Jurnal Studi Inovasi
Not a member yet
85 research outputs found
Sort by
Meningkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan dengan Terciptanya Program Inovasi Daerah Kabupaten Boyolali, Kabupaten Banyuwangi, dan Kabupaten Cilacap
Pelayanan yang efektif terjadi ketika masyarakat telah mendapatkan pelayanan yang cepat dan berkualitas dengan biaya yang terjangkau. Inovasi dalam bidang pelayanan kesehatan dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan lebih dalam terkait dengan situasi ataupun kejadian secara sistematis, faktual dan akurat mengenai inovasi dalam bidang kesehatan yang dilakukan oleh tiga kabupaten di Indonesia. Populasi dalam penelitian ini adalah kabupaten yang telah melakukan inovasi dalam bidang kesehatan di daerahnya, sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah inovasi yang dilakukan oleh Kabupaten Boyolali, Kabupaten Banyuwangi, dan pada Kabupaten Cilacap yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat serta menekan angka kematian, terutama kematian pada ibu dan anak. Penelitian ini menunjukkan bahwa berbagai daerah di Indonesia telah mulai sadar akan kesehatan. Ditandai dengan adanya inovasi di bidang kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan serta menekan angka kematian masyarakat, terutama kematian pada ibu dan anak. Hasil Inovasi Public Safety Centre (PSC 119) pada Kabupaten Boyolali yaitu salah satunya adalah jumlah penurunan angka kematiam dan dampak buruk akibat kecelakaan di Boyolali. Selain itu, dengan adanya inovasi SAKINA (Stop Angka Kematian Ibu dan Anak) pada Kabupaten Banyuwangi yaitu selama tiga tahun terakhir,berkat outputtersebut mampu menyelamatkan 1.514 ibu melahirkan sekaligus anaknya. Puncaknya, sampai desember 2016 kematian ibu dan anak menjadi zero. Selain itu, setelah adanya Inovasi Gerak Cepat, Cermat dan Tepat Pelayanan Rawat Jalan 10 Menit di UPT Puskesmas Sampang Kabupaten Cilacap, sudah tidak ada antrian / lama dipendaftaran, ruang periksa dan pelayanan obat karena semua proses pelayanan dilaksanakan dalam waktu 10 menit Ruang pelayanan dan sarana prasarana sudah memenuhi
Pengembangan Perizinan Kota dengan Inovasi Daerah (Studi pada Kabupaten Semarang dan Kabupaten Sragen Provinsi Jawa Tengah)
Lambatnya proses perizinan Izin Mendirikan Bangunan menjadi masalah pemerintah daerah, lambatnya ini memberikan dampak merugikan bagi masyarakat kota Semarang dan kabupaten Sragen dalam mengurus Izin Mendirikan Bangunan. Hal ini menjadikan penulis untuk meneliti sekalian mmberikan inovasi guna mempercepat proses Izin mendirikan Bangunan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan menggunakan analis kualitatif. Dengan responden berjumlah 20 dari masing-masing daerah. Hasil penelitian ini inovasi dilakukan inovasi Proses izin Mendirikan Bangunan dengan telepon dan Sistem Informasi Mendirikan Bangunan. Inovasi ini memberikan dampak positif kepada masyarakat yang menggunakannya, menjadi lebih cepat dalam proses perizinan bisa memangkas waktu jadi 7 hari dari sebelumnya sekitar 14-28 hari. Kesimpulan penelitian ini inovasi telah dilakukan dengan baik oleh pemerintah daerah kota semarang maupun kabupaten sragen
Analisis Inovasi dalam Upaya Mempermudah Capaian Kinerja dan Data Potensi Kinerja Daerah Perkotaan
Since 2009, Indonesia has had its own laws and regulations as a standard for services to the community, so on July 18 2009 Indonesia passed Law No. 25 of 2009 on Public Services. This research uses a descriptive qualitative method that describes an objective state or certain event based on visible facts or as it should be, which is then accompanied by general conclusions based on these historical facts. The population in this study are cities that have made innovations in their regions, while the samples in this study are innovations made by Bekasi City and South Tangerang City which aim to analyze innovation in an effort to facilitate performance achievement and performance potential data. The results of this study are proven that as an important actor, the Regional Government according to its authority is expected to be able to produce appropriate decisions and actions to solve problems and meet the needs of the people in their regions. In line with this, we realize that serious efforts are needed to raise the quality of local government decisions and actions to be more effective and efficient through innovative breakthroughs. The results of E-Sipeng Kesbangpol's Innovation (Information Technology-Based Activity Implementation Control System and Performance Achievement of KESBANGPOL Agency) in Bekasi City in the short term, one of which is the formation of an effective team. Meanwhile, the innovation results that can be felt with the SIMPUS Innovation (Puskesmas Management Information System) in South Tangerang City, one of which is work effectiveness: Accelerating the process of health services to the community (eg registration from 7 minutes manually to 1 minute).Indonesia sejak tahun 2009 telah memiliki peraturan perundangan tersendiri sebagai sebuah standar bagi pelayanan kepada masyarakat, maka pada tanggal 18 Juli 2009 Indonesia mensahkan Undang-Undang No 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yang melukiskan suatu keadaan objektif atau peristiwa tertentu berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana mestinya yang kemudian diiringi dengan upaya pengambilan kesimpulan umum berdasarkan fakta-fakta historis tersebut. Populasi dalam penelitian ini adalah kota yang telah melakukan inovasi di daerahnya, sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah inovasi yang dilakukan oleh Kota Bekasi dan Kota Tangerang Selatan yang bertujuan untuk menganalisis inovasi dalam upaya mempermudah capaian kinerja dan data potensi kinerja. Hasil dari penelitian ini adalah terbukti bahwa sebagai salah satu aktor penting, Pemerintah Daerah sesuai kewenangan yang dimilikinya diharapkan mampu menghasilkan keputusan dan tindakan yang tepat untuk mengatasi masalah dan memenuhi kebutuhan masyarakat di daerahnya. Sejalan dengan hal tersebut, kita menyadari bahwa dibutuhkan upaya yang serius untuk mengangkat kualitas keputusan dan tindakan Pemerintah Daerah agar lebih efektif dan efisien melalui terobosan-terobosan inovatif. Hasil Inovasi E-Sipeng Kesbangpol (Sistem Pengendalian Pelaksanaan Kegiatan Dan Capaian Kinerja Berbasis Tekhnologi Informasi Badan KESBANGPOL) pada Kota Bekasi dalam jangka pendek, salah satunya yaitu terbentuknya tim efektif. Sedangkan, hasil inovasi yang dapat dirasakan dengan adanya Inovasi SIMPUS (Sistem Informasi Manajemen Puskesmas) pada Kota Tangerang Selatan salah satunya yaitu efektivitas kerja: Mempercepat proses pelayanan kesehatan terhadap masyarakat (mis: pendaftaran dari 7 menit secara manual 1 menit)
Analisis Inovasi Perdesaan Sebagai Upaya Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Dalam Peraturan Pemerintah No 38 Tahun 2017 tentang Inovasi Daerah, inovasi daerah bertujuan untuk meningkatkan kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah. Untuk mencapai tujuan sebagaimana dimaksud, maka sasaran inovasi daerah diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan publik, pemberdayaan dan peran serta masyarakat dan peningkatan daya saing Daerah. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menjelaskan bagaimana inovasi di daerah perdesaan dilakukan serta menganalisis faktor serta dampak adanya inovasi tersebut bagi tiap-tiap daerah dengan fenomena yang beemacam-macam. Penelitian ini menggunakan pendekatan Kualititatif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan peneliti adalah dengan melakukan studi pustaka yang berkaitan dengan penelitian guna memperoleh konsep-konsep yang relevan. Populasi dalam penelitian ini adalah kabupaten yang telah melakukan inovasi di daerahnya, sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah inovasi yang dilakukan oleh Kabupaten Bangka, Kabupaten Banyuwangi, dan Kabupaten Belitung Timur yang memiliki tujuan untuk meningkatkan kualitas dalam berbagai fenomena yang terjadi di masing-masing kabupaten. Dengan adanya inovasi yang dilakukan oleh berbagai daerah seperti kabupaten, tentunya dapat menciptakan sesuatu yang lebih baik, lebih fungsional, lebih mudah dan semacamnya. Dimana, inovasi yang dilakukan oleh ketiga kabupaten memiliki Ciri Khas, merupakan Ide Baru yang belum pernah dipublikasi sebelumnya, dilakukan Secara Terencana, dan berbagai inovasi yang diselenggarakan memiliki sebuah tujuan yaitu untuk meningkatkan kualitas dalam berbagai fenomena yang sesuai dengan karakteristik daerah
Inovasi Kebudayaan: Tari Chit Ngiat Pan: Refleksi Hubungan Sosial atas Semboyan “Tong Ngin Fan Ngin Jit Jong”
This study analyzes innovation, one of which is cultural innovation. The culture studied is a culture that is formed as the result of cultivation or human creativity which is called art, especially dance art. The focus of this research is to discuss the reflection of social relations on the motto "Tong Ngin Fan Ngin Jit Jong" in Chit Ngiat Pan Dance. The method used in this study was a qualitative method with an interpretive analysis approach. In addition, the data were collected by observation technique, informant interview determined by purposive sampling technique, and documentation. In order to analyze this study, the theory of Symbolic Interactionism by Herbert Blumer is applied with three main principles, namely meaning, language, and thought. The researcher uses dance symbols as the unit of analysis, which are movement, fashion, and make-up. The meaning of the Chit Ngiat Pan Dance shows an adjustment to the meaning of solidarity, namely "Tong Ngin Fan Ngin Jit Jong" which is explored through the dance symbols. This motto is the key to the creation of the Chit Ngiat Pan Dance aside from promoting Chinese ethnic culture. Language is obtained as the result of the interaction among fellow dancers, that the Chit Ngiat Pan Dance was initially created for the purpose of competition. Thought is a goal to gain victory in the competition in order to advance to the international stage. The use of the motto "Tong Ngin Fan Ngin Jit Jong" has created acculturation which shows the solidarity between Malay and Chinese ethnic groups in Bangka Belitung represented through the dance art.
Keywords: Cultural innovation, solidarity reflection, acculturationPenelitian ini mengkaji tentang inovasi yang salah satunya adalah inovasi kebudayaan. Kebudayaan yang dikaji merupakan kebudayaan yang terbentuk dari hasil budidaya atau kreativitas manusia yang disebut dengan seni. Seni yang dimaksud adalah seni tari. Fokus pada penelitian ini adalah membahas terkait bagaimana refleksi hubungan sosial atas semboyan “Tong Ngin Fan Ngin Jit Jong” pada Tari Chit Ngiat Pan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan analisis interpretatif. Data dikumpulkan dengan teknik obesrvasi, wawancara informan yang ditentukan dengan teknik sampling purposive, dan dokumentasi. Teori yang digunakan dalam menganalisis penelitian adalah teori Interaksionisme Simbolik oleh Herbert Blumer dengan tiga hal prinsip utama yaitu meaning, language dan tought. Peneliti menggunakan simbol tari sebagai unit analisis yakni gerak, tata busana, dan tata rias. Pemaknaan (meaning) pada Tari Chit Ngiat Pan menunjukkan adanya penyesuaian dengan makna solidaritas yakni “Tong Ngin Fan Ngin Jit Jong”yang digali lewat simbol tari. Semboyan tersebut merupakan kunci dari penciptaan Tari Chit Ngiat Pan selain dari mengangkat kebudayaan Etnis Tionghoa. Bahasa (language) di peroleh sebagai hasil interaksi dari sesama penari bahwa Tari Chit Ngiat Pan diciptakan berawal dari tujuan kompetisi. Pikiran (tought) adalah kompetisi yang di ikuti adalah suatu tujuan untuk memperoleh kemenangan sehingga dapat melangkah ke tahap internasional. Adanya pemanfataan semboyan “Tong Ngin Fan Ngin Jit Jong”melahirkan akulturasi yang menunjukkan adanya solidaritas antar Etnis Melayu Dan Etnis Tionghoa di Bangka Belitung yang ditunjukkan kembali melalui seni tari.
IMPLEMENTATION OF CLASS MANAGEMENT IN ELEMENTARY SCHOOL IN EFFORTS TO INCREASE STUDENT LEARNING MOTIVATION DURING THE COVID-19 PANDEMIC
Penelitian ini betujuan untuk mendekripsikan cara guru meimplementasikan manajemen kelas pada masa pandemi Covid-19 di SD Negeri 5 Jambu. Penelitian ini menggunakan pendekatan Kualitatif Deskriptif. Subjek dalam Penelitian ini guru kelas VI dan peserta didik kelas VI. Teknik yang digunakan yaitu menggunakan observasi, wawancara partisipatif, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen kelas yang dilakukan oleh guru dalam kelas VI di SDN 05 Jambu saat pandemic covid-18 terlihat sudah efektif namun belum sepenuhnya optimal. Dibutuhkan inovasi manajemen kelas untuk mengoptimalkan proses keterlibatan siswa dalam pembelajaran di masa pandemic covid -1 9, diantara yaitu 1) Program Belajar Jarak Jauh (PJJ) yang terintegrasi, 2) Online Learning Synchronization, 3) Inovasi Hybrid Learning dalam Manajemen Kelas. Jadi, disimpulkan manajemen kelas yang dilaksanakan oleh guru ada kaitanya terhadap motivasi belajar. Semakin baik dalam mengorganisir kelas akan memberikan pengaruh positif terhadap motivasi belajar siswa saat masa pandemic covid-19.This study aims to describe how teachers implement classroom management during the Covid-19 pandemic at SD N 5 Jambu. This study uses a descriptive qualitative approach. The subjects in this study were sixth grade teachers and sixth grade students. The technique used is using observation, participatory interviews, and documentation. Analysis of the data using the interactive model of Miles and Huberman. The results showed that classroom management carried out by teachers in grade VI at SDN 02 Banjaran was carried out by (1) applying the principles of classroom management; (2) designing the physical environment of the class; (3) creating an effective learning climate, (4) being a good communicator. Class management carried out by classroom teachers has been effective but has not been fully maximized because there are still some of the sub-indicators that have not been implemented by classroom teachers at SD N 5 Jambu. So, it can be concluded that there is a relationship with the effect of classroom management on student learning motivation. The better way of managing classes or organizing classes will have a positive influence on student learning motivation which can extend to the formation of students' personalities during the Covid-19 pandemic
Upaya Pemberdayaan Remaja Berbasis Daring sebagai Inovasi Pencegahan Covid-19 di Desa Loram Wetan Kabupaten Kudus
Covid-19 has spread in 223 countries until now cases of infection are also increasing. Various efforts to prevent Covid-19 have been implemented. However, adolescents are often found to still violate the rules, this is caused by the lack of public knowledge related to Covid-19, indifferent behaviour and attitudes, and the lack of special socialization to teenagers resulting in not optimal Covid-19 prevention programs. This empowerment was carried out in RT 05 RW 03 Loram Wetan Village which lasted for 3 weeks in July-August 2020. The activity was successful and the enthusiasm of the participants was very good in the process of providing education which was carried out online via Whatsapp. Media education used posters, booklets and leaflets. To determine changes in knowledge, attitudes and behaviour, pre-test and post-test questionnaires were given which were filled out by 28 adolescents who participated in the activity, the results were analyzed using the Wilcoxon test. There was a significant change in knowledge (p-value < 0.05), but there was no significant change in attitudes and behaviour about Covid-19 (p-value > 0.05). However, both knowledge, attitude, and behaviour are increased.Pandemi Covid-19 telah menyebar di 223 negara, hingga saat ini kasus infeksi juga semakin meningkat. Berbagai upaya pencegahan Covid-19 telah dilaksanakan. Namun, usia remaja sering ditemukan masih melanggar aturan, hal tersebut diakibatkan oleh tingkat pengetahuan masyarakat terkait Covid-19 yang masih kurang, perilaku dan sikap yang acuh, serta kurangnya sosialisasi khusus kepada remaja mengakibatkan tidak maksimal program pencegahan Covid-19. Pemberdayaan remaja dilakukan di RT 05 RW 03 Desa Loram Wetan yang berlangsung selama 3 minggu pada bulan Juli-Agustus 2020. Kegiatan berjalan dengan sukses serta antusiasme peserta sangat baik dalam proses pemberian edukasi yang dilaksanakan secara daring melalui Whatsapp. Media edukasi yang digunakan yaitu poster, booklet dan leaflet. Untuk mengetahui perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku maka diberikan kuesioner pre-test dan post-test yang diisi oleh 28 remaja yang berpartisipasi dalam kegiatan, hasil dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Diperoleh adanya perubahan pengetahuan yang bermakna signifikan (nilai p <0,05), namun tidak ada perubahan yang signifikan pada aspek sikap dan perilaku tentang Covid-19 (nilai p >0,05). Akan tetapi baik pengetahuan, sikap, dan perilaku terjad
Inovasi Sistem Regu Tanam Padi Jajar Legowo Kabupaten Gresik
oai:ojs2.jurnal.studiinovasi.id:article/1Sedikitnya petani di kabupaten Gresik yang memahami tanam padi jajar legowo membuat ketahanan pangan khususnya padi di Gresik jauh dari kata aman, idealnya satu desa satu regu tanam, akan tetapi dari total 308 desa tim regu tanam di gresik hanya 14 regu tanam dan yang memahami sistem tanam padi menghindari sistem ini dikarenakan kurangnya dana untuk membayar tenaga tanam, hal ini melatarbelakangi untuk dilakukan inovasi, hal ini membuat pemerintah daerah kabupaten gresik untuk membuat sistem regu tanam padi jajar legowo tang efektif. Metode yang digunakan penelitan ini deskriptif dengan melakukan wawancara kepada beberapa narasumber dengan analisa kualitatif, hasil yang didapatkan setelah sistem regu tanam dari pemerintah daerah kabupaten gresik berjalan, telihat bahwa terjadi peningkatan dari tahun ke tahun dan puncaknya pada tahun 2016 dengan stok beras surplus 146.743,12 ton
Strategi Orang Kuat Lokal dalam Pemilu Legislatif Tahun 2019 (Studi pada Pemenangan Calon Legislatif Daerah Pemilihan 4 Kabupaten Bangka)
Penelitian ini mengkaji tentang orang kuat lokal dalam pemilu legislatif tahun 2019 (studi pada pemenangan calon legislatif daerah pemilihan bangka). Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi peran orang kuat lokal dan mengetahui bagaimana bentuk hubungan timbal balik atas eksistensi orang kuat lokal di Daerah pemilihan 4. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus, serta teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam. Teori yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan konsep Local Strongman oleh Joel S. Migdal yang menjelaskan bahwa dasar terbentuknya Local Strongman ada tiga argumen utama yakni: weblike societies, control sosial dan Weak state.
Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa orang kuat lokal dilibatkan dalam pemilu tahun 2019 di daerah pemilihan 4 terutama untuk membantu dalam memenangkan pemilu. Orang kuat lokal tersebut mereka adalah dari kalangan tokoh agama dan pengusaha. Adapun peran yang dilakukan oleh orang kuat lokal dalam pemenangan calon legislatif yakni menentukan segmentasi pemilih berdasarkan wilayah, menetapkan target seperti orang tua, kalangan perempuan, orang-orang majelis dan melakukan mobilisasi massa seperti mampu mengumpulkan massa dalam jumlah banyak saat kampanye berlangsung. Dalam hal ini ada juga hubungan timbal balik yang diterima oleh orang kuat lokal ketika mendukung calon legislatif yakni dapat bantuan ekonomi seperti halnya dapat meletakkan anggota keluarga pada jabatan tertentu dan kerjasama yang diperoleh antara orang kuat lokal dan calon legislatif
Inovasi Pembinaan dan Pengawasan dalam Pencapaian Urusan Wajib Pelayanan Dasar
Pelayanan Dasar adalah pelayanan publik untuk memenuhi kebutuhan dasar Warga Negara. Dalam konteks pelayanan, khususnya pelayanan dasar, Standar Pelayanan Minimal (SPM) memuat ukuran-ukuran atau parameter-parameter yang harus dipedomani oleh pemerintah daerah, pelayanan yang diberikan kepada masyarakat harus terukur baik dari sisi jumlah, jenis maupun mutu. SPM dalam penyelenggara urusan pemerintahan daerah diposisikan untuk menjawab hal-hal penting dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, khususnya dalam penyediaan pelayanan dasar yang bermuara pada penciptaan kesejahteraan rakyat. Aparat Pengawas Internal Pemerintah (APIP) di tingkat pusat dan daerah memiliki kewenangan untuk melakukan pelaksanaan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah, dengan demikian maka peran APIP Pusat maupun APIP Daerah dituntut berperan dalam hal keberhasilan penerapan SPM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pembinaan dan pengawasan seperti apa yang harus dilakukan APIP sehingga tujuan yang ingin dicapai yaitu setiap warga negara mendapatkan pelayanan dasar dapat tercapai.
Basic services are public services to meet the basic needs of citizens. In the context of services, especially basic services, Minimum Service Standards (SPM) contain parameters that must be guided by local governments, services provided to the community must be in terms of quantity, type and quality. SPM in regional government affairs asks questions to answer important things in the administration of regional government, especially in the provision of basic services that lead to the creation of people's welfare. The Government Internal Supervisory Apparatus (APIP) at the central and regional levels has the authority to carry out supervision of regional government, thus the role of the Central APIP and the Regional APIP plays a role in the implementation of SPM.This study aims to determine the guidance and supervision as the objectives that must be carried out by APIP so that the services that every citizen wants to achieve can be achieved