aspects, especially in the field of communication and the feasibility of facilities and support. This is the main problem of formal education there which leads to the low competitiveness of local children in the regional and even national arena. This study will discuss the situation and backwardness of rural communities downstream of the Tamiang River, Simpang Jernih District, East Aceh Regency, Aceh Province by looking at the dynamics that occur in formal schools. This research was conducted using qualitative descriptive methods with data sourced from participatory observations in the region. Explain clearly the facts on the ground and to what extent they lag behind the relevance of today's education. By being exposed to the limitations of formal schools, the local community can invite further steps to address the limitations of the quality of these formal studies.
ABSTRAK:
Pendidikan Formal di Desa Tampur Paloh mengalami ketertinggalan dari segala aspek, khususnya di bidang komunikasi dan kelayakan sarana dan penunjang. Hal tersebut menjadi masalah utama pendidikan formal disana yang berujung menjadi rendahnya daya saing anak setempat di kancah daerah bahkan nasional. Kajian ini akan membahas keadaan dan ketertinggalan masyarakat pedalaman di Hilir Sungai Tamiang, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh dengan melihat dinamika yang terjadi di sekolah formal. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan data yang bersumber dari observasi partisipatif di wilayah tersebut. Menjabarkan dengan jelas fakta di lapangan dan sampai sejauh apa ketertinggalan mereka terhadap kerelavan pendidikan zaman sekarang. Dengan tereksposnya keterbatasan sekolah formal masyarakat setempat dapat mengundang langkah lanjutan penanganan keterbatasan kualitas studi formal tersebut
Establishment of A Care Group in The Satya Gawa Program To Enhance The Quality of Life of People With Mental Disorders: Pembentukan Kelompok Peduli Dalam Program Satya Gawa Untuk Meningkatkan Stabilitas Orang Dengan Gangguan Jiwa
ABSTRACT:
Mental health issues are one of the fundamental topics. Psychiatric conditions not only affect the mindset and behavior of individuals but can have an impact on the long term. The Indonesian Ministry of Health (2021) states that the prevalence of potential mental disorders in Indonesia reaches 20% of the total population. Meanwhile, in 2020, only about 58.9% of ODGJ received mental health services. Therefore, this journal article seeks to explain how the process of increasing the stability of ODGJ through the Satya Gawa Program launched by PT Indonesia Power Suralaya PGU. The research method used is qualitative with a phenomenological research approach. Data was collected by means of participant observation, interviews, documentation, and literature study. The concepts of mental health, sociopreneur, and caring groups were used to analyze the data obtained.
ABSTRAK:
Masalah kesehatan jiwa menjadi salah satu topik yang fundamental. Kondisi kejiwaan tidak hanya mempengaruhi pola pikir dan perilaku individu, namun dapat berdampak pada jangka panjang. Kementrian Kesehatan RI (2021) menyatakan bahwa prevalensi potensi gangguan jiwa di Indonesia mencapai 20% dari total penduduk. Sedangkan pada tahun 2020, baru sekitar 58,9% ODGJ yang mendapat pelayanan kesehatan jiwa. Oleh karena itu, artikel jurnal ini berupaya menjelaskan bagaimana proses meningkatkan stabilitas ODGJ melalui Program Satya Gawa yang dicanangkan oleh PT Indonesia Power Suralaya PGU. Metode penelitian yang digunakan adalag kualitatif dengan pendekatan phenomenological research. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi partisipan, wawancara, dokumentasi dan studi literatur. Konsep kesehatan jiwa, sociopreneur, dan kelompok peduli digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh
The Meaning of Covid-19 Social Assistance For The New Poor in Kedunglegok Village, Purbalingga, Central Java: Makna Bantuan Sosial Covid-19 Bagi Masyarakat Miskin Baru di Desa Kedunglegok, Purbalingga, Jawa Tengah
ABSTRACT:
The spread of Corona Virus Diseases 2019 or better known as Covid-19 is expanding every day. The public in general is faced with health-related anxiety that threatens them, but for the poor, the concern is not only about health but also economic conditions to survive in the midst of the Covid-19 pandemic. The existence of vulnerable communities who become the new poor is also a problem in itself. Social assistance for communities affected by the Covid-19 pandemic is very important to survive in the midst of the Covid-19 pandemic. The existence of social assistance serves to provide assistance to the poor in the midst of a very tense situation. Regarding the meaning of Covid-19 social assistance and how the condition of the poor recently affected in Kedunglegok Village in providing views on social assistance became the main focus of the researcher's questions.
ABSTRAK:
Persebaran Corona Virus Diseases 2019 atau yang lebih dikenal dengan Covid-19 semakin meluas setiap harinya. Masyarakat pada umumnya dihadapkan dengan keresahan terkait kesehatan yang mengancam dirinya, namun bagi masyarakat miskin yang diresahkan bukan hanya soal kesehatan melainkan kondisi ekonomi untuk tetap bertahan hidup di tengah pandemi Covid-19. Adanya masyarakat rentan yang menjadi masyarakat miskin baru juga menjadi permasalahan tersendiri. Bantuan sosial bagi kalangan masyarakat terdampak pandemi Covid-19 merupakan hal yang sangat penting untuk survive di tengah pandemi Covid-19. Keberadaan bantuan sosial berfungsi untuk memberikan pertolongan pada masyarakat miskin di tengah situasi yang sangat mencekam. Terkait dengan bagaimana makna bantuan sosial Covid-19 dan bagaimana keadaan masyarakat miskin baru terdampak di Desa Kedunglegok dalam memberikan pandangan terhadap bantuan sosial menjadi sorotan utama pertanyaan peneliti
Anambas Island Coastal Empowerment Strategy For Development Facilities And Infrastructure: Strategi Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Kepulauan Anambas Dalam Pengembangan
ABSTRACT:
Development in the community has a sufficient process through many stages that aim to achieve community welfare. The provision of access to electric lighting and access to clean water, which are fundamental interests in supporting community activities, is a problem that is often encountered in certain areas, such as in Belibak Village which is a village located in the Palmatak District, Anambas Islands Regency, Riau Islands Province. Coastal areas and islands inhabited by fishing communities are often faced with limited access to basic needs, uneven development felt by the community, several factors that cause uneven development in archipelagic areas, one of which is the geographical location of an area that makes it difficult to enter development. Like the people of Belibak Village, who feel the impact of the geographical location, which makes Belibak Village have serious problems in the provision of clean water and the provision of electricity networks.
ABSTRAK:
Pembangunan pada masyarakat memiliki proses yang cukup melalui banyak tahapan yang bertujuan untuk tercapainya kesejahteraan masyarakat. Penyediaan akses penerangan listrik dan akses air bersih yang merupakan kepentingan mendasar dalam penyokong aktivitas masyarakat menjadi permasalahan yang sering dijumpai pada wilayah-wilayah tertentu seperti halnya di Desa Belibak yang merupakan desa yang terletak di wilayah Kecamatan Palmatak, Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau. Wilayah pesisir dan kepulauan yang dihuni oleh masyarakat nelayan sering dihadapkan dengan keterbatasan akses untuk pemenuhan kebutuhan dasar, tidak meratanya pembangunan yang dirasakan oleh masyarakat beberapa faktor yang menyebabkan tidak meratanya pembangunan pada daerah kepulauan salah satunya adalah faktor letak geografis sebuah wilayah yang menyulitkan masuknya pembangunan. Seperti halnya masyarakat Desa Belibak yang merasakan dampak dari letak geografis tersebut yang membuat Desa Belibak memiliki permasalahan serius dalam pengadaan air bersih dan pengadaan jaringan listrik
Tilan Island Tour in Rantau Bais Tourism Village: From Festival To Eco-tourism: Wisata Pulau Tilan di Desa Wisata Rantau Bais: Dari Festival Menuju Ekowisata
ABSTRACT:This study discussed about tourist destinations in Tilan Island, which was built under the initiative of the local youth through festival tourism. The tourist destination has been positively responded to by visitors whose number keeps increasing each year, and Kepenghuluan Rantau Bais has been recognised as a Tourism Village. Tourism in Tilan Island persistently transforms from festival tourism to regular tourism, starting from its opening every Saturday and Sunday. This study is a qualitative study that uses the ethnography method where the researcher lived for two months in Kepenghuluan Rantau Bais. The data was obtained using participative observation and in-depth interviews with an appointed informant who has a wide knowledge on tourism in Tilan Island. This research found that not all tourism potential in Tilan Island and Rokan River are explored to become tourist activities.
ABSTRAK:Studi ini membahas tentang destinasi wisata Pulau Tilan, destinasi wisata yang dibangun atas inisiatif pemuda melalui wisata festival. Destinasi wisata sudah direspon positif oleh pengunjung yang datang terus meningkat setiap tahunnya, dan diakuinya Kepenghuluan Rantau Bais sebagai desa wisata. Wisata Pulau Tilan secara bertahap bertransformasi dari wisata festival ke wisata regular dimulai dengan dibukanya wisata pada setiap hari Sabtu dan Minggu. Studi ini merupakan studi kualitatif dengan menggunakan metode etnografi dimana peneliti tinggal selama dua bulan di Kepenghuluan Rantau Bais. Teknik pengambilan data melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam kepada informan yang ditetapkan karena pengetahuannya tentang wisata Pulau Tilan. Penelitian ini menemukan bahwa belum semua potensi wisata di Pulau Tilan dan Sungai Rokan dieksplorasi menjadi aktivitas wisata
Marginalization of Women's Leadership in Politics and Government: Marginalisasi Kepemimpinan Perempuan Dalam Politik dan Pemerintahan
ABSTRACT:
The purpose of this study is to find out the reality of policies regarding women's human rights as a space that provides an opportunity to lead in the realm of politics and government. This study uses a literature study with a SWOT analysis method on existing policies. The results show that in the history of the Indonesian government, Megawati Soekarnoputri and Puan Maharani were executive and legislative leaders who represented women. Although the existence of these two figures is an important model in the role of women's leadership, at the level of implementation, the involvement and participation of women in leading politics and government is still very low and there is often a marginalization of women due to the weak legal system, policies that are not gender friendly, and the perpetuation of patriarchal culture rooted in the point of view of the Indonesian people.
ABSTRAK:
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui realita kebijakan mengenai hak asasi perempuan sebagai ruang yang memberi kesempatan untuk memimpin dalam ranah politik dan pemerintahan. Penelitian ini menggunakan studi kepustakaan dengan metode analisis SWOT terhadap kebijakan yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam historis Pemerintahan Indonesia, Megawati Soekarnoputri dan Puan Maharani menjadi pemimpin eksekutif dan legislatif yang mewakili kaum perempuan. Meskipun keberadaan dua tokoh tersebut menjadi model penting dalam kiprah kepemimpinan perempuan, namun dalam tataran implementasinya keterlibatan dan partisipasi perempuan dalam memimpin politik dan pemerintahan masih sangat rendah dan kerap terjadi marginalisasi terhadap kaum perempuan yang diakibatkan karena lemahnya sistem hukum, kebijakan yang tidak ramah gender, serta langgengnya budaya patriarki yang mengakar pada sudut pandang masyarakat Indonesia
Ethnographic Study of Changes In Tradition of The Petalangan Tribe In Tambak Village: Studi Etnografi Perubahan Tradisi Menumbai Suku Petalangan di Desa Tambak
ABSTRACT:
This research aims to examine the tradition of Menumbai on Patalangan tribal community in Tambak Village. The focus of the study in this research is to find out the process on how the continuity of the current tradition of Menumbai is going on and to distinguish the tradition of Menumbai in the past and nowadays. This research also studies the shifts or changes that occur in the tradition of Menumbai and examine the cause behind it. The method used in this study is qualitative research using an ethnographic approach. The data collection techniques in this research were observation, participant observation, and in-depth interview. This research was conducted for two months long by directly staying at the research location in Tambak Village, Langgam District, Pelalawan Regency, Riau Province.
ABSTRAK:
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tradisi menumbai pada masyarakat suku Patalangan di Desa Tambak. Fukos kajian pada penelitian ini yaitu untuk mengetahuai bagaimana keberlangsungan tradisi menumbai pada saat sekarang ini serta mempelajari bagaimana tradisi menumbai dahulu dan bagaimana tradisi menumbai sekarang ini. penelitian ini juga mempelajari pergeseran atau perubahan yang terjadi pada tradisi menumbai serta penyebabnya. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan etnografi. Sumber data pada penelitian ini terdiri dari sumber data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini yaitu observasi, observasi terlibat, dan wawancara mendalam. Penelitian ini dilakukan selama dua bulan dengan berdiam dilokasi penelitian yaitu di Desa Tambak, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau
Women Empowerment in Improving Family Welfare Through Red Ginger Cultivation: Pemberdayaan Perempuan Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Keluarga Melalui Budidaya Tanaman Jahe Merah
Penelitian ini membahas tentang program pemberdayaan perempuan dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui budidaya dan pengelelolahan tanaman jahe merah.Metode penelitian yang dipakai oleh peneliti yaitu penelitian kualitatif. Kemudian teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan studi dokumen. Mengenai hasil penelitian ini, program pemberdayaan ini memiliki peranan penting dalam pemberdayaan perempuan melalui budidaya dan pengelolahan tanaman jahe merah di Kelurahan Pondok Pucung Kecamatan Karang Tengah Kota Tangerang. Berdasarkan pelaksanaannya program pemberdayaan perempuan ini mampu meningkatkan keterampilan para perempuan dalam budidaya dan pengelolahan jahe merah. Adapun hasil dari program pemberdayaan perempuan yang dilakukan adalah kemandirian ekonomi keluarga, meliputi; meningkatkan produktifitas pendapatan dalam keluarga, kesadaran untuk menabung, menentukan prioritas kebutuhan, dan optimis. Meningkatkan produktifitas pendapatan dalam keluarga, menciptakan kemandirian untuk memiliki penghasilan tambahan dalam memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Mandiri secara keuangan dan tidak bergantung kepada orang lain. Kesejahteraankeluarga Dengan mengembangkan kreatifitas dan potensi diri di bidang budidaya dan pengelolahan jahe, akhirnya para perempuan yang ikut berpartisipasi dapat memiliki penghasilan sendiri dan dapat meningkatkan ekonomi keluarga serta membantu kepala keluarga
The Role of The Ethnic Borneo Studio as An Empowered Community in The Development of Traditional Arts in The City of Samarinda: Peranan Sanggar Borneo Etnika Sebagai Komunitas Berdaya Dalam Perkembangan Kesenian Tradisional Di Kota Samarinda
ABSTRACT:
The Borneo Etnika Studio is one of the studios in Samarinda City that was founded in 2008 and turned into a community in 2013 with a wider focus on art. The training and coaching activities include basic theory in dancing and playing traditional musical instruments which consist of three realms of artistic culture which include the palace, the coast and the hinterland. The Borneo Etnika Studio opened the activity in general to the wider community, then the studio as a supporting element in developing traditional arts also played its role in creating new works by participating in various kinds of performances and competitions as well as collaborating with the local government, one of which was UPTD Taman Budaya which is a facilitator in providing a place for the activities carried out by the Borneo Ethnic Studio.
ABSTRAK:
Sanggar Borneo Etnika merupakan salah satu sanggar di Kota Samarinda yang berdiri sejak tahun 2008 dan berubah menjadi komunitas pada tahun 2013 dengan fokus seni yang lebih luas. Kegiatan pelatihan dan pembinaan didalamnya meliputi teori dasar dalam menari dan memainkan alat musik tradisional yang terdiri dari tiga ranah budaya kesenian yang meliputi keraton, pesisir dan pedalaman. Sanggar Borneo Etnika membuka kegiatan tersebut secara umum untuk masyarakat luas, kemudian sanggar sebagai unsur pendukung dalam mengembangkan kesenian tradisional juga menjalankan peranannya dalam menciptakan karya-karya terbaru dengan mengikuti berbagai macam pementasan dan perlombaan serta menjalin kerjasama dengan pemerintah setempat salah satunya UPTD Taman Budaya yang merupakan fasilitator dalam menyediakan tempat untuk kegiatan yang dilaksanakan Sanggar Borneo Etnika
Evaluation of Forest and Climate Change Empowerment Programs of Long Laai Village, Kecamatan Segah Berau District: Evaluasi Program Pemberdayaan Forest and Climate Change Programme Desa Long Laai Kecamatan Segah Kabupaten Berau
ABSTRACT:
The community participation program in conserving village forests is carried out by the Forest and Climate Change Program of Long Laai Village. Indonesia's forest is one of the third largest tropical forests in the world and is ranked second in terms of diversity. From an ecological, economic and social perspective, it turns out that the level of forest destruction in Indonesia is still relatively high from year to year due to uncontrolled exploitation activities carried out massively without paying attention to sustainability and sustainability. Kalimantan is one of the lungs of the world whose forest area is 40.8 million hectares. According to data released by the forestry department, the deforestation rate in Kalimantan from 2000 to 2005 reached around 1.23 million hectares. Berau District has an area of 2,194,299,525 hectares consisting of protection forest, limited production forest, permanent production forest, conservation forest and other areas of use. The successes and failures achieved by the community and the Forest and Climate Change program and the supporting and hindering factors for the program's running are a village approach strategy to raise community awareness in maintaining and utilizing forest products.
ABSTRAK:
Program partisipasi masyarakat dalam melestarikan hutan desa dilaksanakan oleh Forest and Climate Change Programme Desa Long Laai. Hutan Indonesia merupakan salah satu hutan tropis terluas ketiga di dunia dan ditempatkan pada urutan kedua dalam hal tingkat keanekaragaman. Dari sisi ekologi, ekonomi dan sosial ternyata tingkat kerusakkan hutan di Indonesia masih relatif tinggi dari tahun ketahun diakibatkan kegiatan eksploitasi yang tidak terkendali dan dilakukan secara masif tanpa memperhatikan kelestarian serta keberlanjutan. Kalimantan adalah salah satu paru-paru dunia luas hutannya yaitu, 40,8 juta hektar. Menurut data yang dikeluarkan departemen kehutanan angka deforestasi Kalimantan pada tahun 2000 sampai 2005 mencapai sekitar 1,23 juta hektar. Kabupaten Berau memiliki luas wilayah 2.194.299,525 Ha yang terdiri dari Hutan Lindung, Hutan Produksi Terbatas, Hutan Produksi Tetap, Hutan Konservasi, dan Areal penggunaan Lain. Keberhasilan dan kegagalan yang dicapai masyarakat dan Forest and Climate Change programme dan faktor pedukung dan penghambat jalannya program ada strategi pendekatan desa untuk membangkitkan kesadaran masyarakat dalam menjaga dan memanfaatkan hasil hutan