Jurnal Ilmiah Biologi Eksperimen dan Keanekaragaman Hayati (J-BEKH)
Not a member yet
231 research outputs found
Sort by
KEANEKARAGAMAN JENIS JAMUR PADA DAUN ARACEAE DI BANDAR LAMPUNG
Araceae merupakan salah satu suku tumbuhan yang dapat dijadikan sebagai tanaman hias, sumber obat, dan bahan pangan. Berdasarkan pada hasil pengamatan di lapangan banyak daun Araceae yang terserang bercak yang disebabkan oleh jamur. Jamur yang bersifat parasit pada tumbuhan biasanya akan menyerap nutrisi dari inangnya sehingga menyebabkan inangnya layu atau bahkan mati. Jenis-jenis jamur yang menyerang daun Araceae di Bandar Lampung belum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis jamur pada daun Araceae di Bandar Lampung sehingga dapat dijadikan sebagai data dasar untuk penelitian selanjutnya. Penelitian ini dilakukan dari bulan Juni sampai Agustus 2012. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode jelajah. Daun Araceae yang diduga terinfeksi jamur diambil dari beberapa wilayah di Bandar Lampung dan identifikasi dilakukan di Laboratorium Botani Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Lampung. Dari penelitian ini diperoleh 23 jenis jamur dari 13 marga dan tergolong satu kelas khusus Deuteromycetes. Ketiga belas marga tersebut adalah, Alternaria, Beltrania, Cercospora, Cladosporium, Corynespora, Curvularia, Drechslera, Fusarium, Periconia, Pithomyces, Sporidesmium, Ascochyta dan Lasiodiplodia. Jamur yang paling banyak ditemukan adalah dari marga Curvularia dan Drechslera masing-masing sebanyak 5 jenis
KARAKTERISTIK POHON UNTUK TIDUR MONYET EKOR PANJANG (Macaca fascicularis) DI KAWASAN YOUTH CAMP TAMAN HUTAN RAYA WAN ABDUL RACHMAN LAMPUNG
Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) adalah primata yang mudah beradaptasi dengan aktivitas manusia. Jenis monyet ini mudah dijumpai di kawasan hutan yang dekat dengan kawasan pemukiman, perladangan, dan perkebunan, contohnya adalah area Youth Camp di Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman di Kabupaten Pesawaran, Lampung. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan Metode Observasi dari bulan Agustus sampai September 2012 di areal Youth Camp Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman Lampung. Parameter yang diamati adalah saat monyet istirahat (immobile), yaitu diam, berdiri, duduk, tidur, serta posisi saat mencari lokasi untuk tidur pada suatu pohon sehingga dapat diketahui jenis pohonnya. Data yang terkumpul diinterpretasikan secara deskriptif. Terdapat enam jenis pohon yang digunakan untuk tidur yaitu bambu (Bambusa sp.), dahu (Dracontomelon dao Merr. Et Rolfe.), ki hujan (Samanea saman (Jacq.) Merr.), pulai (Alstonia pneumatophora Back. Ex don Berger.), dadap (Erythrina variegate L.), benda (Artocarpus elasticus Reinw. ex Blume). Pohon untuk tidur monyet ekor panjang berkarakteristik tinggi dan memiliki tajuk yang luas, serta dekat dengan sumber air
HISTOPATOLOGI GINJAL MENCIT (Mus musculus L.) JANTAN AKIBAT RADIASI CAHAYA LAMPU MERKURI
Lampu merkuri menjadi salah satu pilihan karena memiliki umur nyala yang panjang, hingga 24.000 jam. Radiasi yang dipancarkan lampu ini bukan hanya dalam bentuk fisik tampak, tetapi juga berupa gelombang elektromagnetik dan akan berinterakasi dengan semua materi yang memiliki potensial listrik. Untuk melihat pengaruh radiasi cahaya lampu merkuri terhadap struktur tubulus ginjal mencit (Mus musculus L.) jantan maka telah dilaksanakan penelitian di laboratorium Zoologi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Lampung. Pembuatan preparat histologi ginjal dilaksanakan di Laboratorium Patologi Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner (BPPV) Regional III Bandar Lampung. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Oktober sampai November 2012. Kerusakan tubulus ginjal yang ditemukan dalam pemajanan 12 dan 16 jam/hari selama 21 hari berupa perdarahan intertubular, piknosis, karioreksis, kariolisis, kongesti, dan nekrosis. Perdarahan intertubulus hanya ditemukan pada perlakuan 4 jam/hari, sedangkan pada perlakuan 8 jam/hari ditemukan perdarahan intertubulus, piknosis, dan karioreksis
KEANEKARAGAMAN JENIS JAMUR PADA TANAMAN KOPI (Coffea spp.) DI BANDAR LAMPUNG
Kopi merupakan tanaman tropis yang memiliki nilai ekonomi tinggi, namun rentan terhadap serangan hama dan penyakit, diantaranya jamur. Jamur dapat menghambat pertumbuhan bahkan menyebabkan kematian pada organ tanaman kopi. Penelitian tentang jamur yang terdapat pada tanaman kopi di Bandar Lampung belum banyak dilakukan, sehingga informasi tentang keanekaragamannya sangat terbatas. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui keanekaragaman jamur pada tanaman kopi di Bandar Lampung. Penelitian ini telah dilaksanakan di laboratorium Botani Jurusan Biologi FMIPA Universitas Lampung. Bagian tanaman kopi yang diduga terinfeksi oleh jamur diambil dari beberapa perkebunan kopi di Bandar Lampung. Dari penelitian ditemukan 19 jenis jamur pada tanaman kopi 18 jenis jamur diantaranya merupakan anggota kelas Deuteromycetes dan satu jenis jamur merupakan kelas Ascomycetes. Berdasarkan pada bagian tanaman yang terserang; 8 jenis jamur pada daun, 4 jenis jamur pada batang, 1 jenis jamur pada ranting, 2 jenis jamur pada akar dan 3 jenis jamur pada buah
METODE MENGHILANGKAN CAIRAN BUAH TOMAT DALAM UJI PERKECAMBAHAN BIJI TOMAT( Lycopersicum esculentum Mill.)
PENGARUH ETHREL TERHADAP LAJU RESPIRASI DAN KANDUNGAN KLOROFIL PADA BUAH JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia Swingle) SELAMA PEMATANGAN
Pengaruh ethrel terhadap laju respirasi dan kandungan klorofil buah jeruk nipis (Citrus aurantifolia Swingle) selama pematangan telah diteliti pada bulan Maret 2013. Penelitian ini dilaksanakan dalam rancangan acak lengkap. Perlakuan yang digunakan adalah larutan ethrel 0%, 5%, 10%, 15% and 20% dengan 5 pengulangan. Parameter yang diamati adalah rata-rata laju respirasi dan kandungan klorofil 4 dan 8 hari setelah perlakuan. Laju respirasi diukur dengan respirometer sederhana. Kandungan klorofil diukur dengan spektorfotometer (645 dan 663 nm). Analisis ragam dan uji BNT dilakukan pada taraf 5%. Hubungan antara laju respirasi dan kandungan klorofil ditentukan dengan regresi. Hasil penetlitian menunjukkan bahwa ethrel dengan konsentrasi 15% meningkatkan laju respirasi 4 hari setelah perlakuan sedangkan konsentrasi 10% meningkatkan laju respirasi 8 hari setelah perlakuan. Konsentrasi ethrel 15% menurunkan klorofil a dan total 4 hari setelah perlakuan sedangkan konsentrasi 10% menurunkan klorofil a, b dan total 8 hari setelah perlakuan. Konsentrasi ethrel 15% merupakan konsentrasi optimal untuk meningkatkan laju respirasi dan kandungan klorofil. Dari percobaan ini disimpulkan bahwa ethrel mempengaruhi laju respirasi dan kandungan klorofil buah jeruk nipis
KEANEKARAGAMAN FORAMINIFERA BENTIK DALAM SEDIMEN DASAR PERAIRAN TELUK BALIKPAPAN, KALIMANTAN TIMUR
Foraminifera bentik merupakan salah satu Protozoa yang dapat terawetkan dalam sedimen perairan. Organisme bersel tunggal ini telah banyak digunakan sebagai indikator lingkungan karena sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman foraminifera bentik dalam 20 sampel sedimen dasar perairan Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur dalam kaitannya dengan beberapa parameter lingkungan air seperti kedalaman, kecerahan, temperatur, pH, turbiditas, salinitas, dan oksigen terlarut serta pembuatan peta sebaran spasialnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 3 spesies foraminifera bentik yang mendominasi yaitu Asterorotalia trispinosa (1.553 spesimen) diikuti oleh Rotalia sp.1 dan Rotalia sp.2. Jumlah spesies terbanyak didapatkan pada titik TB-05 (33 spesies) yang terletak di bagian luar teluk Balikpapan. Indeks Keanekaragaman bervariasi dari 0 sampai 4. Besarnya nilai Korelasi Pearson untuk kedalaman, kecerahan, temperatur, pH, turbiditas, salinitas, dan oksigen terlarut berturut-turut yaitu 0,874; 0,962; 0,962; 0,966; 0,829; 0,966; dan 0,968. Nilai korelasi tersebut bervariasi dengan distribusi foraminifera bentik di daerah penelitian
STUDI TUMBUHAN SUMBER PAKAN MONYET EKOR PANJANG (Macaca fascicularis) DI KAWASAN YOUTH CAMP TAMAN HUTAN RAYA WAN ABDUL RACHMAN LAMPUNG
Jenis pakan monyet ekor panjang dapat berupa daun, buah, biji, bunga, serangga, dan telur burung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis tumbuhan dan bagian tumbuhan yang digunakan sebagai sumber pakan monyet ekor panjang serta lokasi tempat mencari makan. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Agustus sampai dengan September 2012 di kawasan Youth Camp Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman Lampung. Penelitian ini menggunakan metode observasi. Terdapat 10 jenis tumbuhan yang menjadi sumber pakan monyet ekor panjang, yaitu dahu (Dracontomelon dao Merr. Et Rolfe.), hampelas (Ficus tinctoria), bayur (Pterospermun javanicum), waluhan (Cucurbitaceae), waru (Hibicus tiliaceus), keranji (Dalium plattysepalum), bambu (Bambusa sp.), matoa (Pometia pinnata J. R. & G.Forst.), nangka (Arthocarpus integra), dan melinjo (Gnetum gnemon). Bagian pohon yang dimakan berupa buah, daun dan bunga
LAJU PERTUMBUHAN ZOOPLANKTON Diaphanosoma sp. DENGAN PEMBERIAN PAKAN KOMBINASI FITOPLANKTON Tetraselmis sp., Nannochloropsis sp. DAN Dunaliella sp. DI LABORATORIUM
Diaphanosoma sp. atau dikenal sebagai kutu laut, berpotensi sebagai pakan hidup untuk larva ikan dan udang karena siklus hidupnya relatif singkat sehingga memungkinkan untuk diproduksi secara masal. Untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan kombinasi fitoplankton Tetraselmis sp., Nannochloropsis sp. dan Dunaliella sp terhadap laju pertumbuhan populasi Diaphanosoma sp. maka dilakukan serangkaian penelitian pada skala laboratorium dari bulan Maret sampai April 2013 di Laboratorium Pakan hidup Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut Lampung dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan, 1064 Ind/L dan pertumbuhan populasi tertinggi, 87,634 %, terdapat pada kultur yang diberi pakan 50 %Tetraselmis sp. + 25 % Nannochloropsis sp. + 25 % Dunaliella sp.. Hasil analisis proksimat menunjukkan bahwa pakan kombinasi Tetraselmis sp. 50 % + Nannochloropsis sp. 25 % + Dunaliella sp. 25 % memiliki kandungan gizi yang paling baik yaitu protein 44,46 %, karbohidrat 10,34 % dan lemak 4,21 %
PENGARUH KEBISINGAN TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH MENCIT (Mus musculus L.) JANTAN
Kebisingan adalah salah satu faktor stres bagi manusia. Stress karena bising dapat mempengaruhi sistem endokrin sehingga membahayakan kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mem-buktikan bahwa kebisingan dapat mempengaruhi kadar glukosa darah mencit (Mus musculus L.) jantan. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei - Juni 2013 di Laboratorium Zoologi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Lampung menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 1 kelompok kontrol dan 4 kelompok diberi perlakuan kebisingan dengan intensitas kebisingan 85-90 dBA dengan waktu pemaparan 6, 8, 10 dan 12 jam/hari selama 21 hari. Tiap kelompok percobaan terdiri atas 5 individu mencit. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah kadar glukosa darah mencit. Hasil pengamatan di analisis menggunakan analisis statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebisingan dengan intensitas 85-90 dBA meningkatkan kadar glukosa darah mencit (Mus musculus L.) jantan. Rerata kadar glukosa darah mencit jantan yang diberi perlakuan kebisingan lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol dan kadar glukosa darah tertinggi pada pemaparan 12 jam/hari adalah 194 mg/dL