E - Journal Politeknik Negeri Samarinda
Not a member yet
861 research outputs found
Sort by
POTENSI DAUN WARU DAN KULIT APEL SEBAGAI BAHAN AKTIF HAIR TONIC UNTUK MENGATASI RAMBUT RONTOK
Masalah kerontokan rambut sering disepelekan, karena dinilai wajar dan dialami oleh banyak orang. Padahal permasalahan rambut rontok patut diwaspadai. Kebanyakan orang pada saat ini mengatasi permasalahan rambut rontok dengan menggunakan kosmetik yang beredar dipasaran berupa hair tonic. Jika terlalu sering digunakan, bahan kimia sintetis yang terkandung didalamnya akan berpotensi memberikan kerusakan pada rambut dan kulit kepala. Sehingga, dibutuhkan bahan alami seperti daun waru dan kulit apel sebagai bahan aktif hair tonic. Tujuan penulisan artikel ilmiah ini adalah untuk mencari potensi daun waru (Hibiscus tiliaceus L) dan kulit apel (Malus domestica) sebagai hair tonic untuk mengatasi rambut rontok. Metode penulisan yang digunakan adalah narrative review. Jurnal dan artikel yang diperoleh dari database online dibandingkan kemudian dianalisis untuk mendapatkan hasil yang relevan dengan tujuan artikel ilmiah. Hasil penelitian sebelumnya terhadap daun waru menunjukkan bahwa formulasi hair tonic dalam pengujian penampilan serta aroma memiliki keterangan baik, menarik dan tidak menyengat. Selain itu, juga memenuhi persyaratan dalam pengujian pH, homogenitas, stabilitas dan viskositas. Sedangkan, pada kulit apel yang memiliki kandungan polifenol yang bersifat antioksidan aktif dengan kekuatan 100 kali lebih efektif dibandingkan dengan vitamin C serta 25 kali lebih tinggi dibanding vitamin E dan juga mampu memperkuat akar rambut serta mengatasi ketombe. Pemanfaatan daun waru dan kulit apel sebagai bahan aktif pembuatan hair tonic dirasa efektif untuk menjadi salah satu bentuk perawatan rambut dalam mencegah terjadinya kerontokan rambut
Upaya Meningkatkan Produksi Pakan Ternak Kambing dan Sapi di Desa Sidomulyo Samarinda
Kelompok Pemuda Tani Mandiri selain bertani mereka juga sebagai peternak kambing dan sapi, Ketika musim kemarau persediaan rumput dan daun-daunan hijau semakin hari makin sulit mencarinya. Sehingga untuk mencukupkan kebutuhan pakan ternak Kelompok Pemuda Tani Mandiri melakukan mengolah limbah market (limbah susu bubuk dan susu cair) dan limbah pertanian (limbah hijauan) dicampur dengan tepung tapioca/sagu, garam kasar, molases dan dedak menjadi adonan dan dibentuk bulat atau kotak. Permasalahannya adalah proses mencetak masih menggunakan plat besi/ pipa bekas yang dibentuk menjadi bulat dan kotak dengan tangan, sehingga hasil cetakan masih sedikit 7 buah/jam, selain produktivitasnya sedikit juga melelahkan dan membosankan. Guna mengatasi hal tersebut, dibutuhkan mesin pencetak pakan ternak. Tujuannya adalah produktivitasnya meningkat, mempermudah kerja dari para petani dan tidak membosankan. Metode yang digunakan dalam penyuluhan dan pelatihan ini adalah dengan cara mendemonstrasikan cara menggunakan mesin pencetak dan cara merawatnya. Kelompok Pemuda Tani Mandiri mempunyai peran dalam penyediaan limbah susu bubuk, susu cair, limbah pertanian (hijauan) dan campuran yang lainnya serta mengikuti demonstrasi penggunaan Mesin. Tim pengabdi juga menghibahkan mesin pencetak pakan ternak kambing dan sapi kepada mitra
PERANCANGAN VISUAL BRANDING BLASTERAN CAFFE SAMARINDA
Abstrak
Blasteran Caffe merupakan sebuah caffe yang berdiri sejak tahun 2017 di Samarinda. Proses perancangan visual branding ini dilakukan untuk memunculkan kembali identitas Blasteran Caffe yang memiliki menu yang berbeda dari kompetitor, memiliki brand selain makanan dan minuman yakni berupa sabun cair yang dipergunakan untuk mencuci piring/gelas dan pakaian (handmade) serta perluasan segmen pasar yang ada dilingkungan masyarakat sekitar yang mayoritas mahasiswa. Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah analisis SWOT guna mendapatkan visual yang sesuai dengan konsep Blasteran Caffe. Kegiatan tersebut meliputi : konsep visual (typografi, warna, elemen grafis), kemudian diaplikasikan dalam bentuk foto produk, buku menu, stiker dan penanda lokasi (signed). Visual branding yang dilakukan ini diharapkan mendapatkan efek lebih dalam mencitrakan indentitas baru dari Blasteran Caffe Samarinda dengan kesan yang simpel, elegan dan mudah diingat oleh konsumen khususnya dilingkungan Blasteran Caffe itu sendiri.
Kata Kunci : Blasteran Caffe, Visual Branding, Indentitas
Pariwisata Massal Berkualitas di Kawasan Wisata Bukit Mahoni
Pariwisata massal dapat difungsikan sebagai salah satu strategi sederhana untuk mempercepat kunjungan wisatawan ke destinasi pariwisata. Hal ini telah dilakukan oleh Pokdarwis Mentari di Kawasan Wisata Bukit Mahoni dengan memperbanyak atraksi wisata buatan, seperti Pasar Tradisional. Tujuannya untuk mendatangkan wisatawan keluarga sebanyak-banyaknya yang merasakan kerinduan terhadap kuliner tradisional khas Jawa. Pasar Tradisional menyajikan berbagai jenis makanan dan kudapan khas masyarakat Jawa, mengingat bahwa mayoritas penduduk di Kecamatan Tenggarong Seberang adalah pendatang. Daya tarik Pastra terletak pada posisinya yang strategis di tengah-tengah destinasi wisata Bukit Mahoni dan Taman Edukasi Madu Kelulut. Sayangnya, Pastra dan Bukit Mahoni mengalami masalah fundamental yang menurut peneliti perlu dibenahi, yaitu status Pastra sebagai daya tarik wisata massal yang berada di lingkungan ekosistem pohon Mahoni yang harus dilestarikan. Tulisan ini bertujuan untuk merumuskan sebuah konsep pariwisata massal berkualitas (quality-mass tourism) yang dapat diterapkan pada kondisi yang cenderung bertolak belakang, antara destinasi pariwisata massal dan ekowisata seperti di Bukit Mahoni. Peneliti menggunakan teknik analisis data kualitatif dengan model Miles and Huberman, yakni melalui data collection, data condensation, data display dan conclusion drawing/verification. Hasil kajian menunjukkan bahwa kombinasi konsep pariwisata massal dan pariwisata berkualitas di Bukit Mahoni, akan bersinggungan dengan pariwisata berkelanjutan
ANALISA PENGGUNAAN COOLANT TERHADAP SISTEM PENDINGIN PADA KENDARAAN RODA EMPAT DI POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA
Perkembangan teknologi pada bidang otomotif khususnya pada mesin,cepat mendorong kita untuk belajar,salah satunya sistem pendingin untuk mencegah terjadinya overheating pada mesin,oleh karena itu,penulis membahas tentang perbandingan penggunaan air coolant dan air AC terhadap kinerja sistem pendingin engine. Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui perbandingan temperatur Th1,Th2, dan temperatur engine dengan menggunakan air coolant dan air AC. Hal ini menjadi sumber informasi bagi pengguna kendaraan dengan sistem pendingin menggunakan air. Proses pengambilan data sisi inlet radiator (Th), sisi outlet radiator (Th2), dan temperatur engine dengan menggunakan air AC dan air coolant. Pengambilan data dimulai dari putaran engine 1000 rpm selama 15 menit, 1500 rpm selama 15 menit, 2000 rpm selama 15 menit, 2500 rpm selama 15 menit, 3000 rpm selama 15 menit dan data yang diambil sebanyak 3 kali dalam waktu per 5 menit. Hasil yang di capai penulis menunjukkan bahwa dengan menggunakan air AC temperature sisi inlet radiator (Th2), sisi outlet (Th1), dan temperatur engine pada putaran 1000 rpm didapat hasil Th1 = 78°C, Th2 = 70,67°C, TE = 83,67°C. Sedangkan menggunakan air coolant temperature sisi inlet radiator (Th1), sisi outlet radiator (Th2) dan temperatur engine pada putaran 1000 rpm didapat hasil Th1 = 74°C, Th2 = 69°C, TE = 79°
MODIFIKASI SISTEM NITROGEN PADA SAAT START-UP PABRIK AMMONIA 1A MENGGUNAKAN COMPRESSOR NATURAL GAS BOOSTER
Start up is the first step in the operation of the factory. The start-up process at the Ammonia Plant Operations department 1A requires some preparation, namely draining the entire system with nitrogen and the required system line-up. Nitrogen circulation is used for heating up several units, such as reformers and bycatch. Heating up is done so that the temperature of the reformer and bycatch units can be quickly achieved and the process can take place immediately. The description of the heating up process when improvised nitrogen circulation is carried out using a natural gas booster compressor, this process simultaneously goes through the desulfurizer unit for heating up. So there is no need to use natural gas for heating up the desulfurization unit and then throwing it away. The responses carried out are data analysis, data collection and data processing. Based on the results of the economic analysis, it can be seen that at start-up by carrying out improvement conditions it will be more efficient because natural gas that is usually wasted is no longer wasted and gains additional profits from the gas, production will be 3 hours faster so that profits increase, and save the amount of process gas and fuel used for the start-up process for 3 hours. And the time needed to return the capital issued is four times the start up
HIDROLISIS AMPAS TEBU MENJADI FURFURAL DENGAN KATALISATOR ASAM SULFAT BERBANTUKAN GELOMBANG MIKRO
Tebu yang merupakan bahan proses pembuatan gula memiliki tingkat produksi yang tinggi di Indonesia. Hasil samping dari proses ini berupa ampas tebu yang jumlahnya mencapai 35–40% dari tebu gilingan. Pemanfaatan kembali ampas tebu masih belum optimal, padahal ampas tebu kaya akan pentosan dengan persentase 29,97% yang dapat diolah menjadi furfural dengan metode hidrolisis. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh konsentrasi katalisator asam sulfat dan waktu hidrolisis dalam pembuatan furfural dari ampas tebu berbantukan gelombang mikro. Pada penelitian ini ampas tebu dikeringkan dan diayak dengan ukuran -20 +70 mesh. Proses dijalankan menggunakan 15 gram ampas tebu pada variasi konsentrasi asam sulfat antara 1,5 M sampai dengan 3,5 M sebanyak 450 mL dan variasi waktu hidrolisis antara 20 menit sampai dengan 40 menit. Campuran dihidrolisis dengan bantuan gelombang mikro berdaya 600 W 50 Hz. Hidrolisat disaring dan filtratnya ditambahkan dengan kloroform untuk memisahkan furfural dengan sisa asam dan air. Produk furfural dianalisa kualitatif menggunakan anilin asetat dan analisa kuantitatif dengan Gas Chromatography (GC). Berdasarkan hasil analisa kualitatif, perubahan warna sampel dari kuning menjadi merah menandakan terbentuknya furfural. Akan tetapi, konsentrasi furfural yang didapatkan masih belum diketahui hasilnya secara kuantitatif menggunakan GC
Peran Inklusi Keuangan, Literasi Keuangan, Self Efficacy, Locus of Control, pada Kinerja Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
Tantangan utama bagi pebisnis level mikro, kecil dan menengah untuk mencapai kebertahanan adalah menjaga kinerja usaha. Penelitian ini bertujuan untuk menguji faktor-faktor yang memengaruhi kinerja UMKM, mencakup : inklusi keuangan, literasi keuangan, self efficacy, dan locus of control. Data dikumpulkan dengan kuesioner yang didistribusikan pada saat pertemuan komunitas UMKM BSI Center di Surabaya. Sampel berhasil dikumpulkan dari 86 responden. Hipotesis penelitian diuji menggunakan regresi multivariat. Penelitian ini membuktikan bahwa inklusi keuangan, literasi keuangan, dan self efficacy memengaruhi kinerja UMKM secara signifikan. Sementara itu, locus of control tidak terbukti signifikan memengaruhi kinerja UMKM
IMPLEMENTASI PENATAAN LAYOUT RUANG DAN KAWASAN PADA REDESAIN BANGUNAN PEMERINTAH: Studi Kasus : Kantor Desa Purwajaya Kabupaten Kutai Kartanegara
Desa Purwajaya merupakan salah satu Desa yang terletak di Kutai Kartanegara, dengan lingkungan yang mendukung dan kondusif untuk dijadikan sebagai bahan penelitian. Penelitian ini menekankan pada Layout Ruang atau tata letak kantor yang baik bisa disebut juga dengan istilah office layout. Penelitian ini juga meninjau dan membahas mengenai tipe-tipe dari ruang yang lebih efisien agar penggunanya merasa nyaman saat beraktifitas didalam bangunan dengan menggunakan gaya arsitektur modern. Penerapan penghawaan dan pencahayaan yang alami juga menjadikan bangunan lebih sejuk dan efisien terutama menjadikan bangunan hemat listrik
PENGARUH POSISI SAMBUNGAN KONSTRUKSI KAYU TERHADAP DEDAIN PRODUK MEBEL BERBAHAN DASAR KAYU
Wood furniture products were one of the commodities that have a dominant contribution compared to other furniture materials to the Indonesian economy. In furniture products, the connection system was a weak point in the construction, so a detailed analysis was needed regarding the factors that affect the strength of the construction and the effectiveness of the wood connection system. The purpose of this study was to determine the quality of the wood used as outdoor chair material by carrying out several tests to obtain wood density, moisture content, MOR and MOE values and then carrying out impact tests on actual outdoor chair products. The results showed that the teak wood used in the raw material for making the product had a moisture content of 12% with an average density of 0.68 g/cm3. The results of the static flexural strength test showed that the MOE of the tested teak was 107,108 kg/cm2 and the MOR value was 1,018 kg/cm2. The compressive strength value parallel to the fiber is 536 kg/cm2. The teak sample tested was included in strong class II which is quite strong as a raw material for furniture such as outdoor chairs. Analysis of the results of the construction design found that the type of construction used was tenon mortise, cracks at the joints occurred because the tenon was too close to the head of the wood. Based on the product test results, after the product with a new construction design was made, by lowering the tenon mortise position 3 mm from the initial position. The crack that occurs in the product is caused by an error in product construction design and not from the quality of the product raw materials used